Anda di halaman 1dari 19

MERS-CoV

(Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus)

KEPERAWATAN PENYAKIT GLOBAL

Oleh
Kelompok 4/ F16

Moh. Selfis Haqiqi 152310101031


Reka Wage Puspitasari 162310101103
Nurul Kholis Irhamna 162310101114
Meta Nuraini Arinda 162310101189
Falita Raudina Manzilina 162310101192
Munazilatul Chasanah 162310101196
Sri Puji Rahayu 162310101217
Alfin Nadlirotul Fatmalia 162310101225
Ririkh Farikhatul Ummah 162310101283

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2018
MERS-CoV
(Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Penyakit Global

Dosen Pengampu :
Ns. Tantut Susanto, S.Kep., M.Kep., Sp. Kep. Kom., PhD.

Oleh
Kelompok 4/ F16

Moh. Selfis Haqiqi 152310101031


Reka Wage Puspitasari 162310101103
Nurul Kholis Irhamna 162310101114
Meta Nuraini Arinda 162310101189
Falita Raudina Manzilina 162310101192
Munazilatul Chasanah 162310101196
Sri Puji Rahayu 162310101217
Alfin Nadlirotul Fatmalia 162310101225
Ririkh Farikhatul Ummah 162310101283

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2018

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena hanya dengan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah
mengenai “MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus)” ini
sesuai yang diharapkan. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah
Keperawatan Penyakit Global. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan
makalah ini bukanlah hal yang mudah. Banyak kesulitan yang kami hadapi
dalam penyelesaiaannya, tetapi berkat bimbingan dosen dan teman teman,
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Dalam kesempatan ini
kami mengucapkan terima kasih kepada Ns. Tantut Susanto, S.Kep., M.Kep., Sp.
Kep. Kom., PhD. selaku dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Penyakit
Global.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman serta bermanfaat bagi kita semua. Harapan kami
semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
dan kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini kami akui masih belum sempurna,
oleh karena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini .

Jember, 18 April 2018


Penyusun,

iii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv

BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................... 1


1.1 Deskripsi Komunitas ...........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 1
1.3 Deskripsi Populasi Target ...................................................................3

BAB 2 PROGRAM HEALTH PLANNING PROJECT ..................................6


2.1 Model Program Perencanaan .............................................................. 6
2.2 Deskripsi Program .............................................................................. 7
2.3 Tujuan Program .................................................................................. 8
2.4 Kriteria Evaluasi Program................................................................... 9
2.5 Aktivitas Intervensi Program .............................................................. 9
2.6 Sumber-Sumber dan Keterbatasan .................................................... 11
2.7 Budget ............................................................................................... 12

BAB 2 PENUTUP ...............................................................................................13


3.1 Kesimpulan ....................................................................................... 13
3.2 Saran ................................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14


LAMPIRAN ......................................................................................................... 16

iv
1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Deskripsi Komunitas


Mers-COV (Middle East Respiratory Syndrom Corona Virus) adalah virus
zoonotic yang berarti bahwa virus tersebut dapat menular diantara manusia dan
hewan. Dalam penelitian didapatkan hasil jika manusia dapat terinfeksi secara
langsung maupun secara tidak langsung dengan unta yang telah terinfeksi (WHO,
2018). Penularan secara langsung dari sesama manusia dapat terjadi melalui
percikan dahak saat batuk ataupun bersin. Sedangkan penularan tidak langsung
dapat melalui benda yang sudah terkontaminasi oleh virus (Depkes, 2013).
Kebanyakan dari pasien yang terkena virus ini mengalami keparahan penyakit
pernafasan yang ditandai dengan demam, batuk, dan nafas yang pendek-pendek
(CDC, 2016).
Antibodi spesifik dari MERS-CoV telah ditemukan pada unta di Timur
Tengah, Afrika, dan Asia Selatan seperti Mesir, Oman, Qatar, dan Saudi Arabia
dan (WHO, 2018). Beberapa negara yang telah melaporkan terinfeksi selain
negara Timur Tengah oleh virus ini yaitu Perancis, Italia, Jerman, Inggris, dan
semua negara yang berhubungan dengan tanah Timur Tengah ( Depkes, 2013).
Antara tahun 2012 sampai 7 Juli 2015, terdapat 1368 kasus MERS-CoV yang
terlaporkan kepada WHO, 487 diantaranya meninggal dan banyak terjadi pada
Laki-Laki dengan preosentase sebanyak 65%. Usia yang sering terserang oleh
penyakit ini adalah pada pertengahan usia 50 tahun (WHO,2015). Namun sejauh
ini belum ada WNI yang terinfeksi MERS-CoV dan dirawat di Indonesia
(Kemenkes, 2015).
1.2 Rumusan Masalah
Menurut WHO, 2015 MERS-COV (middle East Respiratory Syndrome )
merupakan sutu strain baru virus corona yang belum pernah di temukan
menginfeksi manusia . Keberadan virus ini pertama kali diketahui pada tahun
2012 di Arab Saudi. Hal itu menjadi suatu kewaspadaan bagi warga Negara
Indonesia yang akan melaksanakan ibadah umroh maupun haji, gejala yang di
2

timbulkan jika terinfeksi adalah demam, batuk dan sesak nafas, bersifat akut
biasanya pasien memiliki penyakit kronis penyerta. Masa inkubasi setelah
terinfeksi nya viru MERS-Cov adalah 2-14 hari. Virus MERSCoV dapat menular
antar manusia secara terbatas, dan tidak terdapat transmisi penularan antar
manusia di komunitas yang berkelanjutan. Kemungkinan penularannya dapat
secara langsung : melalui percikan dahak pada saat pasien batuk atau bersin,
maupun tidak langsung : melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi
virus.(Kemenkes RI, 2015)
Menurut WHO, 2015 jumlah kasus terinfeksi virus MERs-Cov di dunia
sejak November 2012 sampai 25 September 2015 berjumlah 1.570 kasus, 555
kematian (CFR: 35,3%). Wilayah atau area (negara) terjangkit meliputi 26 negara.
Negara yang terjangkit diantaranya adalah Saudi Arabia, Yordania, Qatar,Uni
Emirat Arab,Inggris, Jerman, Perancis, Italia dan Tunisia. Sejauh ini belum ada
WNI yang positif terinfeksi MERS-CoV dan dirawat atau berada di Indonesia,
(Kemenkes RI, 2015) akan tetapi Menurut Kementrian Kesehatan dan Kementrian
Luar Negeri selain Negara tersebut Indonesia pernah tercatat kasus WNI positif
terinfeksi MERS-COV pada tahun 2014 yaitu ada 2 kasus WNI yang positif
terinfeksi MERs-COV disaudi Arabia yaitu satu orang WNI wanita yang
bermukim di Saudi Arabia,kemudian meninggal di Saudi Arabia dan satunya lagi
WNI Laki-laki jamaah umroh yang edang menjalankan ibadah umroh disana,
kemudian di rawat di Rs Saudi Arabia hingga sembuh dan ketika kembali ke
indonesia bebas dari virus MERS-cov.(Kemenlu RI, 2014) .
Walaupun kasus WNI yang tercatat positif terinfeksi virus MERS-COV
jumlah nya sedikit, akan tetapi hal tersebut menjadi suatu kewaspadaan tersendiri
bagi warga Negara indoneia dan juga pemerintah, karena virus tersebut berasal
dari timur tengah yaitu arab Saudi, sementara itu sebentar lagi mendekati bulan
suci Ramadhan, jumlah jamaah yang akan melaksanakan ibadah Umroh tahun
2018 diperkirakan naik mencapai 1 juta jamaah merupakan kenaikkan yang
signifikansi dari pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2017 mencapai 876.246
ribu jamaah umrah, hal ini menyababkan para jamaah dan pemerintah harus
waspada, dengan semakin bertambah nya jumlah jamaah umrah, bertambah pula
3

resiko angka kejadian kasus terinfeksi atau tertularnya virus MERS-COV bagi
WNI yang akan melaksanakan ibadah Umrah. (Kemenag RI, 2017).
Dalam kasus ini pemerintah yaitu Kementrian Kesehatan RI telah
berupaya melakukan pencegahan penularan virus MERS-COV diantaranya yaitu
pada saat keberangkatan umroh maupun kepulangan umrah, pada saat akan
keberangktan umrah dilakukan penyuluhan mengenai kewaspadaan MERS-COV,
memberikan pembekalan tentang penangulangan MERS-COV kepada petugas
kesehatan (TKHI dan Embarkasi) juga di lakukan imunisasi ,sedangkan untuk
kepulangan jamaah sendiri dilakukan pengawasan di bandara maupun asrama haji
maupun umroh dan diberikan kartu kewaspadaan kesehatan atau Health Alert
Card (HAC) (Kemenkes RI, 2015). Akan tetapi dari beberapa upaya pencegahan
yang dilakukan pemerintah ada bebrapa uapaya yang masih belum terlaksana,
unrtuk itu kami membuat program pencegahan dan penanggulanagan virus
MERS-CoV yang di beri nama “SUMERS” yaitu Siap Umroh Siaga MERS-
CoV,program ini berisikan tentang pencegahan dan penanggulanagn virus MERS-
CoV dari sebelum keberangkatan calon jamaah umrah sampai kepulangan jamaah
umrah ke Indonesia. (Kemenkes RI, 2015).
Program SUMERS ini sangat membantu dalam peningkatan kesadaran
para calon jamaah umrah agar lebih waspada mengenali tanda dan gelaja MERS-
CoV, menjauhi area yang diindikasi sebagai sebab terinfeksinya MERS-CoV,
menggunakan alat pelindung diri, juga pemantauan oleh tenaga kesehatan ahli,
bukan hanya itu juga di adakannya skrinning kesehatan di bandara sebelum dan
sesudah umrah agar ketika jamaah pulang ke daerah masing-masing terbebas atau
negatif virus MERS-CoV.
1.3 Deskripsi Populasi Target
Program yang kelompok kami buat dengan nama SUMERS (Program Siap
Umroh Siaga MERS CoV) memerlukan kerjasama antar Departemen
Kesehatan/Dinas kesehatan, Departemen Perhubungan, dan juga petugas Biro
Travel Umroh disetiap daerah guna memantau sekaligus penanggulangan masalah
penyakit khususnya (MERS CoV) pada jamaah/peserta haji agar tidak sampai
terjadi wabah yang merugikan untuk orang disekitarnya saat di mekkah maupun
4

pulang ke indonesia. Program ini wajib untuk diiikuti oleh seluruh para peserta
haji di Indonesia yang akan berangkat ke mekkah (Arab Saudi) untuk
melaksanakan ibadah umroh dan merupakan pertama kali yang akan dibuat
sebagai salah satu syarat wajib yang ditujukan pada warga Negara Indonesia.
Sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi, calon jamaah/peserta haji harus
mengikuti kelas pelatihan dan edukasi yang akan diselenggarakan oleh Biro
Travel Umroh maupun tenaga kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan
virus MERS CoV yang mungkin akan terserang ketika melakukan ibadah haji
nantinya. Dalam hal ini, pemeriksaan kesehatan calon jamaah harus memenuhi
standar yang ditetapkan Departemen Kesehatan yakni antara lain meliputi
pemeriksaan fisik, pemberian vaksin dan Uji laboratorium. Upaya
penanggulangan suatu masalah penyakit yang berhubungan dengan para calon
jamaah haji dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1501/Menkes/PER/X/2010.
Program tersebut juga akan melakukan pemantauan kesehatan saat berada
di Mekkah yang secara langsung akan diawasi oleh Biro Travel yang
bersangkutan secara detail dan sesuai standar dengan cara pengawasan baik intake
makanan, APD, dan lain-lain sebagai suatu tindakan keamaanan dan perlindungan
agar terhindar dari penyakit yang me-wabah disana, sekaligus untuk memastikan
jamaah haji bisa melaksanakan umroh maupun ibadah haji dengan baik dan benar.
Kemudian, pemberitahuan tentang penyakit ataupun yang sudah terjangklit
MERS-COV ini akan diumumkan kepada seluruh dinkes yang bersangkutan serta
kepada rumah sakit pada masing-masing daerah yang telah ditetapkan pada saat
awal kedatangan jamaah kembali ke Indonesi. Dengan ini, Departemen Kesehatan
mudah mengetahui setiap penyebaran penyakit yang dibawa oleh calon jamaah
haji tersebut.
Penyakit menular seperti virus MERS-CoV harus diperhatikan agar tidak
melebar, bila salah satu ada anggota jamaah haji yang terkena akan dilakukan
seterilisasi untuk upaya pencegahan. Adapun jumlah unit pelayanan kesehatan
yang didirikan di dalam satu bandara yaitu sekitar 115 unit klinik yang bertujuan
sebagai tempat dilakukannya pemeriksaan tes darah dalam memastikan apakah
5

jamaah tersebut terinfeksi oleh virus MERS-COV atau tidak. Selain itu, adapun
tenaga medis yang diterjunkan ke setiap klinik tersebut berkisar 805 tenaga
kesehatan yang terdiri dari 230 dokter umum dan 575 perawat dan sedangkan
untuk peserta jemaah haji maupun umroh yang dapat dilihat terkini berkisar 200
orang dan kurang lebihnya kemungkinan hingga dapat mencapai 6.000 orang
per/bulannya. Hal tersebut, menurut Dirjen penyelenggara haji di indonesia.
6

BAB 2. PROGRAM HEALTH PLANNING PROJECT

2.1 Model Program Perencanaan

Biro
Travel
Kelas
Umroh Pemberian Pengawasan
Edukasi
Vaksin di Mekah

Departemen
Kesehatan
Skreening
di Bandara
Departemen (Indonesia)
Perhubungan

Tes Lab.
RS. Bandara

(-) (+)
Pulang Rumah RS. Daerah Rujukan
7

Program ini dibuat dengan melibatkan kerjasama antara biro travel umroh,
departemen kesehatan, dan juga departemen perhubungan dengan tugas dan peran
masing-masing. Biro travel umroh berhak menyediakan segala fasilitas yang
diperlukan oleh jamaah sekaligus menjadi peran sebagai pengawas jamaah ketika
sedang menjalankan ibadah umroh, Departemen kesehatan wajib menyediakan
tenaga kesehatan sebagai pemberi edukasi sekaligus sebagai pelaksana pelayanan
kesehatan di klinik bandara ataupun RS.Daerah setempat dan departemen
perhubungan yang akan membantu dalam pemberian pelayanan, keselamatan, dan
keamanan bagi. Pelaksanaan program tersebut meliputi 4 point utama yakni:
1. Kelas edukasi sebelum jamaah umroh diberangkatkan ke tanah suci/arab
saudi Dengan bantuan tenaga kesehatan dan Biro Travel Umroh.
2. Pemberian Vaksinasi oleh tenaga kesehatan
3. Pengawasan saat menjalankan ibadah umroh melalui jasa biro travel
4. Skreening atau deteksi dini saat di bandara sebelum jamaah dipulangkan
ke kampung halaman masing-masing dengan melibatkan departemen
perhubungan dan departemen kesahatan.
2.2 Deskripsi Program
Program yang akan dijalankan ini bernama program SUMERS (Siap
Umroh Siaga Mers- CoV) yang nantinya akan melakukan kerja sama dengan
Kementrian Kesehatan, kementrian Perhubungan, dan juga Biro Travel Umroh.
Kemudian dalam program ini kami menjalankan beberapa tahap yang harus
dijalani oleh semua jamaah Umroh yang akan melakukan keberangkatan ke
Saudia Arabia. Tahap awal yang harus dilakukan pertama kali oleh jamaah Umroh
yaitu dengan mengikuti kelas edukasi yang telah disediakan oleh Biro Travel
sebelum para jamaah Umroh melakukan keberangkatan, kemudian tahap kedua
dalam program SUMER ini adalah dengan dilakukannya vaksin kepada setiap
jamaah Umroh untuk upaya pencegahan terinfeksinya virus MERS-CoV yang
berada di Saudi Arabia, adapun tahap yang ketiga yaitu dengan melakukan
pengawasan kepada setiap jamaah Umroh saat melakukan aktivitas di Saudi
Arabia, dan tahap yang terakhir dari program SUMERS ini yaitu dengan
8

dilakukannya skrinning yang nantinya akan dilaksanakan di RS bandara pada saat


kepulangan jamaah Umroh ke Indonesia.
Pada tahap ini skrinning yang dilakukan yaitu dengan melakukan tes darah
kepada setiap jamaah umroh di untuk mengetahui mana jamaah yang positif
terkena virus MERS-CoV dan mana yang negativ terkena virus MERS-CoV,
apabila ditemukan beberapa dari jamaah tersebut positif dari virus MERS - CoV
maka dari pihak kami akan langsung merujuk jamaah tersebut ke rumah sakit
daerah tempat jamaah tinggal agar penanganan bisa segera dilakukan dengan
menggunakan BPJS. Dan apabila jamaah Umroh tersebut negativ dari virus
MERS-CoV maka jamaah tersebut akan langsung dipulangkan kerumah masing-
masing. Karena program SUMERS ini telah melakukan kerja sama kepada pihak
biro Travel, departemen kesehatan dan juga dinas Kesehatan, sehingga
memudahkan program ini dalam melakukan tahap-tahapan baik saat awal
pemberangkatan dan juga saat pemulangan jamaah. Jadi dengan adanya program
SUMERS ini diharapkan seluruh jamaah Umroh dapat mengikuti serangkaian
tahap-tahap yang ada di program SUMERS ini dengan sungguh-sungguh dan
dapat memanfaatkan fasilitator yang ada. Berikut penjelasan dari awal Program
SUMER sampai tahap akhir yang harus diketahui para jamaah Umroh mengenai :
1. Pengenalan apa itu virus MERS - CoV ?
2. Tanda dan gejala mengenai virus MERS - CoV?
3. Pengenalan vektor dari virus MERS - CoV
4. Pencegahan virus MERS - CoV
5. Penejelasan pentingnya penggunaan APD
6. Input mengenai makanan bersih dan sehat terutama daging unta
7. Pelatihan tentang PHBS
2.3 Tujuan Program
Tujuan Umum
Program SUMERS (Siap Umroh Siaga MERS CoV) bertujuan untuk
mencegah penyebaran virus MERS CoV di Indonesia. Pencegahan dilakukan
dengan memberikan edukasi dan skrinning pada jamaah umroh mengenai
penyakit MERS CoV dari awal pemberangkatan sampai kembali ke indonesia.
9

Tujuan Khusus
1. Meningkatkan pengenalan dan pencegahan MERS CoV pada jamaah
umroh
2. Meningkatkan kesadaran jamaah umroh akan pentingnya pemberian
vaksinasi MERS CoV
3. Meningkatkan keterampilan (Skill) jamaah umroh dengan memberikan
pelatihan pencegahan MERS CoV
4. Memberikan perlindungan jamaah umroh saat di Mekkah dari virus MERS
CoV
5. Mengurangi resiko penyebaran MERS CoV di Indonesia
2.4 Kriteria Evaluasi Program
Kriteria Evaluasi Program merupakan pertimbangan dari kegiatan yang telah
dilakukan mencakup rencana tindak lanjut terhadap program yang telah berjalan
ataupun dapat berupa penghentian program, revisi program, dan penyebarluasan
program. Proses evaluasi diperlukan untuk mengetahui tercapainya tujuan
program yang sebelumnya sudah dirancang.
Program dikatakan berhasil, jika:
1. Jamaah umroh mengetahui dan mengaplikasikan cara pencegahan untuk
tidak terpapar virus MERS
2. Jamaah umroh yang terjangkit virus MERS dapat berkurang
3. Bagi individu yang terpapar vitus MERS mengikuti prosedur pemeriksaan
lanjutan
Program dikatakan tidak berhasil, jika:
1. Banyak jamaah umroh yang belum mengetahui dan tidak dapat
mengaplikasikan cara pencegahan dari terpapar virus MERS
2. Jamaah umroh yang terjangkit virus MERS semakin meningkat
3. Jamaah menolak untuk mengikuti prosedur pemeriksaan lanjutan
4. Jamaah umroh membawa virus MERS kemudian menyebar ke masyarakat
luas.
2.5 Aktivitas Intervensi Program
1. Edukasi
10

Memberikan edukasi dan informasi serta penanganan dan pencegahan


yang baik dan benar terhadap penyakit dari MERS-CoV. Proses edukasi
ini secara langsung diharapkan menyiapkan masyarakat untuk mamahami
risiko penyakit MERS-CoV dan juga sebagai bekal informasi bagi calon
jemaah haji dan umroh.
a) Pengenalan dan pencegahan Mers-CoV
Virus MERS-CoV tidak terlihat oleh mata. Oleh karena itu
pencegahan dengan pemberian pemahaman penting dilakukan.
Pencegahan utama, kami mengimbau kepada para jemaah haji agar
jangan terlalu dekat dengan unta selama berada di Mekkah. Sebab,
hewan gurun pasir tersebut ditenggarai sebagai faktor penularan
virus MERS-CoV.
b) Pelatihan
Pelatihan disini maksudnya lebih ke upaya pencegahan penularan.
Para calon jamaah haji dan umroh dilatih untuk melakukan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan cuci tangan pakai
sabun/antiseptik, menghindari kontak erat dengan penderita/hewan
penular, menggunakan APD yang tepat, terutama masker serta
menerapkan etika batuk ketika sakit.
c) Vaksinasi
Belum ada vaksin yang tersedia untuk Mers-CoV. Meskipun saat
ini belum ada obat-obatan termasuk vaksin yang dapat
menghambat perkembangan virus. Terapi infeksi MERS bersifat
suportif tergantung kondisi keadaan pasien, berupa pemberian
hidrasi, antipiretik, analgesik, bantuan pernapasan, dan antibiotik
jika diperlukan.
2. Pemantauan dan pengawasan
Selama pengawasan, petugas dilapangan melakukan identifikasi siapa saja
yang telah melakukan kontak erat dengan kasus ini. Serta pemantauan,
para calon jamaah haji dan umroh dapat dipantau dalam mengkonsumsi
makanan & minuman yang dimasak dengan baik.
11

3. Screening (Tes Darah)


Spesimen klinis rutin (kultur mikroorganisme sputum dan darah), idealnya
sebelum penggunaan antibiotik. Pemeriksaan spesimen coronavirus baru
dilakukan dengan menggunakan reverse transcriptase polymerase chain
reaction (RT-PCR) spesimen dikirim ke Laboratorium Badan Litbangkes
RI Jakarta. Ambil spesimen serial dari beberapa tempat dalam waktu
bebrapa hari (2-3 hari) untuk melihat Viral shedding. Virus MERS-CoV
yang ditemukan di dalam cairan tubuh lainnya seperti darah, urin, dan
feses untuk mendiagnosa infeksi MERS-CoV belum pasti. Data selama ini
menunjukkan bahwa spesimen saluran napas bawah cenderung lebih
positif daripada spesimen saluran napas atas.
2.6 Sumber-Sumber dan Keterbatasan
Program SUMERS dibuat untuk mencegah dan mendeteksi adanya virus
MERS COV sehingga program ini membutuhkan keterlibatan dan dukungan dari
berbagai pihak. Adapun pihak-pihak yang berperan untuk mensukseskan demi
tercapai dan terlaksananya program yang kami buat yakni:
1. Departemen Kesehatan
2. Departemen Perhubungan
3. Biro Jasa Travel
Dalam penyelenggaraan program SUMERS juga terdapat beberapa hambatan dan
keterbatasan baik secara material maupun non material yakni:
1. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai bahaya virus MERS-COV
2. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menanamkan PHBS (Perilaku
hidup bersih dan sehat)
3. Kurangnya penelitian lebih lanjut mengenai penatalaksanaan dan
pengobatan MERS COV
12

2.7 Budget
KOMPONEN HARGA SATUAN BIAYA YANG
SATUAN DIPERLUKAN
Klinik Kesehatan di Rp.100.000,- 115 Rp.11.500.000,-
Bandara
Tenaga Kesehatan Rp.1000.000,- 805 Rp.805.000.000,-
(Dokter dan Perawat)
Vaksin Rp.450.000,- 6000 Rp.6.450.000.000,-

Tes Laboratorium Rp.550.000,- 6000 Rp.3.300.000.000,-

Leaflet Rp.2000,- 6000 Rp.12.000.000,-

Ambulan/rujukan Rp.300.000 300 Rp.90.000.000,-

Konsumsi peserta Rp.20.000,- 6000 Rp.120.000.000,-

TOTAL Rp.10.788.500.000
,-
13

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Virus MERS-CoV merupakan virus yang berasal dari negara Timur
Tengah dengan Negara Arab Saudi sebagai penyumbang pertama di seluruh
dunia. Virus ini secara tidak langsung dapat terbawa oleh seorang imigran baik
TKI, Haji, ataupun Umroh yang sedang pergi ke wilayah Timur Tengah dan
kembali ke Indonesia. Virus ini sangat berbahaya dan dapat mematikan apabila
tidak segera diatasi. Untuk itu perlu upaya pencegahan yang dapat dilakukan
seperti membuat kelas edukasi untuk jamaah umroh, pemberian vaksinasi,
pengawasan dan pemantauan jamaah serta skreening akhir dengan melakukan tes
darah untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus MERS-CoV atau tidak.
Sehingga penyebaran virus MERS-CoV dapat terkendali sebelum menyebar luas
di seluruh wilayah Indonesia.
3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya program ini pemerintah semakin cepat
menindaklanjuti penyebaran virus MERS-CoV sebelum menyebar secara luas di
Indonesia. Selain itu perlu adanya peningkatan upaya pencegahan terutama bagi
jamah haji/umroh dalam pemberian vaksin khusus untuk virus MERS-CoV itu
sendiri yang hingga saat ini masih belum tersedia.
14

DAFTAR PUSTAKA

CDC. 2016. Middle East Respiratory Syndrom.


https://www.cdc.gov/coronavirus/mers/about/index.html (Diakses 16 April
2018 pukul 19:10)

Depkes. 2013. Pedoman Umum Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East


Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV)
http://www.depkes.go.id/resources/download/puskes-haji/1-pedoman-
umum-kesiapsiagaan-menghadapi-mers-cov.pdf (Diakses 16 April 2018
pukul 20:22)

Kemenkes RI. 2013a. Pedoman Umum Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East


Respiratory Syndome-Corona Virus (MERS-CoV). Jakarta: Kemenkes RI

Kemenkes RI. 2013d. Pedoman Tatalaksana Klinis Infeksi Saluran Pernapasan


Akut Berat Suspek Middle East Respiratory Syndome-Corona Virus (MERS-
CoV). Jakarta: Kemenkes RI

Kementrian Agama. 2017. Kemenag Revisi Regulasi Penyelanggaraan Umrah.


https://haji.kemenag.go.id/v3/content/kemenag-revisi-regulasi-
penyelenggaraan-umrah (diakses pada tanggal 17 April 2018 pukul 11.25)

Kementrian Kesehatan. 2015. Hindari dan Wapadai Gejala MERS COV.


http://www.depkes.go.id/article/print/15070900005/hindari-dan-waspadai-
gejala-mers-cov.html (diakses pada tanggal 17 April 2018 pukul 11.45)

Kementrian Kesehatan. 2015. Siaga Hadapi MERS-CoV Jamaah Haji .


http://www.depkes.go.id/article/view/15092900001/siaga-hadapi-mers-cov-
pada-jamaah-haji.html (diakses pada tanggal 17 April 2018 pukul 11.33)
15

Kementrian Luar Negeri. 2014.Perkembangan Terkini Terkait Virus MERS di


Saudi Arabia. https://www.kemlu.go.id/id/berita/informasi-
penting/Pages/Perkembangan-Terkini-Terkait-Virus-MERS-di-Saudi-
Arabia.aspx (diakses pada tanggal 17 April 2018 pukul 18.30)

Sindo News. 2018. Jamaah Umrah Asal Indonesia Di Prediksi Capai 1 Juta
Orang. https://nasional.sindonews.com/read/1289977/15/jamaah-umrah-
dari-indonesia-diprediksi-capai-1-juta-orang-1521110842 (diakses pada
tanggal 17 April 2018 pukul 23.14)

Slamet, M. d. (2013). Pedoman survelians dan respon kesiapsiagaan menghadapi


middle east respiratory syndrom corona virus (MERS-CoV). JAKARTA

WHO. 2018. Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV).


http://www.who.int/mediacentre/factsheets/mers-cov/en/ (Diakses 17
April 2018 pukul 23:17)

WHO. 2015. Summary Of Current Situation, Literature Update And Risk


Assessment.
http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/179184/WHO_MERS_RA_
15.1_eng.pdf;jsessionid=1817988561CC73AEC78EEE6271E71F09?sequen
ce=2. (Diakses 17 April 2018 pukul 22:05)

http://www.depkes.go.id/resources/download/puskes-haji/1-pedoman-umum-
kesiapsiagaan-menghadapi-mers-cov.pdf (diakses pada 17 April 2018 pukul
09:20)