Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH GINEKOLOGI

PERTOLONGAN PERTAMA PADA GANGGUAN


SISTEM REPRODUKSI

KELOMPOK 6 :
 LUXY YUNIAR
 MAYA RUMANTI
 NABILLAH FATHIA
 PIPIN FEBRIANTI
 PRILI PUSPA DEWI
 PUTRI NUR CAHAYANI
 PUTRI BELINDA PERMATASARI

PRODI DIV KEBIDANAN TINGKAT 1


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
2017/2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan nikmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ginekologi , yang berjudul :
“PERTOLONGAN PERTAMA PADA GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI” tepat pada
waktunya.
Penyusunan makalah ini bersumber dari semua data yang kami peroleh baik dari
media cetak, media elektronik, serta bimbingan dari dosen mata kuliah. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terimakasih kepada Bunda selaku dosen mata kuliah ginekologi, rekan-rekan
prodi DIV Kebidanan tingkat 1 Poltekkes Kemenkes Bengkulu yang kami banggakan, serta
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan baik dari segi isi maupun penulisannya. Dalam hal ini kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak dalam menyusun
makalah ini sehingga dapat menjadi makalah yang baik dan bermanfaat bagi kita semua,
terutaman mahasiswa Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

Bengkulu, Oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................

DAFTAR ISI........................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………

1. Latar Belakang..............................................................................................

2. Rumusan Masalah.........................................................................................

3. Tujuan...........................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………….

A. Perlukaan pada alat genitalia…………………………………………..

B. Kelainan dalam letak alat-alat genitalia………………………………..

C. Permasalahan pada sistem urologi……………………………………..

BAB IVPENUTUP………………………………………………………………………

1. Kesimpulan.........................................................................................................

2. Saran...................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
Pendahuluan

1. Pendahuluan

Makhluk hidup memiliki ciri di antaranya dapat berkembang biak, begitu juga
dengan manusia. Manusia hanya mengalami reproduksi secara kawin
(seksual/generatif). Laki-laki dan perempuan memiliki sistem reproduksi yang
berbeda sesuai dengan fungsinya.
Proses reproduksi pada manusia membutuhkan sperma dan ovum. Sperma merupakan
sel kelamin manusia yang dihasilkan oleh laki-laki.Adapun Ovum merupakan sel
kelamin manusia yang dihasilkan oleh perempuan.
Organ reproduksi laki-laki terdiri atas testis, saluran pengeluaran, dan penis. Testis
berfungsi sebagai penghasil sperma. Proses pembentukan sperma disebut
spermatogenesis. Testis berjumlah sepasang dan terletak pada kantong yang disebut
skortum.
Saluran pengeluaran terdiri atas epididimis, vas deferens, dan uretra. Epididimis
merupakan saluran yang berkelak-kelok, tempat pematangan dan penyimpanan
sementara sperma.
Dari epididimis, sperma mengalir menuju penis melalui vas deferens dan uretra. Penis
merupakan alat kelamin luar pada laki-laki. Penis berfungsi untuk memasukkan
sperma pada saluran kelamin wanita. Penis juga merupakan muara dari saluran
kencing.
Organ reproduksi pada wanita terdiri atas ovarium, tuba Fallopi, uterus dan vagina.
Ovarium terletak di bawah perut, dan berfungsi sebagai tempat produksi ovum (Sel
Telur). Tuba Fallopi (saluran telur atau oviduk) berbentuk seperti pipa dan ujungnya
berbentuk corong dengan rumbai-rumbai. Rumbai ini berfungsi untuk menangkap
ovum yang dilepaskan ovarium. Uterus atau rahim merupakan tempat tumbuh dan
berkembangnya janin. Vagina merupakan tempat keluarnya bayi saat dilahirkan.
Proses reproduksi pada manusia diawali dengan pembentukan sel kelamin pada laki-
laki dan perempuan. Pembentukan sel kelamin pada laki-laki (sperma) disebut
spermatogenesis.
Spermatogenesis terjadi pada testis. Pada testis terdapat sel induk sperma
(spermatogonia) yang secara berurutan akan membelah menjadi spermatosit primer,
spermatosit sekunder, spermatid, dan terbentuklah sperma. Seorang laki-laki dapat
menghasilkan sperma sepanjang hidupnya selama dia sehat. Setiap hari, sperma yang
dihasilkan sekitar 300 juta, namun hanya satu sperma saja yang dapat membuahi
ovum.
Pembentukan sel kelamin (sel telur/ ovum) pada perempuan disebut oogenesis.
Oogenesis terjadi pada ovarium. Pada ovarium terdapat sel induk ovum (oogonium)
yang secara berurutan akan membelah menjadi oosit primer, oosit sekunder, ootid,
dan terbentuklah ovum. Ovum yang siap dibuahi akan keluar dari ovarium.
Peristiwa pelepasan ovum dari ovarium disebut ovulasi. Saat ovum tidak dibuahi,
ovum akan mati dan terjadi menstruasi. Siklus menstruasi pada perempuan umumnya
memiliki jarak 28 hari. Pembentukan ovum pada wanita terjadi pada umur antara
sekitar 13 sampai 45 tahun.
Proses kehamilan akan terjadi jika ovum dibuahi oleh sperma. Peristiwa pembuahan
ovum oleh sperma disebut fertilisasi. Fertilisasi terjadi pada tuba Fallopi. Sel telur
yang telah dibuahi disebut zigot. Zigot bergerak menuju rahim. Dalam perjalanannya
menuju rahim, zigot membelah berulang kali membentuk embrio. Selanjutnya, embrio
akan menempel pada dinding rahim. Embrio akan tumbuh dan berkembang di dalam
rahim membentuk janin. Janin akan keluar sebagai bayi setelah sekitar 9 bulan berada
di dalam rahim.
Penyakit pada sistem reproduksi biasa disebabkan oleh jamur, bakteri atau virus.
Bakteri dapat menyebabkan beberapa gangguan pada organ reproduksi terutama
organ reproduksi pada wanita. Keputihan dengan warna hijau dan bau merupakan
salah satu gangguan yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri juga dapat menyebabkan
gangguan lebih lanjut berupa kista bahkan hingga menimbulkan kanker rahim.

2. Rumusan masalah
D. Perlukaan pada alat genitalia
E. Kelainan dalam letak alat-alat genitalia
F. Permasalahan pada sistem urologi

3. Tujuan Pertolongan Pertama


· a. Menyelamatkan jiwa penderita
· b. Mencegah cacat
c. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan.
BAB II
Pembahasan

A. PERLUKAAN PADA ALAT GENITALIA


1. PERLUKAAN AKIBAT PERSALINAN
Perlukaan jalan lahir karena persalinan dapat mengenai vulva, vagina dan uterus.
Jenis perlukaan ringan berupa luka lecet, yang berat berupa suatu robekan yang
disertai pendarahan hebat.

a. Vagina
Perlukaan pada dinding depan vagina terjadi disekitar orifisium uretra dan
klitoris.
Robekan pada vagina dapat bersifat luka tersendiri atau mirip lanjutan robekan
perineum. Robekan vagina 1/3 bagian atas ummnya mirip lanjutan robekan
serviks uteri.
Pada umumnya robekan vvagina terjadi karena regangan jalan lahir yang
berlebih-lebihan dan tiba-tiba ketika janin dilahirkan. Kadang-kadang robekan
lebar terjadi akibat ekstraksi dengan forceps.
Untuk menilai keadaan bagian dalam vagina, perlu diadakan pemeriksaan dengan
spekulum. Pendarahan pada keadaan ini umumnya adalah pendarahan artevial,
sehingga harus segera dijahit.

Untuk menilai keadaan bagian dalam vagina, perlu diadakan pemeriksaan dengan
spekulum. Pendarahan pada keadaan ini umumnya adalah pendarahan artevial,
sehingga harus segera dijahit.

b. Perineum
Tempat yang paling sering mengalami perlukaan akkibat persalinan ialah
perineum. Tingkat perlukaan pada perineum dapat dibagi dalam :
1. Tingkat I : perlukaan hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulit
perineum
2. Tingkat II : melukai fasia dan otot-otot diafragma urogenital
3. Tingkat III : menyebabkan muskulus sfingter ani enternus terluka didepan
4.Tingkat IV : Melukai sampai keanus
Perlukaan pada diafragma urogenitalis dan muskulus levator ani, dapat
terjadi tanpa luka pada kulit perineim atau pada vagina, sehingga tidak kelihatan
dari luar. Perlukan demikian dapat melemahkan dasar panggul, sehingga mudah
terjadi prolapsus genitalis. Robekan perineum dapat mengakibatkan pula robekan
jaringan pararektal, sehingga rektum terlepas dari jaringan sekitarnya. Pada
tempat terjadinya perlukaan akan timbul perdarahan yang bersifat artevial atau
yangmerembes.
Pada perlukaan tingkat I, bila hanya ada luka lecet , diperlukan penjahitan. Pada
perlukaan tingkat II, hendaknya luka dijahit secara cermat. Lapisan otot dijahit
simpul dengan Catgut no.0 atau 00, dengan mencegah terjadinya ruang mati.
Adanya ruang mati antara jahitan-jahitan memudahkan tertimbunnya darah beku
dan terjadinya radang.
Pada perlukaan tingkat III memerlukan teknik penjahitan khusus. Langkah
pertama yang terpenting adalah menemukan kedua ujung muskulus sfingter ani
ekstermus yang terputus.
Pada perlukaan tingkat III yang tidak dijahit dapat terjadi inkontinensia alvi.
Perlukaan pada perineum sebenarnya dapat dicegah atau dijadikan sekecil
mungkin perlukaan ini umumnya terjadi pada saat lahirnya kepala. Oleh karena
itu keterampilan melahirkan kepala janin sangat menentukan sampai seberapa
jauh terjadi perlukaan pada perineum.
Untuk mencegah terjadinya perlukaan perineum yang tidak terarah dan tidak
teratur dianjurkan melakukan episiotomi.

c. Serviks Uteri
Robekan serviks bisa menimbulkan pendarahan banyak, khususnya bila jauh
ke lateral sebab di tempat itu terdapat ramus desendens dari arteria uterina.
Perlukaan pada serviks uteri sering diakibatkan oleh tindakan-tindakan pada
persalinan buatan dengan pembukaan yang belum lengkap. Selain itu, penyebab
lain robekan serviks ialah partus presipitatus. Pada partus ini kontraksi rahim
kuat dan sering sehingga janin di dorong keluar, kadang-kadang sebelum
pembukaan lengkap.

Pada robekan servik yang berbentuk melingkar, diperiksa dahulu apakah


sebagian besar dari servik sudah lepas atau tidak. Jika belum lepas, bagian yang
belum lepas itu, dipotong dari servik, jika yang lepas hanya sebagian kecil saja
itu dijahit lagi pada serviks. Perlukaan dirawat untuk menghentikan perdarahan.

d. Korpus Uteri
Perlukaan yang paling beraat pada waktu persalinan adalah robekan uterus.
Lokasi robekan dapat korpus uteri atau segmen bawah uterus. Robekan bisa
terjasi pada tempat yang lemah pada dinding uterus, misalnya pada parut bekas
seksio sesareaatau bekas miomektomi.
Secara anatomik, robekan uterus dapat di bagi dalam 2 jenis yaitu :
1. robekan inkomplet; mengenai endometrium dan miometrium tetapi
perimetrium masih utuh
2. Robekan komplet ; mengenai endometrium, miometrium, perimetrium
sehingga terjadi hubungan langsung antara karum uteri dan rongga perut.
Robekan uterus komplet menyebabkan gejala-gejala yang khas ketika persalian
berlangsung yaitu nyeri perut mendadak, anemia, syok, dan hilangnya kontraksi.
Gejala robekan uterus inkomplet umumnya lebih ringan.
Pada waktu selesai persalinan, bila penderita pucat dan kelihatan dalam syok,
sedang perdarahan keluar tidak banyak, apabila diraba tumor di parametrium,
maka pada keadaan ini patut dicurigai adanya robekan uterus inkomplet. Untuk
lebih memastikan hal ini, dianjurkan melakukan ekplorasi dengan memisahkan
tangan didalam rongga uterus.

Penanganan pada robekan uterus ialah pemberian transfusi darah segera,


kemudian laparotomi, jenis opersi yang dilakukan ialah penjahitan luka pada
dinding uterus atau pengangkatan uterus.

2. PERLUKAAN AKIBAT KOITUS


Perlukaan yang terjadi pada koitus pertama ialah robeknya selaput himen.
Robekan selaput himen biasanya terjadi pada dinding belakang dan menimbulkan
perdarahan sedikit. Pada keadaan–keadaan tertentu perlukaan akibat koitus daat
pula lebih berat, koitus yang dilakukan secara kasar dan keras.
Perdarahan-perdarahan terjadi segera setelah koitus dan dengan pemeriksaan
inspekulo. Pada pemeriksaan segera tampak tempat, bentuk dan besarnya luka.
Penjahitan luka harus dilakukan dengan teliti.
3. PERLUKAAN AKIBAT PEMBEDAHAN GINEKOLOGIK
Bila perlukaan kandung kencing diketahui, maka segera dilakuakan penjahitan luka
kembali. Penjahitan itu dilakukan dalam dua lapaisan dengan memperhatikan
ostium dan ureter tidak ikut terjahit.

4.PERLUKAAN AKIBAT BENDA ASING


Seringkali penderita dengan psikopatria seksualitas memasukkan benda-
benda kedalam vagina atau uretra. Benda asing ini bisa tetap tinggal divagina karena
kelupaan atau memang karena penderita sendiri tidak ingin mengeluarkannya.
Perlukaan pada vagina atau uterus bisa terjadi apabila digunakan benda untuk
melakukan abortus propokatus, karena benda tersebut tidak suci lama, bahaya
terbesar selama pendarahan ialah infeksi septik dengan segala akibatnya.

B. KELAINAN LETAK ALAT-ALAT GENITALIA


Kelainan letak alat-alat genitalia sudah dikenal sejak 2000 tahun SM. Dalam ilmu
kedokteran Hindu Kuno, menurut Chakberty, dijumpai keterangan–keterangan mengenai
kelainan letak alat genital:dipakai istilah mahati untuk vagina yang lebar dengan sistokel,
rektokel, dan laserasi perinum.

a. Kelainan Letak Uterus


Posisi seluruh uterus dalam rongga panggul dapat mengalami perubahan. Uterus
seluruhnya dapat terdorong kekanan (dekstroposisi), kekiri (sinistroposisio),
kedepan(anteroposisio), kebelakang (retroposisio), keatas (elevasio), dan ke bawah
(desensus). Umumnya kelainan posisi disebabkan oleh tumor, yang mendorong
uterus kesebelah yang berlawanan, atau perlekatan yang kuat yang menarik uterus
kesebelah yang berlawanan, atau perlekatan yang kuat yang menarik uterus
kesebelah yang sama.

1. Retrofleksio uteri fiksata


Umumnya disebabkan oleh radang pelvik yang menahun atau endometriosis
yang mengakibatkan perlekatan korpus uteri disebelah belakang dengan adneks,
sigmoid serta rektum, dan/atau omentum.
Terapi tergantung dari penyebabnya. Pada radang menahun terapi gelombang
pendek (short wave theraphy) dalam beberapa seri kadang-kadang dapat
memberi perbaikan, akan tetapi jika dengan therapi tersebut keluhannya tidak
menghilang sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari perlu dilakukan terapi
pembedahan.

2. Prolapsus genitalia
Pada dasarnya prolapsus genitalia digolongkan dalam dua golongan yaitu
inversio vagina atas dan enversio vagina bawah. Inversio dan enversio ini dapat
terjadi bersama-sama atau berbeda waktu, akan tetapi faktor penyebabnya cukup
berbeda.
Eversio vagina terjadi karena hilangnya penyokong atau lemahnya otot-
otot vagina bawah, terutama karena kerusakan diafragma pelvis dan urogenital,
biasanya kerusakan ini akibat traumapersalinan, atau karena atrofi jaringan-
jaringan penyokong pelvis pasca menopouse, dimana hormon estrogen
sudahberkurang. Secara klinik kita dapat mengetahui apakah inversio dulu yang
timbul atau eversio.
Pengobatan Medis
Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan, atau penderita masih
ingin mendapat anak lagi, atau penderita menolak untuk dioperasi, atau
kondisinya tidak mengizinkan untuk dioperasi.
1. Latihan-latihan dasar otot panggul
2. Stimulasi otot-otot dengan alat listrik
3. Pengobatan dengan pesserium
Pengobatan Operatif
* Sistokel
* Rektokel
* Enterokel
* Prolapsus uteri

3. Inversio Uteri
Inversio uteri adalah suatu keadaan dimana bagian atas uterus (fundus
uteri)memasuki kavum uteri sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol
kedalam kavum uteri, bahkan kedalam vagina atau keluar vagina dengan diding
endometriumnya sebelah luar.

4. Etiologi
Inversio Uteri biasanya dijumpai pada sesudah kala 3 persalinan. Tekanan pada
fundus uteri yang dilakukan ketika uterus tidak berkontraksi baik, tarikan pada tali
pusat, kontraksi uterus yang tidak normal, dapat merupakan permulaan masuknya
fundus uteri kedalam cavum uteri, dan kontraksi uterus berturut-turut mendorong
fundus yang terbalikkebawah. Korpus uteri kadang-kadang uterus seluruhnya
keluar dari vagina. Jika penderita dapat mengatasi peristiwa ini dengan uterus
tidak direposisi, penyakitnya menjadi menahun.

5. Gejala
Inversio uteri akut yang terjadi pada akhir persalinan menimbulkan gejala-gejala
yang mengkhawatirkan, seperti syok, nyeri keras, perdarahan. Rasa nyeri
disebabkan oleh tarikan pada peritoneum dari ligamentum infundibulum pelvikum
dan ligamentum rotundum kanan dan kiri, yang mengikuti fundus uteri kedalam
terowongan inversio.

6. Penanganan
Sebagai tindakan pencegahan, dalam memimpin persalinan harus selalu waspada
akan kemungkinan timbulnya inversio uteri. Jangan memijat-mijat uterus yang
tidak berkontraksi dan lembek, jangan mengadakan tarikan tali pusat, sebelum
yakin bahwa plasenta sudah lepas. Pada inversio uteri yang sudah terjadi, sambil
mengatasi syok dilakukan reposisi manual dalam narkosis. Tangan kanan
seluruhnya dimasukkan kedalam vagina, melingkari tumor dalam vagina, dan
telapak tangan mendorong perlahan-lahan tumor keatas melalui serviks yang
masih terbuka. Setelah reposisi berhasil, tangan dipertahankan sampai dirasakan
uterus telah berkontraksi,dan kalau perlu di masukkan tampon ke dalam kavum
uteri dan vagina.tampon dibuka setelah 24 jam,sebelumnya diberikan uterotonika
lebih dulu sebelum tampon diangkat.
Umumnya reposisi,segera setelah inversio uteri terjadi,tidak sulit.
Pada inversio uteri menahun prosedur diatas tidak dapat dilakukan karena
lingkaran kontraksi pada ostium uteri eksternum sudah mengecil dan menghalangi
lewatnya korpus uteri yang terbaik. dalam hal ini perlu dilakukan operasi setelah
infeksi diatasi.

C. PERMASALAHAN PADA SISTEM UROLOGI


Urologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari sistem urin pada wanita dan
traktus genitourinoria pada laki-laki.
Beberapa Aspek Urologi Pada Wanita
Antara traktus genitalis dan traktus urinarius pada wanita ada hubungan yang erat,
berhubungan dengan pertumbuhan alat-alat tersebut dalam masa embrional dan fetal, dan
berhubung dengan lokasi alat-alat genital dan beberapa bagian traktus urinarius berdekatan
di pelvis maka gangguan dan penyakit pada sistem yang satu dapat mempengaruhi
keadaan sistem yang lain.

1. Kelainan Anatomik Pada Saluran Urin Bagian Bawah


Kelainan anatomik yang ditemukan sebagian ada kaitannya dengan embriologi,seperti
hipospadi,dan yang paling berat ekstropi vesika, ini semua disebabkan oleh gangguan
pertumbuhan pada sinus urogenitalis.
Pada urethrokel terdapat suatu benjolan sebagian urethra kearah lumen vagina yang
berisi air kemih,yang mudah mengalami infeksi dan dapat menimbulkan sistitis.
Pengobatan urethrokel ini terdiri atas membuat sayatan pada dinding vagina untuk
membebaskan penonjolan dari vagina;bila kecil cukup dengan jahitan-jahitan catgut
kromik pada jaringan paraurethral sambil memasukkan benjolan kedalam,bila besar
mungkin sebaian benjolan perlu diangkat dan dinding urethra yang terbuka dijahit
dengan muskularis dan fasianya.
Divertikal di urethra; disamping urethrokel dapat ditemukan di vertikel pada urethra
yang mudah pula kena infeksi.pengobatannyaaa pada umumnya terdiri atas
mengangkat di vertikel tersebut.

2. Benda Asing Dalam Vesika Urinaria


Jahitan luka pada dinding vesika dengan sutera dan nilon dan lain-lain yang tidak
diresorbs, dapat tetap ada di vesika urinaria dan terjadi instruktasi dengan garam-
garam urin sehingga membatu.
Fotorongen dapat menolong, bila batunya masih ada.pengobatan terdiri atas
sistoskopis pengancuran batu yang kecil-keci.Bila batunya terlalu besar maka dapat
dikerjakan sistoskolpotomi dan sekalian memperbaiki sistokel jika ada,atau seksio alta
bila batunya amat besar.

3. Radang Pada Saluran Kencing


Urethra wanita selalu mengandung kuman(eskheresia koli,Streptokokkus, Basillus
Doderlein). Kuman-kuman yang ada di introitus vaginae sesuai dengan yang ada di
sekitarnya.
Pada saluran kencing radang di cegah oleh karena adanya sfingter kandung kencing,
asamnya air kencing yang mencegah tumbuhnya mikroorganismus dan pengeluaran
urin yang cukup deras.
Contoh-contoh radang saluran kencing
· Urethritis
· Sistitis
v Jenis-jenis sistisis
a. Sistitis kolli atau trigoli
b. Sistitis pascaoperasi
c. Sistitis tuberkulosa

4. Tumor Bagian Saluran Bawah Urin


a. Tumor urethra
b. Tumor vesika urinaria
Tumor jinak vesika urinaria yang terbanyak adalah papiloma yang menyerupai jonjot-
ionjot yang bertangkai dengan lokasinya biasanya didasar vesika , dan sering
menimbulkan perdarahan.Umumnya diagnosis ditentukan dengan melakukan
sistescopi.
Cara pengobatan : papiloma diangkat secara sistoscopik dengan elektrokuagulasi

5. Inkontinensia Urine
Ketidak mampuan menahan air kencing atau inkontinensia urine mempunyai berbagai
sebab yang dapat dikembalikan pada spingter vesika urinariayang tidak berfungsih
baik, atau pada fistula urin.
Inkontinensia urine dapatdibagi dalam beberapa tingkat untuk memudahkan membuat
diagnosis da terapinya.
Tingkat I :adanya air kemih keluar meskipun sedikit pada waktu batuk atau
bersin, atau ketawa, atau kerja berat
Tingkat II : telah keluar air kemih bila kerja ringan, naik tangga, atau jalan-jalan
Tingkat III : terus keluar air kemih tidak tergantung dari berat ringannya bekerja,
malahan pada berbaring juga keluar air kemih.
Inkontinensia urine tingkat 1 dan 2 dinamika pula stress-incontinence. Untuk
membuat diagnosis yang tepat, agar pengobatannya juga tepat maka perlu difikirkan
hal-hal yang telah diuraian diatas. Dengan anamnesis terarah pemerikaan-
pemeriksaan yang rumit dan memakan waktu dan biaya dapat dhindrkan.

 Pengobatan
pengobatan diarahkan pada apa yang dijumpainya. Bila hanya ditemukan
urethrokel maka kolporrhafia anterior dengan memperkuat otot-otot dileher
vesika dan urethra mungkin sudah cukup.
Bila disamping itu ada desensus uteri dan biasanya ini juga terjadi, maka
operasi mnchester-forthergill, pada mana ligamentum kardinale kenan
kiridijahitkan kedepan serviks, dapat mengatasi kesulitan. Dengan pengangkatan
sebagian dari porsio dan jahitan tersebut diatas maka timbul suatu jaringan yang
menjadi penunjang vesika dan urethra bagian atas.
Bila sama sekali tidak ada densus uteri maka dapat dipikirkan operasi
marshall-marchetti-kranzt yang terdiri atas menggantungkan urethra ke periost
simfisis pubis dan bagian bawah vesika kemuskulus rektus abdominis. Tujuannya
adalah untuk memperbaiki sudut antara urethra dan vesika. Hasil operasi
tersebut bila diagnosisnya benar-benar betul, adalah baik.
Bila dasar inkontinensia neurogen atau mental maka pengobatan
hendaknya disesuaikan dengan apa yang ditemukan.misalnya pada sfina bifida
okkulta dapat pula ditemukan inkontinensia. Enuresis nokturna perlu ditangani
secara psikologik, bila tidak ada sfina bifida.

6. Fistula Urine
Tiap penderita fistula urine seharusnya dianggap sebagai manusia yang amat
menderita dan harus dikasihani. Bila kebersihan kurang atau tidak ada maka mudah
timbul vulvitis dan vaginitis . pada vulva dan sekitar anus timbul eksoriasi, ulserasi,
dan kondiloma. Pada fistula lama kulit disekitarnya menjadi tebal dan kaku. Air
kencing yang terus-menerus mengalir menimbulkan bau pesing dan genitalia eksterna
selalu basah. Penderita ini tidak dapat berfungsi lagi sebagai wanita dan mengalami
tekanan lahir batin. Haidnya tidak jarang berbulan-bulan tidak datang, atau penderita
terus mengalami amenore sekunder. Keadaan demikian ini harus segera ditangani.
Sekurang-kurangnya suami isteri perlu diberi penerangan dan pengertian bahwa
penyakitnya dapat ditangani. Bila tidak maka perceraian niscaya terjadi.

7. Etiologi
Sebagian besar fistula urinae, terutama dinegara-negara berkembang, disebabkan oleh
karena persalinan, apat terjadi langsung pada waktu diadakan tindakan operatif seperti
sc, perforasi dan kranioklasi, dekapitasi, ekstraksi dengan cunam , seksio-histerektomi,
atau dapat timbul beberapa hari sesudah partus lama. Hal yang akhir ini disebabkan
oleh karena tekanan kepala janin terlalu lama pada jaringan jalan lahir di os pubis dan
simfisis, sehingga menimbulkan iskhemia dan kematian jaringan didalam lahir.
Pengawasan kehamilan yang baik diertai pimpinan penanganan da persalinan yang
baik pula dan akan mengurangi jumlah fistel akibat persalinan. Operasi ginekologi
sperti hiterektomia abdominal dan vagina, operasi plastik pervaginam operasi radikal
untuk karsinoma servisis uteri, semuanya dapat menimbulkan fistula taraumatik.
Begitu pula pada kecelakaan lalu lintas, dan sbagainya.
Akhirnya radiasi pada pengobatan keganasan dapat menimbulkan fistula karena
nekrosis jaringan. Fistula karena trauma operasi atau trauma lainnya menyebabkan
inkontinensia urine dengan segera, sedangkan fistula karena nekrosis (partus lama).
Baru bermanefestasi setelah lewat beberapa hari.

8. Diagnosis
Anamnesis dan pemeriksaan ginekologik dengan spekulum dapat menetapkan jenis dan
tempat fistula yang berukuran besar. Bila fistula itu kecil, kadang-kadang sulit
menemukannya oleh karena berada dicekungan atau pada lipatan divagina, lebih-lebih
bila visualisasi sulit atau tidak mungkin dikerjakan. Suatu cara yang sederhana mampu
membuat diagnosa ialah dengan memasukkan methilen biru keluar dari fistula kedalam
vagina.bila telah dijumpai satu fistula, perlu diusahakan apakah itu ada fistula lain.
Khususnya pada histerektomi radikal dimana ureter dilepaskan dari jaringan
disekitarnya, perlu difikirkan adanya fistula ureterovaginal.
9. Pengobatan
Untuk memperbaiki fistula vesikovaginalis umumnya dilakukan operasi melalui
vagina (transvaginal), karena lebih mudah dan mempunyai komplikasi kecil untuk
penderita, seperti dikemukakan oleh Moir.
Hanya fistula yang kecil sekali dapat sembuh sendiri. Perlu dilakukan tindakan bila
terjadi fistula pasca tindakan dengan cunam, sc, histerektomi dan sebagainya. Dalam
hal ini fistula segera ditutup dan dipasang dauer kateter. Tujuan pemasangan kateter
tersebut ialah untuk menginstirahatkan vesika sehingga luka dapat sembuh kembali.
Jika timbul inkontinensia urinae sesudah partus lama, perlu dipasang dauer kateter.
Dengan tindakan ini fistula kecil dapat sembuh dan fistula yang lebih besar, dapat
mengecil.
Bila ditemukan fistula yang terjadi pasca persalinan atau beberapa hari pasca
pembedahan, maka penanganannya harus ditunda 3 bulan. Bila jaringan-jaringan sekitar
fistula sudah tenang dan normal kembali operasi dapat dilakukan dengan harapan dan
sukses. Andai kata operasi penutupan fistula gagal, penutupan ulang harus ditunda 3
bula lagi. Pada umumnya residif fistula lebih sulit ditanganinya. Bila tidak waspada
dapat timbul residif lagi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Reproduksi manusia secara vivipar (melahirkan anak) dan fertilisasinya
secara internal (di dalam tubuh), oleh karena itu memiliki alat-alat reproduksi
yang mendukung fungsi tersebut. Alat-alat reproduksi tersebut dibagi menjadi
alat reproduksi bagian dalam dan alat reproduksi bagian luar yang masing-
masing alat reproduksi tersebut telah disebutkan dan dijelaskan dalam makalah
ini.
Untuk itu memiliki kelainan atau gangguan pada salah satu system
Reproduksi dapat berakibat buruk pada kelangsungan hidup dan keturunan kita.
Selain itu dalam makalah ini juga membahas sedikit tentang proses
terjadinya dan penyebab kelainan dan gangguan system Reproduksi.

B. Saran
1. Diharapkan kepada mahasiswa/i agar dapat memahami dan mempelajari
lebih dalam tentang sistem reproduksi pada manusia karena sistem
reproduksi ini sangat penting bagi kelangsungan hidup agar tetap lestari.
2. Diharapkan kepada pengajar materi ini agar bisa membimbing mahasiswa/i
dengan baik agar mahasiswa/i dapat memahami dengan mudah tentang
konsep materi ini. Dan yang paling penting adalah setelah mempelajari
materi ini mahasiswa/i tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
DAFTAR PUSTAKA
· Sarwono Prawirohardjo.2009. Ilmu Kandungan. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo:Jakarta

Anda mungkin juga menyukai