Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 Sediaan Parenteral
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi - bagi yang bebas dari
mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini antara lain sediaan
parental preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus). Sediaan parental
merupakan jenis sediaan yang unik di antara bentuk sediaan obat terbagi - bagi, karena
sediaan ini disuntikan melalui kulit atau membran mukosa ke bagian tubuh yang paling
efesien, yaitu membran kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi
mikroba dan dari bahan - bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian
yang tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus
dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah
kontaminasi fisik, kimia atau mikrobiologis (Priyambodo, B., 2007).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang dikemas dalam
wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya laruitan obat dalam air yang bisa diberikan
secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat
menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler (DepKes., 1995).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, hal 10 larutan intravena volume besar adalah
injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih
dari 100 mL.
Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100 ml yang diberikan
melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok. Asupan air dan
elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan minuman dan dikeluarkan dalam jumlah
yang relatif sama, rasionya dalam tubuh adalah air 57%; lemak 20,8%; protein 17,0%;
serta mineral dan glikogen 6%. Ketika terjadi gangguan hemostatif, maka tubuh harus
segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit larutan
untuk infus intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel (Lukas, Syamsuni, H.A.,
2006).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III halaman 12, infus intravenous adalah sediaan
steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis
terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam vena, dengan volume relatife banyak.
Kecuali dinyatakan lain, infus intravenous tidak diperbolehkan mengandung bakteriasida
dan zat dapar. Larutan untuk infus intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel.
Injeksi volume besar atau injeksi yang dimaksudkan untuk pemberian langsung ke
dalam pembuluh darah vena harus steril dan isotonis dengan darah, dikemas dalam
wadah tunggal berukuran 100 mL - 2000 mL. Tubuh manusia mengandung 60 air dan
terdiri atas cairan intraseluler (di dalam sel), 40 yang mengandung ion-ion K+, Mg+,
sulfat, fosfat, protein serta senyawa organik asam fosfat seperti ATP, heksosa,
monofosfat dan lain-lain. Air mengandung cairan ekstraseluler (di luar sel) 20 yang
kurang lebih mengandung 3 liter air dan terbagi atas cairan intersesier (diantara kapiler)
15 dan plasma darah 5 dalam sistem peredaran darah serta mengandung beberapa ion
seperti Na+, klorida dan bikarbonat (Anief., 2008).
Menurut Anief tahun 2008 Injeksi dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Injeksi intrakutan atau intradermal (i.c)
Biasanya berupa larutan atau suspensi dalam air, volume yang disuntikan sedikit (0,1-
0,2 mL). digunakan untuk tujuan diagnosa.
2. Injeksi subkutan atau hipoderma (s.c)
Umumnya larutan isotonus, jumlah larutan yang disuntikan tidak lebih dari 1 mL.
Disuntikan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam “alveola”, kulit mula-mula
diusap dengan cairan desinfektan (etanlo 70%). Dapat ditambahkan vasokonstriktor
seperti epinefrina 0,1% untuk melokalisir efek obat. Larutan harus sedapat mungkin
isotonus, sedangpH-nya sebaiknya netral, maksudkan untuk mengurangi iritasi
jaringan dan mencegah kemungkinan terjadi nekrosis (mengendornya kulit).
Jika tidak disuntikan secara infus, volume injeksi 3 Lt sampai 4 Lt sehari, masih dapat
disuntikkan secara subkutan dengan penambahan hialuronidase ke dalam injeksi atau
jika sebelumnya disuntik hialuronidase.
3. Injeksi intramuscular (i.m)
Merupakan larutan atau suspense dalam air atau minyak atau emulsi. Disuntikkan
masuk otot daging dan volume sedapat mungkin tidak lebih dari 4 mL. Penyuntikan
volume besar dilakukan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit, sedapat mungkin
tidak lebih dari 4 mL.
Ke dalam otot dada dapat disuntikkan sampai 200 mL, sedang otot lain volume yang
disuntikkan lebih kecil.
4. Injeksi intravenus (i.v)
Merupakan larutan, dapat mengandung cairan yang tidak menimbulkan iritasi yang
dapat bercampur dengan air, volume 1 mL sampai 10 mL.
Larutan ini biasanya isotonus atau hipertonus. Bila larutan hipertonus maka disuntikan
perlahan-lahan. Jika larutan yang diberikan banyak umumnya lebih dari 10 mL
disebut infus, larutan diusahakan supaya isotonus dan diberikan dengan kecepatan 50
tetes tiap menit dan lebih baik pada suhu badan.
Emulsi minyak-air dapat diberikan, asal ukuran butiran minyak cukup kecil (emulsi
mikro). Bentuk suspensi atau emulsi makro tidak boleh diberikan melalui intravena.
5. Injeksi intraarterium (i.a)
Umumnya berupa larutan, dapat mengandung cairan non-iritan yang dapat bercampur
dengan air, volume yang disuntikan 1 mL sampai 10 mL dan digunakan bila
diperlukan efek obat yang segera dalam daerah perifer.
6. Injeksi intrakor atau intrakardial (i.k.d)
Berupa larutan, hanya digunakan untuk keadaan gawat, dan disuntikan ke dalam otot
jantung atau ventrikulus.
7. Injeksi intratekal (i.t), intraspinal, intradural
Berupa laturan harus isotonus, sebab sirkulasi cairan cerebropintal adalah lambat,
meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonus. Larutan harus
benar-benar steril, bersih sebab jaringan syaraf daerah anatomi di sini sangat peka.
8. Injeksi intrakulus
Berupa larutan atau suspense dalam air yang disunikan ke dalam cairan sendi dalam
rongga sendi.
9. Injeksi subkonjungtiva
Berupa larutan atau suspensi dalam air yang untuk injeksi selaput lendir mata bawah,
umumnya tidak lebih dari 1 mL.
10. Injeksi yang digunakan lain:
a. Intraperitoneal (i.p) disuntikkan langusng ke dalam rongga perut, penyerapan
cepat, bahaya infeksi besar dan jarang dipakai.
b. Peridural (p.d) ekstra dural, disuntikan ke dalam ruang epidural, terletak diatas
durameter, lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang.
c. Intrasisternal (i.s) disuntikkan ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada
otak.
 Tetapan Isotonis
Tabel II.1. Tetapan Isotonis
Sumber : Farmakope Indonesia Edisi IV (1995)

Osmolarita (M osmole/Liter) Tonisitas

> 350 Hipertonis


329 – 350 Sedekit hipertonis
270 – 328 Isotonis
250 - 269 Sedikit hipotonis
0 - 249 Hipotonis

 Syarat-Syarat Infus
1. Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan dan efek toksis.
2. Jernih, berarti tidak ada partikel padat.
3. Tidak berwarna, kecuali obatnya memang berwarna.
4. Sedapat mungkin isohidris, pH larutan sama dengan darah dan cairan tubuh lain yakni
7,4.
5. Sedapat mungkin isotonis, artinya mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan
darah atau cairan tubuh yang lain tekanan osmosis cairan tubuh seperti darah, air
mata, cairan lumbai dengan tekanan osmosis larutan NaCl 0,9 %.
6. Harus steril, suatu bahan dinyatakan steril bila sama sekali bebas dari mikroorganisme
hidup dan patogen maupun non patogen, baik dalam bentuk vegetatif maupun dalam
bentuk tidak vegetatif (spora).
7. Bebas pirogen, karena cairan yang mengandung pirogen dapat menimbulkan demam.
Menurut Co Tui, pirogen adalah senyawa kompleks polisakarida dimana mengandung
radikal yang ada unsur N, dan P. Selama radikal masih terikat, selama itu dapat
menimbulkan demam dan pirogen bersifat termostabil.

 Keuntungan Sediaan Infus


1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat.
2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.
3. Biovaibilitas obat dalam traktus gastrointenstinalis dapat dihindarkan.
4. Obat dapat diberikan kepada penderita sakit keras atau dalam keadaan koma.
5. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinal dapat dihindarkan.
 Kerugian Sediaan Infus
1. Rasa nyeri saat disuntikkan apalagi kalau harus diberikan berulang kali.
2. Memberikan efek fisikologis pada penderita yang takut suntik.
3. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hapir tidak mungkin diperbaiki terutama
sesudah pemberian intravena.
4. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita dirumah sakit atau ditempat praktek
dokter oleh perawat yang kompeten.
5. Lebih mahal dari bentuk sediaan non steril dikarenakan ketatnya persyaratan yang
harus dipenuhi (steril, bebas pirogen, jernih, praktis dan bebas partikel).

 Fungsi Pemberian Infus


1. Dasar nutrisi, kebutuhan kalori untuk pasien dirumah sakit harus disuplai via
intravenous. Intravenous seperti protein dan karbohidrat.
2. Keseimbangan elektrolit digunakan pada pasien yang shock, diare, mual, muntah,
membutuhkann cairan inrravenous.
3. Pengganti cairan tubuh seperti dehidrasi.
4. Pembawa obat obat. Contohnya seperti antibiotik (Voight., 1995).

 Sterilisasi
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara
tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat
penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan
bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan
menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dasar
proyeksi kinetis angka kematian mikroba (Lachman., 1994).
Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas,
penggunaan bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama
dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa
kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Sedangkan
sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan
metode didasdarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan (Hadioetomo, R. S., 1985).
Pada umumnya metode sterilisasi ini digunakan untuk sediaan farmasi dan bahan-
bahan yang dapat tahan terhadap temperatur yang dipergunakan dan penembusan uap air,
tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air tersebut.metode ini juga
dipergunakan untuk larutan dalam jumlah besar, alat – alat gelas, pembalut operasi dan
instrumen. Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak, minyak lemak, dan
sediaan-sediaan lain yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk
terbuka yang mungkin rusak oleh uap air jenuh (Ansel., 1989).
Metode-metode sterilisasi menurut Ansel , yakni:
1. Sterilisasi uap (lembab panas), yakni sterilisasi yang dilakukan dalam autoklaf dan
menggunakan uap air dengan tekanan.
2. Sterilisasi panas kering, yakni sterilisasi yang biasa dilakukan dengan oven pensteril
yang dirancang khusus untuk tujuan sterilisasi. Oven dapat dipanaskan dengan gas
atau listrik dan umumnya temperatur diatur secara otomatis.
3. Sterilisasi dengan penyaringan, yakni sterilisasi yang tergantung pada penghilangan
mikroba secara fisik dengan adsorpsi pada media penyaring atau dengan mekanispe
penyaringan, digunakan untuk sterilisasi larutan yang tidak tahan panas. Sediaan obat
yang disterilkan dengan cara ini, diharuskan menjalani pengesahan yang ketat dan
memonitoring karena efek produk hasil penyaringan dapat sangat dipengaruhi oleh
banyaknya mikroba dalam larutan yang difiltrasi.
4. Sterilisasi gas, sterilisasi gas dilakukan pada senyawa-senyawa yang tidak tahan
terhadap panas dan uap dimana dapat disterilkan dengan cara memaparkan gas etilen
oksida atau protilen oksida. Gas-gas ini sangat mudah terbakar bila tercampur dengan
udara, tetapi dapat digunakan dengan aman bila diencerkan dengan gas iner seperti
karbondioksida, atau hidrokarbon terfluorinasi yang tepat sesuai.
5. Sterilisasi dengan radiasi pengionan, yakni teknik-teknik yang disediakan untuk
sterilisasi beberapa jenis sediaan-sediaan farmasi dengan sinar gama dan sinar-sinar
katoda, tetapi penggunaan teknik-teknik ini terbatas karena memerlukan peralatan
yang sangat khusus dan pengaruh-pengaruh radiasi pada produk-produk dan wadah-
wadah.

 Wadah
Wadah berhubungan erat dengan produk. Tidak ada wadah yang tersedia sekarang ini
yang benar - benar tidak reaktif, terutama dengan larutan air. Sifat fisika dan kimia
mempengaruhi kestabilan produk tersebut, tetapi sifat fisika diberikan pertimbangan
utama dalam pemilihan wadah pelindung (Lachman., 1994).
Wadah terbuat dari berbagai macam bahan, wadah plastik, wadah gelas, dan wadah
dari karet. Wadah plastik, bahan utama dari plastik yang digunakan untuk wadah adalah
polimer termoplastik, unit struktural organik dasar untuk masing - masing type yang
biasa terdapat dalam bidang medis. Sesuai dengan namanya, polimer termoplastik
meleleh pada temperatur yang meningkat. Wadah plastik digunakan terutama karena
bobotnya ringan, tidak dapat pecah, serta bila mengandung bahan penambah dalam
jumlah kecil, mempunyai toksisitas dan reaktivitas dengan produk yang rendah. Suatu
golongan plastik baru, poliolefin, patut disebut secara khusus, yang saat ini mendapat
perhatian dalam bidang parenteral adalah polipropilen dan kopolimer polietilen -
polietilen (Lachman., 1994).
Wadah Gelas masih tetap merupakan bahan pilihan untuk wadah produk yang dapat
disuntikkan. Gelas pada dasarnya tersusun dari silkon dioksida tetrahedron, dimodifikasi
secara fisika dan kimia dengan oksida - oksida seperti oksida natrium, kalium, kalsium,
magnesium, alumunium, boron, dan besi. Gelas yang paling tahan secara kimia hampir
seluruhnya tersusun dari silikon dioksida, tetapi gelas tersebut relatif rapuh dan hanya
dapat dilelehkan dan dicetak pada temperatur tinggi (Lachman., 1994).
I. PREFORMULASI ZAT AKTIF (Z.A)
1. Glukosa / Dextrose / Dekstrosa
 Pemerian : Hablur tidak bertwarna, serbuk hablur atau serbuk granul
putih, tidak berbau, rasa manis. .( KemenKes, 2014, hal 296)
 Kelarutan : Sangat Mudah larut dalam air mendiidh mudah larut
dalam air, larut dalam etanol mendidih, sukar larut dalam etanol.(
KemenKes, 2014, hal 296)
 Titik leleh / titik lebur : 83oC (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6nd ed:
233)
 Dosis lazim : 10 mg-100mg (FI ed III hal 991)
 Daftar obat : Obat keras
 OTT : Terhadap oksidator kuat
( Martindale ed 29,hal 1277 )
 pH : 3,5 – 6,5 ( Martindale ed 29,hal 1277 )
 Tonisitas : Kelengkapan : Δtb = 0,091; C = 5
( Merck Index ed 8 )

II. PREFORMULASI ZAT EKSIPIEN

1. Natrii Choridum
 BM : 58,44
 Pemerian: Hablur Heksahedral, tidak berwarna atau serbuk hablur putih,
tidak berbau rasa asin.(Farmakope Indonesia III, hal 403-404)
 Kegunaan: Sumber ion klorida dan ion natrium. (Farmakope Indonesia III,
hal 403-404)
 Kelarutan: larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan
dalam lebih kurang 10 bagian gliserol P, sukar larut dalam etanol
(95%)P.(Farmakope Indonesia III, hal 403-404)
 Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal:
Untuk pembuatan larutan isotonik intravena dan preparat sediaan mata
dengan konsentrasi kurang dari 0,9 %. (Handbook of Pharmaceutical
Excipient, 6nded: 637-639.)
 Higroskopisitas: Higroskopis diatas 75 % kelembaban relatif (Handbook of
Pharmaceutical Excipient, 6nded: 637-639.)
 Titik leleh : 804 ˚C (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6nded: 637-
639.)
 Densitas : 1,20 g/cm3 untuk larutan cair (Handbook of Pharmaceutical
Excipient, 6nd ed: 637-639.)
 Penyimpanan: Disimpan ditempat tertutp, dingin dan kering (Handbook of
Pharmaceutical Excipient, 6nded: 637-639.)

2. Aqua Pro Injecctionum (a.p.i)


 Pemerian: cairan, jernih, tidak berwarna, tidak berbau Kegunaan: air untuk
injeksi
 Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal:
Dapat digunakan sebagai air untuk sediaan injeksi.
 Penyimpanan: dalam wadah dosis tunggal, botol kaca atau plastik, tidak
lebih besar dari 1 liter.( Farmakope Indonesia IV, hal. 112)
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh., 2008. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Press

Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi ke 4. Jakarta : Penerbit

Universitas Indonesia

DepKes., 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik

Indonesia

Hadioetomo, R. S., 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta : PT. Gramedia

KemenKes., 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia

Lachman, Lieberman, Kanig., 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. Jakarta : Penerbit

Universitas Indonesia

Lukas, Syamsuni, H.A., 2006. Ilmu Resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Priyambodo, B., 2007. Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta : Global Pustaka Utama

Rowe, et al., 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients. London : Pharmaceutical

Press.

Voight, R., 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press