Anda di halaman 1dari 18

PENGELASAN SMAW

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Teknik Pengelasan dan Penyambungan Dasar
yang dibina oleh Bapak Drs. Solichin, S.T., M.Kes.

Oleh
Bagus Susetya
170511623072

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
Agustus 2019
Daftar Isi

Daftar Isi ...............................................................................................................................i


Daftar Gambar .....................................................................................................................ii
Daftar Tabel .........................................................................................................................iii
BAB I Pendahuluan .............................................................................................................1
A. Latar Belakang .....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................1
C. Tujuan ..................................................................................................................1
BAB II Pembahasan ............................................................................................................2
A. Pengertian Las SMAW .......................................................................................2
B. Keuntungan dan Kekurangan .............................................................................3
C. Peralatan dan Prinsip Kerja ................................................................................3
D. Alat Keselamatan Kerja......................................................................................7
E. Teknik Pengelasan ..............................................................................................9
F. Persiapan Prosedur Pengelasan ..........................................................................12
BAB III Penutup ..................................................................................................................13
A. Kesimpulan .........................................................................................................13
Daftar Rujukan ....................................................................................................................14

i
Daftar Gambar

Gambar 1, Proses SMAW ......................................................................................................2


Gambar 2, Peralatan Pengelasan ............................................................................................3
Gambar 3, Holder Elektroda ..................................................................................................4
Gambar 4, Elektroda ..............................................................................................................5
Gambar 5, Hasil Pengelasan ..................................................................................................7
Gambar 6, Apron ...................................................................................................................8
Gambar 7, Sarung Tangan Las...............................................................................................8
Gambar 8, Helm Las ..............................................................................................................8
Gambar 9, Sepatu Safety........................................................................................................9
Gambar 10, Respirator/Masker ..............................................................................................9
Gambar 11, Sambungan Tumpul ...........................................................................................10
Gambar 12, Sambungan T .....................................................................................................11
Gambar 13, Sambungan Sudut ..............................................................................................11
Gambar 14, Sambungan Tumpang ........................................................................................11
Gambar 15, Sambungan Sudut ..............................................................................................11

ii
Daftar Tabel

Tabel 1, Parameter Pengelasan ..............................................................................................10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pengembangan teknologi kontruksi yang semakin maju dan tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan pengelasan karena memiliki peran penting dalam kegiatan rekayasa logam.
Pengelasan (welding) adalah teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan
sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa logam penambah dan
menghasilkan logam kontinyu.
Dalam kemajuan kegiatan pengelasan pada saat ini, teknologi pengelasan berperan sangat
penting dalam kehidupan modern saat ini, ada beberapa cara atau type dalam kegiatan
pengelasan diantaranya SMAW, GMAW, SAW, FRICTION WELDING, dan LAER
WELDING.

B. Rumusan masalah
Dalam pembuatan makalah ini, rumusan massalah yang akan diutarakan diantaranya
yaitu mengetahui apa itu pengelasan SMAW, apa saja keuntungan dan kekurangan dari
pengelasan SMAW, alat apa saja yang digunakan dalam melakukan pengelasan berikut
prinsip kerjanya, dan alat keselamatan kerja yang digunakan dalam kegiatan pengelasan.

C. Tujuan
Tujuan yang diharapkan dalam pembuatan makalah ini meliputi, mahasiswa dapat
mengetahui apa itu pengelasan SMAW, mengetahui keuntungan dan kekurangan dari
pengelesan tersebut, mengetahui alat yang akan digunakan dalam proses pengelasan, dan
tidak lupa pula alat keselamatan kerja yang akan digunakan dalam proses pengelasan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Las SMAW


Pengelasan merupakan proses penyambungan setempat dari logam dengan menggunakan
energi panas. Akibat panas maka logam di sekitar lasan akan mengalami siklus termal yang
menyebabkan terjadinya perubahan metalurgi yaitu pada struktur mikro, sehingga akan
berpengaruh terhadap sifat mekanik seperti kekuatan dan ketahanan terhadap laju korosi dari
hasil pengelasan tersebut. Shielded Metal Arc Welding (SMAW) dikenal juga dengan istilah
Manual Metal Arc Welding (MMAW) atau las elektroda terbungkus adalah proses
penyambungan dua benda logam maupun lebih menjadi satu bagian atau sambungan yang
tetap, dengan menggunakan sumber panas listrik dan menggunakan bahan tambah/pengisi
yang berupa elektroda terbungkus. Pada pengelasan elektroda terbungkus, tejadinya gesekan
antara ujung elektroda dan benda kerja (Base Metal) yang akan menghasilkan panas, kemudian
panas inilah yang akan mencairkan ujung elektroda/kawat las dan benda kerja secara setempat.
Busur listrik yang ada merupakan listrik yang dibangkitkan oleh mesin las atau yang dikenal
dengan istilah power source. Elektroda sendiri berupa kawat yang dibungkus dengan
pelindung yang berupa fluks.
Dengan terjadinya pergesekan antara kawat las/elektroda dan benda kerja kemudian
terjadilah kawah yang kemuadian akan diisi oleh logam cair yang berasal dari elektroda
tersebut yang kemuadian membeku maka terjadilah logam lasan (weldment) dan terak (slag),
seperti pada gambar 1.

Gambar 1. Proses SMAW

2
B. Keuntungan dan Kekurangan
Keuntungan :
 selaput pembungkus elektroda mempunyai fungsi serbaguna dan banyak jenisnya
kurang lebih ada 100 tipe untuk pengelasan bahan yang berbeda.
 sumber tenaga dari SMAW (AC maupun DC) dapat ditancapkan di dinding atau
dapat dijalankan disetiap tempat sepanjang terdapat bahan bakar.
 pengelasan dapat dilakukan pada berbagai posisi mulai dari posisi flat, mendatar,
tegak dan di atas kepala.

 Dapat dipakai dimana saja didalam air maupun di luar air.


 Tingkat kebisingan rendah.
 Dapat di kerjakan pada ketebalan berapapun
 sensitivitasnya terhadap gangguan pengelasan berupa angin cukup baik.
 sumber tenaga dan juga perawatan mesin SMAW lumayan murah. Selain itu mesin
SMAW sangat awet, relatif mudah dioperasikan dan mudah di setting.
Kekurangan :
 uap lembab di udara dapat masuk ke dalam elektroda.
 terak yang dihasilkan ketika selaput elektroda mencair harus selalu dibersihkan
setiap kali selesai mengelas.
 perator harus berhenti dan mengganti elektroda setiap beberapa menit, ketika setiap
menit busur listrik tidak dinyalakan untuk mengelas, itu menyebabkan ongkos
tenaga kerja tidak produktif.
 Tidak dapat digunakan untuk pengelasan bahan baja non – ferrous.

C. Peralatan dan Prinsip Kerja

Perlengkapan yang digunakan dalam proses pengelasan SMAW sangat sederhana yaitu :
transformattor DC/AC, elektroda, kabel massa, kabel elektroda, connector, palu cipping, sikat
kawat, dan pelindung diri yang sesuai.

Gambar 2. Peralatan pengelasan

3
1. Sumber tegangan
Sumber tegangan terbagi menjadi dua, diantaranya mesin las AC dan mesin las DC,
mesin las AC yang biasanya berupa travo las, dan untuk mesin las DC selain menggunakan
travo juga menggunakan rectifier atau diode (perubah arus bolak balik menjadi arus searah)
yang biasanya menggunakan motor penggerak berupa mesin diesel maupun motor listrik.
Pada saat ini penggunaan mesin las DC banyak digunakan karena mempunyai kebihan dari
penggunaan mesin las AC yaitu busur las stabil dan polaritas dapat diatur.

2. Kabel massa dan kabel elektroda


Kabel massa dan kabel elektroda berfungsi untuk mengalirkan listrik menuju material
las dan kembali lagi pada mesin las. Ukuran kabel massa dan elektroda harus cukup besar,
apabila ukuran kabel tidak sesuai maka akan menimbulkan panas dan merusak isolasi kabel
pada akhirnya akan membahayakan operator las (welder).

Sesuai dengan peraturan yang ada, kabel antara mesin las dengan benda kerja diusahan
sependek mungkin da tidak ada sambungan (satu kabel) dengan jarak kurang dari 35 kaki
atau 10,5 meter. Jika menggunakan lebih dari satu kabel, sebiknya menggunakan lock-type
cable connectors dengan sambungan kabel minimal berjarak 10 kaki atau 3 meter dari
operator las.

3. Pemegang elektroda dan klem massa


Fungsi dari pemegang elektroda yaitu mengalirkan arus listrik dari kabel elektroda
menuju elektroda dan juga berfungsi untuk mengurangi panas di tangan pada saat
pengelasan. Klem massa berguna untuk menghubungkan arus massa dari mesin las menuju
benda kerja yang biasanya menggunakan penjepit. Kekuatan penjepitan dari klem massa
sangat berpengaruh terhadap proses maupun hasi pengelasan, apabila klem longgar maka
arus yang dialirkan tidak stabil yang berakibat proses maupun hasil pengelasan tidak baik.

Gambar 3. Holder elektroda

4. Palu cipping dan sikat kawat


Palu cipping berfungsi untuk melepaskan terak las pada logam las (weld metal) dengan
cara memukul maupun menggoreskan palu cipping pada daerah lasan. Dan tidak lupa pada
saat melakukan pelepasan terak las selalu berhati-hati agar terak las tidak memercik ke
mata maupun anggota tubuh lainnya dan jangan membersihkan terak las pada saat terak las
dalam keadaan panas/merah. Sikat kawat berfungsi sebagai pembersih dari terak las yang
sudah lepas dari lasan yang dipukul oleh palu cipping maupun untuk membersihkan lasan.
4
5. Karakteristik Listrik
Arus listrik dinyatakan terbagi menjadi dua, arus listrik AC dan arus listrik DC,
polaritasnya juga harus ditentukan dalam melakukan proses pengelasan. Dalam
menentukan arus listrik dan polaritas yang mana yang akan dipakai dalam proses
pengelasan harus memperhatikan hal-hal berikut ini :

Arus DC (direct current)


- Aliran : Continue pada satu arah,busur nyala steady
- Voltage drop : Sensitif terhadap panjang kabel, kabel sependek mungkin
- Current : Dapat digunakan dalam arus dan diameter elektroda kecil
- Elektroda : Semua jenis elektroda dapat digunakan
- Arc starting : Lebih mudah dalam arus kecil
- Arc bow : sensitive terhadap sudut maupun bagian yang berlekuk
- Pole : Dapat dipertukarkan

Arus AC (alternating current)

- Voltage drop : Panjangnya kabel tidak terlalu mempengaruhi


- Current : Kurang cocok digunakan low current
- Elektroda : Tidak semua jenis elektroda dapat digunakan
- Arc starting : akan lebih sulit, dalam elektroda berdiameter kecil
- Arc bow : Tidak bermasalah
- Pole : Tidak dapat dipertukarkan

6. Elektroda
Sebagian besar elektroda dilapisi oleh flux yang berfungsi sebagai pembentuk gas yang
melindungi cairan logam agar tidak terkontaminasi dengan udara di sekelilingnya. Flux
juga dapat berupa terak yang melindungi cairan logam pada saat proses pengelasan agar
tidak terkontaminasi dari udara di sekitar. Menurut AWS (American Welding Society)
electrode diklasifikasikan dengan huruf E dan diikuti empat atau lima digit sebagai
berikut E xxxx (x). Dua digit yang pertama atau tiga digit menunjukan kuat tarik
hasil las tiga digit menunjukan kuat tarik lebih dari 100.000 psi sedangkan dua digit
menunjukan kuat tarik hasil lasan kurang dari 100.000 psi.
Dalam melakukan pengelasan, ukuran diameter dari elektroda juga perlu
diperhatikan agar mendapatkan hasil yang optimal. Dalam memilih diameter elektroda
dalam pengelasan SMAW juga mempengaruhi dari besar maupun kecilnya amper
yang dipakai.

Gambar 4. Elektroda

5
7. Penyalaan busur
Ada dua metode yang digunakan operator dalam memulai penyalaan busur yaitu
dengan metode menggores (striking) dan dengan metode memukul (tapping). Penyalaan
ditandai dengan adanya hubungan pendek ujung elektroda dengan permukaan benda kerja.

Dalam metode memukul apabila penarikan elektroda lambat maka cairan logam
akan cepat membeku dan elektroda akan menempel pada benda kerja. Apabila elektroda
sulit dilepaskan dari benda kerja, matikan mesin las terlebih dahulu kemudian melepaskan
elektroda yang menempel pada benda kerja. Jangan pernah melepaskan helm las selama
ada kemungkinan elektroda akan menjadi busur.

8. Amper
Dalam kegiatan pengelasan, besar kecilnya dari amper bergantung pada besar kecilnya
elektroda yang digunakan. Perusahaan yang membuat elektroda sudah menyematkan
ukuran dari amper elektroda tersebut, besar kecilnya amper dalam penggunaan
elektroda tersebut biasanya terdapat pada bungkus dari elektroda tersebut.
 Akibat dari amper yang terlalu besar
 Elektroda akan terlalu panas, dimana akan merusak kesetabilan flux
 Lebar cairan las akan terlalu besar
 Perlindungan cairan las tidak maksimal, akan mengakibatkan logam las
berpori (porosity)
 Berkemungkinan besar kan terjadinya undercut
 Terak (slag) yang menempel pada permukaan logam las akan susah
dibersihkan
 Akibat dari amper yang terlalu kecil
 Dalam penyalaan busur akan sedikit sulit dan elektroda akan lengket
pada benda kerja
 Peleburan elektroda tidak baik (terputus-putus) akibat dari busur yang
kurang stabil
 Peleburan dari base metal dan electrode akan jelek, dan terjadinya slag
incluision
9. Kecepatan pengelasan
Kecepatan pengelasan merupakan laju pergerakan elektroda pada saat proses
pengelasan. Kecepatan maksimum dalam pengelasan bergantung pada keterampilan yang
dimiliki oleh juru las (welder), posisi pengelasan, jenis elektroda yang digunakan, dan
bentuk sambungan.
Apabila dalam pengelasan pergeseran elektroda terlalu cepat, logam lasan akan
cepat menjadi dingin dan menyebabkan bentuk las menjadi kecil dan efisiensi las menjadi
buruk/runcing. Dengan kebalikannya apabila dalam pengelasan laju dari elektroda terlalu
lambat akan menyebabkan deposit elektroda akan menumpuk menjadi terlalu tinggi dan
lebar. Dengan demikian, dalam memperoleh hasil yang optimal dalam pengelasan yaitu

6
dengan melakukan pemilihan elektroda yang sesuai dengan benda kerja, mengatur
kecepatan pergeseran elektroda, menyamakan jarak antara elektroda dan benda kerja.

Gambar 5. Hasil pengelasan

Dimana (A) Pengelasan normal, (B) arus/amper yang terlalu rendah,(C) arus/amper
yang terlalu tinggi, (D) terlalu cepat dalam memindahkan busur, (E) pemindahan busur
yang terlalu lambat, dan (F) penggunaan arc yang terlalu Panjang.

10. Sudut elektroda


Merupakan posisi atau kedudukan elektroda terhadap benda kerja pada saat pengelasan.
Perubahan sudut yang terjadi dengan ekstrim dapat mempengaruhi bentuk dari deposit las,
dengan demikian sudut elektroda perlu diperhatikan pada saat pengelasan. Terdapat dua
sisi sudut elektroda, sudut kerja (work angel) dan sudut arah pengelasan (travel angel).
Sudut kerja merupakan sudut yang terbantuk dari garis horizontal yang tegak lurus
terhadap arah dari pengelasan. Sudut arah pengelasan merupakan sudut garis vertical
terhadap arah pengelasan dan berkemungkinan berubah dari 15 sampai 30 derajat.

D. Alat Keselamatan Kerja


1. Pakaian kerja las atau apron
Pakaian kerja las merupakan pakaian yang dapat melindungi seluruh bagian tubuh dari
percikan api yang dihasilkan dari proses pengelasan dan efek radiasi dan ultra merah yang
dapat membahayakan keselamatan kesehatan kerja.
7
Gambar 6. Apron

2. Sarung tangan dan sarung lengan


Kedua alat ini berfungsi sama dengan apron untuk melindungi percikan bunga api dan
memudahkan dalam memegang pegangan elektroda.

Gambar 7. Sarung tangan las

3. Helm las
Helm ini dilengkapi dengan dua buah kaca hitam dan putih atau satu kaca hitam yang
berfungsi untuk melindungi kulit muka dan mata dari sinar ultra violet yang dapat merusak
kulit maupun mata, sinar listrik yang ditimbulkan dari dari kegiatan pengelasan tidak boleh
dilihat secara langsung tanpa adanya pengaman untuk mata, dengan jarak minimal 16
meter.

Gambar 8. Helm las

8
4. Sepatu pengaman
Berfungsi untuk melindungi kaki terhadap benda-benda panas yang ada dilantai
maupun percikan api las yang dihasilkan dari proses pengelasan.

Gambar 9. Sepatu safety

5. Respirator (alat bantu pernapasan)


Digunakan untuk menjaga pernapasan agar tetap stabil pada saat proses pengelasan
listrik dari asap las, dan juga untuk melindungi dari asap dan debu yang beracun masuk
paru-paru.

Gambar 10. Respirator/Masker

E. Teknik Pengelasan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memperoleh hasil baik, mulus, kuat
serta efisien :
1. Parameter pengelasan
Panjang busur, voltase, arus listrik

9
Diameter elektroda Ketebalan Benda Kerja Arus
(inchi) (inchi) (ampere)

1/16 25-65
3/32
1/8 60-110
1/8
3/16 110-170
5/32
1/4 150-225
3/16
3/8 150-350
1/4
1/2 190-350
1/4
3/4 200-450
5/16
1 200-450
5/16

Tabel 1. Parameter Pengelasan

2. Menyalakan dan mematikan busur las


- Metode menggores (scratching methode)
- Metode memukul (tapping methode)
3. Gerakan elektroda
- Gerakan menarik (dragging motion)
- Gerakan maju mundur (whipping motion)
- Gerakan melebar (weaving motion)
4. Menyambung las
- Terak yang ada di kawah las harus dibersihkan
- Lengkung listrik dinyalakan dengan jarak diantara ½ inchi didepan kawah
las
- Elektroda digerakkkan ke kawah las dan mengisi kawah las sesuai dengan
besar jalur las sebelumnya
5. Perencanaan sambungan (join design)
- Sambungan tumpul (butt joint)

Gambar 11. Sambungan tumpul

10
- Sambungan T (T-joint)

Gambar 12. Sambungan T

- Sambungan sudut

Gambar 13. Sambungan sudut

- Sambungan tumpang

Gambar 14. Sambungan tumpang


6. Posisi pengelasan
a. Sambungan sudut

Gambar 15. Sambungan sudut

- 1F (posisi pengelasan datar)


- 2F (posisi pengelasan horizontal)
- 3F (posisi pengelasan vertical)
- 4F (posisi pengelasan diatas kepala atau over heat)

11
F. Persiapan Prosedur Pengelasan
Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam dalam melakukan proses pengelasan SMAW
diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan benda kerja
Dalam penyiapan material/bahan harus disesuaikan dengan WPS yang telah
ditentukan, yang termasuk didalamnya bentuk dan ukuran kampuh las. Dalam
penyiapan benda kerja yang akan di sambung usahakan dalam keadaan bersih dan
terhindar dari minyak dan kotoran yang menempel agar mendapatkan hasil pengelasan
yang optimal.
2. Menyediakan elektroda
Dalam hal ini, harus diperhatikan jenis elektroda yang sesuai dengan material induk
(benda kerja) yang akan dilakukan kegiatan pengelasan. Diameter elektroda dipilih
sesuai dengan bentuk dan kampuh las yang akan digunakan. Yang paling banyak
digunakan adalah elektroda berdiameter 2,6 mm atau 3,2 mm. untuk mendapatkan hasil
yang optimal dalam pengelasan, sebaiknya sebelum elektroda digunakan terlebih
dahulu elektroda dipanaskan dalam oven dengan tempratur 75℃ sampai 100℃ selama
kurang lebih satu jam.
3. Mengatur mesin las
Sebelum melakukan kegiatan pengelasan, periksa semua sambungan kabel dalam
keadaan baik, kabel power, kabel massa maupun kabel elektroda terkoneksi dengan
baik dan kuat. Mengatur besarnya arus listrik sesuai dengan ukuran diameter dan jenis
elektroda serta ketebalan benda kerja yang akan disambung.
4. Menyiapkan alat bantu dan alat keselamatan kerja
Dalam melakukan kegiatan pengelasan tidak lupa untuk menggunakan alat
keselamatan kerja, sebaiknya dipersiapkan dekat dengan welder.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
SMAW merupakan proses las busur yang paling sederhana dan paling serba guna. Karena
sederhana dan mudah dalam membawa peralatan dan perlengkapannya, membuat proses
pengelasan SMAW ini dapat di aplikasikan dengan luas, bahkan dapat digunakan untuk
pengelasan dalam laut memperbaiki struktur anjungan lepas pantai. Proses pengelasan SMAW
dapat dilakukan dengan berbagai posisi maupun lokasi yang dapat dijangkau dengan sebuah
elektroda.

13
Daftar Rujukan
Achmadi, 2019, “Macam Macam Posisi Pengelasan Pada Pelat dan Pipa Beserta Gambarnya”
dalam https://www.pengelasan.net/posisi-pengelasan/, diakses pada tanggal 25 Agustus
2019
Awal Syahrani, Naharuddin, & Muhammad Nu, 2018, “ANALISIS KEKUATAN TARIK,
KEKERASAN, DAN STRUKTUR MIKRO PADA PENGELASAN SMAW
STAINLESS STEEL 312 DENGAN VARIASI ARUS LISTRIK” dalam
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Mekanikal/article/view/10466, diakses pada
tanggal 25 Agustus 2019.
Marwanto Arif, 2007, “SHIELD METAL ARC WELDING” dalam
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/Materi%20PPM%20SMAW%20pakem.pdf,
diakses pada tanggal 25 Agustus 2019.
Modul Pengelasan SMAW, 2019, “Modul praktek Pengelasan SMAW” dalam
http://mesin.polimdo.ac.id/wp-content/uploads/2019/02/Modul-Pengelasan-SMAW.pdf,
diakses pada tanggal 26 Agustus 2019.
Putra Deddy Kuswandy, 2017, “PENGARUH PROSES PENGELASAN SMAW (SHIELDED
METAL ARC WELDING) TERHADAP LAJU KOROSI MATERIAL BAJA ST 37 PADA
DAERAH HAZ DAN BASE METAL DENGAN VARIASI AMPERE 120,160,200”
dalam http://eprints.ums.ac.id/53700/, diakses pada tanggal 25 Agustus 2019.
SUKAINI,TARKINA,FANDI, 2013, “Teknik Las SMAW 2“ dalam
http://bsd.pendidikan.id/data/2013/kelas_10smk/Kelas_10_SMK_Teknik_Las_SMAW_2
.pdf, diakses pada tanggal 25 Agustus 2019.
Trinova Budi Santoso, Solichin, & Prihanto Tri Hutomo, 2015, “PENGARUH KUAT ARUS
LISTRIK PENGELASAN TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN STRUKTUR
MIKRO LAS SMAW DENGAN ELEKTRODA E7016” dalam
http://journal.um.ac.id/index.php/teknik-mesin/article/view/5361, diakses pada tanggal 25
Agustus 2019.

14