Anda di halaman 1dari 2

Pro Kontra Student Loan di Indonesia ?

Pendidkan adalah aset yang penting bagi masa depan kehidupan. Agar manusia dapat
berkembang dalam kehidupan diperlukan jalan untuk menjawab tantangan kehidupan. Disisi lain
pendidikan adalah jembatan untuk membangun ide baru yang berkembang di lingkungan sosial.

Berangkat dari gagasan student loan yang disampaikan oleh presiden Jokowi dalam sebuah
forum yang menghadirkan pejabat pejabat tinggi perbankan Indonesia di Istana Negara, Kamis (
15 Maret 2018 ) tahun lalu. Dari gagasan tersebut Presiden Jokowi ingin mengubah pola kredit
masyarakat dari yang konsumtif ke barang menjadi untuk jasa pendidikan dan melalui program
student loan ini pelajar dapat mencicil biaya perkuliahannya, bayangannya mirip dengan sistem
pendidikan yang diterapkan di Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

Student loan atau program kredit mahasiswa yang menawarkan pinjaman untuk membayar
kebutuhan pendidikannya, seperti biaya kuliah, tempat tinggal atau buku pelajaran dan sistem
pengembalian pinjaman dilakukan setelah peminjam lulus kuliah. Student Loan di berbagai
negara hadir sebagai salah satu pilihan untuk membiayai pendidikan bagi mereka yang tidak
memiliki dana untuk memulai pendidikan tinggi atau tidak terpilih untuk mendapatkan beasiswa.
Sudah banyak negara yang menerapkan student loan sebagai metode pembiayaan dana
pendidikan seperti contohnya di Amerika Serikat yang dijadikan contoh dalam pengajuan
wacana terkait kredit mahasiswa kepada perbankan Indonesia.

Di zaman orde baru Indonesia sebenarnya pernah menerapkan kebijakan student loan tetapi
setelah diterapkan ternyata dianggap gagal oleh sebagian besar orang, termasuk Menteri Riset
Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M.Nasir di lansir Vice, Nasir yang saat itu jadi salah satu
penerima kredit pendidikan dari bank BUMN, mengaku kalau banyak orng dizamannya justru
tidak bisa mengembalikan hutang pendidikannya.

Dengan hadirnya student loan di Indonesia dilatarbelakangi alasan ekonomi dan pendidikan.
Adanya student loan ( pinjaman pendidikan ) diharapkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi
karena peningkatan aktivitas dalam ranah kredit pendidikan. Fakta yang ditemukan di lapangan,
masalah yang sering di temui anak muda yang ingin melanjutkan pendidikannya ke bangku
kuliah adalah masalah keterbatasan biaya kuliah. Adanya student Loan ( pinjaman pendidikan )
dapat membuka akses terhadap pendidikan tinggi untuk masyarakat khususnya kaum muda yang
ingin melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan dan diharapkan dapat menjadi sumber daya
dengan standar yang diharapkan oleh pemerintah.

Sisi lain dari student loan ini tidak efektif bila diterapkan di Indonesia. Ibaratnya seperti dua sisi
mata, tergantung dari sang pengaju student loan ( pinjaman pendidikan ) bila ia dari keluarga
kelas menengah mungkin bisa lunas tepat waktu tetapi bila sang pengaju berasal dari keluarga
kelas bawah, mungkin seperti berat melunasinya tepat waktu. Sebuah penelitian dari Citizens
Financial Group menyebutkan bahwa 60 persen peminjam kredit pendidikan diperkirakan akan
melunasinya pada usia 40-an dan menurut laporan Statistik Pendapatan Hasil Sakernas 2016
yang dirilis oleh BPS, rata-rata penghasilan yang diterima oleh lulusan S1 berkisar Rp 3,6 juta.
Pada tahun yang sama, tingkat inflasi sebesar 3.02% membuat biaya hidup ikut meningkat tak
terkecuali dengan biaya perkuliahan. Hal tersebut akan berdampak signifikan terutama untuk
lulusan baru dalam mengangsur pinjaman pendidikannya. Selain itu persoalan bunga pinjaman
student loan juga dinilai kontroversional. Dari pihak BRI menyediakan pinjaman dengan bunga
yang kompetitif .( dilansir dari http:jogja.tribunnews.com).

Penyediaan lahan kerja semakin sempit dan angka pengangguran terus melejit. Berdasarkan data
BPS 2017 ada sebanyak 7,04 juta angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali.

Bahkan bila ditambah dengan pengangguran terselubung yaitu 9,6 juta setengah pengangguran
dan 26,12 juta tenaga kerja yang bekerja paruh waktu. Maka, total bisa mencapai 42 jutaan yang
terus bertambah dari tahun ketahun.

Generasi bangsa diarahkan untuk melanjutkan pendidikan kemudian diharuskan membayar


sejumlah utang. Namun lapangan pekerjaan semakin sulit didapat dan persaingan kerja semakin
ketat, dan persaingan tersebut bukan hanya dengan mereka para pekerja lokal.

Dalam Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang penggunaan TKA memastikan jalur masuk tenaga
kerja asing dipermudah.(05 April 2018 http://politik.rmol.co). Jelas hal tersebut sangat
meresahkan. Student loan juga akan mengukir jalan cerita masa depan yakni, sarjana Indonesia
terlilit hutang dan dunia kerja semakin kompetitif dan sempit, tentunya dengan adanya Tenaga
Kerja Asing yang tidak terkendali.

Sekiranya pemerintah saat ini dapat duduk sejenak untuk merenungi nasib pendidikan di masa
mendatang. Bila hasil renungan itu adalah ingin membangun sistem pendidikan yang cemerlang
lagi dicintai oleh masyarakat tanpa keresahan, maka sejak dini semuanya harus bergegas
merubah sistem pendidikan yang memberatkan masyarakatnya.