Anda di halaman 1dari 35

By Ahmad Husaini, DR., M.Ag.

25 Maret 2018
Muqadimah
“Eksistensi pasien di rumah sakit berupaya menyelesaikan
masalah fisiknya, maka manajemen penanganan gejala
fisik adalah langkah awal dalam transformasi agama dan
spiritual care. Maksud kehidupan adalah mengembalikan
segala masalah kepada Allah SWT. Keberagamaan dan
spiritualitas meningkatkan koping menuju kesembuhan,
ikhlas, dan pasrah terhadap qadar Allah. Mengamalkan
agama wajib dilakukan, maka perantara untuk
menunaikan kewajiban tersebut wajib adanya.”
“Dialah Rabb yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di
lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah
bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin
yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan
(apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin
bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah
dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata):
"Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami
akan termasuk orang-orang yang bersyukur".
Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat
kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia,
sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri;
(hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian
kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan.” QS. Yunus: 22-23
Filosof dan ahli jiwa William James
berpendapat:
1. Tidak diragukan lagi terapi terbaik bagi keresahan adalah keimanan kepada Tuhan.
2. Keimanan kepada Tuhan merupakan salah satu kekuatan yang harus terpenuhi untuk
menopang hidup ini.
3. Antara kita dengan Tuhan terdapat suatu ikatan yang tidak terputus apabila kita menundukkan
diri dibawah pengarahan-Nya, maka semua cita-cita kita akan tercapai.
4. Gelombang lautan yang menggelora, sama sekali tidak membuat keruh ketenangan relung
hati yang dalam dan tidak membuatnya resah. Demikian dengan individu dengan keimanan
yang mendalam, ketenangannya tidak akan terkeruhkan oleh gejolak superfisial yang
sementara sifatnya. Sebab individu yang benar-benar religius akan terlindung dari keresahan,
selalu terjaga keseimbangannya, dan selalu siap untuk menghadapi segala malapetaka yang
terjadi.
Fungsi dan Transformasi
Kebutuhan
Hasil Analisis Situasi Menunjukkan;
Puskom Depkes Th. 2014
Perawat itu: 54 – 74 % Instruksi
Medis

26 %
Admin RS

20 %
Praktik Kep.
68 %
KDM dilakukan oleh
Keluarga Pasien
6 alasan mengapa Spiritual care tersebut
penting:
1. Banyak pasien menyadari akan agamanya atau latar belakang spiritualnya
2. Keyakinan akan agama yang dianutnya dan mengatasi masalah mereka.
3. Pasien merasa terisolasi dari komunitas agamanya dan sebagai alternatifnya adalah
memberikan layanan kebutuhan spiritual.
4. Keyakinan beragama dapat mempengaruhi keputusan medis yang adakalanya
menjadi konflik dengan petugas kesehatan serta mempengaruhi hubungan petugas
kesehatan dan pasien dalam pemenuhannya.
5. Keyakinan beragama dan pengamalannya berpengaruh terhadap kesehatan mental
dan fisik.
6. Kebutuhan akan agama dapat memberikan dorongan yang baik dan pasien diterima
dalam sebuah komunitasnya.
URGENITAS LAYANAN SPIRITUAL CARE
1. Penting bagi seorang perawat untuk mengenali dan mengintegrasikan dimensi body, mind
& spirit dalam praktik kliniknya sehari-hari (Dossey, 2005).
2. Tidak terpenuhinya kebutuhan klien pada salah satu dari dimensi yang ada dapat
menyebabkan gangguan kesehatan dan kesejahteraan.
3. Terpenuhinya kebutuhan spiritual pasien, dapat membantu mereka beradaptasi dan
melakukan koping terhadap sakit yang dideritanya. Coyle (2002 dalam oswald, 2004):
4. Dimensi spiritual dapat mengharmonisasi individu dengan alam, mendorong kerjakeras,
dan membantu individu mampu menghadapi keadaan stress emosional, penyakit fisik, dan
bahkan kematian McSherry (1998).
5. spiritualitas dan pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan salah satu aspek kunci untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien, selain kebutuhan fisik dan psikologis Oswald (2004).
1.TEBARKAN SALAM
2. BISMILLAAH, DALAM AWAL TINDAKAN
3. PENUHI KEBUTUHAN BIMROH PASIEN
4. DO’AKAN SELALU
5. INGATKAN BILA WAKTU SHOLAT TIBA
6. BANTU DLM ISTINJA’, WUDHU, & SHALAT
7. BIMBING DZIKIR, DO’A, & KONSELING
8. BIMBING & KONSELING PASIEN PRE OP
9. DAMPINGI PASIEN KETIKA AJAL M’JELANG
10.SUPPORT SISTEM, PULASARA SESUAI
KEINGINAN KELUARGA.
Landasan
Maksud dan Tujuan HPK.1.1
Pasien dengan populasi yang beragam dalam memeluk
agama, keyakinan, dan memiliki nilai-nilai pribadi maka
beragam pula dalam menerima proses asuhan. Beberapa
agama, keyakinan, dan nilai-nilai pribadi berlaku umum
bagi semua pasien serta biasanya berasal dari budaya dan
agama. Ada keyakinan yang bersifat individual. Rumah
sakit melakukan identifikasi agama, keyakinan, dan nilai-
nilai pribadi pasien agar dalam memberikan asuhan selaras
dengan agama, keyakinan, dan nilai-nilai pribadi.
Contoh pertanyaan dalam AP 1.5 yang
dapat dipakai pada skrining sebagai
berikut:
Apakah anda merasa sakit sekarang?
Apakah rasa sakit anda menghalangi tidur malam anda?
Apakah rasa sakit anda menghalangi anda beraktivitas?
Apakah anda merasakan sakit setiap hari?
Standar PAP. 7
Dilakukan asesmen dan asesmen ulang terhadap pasien
dalam tahap terminal dan keluarganya sesuai dengan
kebutuhan mereka.
Maksud dan Tujuan PAP 7
Asesmen dan asesmen ulang bersifat individual agar sesuai
dengan kebutuhan pasien dalam tahap terminal (dying) dan
keluarganya. Asesmen dan asesmen ulang harus menilai
kondisi pasien seperti
PAP 7 dan 7.1
Proses ini meliputi :
Intervensi pelayanan pasien untuk mengatasi nyeri;
memberikan pengobatan sesuai dengan gejala dan
mempertimbangkan keinginan pasien dan keluarga;
menyampaikan secara hati-hati soal sensitif seperti autopsi
atau donasi organ; menghormati nilai, agama, serta budaya
pasien dan keluarga; mengajak pasien dan keluarga dalam
semua aspek asuhan; memperhatikan keprihatinan
psikologis, emosional, spiritual, serta budaya pasien dan
keluarga.
Maksud dan Tujuan MKE 8
1. Keyakinan serta nilai-nilai pasien dan keluarga
2. Kemampuan membaca
3. Tingkat pendidikan
4. Bahasa yang digunakan
5. Hambatan emosional dan motivasi
6. Keterbatasan fisik dan kognitif
7. Kesediaan pasien untuk menerima informasi.
Keniscayaan Agama dan Spiritualitas dalam Pelayanan
Model of study Shows Probable Relation
Psikoterapi Psikiatrik
Bertujuan untuk
memulihkan kepercayaan
diri (self-confidence) dan
memperkuat fungsi ego
Psikoterapi Keagamaan
Bertujuan untuk
memperkuat keimanan
pasien kepada Tuhan
Farmakoterapi
Memberikan terapi kepada
pasien melalui obat anti
depresan
STRESS
ATAU
Hubungan
Terapi Somatik DEPRESI Religius dan
Memberikan obat-obatan
yang ditujukan kepada Psikiatry
keluhan atau kelainan Diadaptasi dari Dadang
Terapi Relaksasi fisik/organ pasien Hawari
Bertujuan untuk membantu
pasien memperoleh
kenyamanan, baik fisik
maupun mental, yang Terapi Perilaku
biasanya menggunakan Bertujuan untuk mengubah
hipnosis, eft, SEFT dll. sikap dan perilaku pasien
terhadap objek yang
menakutkan, melalui prinsip
desensitisasi.
Masalah yang di Hadapi:

KONFLIK KETERASINGAN DUKUNGAN

MASALAH
PENYADARAN
TERATASI
Sinergisitas dalam Pelayanan
Secara rutin berupa motivasi diantaranya:
1. Tadzkiroh memberikan motivasi
2. Bimbingan ibadah
3. Pengkajian;pengetahuan, kemampuan, dan kemauan. Bila pasien hendak
pulang, diberikan penguatan untuk istiqamah kepada pasien dan
keluarganya.
4. Ada pekerjaan di luar kewenangannya seperti; menangani pasien sulit
tidur, pasien susah makan, bila pasien menangis lama, bila terjadinya
complain dari pasien dan keluarga dan lain-lain mereka diminta untuk
menengahi. Artinya ada “multi talenta”.
terjadi mendekati dying; petugas menyiapkan mental atau psikologi
5. Bila
keluarga.
Beberapa hal yang menjadi opini
pasien diantaranya:
1. Diharapkan dua kali dalam sehari petugas kerohanian berkunjung ke
pasien ada juga yang menyatakan cukup sekali.
2. Materi sesuai kebutuhan
3. Tepat waktu
4. Sesuaikan dengan kebutuhan pasien di rumah sakit
5. Sesuaikan dengan kebijakan yang ada
6. Meningkatkan pengetahuan pembimbing.
Formulasi Model Ideal Layanan Bimbingan
dan Konseling:
1. Menyakinkan pasien untuk optimis terhadap kesembuhan penyakitnya
2. Meyakinkan pasien untuk mengikuti proses perawatan dengan baik
sampai sembuh.
3. Menyadarkan pasien perihal berbagai konsep sehat dan sakit menurut
ajaran agamanya.
4. Memahamkan pasien bahwa kondisi kejiwaan sangat berpengaruh
terhadap kesehatan jasmani.
5. Mengajak pasien untuk bersikap tenang dan sabar sebagai wujud terapi
untuk mempercepat kesembuhan.
6. Membantu individu menyesuaikan diri terhadap gangguan kesehatan
sepanjang siklus hidupnya.
Continue
6. Memberikan pertolongan kepada pasien yang mengalami kegelisahan
dalam menghadapi penyakitnya.
7. Memberikan bimbingan tentang makna sakit secara agamis.
8. Mengajarkan kepada pasien untuk berikhtiar dalam menghadapi sakit
yaitu berobat pada ahlinya (berikhtiar dengan cara-cara yang benar).
9. Mengingatkan pasein agar tetap mejalankan ibadah sesuai dengan
kemampuannya.
10 Mengusahakan agar pasien memperhatikan berbagai hal yang
mendukung kesembuhan seperti kebersihan pakaian dan tempat tidur.
11. Memberikan kekuatan moril kepada pasien ketika menjalani operasi
atau sedang kesakitan.
Tujuan dan Ruang Lingkup Pendampingan
Pelayanan Spiritual:
1. Mendampingi pasien atau keluarga yang merasa mendapat "beban", supaya mereka tidak
mengalami stres yang berkepanjangan.
2. Melakukan suatu fungsi penyembuhan "holistik", dalam bentuk kesediaan untuk duduk di
samping pasien dan mendengarkan dia mengungkapkan perasaan, keluhan, kemarahannya
di hadapan tenaga kerohanian.
3. Melakukan penelaahan bersama (dengan pasien atau keluarganya) dengan tujuan
memahami kasus-kasus yang dialami pasien, yang biasanya tidak ada hubungan dengan
rumah sakit sekalipun, tetapi tetap perlu dibantu untuk ditangani.
4. Sebagai media rekonsiliasi yang dapat ‘curah pendapat’ antara pasien dan keluarganya, jika
ada masalah atau konflik.
5. Memberikan perhatian dengan tidak perlu berbicara panjang lebar, tidak perlu nasihat,
harapan, penguatan, doa, dan membaca al Qur’an atau kitab suci.
6. Bimbingan rohani bagi petugas
TATA LAKSANA PELAYANAN:
1. Pasien atau keluarga pasien rawat inap yang membutuhkan pelayanan
kerohanian yang ditunjuk secara langsung dari pihak keluarga.
2. Pasien atau keluarga pasien mengutarakan maksud tersebut kepada perawat
yang bertugas untuk membantu proses pelaksanaanya.
3. Petugas mengakomodir kebutuhan pasien dan memberikan formulir
permintaan pelayanan kerohanian.
4. Petugas menyediakan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan demi kelancaran
proses kerohanian pasien.
5. Rohaniwan yang didatangkan oleh pihak keluarga pasien dapat membantu
dalam proses pemberian pelayanan kerohanian terhadap pasien selama waktu
yang dianggap cukup.
6. Dalam proses pelayanan kerohanian yang dilakukan, pihak keluarga tetap
menjaga ketertiban dan sopan santun dengan pasien yang terdapat pada
ruangan tersebut.
Pendampingan Terintegrasi :
1. Nomor Rekam Medis, Nama pasien.
2. Umur, Agama, Jenis kelamin.
3. Ruangan/kamar, Hari/tanggal/jam.
4. Keterangan, untuk formulir satu dimasukkan
kedalam berkas rekam medis yang kedua
untuk dokumentasi Kerohanian.
KOMUNIKASI EFEKTIF
1. Komunikasi sebagai informasi, dalam hal ini komunikasi memiliki
fungsi utama, guna menyampaikan atau menyebarluaskan suatu
pesan informasi kepada orang lain.
2. Komunikasi sebagai pendidikan, lebih bersifat mendidik (edukatif).
3. Komunikasi sebagai instruksi, dalam hal ini, komunikasi memiliki fungsi
sebagai perintah mewajibkan atau melarang.
4. Sebagai persuasi, agar bisa mempengaruhi penerima agar bersikap
dan berperilaku sesuai dengan kehendak pengirim.
5. Komunikasi sebagai penghibur, pengirim mengirimkan pesan yang
kental dengan kandungan hiburan kepada seluruh penerima.
DINAMIKA TRANSFORMASI
PERSEPSI KEBUTUHAN
COLLABORATIF CARE
WASIAT
Rekomendasi Intervensi Perawatan Spiritual:
1. Menyediakan
lingkungan yang aman dan mendengarkan dengan penuh perhatian, jadi pasien
dapat mengekpresikan perasaan dan pengalaman yang berhubungan dengan penyakit, masalah,
dan kematiannya.
2. Menyediakan
kesempatan bagi pasien untuk mengekpresikan kesedihan, kemarahan,
keputusasaan, penderitaan, kegembiraan, kesenagan dan kebingungan.
3. Menyarankanpentingnya suatu hubungan yang dapat membantu pasien (keluarga, penasihat,
pendeta, ustadz).
4. Merujuk pada penyedia pelayanan spiritual yang profesional (para rohaniwan, ustadz, pendeta).
5. Latihan spiritual seperti yoga, relaksasi, zikir, atau meditasi
6. Ritual keagamaan
7. Do’a, sembahyang atau kebaktian lainnya.
8. Membaca kitab suci (Al Qur’an, bibel, Taurat).
9. Membaca bacaan yang reflektif dari puisi atau literatur lain.
10.Catatan harian pasien atau keluarga.
HATURNUHUN
MUGIA MANFAAT
REFERENSI
 Harold G. Koenig, Spirituality in Patient Care (Why, How, When, and What)
(USA: Templeton Foundation Press, 2007)
 Pribadi Zen MH, Panduan Komunikasi Efektif Bekal Keperawatan
Profesional, D-Medika
 Ahmad husaini, Dinamika Transformasi Kebutuhan agama dan
Spiritualitas, Tahun 2018
 Aplikasi Pola Layanan Spiritual Care, tahun 2010
 KEBUTUHAN SPIRITUAL; Konsep dan Aplikasi Dalam Asuhan
Keperawatan. Ah. Yusuf Dkk.
 Journal of Intercultural and Religious Studies is included in the Islamicus
Index Number 4 ● June 2013 ● ISSN 2147-0405
 Puchalski C.M, Spirituality In Health: The Role of Spirituality In Critical
Care. Critical Care Clinic.