Anda di halaman 1dari 10

Clinical Science Session

Journal Reading

Hari / Tanggal : Selasa / 10 September 2019

Pendahuluan

Gejala dari Panic Disorder (PD) termasuk serangan panic dengan contoh symptom berikut, seperti
munculnya rasa takut dalam kehilangan kendali, merasa seperti sekarat, sesak pada dada, nafas
pendek, jantung berdebar debar, pusing, merasa tidak nyaman pada bagian abdominal dan symptom
fisik yang lainnya yang tidak diketahui etiologinya. Symptom- symptom tersebut sangat penting pada
penyakit ansietas tetapi biasanya kurang diakui, yang mana berhubungan dengan perbaikan kualitas
hidup dan perasaan yang terkait dengan somatik. PD mudah berkormobiditas dengan penyakit mental
yang lain. PD juga berhubungan dengan berkurangnya kesejahteraan, rasa kesehatan yang buruk,
turunnya kualitas hidup, sering menggunakan pelayanan medis dan perselisihan dalam pernikahan
dikarenakan serangan panik yang berulang dan antisipasi dalam kecemasan. Patofisiologi lama dari PD
diadaptasi dari hipotesis Gorman yaitu “Fear Network Model (FNM)”. FNM termasuk area frontal dan
limbic, seperti: insula, thalamus, periacqueductal gray matter, lobus serulus, parabrachial nucleus dan
inti ltractus solitarius, gyrus media frontal , anterior cingulate, amygdala dan hippocampus, batang
otak, hipotalamus. Area frontal seharusnya memodulasi reaksi ketakutan yang berlebihan yang
berasal dari daerah limbic dengan benar. Kontrol respon takut yang tidak memadai akan
memprovokasi terjadinya serangan panik. Ketakutan yang terjadi dibawah alam sadar diproses
melalui hubungan antara kortikal- kortikal dan kortiko-subkortikal. Ketakutan dan gejala dari
symptom kepanikan berhubungan dengan modulasi perhatian terhadap arti penting emosional
terhadap ancaman. Pusat dari FNM tradisional adalah amygdala, yang terhubung dengan Medial
frontal cortex dan hippocampus yang berfungsi untuk mengontrol respon dan memor rasa takuti.
Sebagai tambahan, proyeksi dari amygdala terhubung dengan batang otak dan hipotalamus untuk
gejala kepanikan berhubungan dengan disfungsi dari system saraf otonom. Disfungsi dari FNM
biasanya berhubungan dengan adanya stressor di masa kanak- kanak dan bawaan genetik.
pengobatan terkait serotonin, eperti antidepresan, bisa mengurangi gejala- gejala kepanikan dengan
cara menurunkan kelebihan respon ketakutan diantara amygdala dan batang otak atau hipotalamus.
Sebagai tambahan, intervensi psikososial bisa menambah kemampuan hambatan dari korteks frontal
terhadap amygdala dan hipokampus. Kemampuan hipokampus yang berlebih dapat menambah
memori akan ketakutan dan Inhibisi neurotransmitter dapat membantu supresi dan hilangnya respon
rasa takut terhadap memori tersebut. FNM berhubungan dengan disregulasi kolesistokinin, serotonin,
glutamate, norepineprin, dan system gamma- aminobutyric acid. Namun, berdasarkan studi dari
neuroimaging terkini mebuktikan bahwa tidak ada perbedaan dan jalur yang spesifik untuk
pengobatan dan intervensi psikososial seperti yang disebutkan oleh Gorman dkk. Sebagai tambahan,
akhir- akhir ini review dari PD berfokus pada laporan neuroimaging, seperti fungsionalnya,
metabolisme dan strukutural.. Seperti review yang telah disebutkan bahwa aktifitas amygdala yang
hiperaktif bisa dijadikan biomarker. Perubahan dari interaksi kortiko-limbik telah bereplikasi dengan
keterlibatan lebih lanjut dari are yang diperluas,, seperti anterior cingulate cortex dan insula. Namun,
perbedaan FNM pada setiap pasien berbeda tergantung dari symptom paniknya dan respon klinik dari
pengobatannya. Dari sudut pandang saya, area otak yg berhubungan dengan sensorik, seperti
temporal, occipital dan parietal seharusnya dimasukkan ke patofisiologi PD pada FNM lanjutan.
Kebanyakan symptom panic seperti sesak pada dada, napas pendek, pusing, jantung berdebar- debar,
paresthesia dan nyeri pada bagian abdominal, dll karena gejala-gejala ini berhubungan dengan fungsi
sesnsoris dan respon. Karena itu, review ini akan mengungkapkan pentingnya area yang diperluas
untuk lanjutan FNM, terutama pada wilayah sensoris. Saya juga akan mereview apakah hbungan
fungsional dari FNM yang berhubungan dengan area sensoris pada bagian otak dan apakah hubungan
area sensoris- pada bagian otak- akan memodulasi melalui thalamus dan insula dalam bagian
berikutnyai.

EXTENDED AREAS OF FNM

Bukti FNM lanjut bagian temporal

Model dari ‘sirkuit’ ketakutan pada PD terdiri dari nucleus lateral dari amydala, hippocampus, korteks
frontal, insula, thalamus, anterior cingulate, hipotalamus dan batang otak, dimana bagian- bagian ini
akan berinteraksi 1 sama lain untuk memodulasi respon panic. Untuk analisis gray matter (GM),
analisis dari voxel based morphometry (VBM) menunjukkan adanya perluasan area pada lobus
temporal, dimana tidak disebutkan dalam FNM ‘Tradisional’. Sebagian studi VBM telah menunjukkan
bahwa adanya perubahan di area temporal, walaupun , berlawanan dengan volume GM, seperti
penurunan GM dan kenaikan GM pada pasien PD. Alterasi dari lobus temporal bisa dihubungkan
dengan Inhibisi fungsi dari korteks frontal. Alterasi di area frontal pada pasien PD sudah disebutkan
dibeberapa laporan VBM. Dan volume GM tidak berhubungan dengan keparahan Simptom PD. Area
frontal bisa menggunakan ‘top- down mechanism’ untuk memproses pesan snsoris dari area temporal
untuk mengontrol serangan kepanikan berulang. Sebagai tambahan, berdasarkan studi struktural, ada
beberapa fungsi yang menunjukkan peran krusiald arii lobus temporal pada patofisiologi dari PD.
Aliran darah area serebral menurun pada superior temporal gyrus dan tidak berhubungan dengan
keparahan kepanikan, level ansietas dan durasi dari penyakit. Nash et al menemukan bahwa
penurunan presinap dan postsinap dari ikatan reseptor serotonin 1A pada korteks orbitofrontal dan
area temporal pada pasien PD. Stimulasi dari keadaan yg menyebabkan panik akan menginduki
serangan panic melalui penurunan kemampuan inferior frontal cortex untuk mengontrol respons
panic.

fungs terkait sensoris telah didiskusikan untuk lobus temporal pada PD, dimana termasuk disfungsi
dari visuospatial dan peringatan ancaman tanda bahaya palsu pada pasien PD. Penurunan nilai dari
integrasi sensoris melalui system visuospatial dan perhatian juga telah dilaporkan. Sebagai
tambahan, pasien PD mempunyai deficit untuk menekan gangguan stimulus nonverbal dan
berkurangnya kemampuan kognitif untuk mengekspresikan pikiran abstrak. Pada FNM ‘tradisional’ ,
penambahan struktur terkait sensoris, seperti lobus temporal dan lobus parietal, bukan merupakan
area yang penting.Namun, stressor akut yang berhubungan dengan rasa takut akan mengaktivasi
infero- temporal, temporo- parietal dan struktur limbic untuk bertukar informasi antara sistem
otonom-neuroendokrin dan mengarahkan kembali perhatian terhadap kewaspadaan. Kondisi takut
akan meningkatkan aktivitas otak dibagian lobus frontal, temporal dan lobus parietal. Studi mengenai
antidepresan pada pasien PD juga menunjukkan kenaikan homogenitas regional pada lobus twmporal
dan pemhurangan homogenitas regional pada lobus parietal setelah perbaikan gejala panik dibawah
pengaruh terapi antidepresan. stimulus rasa takut juga akan menginduksi kemampuan spasial dan
berinteraksi dengan emosi, dimana akan berhubungan menurunnya aktivitas temporo- parietal yang
terdapat pada lobus occipital. Factor stress eksterbal dan serangan kepanikan akan meningkatkan
aktivitas otak di daerah thalamus dan occipito-temporo-parietal region. Aktivasi yg kuat pada lobus
superiorteporal dan beberapa struktur limbik juga twrjadi pada saaat serangan panik. Peningkatan
aktivitas serebral lobus superiotemporal pada pasien gangguan panik juga menjawab studi di atas.
Namun, perbedaan pandangan telah disebutkan di fenomena berlawanan, seperti menurunnya aliran
darah area cerebral pada right superior temporal gyrus pada pasien PD. Sebagai tambahan, aliran
darah pada bagian tersebut tidak berhubungan dengan durasi sakit, keparahan ansietas dan
symptom PD. Fungsi dari lobus temporal, seperti regulasi dari ansietas, regulasi mood,
pengembangan dari episode memoru dan kemampuan proyeksi terhadap diri sendiri, juga mungkin
terganggu pada PD. Beberapa laporan menyarankan jaringan ‘fronto- temporo- insula’ mungkin
berubah pada gangguan panik, dimana termasuk lobus temporal. Aktivasi gyrus superiotemporal
telah diobservasi ketila serangan panik, dimana hal ini juga berhubungan terhadap hiprfusi gyrus
siperiotemporal pada studi PET.

Bberapa studi VBM juga mendukung karakteristik biomarker dari lobus temporal, seperti perubahan
GM pada area ini. Peningkatan volume GM telah disebutkan dalam superior temporal gyrus, dimana
berhubungan dengan insula dan lobus temporal. Namun, penurunan volume GM telah ditemukan
pada lobus temporal. Gangguan anxietas juga tejadi karena deficit dari volume GM di superior
temporal gyrus, yang mana bisa terhubung dengan amygdala dan insula untuk mengontrol serangan
panic. Sebagai tambahan, perubahan lobus temporal mungkin mempengaruhi penyebaran informasi
sensorik ke thalamus untuk penyaringan dan regulasi top-down pada sistem frontal. Sebagai
tambahan lagi, pecahan ALFF pada lobus temporal dapat dibedakan dengam lobus frontoparietal.
Studi ini menndukung bahwa lobus temporal harus ada pada FNM lanjutan.

The advance FNM evidences for insula

Insula bisa terintegrasi dengan informasi sensoris dikarenakn hubungan dengan bagian otak yang
lainnya, seperti area frontal dan temporal. Insula bisa emodulasi terjadinya respon panic melalui
jaringan fronto- temporo- insula’ . Perubhana dari GM di insula sudah disebutkan dalam beberapa
stdi VBM pada PD. Pada FNM ‘tradisional’, insula menerima informasi sensoris yang telah disaring
oleh thalamus dan bekerjasama dengan area frontal untuk mengontrol serangan panic.

Alterasi dari insula GM telah disebutkan dalam beberapa studi yang berlawanan, seperti ppenurunan
volume GM dan kenaikan volume GM. Insula merupakan area krusial bagi dan patofisiologi somatik
dan kognitif pada PD. Ketidakkonsistenan juga ditemukan pada studi fungsional pada pasien PD,
seperti kenaikan aktivitas otak atau penurunan aktivitas otak. Ketakutan terkait dengan reson
ancaman juga menurunkan hubungan insula dengan korteks frontal. Gangguan afferent dan efferant
visceral somatik juga berhubungan dengan penurunan ikatan gamma amino butyric acid di insula
pada pasien PD. Gejala kardiovaskuler pada gangguannpanik, respon ancaman visual, sensitivitas
ansietas selama pemrosesan empsi wajah, antisipasi ansietas terhadap agorafobia, prediksi terapi
kognitif behavior, dan kebencian yang tidak dapat diprediksi terhadap respon menghindar juga
dihubungkan dengan aktivasj insula pada jaringan ketakutan yang diperluas. Sensitifitas terhadap
kepanikan tidak berhungan dengan white matter (WM). Dari literature ini, insula memegang peran
yang sangat penting pada proses kognitif, emosional, ketakutan dan respon primitive saat terjadi
serangan panic.

The advanced FNM evidences for thalamus

Thalamus meregulasi fungsi emosional dan kognitif, seperti rsa takut, ancaman, modulasi terhadap
ancaman, ancaman emosional. Thalamus berinteraksi dengan temporal, parietal, struktur subkortikal
limbiv atau bagian lain dari struktur yang berkaitan dengan rasa takut untuk memodulasi
responsistem Noradrenegic teehadap rasa takut.. Sebagai tambahan, studi sebelumnya mengenai
RFMRI juga menemukan perubahan fraksional ALFF pada Thalamus. 0 Pentazatos et al. melaporkan
bahwa rasa takut hadir karena lonjakan fungsional antara AG dan hippocampus. Sebagai tambahan,
thalamus akan terhubung dengan lobus temporal dan insula sebagai pathogenesis dari PD.

The advanced FNM evidences for parietal Lobe

Perubahan fungsional terkait serotonin telah ditemukan di daerah temporal parieto-superior pada
pasien yang mengalami gangguan panik. Jenis lain dari gangguan kecemasan, gangguan kecemasan
sosial, pernah mengalami perubahan dalam aktivitas saraf dan memberikan dampak difus secara luas
pada jaringan saat istirahat dan perubahan selektif dari konektivitas fungsional intrinsik lobus parietal.
Indeks aliran darah otak yang asimetris pada daerah lobus temporal dan parietal dikaitkan dengan
keparahan panik. Situasi yang memicu terjadinya kecemasan juga mengakibatkan fenomena
penurunan aliran darah otak pada lobus parietal. Penurunan aliran darah otak juga telah di amati di
daerah posterior parietal-superior temporal pada pasien yang mengalami gangguan panik. Tingkat
keparahan kecemasan berkorelasi terbalik dengan metabolisme di daerah temporal dan parietal pada
gangguan mood.

Volume Gray Matter pada lobus parietal dikaitkan dengan kecemasan dan suasana hati, regulasi
afektif, respons empatik, meditasi dan ketenangan. Beberapa laporan berdasarkan VBM, pada pasien
dengan gangguan panik menunjukkan penurunan dalam volume Gray Matter di lobus parietal dan
temporal. Penurunan ketebalan kortikal di lobus parietal juga disebutkan pada gangguan panik.
Gyrifikasi kortikal juga menurun di lobus parietal dan temporal. Disfungsi visuospasial terkait parietal
mungkin merupakan komponen untuk patofisiologi gangguan panik. Aktivitas lobulus parietal dan
daerah FNM lanjutan lainnya mungkin memprediksi respons pengobatan terhadap terapi perilaku
kognitif, yang direplikasi dalam penelitian lain. Selain itu, pengobatan antidepresan pada pasien
remisi dengan gangguan panik dikaitkan dengan perubahan homogenitas regional di lobus parietal.
Penelitian antara gejala panik dan studi pH fungsional imaging juga menunjukkan hubungan yang
signifikan dengan lobus parietal, insula, dan lobus temporal. Pasien gangguan panik juga mengalami
penurunan koordinasi antar hemisfer lobus parietal bilateral. Peningkatan aktivitas lobus parietal
kanan terjadi saat pasien cemas.

Precuneus telah dilaporkan mengalami perubahan pada gangguan panik yang mungkin menyebabkan
gangguan fungsi emosi somatosensorik dan proses referensi diri. Selain itu, konektivitas fungsional
antara cingulate anterior dan precuneus meningkat pada gangguan panik yang dikaitkan dengan
konsentrasi asam gamma-aminobutyric. Jaringan limbik yang menyimpang antara amigdala dan
precuneus juga ditemukan pada gangguan panik, yang mungkin memiliki disregulasi proses emosional
dan somatosensorik. Jika gangguan terjadi di jaringan ini, proses emosional dan somatosensori
mungkin mengalami kerusakan dan memicu serangan panik. Perubahan konektivitas fungsional
antara dorsal anterior cingulate cortex dan precuneus mungkin menghubungkan kecemasan dengan
defisit dalam kesadaran diri. Selain itu, fungsi-fungsi yang berhubungan dengan precuneus termasuk
pemantauan perhatian, Inhibisi respons, proses motivasi mandiri, pemrosesan somatosensorik,
pemrosesan emosional, ingatan visual dan proses refleksi diri akan terganggu pada gangguan panik.
Penurunan aktivasi parietal selama respons penghindaran terhadap rangsangan afektif juga diamati
pada gangguan panik. Dari literatur di atas, lobus parietal harus dimasukkan dalam FNM lanjut karena
hal ini berhubungan dengan fungsi sensorik dan kognitif, yang sesuai dengan ulasan artikel lainnya.
Bukti FNM lanjut untuk lobus oksipital

Daerah sensorik otak, seperti lobus oksipital atau temporal,akan mengirimkan informasi sensorik ke
FNM untuk mengenali dan memproses sinyal ketakutan dari wajah dan tubuh. Proses ketakutan,
sensorik dan fungsi Inhibisi mungkin berhubungan dengan ketidakstabilan regional di lobus oksipital
pada gangguan panik. Respon cemas, ketakutan terkait sensorik, disfungsi regulasi diri mungkin
terjadi pada lobus oksipital pasien kecemasan. Kecemasan antisipatif, sifat penting dari gangguan
panik, mungkin meningkat sementara pada tingkat neurotisme yang lebih tinggi. Ketakutan antisipatif
diyakini diinduksi oleh aktivitas otak lobus oksipital yang abnormal. Selain itu, lobus oksipital dikaitkan
dengan pengenalan wajah, sensitivitas terhadap rangsangan yang menakutkan, pengolahan emosi
dan tingkat sifat kecemasan. Kekhawatiran juga menyebabkan aliran darah menurun pada lobus
oksipital, yang mengkonfirmasi peran lobus oksipital dalam mekanisme khawatir untuk gangguan
panik. Lobus oksipital berkaitan dengan pemrosesan sensorik informasi auditorial-spasial dan
visuospasial. Perubahan lingkungan, seperti perubahan visual atau sensorik, akan memperoleh
respons di gyrus oksipital tengah. Perubahan sensorik dapat memicu serangan panik, yang mungkin
menunjukkan bahwa lobus oksipital harus menjadi bagian dari FNM.

Gangguan panik terkait dengan gangguan pemrosesan sensorik dan integrasi. Sistem limbik mungkin
menerima sinyal sensorik abnormal dari lobus oksipital, yang akan memicu gejala panik di batang
otak. Sistem perhatian dorsal, yang meliputi girus oksipital tengah, mengontrol prosedur top-down
untuk perhatian selektif dan modulasi sensorik. konektivitas antara lobus oksipital dan daerah lain
akan terganggu karena kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Pasien gangguan panik memiliki
aktivitas abnormal di lobus oksipital, ganglion basal dan thalamus saat menerima stimulus emosi
negatif. Selain itu, potensi pengikatan reseptor 5HT-1A pada lobus oksipital berkorelasi negatif
dengan tingkat kecemasan. Selain gyrus oksipital tengah, korteks asosiasi visual (bagian dari lobus
oksipital) mungkin menjadi bagian penting lainnya dari FNM. Perhatian, persepsi, identifikasi visual,
memori pengakuan, kemampuan visuospatial dan pemrosesan informasi sensorik interoceptive dari
korteks asosiasi visual mungkin terganggu pada gangguan panik. Ketakutan terkait kejutan mungkin
mengganggu konsolidasi memori pada gyrus lingual bilateral, yang dikaitkan dengan tidur REM dan
gangguan konsolidasi terhadap rasa takut. Hubungan antara amygdala dan korteks asosiasi visual
bertanggung jawab untuk memproses wajah-wajah yang ketakutan dan informasi terkait spasial.
Hasilnya juga sejalan dengan perubahan perhatian terkait spasial karena gangguan koneksi antara
amygdala dan area visual pada gangguan panik. Korteks asosiasi visual juga dikaitkan dengan
pengaturan citra visual dan fungsi otonom, aktivitas simpatik dan pemrosesan fungsi otonom,
persepsi ekspresi tubuh, ancaman sinyal ketakutan, dan antisipasi kecemasan, yang mungkin
terganggu pada gangguan panik.

Ketakutan, rangsangan persepsi, disregulasi otonom, dan kecemasan antisipatif adalah gejala inti dan
karakteristik gangguan panik. Oleh karena itu, korteks asosiasi visual mungkin menjadi komponen
FNM dari gangguan panik. Kami pernah melaporkan defisit Gray Matter yang signifikan di lobus
oksipital pada pasien gangguan panik dengan komorbid gangguan depresi mayor. Laporan kami yang
lain tentang homogenitas regional pada pasien gangguan panik juga menunjukkan perubahan lobus
oksipital yang mungkin menjadi bagian dari FNM. Selain itu, gangguan fraksional ALFF telah diamati di
gyrus tengah oksipital pasien gangguan panik. Gyrus lingual dihubungkan dengan amigdala untuk
membentuk FNM sebagai kemampuan perhatian spasial dan pemrosesan rasa takut pada pasien
gangguan panik. Dalam FNM lanjut, lobus oksipital mungkin bekerja dengan struktur medial (seperti
thalamus dan amigdala), daerah frontal dan daerah sensorik lainnya (seperti lobus superior temporal)
untuk memproses identifikasi dan adaptasi rasa takut. Lobus oksipital mungkin mengirim informasi
sensorik melalui aferen sensorik ke thalamus, amigdala dan hippocampus, yang merupakan struktur
inti dari rasa takut pada gangguan panik.

Ventilasi hiperoksik dapat meningkatkan aktivitas di lobus oksipital. Penambahan karbon dioksida
menghapuskan respon abnormal lobus oksipital. Selain itu, serangan panik akibat stres interaksi sosial
mungkin terkait dengan perubahan pada lobus oksipital untuk pemrosesan saraf pada kognisi sosial,
sensitivitas penolakan sosial dan rasa percaya diri yang rendah. Gyrus lingual juga mengatur
kegelisahan, kewaspadaan, dan fungsi kardiovaskular. Pemrosesan visual, fungsi orientasi khusus
lobus oksipital, kemampuan visuospasial, stimulasi somatosensorik dan persepsi stimulus sensorik
menunjukkan bahwa gangguan dalam integrasi sensorik mungkin menjadi faktor predisposisi
serangan panik. Selain itu, pengobatan antidepresan meningkatkan aktivitas otak di lobus oksipital
dan mengurangi serangan panik. Cuneus, bagian lain dari korteks asosiasi visual, mungkin juga
terhubung dengan struktur inti FNM melalui pengiriman informasi sensorik ke amigdala,
hippocampus, dan thalamus. Kontrol bottom-up dari perhatian selektif visuospatial, yang disebut
sebagai perhatian yang dibawa oleh stimulus, juga terjadi pada cuneus. Lobus oksipital tampaknya
saling berhubungan dengan Default mode network dan daerah limbik untuk mengendalikan
kewaspadaan, perhatian, motivasi, dan rangsangan. Lobus oksipital juga dihubungkan dengan empat
jaringan kortikal, seperti jaringan mode default, sistem perhatian dorsal, jaringan visual dan
somatosensorik. Model serangan panik yang terkait dengan cholecystokinin-4 menemukan bahwa
aktivasi cuneus dari otak berhubungan dengan skor ketakutan melalui koneksi dengan amygdala.
Wanita yang dilecehkan menunjukkan aktivitas abnormal pada cuneus kanan dan daerah pemrosesan
visual kanan selama proses Inhibisi respons. Seperti yang kita ketahui, Gangguan panik juga biasanya
berhubungan dengan pelecehan masa kecil dan cuneus mungkin menjadi bagian penting dari FNM
lanjut. Selain itu, cuneus bertanggung jawab atas ancaman visuospatial, identifikasi suara,
pemrosesan wajah dan kecenderungan terhadap reaksi cemas. Selain itu,

Suatu studi menunjukkan penurunan kekuatan konektivitas fungsional dari gyrus linggual kanan.
perubahan residual pada amplitudo fraksional ALFF mungkin juga terjadi pada lobus oksipital bahkan
setelah terapi antidepresan dengan status remisi. Fasikulus lobus oksipital juga berubah pada fase
aktif dan status remisi pasien gangguan panik. Perhatian dan sensitivitas yang tidak tepat terhadap
stimulus sensorik, seperti dada sesak dan jantung berdetak kencang, mungkin membawa serangan
panik. Fungsi orientasi-penghindaran oleh cuneus terhadap peristiwa yang mengancam perasaan
gelisah mungkin terkait dengan penghindaran perilaku serangan panik. Kesalahan Pesan somatik dari
lobus oksipital dapat memicu respons abnormal dari struktur inti dan mengirim respons abnormal ke
batang otak dan daerah lain yang menyebabkan serangan panik. Oleh karena itu lobus oksipital harus
didaftarkan sebagai komponen penting dari FNM lanjut.

Bukti pendukung dari penelitian materi putih


Studi White Matter (WM) saat ini berfokus pada mikrointegritas
fasikulus. Fasciculus WM terkait sensorik, seperti fronto-occipital
fasciculus (FOF) dan uncinate fasciculus (UF), telah disebutkan dalam
studi kecemasan. FOF adalah traktus WM berinteraksi dengan fasikulus
WM yang berhubungan dengan bahasa untuk menghubungkan lobus oksipital
dan sistem frontal melalui lobus parietal. Lobus frontal juga
merupakan komponen dari FNM tradisional. Lobus frontal dapat
mengontrol respon ketakutan yang berhubungan dengan amigdala, yang
terkait dengan koneksi UF antara
lobus frontal dan amigdala. Selain itu, kecemasan mungkin terkait
dengan perubahan dalam integrasi mikro UF, yang menyarankan
defisiensi konektivitas UF dengan orbitofrontal cortex, amigdala dan
lobus temporal. Daerah limbik mungkin terhubung dengan wilayah otak
lainnya untuk pemrosesan respons rasa takut, yang akan menjadi tidak
terkendali saat serangan panik. Rasa takut, rangsangan dan perhatian
terhadap
Ancaman lingkungan akan dimodulasi oleh respons terkait ketakutan.
Pengalaman serangan panik mungkin juga terkait dengan arti-penting
emosional dari ancaman. FOF mungkin penting untuk memasukkan
informasi sensorik oksipital dan sensorik terkait parietal.
Pengiriman kontrol Inhibisi terkait lobus frontal, yang
mungkin penting untuk patofisiologi gangguan panik. Studi imaging
genetik menunjukkan genotipe faktor neutrofik yang diturunkan dari
otak mungkin dikaitkan dengan WM yang berhubungan dengan fungsi
kognitif dan intelektual. Antidepresan terkait serotonin akan
meningkatkan nfaktor neutrofik di daerah frontal, yang mungkin
mendukung
peran FOF dalam patofisiologi WM pada gangguan panik. Dalam
penelitian ini,
kami menemukan terapi antidepresan meningkatkan mikrointegritas UF
kanan dan FOF kiri. Selain itu, pasien remisi dapat mengkompensasi
perubahan dari WM melalaui UF kanan sehingga trjadi peningkatan
integritas mikrostruktural WM dari FOF kiri. Terapi antidepresan
dapat meningkatkan mikrointegritas melalui peningkatan pelepasan
faktor neurotrofik dan menghilangkan stres oksidatif di UF kanan dan
FOF kiri. Antidepresan dapat memengaruhi struktur mikro dari traktus
WM
melalui faktor-faktor terkait astrosit, seperti peningkatan
pemanfaatan glukosa, ekspresi faktor neutrofik yang diturunkan dari
astrosit dan pelepasan laktat, peningkatan aliran darah otak dan
memfasilitasi pengiriman neurotransmisi di sirkuit saraf.
Mikrointegritas traktus WM frontolimbik juga berhubungan dengan
polimorfisme genotip serotonin. Faktor neutofik akan mempunyai efek
pada integritas serabut otak. antidepresan dapat meningkatkan
pelepasan serotonin, yang dapat memodulasi integritas mikro
struktural WM pada FOF kiri dan UF kanan. Laporan struktural WM ini
dikonfirmasi peran dari lobus oksipital dan temporal dalam FNM
lanjut.
Bukti-bukti yang mendukung dari beberapa studi

Studi fungsional gangguan panik juga dapat mendukung konsep FNM tingkat lanjut. Baru-baru ini
laporan kami menunjukkan bahwa perubahan dalam jaringan termasuk daerah sensorik dan motorik
yang terhubung dengan pusat parahippocampus. Perubahan parahippocamopus telah terjadi dan
sudah disebutkan dalam gangguan panik seperti peningkatan aliran darah otak, penurunan volume
GM dan peningkatan ikatan reseptor benzodiazepine. Studi VBM kami menemukan bahwa
komorbiditas gangguan panik dengan depresi akan menurunkan GM parahippocampal, yang sesuai
dengan hasil meta-analisis. Dua studi tentang antidepresan pada gangguan panik juga menunjukkan
bahwa

pengobatan antidepresan dapat meningkatkan metabolisme glukosa di daerah limbik, termasuk


parahippocampus. Konektivitas yang berubah antara parahippocampus dan korteks cingulate dorsal
menyarankan peran sentral pada sistem limbik. hasil studi yang terkait fungsional juga sesuai dengan
aktivitas yang lebih rendah dan pengaruh terkait respon pengobatan pada stabilitas neuronal di
korteks cingulate dorsal pada pasien gangguan panik.

Studi fungsional ini menunjukkan bahwa daerah sensorik, seperti lobus oksipital (gyrus calcarina dan
gyrus lingual) dan lobus parietal (gyrus supramarginal ),

mungkin diubah dan dipengaruhi oleh sistem limbik.

hiperperfusi dari aliran darah otak di lobus parietal dan temporal

telah dilaporkan pada gangguan panik. Selain itu, aktivitas otak di lobus parietal dan temporal
berhubungan dengan keparahan psikopatologi gangguan panik, yang sejalan dengan hasil yang kami
dapatkan yaitu penurunan kekuatan konektivitas antara gyrus parahippocampus kiri dan SMG. Pasien
gangguan panik mengalami penurunan kegiatan di lobus oksipital dan area visual lainnya saat paparan
untuk menghadapi tugas. Calcarine gyrus adalah area yang berfungsi untuk visualsensorik dan ujung
impuls saraf

ipasang Yang dihasilkan oleh retina dan respons visual selanjutnya.

aktivitas yang lebih rendah di gyrus lingual pada pasien PD juga ditemukan saat.

menghadapi tugas. Memori spasial dan pengkodean alokasi mungkin terganggu pada pasien
gangguan panik. Perubahan di dalam jaringan limbik-sensorik mungkin menyarankan gangguan
kontrol dan kemampuan umpan balik, yang dihubungkan dengan respon panik saat mengalami
stresor lingkungan.