Anda di halaman 1dari 13

Cara mengetahui berapa estimasi

udang di tambak
Maret 12, 2019

Pendugaan Populasi Udang Melalui


Pakan Harian

Pendugaan populasi sangat penting dalam budidaya udang. Ada beberapa cara dalam
melakukan pendugaan populasi salah satunya dengan perhitungan dari pakan harian.
Adapun sebelum melakukan analisa populasi melalui pakan harian maka ada beberapa
data yang perlu disiapkan, diantaranya :

1. Jumlah pakan harian


2. Berat rata rata udang
3. Feeding rate pakan standar
Jumlah pakan harian dapat diketahui dari buku monitoring pakan yang dicatat setiap hari,
Berat rata rata udang diketahui dengan melakukan sampling pada udang yang kemudian
dihitung berat rata ratanya, sedangkan Feeding rate bisa mengacu pada program pakan.
Pabrikan pakan biasanya memiliki standard Feeding rate masing masing, tetapi biasanya
tidak jauh berbeda. Berikut adalah contoh standard feeding rate yang biasa saya gunakan.

Berikut adalah rumus yang biasa digunakan dalam menghitung biomassa dan jumlah
populasi:
Keterangan :

o Biomassa : Jumlah udang


o Pakan/hari : Jumlah pakan dalam satu hari saat sampling
o Jumlah populasi : Estimasi jumlah udang yang ada di tambak
o ABW : Berat rata rata udang
o FR : Feeding rate atau persentase pemberian pakan

Sebagai contoh misal dalam suatu tambak umur 60 hari dengan pakan harian 30 kg
dilakukan sampling sebanyak 10 ekor udang yang diambil secara acak seberat 88 gram,
maka kita dapat menghitung berapa estimasi jumlah udang yang ada di tambak.

1. Pertama kita harus menghitung berat rata rata udangnya, jika berat 10 ekor udang
88 gram maka berat rata ratanya adalah 88 gram : 10 ekor = 8,8 gram/ ekor
2. Kedua kita harus menghitung estimasi biomassanya, yaitu cocokan dulu FR yang
sesuai dengan tabel pada berat rata rata udang 8,8 gram yaitu diantara 3,21 % dan
3,18 % (lihat tabel) dirata rata misal 3,19 %, maka biomassanya = 30 kg : 3,19%
= 940 kg
3. Selanjutnya kita dapat mengukur estimasi jumlah populasinya, jumlah populasi =
940 kg : 8,8 gram/ekor => 940.000 gram : 8,8 gram/ekor = 106.818 ekor

Dari data di atas kita dapat menghitung lebih lanjut berapa tingkat kehidupannya ( SR ),
berapa konversi pakan nya ( FCR ), sehingga dalam setiap sampling kita akan memperoleh
analisa usaha teknis, apakah layak di lanjutkan atau tidak. Perhitungan SR dan FCR akan
dibahas pada postingan selanjutnya
Manajemen Pakan Udang Dengan
Sistem Anco
Agustus 05, 2018

ANCO

Tangkul[1] atau anco adalah sejenis jaring angkat (lift nets) yang dioperasikan dengan
tangan. Alat tangkap ikan ini terdiri dari jaring berbentuk persegi yang keempat ujungnya
diikatkan pada dua batang bambu atau kayu yang dipasang bersilang tegak lurus. Jaring ini lalu
digantungkan pada sebatang galah, dengan mengaitkan atau mengikatkan titik persilangan
bambu tadi di ujung galah. Tangkul dioperasikan dengan cara merendam jaring dalam posisi
mendatar di perairan, dan kemudian mengangkatnya setelah beberapa saat didiamkan.

https://id.wikipedia.org/wiki/Tangkul

Anco yang dimaksud pada kegiatan budidaya udang adalah sebuah jaring angkat,
berkerangka, bisa berbentuk persegi atau lingkaran, dengan ukuran rata rata 1 m 2, yang di
fungsikan untuk memonitoring pakan udang. Lihat gambar di bawah ini
Kenapa menggunakan anco untuk monitoring pakan?

 Untuk mengetahui fluktuasi nafsu makan udang

 Dengan monitoring rutin maka data yang didapat akan lebih akurat

 Sekaligus memonitoring kesehatan udang

Proses sampling merupakan hal yang sangat penting dilakukan dalam budidaya udang. Hal ini

mengingat segala karakteristik udang sulit diamati secara langsung, baik dari perubahan

morfologinya maupun tingkah lakunya.

Kebutuhan pakan dalam satu siklus budidaya udang mencapai 50-70% dari keseluruhan biaya

operasional. Pakan juga faktor yang mempengaruhi ekosistem tambak, dimana 60% pakan yang

diberikan akan ber-efek pada kualitas air sebagai media utama tambak. Untuk mengoptimalkan

pemberian pakan pada budidaya udang dilakukan dengan sampling anco setiap harinya.

Jumlah penggunaan anco pada petakan tambak bisa di sesuaikan dengan kebutuhan, biasanya para

petambak menggunakan 4 anco yang diletakan di 4 bagian keliling tambak. Dalam proses

monitoring anco dilakukan setiap 2-3 jam setelah pemberian pakan. Bila terdapat sisa pakan pada 1

dari empat anco, maka pemberian pakan selanjutnya sama dengan pemberian pakan sebelumnya.

Apabila sisa pakan terdapat pada 2 atau 3 anco, maka pakan harus dikurangi sebnyak 10% dari

pemberian pakan sebelumnya, dan apabila tidak terdapat sisa pakan pada seluruh anco maka untuk

pemberian pakan selanjutnya ditambah 10% dari pemberian pakan sebelumnya.

Dengan adanya anco, maka para petambak akan lebih mudah untuk dalan mengupayakan

optimalnya pemberian pakan serta dalam memonitoring udang setiap harinya.


Penggunaan Feed Tray atau Anco

Anco biasa digantungkan pada jembatan anco dan ada juga yang hanya dengan pelampung.
Jarak atar a anco harus proporsional agar mewakili populasi udang. Anco biasa diletakan 2-3
meter dari tepi tambak.

Anco tidak boleh diangkat dan diturunkan secara tiba tiba, namun dengan perlahan-lahan.
Sumber://medium.com/atnic/pemberian-pakan-efektif-untuk-budidaya-udang-5111b6c12fda

Beberapa faktor penting mengenai pengecekan anco untuk penentuan pakan pada jam
berikutnya:

1. Jika pada saat pengecekan pakan masih tersisa pakan di anco, maka pada pemberian pakan
berikutnya jumlahnya dapat dikurangi 10% dengan cuaca dan kondisi lainnya yang sama.

2. Jika pada saat pengecekan anco tidak tersisa pakan dan terdapat beberapa udang di dalam
anco, jumlah pakan pada pemberian berikutnya dapat dipertahankan atau sama.

3. Jika pada saat pengecekan anco tidak tersisa pakan dan terdapat hanya sedikit udang yang
naik ke anco atau pun tidak ada, maka jumlah pakan pada pemberian berikutnya dapat
dinaikkan atau ditambah sekitar 5%, kembali lagi dengan melihat kondisi air dan cuaca yang
kurang lebih sama.

Faktor kunci terjadinya overfeeding adalah ketika terjadi plankton/algae bloom atau kenaikan
kadar ammonia pada kolam. Jika hal ini terjadi, salah satu solusi yang efektif adalah dengan
mengurangi pemberian pakan.

Beberapa faktor penting mengenai pengecekan anco untuk penentuan pakan pada hari
berikutnya:
No Hasil Cek Anco Skoring Perlakukan

1 Habis 0 Penambahan pakan 5-10%

2 Sisa sedikit 1 Pengurangan pakan 5-10%

3 Sisa banyak 2 Pengurangan pakan 10-20%

Contoh kasus pada tambak dengan dua titik anco

No Skoring Hasil Cek Anco Perlakukan

1 00 Penambahan pakan 5-10%

2 01 Pakan tetap

3 11 Pengurangan pakan 10%

4. 12 Penambahan pakan 15%

5 22 Pengurangan pakan 20%

*perlakuan ini berlaku pada setiap jam pemberian pakan yang sama
Kebutuhan Kincir Dari Biomassa Udang
Posted by: Taufiqullah July 20, 2019 2,507 Views

Kincir air dipasang sesuai dengan kebutuhan minimal pada bulan pertama pemeliharaan. Pada
bulan kedua pemeliharaan, total kincir harus sudah terpasang sesuai dengan target produksi
berdasarkan data SR terakhir. Sebuah tambak tidak memerlukan kincir hingga produksi biomassa
udang mencapai 500 kg/Ha dengan pertumbuhan normal. Kincir dapat tidak dipasang pada
biomassa 700 kg/ha dengan pertumbuhan lambat.
Untuk pertumbuhan tetap normal, kincir dipasang setelah biomassa > 500 kg/ha dengan
perhitungan bahwa 1 kincir 1.5 HP dapat menunjang kehidupan 250 kg – 300 kg udang bila
dasar tambak sudah tua atau tidak dapat dibersihkan. Satu kincir dapat menunjang kehidupan
hingga 400 kg bila dasar dapat dibersihkan.
Kebutuhan kincir dari kejenuhan oksigen di air.
Berdasarkan kandungan oksigen terlarut, kincir di tambak dihidupkan hanya ½ jumlah total pada
bulan ke tiga hingga ke empat apabila tingkat kejenuhan di atas 100 % jenuh. Kincir harus
seluruhnya dihidupkan apabila tingkat kejenuhan hanya mencapai 50 %. Tingkat kejenuhan
dihitung dengan mencocokkan kelarutan oksigen terukur (DO), salinitas, temperatur dengan
tabel kejenuhan. Angka yang terukur
dibagi angka seharusnya di Tabel dan dikalikan 100 % = tingkat kejenuhan di air pada saat itu
(%).
Arah kincir air harus dipasang sesuai dengan :
1. Arah pengendapan antar masing masing kincir berjarak 12 – 15 m
2. Arah pembuangan lumpur (pintu air) harus lebih besar dari 15 m
3. Kriteria pemasangan kincir yang benar
4. Tidak ada pengendapan lumpur halus di dasar tambak lebih dari 10 cm
5. Redox potensial tanah tidak mencapai – 250 mV 70 % wilayah tambak di dasar, memiliki DO
minimum lebih dari 4 ppm
Penggunaan blower sebagai pemasok oksigen terlarut.
Dewasa ini telah tersedia berbagai jenis blower yang dapat dipergunakan sebagai pemasok
oksigen di tambak dengan hasil kelarutan oksigen yang lebih efisien per satuan tenaga yang
diperlukan sebagai penggerak mesin. Blower untuk keperluan aerasi ditambak tersedia dalam
tiga bentuk umum :
1. Rotary Blower/Rootblower, merupakan blower dengan tenaga yang kuat untuk tambak/ bak
dengan kedalaman > 1 m dan untuk memompa untuk jarak yang jauh serta titik yang banyak.
Pada umumnya jenis ini dipakai di pembenihan atau di unit pengolahan air minum namun sangat
baik untuk dipergunakan di tambak
2. Vortex Blower, alat ini berprinsip putaran cepat akan menghasilkan volume angin yang
banyak, hanya kelemahannnya adalah suaranya yang bising dan tekanan yang rendah < 60 cm
dalam serta jarak tiup udaranya yang terbatas
3. TurboJet, merupakan blower khusus tambak yang dapat digerakkan oleh motor listrik maupun
langsung dari penggerak diesel (dengan resiko menghisap asap)
Pemasangan blower di tambak bisanya melalui pipa utama 2 inch dengan cabang sekunder 1 inch
dan pipa terakhir berukuran ¾ inch. Lubang aerasi masing masing berjarak 3 m dan antar pipa
terakhir berjarak 5 m. Lubang aerasi adalah pipa yang dibor dengan mata bor berukuran terkecil
dan menghadap ke dasar tambak. Efektivitas blower akan lebih efektif bila di kombinasikan
dengan kincir air untuk mengatur sedimentasi agar terkumpul di titik tengah. Di Thailand blower
dipasang di belakang kincir berangkai sehingga udara yang dihasilkan didorong oleh kincir.