Anda di halaman 1dari 10

20 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a

Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

Evaluasi Penggunaan Antibiotik di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr. Margono
Soekarjo Purwokerto Periode Oktober-Desember 2017

Evaluation of Antibiotic Use in Ward of Internal Medicine RSUD Prof. Dr. Margono
Soekarjo October-December Period 2017

Putri Dwi Lestari, Abstrak


Esti Dyah Utami, Latar Belakang: Tingginya prevalensi penyakit infeksi di Indonesia
Masita Wulandari Suryoputri* menyebabkan penggunaan antibiotik meningkat. Penggunaan antibiotik
yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi yang dapat
meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan biaya kesehatan. Peneliti
Jurusan Farmasi melakukan evaluasi penggunaan antibiotik di Bangsal Penyakit Dalam
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang bertujuan untuk
Universitas Jenderal Soedirman mengetahui jumlah penggunaan antibiotik dan mengevaluasi kualitas
penggunaan antibiotik di rumah sakit tersebut.
Jalan Dr Soeparno Kampus Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif
Karangwangkal, Purwokerto evaluatif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan data
dilakukan secara retrospektif dengan cara simple random sampling
sebanyak 100 rekam medik. Kemudian 100 rekam medik tersebut
email :
dilakukan analisis secara kuantitatif menggunakan metode DDD 100
masitawulandarisuryoputri@gmail.com
patient days dan secara kualitatif menggunakan kriteria gyssens
Hasil: Hasil analisis kuantitatif menunjukan bahwa dari 100 rekam medik
Kata kunci: Evaluasi Penggunaan terdapat 14 jenis antibiotik yang digunakan dengan nilai DDD 100 patient
Antibiotik, Defined Daily Dose days sebesar 60,94. Golongan antibiotik terbanyak adalah sefalosporin
(45,19) dengan jenis antibiotik terbanyak adalah ceftriaxone (36,15).
Adapun hasil analisis kualitatif pada penelitian ini antara lain kategori IIA
(0,74%); kategori IIB (2,96%); kategori IIIA (1,48%); kategori IIIB
(0,74%); kategori IVA (62,96%); kategori IVB (8,89%); kategori V
(13,33%); kategori VI (8,89%).
Kesimpulan: Evaluasi penggunaan antibiotik secara kuantitatif dari nilai
DDD didapat 60,94 dan secara kualitatif didapatkan hasil tidak efektif
dalam meresepkan antibiotik.

Keywords: Evalution of use Antibiotic, Abstrack


Defined Daily Dose Background: The high prevalence of infectious diseases in Indonesia
causes increased use of antibiotics. Improper use of antibiotics can trigger
resistance that can increase morbidity, mortality and health costs.
Researchers evaluated the use of antibiotics in the Internal Medicine Ward
of RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto which aims to determine
the number of antibiotic uses and evaluate the quality of antibiotic use in
the hospital.
Method: This research is an observational descriptive evaluative study
with qualitative and quantitative approaches. Data retrieval was done
retrospectively by simple random sampling as many as 100 medical
records. Then the 100 medical records were analyzed quantitatively using
DDD method 100 patient days and qualitatively using the gyssens criteria.
Result: The results of quantitative analysis showed that of the 100 medical
records there were 14 types of antibiotics used, with DDD values of 100
patient days at 60.94. The most antibiotic group was cephalosporins
(45.19) with the most types of antibiotics being ceftriaxone (36.15). The
results of the qualitative analysis in this study include category IIA
(0.74%); category IIB (2.96%); category IIIA (1.48%); IIIB category
21 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

(0.74%); category IVA (62.96%); IVB category (8.89%); category V


(13.33%); category VI (8.89%).
Conclusion: Quantitative evaluation of antibiotic use of DDD values was
60.94 and qualitatively the results were not effective in prescribing
antibiotics.
22 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Agustus 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

Pendahuluan Metode Penelitian


Indonesia merupakan negara yang
memiliki prevalensi penyakit infeksi Desain Penelitian
cukup tinggi. Tingginya penyakit infeksi Penelitian ini merupakan observasional
akan semakin meningkatnya penggunaan deskriptif evaluatif dengan pendekatan
antibiotik. Peresepan antibiotik di rumah kualitatif menggunakan kriteria gyssens
sakit, terutama di Indonesia cukup tinggi dan pendekatan kuantitatif dengan
yaitu sekitar 44-97%, walaupun menggunakan metode DDD (Defined
terkadang tidak dibutuhkan atau Daily Dose). DDD adalah asumsi dosis
peresepan tersebut tanpa indikasi (Hadi et rata-rata penggunaan antibiotik per hari
al., 2008). Menurut Kemenkes RI (2015) untuk indikasi tertentu pada orang
ditemukan 30-80% pengunaan antibiotik dewasa. Pengambilan data dilakukan
tidak didasarkan pada indikasi yang tepat. secara retrospektif.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat
dapat memicu terjadinya resistensi Lokasi dan Waktu Penelitian
(WHO, 2014). Dampak adanya resistensi Penelitian dilakukan di bagian rekam
adalah dapat meningkatkan morbiditas,
medik bangsal penyakit dalam RSUD
mortalitas, serta biaya kesehatan
Prof.Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
(Pradipta et al., 2015).
Dalam penggunaan antibiotik, selama ± 6 bulan.
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
terbesar kedua di Banyumas terutama Populasi dan Sampel Penelitian
pada pasien cesar dengan nilai DDD 100 Populasi dalam penelitian ini adalah
patient days sebesar 76,20% (Kusuma et pasien yang menjalani rawat inap di
al., 2016). Selama 3 tahun terakhir, bangsal Penyakit Dalam RSUD Prof.
penyakit infeksi menjadi peringkat ke-3 Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
dari 10 kasus terbesar rawat inap periode Oktober-Desember 2017.
khususnya di bangsal penyakit dalam Sedangkan sampel yang digunakan
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Hal dalam penelitian ini adalah pasien rawat
ini menyebabkan penggunaan antibiotik inap di Bangsal Penyakit Dalam RSUD
di bangsal penyakit dalam RSUD Prof. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Dr. Margono Soekarjo meningkat yang mendapat terapi antibiotik selama
(RSMS, 2017). periode Oktober-Desember 2017.
Untuk memastikan dan Sampel yang digunakan sebanyak 100
mengetahui kerasionalan penggunaan rekam medik pasien yang pengambilan
antibiotika pada pasien rawat inap di datanya dilakukan dengan metode
bangsal penyakit dalam RSUD Prof. Dr. simpel random sampling pada rekam
Margono Soekarjo Purwokerto, maka medik periode tersebut.
diperlukan evaluasi terhadap penggunaan
antibiotik. Evaluasi dapat dilakukan Alur Penelitian
secara kuantitatif menggunakan metode Melakukan izin penelitian di bagian rekam
DDD (Defined Daily Dose) 100 patient medik pasien rawat inap bangsal penyakit
days maupun secara kualitatif dalam RSMS
menggunakan kriteria gyssens
(Kemenkes RI, 2011). Mengumpulkan data mengenai pasien rawat
inap pengguna antibiotik periode Oktober-
Desember 2017 di bangsal penyakit dalam

Mencatat data penelitian dalam Lembar


Pengumpul Data yang terdiri dari: data
karakteristik dan data penggunaan
antibiotik
23 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

Sumber Data
Data pasien, berupa : nomor rekam
Evaluasi Evaluasi Evaluasi medik pasien, inisial pasien, usia, BB,
deskriptif kuantitatif kualitatif jenis kelamin, tanggal masuk dan keluar
dengan metode dengan rumah sakit, diagnosa dokter, riwayat
DDD 100 kriteria penyakit, data klinik, pemeriksaan
patients day gyssens laboratorium, seperti Leukosit, AST,
Data Hasil DDD Kategori ALT, ClCr/SCr. Sedangkan, data
karakteristik 100 patients 0-IV penggunaan antibiotika, berupa : nama
pasien day antibiotika, rute pemberian, dosis
antibiotika, frekuensi pemberian, waktu
Melakukan penyajian hasil pemberian, lama penggunaan antibiotika.

Gambar 1. Alur Penelitian Analisis Data


Analisis deskriptif dilakukan
Instrumen Penelitian terhadap data karakteristik pasien (jenis
Instrumen yang digunakan dalam kelamin, usia, pola penyakit, pola
penelitian adalah rekam medik pasien peresepan dan lama rawat inap) yang
rawat inap di bangsal penyakit dalam hasilnya disajikan dalam bentuk tabel
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo persentase.
sebagai sumber data dan lembar Evaluasi kuantitas penggunaan
pengumpul data yang dibuat dalam antibiotik dilakukan dengan menghitung
bentuk tabel, seperti yang tertera dalam nilai DDD 100 patient days dengan
Gambar 2. rumus perhitungan sebagai berikut
(Kemenkes RI, 2011) :
DDD 100 patient days =
(𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗ℎ 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑗𝑗 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑗𝑗𝑗ℎ 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗) 100
𝑗
𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑗𝑗𝑗 𝑗𝑗𝑗 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑗𝑗𝑗𝑗 (𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑗𝑗𝑗)

Evaluasi kualitas penggunaan


antibiotik dilakukan dengan
mengumpulkan data rekam medik pasien
(indikasi, durasi/ lama pemberian, dosis,
frekuensi, cara/rute pemberian)
kemudian dianalisis dengan kriteria
gyssens. Kriteria gyssens merupakan alur
penilaian kualitatif penggunaan
antibiotik yang tercantum dalam
pedoman pelayanan kefarmasian untuk
terapi antibiotik (Kemenkes RI, 2011).
Hasil kriteria gyssens akan disajikan
dalam bentuk tabel berupa persentase
kerasionalan atau ketidakrasionalan
dalam pemberian antibiotik.

Hasil dan Pembahasan


Gambar 2. Lembar Pengumpul Data A. Karakteristik Pasien
1. Jenis Kelamin
24 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

Tabel 1. Hasil Karakteristik Pasien Rawat menua, yaitu proses menghilangnya


Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSMS secara perlahan kemampuan jaringan
Berdasarkan Jenis Kelamin
Kategori % untuk memperbaiki diri atau mengganti
Laki-laki 56 diri serta mempertahankan struktur dan
Perempuan 44 fungsi normalnya, sehingga tidak dapat
Total 100 bertahan terhadap penyakit (termasuk
Hasil karakteristik pasien infeksi) (Kemenkes RI, 2013).
berdasarkan jenis kelamin pasien laki- 3. Pola Penyakit
laki lebih banyak dibandingkan pasien Tabel 3. Hasil Karakteristik Pasien Rawat
perempuan yaitu sebesar 56%. Hasil Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSMS
penelitian ini serupa dengan hasil Berdasarkan Pola Penyakit
penelitian Nurnguati (2012) dan Mulyati Gangguan %
(2012) menunjukkan bahwa pasien Sistem Pernafasan 22
rentan terkena infeksi pada laki-laki Sistem Pencernaan 18
lebih banyak daripada pasien Sistem Kardiovaskular 13
perempuan dengan persentase masing- Sistem Ekskresi 9
masing sebesar 62,10% dan 77,78%. Sistem Endokrin 6
Sistem Reproduksi 6
2. Usia Sistem Hematologi 5
Sistem Neurologi 5
Tabel 2. Hasil Karakteristik Pasien Rawat
Sistem Metabolisme 4
Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSMS
Kulit 2
Berdasarkan Usia
Lain-lain 10
Kategori Keterangan % Total 100
(Tahun)
Balita 0-5 1 Gangguan sistem pernafasan
Anak-anak 5-11 1 merupakan penyakit terbanyak pada
Remaja 12-25 12 pasien rawat inap yaitu sebesar 22%.
Dewasa 26-45 21 Gangguan sistem pernafasan yang
Lansia 46-65 47 dialami pasien terdiri dari Bronchitis
Manula >65 18
(6%), Tuberculosis (4%), Pneumonia
Total 100
(3%), Chronic Obstructive Pulmonary
Jumlah penggunaan antibiotik Disease (3%), Bronchopneumoni (2%),
berdasarkan usia dari 100 pasien yang dan lain-lain sebesar 4%. Sebagian besar
menerima peresepan antibiotik, gangguan sistem pernafasan tersebut
sebagian besar merupakan pasien lansia disebabkan oleh bakteri dan adanya
(46-65 tahun) sebanyak 47%. Menurut polutan yang mengiritasi seperti polusi
Kemenkes RI (2013) menyatakan udara dan asap rokok (Depkes RI,
dengan bertambahnya umur 2005). Hasil penelitian ini sejalan
menyebabkan fungsi fisiologis, dan dengan penelitian Elfatesa (2016) yang
daya tahan tubuh mengalami penurunan menyebutkan bahwa gangguan sistem
akibat proses degeneratif (penuaan) pernafasan merupakan gangguan sistem
sehingga rentan terkena infeksi penyakit terbanyak di Bangsal Penyakit Dalam
menular seperti tuberkulosis, diare, RSUD Dr. Achmad Darwis Suliki.
pneumonia dan hepatitis.
Penyakit pada usia lanjut (lansia)
sering berbeda dengan dewasa muda,
karena penyakit pada lansia merupakan
gabungan dari kelainan-kelainan yang
timbul akibat penyakit dan proses
25 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

4. Pola Peresepan kedua, terutama pada bakteri gram


Tabel 4. Hasil Karakteristik Pasien Rawat negatif. (BPOM, 2015).
Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSMS Tabel 4.1 Hasil Karakteristik Pasien Rawat
Berdasarkan Persentase Penggunaan Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSMS
Antibiotik Berdasarkan Rute Pemberian Antibiotik
Golongan Jenis Antibiotik Ʃ % Rute Jumlah Persentase
Inj. Gentamicin 3 2,22 Pemberian (%)
Aminoglikosida Inj. Streptomicin 1 0,774 Intravena 114 84,44
Total 4 2,96 Oral 21 15,56
Inj. Ciprofloxacin 10 7,41 Total 135 100
PO. Ciprofloxacin 6 4,44
Fluoroquinolone Inj. Levofloxacin 2 1,48 Rute pemberian yang digunakan
PO. Ofloxacin 1 0,74 dalam pemberian antibiotika melalui
Total 19 14,07 intravena dan oral. Rute pemberian yang
PO. Clindamicin 2 1,48 paling banyak digunakan adalah
Lincosamides
Total 2 1,48 intravena sebesar 84,44%. Pemberian
Inj. Metronidazole 1 0,74
antibiotik secara intravena menjadi
Nitroimidazole PO. Metronidazole 1 0,74
Total 2 1,48 pilihan rute pemberian yang paling
Inj. Cefadroxil 1 0,74 sering digunakan, karena rute
PO. Cefadroxil 2 1,48 pemberian oral menjadi pilihan untuk
Inj. Cefazolin 2 1,48 terapi infeksi kategori ringan
PO. Cefixim 8 5,93 (Kemenkes RI, 2011). Rute pemberian
Sefalosporin
Inj. Cefotaxim 11 8,15 secara intravena biasanya digunakan
Inj. Ceftazidim 12 8,89
Inj. Ceftriaxon 71 52,59
untuk terapi infeksi kategori sedang
Total 107 72,25 hingga berat sehingga onset lebih cepat
PO. Doxicyclin 1 0,74 dan bioavailabilitas lebih tinggi akan
Tetracycline
Total 1 0,74 menyebabkan efek aksi antibiotik dalam
TOTAL 135 100 menghambat atau membunuh kuman
Berdasarkan tabel 4 terdapat 14 penyebab infeksi akan lebih maksimal
jenis antibiotik yang diresepkan, dimana (Hakim, 2012).
antibiotik golongan sefalosporin Tabel 5. Hasil Karakteristik Pasien Rawat
merupakan golongan antibiotik yang Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSMS
paling banyak digunakan (79,25%). Hal Berdasarkan Lama Rawat Inap
ini disebabkan karena antibiotik Lama Rawat Inap %
golongan sefalosforin memiliki ≤ 7 hari 79
spektrum luas yang dapat digunakan > 7 hari 21
Total 100
sebagai terapi empiris pada penyakit
infeksi yang belum diketahui bakteri Menurut Kemenkes RI (2011) lama
penyebab infeksi(BPOM, 2015). terapi penyakit infeksi adalah 5-7 hari.
Sehingga pembagian lama rawat inap
Golongan sefalosforin yang
paling banyak diresepkan pada dilakukan dengan membagi menjadi 2
penelitian ini adalah ceftriaxone kelompok yaitu ≤ 7 hari dan > 7 hari.
(52,59%), ceftazidime (8,89%), dan Tabel 5 memperlihatkan bahwa
cefotaxim (8,15%). Antibiotik tersebut frekuensi lama hari rawat inap terbanyak
termasuk dalam golongan sefalosporin adalah lama rawat inap ≤7 hari sebesar
generasi ketiga yang memiliki aktivitas 79%.
menghambat pertumbuhan bakteri lebih
luas dibandingkan dengan generasi
26 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

B. Evaluasi Kuantitatif Penggunaan besar nilai DDD 100 patient days


Antibiotik menunjukan bahwa semakin besar pula
tingkat penggunaan atau kuantitas
Hasil analisis kuantitatif
penggunaan antibiotik (Sari et al.,
penggunaan antibiotik secara lengkap
2016). Menurut Mahmudah et al. (2016)
dapat dilihat pada tabel 6. Berdasarkan
semakin besar kuantitas penggunaan
data yang diperoleh dari 100 sampel
antibiotik menunjukan bahwa dokter
rekam medik pasien terdapat 14 jenis
kurang selektif dalam peresepan
antibiotik yang digunakan di Bangsal
antibiotik, sehingga lebih mendekati
Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto selama prinsip ketidakrasionalan penggunaan
periode Oktober-Desember 2017 antibiotik dan sebaliknya.
dengan total nilai DDD (Defined Daily Tingginya nilai DDD pada
Dose) 100 patient days sebesar 60,94. penelitian ini menunjukkan adanya
Hal ini berarti bahwa dari 100 pasien, ketidakselektifan terhadap peresepan
total konsumsi antibiotik setiap harinya antibiotik, sehingga dapat dikatakan
sebesar 60,94. Golongan antibiotik yang belum memenuhi prinsip penggunaan
memiliki nilai DDD (Defined Daily antibiotik yang rasional (Mahmudah et
Dose) 100 patient days paling tinggi al., 2016). Ketidakselektifan tersebut
adalah golongan sefalosporin dengan terjadi karena tidak adanya pemeriksaan
nilai DDD 100 patient days sebesar mikrobiologi / kultur bakteri sebelum
45,19. Artinya dari 100 pasien, total dilakukan pemilihan terapi antibiotik.
konsumsi antibiotik golongan Selektifitas pemberian antibiotik dapat
sefalosporin setiap harinya sebesar menurunkan kuantitas penggunaan
45,19. antibiotik, sehingga dapat mendekati
Tabel 6. Hasil Kuantitas Penggunaan prinsip penggunaan antibiotik yang
Antibiotik Pasien Rawat Inap di Bangsal rasional. Oleh karena itu, untuk
Penyakit Dalam RSMS mengetahui kerasionalan penggunaan
antibiotik diperlukan penelitian secara
kualitatif mengenai rasioanalitas
penggunaan antibiotik.
C. Evaluasi Kualitas Penggunaan
Antibiotik
Hasil evaluasi penggunaan
antibiotik secara lengkap dapat dilihat
pada tabel 7.
Tabel 7. Hasil Kualitas Penggunaan
Antibiotik Pasien Rawat Inap di Bangsal
Penyakit Dalam RSMS

Ceftriaxone merupakan antibiotik


golongan sefalosforin generasi ketiga
yang memiliki nilai DDD 100 patient
days tertinggi yaitu sebesar 36,15.
Artinya adalah dari 100 pasien, total
konsumsi antibiotik jenis ceftriaxone
setiap harinya sebesar 36,15. Semakin
27 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

Hasil evaluasi penggunaan yang hilang sehingga tidak dapat


antibiotik secara kualitatif dilihat sesuai dievaluasi. Berdasarkan hasil penelitian
kriteria gyssens. Kriteria gyssens terdiri terdapat 12 rekam medik (8,89%) yang
dari 0-VI kategori. Dari tabel 7 hasil tidak lengkap. Berdasarkan hasil
evaluasi penggunaan antibiotik secara tersebut berarti analisis berhenti di
kualitatif pada kategori IVA memiliki kategori VI dan tidak dapat dilanjutkan
presentase terbesar yaitu 62,96 %, untuk melakukan analisis ke tahap
kategori V sebesar 13,33%, kategori VI berikutnya,
dan IVB masing-masing sebesar 8,89%, Kategori IVB adalah terdapat
serta tidak ada persepan antibiotik yang antibiotik lain yang kurang toksik.
termasuk dalam kategori 0, I, dan IIC. Peresepan yang masuk dalam kategori
Peresepan antibiotik termasuk ini apabila antibiotik yang dipilih
dalam kategori IVA apabila antibiotik memiliki toksisitas yang sangat tinggi
yang dipilih memiliki efektifitas rendah dan masih ada alternatif lain yang
dan ada pilihan antibiotik lain yang lebih memiliki toksisitas rendah. Berdasarkan
efektif untuk dijadikan sebagai pilihan hasil analisa dalam penelitian ini
terapi. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa peresepan yang
kategori IVA merupakan kategori masuk dalam kategori IVB adalah
tertinggi yaitu sebanyak 85 resep sebanyak 12 peresepan (8,89%).
(62,96%). Jenis antibiotik yang paling Antibiotik yang kurang toksik dalam
banyak dalam kategori IVA adalah penelitian ini sebagian besar terlihat dari
ceftriaxone (47 peresepan) ditujukan adanya efek samping antibiotik yang
sebagai terapi empiris. Ceftriaxone lebih minimal.
merupakan jenis antibiotik golongan
Berdasarkan hasil lama penggunaan
sefalosporin generasi ketiga dengan antibiotik di RSUD Prof. Dr. Margono
aktivitas yang lebih luas dibandingkan Soekarjo antara 1-11 hari. Pada
dengan generasi kedua, terhadap bakteri penelitian ini lama penggunaan
gram negatif sehingga ditujukan sebagai antibiotik yang paling banyak diberikan
terapi empiris (BPOM, 2015). selama 3 hari (26%) dan 2 hari (20%).
Kategori V adalah kategori Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 8.
pengobatan tanpa indikasi. Pengobatan Tabel 8. Lama Penggunaan Antibiotik
tanpa indikasi yang dimaksud adalah Pasien Rawat Inap di Bangsal Penyakit
pemberian antibiotik saat tidak Dalam RSMS
menunjukkan adanya infeksi. Menurut Lama Jumlah Persentase
Kemenkes RI (2011) pasien dikatakan penggunaan
infeksi jika memenuhi 2 syarat diantara 1 hari 1 1%
kondisi berikut : peningkatan suhu (36,5 2 hari 20 20%
- 37,5ºC), peningkatan leukosit (3200 - 3 hari 26 26%
4 hari 10 10%
10.000/mm3), peningkatan RR (12- 5 hari 12 12%
20x/menit), serta peningkatan nadi (60 - 6 hari 14 14%
100x/menit). Berdasarkan data 7 hari 8 8%
penelitian yang didapat terdapat 18 8 hari 3 3%
peresepam (13,33%) yang termasuk 9 hari 2 2%
dalam kategori V. 10 hari 3 3%
11 hari 1 1%
Kategori VI merupakan kategori Total 100 100
data rekam medik tidak lengkap. Data
Standar terapi antibiotik pada
rekam medik dikatakan tidak lengkap
penyakit infeksi rata-rata berkisar dari 5
apabila terdapat halaman rekam medik
28 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan Daftar Pustaka


seterusnya (Dipiro et al., 2012).
BPOM, 2015, Pusat Informasi Obat
Peresepan antibiotik yang Nasional,
termasuk kedalam kategori II C adalah http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-
rute pemberian yang dipilih kurang tepat. 5-infeksi/51-antibakteri/512-
Kategori I adalah penggunaan antibiotik sefalosporin-dan-antibiotik-beta-
yang tidak tepat waktu. Kategori 0 adalah laktam-lainnya/5121, diakses
penggunaan antibiotik sudah tepat/bijak. tanggal 29 maret 2018.
Hasil penelitian pada kategori IIC, I dan
0 menunjukan tidak ada peresepan (0%) Hadi, U., Duerink, D.O., Lestari, E.S.,
artinya peresepan tersebut terdapat Nagelkerke, N.J., Keuter, M.,
masalah pada kategori sebelumnya, Huis In’t Veld, D., 2008, Audit Of
sehingga tidak dapat dievaluasi di Antibiotic Prescribing In Two
kategori tersebut. Governmental Teaching
Penggunaan antibiotik yang Hospitals In Indonesia, Clinical
kurang tepat dipengaruhi oleh beberapa Microbiology And Infection: The
faktor yaitu tidak ada data tes kultur Official Publication Of The
bakteri ataupun tes kepekaan antibiotik, European Society Of Clinical
kurangnya penggalian informasi terkait Microbiology And Infectious
kondisi pasien, dan pencatatan rekam Diseases, 14: 698–707.
medik yang kurang lengkap merupakan
faktor yang mempengaruhi penggunaan Hakim, 2012, Farmakokinetik Klinik,
antibiotik yang tidak rasional (Holloway, Bursa Ilmu, Yogyakarta, Hal 78.
2011).
Kemenkes RI, 2011, Pedoman
Simpulan Pelayanan Kefarmasian Untuk
Terapi Antibiotik, Kementerian
Total penggunaan antibiotik di Kesehatan Republik Indonesia,
Bangsal Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr. Jakarta.
Margono Soekarjo Purwokerto periode
Oktober-Desember sebanyak 14 jenis Kemenkes RI, 2013, Gambaran
antibiotik dengan nilai DDD 100 patient Kesehatan Lanjut Usia di
days sebanyak 60,94. Antibiotik yang Indonesia, Data dan Informasi
paling banyak digunakan adalah Kesehatan, Kementerian
antibiotik golongan sefalosporin generasi Kesehatan Republik Indonesia,
ketiga yaitu ceftriaxone dengan nilai Jakarta.
DDD sebesar 36,15.
Hasil analisis secara kualitatif Kemenkes RI, 2015, Penggunaan
penggunaan antibiotik menunjukan Antibiotik Bijak dan Rasional
bahwa kategori IVA (antibiotik tidak Kurangi Beban Penyakit Infeksi,
efektif) memiliki presentase terbesar http://www.depkes.go.id/article/p
yaitu 62,96 dan tidak ada persepan rint/15081100001/penggunaan-
antibiotik yang termasuk dalam kategori antibiotik-bijak-dan-rasional-
0 (penggunaan antibiotik sudah tepat / kurangi-beban-penyakit-infeksi,
bijak), kategori I (penggunaan antibiotik diakses 9 Februari 2018.
tidak tepat waktu), dan kategori IIC (rute
pemberian antibiotik tidak tepat). Kusuma, A.M., Githa F.G., Dwi N.W.,
Muzayanatul U., Nurdiyanti.,
Wahyu U., Sudarso., 2016,
29 | A c t a P h a r m a c i a e I n d o n e s i a
Maret 2018, 6(1) 20-28 ; ISSN: 2337-8433

Evaluasi Kuantitatif Penggunaan WHO, 2014, Antimicrobial Resistance,


Antibiotik pada Pasien Caesarean World Health Organization, India
Section di RSUD se-Kabupaten
Banyumas, Jurnal Farmasi
Indonesia, 8 (1) : 259-265.

Mahmudah, F., Sri, A.S., Sri, H., 2016,


Studi Penggunaan Antibiotik
Berdasarkan ATC/DDD dan DU
90% di Bagian Bedah Digestif di
Salah Satu Rumah Sakit di
Bandung, Jurnal Farmasi Klinik
Indonesia, Vol. 5 No. 4 hlm 293-
298.

Pradipta, I.S., Elis, R., Arrum D. K.,


Hartanto, H., Rizki, A., Ellin, F.,
Rizky, A., 2015, Three Years Of
Antibacterial Consumption In
Indonesian Community Health
Centers: The Application Of
Anatomical Therapeutic
Chemical/Defined Daily Doses
And Drug Utilization 90%
Method To Monitor Antibacterial
Use, Journal Of Family And
Community Medicine, 22 (2) :
101-105.

RSMS, 2017, 10 Besar Kasus Rawat Inap


SMF Penyakit Dalam di RSMS
RSUD Margono Soekarjo 2017,
http://www.rsmargono.go.id/rsm
s-opendata/dataset/view/10-
besar-kasus-rawat-inap-smf-
penyakit-dalam-di-rsms-rsud-
margono-soekarjo-
2017/?resource=1c054ca8-4976-
47ae-b293-2e675508e3b8,
diakses 9 Februari 2018.

Sari, A., Indah, S., 2016, Studi


Penggunaan Antibiotik Pasien
Pneumonia Anak di RS. PKU
Muhammadiyah Yoyakarta
dengan Metode Defined Daily
Dose (DDD), Jurnal Ilmiah Ibnu
Sina, 1(2), 151-162.