Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN DAN

ASUHAN KEPERAWATAN
BENIGNA PROSTAT HYPERPLASI (BPH)

1. Definisi
BPH (Benigna Prostat Hyperplasi) adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine (urethra).
2. Etiologi
Mulai ditemukan pada umur kira-kira 45 tahun dan frekuensi makin
bertambah sesuai dengan bertambahnya umur, sehingga diatas umur 80 tahun kira-
kira 80 % menderita kelainan ini.
Sebagai etiologi sekarang dianggap ketidakseimbangan endokrin. Testosteron
dianggap mempengaruhi bagian tepi prostat, sedangkan estrogen (dibuat oleh kelenjar
adrenal) mempengaruhi bagian tengah prostat.
3. Faktor Predisposisi/Faktor Pencetus
Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang
diduga timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain :
a. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)
b. Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan
stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia.
c. Ketidak seimbangan estrogen – testoteron
d. Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan
penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap yang dapat menyebabkan terjadinya
hyperplasia stroma.
e. Interaksi stroma - epitel
f. Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan
transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel.
g. Penurunan sel yang mati
h. Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel
dari kelenjar prostat.
i. Teori stem cell
j. Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.
4. Patofisiologi
BPH terjadi pada umur yang semakin tua (> 45 tahun ) dimana fungsi testis
sudah menurun. Akibat penurunan fungsi testis ini menyebabkan ketidakseimbangan
hormon testosteron dan dehidrotesteosteron sehingga memacu
pertumbuhan/pembesaran prostat. Makrokospik dapat mencapai 60 - 100 gram dan
kadang-kadang lebih besar lagi hingga 200 gram atau lebih. Tonjolan biasanya
terdapat pada lobus lateralis dan lobus medius, tetapi tidak mengenai bagian posterior
dari pada lobus medialis, yaitu bagian yang dikenal sebagai lobus posterior, yang
sering merupakan tempat berkembangnya karsinoma (Moore). Tonjolan ini dapat
menekan urethra dari lateral sehingga lumen urethra menyerupai celah, atau menekan
dari bagian tengah. Kadang-kadang penonjolan itu merupakan suatu polip yang
sewaktu-waktu dapat menutup lumen urethra. Pada penampang, tonjolan itu jelas
dapat dibedakan dengan jaringan prostat yang masih baik. Warnanya bermacam-
macam tergantung kepada unsur yang bertambah.
Apabila yang bertambah terutama unsur kelenjar, maka warnanya kung
kemerahan, berkonsistensi lunak dan terbatas tegas dengan jaringan prostat yang
terdesak, yang berwarna putih keabu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan
maka akan keluar caiaran seperti susu. Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah,
maka tonjolan berwarna abu-abu padat dan tidak mengeluarkan cairan seperti halnya
jaringan prostat yang terdesak sehingga batasnya tidak jelas. Gambaran mikroskopik
juga bermacam-macam tergantung pada unsur yang berproliferasi. Biasanya yang
lebih banyak berproliferasi ialah unsur kelenjar sehingga terjadi penambahan kelenjar
dan terbentuk kista-kista yang dilapisi oleh epitel torak atau koboid selapis yang pada
beberapa tempat membentuk papil-papil ke dalam lumen. Membran basalis masih
utuh. Kadang-kadang terjadi penambahan kelenjar yang kecil-kecil sehingga
menyerupai adenokarsinoma. Dalam kelenjar sering terdapat sekret granuler, epitel
yang terlepas dan corpora anylacea. Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah,
maka terjadi gambaran yang terjadi atas jaringan ikat atau jaringan otot dengan
kelenjar-kelenjar yang letaknya saling berjauhan. Gambaran ini juga dinamai
hiperplasi fibrimatosa atau hiperplasi leiomymatosa.
Pada jaringan ikat atau jaringan otot biasanya terdapat serbukan limfosit.
Selain gambaran di atas sering terdapat perubahan lain berupa :
a. Metaplasia skwamosa epitel kelenjar dekat uretra.
b. Daerah infark yang biasanya kecil-kecil dan kadang-kadang terlihat di bawah
mikroskop.
Tanda dan gejala dari BPH adalah dihasilkan oleh adanya obstruksi jalan
keluar urin dari kandung kemih.
Ada tiga cara pengkuran besarnya hipertropi prostat :
a. Rectal Grading, yaitu dengan rectal toucher diperkirakan berapa cm prostat yang
menonjol ke dalam lumen rektum yang dilakukan sebaiknya pada saat buli-buli
kosong.
Gradasi ini adalah :
0 - 1 cm : grade 0
1 - 2 cm : grade 1
2 - 3 cm : grade 2
3 - 4 cm : grade 3
> 4 cm : grade 4
Pada grade 3 - 4 batas prostat tidak teraba. Prostat fibrotik, teraba lebih kecil dari
normal.
b. Clinical Grading, dalam hal ini urine menjadi patokan. Pada pagi hari setelah
bangun pasien disuruh kencing sampai selesai, kemudian di masukan kateter ke
dalam buli-buli untuk mengukur sisa urine.
Sisa urine 0 cc : normal
Sisa urine 0-50 cc : grade 1
Sisa urine 50-150 cc : grade 2
Sisa urine > 150 cc : grade 3
Tidak bisa kencing : grade 4
c. Intra Uretral Grading, dengan alat perondoskope dengan diukur / dilihat bebrapa
jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen uretra.
Grade I :
Clinical grading sejak berbulan-bulan, bertahun-tahun, mengeluh kalau kencing tidak
lancar, pancaran lemah, nokturia.
Grade II :
Bila miksi terasa panas, sakit, disuria.
Grade III :
Gejala makin berat

Grade IV :
Buli-buli penuh, disuria, overflow inkontinence. Bila overflow inkontinence
dibiarkan dengan adanya infeksi dapat terjadi urosepsis berat. Pasien menggigil,
panas 40-41 celsius, kesadaran menurun.
5. Tanda dan gejala
Walaupun hyperplasi prostat selalu terjadi pada orangtua, tetapi tidak selalu
disertai gejala-gejala klinik.
Gejala klinik terjadi terjadi oleh karena 2 hal, yaitu :
a. Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih.
b. Retensi air kemih dalam kandung kemih yang menyebabkan dilatasi kandung kemih,
hipertrofi kandung kemih dan cystitis.
Gejala klinik dapat berupa :
a. Frekuensi berkemih bertambah
b. Berkemih pada malam hari.
c. Kesulitan dalam hal memulai dan menghentikan berkemih.
d. Air kemih masih tetap menetes setelah selesai berkemih.
e. Rasa nyeri pada waktu berkemih.
Kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui, penderita sama sekali tidak dapat
berkemih sehingga harus dikeluarkan dengan kateter. Selain gejala-gejala di atas oleh
karena air kemih selalu terasa dalam kandung kemih, maka mudah sekali terjadi
cystitis dan selanjutnya kerusakan ginjal yaitu hydroneprosis, pyelonefritis.
Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut
sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :
a. Gejala Obstruktif yaitu :
1. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan
yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa
lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra
prostatika.
2. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena
ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai
berakhirnya miksi.
3. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
4. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan
waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.
5. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.
b. Gejala Iritasi yaitu :
1. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
2. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam
hari (Nocturia) dan pada siang hari.
3. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologi
Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk
a. Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia
b. Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine
c. Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat
Hyperplasia atau tidak
Beberapa Pemeriksaan Radiologi
a. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi,
dipertikel buli.
Indikasi : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis
Tanda BPH : Impresi prostat, hockey stick ureter
b. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
c. Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko
ureter/striktur uretra.
d. USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai
pembesaran prostat jinak/ganas
Pemeriksaan Endoskopi.
Pemeriksaan Uroflowmetri
Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli
Q max : > 15 ml/detik  non obstruksi
10 - 15 ml/detik  border line
< 10 ml/detik  obstruktif
Pemeriksaan Laborat
a. Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, Elektrolit, Na,/K,
Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur)
Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah
atau PUS.
b. RFT  evaluasi fungsi renal
c. Serum Acid Phosphatase  Prostat Malignancy
7. Penatalaksanaan
A. Non Pembedahan
1. Memperkecil gejala obstruksi  hal-hal yang menyebabkan pelepasan cairan prostat.
2. Menghindari minum banyak dalam waktu singkat, menghindari alkohol dan diuretic
mencegah oven distensi kandung kemih akibat tonus otot detrussor menurun.
3. Menghindari obat-obat penyebab retensi urine seperti : anticholinergic, anti histamin,
decongestan.
4. Observasi Watchfull Waiting
Yaitu pengawasan berkala/follow – up tiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun
tergantung keadaan klien, Indikasi : BPH dengan IPPS Ringan, Baseline data
normal, Flowmetri non obstruksi
5. Terapi medikamentosa pada Benigne Prostat Hyperplasia
Terapi ini diindikasikan pada Benigne Prostat Hyperplasia dengan keluhan ringan,
sedang dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi pembedahan, tetapi masih
terdapat kontra indikasi atau belum “well motivated”. Obat yang digunakan berasal
dari Fitoterapi, Golongan Supressor Androgen dan Golongan Alfa Bloker.
a. Fito Terapi
1. Hypoxis rosperi (rumput)
2. Serenoa repens (palem)
3. Curcubita pepo (waluh )
b. Pemberian obat Golongan Supressor Androgen/anti androgen :
1. Inhibitor 5 alfa reduktase
2. Anti androgen
3. Analog LHRH
c. Pemberian obat Golongan Alfa Bloker/obat penurun tekanan diuretra-prostatika :
Prazosin, Alfulosin, Doxazonsin, Terazosin
6. Bila terjadi retensi urine
a. Kateterisasi  Intermiten
Indwelling
b. Dilakukan pungsi blass
c. Dilakukan cystostomy
7. Prostetron (Trans Uretral Microwave Thermoterapy/TUMT)
B. Pembedahan
1. Trans Uretral Reseksi Prostat : 90 - 95 %
2. Open Prostatectomy : 5 - 10 %
BPH yang besar (50 - 100 gram)  Tidak habis direseksi dalam 1 jam. Disertai Batu
Buli Buli Besar (>2,5cm), multiple. Fasilitas TUR tak ada.
Mortalitas Pembedahan BPH
0 - 1 % KAUSA : Infark Miokatd
Septikemia dengan Syok
Perdarahan Massive
Kepuasan Klien : 66 – 95 %
Indikasi Pembedahan BPH
 Retensi urine akut
 Retensi urine kronis
 Residual urine lebih dari 100 ml
 BPH dengan penyulit
 Hydroneprosis
 Terbentuknya Batu Buli
 Infeksi Saluran Kencing Berulang
 Hematuri berat/berulang
 Hernia/hemoroid
 Menurunnya Kualitas Hidup
 Retensio Urine
 Gangguan Fungsi Ginjal
 Terapi medikamentosa tak berhasil
 Sindroma prostatisme yang progresif
 Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif
 Flow. Max kurang dari 10 ml
 Kurve berbentuk datar
 Waktu miksi memanjang
Kontra Indikasi
 IMA
 CVA akut
Tujuan :
 Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli
 Memperbaiki kualitas hidup
Trans Uretral Reseksi Prostat  90 - 95 %
Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial.
Keuntungan :
 Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan
 Tak perlu insisi pembedahan
 Hospitalisasi dan penyebuhan pendek
Kerugian :
 Jaringan prostat dapat tumbuh kembali
 Kemungkinan trauma urethra  strictura urethra.
Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy
 Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih

Perianal Prostatectomy
 Pembesaran prostat disertai batu buli-buli
 Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif
 Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat
9. Pengkajian
a Sirkulasi :
Peningkatan tekanan darah (efek lebih lanjut pada ginjal )
b Eliminasi :
 Penurunan kekuatan / kateter berkemih.
 Ketidakmampuan pengosongan kandung kemih.
 Nokturia, disuria, hematuria.
 Duduk dalam mengosongkan kandung kemih.
 Kekambuhan UTI, riwayat batu (urinary stasis).
 Konstipasi (penonjolan prostat ke rektum)
 Masa abdomen bagian bawah, hernia inguinal, hemoroid (akibat peningkatan
tekanan abdomen pada saat pengosongan kandung kemih)
c Makanan / cairan:
 Anoreksia, nausea, vomiting.
 Kehilangan BB mendadak.
d Nyeri / nyaman :
 Suprapubis, panggul, nyeri belakang, nyeri pinggang belakang, intens (pada
prostatitis akut).
e Rasa nyaman : demam
f Seksualitas :
 Perhatikan pada efek dari kondisinya/tetapi kemampuan seksual.
 Takut beser kencing selama kegiatan intim.
 Penurunan kontraksi ejakulasi.
 Pembesaran prostat.
g Pengetahuan / pendidikan :
 Riwayat adanya kanker dalam keluarga, hipertensi, penyakit gula.
 Penggunaan obat antihipertensi atau antidepresan, antibiotika / antibakterial untuk
saluran kencing, obat alergi.

PRE OPERATIF CARE


Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan
memberikan informasi yang akurat pada klien
 Type pembedahan
 Jenis anesthesi  TUR – P, general / spina anesthesi
 Cateter : folly cateter, Continuous Bladder Irigation (CBI).
Persiapan orerasi lainnya yaitu :
 Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula darah, Elektrolit
 Pemeriksaan EKG
 Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG, APG.
 Pemeriksaan Uroflowmetri  Bagi penderita yang tidak memakai kateter.
 Pemasangan infus dan puasa
 Pencukuran rambut pubis dan lavemen.
 Pemberian Anti Biotik
 Surat Persetujuan Operasi (Informed Concern).
POST OPERATIF CARE
Post operatif care pada dasarnya sama seperti pasien lainnya yaitu monitoring
terhadap respirasi, sirkulasi dan kesadaran pasien :
1. Airway : Bebaskan jalan fafas
Posisi kepala ekstensi
Breathing : Memberikan O2 sesuai dengan kebutuhan
Observasi pernafasan
Cirkulasi : mengukur tensi, nadi, suhu tubuh, pernafasan, kesadaran dan produksi
urine pada fase awal (6jam) paska operasi harus dimonitor setiap jam dan harus
dicatat.
Bila pada fase awal stabil, monitor/interval bisa 3 jam sekali
Bila tensi turun, nadi meningkat (kecil), produksi urine merah pekat harus waspada
terjadinya perdarahan  segera cek Hb dan lapor dokter.
Tensi meningkat dan nadi menurun (bradikardi), kadar natrium menurun, gelisah atau
delir harus waspada terjadinya syndroma TUR  segera lapor dokter.
Bila produksi urine tidak keluar (menurun) dicari penyebabnya apakah kateter buntu
oleh bekuan darah  terjadi retensi urine dalam buli-buli  lapor dokter, spoling
dengan PZ tetesan tergantung dari warna urine yang keluar dari Urobag. Bila urine
sudah jernih tetesan spoling hanya maintennens/dilepas dan bila produksi urine masih
merah spoling diteruskan sampai urine jernih.
Bila perlu Analisa Gas Darah
Apakah terjadi kepucatan, kebiruan.
Cek lab : Hb, RFT, Na/K dan kultur urine.
2. Pemberian Anti Biotika
 Antibiotika profilaksis, diberikan bila hasil kultur urine sebelum operasi steril.
Antibiotik hanya diberikan 1 X pre operasi + 3 – 4 jam sebelum operasi.
 Antibiotik terapeutik, diberikanpada pasien memakai dower kateter dari hasil kultur
urine positif. Lama pemberian + 2 minggu, mula-mula diberikan parenteral
diteruskan peroral. Setiap melepas kateter harus diberikan antibiotik profilaksis untuk
mencegah septicemia.
3. Perawatan Kateter
Kateter uretra yang dipasang pada pasca operasi prostat yaitu folley kateter 3 lubang
(treeway catheter) ukuran 24 Fr.
Ketiga lubang tersebut gunanya :
1. Untuk mengisibalon, antara 30 – 40 ml cairan
2. Untuk melakukan irigasi/spoling
3. Untuk keluarnya cairan (urine dan cairan spoling).
Setelah 6 jam pertama sampai 24 jam kateter tadi biasanya ditraksi dengan
merekatkan ke salah satu paha pasien dengan tarikan berat beban antara 2 – 5 kg.
Paha ini tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.
Paling lambat pagi harinya traksi harus dilepas dan fiksasi kateter dipindahkan ke
paha bagian proximal/ke arah inguinal agar tidak terjadi penekanan pada uretra
bagian penosskrotal. Guna dari traksi adalah untuk mencegah perdarahan dari prostat
yang diambil mengalir di dalam buli-buli, membeku dan menyumbat pada kateter.
Bila terlambat melepas kateter traksi, dikemudian hari terjadi stenosis leher buli-buli
karena mengalami ischemia.
Tujuan pemberian spoling/irigasi :
1. Agar jalannya cairan dalam kateter tetap lancar.
2. Mencegah pembuntuan karena bekuan darah menyumbat kateter
3. Cairan yang digunakan spoling H2O / PZ
Kecepatan irigasi tergantung dari warna urine, bila urine merah spoling dipercepat
dan warna urine harus sering dilihat. Mobilisasi duduk dan berjalan urine tetap jernih,
maka spoling dapat dihentikan dan pipa spoling dilepas.
Kateter dilepas pada hari kelima. Setelah kateter dilepas maka harus diperhatikan
miksi penderita. Bisa atau tudak, bila bisa berapa jumlahnya harus diukur dan dicatat
atau dilakukan uroflowmetri.
Sebab-sebab terjadinya retensio urine lagi setelah kateter dilepas :
1. Terbentuknya bekuan darah
2. Pengerokan prostat kurang bersih (pada TUR) sehingga masih terdapat obstruksi.
10. Diagnosa Keperawatan
a Pre operasi
1. Retensi urin
2. Nyeri kronis
3. Cemas
b Post operasi
1. Nyeri akut
2. Kurang pengetahuan
3. Risiko infeksi
11. Rencana Keperawatan
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1. Kerusakan eliminasi NOC : NIC :


urine urin  Urinary continence Urinary Chateterization
 Urinary elimination - Jelaskan prosedur dasn rasional
Definisi : dari intervensi
Pengosongan kandung Kriteria Hasil : - Sediakan peralartan kateterisasi
kemih yang tidak
1. Pengeluaran urin dapat - Pertahankan teknik aseptik yang
sempurna diprediksi ketat
2. Dapat secara sempurna - Masukan secara langsung atau
Batasan karakteristik : dan teratur mengeluarkan retensi kateter ke dalam bladder
- Distensi kandung kemih urin dari kandung kemih; - Hubungkan kateter pada kantung
- Sedikit, sering kencing mengukur volume drainase
atau tidak adanya urin residual urin < 150 – 200 - Amankan kateter pada kulit
yang keluar ml atau 25 % dari total - Pertaahankan sistem drainase
- Urin jatuh menetes kapasitas kandung kemih tertutup
- Disuria 3. Mengoreksi -
atau Monitor intake dan input.
- Inkontinentia overflow menurunkan gejala
- Urin residual obstruksi Urinary Retentiuon care
- Sensasi penuh dari 4. Klien bebas -
dari Monitor eliminasi urin
kandung kemih kerusakan saluran kemih - Monitor tanda dan gejala retensi
bagian atas. urin
Faktor yang berhubungan - Ajarkan kepada klien tanda dan
: gejala retensi urin
- Infeksi traktus urinarus - Catat waktu setiap eliminasi urin
- Obstruksi anatomik - Anjurkan klien/keluarga untuk
- Penyebab multiple menmcatat outpout urin
- Kerusakan sensori - Ambil spesimen urin
motorik - Ajarkan klien meminum 8 gelasa
cairan sehari
- Bantu klien dalam BAK rutin

Fluid management
 Timbang popok/pembalut jika
diperlukan
 Pertahankan catatan intake dan
output yang akurat
 Monitor status hidrasi (
kelembaban membran mukosa,
nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik ), jika diperlukan
 Monitor vital sign
 Monitor masukan makanan /
cairan dan hitung intake kalori
harian
 Lakukan terapi IV
 Monitor status nutrisi
 Berikan cairan
 Berikan cairan IV pada suhu
ruangan
 Dorong masukan oral
 Berikan penggantian nesogatrik
sesuai output
 Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
 Tawarkan snack ( jus buah, buah
segar )
 Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul meburuk
 Atur kemungkinan tranfusi
 Persiapan untuk tranfusi

2. Nyeri Kronis NOC : NIC :


 Pain Level,
 Pain control,
Definisi :
Sensori yang  Comfort level
tidak Pain
menyenangkan
pengalaman
dan
emosional Kriteria Hasil : Management
yang muncul secara
1. Mampu mengontrol nyeri
aktual atau potensial (tahu penyebab nyeri,  Lakukan pengkajian nyeri secara
kerusakan jaringan atau mampu menggunakan komprehensif termasuk lokasi,
menggambarkan adanya tehnik nonfarmakologi karakteristik, durasi, frekuensi,
kerusakan (Asosiasi Studi untuk mengurangi nyeri, kualitas dan faktor presipitasi
Nyeri Internasional): mencari bantuan)  Observasi reaksi nonverbal dari
serangan mendadak atau 2. Melaporkan bahwa nyeri ketidaknyamanan
pelan intensitasnya dari berkurang dengan Gunakan teknik komunikasi
ringan sampai berat yang menggunakan manajemen terapeutik untuk mengetahui
dapat diantisipasi dengan nyeri pengalaman nyeri pasien
akhir yang dapat
3. Mampu mengenali nyeri  Kaji kultur yang mempengaruhi
diprediksi dan dengan (skala, intensitas, respon nyeri
durasi lebih dari 6 bulan. frekuensi dan tanda nyeri)  Evaluasi pengalaman nyeri masa
4. Menyatakan rasa nyaman lampau
Batasan karakteristik : setelah nyeri berkurang  Evaluasi bersama pasien dan tim
- Laporan secara verbal 5. Tanda vital dalam kesehatan lain tentang
atau non verbal rentang normal ketidakefektifan kontrol nyeri
- Fakta dari observasi masa lampau
- Posisi antalgic untuk  Bantu pasien dan keluarga untuk
menghindari nyeri mencari dan menemukan
- Gerakan melindungi dukungan
- Tingkah laku berhati-hati  Kontrol lingkungan yang dapat
- Muka topeng mempengaruhi nyeri seperti suhu
- Gangguan tidur (mata ruangan, pencahayaan dan
sayu, tampak capek, sulit kebisingan
atau gerakan kacau,  Kurangi faktor presipitasi nyeri
menyeringai)  Pilih dan lakukan penanganan nyeri
- Terfokus pada diri (farmakologi, non farmakologi
sendiri dan inter personal)
- Fokus menyempit  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
(penurunan persepsi menentukan intervensi
waktu, kerusakan proses  Ajarkan tentang teknik non
berpikir, penurunan farmakologi
interaksi dengan orang  Berikan analgetik untuk
dan lingkungan) mengurangi nyeri
- Tingkah laku distraksi,  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
contoh : jalan-jalan,  Tingkatkan istirahat
menemui orang lain  Kolaborasikan dengan dokter jika
dan/atau aktivitas, ada keluhan dan tindakan nyeri
aktivitas berulang-ulang) tidak berhasil
- Respon autonom (seperti  Monitor penerimaan pasien tentang
diaphoresis, perubahan manajemen nyeri
tekanan darah, perubahan
nafas, nadi dan dilatasi
pupil) Analgesic Administration
- Perubahan autonomic  Tentukan lokasi, karakteristik,
dalam tonus otot kualitas, dan derajat nyeri
(mungkin dalam rentang sebelum pemberian obat
dari lemah ke kaku)  Cek instruksi dokter tentang jenis
- Tingkah laku ekspresif obat, dosis, dan frekuensi
(contoh : gelisah,  Cek riwayat alergi
merintih, menangis,  Pilih analgesik yang diperlukan
waspada, iritabel, nafas atau kombinasi dari analgesik
panjang/berkeluh kesah) ketika pemberian lebih dari satu
- Perubahan dalam nafsu  Tentukan pilihan analgesik
makan dan minum tergantung tipe dan beratnya
nyeri
Faktor yang berhubungan  Tentukan analgesik pilihan, rute
: pemberian, dan dosis optimal
Agen injuri (biologi,  Pilih rute pemberian secara IV, IM
kimia, fisik, psikologis) untuk pengobatan nyeri secara
teratur
 Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
 Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek samping)

3. Nyeri akut b/d cidera NOC :


fisik akibat pembedahan  Pain Level, NIC :
 Pain control,
 Comfort level
Definisi :
Sensori yang tidak Pain
menyenangkan
pengalaman
dan Kriteria Hasil :
emosional
1. Mampu mengontrol nyeri Management
yang muncul secara (tahu penyebab nyeri,
aktual atau potensial mampu menggunakan  Lakukan pengkajian nyeri secara
kerusakan jaringan atau tehnik nonfarmakologi komprehensif termasuk lokasi,
menggambarkan adanya untuk mengurangi nyeri, karakteristik, durasi, frekuensi,
kerusakan (Asosiasi Studi mencari bantuan) kualitas dan faktor presipitasi
Nyeri Internasional):
2. Melaporkan bahwa nyeri  Observasi reaksi nonverbal dari
serangan mendadak atau berkurang dengan ketidaknyamanan
pelan intensitasnya dari menggunakan manajemen  Gunakan teknik komunikasi
ringan sampai berat yang nyeri terapeutik untuk mengetahui
dapat diantisipasi dengan 3. Mampu mengenali nyeri pengalaman nyeri pasien
akhir yang dapat (skala,  Kaji kultur yang mempengaruhi
intensitas,
diprediksi dan dengan frekuensi dan tanda nyeri) respon nyeri
durasi kurang dari 4.6 Menyatakan rasa nyaman  Evaluasi pengalaman nyeri masa
bulan. setelah nyeri berkurang lampau
5. Tanda vital dalam  Evaluasi bersama pasien dan tim
Batasan karakteristik : rentang normal kesehatan lain tentang
- Laporan secara verbal ketidakefektifan kontrol nyeri
atau non verbal masa lampau
- Fakta dari observasi  Bantu pasien dan keluarga untuk
- Posisi antalgic untuk mencari dan menemukan
menghindari nyeri dukungan
- Gerakan melindungi  Kontrol lingkungan yang dapat
- Tingkah laku berhati-hati mempengaruhi nyeri seperti suhu
- Muka topeng ruangan, pencahayaan dan
- Gangguan tidur (mata kebisingan
sayu, tampak capek, sulit  Kurangi faktor presipitasi nyeri
atau gerakan kacau,  Pilih dan lakukan penanganan nyeri
menyeringai) (farmakologi, non farmakologi
- Terfokus pada diri dan inter personal)
sendiri  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
- Fokus menyempit menentukan intervensi
(penurunan persepsi  Ajarkan tentang teknik non
waktu, kerusakan proses farmakologi
berpikir, penurunan  Berikan analgetik untuk
interaksi dengan orang mengurangi nyeri
dan lingkungan)  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
- Tingkah laku distraksi,  Tingkatkan istirahat
contoh : jalan-jalan,  Kolaborasikan dengan dokter jika
menemui orang lain ada keluhan dan tindakan nyeri
dan/atau aktivitas, tidak berhasil
aktivitas berulang-ulang)  Monitor penerimaan pasien tentang
- Respon autonom (seperti manajemen nyeri
diaphoresis, perubahan
tekanan darah, perubahan Analgesic Administration
nafas, nadi dan dilatasi  Tentukan lokasi, karakteristik,
pupil) kualitas, dan derajat nyeri
- Perubahan autonomic sebelum pemberian obat
dalam tonus otot  Cek instruksi dokter tentang jenis
(mungkin dalam rentang obat, dosis, dan frekuensi
dari lemah ke kaku)  Cek riwayat alergi
- Tingkah laku ekspresif  Pilih analgesik yang diperlukan
(contoh : gelisah, atau kombinasi dari analgesik
merintih, menangis, ketika pemberian lebih dari satu
waspada, iritabel, nafas  Tentukan pilihan analgesik
panjang/berkeluh kesah) tergantung tipe dan beratnya
- Perubahan dalam nafsu nyeri
makan dan minum  Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
Faktor yang berhubungan  Pilih rute pemberian secara IV, IM
: untuk pengobatan nyeri secara
Agen injuri (biologi, teratur
kimia, fisik, psikologis)  Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
 Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek samping)

4. Kurang
tentang
pengetahuan NOC :
kondisi, Kowlwdge : disease NIC :
prognosis,kebutuhan process
 Kowledge
pengobatan
keterbatasan kognitif.
b/d
Behavior
: health
Teaching :
Definisi : Kriteria Hasil : disease Process
Tidak adanya atau
1. Pasien dan keluarga
kurangnya informasi menyatakan pemahaman  Berikan penilaian tentang
kognitif sehubungan tentang penyakit, kondisi, tingkat pengetahuan
dengan topic spesifik. prognosis dan program pasien tentang proses
pengobatan penyakit yang spesifik
Batasan karakteristik 2.: Pasien dan keluarga  Jelaskan patofisiologi dari
memverbalisasikan mampu melaksanakan penyakit dan bagaimana
adanya masalah,
prosedur yang dijelaskan hal ini berhubungan
ketidakakuratan secara benar dengan anatomi dan
mengikuti instruksi,
3.
Pasien dan keluarga fisiologi, dengan cara
perilaku tidak sesuai. mampu menjelaskan yang tepat.
kembali apa yang  Gambarkan tanda dan
Faktor yang berhubungan dijelaskan perawat/tim gejala yang biasa muncul
: keterbatasan kognitif, kesehatan lainnya pada penyakit, dengan
interpretasi terhadap cara yang tepat
informasi yang salah,  Gambarkan proses
kurangnya keinginan penyakit, dengan cara
untuk mencari informasi, yang tepat
tidak mengetahui sumber-  identifikasi kemungkinan
sumber informasi. penyebab, dengna cara
yang tepat
 Sediakan informasi pada
pasien tentang kondisi,
dengan cara yang tepat
 Hindari harapan yang
kosong
 Sediakan bagi keluarga
informasi tentang
kemajuan pasien dengan
cara yang tepat
 Diskusikan perubahan
gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi di
masa yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan penyakit
 Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
 Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
 Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat
 Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk melaporkan
pada pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat.

5. Resiko Infeksi
tindakan invasive Resiko
b/d NOC :
 Immune Status NIC :
Infeksi b/d tindakan Knowledge : Infection
invasive control
 Risk control Infection
Definisi : Peningkatan
resiko masuknya Kriteria Hasil : Control
organisme patogen 1. Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi (Kontrol
-
Faktor-faktor resiko : 2. Mendeskripsikan proses
Prosedur Infasif penularan penyakit, factor infeksi)
- Ketidakcukupan yang mempengaruhi
pengetahuan untuk penularan 
serta Bersihkan lingkungan setelah
menghindari paparan penatalaksanaannya, dipakai pasien lain
patogen 3. Menunjukkan Pertahankan teknik isolasi
- Trauma kemampuan 
untuk Batasi pengunjung bila perlu
- Kerusakan jaringan dan mencegah timbulnya
 Instruksikan pada pengunjung
peningkatan paparan infeksi untuk mencuci tangan saat
lingkungan 4. Jumlah leukosit dalam berkunjung dan setelah
- Ruptur membran amnion batas normal berkunjung meninggalkan pasien
- Agen farmasi
5. Menunjukkan perilaku  Gunakan sabun antimikrobia
(imunosupresan) hidup sehat untuk cuci tangan
- Malnutrisi  Cuci tangan setiap sebelum dan
- Peningkatan paparan sesudah tindakan keperawatan
lingkungan patogen
 Gunakan baju, sarung tangan
- Imonusupresi
sebagai alat pelindung
- Ketidakadekuatan imum
 Pertahankan lingkungan aseptik
buatan
selama pemasangan alat
- Tidak adekuat
pertahanan sekunder  Ganti letak IV perifer dan line
(penurunan Hb, central dan dressing sesuai
Leukopenia, penekanan dengan petunjuk umum
respon inflamasi)  Gunakan kateter intermiten
- Tidak adekuat untuk menurunkan infeksi
pertahanan tubuh primer kandung kencing
(kulit tidak utuh, trauma  Tingktkan intake nutrisi
jaringan, penurunan kerja  Berikan terapi antibiotik bila
silia, cairan tubuh statis, perlu
perubahan sekresi pH,
perubahan peristaltik)
- Penyakit kronik
Infection
Protection
(proteksi
terhadap
infeksi)
 Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
 Monitor hitung granulosit, WBC
 Monitor kerentanan terhadap
infeksi
 Batasi pengunjung
 Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
 Partahankan teknik aspesis pada
pasien yang beresiko
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Berikan perawatan kuliat pada
area epidema
 Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
 Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari
infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif

6. Cemas b/d perubahan NOC :


 Anxiety control
status kesehatan (rencana NIC :
tindakan operasi )  Coping
 Impulse control
Definisi : Anxiety
Perasaan gelisah yang tak
jelas dari
1.
Kriteria Hasil :
Klien mampu Reduction
ketidaknyamanan atau
ketakutan yang disertai
mengidentifikasi
mengungkapkan
dan
gejala (penurunan
respon autonom (sumner
tidak spesifik atau tidak2.
cemas
Mengidentifikasi, kecemasan)
diketahui oleh individu); mengungkapkan dan
perasaan keprihatinan menunjukkan tehnik Gunakan pendekatan yang
disebabkan dari antisipasi untuk mengontol cemas menenangkan
terhadap bahaya. Sinyal 3. Vital sign dalam batas  Nyatakan dengan jelas harapan
ini merupakan peringatan normal terhadap pelaku pasien
adanya ancaman yang 4. Postur tubuh, ekspresi  Jelaskan semua prosedur dan apa
akan datang dan wajah, bahasa tubuh dan yang dirasakan selama prosedur
memungkinkan individu tingkat 
aktivitas Pahami prespektif pasien terhdap
untuk mengambil langkah menunjukkan situasi stres
untuk menyetujui berkurangnya kecemasan Temani pasien untuk
terhadap tindakan memberikan keamanan dan
Ditandai dengan mengurangi takut
 Gelisah  Berikan informasi faktual
 Insomnia mengenai diagnosis, tindakan
 Resah prognosis
 Ketakutan  Dorong keluarga untuk
 Sedih menemani anak
 Fokus pada diri  Lakukan back / neck rub
 Kekhawatiran  Dengarkan dengan penuh
 Cemas perhatian
 Identifikasi tingkat kecemasan
 Bantu pasien mengenal situasi
yang menimbulkan kecemasan
 Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
 Instruksikan pasien
menggunakan teknik relaksasi
 Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC.
Jakarta.

Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC.
Jakarta.

Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

Guyton, Arthur C, Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit, EGC Penerbit buku kedokteran, Jakarta,
1987.

Johnson., Mass. 1997. Nursing Outcomes Classification, Availabel on: www.Minurse.com, 28 Oktober 2009

McCloskey, Joanne C,. Bulecheck, Gloria M. 1996. Nursing Intervention Classsification (NIC). Mosby, St.
Louise.

NANDA, 2002. Nursing Diagnosis : Definition and Classification (2001-2002), Philadelphia.

Ditulis oleh DMBASNYU di 6:58:00 PM


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Keperawatan Bedah

14 komentar:

1.

Ace MaxsRabu, Juni 10, 2015 11:37:00 AM


terimakasih informasinya, lengkap dan membantu sekali

http://acemaxsshop.com/obat-tradisional-kanker-prostat/

Balas

2.

Reza Ahmad FirdausSabtu, Mei 28, 2016 2:44:00 PM

thank for share


obat hernia

Balas

3.

Nate RiverSelasa, Agustus 02, 2016 2:53:00 PM

Thanks for sharing, success always

OBAT BATUK
OBAT SINUSITIS
OBAT KOLESTEROL
OBAT ASMA
OBAT AMBEIEN

Balas

4.

Nate RiverSelasa, Agustus 02, 2016 2:54:00 PM

Very good idea you've shared here, from here I can be a very valuable new experience.
all things that are here will I make the source of reference, thank you friends.

OBAT BATUK
OBAT SINUSITIS
OBAT KOLESTEROL
OBAT ASMA
OBAT AMBEIEN

Balas
5.

Nate RiverSelasa, Agustus 02, 2016 2:56:00 PM

It is interesting to read, I hope the future is much better

OBAT BATUK
OBAT SINUSITIS
OBAT KOLESTEROL
OBAT ASMA
OBAT AMBEIEN

Balas

6.

agaric proSenin, Desember 12, 2016 2:39:00 PM

Thank you for sharing the information very useful. It is very pleasant to read this article
from your website.
Obat ambeien yang paling ampuh ditahun ini

Balas

7.

viagra asliMinggu, April 02, 2017 11:20:00 PM

good ...?????
Vimax
Viagra
Obat Kuat

Balas

8.

ViagraSelasa, Agustus 15, 2017 10:27:00 AM

Terimakasih
Viagra
Obat Kuat
Obat Viagra
Obat Kuat Viagra
Viagra Asli
Viagra Usa
Viagra

Balas

9.

UnknownSelasa, November 07, 2017 3:20:00 PM

Good Idea this blog is verry nice, Thanks for information and good Site and The best
Author
Obat Hernia Anak
Obat Hidrokel Anak
Cara Menyembuhkan Hidrokel
Baja Ringan Tangerang
Penjual Baja Ringan di Tangerang
Mengenali penyebab Jantung bengkak
ASKEP BLBR
ASKEP DERMATITIS

Balas

10.

UnknownSelasa, November 07, 2017 3:20:00 PM

Nicely, Good Site. Thanks for Post this blog is Verry Good.
Obat Hernia
Cara Mengobati Buah Zakar Besar Sebelah
CaraMengobatiHerniapadaBayi
Obat Hidrokel
Obat Herbal Hernia
Obat Turun Berok
Obat Hernia Bayi

Balas

11.

Bambang IrawanRabu, Januari 24, 2018 7:22:00 PM


Greetings admin
I like your topic, after reading your article very helpful at all and can be a source of
reference
I will wait for your next article updates
Thank you, for sharing

penirum

penirum asli

Titan Gel

Vimax

Hammer Of Thor

Balas

12.

Situs Aborsi ResmiRabu, Desember 12, 2018 9:50:00 AM

thank you admin


the article is very interesting, it helps me and can be used for reference.
hopefully successful admin always

Obat Aborsi

Jual Obat Aborsi

Obat Cytotec

Penggugur Kandungan

Obat Penggugur

Obat Penggugur Kandungan

Obat Aborsi Usia 1 Bulan

Obat Aborsi Usia 2 Bulan

Obat Aborsi Usia 3 Bulan

Obat Aborsi Usia 4 Bulan


Obat Aborsi Usia 5 Bulan

Obat Aborsi Usia 6 Bulan

Balas

13.

Toko SemarangSabtu, Desember 29, 2018 3:10:00 AM

Thanks for sharing, nice article.

PENIRUM

CIRI PENIRUM ASLI

OBAT PEMBESAR PENIS

PENIRUM ASLI

HAMMER OF THOR

HAMMER OF THOR ASLI

TITAN GEL

TITAN GEL ASLI

VIMAX

VIMAX ASLI

KLG ASLI

EXTENZE ASLI

EROGAN ASLI

VAKUM PEMBESAR PENIS

VMENPLUS ASLI

Balas
14.

obat aborsiJumat, Januari 25, 2019 1:35:00 PM

thank you, sukses selalu


Obat Aborsi
Obat Penggugur Kandungan
Aborsi
Obat Pendorong Janin
Cytotec
Obat Abosi 1 Bulan
Obat Abosi 2 Bulan
Obat Abosi 3 Bulan
Obat Abosi 4 Bulan
Obat Abosi 5 Bulan
Obat Abosi 6 Bulan
Obat Abosi 7 Bulan

Balas

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Label
 Fakta Unik (5)
 Keperawatan Bedah (13)
 Keperawatan Jiwa (7)
 Keperawatan Maternitas (1)
 Keperawatan Medikal (12)

Archive
 ► 2016 (2)

 ► 2015 (7)

 ▼ 2014 (17)
o ► Sep (5)
o ▼ Mei (12)
 LP &ASKEP DIARE
 LP & ASKEP COMBUSTIO
 LP & ASKEP CIDERA KEPALA
 LP & ASKEP BENIGNA PROSTAT HYPERPLASI (BPH)
 LP & ASKEP HERNIA
 LP & ASKEP BRONKHITIS
 LP & ASKEP TRAUMA ABDOMEN
 LP & ASKEP PENYAKIT PADA TELINGA LUAR
 LP& ASKEP INFARK MIOKARD AKUT
 LP & ASKEP GAGAL JANTUNG KANAN
 LP & ASKEP PEMBEDAHAN TELINGA
 LP & ASKEP CARSINOMA NASOFARING

 ► 2013 (12)

Translate

Pilih Bahasa ▼
mine
DMBASNYU
Lihat profil lengkapku

Anda mungkin juga menyukai