Anda di halaman 1dari 88

i

i
Halaman Judul

Asyiknya Bermain
Sampah Plastik

Nurli Dwinata

i
ASYIKNYA BERMAIN SAMPAH PLASTIK

Penulis : Nurli Dwinata


Penyunting : Annie Murtafi Amna, Febilya
Susanti, Rachmawati
Ilustrator sampul : Rachmawati
Penata Letak : Nurli Dwinata, Robiansyah

Foto Sampul dan ilustrasi per bab adalah koleksi


pribadi Nurli Dwinata.

Diterbitkan pada tahun 2019 oleh Yayasan


Bunga Bangsa

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya,
dilarang diperbanyak dalam bentuk apapun
tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam
hal pengutipan untuk keperluan penulisan
artikel atau karangan ilmiah.

ii
SAMBUTAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb,

Puji syukur kita


panjatkan kehadirat Allah
SWT atas limpahan
rahmat, karunia dan
inayah-Nya sehingga
penulisan buku yang
berjudul “Asyiknya
Bermain Sampah Plastik”
dapat selesai pada
waktunya. Buku ini
merupakan salah satu bentuk inovasi
pembelajaran untuk memahami secara lebih
mendalam tentang “Pendidikan Lingkungan
Hidup” pada anak usia dini, yang diberikan pada
anak usia Sekolah Dasar, khususnya di sekolah
Islam Bunga Bangsa. Sebagai orang tua, kami
merasa pelajaran “Pendidikan Lingkungan
Hidup” sangat bagus dalam membentuk
karakter anak sejak dini.
Inovasi pembelajaran yang tertuang
dalam buku ini, didasari pada fenomena yang
terdapat di lingkungan sekitar. Dimana

iii
tuntutan kebutuhan hidup mendorong kita agar
beradaptasi dengan lingkungan melalui berbagai
cara. Salah satu tuntutan kebutuhan hidup
adalah penggunaan kemasan produk sehari-hari
yang kebanyakan menggunakan bahan plastik
dengan pertimbangan praktis dan tahan lama.
Akan tetapi dampak dari penggunaan plastik
dapat mengakibatkan “kesengsaraan alam”
karena sifatnya yang tidak bisa terurai oleh
bakteri pengurai, terlebih jika dibuang
sembarangan tanpa proses daur ulang yang
benar. Oleh karena itu melalui buku ini,
pendidikan tentang pentingnya pengelolaan
lingkungan hidup, terutama pengelolaan sampah
plastik, diberikan dengan bahasa yang lugas dan
sederhana sesuai dengan kapasitas anak-anak
seusianya.
Buku ini juga berisi bagaimana menyikapi
fakta bahwa sampah plastik yang sangat
“meresahkan”, bisa menjadi “menyenangkan”,
ketika berproses menjadi sesuatu produk daur
ulang yang berguna. Ide kreatifitas yang
dituangkan dalam buku ini, dapat dijadikan
sebagai suatu motivasi kepada anak-anak
tentang pentingnya berkontribusi demi
perbaikan kualitas lingkungan di sekitar
mereka.

iv
Akhir kata, saya menyambut baik dengan
diterbitkannya buku cerita “Pendidikan
Lingkungan Hidup” kelas Valencia ini. Dengan
harapan buku ini dapat menjadi salah satu
implementasi program pembelajaran
peningkatan kesadaran dan kualitas lingkungan
di sekolah. Dimana kelak dapat dijadikan
sebagai pedoman dan acuan anak-anak untuk
menjaga lingkungan sekitar dan mampu
menjadikannya sebagai pribadi yang layak
untuk ditauladani dan memotivasi orang-orang
di sekitarnya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Orang Tua Siswa Valencia

Rizki Maharani, Ph.D

v
APA ITU PLH?

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)


merupakan sebuah proses dalam menciptakan
manusia yang memiliki kesadaran serta
kepedulian terhadap lingkungan dan
permasalahannya.
Sejak tahun ajaran 2017-2018, Sekolah
Dasar Islam Bunga Bangsa menambahkan satu
program baru dalam kurikulumnya yaitu
“Pendidikan Lingkungan Hidup”. Tujuan dari
program ini agar siswa-siswi memiliki kesadaran
dan kepedulian lingkungan serta mampu
melakukan menemukan solusi terhadap
permasalahan lingkungan dan menjadi
penggerak terhadap rasa kepedulian lingkungan.

vi
SEKAPUR SIRIH

Sampah plastik telah


menjadi permasalahan
lingkungan yang tak
kunjung selesai.
Berdasarkan pernyataan
Menteri Kelautan dan
Perikanan, Susi Pudjiastuti
dalam Kompas.com
tertanggal 19 Agustus 2018,
Indonesia merupakan negara penyumbang
sampah plastik ke lautan terbesar kedua di
dunia. Sebagian besar barang yang ada di
sekitar kita terbuat dari plastik yang setelah
selesai digunakan akan langsung dibuang ke
lingkungan.
Mungkin telah banyak ide kreatif yang
telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan
sampah. Namun, apabila kepedulian terhadap
permasalahan sampah plastik belum
sepenuhnya tertanam dalam diri tiap-tiap
individu, maka usaha sebaik apapun tidak akan

vii
mampu mengurangi keberadaan sampah plastik
di lingkungan.
Melalui buku ini, penulis berusaha untuk
mengajak siswa-siswi terutama di tingkat
sekolah dasar untuk memiliki kesadaran akan
masalah sampah plastik, kepedulian terhadap
lingkungan, serta menumbuhkan kreativitas
dalam memanfaatkan sampah plastik menjadi
barang berguna dan bernilai jual. Buku ini
menceritakan kegiatan siswa-siswi di sebuah SD
swasta di Samarinda yang mencoba memberikan
konstribusi kepada lingkungan melalui kegiatan
pemanfaatan sampah plastik. Melalui kegiatan
ini, anak-anak ditumbuhkan rasa kepeduliannya
terhadap lingkungan dan diajarkan untuk
menemukan dan melaksanakan solusi tersebut
demi kondisi lingkungan yang lebih baik.
Samarinda, 13 Mei 2019
Penulis

Nurli Dwinata

viii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................. i


Sambutan................................................................... iii
Apa Itu PLH? ............................................................... v
Sekapur Sirih............................................................. vii

Kenalan Dulu Ya…...................................................... 1


Ternyata Empuk Ya .................................................... 4
Merakit-Rakit Dahulu, Jadi Sofa Kemudian.............. 7
Cuci, Jemur, Main Kejar-Kejaran............................. 10
Potong-Potong, Masukkan, Tekan Sampai Padat .... 15
Peristiwa Yang Tidak Disangka-Sangka Namun
Membanggakan ......................................................... 23
Gergaji Oh Gergaji .................................................... 27
Saatnya Menempel Plywood ..................................... 31
Mengukur, Menggunting, Menempel........................ 36
Seperti Memotong Kue Tart...................................... 41
Si Ungu ...................................................................... 50
Akhir Kata ................................................................. 56
Cerita Tambahan, “Bagus Itu Perlu Usaha” ............ 58
Kelas Kami, Cerita Di Belakang Panggung ............. 64

ix
KENALAN DULU YA….

gambar 1. kumpulan botol plastik

Hari itu adalah hari pertama kegiatan


pembelajaran dimulai setelah Masa Pengenalan
Lingkungan Sekolah (MPLS). Hari pertama
pembelajaran di tahun pelajaran 2018-2019 di
kelas V. Anak-anak duduk rapi di tempat duduk
masing-masing. Pagi itu, anak-anak dijelaskan
mengenai kegiatan Riset/PLH yang akan mereka
lakukan.

1
“ Anak-anak, kalian tahu benda apa yang Ibu
pegang?” kata Bu Guru sambil memperlihatkan
benda di tangannya.
“ Botol plastik, Bu”, Semua siswa kompak
menjawab.
“Betul. Ini adalah botol plastik. Untuk satu
tahun ke depan, kita akan bermain
menggunakan botol plastik ini.”
“Horeeee!”, Anak-anak spontan bersorak.
Memang dunia siswa SD tidak jauh-jauh dari
kegiatan bermain.
“Ya, kita akan bermain-main dengan botol
plastik ini dan benda-benda lain yang terbuat
dari plastik.” Bu Guru melanjutkan
penjelasannya.
“Anak-anak, kita sekarang sedang berada dalam
kondisi darurat sampah platik. Sampah plastik
adalah sampah yang tidak dapat diuraikan.
Sampah plastik hanya dapat didaur ulang.
“Nah, Ibu akan mengajak kalian untuk mencari
solusi terhadap permasalahan sampah plastik,”

2
urai Bu Guru. “Kita akan membuat sampah
plastik ini menjadi sebuah sofa yang dapat
digunakan bahkan bisa dijual. Kalian mauuu?”.
“Mau, buuu!!!”, sahut mereka.
“Ok, kalau begitu silakan membentuk kelompok
yang terdiri dari 5 sampai 6 orang. Tantangan
pertama kalian adalah mengumpulkan botol
plastik air mineral bekas ukuran 1,5 L sebanyak
20 botol dan kemasan lain berbahan plastik.
Siap?”
“Siap, Buuu!”, kata anak-anak dengan kompak.
“Baik. Mulai besok silakan melakukan
tantangan pertama kalian dan hari Jumat kita
akan mulai tantangan kedua.”
Mata siswa siswi terlihat berbinar.

3
TERNYATA EMPUK YA….

gambar 2. mencoba sofa dari botol plastik

Pagi itu di atas meja guru terdapat sebuah


benda berbentuk persegi panjang berwarna
ungu. Semua siswa penasaran, benda apakah
yang ada di meja bu guru.
4
“Anak-anak, masih ingat proyek PLH kita?”, Bu
Guru bertanya.
“Masih, bu,” jawab anak-anak.
“Nah, kalian lihat benda di meja Ibu ini. Ini
adalah produk yang akan kalian buat dari botol
plastik dan sampah plastik lainnya,” kata Bu
Guru.
“Ada yang tahu benda apakah ini?” Bu Guru
bertanya.
“Mirip kursi, Bu, tapi tidak ada sandarannya,”
sahut salah satu siswa.
“Ya, benar. Ini adalah kursi. Kursi yang terbuat
dari botol plastik air mineral.”
“Wow!”
“Kursi ini buatan Ibu. Ibu mencoba membuatnya
terlebih dahulu. Nah, nanti kalian juga akan
membuat kursi seperti ini.”

Semua siswa terlihat takjub dengan apa


yang akan mereka hasilkan dari sampah plastik.
Untuk beberapa lama, sofa tersebut berada di

5
kelas dan masing-masing siswa boleh duduk
pada sofa tersebut secara bergantian. Mereka
sudah mulai antusias untuk melaksanakan
proyek PLH.

6
MERAKIT-RAKIT DAHULU, JADI SOFA
KEMUDIAN

gambar 3. proses menyatukan botol plastik

Pada hari pertama proyek PLH, anak-


anak sudah tidak sabar untuk memulai. “Bu, ayo
mulai PLH nya”, pinta mereka. Bu Guru pun
tersenyum bangga melihat semangat mereka.

7
“Oke, anak-anak, silakan berkumpul dengan
kelompok masing-masing,” kata Bu Guru.
Secara serentak, siswa siswi bergerak
membentuk kelompok masing-masing dan Bu
Guru melanjutkan penjelasannya. “Tantangan
kalian hari ini adalah merakit botol-botol yang
sudah kalian kumpulkan menjadi kerangka sofa.
Setiap satu baris berisi 5 botol plastik dan
direkatkan menggunakan lakban. Ketika sudah
terbentuk 4 baris botol plastik, kalian rekatkan
seluruh baris tersebut menggunakan lakban
hitam atau selotip. Ibu sudah menyiapkan
lakban hitam dan selotip. Silakan bekerja
dengan benar dan rapi. Apakah kalian siap?”
“ Siap, buuu!”, sahut anak-anak.
Dan dimulailah pekerjaan siswa-siswi kelas V
dalam upaya memanfaatkan sampah plastik.
“Labbaik allahumma labbaik labbaika la syarika
laka labbaik,” Ruang kelas pun riuh dengan
lantunan kalimat-kalimat tersebut dari anak-
anak.

8
Bu Guru tersenyum menyaksikan tingkah anak-
anak. Rupanya, anak-anak teringat kalimat-
kalimat bacaan haji dan umroh dan
melantunkannya sembari merekatkan lakban
atau selotip di sekeliling botol plastik.
Tantangan kedua selesai dengan baik
disertai rasa haru.

9
CUCI, JEMUR, MAIN KEJAR-KEJARAN

gambar 4. proses menjemur sampah plastik untuk isi kerangka sofa

Tantangan ketiga proyek PLH ini adalah


“cuci, jemur, main kejar-kejaran. Bu Guru
membawa anak-anak ke depan tempat wudhu
yang banyak kran airnya. Anak-anak berbaris
sesuai kelompok masing-masing.
“Anak-anak, Ibu akan membagikan sampah
plastik yang sudah kalian kumpulkan selama

10
satu minggu kemarin. Tantangan proyek kita
kali ini adalah mencuci bersih sampah plastik ini
kemudian kita jemur sampai benar-benar kering.
Sampah ini mungkin terlihat kotor bagi sebagian
besar orang, bahkan teman-teman kalian. Akan
tetapi, dengan kerja keras kalian, kalian justru
menjadikan lingkungan kalian dan lingkungan
mereka menjadi bersih. Harapan kita, semoga
semua orang akan tergerak hatinya untuk
mengikuti kegiatan kalian kali ini,” Bu Guru
membangkitkan semangat anak-anak.
Di luar dugaan, anak-anak sama sekali
tidak merasa jijik pada sampah-sampah plastik
yang harus mereka cuci. Padahal, sampah-
sampah tersebut ada yang bekas kemasan
spaghetti, nasi, coklat, dan lain-lain. Mereka
justru semangat dan berebut untuk mencuci
sebanyak-banyaknya.
“Iiihh, apaan itu? Sampah kok dicuci?. Jijik ah!”
komentar salah satu adik kelas mereka yang
kebetulan lewat. Anak-anak pun sejenak

11
mendelik namun tidak mengeluarkan sepatah
katapun.
Beruntung ada bapak guru wali kelas 2 yang
lewat lalu berkata, “Lho, ini namanya kreatif.
Bagus kakak-kakaknya ini mencuci sampah
untuk dijadikan sesuatu. Pintar mereka ini
punya kepedulian terhadap lingkungan. Harus
kalian contoh.” Demikian komentar pak guru
tersebut
Rupanya selain ingin mewujudkan proyek
PLH-nya, mereka juga senang karena
berkesempatan bermain air dan sabun yang
disediakan.
Setelah selesai dicuci, sampah-sampah
tersebut dibawa ke tengah lapangan sepak bola
untuk dijemur. Alhamdulillah saat itu cuaca
cerah. Dengan dibantu anak-anak, Bu Guru
membentangkan terpal yang sudah tidak
terpakai dan sampah-sampah plastik itupun
disebar di atas terpal. Sambil menunggu
sampah-sampah tersebut kering dan waktu

12
kegiatan PLH selesai, anak-anak bermain kejar-
kejaran di lapangan sepak bola. Mereka mencuci,
menjemur dan bermain kejar-kejaran hingga
waktu pembelajaran berakhir. Sampah-sampah
plastikpun dimasukkan kembali ke dalam
keranjang untuk disimpan atau dijemur lagi
esok harinya apabila belum benar-benar kering.
Tantangan Jumat ketiga selesai dengan
baik disertai rasa senang.

13
gambar.5 bermain kejar-kejaran sambil menunggu sampah plastik kering

14
POTONG-POTONG, MASUKKAN, TEKAN
SAMPAI PADAT

gambar.6 proses memasukkan sampah plastik ke dalam kerangka sofa

Jumat jam 13.00 WITA selepas salat


Jumat bagi putra dan salat zuhur bagi putri,
tantangan selanjutnya diberikan.
Siang itu tanpa dikomando, semua siswa
langsung berkumpul dengan kelompok masing-
masing. Kursi dan meja kelas diposisikan
merapat ke dinding kelas. Di depan kelas, Bu

15
Guru memulai penjelasan. “Anak-anak yang Ibu
banggakan. Sebelumnya kalian telah melakukan
tantangan mencuci dan menjemur sampah
plastik. Adakah yang masih ingat peristiwa yang
terjadi ketika kalian mencuci sampah-sampah
tersebut?”, tanya Bu Guru.
Anak-anak menjawab dengan serempak dan
antusias. “Ada, Bu. Ada adik kelas yang
ngomong ngapain kok sampah dicuci.”
“Ya, benar. Memang kita mendengar ucapan
seperti itu. Tapi, kita maklumi bahwa adik kelas
kalian belum mengetahui dan belum memahami
tujuan kalian melakukan kegiatan tersebut”, Bu
guru mengawali komentarnya. “Nanti, ketika
proyek kalian telah selesai dengan baik, barulah
orang-orang di sekitar kalian akan terbuka mata
dan hatinya terhadap kegiatan kalian kemarin,
hari ini dan yang akan datang,” imbuh Bu Guru.
Anak-anak menjadi lebih tenang. “Kalian adalah
para pelopor di sekolah ini. Pelopor untuk
menciptakan lingkungan yang lebih baik. Tidak

16
semua anak-anak seusia kalian mampu dan mau
melakukan hal ini, jadi berbanggalah kalian.” Bu
Guru membangkitkan kepercayaan diri anak-
anak dan alhamdulillah mereka kembali
bersemangat.
“Nah, anak-anak, hari ini tantangan kita adalah
memasukkan sampah plastik yang sudah kering
ke dalam botol-botol kerangka sofa kalian. Tidak
harus penuh semua hari ini. Apabila masih ada
ruang kosong pada botol tersebut maka kita
akan cari lagi sampah-sampah plastik yang bisa
kita masukkan ke dalam botol-botol tersebut.”
kata Bu Guru.
“Oke, silakan kalian mulai,” lanjut beliau.
“Bu Guru, yang ini susah dimasukkan ke dalam
botol,” kata salah satu siswa.
“Anak-anak, ada temanmu yang kesulitan
memasukan sampah plastik yang ukurannya
besar ke dalam botol plastik kerangka sofa.
Menurut kalian solusinya apa?”, tanya Bu Guru
kepada anak-anak yang lain.

17
“Digunting dulu kecil-kecil supaya bisa masuk,”
jawab beberapa siswa bersamaan.
“Iya, benar. Sampah plastik yang ukurannya
besar, kita gunting terlebih dahulu menjadi
potongan-potongan kecil”
“Apakah kalian sudah paham?”, lanjut Bu Guru.
“Paham, Bu”, jawab anak-anak.
“Bagus. Jangan lupa, sampah-sampah yang
sudah masuk kalian dorong menggunakan
batang pipa supaya benar-benar padat,”. Bu
guru menambahkan.
“Beresss, Bu, ” jawab anak-anak dengan ceria.
“Bu, sampah plastiknya habis, boleh kami keluar
kelas untuk mencari lagi?” tanya salah satu
anggota kelompok.
“Boleh, tapi usahakan sampah plastiknya yang
bersih ya supaya bisa langsung dimasukkan,
kalau kotor langsung dicuci dan dijemur,” kata
Bu Guru.
“Baik, Bu.”, jawab anak-anak.

18
Beberapa perwakilan kelompok pun segera
beranjak ke luar kelas untuk mencari sampah
plastik.
Tantangan keempat selesai dengan baik
disertai rasa senang dan bangga.

gambar 7 anak-anak sedang mengisi kerangka sofa

19
gambar 8 kelompok 4 sedang mengisi botol kerangka sofa

20
gambar 9 hasil ecobrick kelompok 2

gambar 10 hasil ecobrick kelompok 3

21
gambar 11 hasil ecobrick kelompok 1

gambar 12 hasil ecobrick kelompok 5 22


PERISTIWA YANG TIDAK DISANGKA-SANGKA
NAMUN MEMBANGGAKAN

gambar 13. serah terima contoh ecosofa nubious V

Biasanya, di bawah meja Bu Guru


terdapat sofa contoh yang telah jadi. Sofa contoh
tersebut adalah bukti bahwa sampah plastik
memang dapat dijadikan benda lain yang
berguna dan apabila dikreasikan lagi dapat
dijual. Tetapi hari ini sofa contoh tersebut sudah
tidak ada lagi. Beberapa anak bertanya ketika

23
menyadari hal tersebut hanya dijawab dengan
senyuman oleh Bu Guru.
Ketika kegiatan pagi yaitu salat Dhuha
selesai, anak-anak masuk kelas dan duduk rapi
di tempat masing-masing. Bu Guru berdiri di
depan kelas dan mengucapkan salam. Anak-
anak menjawab salam Bu Guru.
“Anak-anak, pada hari Jumat kemarin, Ibu
bertemu dengan pustakawati sekolah kita, yaitu
Bu Rachmawati. Beliau menyampaikan bahwa
beliau akan mengikuti pameran kerajinan
barang bekas. Nah, Ibu menawarkan sofa contoh
di kelas kita diikutkan sebagai salah satu barang
pameran di sana”. Bu Guru berhenti sejenak.
“Ternyata sofa tersebut menarik perhatian salah
satu orang penting di kota kita, yaitu istri dari
Bapak Walikota.”
Anak-anak serentak bersorak-sorai. Takjub,
senang, dan bangga.

24
“Nah, Ibu Rachmawati menjelaskan bahwa sofa
tersebut terbuat dari bahan sampah plastik hasil
karya kalian.”
Anak-anak semakin bersorak. Ramai sekali. Bu
Guru kembali melanjutkan. “ Memang pada sofa
tersebut, oleh ibu Pustakawati ditempel foto-foto
kalian sedang merakit botol plastik. Ternyata,
Ibu Walikota sangat tertarik dengan sofa
tersebut dan sofa tersebut akhirnya diserahkan
kepada beliau.”
“Yaaahhhhh,” sejenak terdengar dan terlihat
ekspresi kesedihan mereka. Rupanya sofa contoh
tersebut sangat mereka sayangi.
“Anak-anak tidak perlu kecewa. Seharusnya
kalian merasa bangga karena sofa contoh
tersebut yang ada foto kalian di sana telah
menarik perhatian Ibu Walikota. Beliau
bermaksud memajang sofa contoh tersebut di
ruang pameran Rumah Jabatan Walikota. Jadi,
setiap tamu penting yang datang berkunjung ke
ruang pameran tersebut akan mengetahui

25
bahwa kalian telah menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat dari sampah plastik yang dibuang
orang lain.”
“Horee! Betul, Bu!” teriak anak-anak kembali
bersemangat.
“Nah, apabila kalian suatu saat berkesempatan
berkunjung ke Rumah Jabatan Walikota, jangan
lupa mampir ke ruang pameran ya, untuk
melihat sofa contoh tersebut,” kata Bu Guru.
“Oke, Bu.”
Begitulah peristiwa yang tidak disangka-
sangka namun membanggakan mereka.
Membakar semangat anak-anak untuk lebih giat
menyelesaikan proyek mereka. Special regards
for Bu Rachma.

26
GERGAJI OH GERGAJI

gambar 14. Rofiq sedang mencoba untuk


memotong plywood menggunakan gergaji

Pagi itu bu guru tiba di kelas dengan


membawa banyak plywood. Anak-anakpun
bertanya, “Apa itu, Bu?”
“Ini plywood untuk tantangan kalian
selanjutnya,” kata Bu Guru.

27
Siang itu, tantangan kelima dimulai.
“Boys and girls, kalian tahu nama alat ini?”, Bu
Guru bertanya sambil memperlihatkan sebuah
alat pertukangan.
“ Oh, saya tahu, Bu…saya tahu, Bu… Itu
gergaji.” Anak-anak berebut menjawab dan Bu
Guru tersenyum melihat perilaku mereka. Bagi
Bu Guru, anak-anak murid selain sebagai titipan
yang harus ia didik juga sekaligus pemberi
kebahagiaan terbesar bagi dirinya.
“ Iya, benar. Ini adalah gergaji. Tantangan
kalian siang ini adalah memotong plywood yang
telah Ibu siapkan ini menjadi dua bagian yang
akan digunakan sebagai bagian atas dan bagian
bawah kerangka sofa kalian.”
“Horeee!”, teriak anak-anak. Mereka antusias
karena tidak pernah menyentuh gergaji apalagi
menggunakannya. Tentu saja Bu Guru tidak
membiarkan begitu saja anak-anak memotong
plywood menggunakan gergaji. Plywood tersebut
sebelumnya telah digergaji oleh suami Bu Guru

28
namun tidak sampai terbagi dua seluruhnya. Bu
guru meminta disisakan sedikit untuk anak-
anak praktik menggunakan gergaji. Tujuannya
adalah memberikan pengalaman bagi hidup
mereka di masa depan. Ternyata niat tersebut
disambut baik oleh anak-anak. Mereka berebut
untuk dapat memotong plywood padahal
plywood yang harus dipotong setiap kelompok
hanya satu.
“Untuk kegiatan kali ini, Ibu dibantu oleh Bapak
Nu’man Abdullah dan mohon pengertiannya ya,
karena plywood yang harus dipotong satu
kelompok hanya satu, jadi kalian diskusikan
dengan teman kelompok mengenai siapa yang
akan diutus untuk praktik memotong
menggunakan gergaji,” jelas Bu Guru.
Walau sedikit kecewa, tapi mereka berhasil
memutuskan perwakilan yang akan
mempraktikkan pengalaman tersebut sementara
yang lain mengamati dan mengambil pelajaran
dari kegiatan tersebut.

29
“Uhhhh…susah. Keras!” komentar salah satu
perwakilan kelompok sambil berusaha
memotong plywood tersebut.
“Pegang yang betul gergajinya, yang kuat,” kata
perwakilan kelompok yang lain.
Akhirnya, semua plywood berhasil mereka
potong.
“Anak-anak, apa yang kalian pelajari dari
kegiatan tadi?” tanya Bu Guru.
“Susah juga ternyata, Bu, tapi saya mau lagi.”
jawab sebagian besar perwakilan kelompok.
“Rofiq hebat Bu menggergajinya”, sahut yang
lain.
“Iya, Bu, sampai keringatan.” Anak yang lain
lagi menambahkan komentarnya.
Rupanya kegiatan sederhana bagi orang dewasa
justru menjadi sangat menarik bagi anak-anak.
Hal yang perlu diingat adalah guru selalu
mengawasi dan kegiatan dikemas sesuai dengan
tingkat usia mereka. Tantangan kelima selesai
dengan baik dan penuh rasa puas.

30
SAATNYA MENEMPEL PLYWOOD

gambar 15. proses pemberian alas pada kerangka sofa

Proyek PLH anak-anak memasuki


tantangan keenam. Siang itu di dalam kelas,
anak-anak telah berkumpul sesuai kelompok
31
masing-masing. Bu Guru memperlihatkan
sekaleng lem yang akan digunakan pada
kegiatan kali ini serta plywood yang telah
terpotong sebelumnya. “Oke, anak-anak, silakan
kalian berkelompok merekatkan plywood yang
sudah terpotong ke bagian bawah dan atas
kerangka sofa. Pastikan posisi plywood tersebut
benar-benar tepat dan sesuai antara sisi atas
dan bawah. Paham?” tanya Bu Guru.
“Baik, Cikgu!”, sahut mereka dengan senyum
usilnya layaknya Upin dan Ipin. Bu Guru pun
tersenyum dibuatnya.
“Baik, silakan lakukan tantangan kalian di
depan kelas supaya aroma dari lem yang
digunakan tidak terkonsentrasi di dalam kelas.
Gunakan lem secukupnya,” kata Bu Guru
menambahkan.
Anak-anak beranjak menuju teras depan
kelas untuk merekatkan plywood pada sisi
bawah dan sisi atas kerangka sofa. Ada yang
menggunakan penggaris untuk memastikan

32
plywood sisi bawah sama posisinya dengan
plywood sisi atas. Ada yang berebut ingin
merekatkan. Mereka bekerja sambil saling
bercerita satu sama lain. Terjadi diskusi yang
bermanfaat dalam setiap kelompok guna
menghasilkan kerangka sofa yang bagus. Canda
tawa mengiringi kegiatan mereka. Sesekali Bu
Guru memberikan arahan kepada setiap
kelompok.
“Baiklah, anak-anak, waktunya sudah
habis. Kerangka sofa yang sudah diberi plywood
silakan kalian bawa ke dalam kelas apabila
plywood tersebut telah merekat dengan kuat.
Susun dengan rapi di pojok kelas dan bersihkan
sisa-sisa pekerjaan kalian,” kata Bu Guru.
“Bu, boleh saya duduki kerangka sofanya?”
tanya salah satu siswa.
“Boleh,” jawab Bu Guru.
“Karena sudah diberi plywood di sisi bawah dan
sisi atas, kerangka sofanya jadi lebih kokoh dan

33
dapat kalian duduki. Silakan kalian coba
ketahanannya,” Bu Guru menambahkan.
“Aku mau coba,” kata anak-anak berebut.
“Anak-anak, mencobanya bergantian, ya,” Bu
Guru mengingatkan.
Akhirnya, satu kerangka sofa tersebut ada
yang diduduki oleh dua siswa sekaligus ada yang
bergantian satu persatu. Alasan mereka, kalau
diduduki sekaligus dua orang maka lemnya akan
semakin merekat rapat.
Tantangan keenam selesai dengan baik
dan hasil merekat kuat, mantap.

gambar 16. kelompok..mengoleskan lem pada kerangka sofa


34
gambar 17. selesai menempel plywood

35
MENGUKUR, MENGGUNTING, MENEMPEL

gambar 18 memotong busa untuk sofa

Pagi itu, seorang bapak memasuki kelas


dengan membawa gulungan busa. Bu Guru
belum di dalam kelas. “Apa itu, Pak?” tanya
mereka.
“Busa milik Bu Guru”, jawab bapak tersebut.

36
Anak-anak mengira Bu Guru tidak masuk hari
itu. Rupanya tidak berapa lama kemudian, Bu
Guru muncul di ujung tangga. Semua anak
menghampiri Bu Guru untuk memberi salam.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, anak-anak
bertanya “Bu, buat apa busanya, Bu? Buat PLH
ya?”
“Iya. Itu untuk PLH nanti siang,” sahut bu guru.
“Horeee,” teriak anak-anak. Mereka memang
ingin segera menyelesaikan proyek PLH-nya.
“Saya kira Ibu tidak masuk hari ini dan yang
mengajar kami suami Ibu,” kata salah seorang
siswa.
“Ya tidak mungkinlah suami Ibu mengajar
kalian. Suami Ibu kan kerjanya di sekolah lain.”
“Hehehe,”anak tersebut tertawa usil.
“Ibu bawanya gimana busa-busa tadi?” tanya
siswa lainnya.
“Naik motor seperti biasa. Busanya digulung.
Satu Ibu bawa seperti membawa tas ransel dan
satunya Ibu pegang di samping. Motornya

37
memang tidak bisa cepat-cepat. Kalau terlalu
cepat nanti Ibu jatuh akibat tiupan angin yang
menerpa busanya,” Bu Guru menjelaskan.
“Ooohhhh…..” bibir anak-anak membulat. Bu
guru hanya tersenyum menyaksikan ekspresi
mereka.
Siang hari, pelaksanaan tantangan
ketujuh dimulai. Sebelumnya, anak-anak duduk
di kursi mereka masing-masing. Bu Guru
memulai penjelasannya.
“Anak-anak, hari ini tantangan ketujuh kalian.
Tidak terasa proyek sofa kalian sudah masuk
tahapan pemberian busa.” Bu Guru mengawali.
“Nah, kali ini kalian ukur panjang dan tinggi
kerangka sofa kalian, kemudian potong busa
yang lebih tipis sesuai ukuran tersebut,
kemudian kalian rekatkan menggunakan lem
pada sisi-sisi samping kerangka sofa,” kata Bu
Guru.
“Siaaapppp, Bu!” sahut anak-anak.
“Oke, silakan dimulai.”

38
Selama proses kegiatan, Bu Guru
berkeliling untuk memberikan pengarahan dan
motivasi pada setiap kelompok. Tidak ada siswa
yang menganggur pada setiap kegiatan PLH.
Semua berusaha untuk berpartisipasi. Justru
mereka akan merasa kecewa apabila tidak
mendapat kesempatan untuk mencoba.
Alhamdulillah, proses penempelan busa samping
telah selesai dilaksanakan.
“Bu, busanya boleh kami tulis nama kelompok?”
tanya salah seorang siswa.
“Boleh, asal milik kelompok kalian sendiri”
jawab Bu Guru.
“Asyiikkk!” teriak siswa tersebut.
“Eh, kata Bu guru boleh ditulis-tulis. Ayo tulis
nama kita pada busanya,” lanjut siswa tersebut.
Tidak perlu waktu lama, akhirnya setiap
sisi samping busa kerangka sofa tersebut telah
penuh dengan tulisan-tulisan mereka.
Alhamdulillah, tantangan ketujuh selesai
dengan baik dan penuh rasa bahagia.

39
gambar 19 mengukur busa

40
SEPERTI MEMOTONG KUE TART

gambar 20 sofa yang telah selesai diberi busa

Siang itu kegiatan PLH anak-anak


memasuki tantangan kedelapan. Pagi itu Bu
Guru masuk kelas dengan membawa busa yang
kali ini lebih tebal dari busa sebelumnya. Busa
berwarna kuning tersebut tergulung rapi dan
diikat dengan tali rafia.

41
“Bu, ini busa untuk bagian atas sofa, ya, Bu?”
tanya anak-anak dengan penuh rasa penasaran.
“Iya. Nanti siang kalian ukur, gunting, dan
tempel pada bagian atas kerangka sofanya, ya.”
jawab Bu Guru.
“Eh, apa itu?” tanya salah satu siswa yang baru
tiba di kelas dan melihat busa yang terletak di
belakang meja Bu Guru. Busa tersebut memang
terlihat mencolok karena gulungannya yang
cukup tebal dan besar.
“Itu busa untuk sofa. Nanti siang kita gunakan.”
sahut salah satu temannya.
“Ayo anak-anak, segera ke lapangan. Kegiatan
pagi akan segera dimulai.” Bu Guru
mengingatkan.
“Oke, Bu.” jawab anak-anak.
Hari ini, sepanjang waktu menunggu jam
pelaksanaan PLH, anak-anak duduk tidak jauh-
jauh dari gulungan busa tebal yang ada di
belakang meja Bu Guru. Rupanya mereka tidak
sabar untuk memotong busa tersebut. Wajar

42
saja, kerangka sofa yang masih beralaskan
plywood saja membuat mereka sangat tertarik
dan bersemangat bahkan berebut untuk
menduduki. Apalagi nanti jika telah dilapisi
dengan busa.
Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu
tiba. Semua siswa telah berkumpul dalam
kelompok masing-masing. “Anak-anak, silakan
kalian ukur panjang dan lebar papan plywood
yang telah melekat pada kerangka sofa kalian.”
Bu Guru memberikan instruksi kerja.
“Baik, Bu.” jawab anak-anak.
“Ayo diukur, ini pakai penggaris, kamu yang
catat hasilnya.” Begitulah garis besar
pembicaraan yang terjadi diantara mereka.
“Oke, sudah selesai mengukurnya? Sudah
dicatat?” Bu Guru bertanya.
“Sudah, Bu,” jawab anak-anak serempak
“Baik, secara bergantian, potong busa yang telah
disiapkan sesuai ukuran tersebut. Hati-hati

43
dalam memotong busanya, ya,” Bu Guru
melanjutkan
“Silakan kelompok pertama yang maju duluan
untuk mengukur dan memotong busanya.” Bu
Guru menyampaikan instruksi kerja.
Kelompok pertama mengukur dan
memotong busa dengan pengawasan dari Bu
Guru. Melihat anak-anak kesulitan memotong
busa yang cukup tebal, maka Bu Guru
memberikan sedikit bantuan. “Iiihh, seperti
memotong kue tart, ya.” komentar salah satu
siswa.
“ Iya,” sahut temannya.
Setelah semua kelompok memotong
busanya, kegiatan selanjutnya adalah
menempelkan busa tebal tersebut di atas papan
plywood di bagian sisi atas kerangka sofa.
Dengan demikian, sofa berbahan sampah plastik
karya anak-anak telah menjadi empuk.
“Baik anak-anak, sekarang sofa kalian telah
empuk dan tantangan selanjutnya nanti adalah

44
pemberian kulit sofa supaya terlihat cantik dan
tidak ada yang menyangka bahwa sofa kalian ini
terbuat dari sampah plastik. Sekarang ibu
dokumentasikan, ya. Kalian berkelompok duduk
di sofa yang kalian buat tersebut.”
“Yeeeeeeee…..!” anak-anak bersorak.
“Bu, nanti kalau sudah jadi semua sofanya,
sudah diberi kulit, sofanya diapakan, Bu?” tanya
salah satu siswa perempuan.
“Kalian maunya sofanya diapakan?” Bu Guru
balik bertanya.
“Dijual saja, Bu,” jawab anak-anak.
“Boleh nanti dijual,” sahut Bu Guru.
“Iya, Bu. Dijual satu juta,” anak yang lain
memberikan komentarnya.
“Iihh, tidak mau ah. Ibu tidak mau kalau dijual
satu juta,” sahut Bu Guru dengan ekspresi pura-
pura keberatan.
“Lho, kenapa, Bu?” anak-anak heran
mendengarnya.

45
“Iya dong. Ibu tidak mau kalau dijual satu juta
karena siapa tahu ada yang mau beli dengan
harga yang lebih tinggi dari itu,” kata Bu Guru
sambil tertawa.
“O iya ya, Bu. Kalau ada yang mau beli di atas
satu juta uangnya nanti untuk kita makan-
makan, ya?” tanya anak-anak antusias.
“Nanti kalau laku, kalian digaji saja karena
sudah bekerja membuat sofa,” kata bu guru
dengan nada usil.
“Betul, Bu?, Nanti kami dapat gaji dari hasil
penjualan sofanya?” anak-anak semakin
bersemangat.
“Iya, nanti kalau laku, uangnya untuk menggaji
kalian. Satu anak gajinya seribu rupiah. Oke?”
kata Bu Guru dengan ekspresi usil.
“Yaaahhh, Ibu!!! Masa seribu…?” protes anak-
anak. Bu Guru pun tertawa. Terlepas dari itu
semua, alhamdulillah tantangan kedelapan
selesai

46
gambar 21 memotong busa untuk bagian atas

47
gambar 22 sofa yang telah selesai diberi busa

48
gambar 23 sofa yang telah selesai diberi busa

49
SI UNGU

gambar 23 proses memasang kulit sofa

Tantangan terakhir dalam proyek PLH


anak-anak adalah pemasangan kulit. Tantangan
ini adalah tantangan yang paling mudah
dilakukan. Oleh karena anak-anak masih kelas 5
SD, untuk penjahitan kulit sofa diserahkan
kepada orang lain yang memang memiliki
keahlian menjahit. Begitu selesai, anak-akan

50
tinggal memasang kulit sofa tersebut dan
merekatkan bagian bawah sofa menggunakan
staples tembak dan jadilah sofa berbahan
sampah plastik buatan kami. Sebelum kulit sofa
tersebut diserahkan ke penjahit, anak-anak
belajar mengukur kulit sofa yang akan dipotong-
potong.
Hari pemasangan kulitpun tiba.
Pemasangan kulit dilakukan secara bertahap.
Perlu waktu dan tenaga yang cukup besar agar
kulit sofa dapat benar-benar kencang. Setiap
kelompok memasang kulit sofanya masing-
masing dan melekatkan ujung kulit sofa pada
bagian bawah sofa menggunakan staples tembak
dan jadilah EcoSofa Nubious V. Ecosofa dapat
diartikan sofa yang ramah lingkungan.
Sedangkan Nubious, hanya Bu Guru mengetahui
asal usulnya. Kemudian, V diambil dari huruf
pertama kelas 5 Valencia.

51
gambar 24 proses memasang kulit sofa

52
gambar 25 proses memasang kulit sofa

53
gambar 26 sofa yang siap diberi staples tembak pada bagian bawahnya

54
gambar 27 si ungu yang cantik

55
AKHIR KATA

gambar 28 menikmati sofa buatan sendiri

Demikian cerita kegiatan siswa-siswi


kelas 5 Valencia dalam mengolah sampah plastik
menjadi barang berguna dan bernilai. Tujuan
utama kegiatan ini adalah mengurangi sampah
plastik yang sudah semakin banyak. Namun,
yang perlu diingat bahwa kegiatan kami ini

56
bukanlah solusi utama dalam mengatasi sampah
plastik. Mengapa? Karena solusi utamanya
adalah mengurangi penggunaan sampah plastik
dalam kehidupan sehari-hari. Tidak akan ada
perubahan walaupun membuat sekian banyak
sofa dari sampah plastik apabila masyarakat
tidak berusaha mengurangi penggunaan plastik
dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa-siswi kelas 5 Valencia mengajak
kalian untuk turut mengurangi penggunaan
bahan-bahan plastik sekali pakai dan
menerapkan ide-ide kreatif dengan
memanfaatkan sampah-sampah plastik yang
sudah ada. Kita pasti bisa menjadikan
lingkungan kita menjadi lebih baik.

57
CERITA TAMBAHAN, “BAGUS ITU PERLU
USAHA”

gambar 29 sofanya bisa untuk tidur-tiduran

Dalam proses pembuatan Ecosofa Nubious


V bukannya tanpa halangan dan perbaikan.
Untuk menghasilkan sofa yang bagus dan
mencapai tingkat kepuasan diperlukan
perbaikan-perbaikan. Pada awalnya, sofa yang
dibuat pada bagian sisinya berlapis busa warna
merah muda. Namun busa tersebut ternyata
terlalu tipis sehingga mudah sekali robek

58
sebelum kulit sofa selesai dibuat. Untuk itu
anak-anak melakukan pengukuran dan
pemotongan ulang menggunakan busa yang
kualitasnya lebih baik. Apa yang terjadi dengan
busa merah muda selanjutnya? Apakah dibuang?
Tentu saja tidak. Busa merah muda dipotong-
potong menjadi ukuran yang lebih kecil dan
dimasukan ke dalam botol-botol plastik bersama
dengan sampah plastik lainnya. Dengan
demikian tidak ada sampah yang terbuang.

59
gambar 30 memotong busa gambar 31 memotong busa

gambar 31 tumpukan sofa setengah gambar 32 tes duduk sofa tanpa kulit
jadi

60
gambar 33 tes duduk sofa tanpa kulit

gambar 35 tes duduk sofa tanpa kulit

61
gambar 34 tes duduk sofa tanpa kulit

gambar 36 tes duduk di sofa tanpa kulit bersama guru

62
gambar 38 tes duduk di sofa tanpa kulit bersama guru

63
KELAS KAMI, CERITA DI BELAKANG
PANGGUNG

Tahukah kalian mengenai Valencia?


Valencia, merupakan salah satu kota Islam
terbesar di Spanyol pada masanya. Salah satu
hal menakjubkan di Valencia adalah adanya
tradisi ilmiah di Valencia yang membuat kota ini
memiliki peran cukup besar dalam mentransfer
ilmu pengetahuan ke wilayah Eropa. Selain itu,
pemerintahan Islam di Valencia memberikan
terobosan dalam tata pemerintahan. Hal ini
menjadi bukti kemajuan Islam di Eropa.

Nama kelas yang ada dalam cerita ini


menggunakan nama kota tersebut, Valencia.
Harapannya semoga di kelas Valencia juga
terjadi proses transfer ilmu pengetahuan yang
memberi dampak luas di lingkungan sekitar.
Tidak hanya bagi siswa-siswi. Salah satunya
adalah kegiatan PLH. Tidak hanya keseruan
pelaksanaan PLH yang terjadi di kelas Valencia.
Masih banyak kegiatan seru lainnya sebagai
bentuk proses belajar mengajar dan mengenal
satu sama lain. Keseruan siswa-siswi kelas
Valencia terangkum dalam beberapa foto berikut
ini.

64
Peringatan Tahun Baru Hijriah

Peringatan hari Sumpah Pemuda

65
Praktikum perubahan suhu dan wujud benda

presentasi dan
mencatat informasi

66
Membaca di perpustakaan

Belajar sistem rangka manusia

67
Berenang

Wisata Belajar

68
Kelas Inspirasi

69
Belajar campuran dan larutan 1

70
Belajar sifat-sifat benda

Bermain alat musik

71
Praktikum perubahan wujud benda

Belajar volume kubus dan balok

72
Praktikum penyerapan air

Membuat buklet tangga nada lagu


73
Sesi foto untuk souvenir kelas

Sesi foto untuk souvenir kelas

74
Sesi foto untuk souvenir kelas

Para cowok ganteng, sholeh Valencia

75
Sesi foto untuk souvenir kelas

Para gadis manis, sholehah Valencia

76
77