Anda di halaman 1dari 1

1.

Defisiensi Vitamin A
anak yang mengalami defisiensi vitamin A memiliki kecenderungan mengalami stunting
karena vitamin A mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sel, apabila anak
mengalami defisiensi vitamin A dapat merusak system kekebalan tubuh serta dapat
meningkatkan risiko penyakit infeksi seperti campak dan diare. Hal ini ditunjukkan oleh
penelitian yang dilakukan oleh wiwien fitrie pada tahun 2013 di kecamatan brebes,
penelitian menunjukkan bahwa 72,7% (n=56) baduta yang kurang taat konsumsi vitamin
A mengalami stunting dan angka tersebut lebih besar dibandingkan baduta yang normal.

2. Tingkat kecukupan energy, protein, seng, vitamin A pada anak stunting


Penelitian menunjukkan anak yang tingkat kecukupan energi, protein, seng dalam
kategori kurang berisiko menjadi stunting dilihat dari p<0,005 yang berate ada hubungan
bermakna TKE (p=0,001) sedangkan ketaatan dalam mengkonsumsi vitamin A yang
sesuai umur bukan merupakan faktor resiko dimana p=0,299

Kurangnya asupan energy, protein dan seng merupakan faktor risiko terjadinya stunting.
Baduta yang tingkat kecukupan proteinnya kurang memiliki kemungkinan menjadi
stunting sebesar 7,65 kali dibandingkan dengan baduta yang tingkat kecukupan
proteinnya baik dan baduta yang tingkat kecukupan sengnya rendah memiliki peluang
stunting sebesar 8,78 kali dibandingkan dengan baduta yang tingkat kecukupan sengnya
baik

Penelitian yang telah dilakukan di Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa tingkat asupan
energy anak normal hamper sebagian tercukupi namun pada kelompok anak stunting
masih rendah. Sedangkan penelitian lain yang dilakukan di Brazil pada anak sekolah
menunjukkan bahwa asupan protein yang tidak adekuat berhubungan signifikan dengan
stunting

Defisiensi zinc juga dapat mempengaruhi perubahan pada beberapa sistem organ seperti
sistem saraf pusat, saluran pencernaan, sistem reproduksi dan fungsi pertahanan tubuh.
Anak usia 12-24 bulan mempunyai risiko mengalami anemia defisiensi besi karena
meningkatnya kebutuhan zat besi serta makanan yang tidak cukup mengandung zat besi.
Defisiensi seng juga dapat disebabkan karena adanya defisiensi zat besi. Interaksi zat besi
dan seng berdampak pada hambatan pertumbuhan tinggi badan sehingga anak terlahir
pendek. Defisiensi seng dapat mengakibatkan gagal tumbuh s, penurunan nafsu makan,
dan penyembuhan luka yang lambat.