Anda di halaman 1dari 21

CRITICAL BOOK REPORT

MANAJEMEN PEMBELAJARAN FISIKA

(Manajemen Kelas, Imam Gunawan, SP.Pd., M.Pd, 2015)

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK I

FITRI SUN ANJELIKA SIHOMBING (4163211006)

MAYA AULIYA RAHMA (4163211008)

NURHIKMAH WEISDIYANTI (4161121017)

RISDAYANI SIMANULLANG (4161121021)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

i
2019

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa, dimana atas berkat-Nya
lah sehingga penulis dapat mengerjakan tugas yaitu, Critical Book Report pada mata kuliah
Manajemen Pembelajaran Fisika yang membahas dua buah isi buku dengan materi yang sama
dan melakukan perbandingan terhadap kedua buku.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Dosen yang memberikan
tugas serta penjelasan sekaitan dengan pengerjaan tugas ini, serta teman-teman yang telah
membantu untuk memberikan semangat untuk mengerjakan tugas ini dan membantu mencari
buku. Dengan menulis makalah ini, penulis menjelaskan materi yang berhubungan dengan
manajemen pada pembelajaran Fisika dengan melakukan pembandingan terhadap buku lainnya
berdasarkan perintah yang diberikan.
Tidak dapat dipungkiri, dalam menulis Critical Book Report ini penulis memiliki banyak
kesalahan baik itu dalam hal penggunaan kata maupun penulisan tanda baca yang belum sesuai
dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran untuk
menjadi lebih baik.Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, dan kiranya makalah ini boleh
bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Maret 2019

Kelompok I

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................................................i


Daftar Isi ........................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................1
1.1 Pengantar............................................................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan Critical Book Review ..........................................................................2
1.3 Manfaat Critical Book Review .........................................................................................2
BAB II DESKRIPSI ISI BUKU .................................................................................................3
2.1 Identitas Buku yang Dikritik.............................................................................................3
2.2 Ringkasan Isi Buku ...........................................................................................................3
2.3 Kelebihan dan Kekurangan...............................................................................................15
BAB III PENUTUP ......................................................................................................................18
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................18
3.2 Rekomendasi......................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pengantar
Critical Book Report merupakan kegiatan yang memiliki sistematika penulisan atau
terstruktur dalam mengulas dan mengkritisi buku. Mengkritik buku memiliki tujuan untuk
menyajikan informasi dan memberikan pemahaman mengenai apa yang tertulis di dalam buku.
Disamping itu, kritikal buku juga dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi calon-calon pembeli
buku apakah buku tersebut memang sesuai atau tidak dengan yang mereka inginkan atau yang
mereka harapkan. Jadi konsumen tidak perlu membaca buku secara keseluruhan saat ingin
membeli buku dan menghemat waktu mereka saat di toko buku.
Dengan adanya kegiatan critical book report ini juga mengajak mahasiswa untuk
menambah skill lainnya disamping sebagai guru Fisika, juga dapat menjadi kritis terhadap buku-
buku yang diterbitkan, yaitu dengan melihat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh buku
tersebut. Dengan mengetahui kekurangan dan kelebihan buku yang dibaca selama perkuliahan
maka mahasiswa tersebut suatu saat nanti juga dapat membuat atau menulis buku dengan
meminimalisir kekurangan yang ada.
Dalam melakukan kritisi, mahasiswa tidak mendeskripsikan atau menulis ulang isi buku
tersebut, namun cenderung pada memberikan ringkasan dalam pembahasannya, sehingga isi dari
buku tersebut akan dievaluasi secara keseluruhan baik dari segi bahasa, isi dan aspek lainnya
seperti keterkaitan antar bab serta kemutakhiran buku. Critical book report pada akhirnya akan
memerikan rekomendasi kepada pembaca apakah buku tersebut layak atau tidak digunakan
sebagai referensi untuk belajar.
Dalam critical book ini penulis melakukan kritik terhadap dua buah buku, yaitu buku yang
berjudul Manajemen Kelas yang ditulis oleh Imam Gunawan, SP.Pd., M.Pd yang merupakan
dosen di Universitas Negeri Malang, buku tersebut diterbitkan pada tahun 2015 oleh FIP
Universitas Negeri Malang. Sedangkan buku yang kedua berjudul Manajemen Pendidikan yang
ditulis oleh Muhammad Kristiawan Dian Safitri dan Rena Lestari, buku tersebut diterbitkan pada
tahun 2017 oleh Deepublish.
1.2 Tujuan Penulisan CBR
1. Mengetahui informasi yang terdapat di dalam buku.
2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh buku
3. Memberikan gambaran buku kepada pembaca yang hendak membeli buku serupa.
1.3 Manfaat Penulisan CBR
Manfaat dari Critical Book Review ini adalah:
1
a. Untuk pembaca adalah untuk memberikan gambaran atau penjelasan mengenai isi buku,
sehingga pembaca tidak perlu lagi membaca secara keseluruhan jika tujuannya hanya untuk
sekedar mengetahui isi buku tersebut dan layak tidaknya buku tersebut bagi pembaca.
b. Bagi penerbit adalah untuk melakukan revisi pada cetakan berikutnya.
c. Bagi penulis adalah untuk melakukan perbaikan baik dari isi maupun penulisan dan desain
dari buku untuk cetakan berikutnya.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Identitas Buku yang Dikritik
Buku I
 Judul Buku : Manajemen Kelas
 Penulis : Imam Gunawan, SP.Pd., M.Pd
 Penerbit : FIP Universitas Negeri Malang
 Kota Terbit : Malang
 Tahun Terbit : 2015

Buku II
 Judul : Manajemen Pendidikan
 Pengarang : Muhammad Kristiawan Dian Safitri dan Rena Lestari
 Penerbit : Deepublish
 Kota Terbit : Yogyakarta
 Tahun Terbit : 2017
 Tebal buku : 184 Halaman

2.2 Ringkasan Isi Buku


2.2.1 Ringkasan Buku I
BAB I. KONSEP DASAR MANAJEMEN KELAS
Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan
pengawasan kegiatan pembelajaran guru dengan segenap penggunaan sumber daya untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Manajemen adalah rangkaian kegiatan atau tindakan yang dimaksud untuk menciptakan
kondisi yang memungkinkan berlangsungnya pembelajaran. Manajemen kelas merupakan
persyaratan penting yang menentukan terciptanya pembelajaran yang efektif. Berdasarkan
paparan tersebut, dapat diketahui bahwa manajemen kelas yang efektif adalah suatu segi
penting dari proses belajar mengajar.
Pengelolaan kelas merupakan seperangkat tindakan guru di dalam
membantu pembentukan tingkah laku siswa, menghindari atau mengurangi gejala tingkah
laku siswa yang tidak sesuai dengan tujuan sekolah dan memelihara organisasi kelas yang
efektif dan efisien dalam rangka proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan

3
pengajaran. Hal ini dipertegas oleh Arikunto (1988:67) yang menyatakan bahwa
pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan
belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal,
sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.
Manajemen kelas ditujukan pada kegiatan yang menciptakan dan menjaga kondisi
yang optimal bagi terjadinya proses belajar siswa, seperti membina hubungan baik
antara siswa dengan guru, reinforcement, punisment, dan pengaturan tugas. Tujuan
manajemen kelas adalah: (1) mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai
lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan peserta didik
untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin; (2) menghilangkan berbagai
hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran; (3) menyediakan
dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa
belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas;
dan (4) membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi,
budaya, serta sifat-sifat individunya. Kemampuan guru memahami konsep manajemen
kelas dan mampu mengimplementasinya menjadi faktor penentu keberhasilan
pembelajaran.
Djamarah (2006:185) menyatakan seorang guru dalam rangka meminimalisasi
masalah gangguan dalam mengelola kelas dapat menggunakan prinsip-prinsip manajemen
kelas, yaitu:
1. Hangat dan antusias. Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar
mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada peserta didik, selalu
menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam
mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2. Tantangan. Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang
menantang akan meningkatkan gairah dan motivasi siswa untuk belajar sehingga
mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3. Bervariasi. Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara
guru dan peserta didik akan mengurangi munculnya gangguan dan meningkatkan
perhatian siswa. Variasi ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan
kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
4. Keluwesan. Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi
mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta
menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat
4
mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, dan
tidak mengerjakan tugas.
5. Penekanan pada hal-hal yang positif. Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik,
guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan
perhatian pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu
penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif
daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat
dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk
menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
6. Penanaman disiplin diri. Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah peserta didik
dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi
teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus
disiplin dalam segala hal bila ingin peserta didiknya ikut berdisiplin dalam
segala hal.
Seorang guru dalam kegiatan sehari-hari, akan menghadapi kasus-kasus dalam
kelasnya. Kasus-kasus yang dijumpai guru dalam manajemen kelas antara lain seperti:
1. Tingkat penguasaan materi oleh siswa di dalam kelas. Misalnya, materi
pelajaran yang diberikan kepada siswa terlalu tinggi atau sulit, sehingga tidak bisa
diikuti oleh siswa, maka di sini diperlukan penyesuaian agar siswa dapat mengikuti
kegiatan belajar dengan baik. Apabila tidak diadakan penyesuaian, siswa-siswa tidak
akan serius dan selalu menimbulkan kegaduhan.
2. Fasilitas yang diperlukan. Misalnya alat, media, bahan, tempat, biaya, dan lain-
lain, akan memungkinkan siswa belajar dengan baik.
3. Kondisi siswa. Misalnya, siswa yang kelihatan sudah lesu dan tidak bergairah dalam
menerima pelajaran, hal ini dapat mempengaruhi situasi kelas.
4. Teknik mengajar guru. Misalnya, dalam memberikan pengajaran kurang
menggairahkan suasana kelas dan menjemukan

BAB II. ASPEK DAN FUNGSI MANAJEMEN KELAS


Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah sifat
kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif, dan kreatif (Johnson dan
Bany, 1970). Kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas
sebagai aspek-aspek manajemen kelas, seperti tertuang dalam Dirjen Dikdasmen (2000)
adalah: (1) mengecek kehadiran siswa; (2) mengumpulkan hasil pekerjaan siswa,
5
memeriksa, dan menilai hasil pekerjaan tersebut; (3) pendistribusian bahan dan alat; (4)
mengumpulkan informasi siswa, mencatat data pemeliharaan arsip; (5) menyampaikan
materi pelajaran; dan (6) memberikan tugas.
Sementara itu hal-hal yang perlu diperhatikan para guru, khususnya guru baru
dalam pertemuan pertama dengan siswa di kelas adalah: (1) ketika bertemu dengan siswa,
guru harus: (a) bersikap tenang dan percaya diri, (b) tidak menunjukkan rasa cemas, muka
masam, atau sikap tidak simpatik; (c) memberikan salam lalu memperkenalkan diri;
dan (d) memberikan format isian tentang data pribadi siswa atau guru menyuruh siswa
menulis riwayat hidupnya secara singkat; (2) guru memberikan tugas kepada siswa dengan
tertib dan lancar; (3) mengatur tempat duduk siswa secara tertib dan teratur; (4)
menentukan tata cara berbicara dan tanya jawab; (5) membuat denah kelas (tempat duduk
siswa); dan (6) bertindak disiplin, baik terhadap siswa maupun terhadap diri sendiri
(Dirjen Dikdasmen, 1996:13).
Selain itu ada beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam
mangelola kelas, yaitu:
1. Inovasi Pendidikan dalam Lingkup Kelas
2. Permasalahan Kelas
3. Kelas yang Nyaman dan Menyenangkan
Fungsi manajemen yang dipandang perlu dilaksanakan seperti tertuang dalam
Petunjuk Pengelolaan Sekolah di Sekolah Dasar (Dirjen Dikdasmen, 2000) adalah :
1. Perencanaan. Perencanaan dapat dipandang sebagai suatu proses penentuan dan
penyusunan rencana dan program-program kegiatan yang akan dilakukan pada
masa yang akan datang secara terpadu dan sistematis berdasarkan landasan,
prinsip-prinsip dasar dan data yang terkait serta menggunakan sumber-sumber
daya lainnya (misalnya dana, sarana dan prasarana, prosedur, metode, dan teknik)
dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Pengorganisasian. Pengorganisasian adalah suatu proses yang menyangkut
perumusan dan rincian pekerjaan dan tugas serta kegiatan yang berdasarkan
struktur organisasi formal kepada orang-orang yang memiliki kesanggupan dan
kemampuan melaksanakannya, sebagai persyaratan bagi terciptanya kerjasama yang
harmonis dan optimal ke arah tercapainya tujuan secara efektif dan efisien.
3. Menggerakkan. Fungsi ini menyangkut upaya kepala sekolah untuk memberikan
pengaruh- pengaruh yang dapat menyebabkan guru tergerak untuk melaksanakan

6
tugas dan kegiatannya secara bersama-sama dalam rangka tujuan pendidikan secara
efektif dan efisien.
4. Memberikan Arahan. Fungsi ini menyangkut upaya kepala sekolah untuk
memberikan informasi, petunjuk, serta bimbingan kepada guru yang
dipimpinnya agar terhindar dari penyimpangan, kesulitan, atau kegagalan dalam
melaksanakan tugas.
5. Pengkoordinasian. Fungsi ini menyangkut upaya kepala sekolah untuk
menyelaraskan gerak langkah dan memelihara prinsip taat asas (konsistensi) pada
setiap dan seluruh guru dalam melaksanakan semua tugas dan kegiatannya agar
dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah direncanakan.
6. Pengawasan. Pengawasan merupakan suatu proses untuk menerapkan pekerjaan
apa yang sudah dilaksanakan, menilainya, dan bila perlu mengoreksi dengan maksud
supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula.

BAB III.PENDEKATAN MANAJEMEN KELAS


Pendekatan Pengubahan Perilaku
Pendekatan pengubahan perilaku didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi
behaviorisme. Prinsip utama yang mendasari pendekatan ini adalah perilaku merupakan hasil
proses belajar. Prinsip ini berlaku baik bagi perilaku yang sesuai maupun perilaku yang
menyimpang. Penganjur pendekatan ini berpendapat bahwa seorang peserta didik
berperilaku menyimpang adalah disebabkan oleh salah satu dari dua alasan, yaitu: (1)
peserta didik telah belajar berperilaku yang tidak sesuai; atau (2) peserta didik tidak
belajar berperilaku yang sesuai. Pendekatan pengubahan perilaku dibangun atas dasar dua
asumsi utama, yaitu: (1) empat proses dasar belajar; dan (2) pengaruh kejadian-kejadian
dalam lingkungan.
Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan empat prinsip dasar belajar. Prinsip
tersebut adalah :
1. Penguatan positif yakni pemberian penghargaan setelah terjadi suatu perbuatan.
Penghargaan menyebabkan perbuatan yang dikuatkan itu semakin meningkat.
Perbuatan yang dihargai tersebut diperkuat dan diulangi di kemudian hari.
Contohnya, Andika membuat karya tulis. Karya tulis itu sangat rapi. Kemudian
karya tulis itu diserahkan kepada guru (perbuatan, tingkah laku). Guru memuji karya
tulis itu dan mengatakan bahwa karya tulis yang rapi lebih mudah dan enak dibaca
dari pada karya tulis yang tidak rapi (penguatan positif). Dalam karya tulis
7
berikutnya Andika lebih bersungguh-sungguh dan tulisannya lebih rapai (frekuensi
perbuatan yang dikuatkan lebih meningkat).
2. Hukuman adalah pemberian pengalaman atau rangsangan yang tidak disukai
atau tidak diinginkan sesudah terjadinya suatu perbuatan. Dengan hukuman
menyebabkan suatu perbuatan yang dikenai hukuman frekuensinya berkurang dan
cenderung tidak dilanjutkan. Contohnya: Galang membuat dan menyerahkan
makalah yang tulisannya tidak rapi kepada gurunya (perbuatan peserta didik).
Guru menegur Galang karena dia tidak bekerja rapi. Guru mengatakan
kepadanya bahwa tulisan yang tidak rapi sukar dibaca. Guru menyuruh agar
Galang menulis kembali makalah itu (hukuman). Dalam makalah berikutnya tulisan
Galang bertambah baik (frekuensi perbuatan yang dihukum berkurang).
3. Penghentian adalah menahan suatu penghargaan yang diharapkan (menahan
penguatan positif), yang dalam kejadian sebelumnya perbuatan seperti itu diberi
penghargaan. Penghentian menyebabkan menurunnya frekuensi perbuatan
yang sebelumnya dihargai. Contohnya: Sinta yang pekerjaannya rapi selalu
dihargai oleh guru. Ia menyiapkan sebuah karya tulis dengan tulisan yang rapi,
kemudian menyerahkannya kepada guru (perbuatan peserta didik yang
sebelumnya dikuatkan oleh guru). Guru menerimanya, kemudian
mengembalikannya kepada Sinta tanpa komentar apa pun (menahan penguatan
positif). Pekerjaan Sinta menjadi kurang rapi dalam membuat makalah berikutnya
(frekuensi perbuatan yang sebelumnya dikuatkan menjadi menurun).
4. Penguatan negatif adalah penarikan rangsangan (hukuman) yang tidak diinginkan
atau tidak disukai sesudah terjadinya suatu perbuatan, yang menyebabkan
frekuensi perbuatan itu meningkat. Menarik hukuman bermaksud memperkuat
perilaku dan meningkatkan kecenderungan diulangi. Contohnya: Iskandar adalah
salah seorang peserta didik yang selalu menyerahkan pekerjaan (makalah) yang
kurang rapi kepada gurunya. Meskipun guru selalu mengomeli Iskandar,
pekerjaan Iskandar itu tidak bertambah rapi. Guru kali ini menerima pekerjaan
Iskandar tanpa komentar dan tanpa omelan seperti biasanya (menarik hukuman).
Ternyata pada kemudian hari pekerjaan Iskandar menjadi lebih baik (frekuensi
perilaku meningkat).

8
Pendekatan Iklim Sosio-Emosional
Pendekatan iklim sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi
penyuluhan klinikal, dan karena itu memberikan arti yang sangat penting pada
hubungan antarpribadi. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen
kelas yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan
yang positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antar
dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah
membangun huhungan antarpribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio-
emosional yang positif pula. Banyak gagasan yang bercirikan pendekatan sosio-
emosional yang dapat ditelusuri pada karya Carl Rogers. Premis utamanya adalah
kelancaran proses belajar yang penting sangat tergantung pada kualitas sikap yang
terdapat dalam hubungan pribadi antara guru dan peserta didik. Rogers mengindentifikasi
beberapa sikap yang diyakini hakiki yaitu: ketulusan, keserasian, sikap menerima,
menghargai, menaruh perhatian, mempercayai, dan pengertian empatik (Weber, 1993).

Pendekatan Proses Kelompok


Premis utama yang mendasari pendekatan proses kelompok didasarkan pada
asumsi-asumsi, yakni: (1) kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok,
yakni kelompok kelas; (2) tugas pokok guru adalah menciptakan dan membina kelompok
kelas yang efektif dan produktif; (3) kelompok kelas adalah suatu sistem sosial yang
mengandung ciri-ciri yang terdapat pada semua sistem sosial; dan (4) pengelolaan kelas oleh
guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana
belajar yang menguntungkan. Schmuck dan Schmuck mengemukakan enam ciri mengenai
manajemen kelas yaitu: (1) harapan; (2) kepemimpinan; (3) daya tarik; (4) norma; (5)
komunikasi; dan (6) keterpaduan (Weber, 1993).
1. Harapan adalah persepsi yang dimiliki oleh guru dan siswa mengenai hubungan
mereka satu sama lain. Persepsi tersebut adalah perkiraan individual tentang cara
berperilaku diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, harapan yang bagaimana
anggota kelompok akan berperilaku akan sangat mempengaruhi cara guru dan
siswa dalam hubungan mereka satu dengan yang lainnya.
2. Kepemimpinan pali n g tep at diartik an sebag ai perilaku ya ng membantu
kelompok bergerak menuju pencapaian tujuannya. Ja di perilaku kepemimpinan
terdi ri da ri tindakan-tindakan anggota-anggota kelompo k , termas uk di dalamnya
tindakan-tindak an yang membantu penetapan norma-norma kelompok yang
9
menggerakkan kelompok ke arah tujuan, yang memperbaiki mutu interaksi antara
anggota-anggo ta kelompok, dan yang menciptakan keterpaduan kelompok.
Berdasarkan peranannya, guru mempunyai potensi terbesar dalam peranan
kepemimpinan pembelajaran. Akan tetapi dalam kelompok kelas yang efektif
fungsi kepemimpinan dilaksanakan bersama-sama oleh guru dan para peserta
didik. Suatu kelampak kelas yang efektif adalah kelampok yang fungsi
kepemimpinannya dibagi-bag i denga n baik , da n semu a anggot a kelampo k dapat
merasakan kewenangan dan harga diri dalam menyelesaikan tugas-tugas
akademik dan dalam bekerja bersama-sama.
3. Daya tarik, menunjuk pada pola-pola persahabatan dalam kelompak kelas. Daya
tarik dapat digambarkan sebagai tingkat persahabatan yang terdapat di antara para
anggota kelampok kelas. Tingkat daya tarik tergantung pada sejauh mana
hubungan antarpribadi yang positif telah berkembang. Pengelola kelas yang efektif
ialah seseorang yang membantu mengembangkan hubungan antarpribadi yang
positif antara para anggota kelompok. Misalnya, guru berusaha meningkatkan
sikap menerima terhadap para siswa yang tidak disukai dan anggota-anggota
baru.
4. Norma ialah pengharapan bersama mengenai cara berpikir, cara
berperasaan, dan cara berperilaku para anggota kelompok. Norma sangat
mempengaruhi hubungan antarpribadi, karena norma tersebut memberikan
pedoman yang membantu para anggota memahami apa yang diharapkan dari
mereka dan apa yang dapat mereka harapkan dari orang lain. Norma kelompok
yang produktif adalah hakiki bagi efektivitas kelompok. Oleh karena itu, salah
satu tugas guru ialah membantu kelompok menciptakan, menerima, dan
memelihara norma kelompok yang produktif.
5. Komunikasi, baik verbal maupun nonverbal adalah dialog antara anggota- anggota
kelompok. Komunikasi mencakup kemampuan khas manusia untuk saling
memahami buah pikiran dan perasaan masing-masing. Komunikasi yang efektif
berarti menerima pesan menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh
pengirim pesan. Oleh karena itu, tugas rangkap guru adalah membuka saluran
komunikasi sehingga semua siswa menyatakan buah pikiran dan perasaannya
dengan bebas, menerima buah pikiran dan perasaan siswa.
6. Keterpaduan adalah menyangkut perasaan kolektif yang dimiliki oleh para
anggota kelas mengenai kelompok kelasnya. Keterpaduan menekankan hubungan
10
individu dengan kelompok sebagai suatu keseluruhan. Kelompok menjadi
padu karena alasan: (1) para anggota saling menyukai satu sama lainnya; (2) minat
yang besar terhadap pekerjaan; dan (3) kelompok memberikan harga diri kepada para
anggotanya.

2.2.2 Ringkasan Buku II


A. MANAJEMEN PESERTA DIDIK
1. Pengertian Manajemen Peserta Didik
manajemen peserta didik adalah suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas yang
berkaitan dengan peserta didik, yaitu mulai dari masuknya peserta didik sampai dengan keluarnya
peserta didik tersebut dari suatu madrasah atau sekolah.
2. Langkah-Langkah Perencanaan Peserta Didik
Menurut Asmendri (2012:14), langkah-langkah perencanaan peserta didik yaitu 1)
forcasting, membuat perkiraan dengan mengantisipasi kedepan. 2) objectives, merupakan
perumusan tujuan. Tujuan ini harus dirumuskan, agar segala kegiatan yang akan dilakukan
tersebut senantiasa betul-betul mengarah pada tujuan yang sama atau kearah yang sama; 3)
policy, kebijakan di sini berarti mengidentifikasi berbagai macam jenis kegiatan yang
diperhitungkan untuk dapat mencapai tujuan; 4) programming, merupakan seleksi atas kegiatan-
kegiatan yang sudah dirumuskan pada langkah policy. Kegiatan yang telah diidentifikasi perlu
diseleksi, agar dapat dicarikan jawaban atau solusinya; 5) procedure, merupakan merumuskan
langkah-langkah secara berurut. Oleh karena itu, procedure diartikan juga sebagai sekuen yang
berarti kegiatan-kegiatan yang telah diseleksi pada langkah programming tersebut diurutkan,
mana yang harus didahulukan dan mana yang harus dikemudiankan; 6) schedule, merupakan
penjadwalan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah diprioritaskan sebagaimana pada langkah-
langkah programming. Jadwal harus dibuat agar kegiatan-kegiatan yang telah diurutkan
pelaksanaannya menjadi konkret; 7) budgeting, merupakan anggaran atau pembiayaan.
3. Kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru
Kebijakan operasional penerimaan peserta didik baru memuat aturan mengenai jumlah
peserta didik yang dapat diterima disuatu sekolah. Penentuan mengenai jumlah peserta didik,
juga didasarkan atas kenyataan yang ada disekolah (faktor kondisional). Faktor ini meliputi: daya
tampung kelas baru, kriteria mengenai siswa yang dapat diterima, anggaran yang tersedia, sarana
dan prasaran yang ada, tenaga kependiidkan, jumlah peserta didik yang tinggal kelas, dan lain
sebagainya. Kebijakan penerimaan peserta didik baru dibuat berdasarkan petunjuk-petunjuk yang
diberikan oleh Dinas Pendidikan kabupaten/kota.
11
4. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru
Ada dua macam sistem yang diguakan dalam penerimaan peserta didik baru yaitu sebagai
berikut.
a. Sistem promosi, merupakan penerimaan peserta didik baru yang sebelumnya tanpa
melakukan seleksi. Mereka yang mendaftar disuatu sekolah, diterima befitu saja. Sistem
yang demikian biasanya berlaku pada sekolah-sekolah yang pendaftarannya kurang dari
jatah atau daya tampung yang ditentukan; dan
b. Sistem seleksi, ini dapat digolongkan memjadi tiga macam, yang pertama, seleksi
berdasarkan daftar nilai ebta murni (DANEM), yang kedua berdasarkan penelusuran bakat
minat dan kemampuan (PMDK), yang ketiga adalah seleksi berdasarkan tes masuk.
5. Kriteria Penerimaan Peserta Didik Baru
Ada tiga macam kriteria penerimaan peserta didik yaitu sebagai berikut.
a. Kriteria acuan patokan (standard criterian referenced),
b. Kriteria acuan norma (norm criterian referenced),
c. Kriteria berdasrkan daya tampung sekolah.
6. Rekrutmen Peserta Didik
Rekrutmen peserta didik merupakan proses pencarian dan menentukan peserta didik yang
nantinya akan menjadi peserta didik disekolah yang bersangkutan (Asmendri, 2012: 38).
Penerimaan merupakan kegiatan yang pertama dilakukan oleh lembaga pendidikan maupun
perguruan tinggi lainnya.
7. Orientasi Peserta Didik
Orientasi merupakan perkenalan situasi dan kondisi sekolah yang diberikan kepada
peserta didik. Situasi dan kondisi tersebut meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial
sekolah.
a. Tujuan Orientasi (Asmendri, 2012)
1) Agar peserta didik lebih mengenal dekat mengenai dirinya sendiri ditengah-
tengah lingkungannya yang baru
2) Agar peserta didik mengenal lingkungan sekolah, baik lingkungan fisik maupun
lingkungan sosialnya
3) Pengenalan lingkunagn sekolah yang demikian sangat penting bagi peserta didik
dalam hubungannya dengan cara sebagai berikut.
a) Pemanfaatannya semaksimal mungkin terhadap layanan yang dapat diberikan
oleh sekolah
b) Sosialisasi diri dan pengembangan diri secara optimal
12
4) Menyiapkan peserta didik secara fisik dan mental agar siap menghadapi
lingkungan baru sekolah.
5) Peserta didik dapat mengerti dan mentaati segala peraturan yang berlaku
disekolah.
b. Fungsi Orientasi (Asmendri, 2012)
1) Bagi peserta didik sendiri, orientasi berfungsi sebagai:
a) Wahana untuk menyatakan dirinya dalam kontek keseluruhan lingkungan
sosial.
b) Wahana untuk mengenal siapa lingkungan barunya sehingga dapat dijadikan
sebagai pedoman dalam menentukan sikap
2) Bagi personalia sekolah dan tenaga kependidikan,dengan mengetahui siapa
peserta didik barunya, akan dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam memberikan
layanan yang mereka butuhkan
3) Bagi peserta didik senior, dengan adanya orientasi ini, akan mengetahui lebih
dalam peserta didik penerusnya disekolah tersebut.

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Buku


Komponen dalam Buku
Penilian Buku
Pertama (Manajemen Kelas) Kedua (Manajemen Pendidikan)

Aspek tampilan Tampilan depan buku ini Dari tampilan cover/sampul depan
buku (face value) diawali dengan penulisan buku ini kurang menarik, karena
judul yang bercetak tebal dan hanya disajikan judul buku yang
disertai nama pengarang bercetak tebal yang tidak disertakan
buku dikarenakan buku ini nama penulis, penerbit maupun
merupakan diktat universitas gambar yang menarik perhatian
maka disertakan jurusan serta penulis. Tampilan cover sangat
nama universitas. monoton tanpa adanya pewarnaan
Kekurangan pada bagian ini dan gambar yang memikat
yaitu tidak disertakannya pembaca.
variasi dalam cover buku
sehingga kurang menarik
bagi pembaca untuk

13
membaca.

Dari aspek layout Pada buku yang pertama ini, Pada buku kedua ini, layout/tata
dan tata letak aspek layout dan tata letak letak yang digunakan sudah cukup
sudah baik disajikan penulis, menarik dilihat dari cara menata
hal ini terlihat jenis huruf dan memadukan unsur-unsur
yang digunakan sudah rapi komunikasi grafis seperti
dan mengunakan margin gambar/ilustrasi, teks, grafik, tabel,
yang baik. angka halaman, dan elemen lainnya
menjadi suatu media komunikasi
visual yang komunikatif dan
estetik.

Isi Buku Penyajian materi dalam buku Penjelasan materi dari buku sangat
ini sudah cukup baik, detail dan memuat banyak
penyampaian materi yang wawasan. Untuk bahan kajian
mudah dimengerti pada isi materi dijelaskan sangat lengkap
buku. Materi yang ada dalam disertai dengan contoh-sesuai
buku dijelaskan secara runtut materi yang dijelaskan dan
dan tidak memberikan kesan mendalam serta cukup jelas karena
membingungkan. Sistematika penulis menambahkan penjelasan
dalam buku juga tidak berupa skema/bagan. Namun
memberikan kebingunan bagi paparan materi terdapat beberapa
pembaca. Isi buku saling penjelasan yang kurang mudah
terkait dengan judul buku, untuk dipahami dan hanya
pada setiap materi menyajikan penjelasan mengenai
penyampaiannya mencakup manajemen dalam pendidikannya
secara keseluruhan materi. saja.
Namun penyajian materi
hanya menjelaskan mengenai
manajemen dalam kelas saja.

Aspek tata bahasa Tata bahasa yang digunakan Dalam penggunaan tata bahasa
sesuai dengan EYDdan yang digunakan dalam buku ini
pengarang juga sudah cukup baik, penggunaan tata

14
menggunakan bahasa yang bahasa yang mudah dimengerti dan
cukup komunikatif sehingga tidak bertele-tele memudahkan
mudah dipahami oleh pembaca dalam memahami materi
pembaca. yang disajikan.

Aspek pendukung Memberikan pendukung Dalam penyajian buku diberikan


penyajian penyajian berupa gambar beberapa aspek pendukung seperti
yang tak diberi warna tabel, gambar dan pemberian warna
terkesan kurang memberikan yang menarik perhatian. Namun
penjelasan mengenai aspek buku ini tidak menyajikan
pendukung buku ini.Buku ini ringkasan tiap bab/summary,
juga tidak menyajikan contoh soal, dan latihan soal-soal
ringkasan tiap bab/summary, untuk mengasah kemampuan
contoh soal, dan latihan soal- pembaca.
soal untuk mengasah
kemampuan pembaca.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari acuan kedua buku yang penulis gunakan dalam tugas mengkritisi bab mengenai materi
“Manajemen dalam Proses Pembelajaran” dalam makalah ini maka dapat penulis simpulkan
bahwa secara keseluruhan pemaparan materi yang penulis kritisi pada kedua buku yang brjudul
(Buku I “Manajemen Kelas” dan Buku II “Manajemen Pendidikan’) sudah cukup baik, karena
pemaparan materinya luas dan menyeluruh. Kedua buku yang penulis kritisi dalam makalah ini
hanya memaparkan materi yang sesuai dengan judulnya seperti Buku I hanya memaparkan
mengenai manajemen kelas dan Buku II hanya memaparkan mengenai manajemen pendidikan.
Sehingga kedua buku yang penulis gunakan saling melengkapi untuk materi Manajemen Dalam
Proses Pembelajaran (Manajemen Kelas dan Manajemen Peserta Didik)
3.2 Saran
Dilihat dari hasil kritisi penulis pada kelebihan dan kelemahan buku, maka penulis dapat
menyarankan bahwa kedua buku ini sangat tepat untuk dijadikan referensi yang baik mengenai
materi manajemen proses.

16
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, I. 2015. Manajemen Kelas. FIP Universitas Negeri Malang : Malang
Kristiawan, M., Safitri D & Lestari, R. 2017.Manajemen Pendidikan. Deepublish: Yogyakarta.

17