Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM EVALUASI TEKSTIL I

ANALISA SERAT SECARA KUALITATIF


(ANALISA KERUSAKAN SERAT SELULOSA I,II, dan III)

NAMA : RIA ARINTA MUKTI

NPM : 17020073
GROUP : 1-K4
KELOMPOK : 1 (SATU)
DOSEN : Maya K., S.Sit . M.T.
ASISTEN : Mia E., S.ST.

PROGAM STUDI KIMIA TEKSTIL


POLITEKNIK STTT BANDUNG
Jalan Jakarta No. 31, Kebonwaru, Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat 40272,
(002)727258
2018
I. JUDUL
1. Pengujian penggelembungan dengan NaOH
2. Pengujian pewarnaan dengan Congo Red
3. Pengujian pewarnaan dengan cara uji Harrizon
4. Pengujian pewarnaan dengan perak nitrat Amoniakal
5. Pengujian pewarnaan pereaksi Fehling
6. Pengujian pewarnaan dengan cara pencelupan tolak
7. Pengujian pewarnaan dengan cara biru trunbull
8. Pengujian pewarnaan dengan Na- Kromat
9. Pengujian pewarnaan dengan Metilen Biru

II. MAKSUD dan TUJUAN


1. Pengujian penggelembungan dengan NaOH

Untuk mengetahui cara penggelembungan dengan NaOH dan untuk


membedakan kerusakan serat kapan karena zat kimia dan mekanika.

2. Pengujian pewarnaan dengan Congo Red

Untuk mengetahui identifikasi kerusakan serat selulosa cara pewarnaan dengan


Congo Red dan dapat membedakan kerusakan serat kapas karena zat kimia dan
mekanika.

3. Pengujian pewarnaan dengan cara uji Harrizon

Untuk mengetahui identifikasi kerusakan serat selulosa cara pewarnaan dengan


cara uji Harrizon dan dapat menunjukan adanya gugus pereduksi pada serat
selulosa yang rusak karena zat kimia.

4. Pengujian pewarnaan dengan perak nitrat amoniakal

Untuk mengetahui identifikasi kerusakan serat selulosa cara pewarnaan dengan


perak nitrat amoniakal dan dapat menunjukan adanya gugus pereduksi pada serat
selulosa yang rusak karena zat kimia.

5. Pengujian pewarnaan dengan pereaksi fehling


Untuk mengetahui identifikasi kerusakan serat selulosa cara pewarnaan dengan
pereaksi fehling dan dapat menunjukan adanya gugus pereduksi pada serat
selulosa yang rusak karena zat kimia.

6. Pengujian pewarnaan dengan cara pencelupan tolak

Untuk mengetahui identifikasi kerusakan serat selulosa cara pewarnaan dengan


cara pencelupan tolak dan dapat menunjukan adanya gugus karboksilat pada
serat selulosa yang rusak karena kimia.

7. Pengujian pewarnaan dengan cara biru trunbull.

Untuk mengetahui identifikasi kerusakan serat selulosa dengan cara biru trunbull
dan dapat menunjukan adanya gugus karboksilat pada serat selulosa yang rusak
karena kimia.

8. Pengujian pewarnaan dengan Na- Kromat

Untuk mengetahui identifikasi kerusakan serat selulosa dengan cara pewarnaan


dengan Na- Kromat dan dapat menunjukan adanya gugus karboksilat pada serat
selulosa yang rusak karena kimia.

9. Pengujian pewarnaan dengan metilen biru

Untuk mengetahui identifikasi kerusakan serat selulosa dengan cara pewarnaan


dengan metilen biru dan dapat menunjukan adanya karboksilat pada serat
selulosa yang rusak karena kimia.

III. DASAR TEORI

Kapas (dari bahasa Hindi kapas, sendirinya dari bahasa Sanskerta karpasa adalah
serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (biasa disebut
"pohon"/tanaman kapas), tumbuhan 'semak' yang berasal dari daerah tropika dan
subtropika. Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat
dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa
disebut sebagai katun (benang maupun kainnya).

Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor
(bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-
lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini
tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas),
dan daya serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun)
bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap
keringat). (2018)

Gambar 1. Struktur selulosa

Komposisi kimia dari serat kapas terdiri dari selulosa 95%, satu 1,3%protein, 1,2% abu,
1,6% lilin, 3% gula, dan asam organik, dan senyawa kimia lainnya yang membentuk 3,1%.
Serat kapas non-selulosa biasanya terletak dalam serat kutikula. Serat kapas non-selulosa
terdiri dari protein, abu, lilin, gula dan asam organik. Lilin kapas ditemukan pada
permukaan luar serat. Lilin lebih banyak ditemukan pada kapas jika luas permukaan kapas
semakin besar, kapas halus umumnya memiliki kandungan lilin lebih banyak. Lilin kapas
terdiri atas rantai panjang asam lemak dan alkohol. Lilin kapas berfungsi sebagai pelindung
untuk serat kapas. Gula yang terdiri dari 3% serat kapas, gula berasal dari gula alami
tanaman dan gula dari serangga. Gula tanaman terjadi dari proses pertumbuhan tanaman
kapas. Gula tanaman terdiri dari monosakarida, glukosa dan fruktosa. Gula serangga
terutama untuk whiteflies,gula serangga dapat menyebabkan kekakuan, yang dapat
menyebabkan masalah di pabrik tekstil. (2014)

Kerusakan bahan tekstil dapat terjadi pada setiap tingkat proses pengolahan bahan tekstil,
dari bahan baku (serat) sampai menjadi bahan jadi (kain), sehingga kerusakan serat mungkin
terjadi pada setiap tingkat pengolahan, sedangkan jenis kerusakannya tergantung pada jenis
pengolahannya. Macam- macam kerusakan yang terjadi pada serat selulosa adalah :

1. Kapas rusak dengan alkali


2. Kapas rusak asam
3. Kapas baik
4. Kapas rusak dengan hipoklorit
5. Kapas rusak dengan jamur
6. Kapas rusak dengan kaporit
7. Kapas rusak dengan oksidator
8. Kapas rusak dengan panas
9. Kapas rusak dengan pukulan
10. Kapas rusak dengan reduktor

Jenis kerusakan dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu kerusakan mekanika dan
kimia.

1. Kerusakan mekanika adalah kerusakan yang menyebabkan terjadinya perubahan


fisik pada bahan atau serat sebagai akibat gerakan mekanik pada bahan tersebut.
Kerusakan tersebut dapat digolongkan oleh serangga, gesekan, putus karena tarikan
dan potongan serta tusukan.
Serangan serangga dapat ditentukan dengan adanya bekas gigitan dan jaring sarang
serangga pada bagian serat yang rusak.
Gesekan benang dapat terjadi selama proses pengerjaan benang sampai menjadi
kain. Pengamatan dibawah mikroskop menunjukan benang yang tergesek permukaan
lebih berbulu serat tampak terpotong potong sersikat atau terkoyak.
Putus karena tarikan dan potongan dapat dibedakan dengan melihat ujung serat
dibawah mikroskop. Pada kerusakan karena tarikan ujung serat nya tercabik cabik
dan terdiri dari campuran serat putus dan tidak putus, sedangkan serat yang
terpotong biasanya ujung serat nya rata.
Tusukan dibawah mikroskop terlihat adanya serat yang terpotong- potong atau
hancur.
2. Kerusakan kimia adalah kerusakan yang disebabkan penurunan kekuatan karena
adanya zat kimia yang dapat ditimbulkan oleh adanya serangan jasad renik, cahaya,
panas, dan pengerjaan dengan zat kimia.

Serangan jasad renik mengeluarkan enzim yang menyebabkan terjadinya kerusakan


kimia.

Cahaya ditandai dengan terjadinya penmutusan ikatan primer pada selulosa.

Panas terlihat dengan terjadinya perubahan pada dinding primer selulosa.

IV. ALAT dan BAHAN / PEREAKSI


1. Pengujian penggelembungan dengan NaOH

Pereaksi : Larutan NaOH 18%

Alat : mikroskop, kaca objek dan kaca penutup, kertas hisap.

2. Pengujian pewarnaan dengan Congo Red


Pereaksi : larutan zat warna Congo Red 1%

Alat : mikroskop, kaca objek dan kaca penutup, kertas hisap.

3. Pengujian pewarnaan dengan cara uji Harrizon.

Pereaksi : pelarut AgNO₃ 80 g/L, 200 g Na₂S₂O₂ dan 200 g NaOH

Alat : tabung reaksi, pemanas, penjepit dan rak tabung.

4. Pengujian pewarnaan dengan perak nitrat amoniakal.

Pereaksi : AgNO₃ Amoniakal, NH₄OH 10%

Alat : tabung reaksi, pemanas, penjepit dan rak tabung

5. Pengujian pewarnaan dengan pereaksi fehling

Pereaksi : CuSO₄ 60 g/L , 346 g kalium natrium tartrat dan 100 g NaOH/L air

Alat : tabung reaksi, pemanas, penjepit dan rak tabung

6. Pengujian pewarnaan dengan cara pencelupan tolak.

Pereaksi : larutan Chlorazol Sky Blue FF 5 g/L

Alat : tabung reaksi, pemanas, penjepit dan rak tabung

7. Pengujian pewarnaan dengan cara biru trunbull

Pereaksi : ferro sulfat 10 g/L, kalium ferri sianida 10 g/L

Alat : tabung reaksi, pemanas, penjepit dan rak tabung

8. Pengujian pewarnaan dengan Na- Kromat

Pereaksi : natrium kromat 10 g/L, Pb asetat 10 g/L

Alat : tabung reaksi, pemanas, penjepit dan rak tabung

9. Pengujian pewarnaan dengan metilen blue

Pereaksi : larutan metilen biru 10 g/L yang diasamkan dengan H₂SO₄ 2N (10ml/
L)

Alat : tabung reaksi, pemanas, penjepit dan rak tabung