Anda di halaman 1dari 23

TUGAS KELOMPOK KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

DALAM KONTEKS ANESTESI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


DIC (Disseminated Intravascular Coagulation)

Disusun oleh :

SERA ADHE ANANTIGAS TIMOR P07120216074


RAHMAWAN AJI SETO P07120216079

SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN YOGYAKATA
TAHUN 2019
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN PENYAKIT DIC (Disseminated Intravaskular Coagulation)
A. Pengertian
Disseminated Intravascular Coagulation adalah gangguan dimana
terjadi koagulasi atau fibrinolisis (destruksi bekuan). DIC dapat terjadi pada
sembarang malignansi, tetapi yang paling umum berkaitan dengan
malignansi hematologi seperti leukemia dan kanker prostat, traktus GI dn
paru-paru. Proses penyakit tertentu yang umumnya tampak pada pasien
kanker dapat juga mencetuskan DIC termasuk sepsis, gagal hepar dan
anfilaksis. ( Brunner & Suddarth, 2002).
Koagulasi intravaskular diseminata atau lebih populer dengan istilah
aslinya, Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) merupakan
diagnosis kompleks yang melibatkan komponen pembekuan darah akibat
penyakit lain yang mendahuluinya. Keadaan ini menyebabkan perdarahan
secara menyeluruh dengan koagulopati konsumtif yang parah. Banyak
penyakit dengan beraneka penyebab dapat menyebabkan DIC, namun bisa
dipastikan penyakit yang berakhir dengan DIC akan memiliki prognosis
malam. Meski DIC merupakan keadaan yang harus dihindari, pengenalan
tanda dan gejala berikut penatalaksanaannya menjadi hal mutlak yang tak
hanya harus dikuasai oleh hematolog, namun hampir semua dokter dari
berbagai disiplin (Sean Stitham,. 2008)
Keadaan ini diawali dengan pembekuan darah yang berlebihan, yang
biasanya dirangsang oleh suatu zat racun di dalam darah. Pada saat yang
bersamaan, terjadi pemakaian trombosit dan protein dari faktor-faktor
pembekuan sehingga jumlah faktor pembekuan berkurang, maka terjadi
perdarahan yang berlebihan.

B. Klasifikasi
DIC dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. DIC akut (overt DIC), adalah kondisi dimana pembuluh darah dan darah
serta komponennya tidak dapat mengkompensasi atau mengembalikan
homeostasis dalam merespon injury. Ditandai dengan abnormalitas dari
parameter koagulasi. Akibatnya terjadi trombosis dan/atau perdarahan
yang berujung kegagalan organ multipel.
2. DIC kronik (non-overt DIC), adalah kondisi klinik dari kerusakan
pembuluh darah yang memperberat sistem koagulasi. Namun respon
tubuh masih dapat menjaga agar tidak terjadi pengaktifan lebih lanjut
dari sistem hemostasis dan inflamasi.

C. Etiologi
Sesuai dengan definisi yang berlaku, DIC bukan sebuah penyakit
melainkan sindrom atau suatu manifestasi sekunder dari penyakit lain yang
mendahuluinya. Penyakit yang sering memicu seperti sepsis bakterial,
malignansi, trauma masif atau komplikasi obstetrik. Berbagai keadaan
patologis lainnya yang memiliki risiko untuk menimbulkan sindroma DIC
baik yang akut maupun kronik.
Penyebab DIC Akut:
1. Infeksi
a) Bakterial (gram-negatif pada Sepsis, infeksi gram positif, ricketsia)
b) Virus (HIV, cytomegalovirus, varicella-zooster virus, hepatitis
virus)
c) Fungi (histoplasma)
d) Parasit (malaria)
2. Maligna
a) Hematologi (acute myelocytic leukimia)
b) Metastasis (musin-sekresi adenokarsinoma)
3. Komplikasi obsterik
a) Terlepasnya jaringan plasenta
b) Emboli cairan amnion
c) Eklampsi
4. Trauma
a) Luka bakar
b) Kecelakaan kendaraan bermotor
c) Keracunan ular berbisa
5. Transfusi
a) Reaksi hemolitik

Penyebab DIC kronik:


1. Malignansi
a) Tumor solid
b) Leukimia
2. Obstetrik
a) Retained dead fetus syndrome
b) Retained products of conception
3. Hematologi
a) Myeloproliferative syndrome
4. Vaskular
a) Rheumatoid arthritis
b) Raymaud disease
5. Cardiovascular
a) Infark miokard
6. Inflamasi
a) Kolitis ulseratif
b) Crohn disease
c) Sarcoidosis
7. DIC lokal
a) Aneurisma aorta
b) Hemangioma yang besar (Kasabach-Merritt syndrome)
c) Penolakan transplantasi ginjal

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari sindrom ini beragam dan bergantung pada
system organ yang terlibat dalam thrombus/infark atau episode perdarahan.
DIC kronis bisa menimbulkan sedikit gejala, seperti mudah memar,
perdarahan lama dari tempat tusukan pungsi vena, perdarahan gusi, dan
perdarahan gastrointestinal lambat, atau tidak ada gejala yang tidak dapat
diamati.

E. Pemeriksaan penunjang
DIC adalah suatu kondisi yang sangat kompleks dan sangat sulit
untuk didiagnosa. Tidak ada single test yang digunakan untuk mendiagnosa
DIC. Dalam beberapa kasus, beberapa tes yang berbeda digunakan untuk
diagnose yang akurat. Tes yang dapat digunakan untul mendiagnosa DIC
termasuk:
1. D-dimer
Tes darah ini membantu menentukan proses pembekuan darah dengan
mengukur fibrin yang dilepaskan. D-dimer pada orang yang mempunyai
kelainan biasanya lebih tinggi dibanding dengan keadaan normal.
2. Prothrimbin Time (PTT)
Tes darah ini digunakan untuk mengukur berapa lama waktu yang
diperlukan dalam proses pembekuan darah. Sedikitnya ada belasan protein
darah, atau factor pembekuan yang diperlukan untuk membekukan darah
dan menghentikan pendarahan. Prothrombin atau factor II adalah salah satu
dari factor pembekuan yang dihasilkan oleh hati. PTT yang memanjang
dapat digunakan sebagai tanda dari DIC.
3. Fibrinogen
Tes darah ini digunakan untuk mengukur berapa banyak fibrinogen dalam
darah. Fibrinogen adalah protein yang mempunyai peran dalam proses
pemnekuan darah. Tingkant fibrinogen yang rendah dapat menjadi tanda
DIC. Hal ini terjadi ketika tubuh menggunakan fibrinogen lebih cepat dari
yang diproduksi.
4. Complete Blood Count (CBC)
CBC merupakan pengambilan sampel darah dan menghitung jumlah sel
darah merah dan sel darah putih. Hasil pemeriksaan CBC tidak dapat
digunakan untuk mendiagnosa DIC, namun dapat memberikan informasi
seorang tenaga medis untuk menegakkan diagnose.
5. Hapusan Darah
Pada tes ini, tetes darah adalah di oleskan pada slide dan diwarnai dengan
pewarna khusus. Slide ini kemudian diperiksa dibawah mikroskop jumlah,
ukuran dan bentuk sel darah merah, sel darah putih,dan platelet dapat di
identifikasi. Sel darah sering terlihat rusak dan tidak normal pada pasien
dengan DIC. (Bare dan Smelttzer, 2002).

Skor Tes Pembekuan


Scoring system untuk DIC diajukan oleh ISTH
(International Society on thrombosis and Hemostasis)
Skor atau Skala 0 1 2 3
Jumlah Platelet >100 <100 <50

PT (detik) <3 >3 but <6 ≥6


(x10 9/L)
Fibrinogen(g/L) >1 <1
Fibrin-related Tidak Meningkat Peningkatan
markers*
(meningkat) meningkat sedang yang tajam
TOTAL Jika ≥5, overt DIC- tes diulang setiap hari. Jika <5, non-
overt DIC – tes diulang 1-2 hari setelah tes pertama
dilakukan.
*jalan pintas dari penilaian fibrin yang berhubungan dengan penanda yang

(diadaptasi dari Franchini, et al., 2006, 6)


ditegakkan untuk tes spesifik.

F. Penatalaksanaan Medis
Penatalakasanaan KID yang utama adalah mengobati penyakit yang
mendasari terjadinya KID. Jika hal ini tidak dilakukan pengobatan terhadap
KID tidak akan berhasil. Kemudian pengobatan lainnya yang bersifat
suportive dapat diberikan.
1. Antikoagulan
Secara teoritis pemberian antikoagulan heparin akan menghentikan
proses pembekuan, baik yang disebabkan oleh infeksi maupun oleh
penyebab lain. Meski pemberian heparin juga banyak diperdebatkan
akan menimbulkan perdarahan, namun dalam penelitian klinik pada
pasien KID, heparin tidak menunjukkan komplikas perdarahan yang
signifikan.
Dosis heparin yang diberikan adalah 300-500 u/jam dalam infus
kontinu.
Indikasi:
Penyakit dasar tak dapat diatasi dalam waktu singkat 2. Terjadi
perdarahan meski penyakit dasar sudah diatasi 3. Terdapat tanda-tanda
trombosis dalam mikrosirkulasi, gagal ginjal, gagal hati, sindroma gagal
nafas.

Dosis:
100iu/kgBB bolus dilanjutkan 15-25 iu/kgBB/jam (750-1250
iu/jam) kontinu, dosis selanjutnya disesuaikan untuk mencapai aPTT
1,5-2 kali kontrol.
2. Plasma dan trombosit
Pemberian baik plasma maupun trombosit harus bersifat
selektif. Trombosit diberikan hanya kepada pasien KID dengan
perdarahan atau pada prosedur invasive dengan kecenderungan
perdarahan. Pemberian plasma juga patut dipertimbangkan, karena di
dalam palasma hanya berisi faktor-faktor pembekuan tertentu saja,
sementara pada pasien KID terjadi gangguan seluruh faktor
pembekuan.
3. Penghambat pembekuan (AT III)
Pemberian AT III dapat bermanfaat bagi pasien KID, meski
biaya pengobatan ini cukup mahal. Direkomendasikan sebagai terapi
substitusi bila AT III<70%.
Dosis:
a) Dosis awal 3000 iu (50 iu/kgBB) diikuti 1500 iu setiap 8 jam dengan
infus kontinu selama 3 – 5 hari.
b) Rumus: 1. 1 iu x BB (kg) x ∆ AT III, dengan target AT III > 120%
2. ∆ AT III x 0,6 x BB (kg), dengan target AT III > 125%.
4. Obat-obat antifibrinolitik
Antifibrinolitik sangat efektif pada pasien dengan perdarahan,
tetapi pada pasien KID pemberian antifibrinolitik tidak dianjurkan.
Karena obat ini akan menghambat proses fibrinolisis sehingga fibrin
yang terbentuk akan semakin bertambah, akibatnya KID yang terjadi
akan semakin berat. Tidak ada penatalaksanaan khusus untuk DIC
selain mengobati penyakit yang mendasarinya, misalnya jika karena
infeksi, maka bom antibiotik diperlukan untuk fase akut, sedangkan jika
karena komplikasi obstetrik, maka janin harus dilahirkan secepatnya.
Transfusi trombosit dan komponen plasma hanya diberikan jika
keadaan pasien sudah sangat buruk dengan trombositopenia berat
dengan perdarahan masif, memerlukan tindakan invasif, atau memiliki
risiko komplikasi perdarahan. Terbatasnya syarat transfusi ini
berdasarkan pemikiran bahwa menambahkan komponen darah relatif
mirip menyiram bensin dalam api kebakaran, namun pendapat ini tidak
terlalu kuat, mengingat akan terjadinya hiperfibrinolisis jika koagulasi
sudah maksimal. Sesudah keadaan ini merupakan masa yang tepat
untuk memberi trombosit dan komponen plasma, untuk memperbaiki
kondisi perdarahan. Satu-satunya terapi medikamentosa yang dipakai
ialah pemberian antitrombosis, yakni heparin.
Obat kuno ini tetap diberikan untuk meningkatkan aktivitas
antitrombin III dan mencegah konversi fibrinogen menjadi fibrin. Obat
ini tidak bisa melisis endapan koagulasi, namun hanya bisa mencegah
terjadinya trombogenesis lebih lanjut. Heparin juga mampu mencegah
reakumulasi clot setelah terjadi fibrinolisis spontan. Dengan dosis
dewasa normal heparin drip 4-5 U/kg/jam IV infus kontinu, pemberian
heparin harus dipantau minimal setiap empat jam dengan dosis yang
disesuaikan. Bolus heparin 80 U tidak terlalu sering dipakai dan tidak
menjadi saran khusus pada jurnal-jurnal hematologi. Namun pada
keadaan akut pemberian bolus dapat menjadi pilihan yang bijak dan
rasional. Apalagi ancaman DIC cukup serius, yakni menyebabkan
kematian hingga dua kali lipat dari risiko penyakit tersebut tanpa DIC.
Semakin parah kondisi DIC, semakin besar pula risiko kematian yang
harus dihadapi

G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Adanya faktor-faktor predisposisi:
Septicemia (penyebab paling umum)
Komplikasi obstetric
SPSD (sindrom distress pernafasan dewasa)
Luka bakar berat dan luas
Neoplasia
Gigitan ular
Penyakit hepar
Beda kardiopulmonal
Trauma
b) Pemeriksaan fisik:
1) perdarahan abnormal pada semua system dan pada sisi prosedur
invatif
i. kulit dan mukosa membrane
Perembesan difusi darah atau plasma
Purpura yang teraba pada awalnya di dada dan abdomen
Bula hemoragi
Hemoragi subkutan
Hematoma
Luka bakar karena plester sianosis akral (estrimitas
berwarna agak kebiruan, abu-abu, atau ungu gelap)
ii. Sistem GI
Mual dan muntah
Uji guayak positif pada emesis atau aspirasi
Nasogastrik dan feses
Nyeri hebat pada abdomen
Peningkatan lingkar abdomen

iii. Sistem ginjal


Hematuria
Oliguria
iv. sistem pernafasan
Dispnea
Takipnea
Sputum mengandung darah
v. Sistem kardiovaskuler
Hipotensi meningkat dan postural
Frekuensi jantung meningkat
Nadi perifer tidak teraba
vi. Sistem saraf perifer
Perubahan tingkat kesadaran
Gelisah
Ketidaksadaran vasomotor
vii. Sistem muskuloskeletal
Nyeri: otot,sendi, punggung
viii. Perdarahan sampai hemoragi
Insisi operasi
Uterus post partum
Fundus mata perubahan visual
Pada sisi prosedur invasif: suntikan, IV, kateter arteral
dan selang nasogastrik atau dada, dll.
2) Kerusakan perfusi jaringan
i. Serebral : perubahan pada sensorium, gelisah, kacau
mental, sakit kepala
ii. Ginjal : penurunan pengeluaran urin
iii. Paru : dispnea dan orthopnea
iv. Kulit : akrosianosis (ketidakteraturan bentuk
bercaksianosis pada lengan perifer dan kaki).

2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan
dengan hemoragi sekunder.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan thrombus
mikrovaskuler
c. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan
d. Defisit volume cairan yang berhubungan dengan hemoragi
perebesan darah dan tepat fungsi kongesti jaringan dan perlambatan
volume darah bersirkulasi.
e. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan
dengan keadaan syok, hemoragi, kongesti jaringan dan penurunan
perfusi jaringan.
f. Ansietas berhubungan dengan rasa takut mati karena perdarahan,
kehilangan beberapa aspek kemandirian karena penyakit kronis
yang diderita
g. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan minimnya informasi
h. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehilangan yang nyata
akan yang dirasakan.

3. Intervensi
a) Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan
dengan hemoragi sekunder.
Krieria hasil:
1) Menunjukan tidak ada manifestasi syok
2) Menunjukan pasien tetap sadar dan berorientasi
3) Menunjukan tidak ada lagi perdarahan
4) Menunjukan nilai-nilai laboraturium normal

Intervensi Rasional
1. Pantau hasil pemeriksaan koagulasi, Mengidentifikasi indikasi-indikasi
tanda-tanda vital, dan perubahan sisi
baru dan potensial. kemajuan atau penyimpangan.
2. Mulai kewaspadaan pendarahan Untuk meminimalkan potensial

3. Kewaspadaan apabila ada resiko Indikator anemia, perdarahan aktif


perdarahan lebih lanjut.
terhadap perdarahan (jumlah trobosit
kurang dari 50.000/CU mm23) atau terjadinya komplikasi
4. Tempatkan tanda “kewaspadaan Petugas perawatan kesehatan lainnya
perdarahan” di atas tempat tidur klien. mengetahui adanya kewaspadaan terhadap
perdarahan.

5. Pantau hasil pemeriksaan koagulasi. Menentukan pengobatan

6. Berikan transfuse darah seperti yang mempertahankan volume sirkulasi untuk


selanjutnya
diminta dan sesuai dengan memaksimalkan pervusi jaringan
penatalaksanaan medis.
7. Instruksikan klien untuk menhindari Menekan terjadinya perdarahan

8. Periksa warna dan konsistensi feses. Traktus GI (esofagus dan rectum) paling
aktivitas fisik berlebih. lebih parah
Feses hitam seperti biasa untuk sumber perdarahan
menunjukkan perdarahan GIT. sehubungan dengan mukosa yang mudah
rusak dan gangguan dalam hemostasis
karena sirosis

9. Inspeksi kulit, rongga oral dan DIC subukat dapat terjadi sekunder
konjungtiva setiap hari dan catat terhadap gangguan faktor pembekuan
luasnya ptekiae dan memar bila ada.
10. Gunakan pencukur jenggot listrik pada adanya gangguan faktor pembekuan,
sebagai pengganti pisau cukur, trauma minimal dapat menyebabkan
Gunakan sikat gigi berbulu halus perdarahan mukosa
untuk menyikat gigi, Hindari
penggunaan pencuci mulut
komersial. Gunakan larutan salin atau
campuran natrium bikarbonat dan
11. Hindari pengukuran suhu rektal dan rektal dan vena esofageal paling
hydrogen peroksida.
tindakan enema.
12. Hindari aspirin dan berbagai produk koagulasi memanjang, berpotensi
rentan untuk robek
yang mengandung aspirin.
13. Kewaspadaan bila ada resiko Indikator anemia, perdarahan aktif atau
untuk resiko perdarahan.
terhadap hemoragi spontan (jumlah terjadinya komplikasi
trombosit kurang dari 20.000/CU
14. Tempatkan tanda “kewaspadaan Petugas perawatan kesehatan lainnya
mm23).
perdarahan” di atas tempat tidur klien mengetahui adanya kewaspadaan terhadap
perdarahan.

15. Berikan pelunak feses (bila tes Mencegah mengejan yang akhirnya
Guaiak negative). meningkatkan tekanan intraabdomen dan
resiko robekan vaskuler/perdarahan

16. Instruksikan klien untuk Pada adanya gangguan faktor pembekuan,


menghindari trauma minimal dapat menyebabkan
perdarahan mukosa
17. Pertahankan tirah baring klien. Menghindari trauma yang tidak
meniup tau batuk keras.

18. Pertahankan posisi kepala, tempat Mengurangi tekanan intracranial dengan


diinginkan.
tidur ditinggikan resiko terjadinya hemoragi intrakranial.
19. Pantau tanda vital, warna kulit dan perubahan dapat menunjukkan
penurunan perfusi jaringan serebral
suhu, nadi pedalis, status mental, sekunder terhadap hipovolemia,
dan bunyi paru setiap 4 jam. hipoksemia.
20. Setiap 2-4 jam, anjurkan klien meningkatkan sirkulasi lokal dan sistemik
membalik badan, napas dalam
dan latihan gerak perlahan.
21. Gunakan kumur perawatan mulut, menjaga personal hygiene klien

sebagai pengganti sikat gigi.

b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan thrombus mikrovaskuler


Kriteria hasil: Kebutuhan oksigen klien terpenuhi.

No. Interven Rasional


Posisikan klien agarsiventilasi Meningkatkan oksigenasi yang
1 udara efektif. adekuat antara kebutuhan dan suplai.

Meningkatkan oksigenasi yang


2 Berikan oksigen dan pantau responnya. adekuat antara kebutuhan dan
suplai.
Lakukan pengkajian pernapasan Memperoleh data yang akurat untuk
3 dengan sering. menyeimbangkan oksigen antara
kebutuhan dan suplai
Kurangi kebutuhan oksigen Meningkatkan oksigenasi yang
4 dengan menurangi aktivitas yang adekuat antara kebutuhan dan suplai.
berlebih.
meningkatkan oksigenasi yang
5 Kendalikan stimulus dari lingkungan. adekuat antara kebutuhan dan
suplai.

c. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan


Kriteria hasil: Rasa nyeri yang dialami klien berkurang

No. Intervensi Rasional


1 Kaji lokasi, kualitas dan intensitas nyeri, Mengetahui tingkat nyeri klien
gunakan skala tingkat nyeri. untuk mengetahui tindakan
selanjutnya.
Baringkan klien pada posisi yang Menjaga kenyamanan dan
2 nyaman, berikan penyangga bantal mencegah tekanan pada bagian-
bagian tubuh tertentu.
Bantu memberikan perawatan ketika Mencegah bertambah parahnya
3 klien mengalami perdarahan hebat atau kondisi klien
rasa tidak nyaman.
4 Pertahankan lingkungan yang nyaman. Menjaga kenyamanan klien dan
aman
Berikan waktu istirahat yang cukup, buat Meningkatkan istirahat dan
5 jadwal aktivitas dan pemeriksaan meningkatkan kemampuan
diagnostik, bila memungkinkan, koping
sesuaikan dengan toleransi klien.
Dorong menggunakan teknik Memudahkan relaksasi, terpi
6 manajeman nyeri, contoh latihan farmakologis tambahan, dan
relaksasi/napas dalam, bimbingan meningkatkan kemampuan
imajinasi, visualisasi; sentuhan terpiutik koping

d. Defisit volume cairan yang berhubungan dengan hemoragi perebesan darah dan
tepat fungsi kongesti jaringan dan perlambatan volume darah bersirkulasi.
Kriteria hasil:
Mempertahankan status hemodinamik yang adekuat.
No. Interfensi Keperawatan Rasional
1 Kaji tanda-tanda vital Perubahan TD dan nadi dapat digunakan untuk
setiap 1 jam, dan kualitas perkiraan kasar kehilangan darah (mis., TD<90
nadi perifer setiap 4 jam mmHg, dan nadi >110diduga 25% penurunan
volume atau kurang lebih 1000 ml). Hipotensi
postural menunjukkan penurunan volume
sirkulasi
2 Kaji dan pantau jantung perubahan dapat menunjukkan efek hypovolemia
terhadap frekuensi dan (perdarahan/dehidrasi)
irama jantung.
3 Evaluasi pengeluaran Penurunan sirkulasi sekunder terhadap destruksi
urin setiap jam (jumlah SDM dan pencetusnya pada tubulus ginjal
dan berat jenis). dan/atau terjadinya batu ginjal (sehubungan
dengan peningkatan kadar asam urat) dapat
menimbulkan retensi urine atau gagal ginjal
4 Pertahankan masukan memberikan pedoman untuk penggantian cairan
dan pengeluaran yang
akurat.
5 Berikan cairan IV, sesuai Mempertahankan keseimbangan cairan/elektrolit
intruksi. pada tak adanya pemasukan melalui oral;

6 Berikan produk-produk Memperbaiki/menormalkan jumlah SDM dan


menurunkan resiko komplikasi ginjal
darah sesuai intruksi. kapasitas pembawa oksigen, berguna untuk
mencegah/mengobati perdarahan
7 Evaluasi nilai-nilai hasil Bila jumlah trombosit kurang dari 20.000/mm
laboraturium Hb, Ht, Na, (sehubungan dengan poliferasi SDMdan/atau
K, Cl, PT, PTT, jumlah supresi sumsum tulang sekunder terhadap obat
platelet produk solit fibri, antineoplastik), klien cenderung perdarahan
fibrinogen dan masa sepontan yang mengancam hidup. Penurunan
pembekuan. Hb/Ht indikatif perdarahan (mungkin samar)
8 Pertahankan tirah baring. Aktivitas meningkatkan tekanan dan dapat

e. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan keadaan
mencetuskan perdarahan lanjut
syok, hemoragi, kongesti jaringan dan penurunan perfusi jaringan.
Kriteria hasil: Kulit akan tetap utuh, tanpa ada bagian yang mengalami memar atau
lecet.
No. Intervensi Rasional
Kaji semua permuakaan kulit setiap 4 Menentukan garis dasar dimana
1 jam, Periksa jumlah SDP terhadap perubahan pada status dapat
potensi inveksi, Kaji semua orificium dibandingkan dan melakukan
terhadap adanya hemoragi atau memar. intervensi yang tepat
Angkat, periksa, dan gantikan semua Balutan basahmeningkatkan resiko
2 balutan yang menekan, setiap 4-8 jam kerusakan jaringan/infeksi. Catatan
sesuai intruksi. balutan tekanan tidak digunakan
diatas lembaran kulit, karena suplai
darah mudah dipengaruhi
Atur posisi pasien setiap 2 jam. Meningkatkan sirkulasi dan
3 mencegah tekanan pada
kulit/jaringan yang tidak perlu
4 Evaluasi semua keluhan-keluhan. Mempercepat penanganan klien

5 Beri obat sesuai intruksi Untuk memberikan


agar tidak rasa nyaman.
sakit berkelanjutan
6 Gunakan aliran arterial atau akses IV pada Hindari fungsi berlebihan untuk
pembuluh besar untuk pengambilan darah. keperluan pemeriksaan
laboraturium,
Gunakan bantalan restrain yang empuk Memberikan kenyamanan dalam
7 jika diperlukan. mengurangi tekanan pada luka

8 Untuk keamanan, bantu semua gerakan Menurunkan tekanan pada kulit

Mengurangi rasa tidak nyaman,


untuk turun dari tempat tidur. dari istirahat lama di tempat tidur
9 Lakukan hygiene oral tiap 4 jam. meningkatkan rasa sehat dan
mencegah pembentukan asam yang
dikaitkan dengan partikel makanan
yang tertinggal
f. Ansietas berhubungan dengan rasa takut mati karena perdarahan, kehilangan beberapa
aspek kemandirian karena penyakit kronis yang diderita.
Kriteria hasil:
 Klien menunjukan rileks dan melaporkan penurunan ansietas sampai tingkat
dapat ditangani.
 Klien menyatakan kesadaran ansietas dan cara sehat menerimanya.
No. Intervensi Keperawatan Rasional
1. Mandiri Indikator derajat ansietas/stress
Catat petunjuk perilaku, misalnya gelisah,misalnya pasien merasa tidak dapat
peka rangsang, kurang kontak mata, perilakuterkontrol di rmah, kerja atau
menarik perhatian. masalah. Stress dapat gangguan fisik
juga reaksi lain.
2. Dorong menyatakan perasaan, beri umpan Membuat hubungan terapeutik,
balik. membantu klien mengidentifikasi
penyebab stress.
3. Akui bahwa masalah ansietas dan masalah Validasi bahwa perasaan normal
mirip dengan diekspresikan orang lain, dapat membantu menurunkan stress.
tingkatkan perhatian mendengarkan klien.
4. Berikan informasi yang adekuat dan nyata Keterlibatan klien dalam

5. Berikan lingkungan yang tenang untuk Memindahkan klien dari stress luar,
tentang apa yang akan dilakukan, misalnya perencanaan keperawatan
istirahat. meningkatkan relaksasi, dan
membantu menurunkan ansietas.
6. Dorong klien atau orang terdekat untuk Tindakan dukungan dapat membantu
menyakan perhatian. klien untuk meringankan energi untuk
dituangkan pada penyembuhan.

7. Bantu klien untuk mengidentifikasi perilaku Perilaku yang berhasil dapat


koping yang dilakukan pada masa lalu. dikuatkan pada penerimaan masalah
atau stress saat ini, meningkatkan rasa
kontrol diri klien.

8. Bantu klien belajar mekanisme koping paru, Belajar cara untuk mengatasi masalah
misalnya teknik mengatasi stress dan dapat membantu dalam menurunkan
keterampilan berorganisasi. stress, meningkatkan kontrol
penyakit.
9. Kolaborasi: Dapat digunakan untuk menurunkan
Berikan obat sesuai indikasi sedatif, misalnyaansietas dan memudahkan istirahat.
barbiturat, agen antiansientas dan diazepam.

10. Rujuk pada perawat spesialis, pelayanan Dibutuhkan bantuan untuk


sosial atau penaasehat agama. meningkatkan kontrol dan
eksaserbasi.
g. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan minimnya informasi
 Ekspresi wajah klien menunjukan rileks, perasaan gugup dan cemas
berkurang.
 Menunjukan pemahaman tentang tentang rencana terapeutik.

No. Intervensi Keperawatan Rasional


1. Gunakan pendekatan yang tenang dan Penjelasan yang jelas dan
memberi informasi. Beri dorongan sederhana dan menggunakan
untuk bertanya.

2. Jelaskan mengenai gambaran singkat Penjelasan tentang apa yang


tes, tujuan tes, persiapan tes, dan diharapkan membantu mengurangi
perawatan setelah tes. ansietas.

h. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehilangan yang nyata akan yang
dirasakan.
Kriteria hasil:
 Peningkatan partisipasi klien dalam perawtan dirinya.
 Perubahan gaya hidup.
No. Intervensi Keperwatan Rasional
1. Biarkan klien dan oreng terdekat Mempermudah penyelesaian
mengungkapkan perasaannya. masalah dan memungkinkan
perawat mengidentifikasi fase
kesedihan klien.
2. Hindari pemberian informasi yang bertubi- Interaksi terapi dapat
tubi selama fase awal proses berduka. Jawab membantu perubahan
pertanyaan khusus. Masukan informasi saat individu untuk menerima
klien menunjukan kesiapan mempelajari informasi berlebihan.
perawatan diri.
3. Beri nomor telepon orang yang bias dimintai Sistem pendukung kuat dapat
dukungan oleh klien dan kleuarga saat seperti keluarga penting untuk
pulang. Ingatkan klien untuk melihat dirinya kemajuan klien dalam proses
dengan pandangan yang berbeda. Katakana berduka.
pada klien bahwa ia harus menerima
keadaannya sekarang.
4. Berikan penghargaan untuk mengekspresikan Dukungan komunitas penting
perasaan. Arahkan klien pada kelompok untuk meningkatkan
pendukung komunitas sesuai indikasi.
5. Pertahankan keluarga mendapatkan informasi Membantu klien menyatukan
kemajuan ke atah penerimaan.

6. Bila memungkinkan, biarkan klien untuk Meningkatkan kontrol diri.


tentang kemajuan klien. Libatkan keluarga kembali citra tubuh yang
menentukan pilihan dalam penawaran diri
atau perawatan higiene rutin.
7. Bantu klien memandang penyakit kronis atau Janji palsu menghambat
perubahan citra tubuh sebagai tantangan kebutuhan individu untuk
untuk pertumbuhan daripada situasi yang mengungkapkan perasaan.
tidak mungkin. Gunakan istilah tantangan
pertumbuhan sebagai ganti kecacatan. Bila
ada penyakit terminal, tekankan bahwa
penelitian untuk pengobatan masih terus
berlanjut dan hindari janji palsu.
8. Lakukan rujukan psikiatrik sesuai Bantuan profesional mungkin
peklaksanaan bila perlu. perlu untuk membantu klien
yang maladaptive, misalnya
menyangkal jangka panjang,
menarik diri dari sosial dan
regresi.
SOAL DIC (Disseminated intravascular coagulation)
1. Pengertian yang tepat dari Dessiminated intravascular coagulation ( DIC ) adalah…
a. Bekuan darah kecil yang tersebar diseluruh aliran darah, menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh darah kecil, berkurangnya faktor pembekuan yang
diperlukan untuk mengendalikan perdarahan
b. Bekuan darah yang tersebar dialiran darah dari paru paru, menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh darah kecil, berkurangnya faktor pembekuan yang
diperlukan untuk mengendalikan perdarahan
c. Bekuan darah yang menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil,
sehingga menyebabkan darah mudah kering.
d. Bekuan darah yang tersebar dialiran darah dari paru paru, menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh darah kecil, berkurangnya faktor pembekuan yang
diperlukan untuk mengendalikan perdarahan
e. Bekuan darah yang menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah besar,
sehingga menyebabkan darah mudah kering.
Jawaban : a
2. Penyebab DIC akut adalah …
a. Infeksi, Malignasi, obstetric, trauma.
b. Infeksi, peradangan, trauma
c. Infeksi, trauma, regrugritasi
d. Infeksi, obstetric, peradangan
e. Infeksi, trauma, malignasi, peradangan
Jawaban : a
3. Tes yang paling dapat dipercaya untuk menilai kemungkinan DIC adalah…
a. D-Dimer
b. FDP
c. Partial Protombin (PTT)
d. Masa protombin
e. Analisa gas darah
Jawaban : a
4. Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan DIC adalah…
a. Syok Hipovolemik
b. Oedema cerebri
c. Tekanan darah menurun
d. Suhu tubuh meningkat
e. Jantung berdebar debar
Jawaban : a
5. Syok hipovolemik dapat terjadi akibat dari…
a. Perdarahan (fibrinolysis) dan penggumpalan/ koagulasi darah yang masiv.
b. Tekanan systole dan diastole meningkat
c. Menurunnya perfusi darah ke ginjal akibat perdarahan dan
penggumpalan/koagulasi
d. Perdarahan, koagulasi masiv mengakibatkan jaringan nekrosis dan iskemik.
e. Kerusakan eritrosit yang terjadi pengendapan fibrin ada pembuluh darah kapiler
dan malfungsi system organ terutama ginjal dan sumsum tulang
f. Jawaban : a
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa:
Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.

Stitham, S .2008. Disseminated Intravascular Coagulation.


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/healthtopics.html. Diakses tanggal 26
Agustus 2019 10.00 WIB