Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN

ILEUS OBSTRUKTIF POST LAPAROTOMY PADA NN.B DI RUANG


PERAWATAN BEDAH RSUD
KOTA MAKASSAR

DISUSUN OLEH :

ADE RAHMAWATI

STAMBUK : 144 2018 2143

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

2019
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Medis

ILEUS OBSTRUKTIF

I. Pengertian

Obstruksi usus atau ilieus adalah gangguan aliran normal isi usus

sepanjang saluran usus. Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi

saluran cerna tinggi artinya disertai dengan pengeluaran banyak aliran

cairan dan elektrolit baik didalam lumen usus bagian oral dari

obstruksi maupun oleh muntah. Obstruksi usus atau illeus adalah

sumbatan yang terjadi pada aliran isi usus baik secara mekanis

maupun fungsional. (NANDA,2015)

Aliran ini dapat terjadi karena dua tipe proses :

a) Mekanis : terjadi obstruksi mural dari tekanan pada dinding usus.

Contoh : intususepsi, perlengketan, tumor, hernia dan abses.

b). Fungsional : muskulatur usus tidak mampu mendorong isi

sepanjang usus. Contoh : gangguan endokrin. (NANDA,2015)

II. Etiologi

Etiologi dari obstruksi usus atau illeus yaitu:

a. Perlengketan

b. Intususepsi yaitu salah satu bagian usus menyusup kedalam bagian

lain yang ada dibawahnya.

c. Volvulus yaitu usus memutar akibatnya lumen usus tersumbat.

d. Hernia yaitu protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus.

e. Tumor. (NANDA,2015)
III. MANIFESTASI KLINIS
1. distensi abdomen
2. muntah
3. nyeri konstan distensi
4. bising usus tenang atau tidak secara klasik dapat ditemukan tapi temuan
yang tidak konsisten
5. pemeriksaan laborat seringkali normal
6. foto polos memperlihatkan loop usus halus yang berdilatasi dengan batas
udara-cairan. (NANDA,2015)

IV. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dari obstruksi usus atau illeus yaitu :

- Leukosit darah,kadar elektrolit, ureum,kadar glukosa darah,amylase.


- Poto polos abdomen atau foto abdomen dengan menggunakan
kontras
- Pemeriksaan feses
- Proktoskopi
- Enema baitum dan kolonoskopi
- Manometri dan elektromiografi. (NANDA,2015).

V. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan obstruksi usus atau illeus adalah :

- Persiapan

pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah,


mencegah aspirasi dan mengurangi distensi abdomen (dekompresi).
Pasien dipuasakan kemudian dilakukan juga resusitasi cairan dan
elektrolit untuk perbaikan keadaan umum. Setelah keadaan optimum
tercapai barulah dilakukan laparatomi. Pada obstruksi parsial atau
karsinomatosis abdomen ditangani dengan pemantauan dan
konservatif.

- Operasi

Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan


organ-organ vital berfungsi dengan baik. Tetapi yang paling sering
dilakukan adalah pembedahan segera mungkin. Tindakan bedah
dilakukan apabila strangulasi lengkap, hernia inkarserta, tidak ada
perbaikan dengan pengobatan konservatif (dengan pemasangan
NGT,infus,oksigen dan kateter).
- Pasca bedah

Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal


cairan dan elektrolit. (NANDA,2015).
OPERASI LAPARATOMI
1. Pengertian
Laparatomi merupakan prosedur pembedahan yang
melibatkan suatu insisi pada dinding abdomen hingga ke cavitas
abdomen (Sjamsurihidayat dan Jong, 2010). Laparatomi
merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen
yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan obgyn. Adapun
tindakan bedah digestif yang sering dilakukan dengan tenik insisi
laparatomi ini adalah herniotomi, gasterektomi,
kolesistoduodenostomi, hepatorektomi, splenoktomi, apendektomi,
kolostomi, hemoroidektomi dfan fistuloktomi.
Sedangkan tindakan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan
tindakan laoparatomi adalah berbagai jenis operasi pada uterus,
operasi pada tuba fallopi, dan operasi ovarium, yang meliputi
hissterektomi, baik histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvic,
salpingooferektomi bilateral (Ahmad,2018).

2. Tujuan
Prosedur ini dapat direkomendasikan pada pasien yang mengalami
nyeri abdomen yang tidak diketahui penyebabnya atau pasien yang
mengalami trauma abdomen. Laparatomy eksplorasi digunakan
untuk mengetahui sumber nyeri atau akibat trauma dan perbaikan
bila diindikasikan (Ahmad,2018).

3. Indikasi
a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap
struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang
diakibatkan oleh
luka tumpul atau yang menusuk (Ahmad,2018).
Dibedakan atas 2 jenis yaitu :
1) Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga
peritonium) yang disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak.
2) Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga
peritoneum) yang dapat disebabkan oleh pukulan, benturan,
ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (sit-belt).
b. Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa
rongga abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan
tersier. Peritonitis primer dapat disebabkan oleh spontaneous
bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis. Peritonitis
sekunder disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster dan
penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering kolon
sigmoid), sementara proses pembedahan merupakan penyebab
peritonitis tersier (Ahmad,2018).
c. Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun
penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi
usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan
perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi justru
mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan
gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan
darurat bila penderita ingin tetap hidup. Penyebabnya dapat berupa
perlengketan (lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh
secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen),
Intusepsi (salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian
lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus), Volvulus
(usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan
demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan
usus yang terjadi amat distensi), hernia (protrusi usu.
melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen),
dan tumor (tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus
atau tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus)
(Ahmad,2018).
d. Apendisitis mengacu pada radang apendiks
Suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada
bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari
apendisitis adalah obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya merusak
suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi.
1) Tumor abdomen
2) Pancreatitis (inflammation of the pancreas)
3) Abscesses (a localized area of infection)
4) Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery)
5) Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of
the intestines)
6) Intestinal perforation
7) Ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus)
8) Foreign bodies (e.g., a bullet in a gunshot victim)
9) Internal bleeding (Ahmad,2018).

4. Penatalaksanaan/Jenis-Jenis Tindakan
Ada 4 cara insisi pembedahan yang dilakukan, antara lain:

a. Midline incision
Metode insisi yang paling sering digunakan, karena sedikit
perdarahan, eksplorasi dapat lebih luas, cepat di buka dan di tutup,
serta tidak memotong ligamen dan saraf. Namun demikian, kerugian
jenis insis ini adalah terjadinya hernia cikatrialis. Indikasinya pada
eksplorasi gaster, pankreas, hepar, dan lien serta di bawah umbilikus
untuk eksplorasi ginekologis, rektosigmoid, dan organ dalam pelvis
(Ahmad,2018).
b. Paramedian
Yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5
cm). Terbagi atas 2 yaitu, paramedian kanan dan kiri, dengan
indikasi pada jenis operasi lambung, eksplorasi pankreas, organ
pelvis, usus bagian bagian bawah, serta plenoktomi. Paramedian
insicion memiliki keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi
anatomis dan fisiologis, tidak memotong ligamen dan saraf, dan
insisi mudah diperluas ke arah atas dan bawah (Ahmad,2018).
c. Transverse upper abdomen incision
Yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy
dan splenektomy (Ahmad,2018).
d. Transverse lower abdomen incision
Yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal
iliaka, misalnya; pada operasi appendectomy (Ahmad,2018).

5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang menurut (Ahmad,2018) sebagai berikut:
a. Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada
usus besar ; kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam
lambung ; dan kateterisasi, adanya darah menunjukkan adanya lesi
pada saluran kencing.
b. Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine.
c. Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi.
d. IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap
trauma saluran kencing.
e. Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut
yang diragukan adanya kelainan dalam rongga perut atau trauma
tumpul perut yang disertai dengan trauma kepala yang berat,
dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau 20 yang

ditusukkan melalui dinding perut didaerah kuadran bawah atau


digaris tengah dibawah pusat dengan menggosokkan buli-buli
terlebih dahulu.

f. Lavase peritoneal : pungsi dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan


memasukkan cairan garam fisiologis melalui kanula yang
dimasukkan kedalam rongga peritonium.

POST OPERASI LAPARATOMI


1. Perngertian
Laparatomi adalah pembedahan perut, membuka selaput perut
dengan operasi. Bedah laparatomi merupakan tindakan operasi pada
daerah abdomen, bedah laparatomi merupakan teknik sayatan yang
dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah
digestif dan kandungan. Pembedahan perut sampai membukaselaput
perut. Ada 4 cara pembedahan laparatomi yaitu:
a. Midline incision
b. Paramedian, yaitu sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang
(12,5 cm).
c. Transverse upper abdomen incision, yaitu insisi di bagian
atas,misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
d. Transverse lower abdomen incision, yaitu insisi melintang di bagian
bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya pada operasi
appendictomy.
Latihan-latihan fisik seperti latihan napas dalam, latihan
batuk,menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong,
Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari
ke 2 post operasi (Ahmad,2018).

2. Fase – fase penyembuhan


luka Menurut (Ahmad,2018)
a. Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3 – 4 hari. Dua proses
utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan pagositosis. Hemostasis
(penghentian perdarahan) akibat fase konstriksi pembuluh darah besar
di daerah luka, retraksi pembuluh darah, endapan fibrin
(menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah
luka. Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik
fibrin yang menjadi kerangka bagi pengambilan sel. Scab (keropeng)
juga dibentuk dipermukaan luka. Bekuan dan jaringan mati, scab
membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh
mikroorganisme. Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke
tepi. Sel epitel membantu sebagai barier antara tubuh dengan
lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme (Kozier, 2010).
Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah dan respon
seluler digunakan untuk mengangkat benda-benda asing dan jaringan
mati. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-
bahan dan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan. Pada
akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak
(Ahmad,2018).
Selama sel lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah
interstitial. Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari
monosit selama lebih kurang 2 jam setelah cidera/luka. Makrofag ini
menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut
pagositosis. Makrofag juga mengeluarkan angiogenesis growth
factor (AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel diakhir
pembuluh darah. Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat
proses penyembuhan. Respon inflamatori ini sangat penting bagi
proses penyembuhan (Ahmad,2018).

b. Fase Proliferatif
Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari ke-21
setelah pembedahan. Fibroblast (menghubungkan sel-sel jaringan)
yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah
pembedahan. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi
dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka.
Kolagen adalah substansi protein yang menambah tegangan
permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang meningkat menambah
kekuatan permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka.
Selama waktu itu sebuah lapisan penyembuhan nampak dibawah
garis irisan luka Kapilarisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan
aliran darah yang memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan
bagi penyembuhan. Fibroblast berpindah dar pembuluh darah ke
luka membawa fibrin. Seiring perkembangan kapilarisasi jaringan
perlahan berwarna merah. Jaringan ini disebut granulasi jaringan
yang lunak dan mudah pecah (Ahmad,2018).
c. Fase Maturasi
Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir 1-2 tahun setelah
pembedahan. Fibroblast terus mensintesis kolagen. Kolagen
menjalin dirinya , menyatukan dalam struktur yang lebih kuat. Bekas
luka menjadi kecil, kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis
putih (Ahmad,2018).
3. Prinsip – Prinsip Perawatan Luka Post Operasi
Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut (Ahmad,2018)
yaitu:
a. Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi
oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang
b. Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga
c. Respon tubuh secara sistemik pada trauma
d. Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka

e. Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama


untuk mempertahankan diri dari Mikroorganisme
f. Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing
tubuh termasuk bakteri.

4. Komplikasi – Komplikasi Dari Penyembuhan Luka


Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi, perdarahan, dehiscence
dan eviscerasi.
a. Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama
pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering
muncul dalam 2 – 7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berupa
infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri,
kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan
peningkatan jumlah sel darah putih (Ahmad,2018).
b. Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit
membeku pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah
oleh benda asing (seperti drain). Hipovolemia mungkin tidak cepat
ada tanda. Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika mungkin
harus sering dilihat selama 48 jam pertama setelah pembedahan dan
tiap 8 jam setelah itu.
Jika perdarahan berlebihan terjadi, penambahan tekanan balutan
luka steril mungkin diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi
pembedahan mungkin diperlukan (Ahmad,2018).
c. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling
serius. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total.
Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah
faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, multiple trauma, gagal
untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan dehidrasi, daerah
luka. Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera
ditutup dengan balutan steril yang lebar, kompres dengan normal
saline. Klien disiapkan untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah
luka (Ahmad,2018).
B. Konsep Dasar Medis

I. Fokus Pengkajian

1. Status kesehatan
a. Status kesehatan saat ini
- Alasan masuk rumah sakit
- Faktor pencetus
- Faktor memperberat nyeri ; ketakutan, kelelahan.

- Keluhan utama
- Timbulnya keluhan
- Pemahamanaan penatalaksanaan masalah kesehatan
- Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
- Diagnosa medik
b. Status kesehatan masa lalu
- Penyakit yang pernah dialami
- Pernah dirawat
- Operasi
- Riwayat alergi
- Status imunisasi
- Kebiasaan obat – obatan

2. Pengakajian riwayat nyeri

- Sifat nyeri ; ( P, Q, R, S, T )
P : provocating ( pemacu ) dan paliative yaitu faktor yang meningkatkan
atau mengurangi nyeri
Q : Quality dan Quantity
R : lokasi
S : skala
T: waktu berlangsungnya nyeri

3. Fokus pengkajian dari obstruksi usus adalah:

- Aktifitas atau istirahat.

Gejala : kelemahan, kelelahan, malaise.

- Sirkulasi.

Tanda : takikardi (proses inflamasi dan nyeri).


- Makanan dan cairan.

Gejala : anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan.

- Nyeri atau kenyamanan.

Gejala : nyeri tekan dan abdomen atau distensi.

II. Diagnosa keperawatan


- Nyeri akut b.d agen cidera fisik

- Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri

- Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kurangnya asupan makanan


- Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakkuatan pertahanan primer dari
kerusakan jaringan kulit.

III. Intervensi & implementasi

a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.


Kriteria hasil :
- Mampu mengontrol nyeri
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang
- Mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

NIC :

- Mengkaji nyeri seca komfrehensif

- Mengajarkan tehnik relaksasi

- Mengkontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri

- Mengatur posisi pasien

- Mengobservasi tanda-tanda vital

b. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri


Kriteria hasil :
- Mampu melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri
- Mampu berpindah dengan/atau bantuan alat
- Tanda- tanda vital normal
NIC :

- Mengidentifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya

- Memfasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (cth,pagar bed)

- Melibatkan keluarga dalam meningkatkan mobilisasi

- Mengajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan


c. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia

Kriteria hasil:
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
- Tidak terjadi penurunan BB

NIC :
- Mengkaji adanya alergi makanan
- Menganjurkan klien untuk meningkatkan protein & vitamin C
- Menganjurkan klien makan sedikit tapi sering
- Menganjurkan keluarga makanan yang disukai

d. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakkuatan pertahanan primer dari


kerusakan jaringan kulit.
Kritera hasil:
- risiko tinggi, infeksi dapat teratasi Intervensi:
NIC :
- Kaji keadaan luka, adanya inflamasi.

- Awasi tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu tubuh.

- Lakukan tindakan perawatan luka dengan balutan kering.

- Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

IV. Evaluasi

S : klien mengatakan atau mengeluhkan

O : hasil pengkajian perawat


A: masalah teratasi/tidak
P:intervensi selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Mutholib,Ahmad,2018.Terapi muroottal dan aroma lavender untuk menurunkan intensitas
nyeri pasien post op laparatomi di rumah sakit Roemani Muhammadyah
Semarang.jurnal diterbitkan.
Huda,Amin.2015.Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis & Nanda
NIC-NOC.Jogjakarta:Mediaction
Bulechek,G.dkk.2013.Nursing intervention classification (NIC).Mosby,inc : Missouri.
Johnson, M., Maas, M., Moorhead, S. 2013. Nursing Outcomes Classification
Second Edition. Mosby, Inc : Missouri.
Heather,T,H.2015.Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi Edisi 10.Jakarta: EGC