Anda di halaman 1dari 61

CRITICAL BOOK REPORT

NAMA : IMAM AFRAYNDI SITORUS

KELAS : BK REGULER D 2019

NIM : 1193151032

DOSEN : Dra. Nur Anjani, M.pd


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa , yang
telah memberikan rahmat dan karunia yang dilimpahkan-Nya kepada penulis,
sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.
Adapun yang menjadi judul tugas saya adalah “Critical Book Report. Tugas
critical book report ini disusun dengan harapan dapat menambah
pengetahuan dan wawasan kita semua khusunya dalam hal Penginderaan jauh .
Jika dalam penulisan makalah saya terdapat berbagai kesalahan dan
kekurangan dalam penulisannya, maka kepada para pembaca, penulis memohon
maaf sebesar-besarnya atas koreksi-koreksi yang telahdilakukan. Hal tersebut
semata-mata agar menjadi suatu evaluasi dalam pembuatan tugas ini.
Mudah-mudahan dengan adanya pembuatan tugas ini dapat memberikan
manfaat berupa ilmu pengetahuan yang baik bagi penulis maupun bagi para
pembaca.
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………….2`

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………….……3

BAB I PENDAHULUAN …………………..……………………………………….………………….……...4


1.1 Latar belakang ………………………………….…….……………………….………………………….4
1.2 Rumusan masalah .……….………………………….………………………………………………….4
1.3 Tujuan …………………………………………………………………………………………………………4
1.4 Manfaat ……..…………….………………….…………………………………………………………….4
1.5 Identitas buku ………………………….……………….…………………………………..…..………..5

BAB II RINGKASAN ISI BUKU


UTAMA…………………………..…………………………….………………………………………………7
BAB 1 …………………………..…………………………..…………………………………………………..7
BAB 2 ……….…………………………….……………………………………………………………………14
BAB 3 …….…………………………………………………………………………………………………….18
BAB 4 …….………………………………………………………………………………………….…………23
BAB 5 …….………………………………………………………………………………………….………...25

RINGKASAN ISI BUKU


PEMBANDING ………………………………………………………………………………………………..28
BAB 1 ……………………………………………………………………………………………………………..28
BAB 2 ……………………………………………………………………………………………………………..30
BAB 3 ……………………………………………………………………………………………………………..32
BAB 4 ……………………………………………………………………………………………………………..37
BAB 5 ………………………………………………………………………………………………………………40
BAB 6 ………………………………………………………………………………………………………………42
BAB 7 ………………………………………………………………………………………………………………43
BAB 8 ……………………………………………………………………………………………………………...47
BAB III KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
BUKU……………………………………………………………………………………………………….………53
Kelebihan buku …….………………………………………………………………………………………...53
Kekurangan buku …………………………………………………………………………………………….53

BAB IV
PENUTUP………………………………………………………………………………….…………………….…54
Kesimpulan……………………………………………………………………………..………………..………54
Saran……………………………………………………………………………………….………………………..54
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….……………………..54

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Laporan resensi buku adalah laporan yang bertujuan untuk mengetahui isi buku, tetapi
lebih menitikberatkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi, dan analisis) kita mengenai
keunggulan dan kelemahan buku, apa yang menarik dari buku tersebut dan bagaimana isi buku
tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir kita dan menambah pemahaman kita terhadap suatu
bidang kajian tertentu. Sehingga laporan resensi buku merupakan suatu proses yang dilakukan
untuk mencari kelebihan dan kelemahan buku.
Materi yang akan dikritik mengenai Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling. Diharapkan
dengan adanya laporan resensi buku ini, mahasiswa dapat menambah pemahaman tentang
materi ini dan mampu berpikir lebih kritis maupun sistematis, sehingga untuk kedepannya
mahasiswa sebagai calon guru dapat mengaplikasikan materi ini di lapangan atau setelah
menjadi guru.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjelasan dari latar belakang, penulis membatasi materi yang akan
kami kritik, antara lain:
1. Apa dan bagaimana isi di setiap struktur ?
2. Bagaimana inti sari atau ringkasan dari setiap bab buku ?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan buku ?
1.3 Tujuan penulisan CBR
Mengkritisi/membandingkan satu topik materi kuliah Dasar Dasar BK dalam dua
buku yang berbeda.

1.4 Manfaat CBR

 Untuk menambah wawasan tentang Dasar Dasar BK.


 Untuk mempermudah pembaca mendapatkan inti dari sebuah buku yang
telah dilenggkapi dengan ringkasan buku
 Untuk mempermudah pembaasan isi buku,serta kekuragan dan kelebihan
isi buku .

1.5 Identitas buku


Buku utama
 Judul : Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling
 Pengarang : Tim Penyusun FIP UNIMED
 Penerbit : FIP UNIMED
 Kota terbit : Medan
 Tahun terbit : 2019
 Cetakan : Kedua
 Buku pembanding

 Judul : Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling


 Pengarang : Prof.Dr.H.Prsyitno, M.Sc.Ed dan Drs. Erman amti
 Penerbit : PUSAT PERBUKUAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN
 Kota terbit : Jakarta
 Tahun terbit : 1999
 Cetakan : Pertama

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengantar
1.1 Pengantar Buku Utama
Buku Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling “ yang ditulis oleh Tim Penyususn FIP UNIMED
terdiri dari 5 bab . 5 bab tersebut yaitu : bab 1 Arah dan Komponen Pokok Pelayanan, bab 2
Wilayah Pembelajaran Pelayanan, bab 3 Perencanaan dan Strategi Pembelajaran dan
Pelayanan, bab 4 Realisasi Kegiatan Mingguan bab 5 Pengelolaan Kegiatan

1.2 Pengantar Buku Pembanding


Buku “Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling“ yang ditulis oleh Tim Pengembangan
Program Penataran Bimbingan Dan Konseling terdiri dari 8 bab pokok pembahasan .8 bab
tersebut adalah : bab 1 Latar Belakang, bab 2 Wawasan Tenntang Pemahaman Penanganan
dan Penyikapan Terhadap Kasus, bab 3 Pengeertian Bimbingan Dan Konseling, bab 4 Landasan
Bimbingan dan Konseling, BAB 5 Fungsi dan Prinsip Prinsip Bimbinggan dan Konseling, bab 6
Orintasi dan Ruang Lingkup Kerja Bimbingan dan Konseling, bab 7 Jenis Layanan Dan Kegiatan
Bimmbingan Dan Konseling , bab 8 bimbingan dan konseling sebagai profesi

2.Ringkasan Setiap BAB Buku Utama


BAB I
Arah dan Komponen Pokok Pelayanan
A. Arahan Umum
1.Substansi pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan satuan penidikan

Substansi BK disiapkan untuk memfasilitasi satuan pendidikan dalam mewujudkaan


proses pendidikan yang memperhatiakn dan menjawab ragam kemampuan, kebutuhan, dan
minat sesuai dengan karakteristik peserta didik
, dan juga untuk Guru BK atau Konselor ddalam menangani dan mambantu peserta didik yang
secara individual mengalami mmasalah psikologis atau psikososial, seperti sulit berkonsentrasi,
rasa cemas, dan gejala prilaku menyimpang

2.Penyusunan Kurikulum

a. Tim penyusun kurikulum pada SD,SMP,SMA dan SMK terdiri atas: guru, konselor,
dan kepala sekollah sebagai ketua merangkap anggota,komite sekolah, nara sumber, fan pihak
lain yang terkait

b. Tim penyususn pada MI, MTs, MA DAN MAK terdiri atas: guru ,konselor, dan kepala
madrasah sebagai ketua merangkap anggota, komite madrasah, nara sumber, dan pihak lain
yang terkait.

c. Tim penyusunn kurikulum pada pendidikan khusus (SDLB, SMPLB, dan SMMALB)
terdiri atas: guru, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota, komite
sekolah, nara umber, dan pihak lain yang terkait.
B . ARAH DAN BIDANG PELAYANAN
1. Arah pelayanan

a. Pelayanan Dasar, yaitu pelayanan mengarah kepada terpenuhinya kebutuhan peserta


didik yang paling elementerPelayanan pengembangan
b. Pelayanaan arah peminatan
c. Pelayanan Teraputik, yaitu pelayanan untuk menangani permasalahan yang
diakibatkan oleh gangguan terhadap pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan,
serta pelayanan peminatan.
d. Pelayanan Diperluas, yaitu pelayanan dengan sasaran di luar diri peserta didik pada
satuan pendidikan, seperti personil satuan pendidikan, orang tua, dan warga
masyarakat lainnya yang semuannya itu terkait dengan kehidupan satuan pendidikan

2. Bidang pelayanan
a. Pengembangaan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu
peserta didik/sasaran layanann dalam memmahami, menilai, dan mengembangkan
potensi dan kecakapan,bakat dan minat
b. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu peserta
didik memahami , menilai, dan mengembangkan kemempuan hubungan sosial yang
sehat
c. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayan BK yang membantu peserta
didik mengembangkan kemampuan belajar sesuai program studi dan arah
peminatannya
d. pendidikannya, serta belajar secara mandiri
e. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu siswa dalam
menerima, memahami, menilai informasi dan pengalaman, serta memilih dan
mengamibil keputusan arah karir secara jelas, objektif dan bijak.

C. FUNGSI, PRINSIP ,DAN ASAS


1. Fungsi bimbinngan dan konseling
a. Fungsi pemahaman , yaitu fungsi pelayanan BK untuk meembantu peserta didik
memahami diri, tuntutanstudi, peminaatan dan lingkungannya.
b. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi pelayanan BK umtuk
membantu peserta didik memelihara dan menumbuh kembangkan berbagai potensi
dan kondisi positif yang dimilikinya secara optimal sesuai dengan tuntutan karakter
cerdas yang terpuji.
c. Fungsi pencegahan, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu peserta didik mampu
menncegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahannya yang dapat
menghambat perkembangan diri dan kehidupan eefektif sehari hari
d. Fungsi pengentasan, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu siswa mengatasi
kondisi kehidupan efektif sehari hari yang terganggu atau masalah yang dialaminya.
e. Fungsi pembelaan, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu peserta didik
memperoleh pembelaan atas hak dan/atau kepentingnya, baik berkenaan dengan
hak hak kehidupan pada umumnya, maupun khususnya berkenaan dengan hak
kependidikannya, yang kurang atau tidak mendapat perhatian secara memadai.

2. Prinsip dan asas bimbingan dan konseling


a. Prinsip pelayanan BK berkenaan dengan kondisi diri siswa, program pelayanan, sserta
tujuan dan pelaksanaan pelayanan.
b. Asas pelayanan BK meliputi asas kerahasian, kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan,
kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan,kenormatifan,keahlian,alih tangan
kasus,tut wuri handayani, dan alam takambang jadi guru.

D.JENIS LAYANAN, KEGIATAN PENDUKUNG, DAN FORMAT LAYANAN

1. Jenis Layanan
a. Layanan orientasi, yaitu layanan BK yang membantu peserta didik memahami
lingkungn baru untuk menyesuaikan diri serta mempermudah peran di lingkungan
baru yang efektif dan berkarakter.
b. Layanan informasi, yaitu layanan BK yang membantu peserta didik menerima dan
memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan
lanjutan secara terararah, objektif dan bijak
c. Layanan penempatan dan penyaluran, yaitu layanan BK yang membantu peserta
didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok
belajar, peminatan/lintas minat/pendalaman minat, program latihan,magang, dan
kegiatan ekstrakulikuler secara terarah, objektif dan bijak.
d. Layanan penguasaan konten, yaitu layanan BK yang membantu peserta didik
menguasai konten tertentu, terutama kompetisi dan attau kebiasaan dalam
melakukan, berbuaat sesuatu yang berguna dalam kehidupan sesuai potensi dan
peminatan dirinya.
e. Layanan konseling perorangan, yaitu llayanan BK yang membantu peserta didik
dalam mengentaskan masalah pribadinya melalui proseduur perseorangan.
f. Layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan BK yang membantu peserta didik dalam
pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir, dan
kegiatan tertentu sesuai dinamika kelompok
g. Layanan konseling kelompok, yaitu layanan BK yang membantu peserta didik dalam
pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami sesuai dengan tuntutan karakter
cerdas yang terpuji melalui dinamika kelompok
h. Layanan konsultasi, yaitu layanan BK yang membantu peserta didik atau pihak lain
Dallam mmempeeroleh wawasan, pemahaman, dan cara cara yang perlluy
dilaksanakan padda pihak ketiga sesuai dengan tuntutan karakter cerdas yang terpuji.
i. Layanan mediasi, yaitu layanan BK yang membantu peseerta didik dalam
menyelesaikan masalah dengan pihak lain dengan tuntutan karakter
cerdas yang terpuji
j. Layanan advokasi, yaitu layanan BK yang membantu peserta didik untuk
memperoleh kembali hak hak dirinya sesuai tuntutan karakter cerdas
yang terpuji.

2. Kegiatan pendukung
a. Aplikasi instrumental, yaitu mengumpulkan data peserta didik melauli tees maupun
non tes
b. Himpunan data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan
peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sisstematis ddan secara
rahasia
c. Konfersi kasus, yaitu kegiaatan membahas permasalahan peserta didik melalui
pertemuan yangb dihadiri oleh pihak pihak yang dapat memmberikan data dan bersifat
terbatas dan tertutup.
d. Kunjugan kerumah, kegiatan memperoleh data peserta didik dengan cara melalui
pertemuan dengan orang tua atau anggota keluarganya.
e. Tampilan kepusttakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang
dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kegiatan belajar, dan
karir.
f. Alih tangan kasus, yaitu kegiatan memindahkan penanganan masalah peserta didik ke
pihiak yang lebih berwenang sesuai masalahnya.

3. Format layanan
a. Individual
b. Kelompok
c. Klasikal (sejumlah peserta didik atau satu kelas rombongan belajar)
d. Lapangan (luar kelas atau lapangan)
e. Pendekatan khusus/kaloboratif (kepada pihak pihak yang dapat memmberikan
kemudahan)
f. Jarak jauh (melalui media dan sarana elektronik)

E. PROGRAM PELAYANAN
1. Program tahunan ,
2. Program semesteran
3. Program bulanan
4. Program mingguan
5. Program harian

F. WAKTU DAN POSISI PELAKSANAAN, SERTA PELAKSANA


1. Waktu dan posisi pelaksanaan
a. Di dalam jam pembelajaran:

1) Kegiatan tatap muka dilaksanakan secara klasikal untuk menyelenggarakan


layanan informasi, penguassaan konten, kegiatan instrumental, serta layanan lain
yang dapat di lakukan di dalam kelas
2) Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2jam per kelas , perminggu dan
dilaksanakan secara terjadwal
3) Kegiatan tatap muka nonklasikal diselenggarakan dalam bentuk layanan konsultasi,
himpunan data, kunjugan rumah, dll.

b. Di luar jam pembelajaran:

1) Kegiatan tatap muka nonklasikal dengan peserta didik dilaksanakan untuk layanan
orientassi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dll yang dapat dilakukan di
luar kelas
2) Satu kali kegiatan layanan/pendukkung BK dengan 2 jam pembelajaran tatp muka
dalam kelas
3) Kegiatan pelayanan BK satuan pendidikan maksimum 50% dari seluruh kegiatan
pelayanan BK, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan satuan pendidikan
4) Program pelayanan BK pada masing masing satuan pendidikan , mata pelajaran
dan kegiatan ekstrakulikuler

2. Pelaksana pelayaanan BK pada SMP/MTs/SMPLB,SMAA/MA/SMALB,dan


SMA/MAK
a. Pada satu sekolah diangkat sejumlah guru BK atau konselor dengan rasio 1 : 150(satu
guru BK melayani 150 orang murid )
b. Jika di perlukan guru BK dapat diminta bantuan untuk menangani permasalahan
peserta didik SD/MI dalam rangka pelaayanan alih tangan kasus

G. BEBAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB


1. Umum
a. Pengertian, tujuan, prinsip, asas asas, paradigmaa, visii dan misi pelayanan BK
professional
b. Bidang dan materi pelayanan BK, termasuk di dalamnya materi pendidikan karakter
dan arah peminatan peserta didik
c. Jenis layanan, kegiatan pendukung dan format pelayanan BK
d. Pendekatan, metodde, teknik dan media pelayanan BK
e. Penilaiaan hasil dan proses layanan BK
f. Penyusunan program pelayanan BK
g. Pengelolaan pelaksanaan program pelayanan BK
h. Penyusunan laporan pelayanan BK
i. Kode etik profesional BK
j. Peran organisasi pprofesi BK

2. Kejelasan peran professional


a. Guru BK merumuskan secara konkrit dan jelas tugas dan kewajiban profesionalnya
dalam pelayanan BK, meliputi:
1) Struktur pelayanan BK
2) Program pelayanan BK
3) Pengelolaan program pelayanan BK
4) Evaluasi hasil dan prosess pelayanan BK
5) Tugas dan kewajiban pokok guru BK atau konselor
b. Hal hal sebagaimanatersebut pada butir a diatas deijelaskan kepada peserta didik,
pimpinan, dann sejawat pendidik, pada satuan pendidikan, dan orang tua secara
professional dan proporsional

BAB II
WILAYAH PEMBELAJARAN / PELAYANAN
A. ARAH TUGAS DAN MUATAN PEMBELAJARAN / PELAYANAN

1. Pengertian Pendidikan dan Konseling


Wilayah tugas dan substansi pembelajaran dalam rangka pendidikan, dalam hal ini
termasuk pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK), Pasal 21 Butir 1, yaitu: Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mempelajari cara belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik belajar bergerak memiliki ke kuatan spiritual keagamaan, pengendali sebuah dirl.
kepribadian kecerdasan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinyanya,
masyarakat, bangsa dan negara

Merujuk pada komponen utama pengertian pendidikan di atas, materi pembelajaran mestilah
kandungan dimensi sebagai berikut :
 Dimensi disadari dan diatur, yaitu materi yang beragam dan operasional pembelajaran
yang tersusun dengan disadari keberadaan dan direncakan pelaksanaannya oleh
pendidik sebagai penyelenggara dan oleh peserta didik sebagai peserta proses
pembelajaran.
 Dimensi terwujudnya pembelajaran pada peserta didik melalui proses pembelajaran
yang diselenggarakan oleh pendidik
 Dimensi kegiatan belajar peserta didik, yaitu tentang belajar proses belajar dan pembelajaran
terarah pada kegiatan peserta didik itu sendiri dalam pengembangan potensi yang optimal
potensi mereka.
 Dimensi pencapaian enam fokus pembinaan melalui pendidikan, yaitu bahwa hasil
pembelajaran meliputi , kekuatran spiritual keagammaan, (2) Penguasaan spiritual, (2)
Penguasaan diri, (3) Kepribadian, (4) Kecerdasan, (5) Akhlak Mulia, dan (6) Keterampilan
 Dimensi kegunaan yaitu, bahwa hasil belajar dalam keenam fokus tersebut Berguna bagi
peserta didik itu sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

Konseling adalah pelayanan bantuan oleh tenaga professional kepada seseorang atau
sekelompok individu

Dalam pengertian konseling di atas, dimensi dimensi berikut:

 Dimensi bantuan profesional, yang dimaksud dengan pelayan BK seharusnyalab


diselenggarakan oleh tenaga profesional yang benar-benar ahli dan berkewenangan
dalam bantuan dengan sepenuh kaidah keprofesioanalannya.
 Dimensi sasaran layanan, yaitu individu(dalam berbagai kondisinya), baik secara
perorangan maupun kelompok
 Dimensi fokus pelayanan, yaitu pengembangan kehidupan yang efektif hari-hari (KES)
dan pemeliharaan kehidupan sehari-hari yang efektif (KES-T) dengan arah dicapainya
kemandirian dan kemampuan pengendalian diri pribadi sasaran pelayanan.
 Dimensi aktifasi pelayanan, yaitu diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan
kegiatan pendukung BK
 Dimensi pembelajaaran, yaitu bahwa aktifasi pelayanan BK tidak lain adalah aktifasi
pembelajaran yang dimmennsinya terkandung di dalam pengertian pendidikan
sebagaimana dikemukakan di awal bab ini

2. Muatan Pembelajaran / Pendidikan Dengan memperhatikan dimensi


yang menjadi pemahaman pendidikan dan pemahaman di atas, muatan
Khusus berkenaan dengan pelayanan, hal-hal berikut ini perlu mendapat perhatian dengan
seksama, yaitu:
a) Muatan pelayan BK langsung atau tidak langsung terkait dengan kebutuhan sasaran
pelayanan, baik individu maupun kelompok, dalam pengembangan perangkat
pengembangannya, baik dalam kondisi kekiniannya, dalam berbagai variasi pilihannya.
b) Muatan pelayanan BK terarah untuk kondisi KES; Dalam hal ini di satu sisi Syarat
KESEHATAN kebutuhan setiap kali diperkuat dan diperkaya dalam dimensi dinamis,
produktif, dan berkelanjutan, diperbaiki, serta di sisi lain persyaratan KES-T untuk
memperbaiki KES sesuai dengan kebutuhan tujuan pelayanan.
c) Muatan kondisi KES dalam layanan BK terarah untuk kemampuan individu tujuan
kemandirian dan mengendalikan diri dengan menggunakan atauran nilai dan norma
kehidupan beragama dan berkarakter-cerdas.
d) Muatan pelayanan BK terintegrasikan sepenuhnya bahan dan teknis-operasional dalam
masing-masing jenis layanan dan keigatan pendukung BK.
e) Muatan pelayanan BK merupakan muatan layanan dan kegiatan pendukung yang
diarahkan pada dicapainya hasil layanan, terkait dengan komponen AKUR-S (referensi,
kompetensi, usaha, rasa, dan kesungguhan) terkait dengan pemenuhan kebutuhan
sasaran pelayanan

3. Materi Pembelajaran / Pelayanan dalam Kegiatan Layanan dan


bahan pelayanan BK untuk masing-masing jenis layanan dan kegiatan pendukung,
sebagaimana berikut.
a. Layanan Orientasi adalah Materi layanan komunikasi terarah pada pengembangan
pribadi, hubungan sosial dan kemampuan belajar dalam dimensi berkarakter cerdas
serta pengembangan Arah, peminatan, wawasan, dan Arah implementasi karir.
b. Layanan Informasi adalah Materi layanan informasi terarah pada pengembangan
potensi, kemampuan, dan prestasi belajar, peminatan dan arah karier serta kemampuan
pribadi yang berkarkater-cerdas, mandiri, dan mengendalikan diri.
c. Penempatan dan Penyaluran adalah Materi layanan penempatan dan penyaluran untuk
pengembangan kemampuan pribadi dan sosial yang berkarakter-cerdas, belajar, dan karir dapat
dilakukan melalui penempatan di dalam kelas
d. Layanan Penguasaan Konten adalah Dalam Layanan Penguasaan Konten dengan
Pengembangan Kebutuhan Belajar yang dibutuhkan Nilai-Nilai dalam Kebijakan Pendidikan
seperti disiplin, ulet dan kerja keras, membutuhkan pengembangan sumber daya yang optimal,
dalam mendukungnya dengan peminatan akademik, vokasional dan studi lanjutan, dengan
semangat mampu bersaing secara sehat.
e. Layanan Konseling Perorangan adalah Materi yang diterbitkan dalam layanan konseling
perorangan tidak dapat ditentukan sebelumnya, disetujui akan diterbitkan oleh klien layanan
kompilasi yang dilaksanakan.
f. f.Layanan Bimbingan Kelompok adalah Materi layanan bimbingan kelompok diwadahi dalam
bentuk topik-topik yang dibicarakan dalam layanan oleh peserta kelompok di bawah pimpinan
pimpinan kelompok (Guru BK atau Konselor).
g. Layanan Konseling Kelompok adalah Seperti untuk layanan konseling perorangan, materi yang
dibahas dalam konseling kelompok tidak dapat disahkan sebelumnya oleh konselor, akan
diberikan pada masing-masing anggota kelompok
h. Layanan Kensultasi adalah Seperti untuk layanan konseling perorangan, materi yang
disampaikan dalam layanan konsultasi tidak dapat disetujui sebelumnya, melainkan
dikemukakan oleh konsulti layanan sedang berjalan
i. Layanan Mediasi adalah Masalah yang menyebabkan perselisihan yang perlu dimediasi pada
masalah yang merupakan masalah sosial. Dalam hal ini layanan mediasi pertama-tama tentang
hubungan sosial di antara pihak-pihak yang berselisih.
j. Layanan Advokasi adalah Seperti pada layanan konsultasi dan mediasi, masalah yang dibahas
dalam layanan advokasi terkait dengan masing-masing pihak.
k. Aplikasi Instrumentasi adalah Berbagai instrumen dapat diaplikasikan untuk mengukur atau
mengungkapkan satu atau lebih kondisi masing-masing peserta didik atau tujuan pelayanan:
kondisi diri pribadi, hubungan sosial, kemampuan belajar, dan atau arah kemampuan karir.
l. Data Himpunan adalah Dalam penyelenggaraan data himpunan perlu ditanganikan data
tentang peminatan akademik, vokasional dan studi lanjutan,
m. m.Konferensi Kasus adalah Dalam penyelenggaraan konferensi kasus perlu ditunda peminatan
akademik, vokasional dan studi lanjutan dengan menerapkan asas kerahasiaan dan nilai-nilai
karakter seperti kejujuran, objektivitas, penghargaan terhadap individu, kemandirian dan
mengendalikan diri.
n. Kunjungan Rumah adalah Kegiatan kunjungan rumah dapat dilakukan / membahas satu atau
lebih masalah peserta didik (masalah pribadi, sosial, belajar, dan atau karir dalam kaitannya
dengan peminatan akademik, vakasional dan ujtuk dibicarakan dengan orang tua dan atau
keluarga
o. Tampilan Kepustakaan adalah Dalam Kegiatan Pendukung Tampilan Kepustakaan dengan
Materi Pengembangan Kemampuan Belajar Perlu Dipertahankan nilai Karakter-cerdas Dalam
Belajar Seperti Disiplin, Ulet ,Kerja Keras, kemandirian dan pengendalian diri
p. Alih Tangan Kasus adalah Materi alih tangan kasus merupakan pendalaman terhadap masalah
pribadi, sosial, belajar, dan atau karir peserta didik yang semula dipersiapkan oleh konselor,
yang selanjutnya diminta oleh pihak lain auek perlu diperbaiki berkewlian / berkewenangan.

WAKTU DAN VOLUME TUGAS PEMBELAJARAN / PELAYANAN DAN


PELAKSAANANYA
1. Tugas di Dalam dan di Luar Waktu Selai Pembelajaran Diperbaiki sesuai dengan rencanaan layanan BK
Dapat dilakukan kapan saja dan di mana juga, sesuai dengan sesuai dengan permintaan bantuan (klien)
dengan bantuan yang sesuai dengan konselor) .
a.Di dalam waktu jam pembelajaran

1. kegiatan tatap muka dilaksanakan secara klasikal


2. volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 jam perkelas
3. kegiatan tatap muka nonklasikal diselenggarakan dalam bentuk layanan konsultasi,
himpunan data, kunjungan rumah, dll.

b.Di luar waktu jam pembelajaran

1. kegiatan tatap muka nonklasikal dengan peserta didik dilaksanakan untuk layanan
orientasi, konseling perorangan, dll dilaksanakan di luar kelas
2. satu kali kegiatan layanan/pendukung BK di luar kelas/di luar jam pembelajaran 2 jam
setiap tatap muka dalam kelas
3. kegiatan pelayanan BK di luar jam pembelajaran satuan pendidikan maksimum 50% dari
selurug kegiatan pelayanan BK

2. Pelaksana dan Pelaksanaan Tugas Pelajaran yang Dipilih pada Bab 1, Permendikbud No. 81.A Tahun
2013 tentang Implementasi Kurikulum yang menentukan:

a. Pada (seorang Guru BK atau Konselor mengasuh/mengampu/melayani 150 orang peserta


didik) pada setiap tahun ajaran.
b. Jika diperlukan Guru BK tersebut dapat diminta bantuan untuk menangani permasalahan
peserta didik SD/MI dalam rangka pelayanan alih tangan kasus.

BAB III
A.PELAYANAN YANG MEMBELAJARKAN
pelayanan BK merupakan pekerjaan sehari hari guru BK . Tugas nya yaitu sebagai pendidik harus
didasarkan pada pengertian pendidikan sebagaimana telah disebutkan pada BAB I.

1. Belajar dan Pembelajaran


a.Tentang belajar.

tahu: dari tidak tahu menjadi tahu

bisa: dari tidak bisa menjadi bisa

mau: dari tidak mau menjadi mau

biasa: dari tidak biasa menjadi terbiasa


ikhlas: dari tidak ikhlas menjadi ikhlas

b.Tentang pembelajaran Uraian 7-A tentang pembelajaran yang terkait langsu dengan konsep
tentang pembelajaran adalah interaksi antara pendidik c peserta didik. Berinteraksi dalam bentuk
apa? Tidak ada dalam bentuk kegia pendidik dengan sekuat tenaga, dengan berbagai cara,
mendorcasilitasi, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik agar saya belajar, agar mereka
berada dalam lingkungan belajar.

2. Materi Pembelajaran
a. Tentang perlunya belajar dan pembelajaran

melalui dimisi enam fokus pembinaan pendidikan oleh peserta didik, yaitu: kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan yang dibutuhkan,
masyarakat, bangsa dan negara.

b. Tentang materi pembelajaran Pertama-tama, uraian 7-A tentang materi pembelajaran terkait
langsung dengan enam fokus pembinaan pendidikan.

3. Pembelajaran Pilar
a. Tentang Pelaksanaan pembelajaran

 pengakuan dan penerimaan pendidik terhadap peserta didik,


 Kasih sayabg pendidik bagi peserta didik,
 Penguatab pendidik untuk hal-hal positif yang dilakukan peserta didik
 Tindakan tegas yang mendidik (bukan hukuman) oleh pendidik atas peserta pelatihan didik yang
perlu diperbaiki
 arahan dan keteladanan dari pendidik untuk peserta didik

B. Kedua, pilar kewiyataan (teknologi tinggi teknologi tinggi) dengan unsur-unsur

 dikuasainya materi pembelajaran dalam kategori luas dan kaya oleh pendidik
 Diterapkannya metode pembelajaran secara tepat dan efektif melalui strategi tranaformatif-
BMB3
 dimanfaatkannya bantuan pembelajaran yang benar-benar menunjang kegiatan pembelajaran
oleh pendidik
 dikembangkannya pembelajaran lingkungan yang kondusif, inspiratif, aspiratif, dinamis, dan
dikembangkan
 Dilaksanakannya penilaian hasil belajar peserta didik secara objektif dan progresif
memperkembangkan
4.Strategi pembelajaran
Strategi terselenggara melakui dinamika BMB3, yaitu :

B: berpikir

M: merasa

B: bersikap

B: bertindak

B: bertanggung jawab

5.Hasil pembelajaran
Tentang hasil belajar-pembelajaran. Uraian 7A tentang hasil belajar-pembelajaran dicapai peserta didik
secara aktif

6. Pengelolaan Pembelajaran
Proses pembelajaran yaitu dengan langkah sedih dan terencana melalui tahapan P3MT, yaitu:

a. Perencanaan

b. Pengorganisasian

c. Pelaksanaan

d. Monitoring dan evaluasi

e. Tindak lanjut

B.Arah, etika dan prosedur dasar


1.ARAH DAN ETIKA DASAR PROFESI KONSELING

1. Upaya konseling mengembangkan pembangunan KES (Kehidupan efektif sehari-hari) dan


perbaikan KES-T (Kehidupan efektif sehari-hari yang terkait), dengan Fokus pribadi dan
pengendalian diri.
2. Kemandirian Upaya mengkonsultasikan terarah pada pembelanjaan klien agar belajar dalam
dimensi dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mau menjadi mau,
dari tidak biasa menjadi dapat digunakan, dan dari tidak ikhlas menjadi ikhlas.
3. Konselor tidak pernah memihak kecuali pada kebenaran.
4. konselor tidak bekerja dengan acuan sanksi ataupun hukuman
5. Konselor memegang teguh rahasia klien

2.Prosedur dasar kegiatab pelayanan konseling


1. Pengantaran: Kegiatan awal untuk membangun suasan rapport sehingga klien memasuki
proses konseling denga rasa aman, nyaman, dinamis, positif, dan sukarela.
2. Penjajagan : Kegiatan untuk mengungkapkan kondisi di klien (perasaannya, pikirannya,
keinginan, sikap da kehendaknya, serta pengalamannya) dalam suasana kekinian
3. Penafsiran : Kegiatan untuk mendalami dan memahami lebih jau atas berbagai hal yang
dikemukakan klien melalui proses klien berpiki merasa, bersikap, kemungkinan bertindak, dan
bertanggung jawab (BMB) secara positif.
4. Pembinaan Kegiatan yang menunjang terbangunnya KES dan/ata teratasinya KES-T,
berdasarkan hasil analisis diagnosis, terarah pac dipahaminya/ dikuasainya acuan yang tepat,
kompetensi yang memada upaya yang efektif, perasaan positif, dan kesungguhan yang
menjama suksesnya usaha.
5. Penilaian : Kegiatan untuk mengetahui hasil yang dicapai klie melalui kegiatan belajarnya dalam
proses konseling yang ia jalani, da tindak lanjutnya.

C.SPESIFIKASI ASPEK TEKNIS OPERASIONAL


PEMBELAJARAN/PELAYANAN
1.Landasan teori praktis
a.Diterapkannya strategi eklektik ,teori pendekatan khusus :

1) Konseling Psikoanalisis-Klasik (Freud),


2) Konseling Ego (Adler, Jung, Fromm),
3) Konseling Psikologi Individual (Adler)
4) Konseling Analisis Transak-sional (Berne)
5) Konseling Self (Rogers),
6) Konseling Gestalt (Perls),
7) Konseling Behavioral (Skinner),
8) Konseling Realitas (Glasser),
9) Konseling Rasional-Emotif (Ellis), dan
10) Konseling Pancawaskita (Prayitno)
b. Diturunkan dari berbagai teori/pendekatan khusus BK di atas, dirumuskan sepuluh
jenis layanan konseling dan enam kegiatan pendukung dengan format layanan/kegiatannya
sebagaimana telah diuraikan terdahalu.

2. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran dalam pelayanan BK adalah strategi transformasional-BMB3 dengan penegakan 2
(dua) pilar pembelajaran.

3.Hasil Pembelajaran
Hasil belajar yang diperoleh dari pelayanan konseling didapat melalui dinamika D-C-T dalam kondisi
triguna dengan orientasi khusus AKUR-S sebagaimana telah diuraikan terdahulu.

4.Pengelolaan Pembelajaran
Dalam pelaksanaan jenis layanan dan kegiatan pendukung BK, taha tahap pengelolan P3MT
sebagaimana diuraikan terdahulu ditekankan pada tahap langkah-langkah pelaksanaannya

5.Setting Pelayanan
Sebagai pendidik, Guru BK atau Konselor menyelenggarakan k lni Imanan/kegiatan pendukung BK
terhadap sasaran pelayanan dalam setting satuan pendidikan (sekolah/madeasah)

D.RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN /PELAYANAN


Pelaksanaan pembelajaran melalui pelayanan BK perlu direncanakan oleh Guru BK atau Konselor,
terutama untuk kegiatan pelayanan yang sudah sejak awal terprogramkan dan pelaksanaannya telah
terjadwalkan.

1. Perencanaan
Secara khusus di sini dikemukakan komponen dan struktur RPL/RKP yang terkait langsung dengan
kegiatan pelayanan BK klasikal terjadwal tertentu.

2. Pengorganisasian
disiapkan kegiatan berikutnya adalah mengorganisasikan berbagai aspek pokok terutama menyangkut
prasarana Setelah RPL/RKP dan sarana fisik, personalia dan administrasi untuk menjamin kelancaran dan
suksesnya pelaksanaan RPL/RKP tersebut

3. Pelaksanaan
waktu dan tempat yang telah direncanakan, pelaksanaan kegiatan pembelajaran/ pelayanan
berdasarkan RPL/RKP itu terselenggarakan dengan materi dan arah serta aktifitas kegiatan dengan
langkah 5-An dan dinamika BMB3

4. Monitoring dan Penilaian


Sasaran pembelajaran/pelayanan guru BK atau konsleor di satuan pendidikan sepanjang tahun adalah
minimal 150 orang peserta didik yang menjadi subyek ampuannya. Dalam hal ini materi panduan BK
perlu dijadikan rujukan:

a. penilaian proses
b. Penilaian hasil
c. Laporan hasil penilaian

5. Tindak Lanjut
Hasil monitoring terhadap proses kegiatan pembelajaran/pelayanan dan hasil-hasilnya sebisi isi
LAPELPROG aiman mengadianalisis dan ditindak-lanjuti untuk perbaikan, pemantapan ataupun
penyesuaian kegiatan pembelajaran pelayanan selanjutnya

Bab IV
Realisasi kegiatan mingguan

A.PEMBELAJARAN/PELAYANAN DI DALAM WAKTU JAM PEMBELAJARAN


Guru BK atau Konselor menyelenggarakan pelayanan BK untuk seluruh peserta didik yang menjadi
asuhannya/ampuannya (minimal 150 orang) dalam kinerjanya setiap hari, setiap minggu sepanjang
tahun ajaran.

1. Kegiatan Klasikal Terjadwal

Kegiatan mingguan terjadwal dilaksanakan oleh Guru BK atau Konselor untuk semua rombongan
belajar di kelas-kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab asuhannya (minimal 150 orang).

2. Kegiatan Nonklasikal

Selain melakukan kegiatan klasikal terjadwal dalam waktu jam pelajaran, Guru BK atau Konselor
dapat ikut menyelenggara kan kegiatan nonklasikal, baik yang telah terprogram (dalam Program
Tahunan / Semesteran / Bulanan / Mingguan), juga terkait untuk kegiatan layanan dan / atau
pendukung yang perlu dilaksanakan. Kegiatan yang dimaksud adalah:

a. Konferensi Kasus
b. Layanan Konsultasi
c. Kunjungan Rumah
d. Pengolahan data
e. kegiatan pengembangan

B.Pembelajaran/ pelayanan di luar waktu jam pembelajaran


1.Kegiatan Terprogram
a. Layanan Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok.

b. Layanan Konseling perorangan

c. Layanan Konsultasi

2. Kegiatan yang tidak Terprogram


a. Layanan koseling perorangan

b. Layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok

c. Layanan konsultasi, mediasi, atau advokasi

d. Kunjungan Rumah

e. Konferensi kasus
BAB V Pengelolaan kegiatan
A. Spektrum Kinerja
1.Kinerja Guru BK atau Konselor
Dalam kelembagaan UPBK di satuan-satuan pendidikan bertugas umlah Guru BK atau Konselor
(masing-masing melayani minimal 150 ang peserta didik sebagai subjek ampuannya) yang semuanya
ertanggung jawab kepada Kepala Satuan Pendidikan melalui kordinasi oleh Koordinator BK.

a. Spektrum pelayanan BK yang menjadi ruang lingkup kinerja setiap Guru BK atau Konselor adalah
seluruh substansi BK
b. Masing masing guru bk atau konselor wajib bekerja dalam keseluruhan spektrum program
pelayanan BK tersebut
c. Kegiatan guru BK atau konselor dalam spektrum program pelayanan BK tersebut

2. Koordinator BK
a. Mengkoordinasikan penugasan dalam rangka pengasuhan peserta didik oleh masing-masing
Guru BK atau Konselor sesuai peraturan yang berlaku.
b. Mengkoordinasikan penyusunan dan penyelenggaraan seluruh program BK pada satuan
pendidikan yang dimaksud.
c. Mengkomunikasikan dan mengurus segala sesuatu kepada Kepala Satuan Pendidikan dalam
rangka kinerja UPBK pada umumnya dan tugas/kegiatan Guru BK atau Konselor pada
khususnya.
d. Mengkoordinasikan laporan kegiatan pelayanan BK dari semua Guru BK atau Konselor untuk
keperluan pengawasan dan pembinaan, baik yang bersifat interen maupun eksteren.
e. Mewakili UPBK untuk melakukan kegiatan di luar satuan pendidikan dengan penugasan dari
Kepala Satuan Pendidikan.

B. KERJASAMA
1. Kerjasama Interen

a. Kerjasama dengan guru mata pelayaran


1) Pengumpulan data penghimpunan data peserta didik yang menjadi tanggung jawab guru
BK atau konselor dengan tetap menjaga asas kerahasiaan peserta didik.
2) Alihtangan kasus dari Guru Mata Pelajaran kepada Guru BK atau Konselor dan dari Guru BK
atau Konselor kepada Guru Mata Pelajaran agar peserta didik mendapat penanganan yang
tepat luas dan mendalam sesuai dengan permasalahannya.
3) Sebagaimana dikutip dari Permendiknas Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses
Pendidikan Dasar dan Menengah (Bab V), yaitu : hasil penilaian otentik dapat digunakan
oleh guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial), pengayaan (enrichment)
atau pelayanan konseling,
4) Kegiatan bersama yang dilakukan dan/atau dihadiri bersama oleh Guru BK atau Konselor
dan Guru Mata Pelajaran, misalnya dalam layanan informasi, monitoring dan pembinaan
peserta didik dalam rangka pelayanan arah peminatan, implementasi dan pembinaannya,
serta kegiatan ekstrakurikuler.

b. Personalia administrasi dan unsur kelembagaan lainnya pada satuan


pendidikan demi kelancaran dan berlangsungnya program-pro pelayanan BK dan
kegiatan satuan pendidikan pada umumnya

c. Organisasi siswa (OSIS) baik dalam kaitannya dengan pelayanan BK


maupun kegiatan pembinaan siswa pada umumnya

2.kerjasama ekstern

a. Kerja sama dengan orang tua


Perlu memperhatikan bahwa:

1) Permasalahan peserta didik tidak harus seketika dan serta merta disampaikan kepada
orang tua.
2) Masalah yang dimaksud perlu diketahui oleh oarang tua hanya apabila orang tua dapat
merespon dan/atau bertindak yang memberikan dampak positif terhadap penanganan
masalah tersebut.
3) Keikutsertaan orang tua dalam menangani masalah anaknya dapat diawali dan/atau
diiringi dengan layanan konsultasi terhadap orang tua
4) Keikutsertaan orang tua terhadap penanganan masalah anaknya sedapat-dapatnya
didasarkan pada kemauan dan kemampuan peserta didik sendiri dalam berkomunikasi
dan berkontribusi secara poisitif dengan orang tua dan anggota keluarganya

b. Kerjasama dengan Pihak Lain


1) Komite Satuan Pendidikan (Komite Sekolah/ Madrasah) dalam rangka memberdayakan
lembaga tersebut untuk suksesnya kegiatan pembelajaran peserta didik dan kegiatan
satuan pendidikan pada umumnya.
2) Tenaga ahli, baik dari kalangan profesi BK (ABKIN dan IKI) serta MGBK maupun profesi
terkait lainnya, dalam rangka kegiatan instrumentesi terhadap kemampuan dasar
peserta didik dll, demi suksesnya pelayanan BK terhadap peserta didik pada umumnya.
3) Badan atau lembaga pembina di luar satuan pendidikan, dengan izin daril atau
penugasan dari Kepala Satuan Pendidikan, dalam rangka pengembangan dan
pembinaan kompetensi dan profesionalisme pelayanan BK, seperti: penataran, seminar,
penelitian, studi lanjut.
4) Lembaga kedinasan negeri ataupun swasta, seperti lembaga pendidikan pada berbagai
jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, lembaga kerja/bisnis, organisasi
sosial/kemsyarakatan yang dapat berpartisipasi dalam pelayanan BK untuk kegiatan
layanan ataupun pendukung seperti layanan Orientasi, Informasi, Penempatan dan
Penyaluran, Konferensi Kasus.

C. PERAN PIMPINAN SATUAN PENDIDIKAN


1. Pelaksana dan Sasaran Pembelajaran/Pelayanan BK
a. Pengangkatan/penugasan Guru BK atau Konselor di satuan pendidikan yang dimaksud dan
peserta didik yang menjadi subyek asuhan/ampuan masing-masing sesuai dengan peraturan
yang berlaku.
b. Menetapkan Koordinator BK dari Guru BK atau Konselor yang ada di UPBK, mengacu kepada
kualitas kualifikasi pendidikan dan kinerja Guru BK atau Konselor yang dimaksud.

2. Fasilitas Kinerja
a. Prasarana dan sarana perkantoran, administrasi, dan peluang serta peluang yang
mencukupi untuk pengembangan dan keberhasilannya UPBK dan kinerja para Guru BK atau
Konselor.
b. Fasilitas kelengkapan untuk kegiatan pembelajaran dan pelayanan bagi para calon pegawai
BK pada umumnya dan para pegawai khusus peserta didik.
Ringkasan Setiap Bab Buku Pembanding
BAB I Latar Belakang
A. Pembangunan dan Perkembangan Masyarakat
Sejak awal kemerdekaannya bangsa dan pemerintah Indonesia bertekad untuk menyelenggarakan
perjuangan pembangunan menuju bangsaka yang cerdas, maju, adil dan makmur, baik spiritual maupun
materiil. Tekad itu terwujud dalam upaya pengembangan perikehidupan bangsa dan pembangunan
nasional di segala bidang yang berkesinambungan dan terus meningkat.Bangsa ingin mengejar
ketertinggalan yang amat parah yang Kia warisi akibat zaman penjajahan yang sangat panjang. Kita ingin
mbpembangunan nasional di segala bidang yang berkesinambungan dan terus segera menyejajarkan diri
dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Oehh karena itu sangatlah beralasan apabila pada tahun
1970-an dicanangkan upaya "akselerasi-modernisasi" dengan kecepatan yang semakin mengikat kita
memodernisasikan bangsa Indonesia

B. Manusia: Makhluk Paling Indah dan Berderajat Paling Tinggi


Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling indah dan paling tinggi derajatnya. Manusia diciptakan
untuk menjadi khalifah atau pemimpin di bumi, atau bahkan kiranya di seluruh semesta ciptaan
Tuhan. Apakah artinya predikat "paling indah" dan "paling tinggi" itu? Hakikat keindahan artinya
rasa senang dan bahagia. Dengan demikian, predikat paling indah untuk manusia dapat diartikan
bahwa tiada sesuatu pun ciptaan Tuhan yang menyamai keberadaan manusia yang mampu
mendatangkan kesenangan kebahagiaan di mana pun dan pada saat apa pun, baik bagi dirinya
esendiri, maupun bagi makhluk lain

C. Dimensi dimensi kemanusiaan


1.antara orang yang satu dengan orang-orang lainnya terdapat berbagai perbedaan yang kadang kadang
bahkan sangat besar

2.semua orang memerlukan orang lain.

3.kehidupan manusia tidak bersifat acak ataupun sembarangan, tetapi mengikuti aturan aturan tertentu

4.juga dari sudut tinjauan agama, kehidupan tidak semata-mata kehidupan di dunia fana, melainkan
juga menjangkau kehidupan di akhirat
D. Manusia Seutuhnya
Berkenaan dengan apa yang telah diuraikan terdahulu, manusia seutuhnya mengacu kepada kualitas
manusia sebagai makhluk yang paling indah dan paling tinggi derajatnya, serta kepada perkembangan
yang op timal keempat dimensi kemanusiaan. Telah disebutkan adanya dimensi keagamaan, bahwa
manusia seutuhnya adalah manusia yang telah berhasil memperkembangkan pada dirinya keempat
dimensi kemanusiaan itu schingga ia benar-benar mencapai kualitas keindahan dan derajat yang
setinggi-tingginya dalam kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

ciri-ciri umum manusia ideal yang mampu berfungsi peruh, yaitu mereka (Sappington, 1989):

1.Secara sadar mampu mengontrol hidupnya sendiri;

2.melihat dan memahami diri sendirí dan dunia luarnya (orang-orang fain dan lingkungan) secara tepat

3.menerima diri sendiri dengan segenap kekuatan dan kelemahannya;

4.penuh tenggang rasa (toleran) terhadap orang lain;

5.mampu membangun hubungan yang akrab dan mendalam dengan sejumlah orang:

6.bertindak dengan motivasi untuk mencapai tujuan dan tidak sekadar untuk terhindar dari tekanan
tertentu;

7.mampu untuk berubah, khususnya untuk hal-hal yang penting.

E. Perlunya Bimbingan dan konseling


hakikat manusia dan manusia seutuhnya memberikan gambaran mengenai tuntutan terhadap
perikehidupan manusia dan potensi yang ada pada diri manusia. Manusia dituntut untuk mampu
memperkembangkan dan menyesuaikan diri terhadap masyarakat, dan untuk itu memang manusia
telah diperlengkapi dengan berbagai potensi, baik potensi yang berkenaan dengan keindahan dan
ketinggian derajat kemanusiaannya maupun berkenaan dengan keempat dimensi kemanusiaannya itu,
yang memungkinkannya untuk memenuhi tuntutan masyarakat tersebut. Pemenuhan terhadap
tuntutan perkembangan masyarakat sekaligus memerlukan pengembangan individu warga masyarakat
secara serasi, selaras, dan seimbang.

Keberadaan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah dipertegas lagi oleh peraturan pemerintah
No.28 tahun 1990 dan No.29 tahun 1990 yaitu:

(1) bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan
pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan;

(2) bimbingan diberikan oleh guru pembimbing

Dalam penjelasannya Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 menyebutkan bahwa :


-bimbingan dalam rangka menemukan pribadi siswa, dimaksudkan untuk membantu siswa mengenal
kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya;

-bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, dimaksudkan untuk membantu siswa menyesuaikan diri
dengan lingkungan sosial, ekonomi, budaya serta alam yang ada;

-bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan, mempersiapkan diri untuk langkah yang
dipilihnya setelah tamat belajar pada sekolah menengah serta kariernya di masa depan.

Bab 2 Wawasan Tenntang Pemahaman Penanganan dan


Penyikapan Terhadap Kasus
A. Tinjauan awal tentang kasus
Dalam bimbingan dan konseling pemakaian kata "kasus" tida menjurus kepada pengertian-pengertian
tentang soal-soal ataupun perkara perkara yang berkaitan dengan unusan kriminal atau perdata, urusan
hukun ataupun polisi, atau urusan yang bersangkut-paut dengan pihak-pihak yan berwajib, Kata "kasus"
dipakai dalam bimbingan dan konseling sekada untuk menunjukkan bahwa "ada sesuatu permasalahan
tertentu pada di seseorang yang perlu mendapatkan perhatian dan pemecahan demi kebaika untuk diri
yang bersangkutan".

B.Pemahaman Terhadap Kasus


Dalam menghadapi suatu kasus yang dialami oleh seseorang, ada tina halutama yang perlu
diselenggarakan, yaitu penyikapan, pemahaman. dan penanganan terhadap kasus tersebut. Oleh karena
"penyikapan menyangkut baik "pemahaman" maupun "penanganan", maka dalam sajian berikut uraian
tentang "penyikapan" akan diberikan pada urutan yang terakhir.

Pemahaman yang lebih mendalam terhadap kasus dilakukan untuk mengetahui lebih jauh berbagai
seluk-beluk kasus tersebut, tidak hanya sekadar mengerti permasalahannya atas dasar deskripsi yang
telah dikemukakan pada awal pengenalan kasus semata-mata. Di depan telah dikemukakan bahwa
permasalahan yang terkandung di dalam suatu kasus boleh jadi seperti gunung es yang terapung di
lautan, bagian yang tampak di permukaan air hanya sedikit saja, padahal bagian yang berada di bawah
permukaan laut besarnya sukar diukur.

C.Penanganan kasus
Penanganan kasus pada umumnya dapat dilihat sebagai keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang
terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan
diakhiri- nya perhatian dan tindakan tersebut. Dalam pengertian itu penanganan kasus meliputi:

(1) pengenalan awal tentang kasus (dimulai sejak mula kasus itu dihadap- kan);

(2) pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu;

(3) penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut, dan akhirnya;

(4) mengusahakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan sumber pokok permasalahan
itu.

Dilihat secara lebih khusus, penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya-upaya khusus untuk
secara langsung menangani sumber pokok permasalahan dengan tujuan utama teratasinya atau
terpecahkannya permasalahan yang dimaksudkan.

D. Penyikapan terhadap kasus


Kasus merupakan kesatuan kondisi yang di dalamnya terkandu satu atau sejumlah masalah yang dialami
oleh scorang individu (a kelompok, keluarga, lembaga). Masalah-masalah tersebut dapat berkena
dengan berbagai aspek perkembangan dan kehidupan individu dala kaitannya dengan keempat dimensi
kemanusiaannya. Kasus-kasus sepen individu yang menanggungnya terbebas dari permasalahan
tersebut besen akibat-akibatnya. Untuk menangani kasus konselor perlu memiliki wawasan pemahaman
dan penyikapan terhadap kasus pada umumnya, sert pemahaman dan cara-cara penanganan masalah-
masalah yang terkandung dalam setiap kasus secara khusus.

Konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang.berbagai masalah yang terkandung di dalam kasus.
Konsep atau ide-ide tentang rincian setiap masalah, serta kemungkinan sebab-sebab dan akibat-
akibatnya sedapat mungkin dikuasi oleh konselor. Konsep atau ide itu akan memberikan arahan awal
untuk dilakukannya penjelajahan/pendalaman masalah melalui berbagai cara, seperti wawancara
langsung dengan individu penyandang kasus, analisis autobiografi, tingkah laku, perkembangan,
kumpulan data ,konferensi kasus.
Bab 3 Pengeertian Bimbingan Dan Konseling
A. Pengertian bimbingan dan konseling
Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaras Pendidikan pada umumnya, dan dalam
hubungan saling pengaruh antar ag yangsatu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dap
erjadi Orang tua membimbing anak-anaknya; guru membimbing muri muridnya, baik melalui kegiatan
pengajaran maupun non pengajaran;

Bentuk nyata dari gerakan bimbingan (dan konseling) yang formal berasal dari Amerika Serikat yang
telah dimulai pengembangannya sejak Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut
Voca- tional Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi
Vocational Guidance Bureau (Jones, 1951). Usaha Par- son inilah yang menjadi cikal-bakal
pengembangan gerakan bimbingan dan konseling) di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

1. Pengertian bimbingan
Berbagai rumusan tersebut dikemukakan sebagai berikut:

Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri,
dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank
Parson, dalam Jones, 1951). ...

bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-
kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan
sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh
penyesuaian yang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan.(Dunsmoor dan miller, dalam
McDaniel, 1969).

Hal-hal pokok yang terdapat dalam rumusan bimbingan tersebut ialah:

Rumusan 1 (Parson, dalam Jones, 1951)

a. Bimbingan diberikan kepada individu.


b. Bimbingan mempersiapkan individu untuk memasuki suatu jabatan.
c. Bimbingan menyiapkan individu agar mencapai kemajuan dalam jabatan sa
Rumusan 2 (Dunsmoor& Miller, dalam McDaniel, 1959)

a. Bimbingan berusaha membantu individu.


b. Bimbingan berusaha memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan yang
tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan, jabatan.
c. Bimbingan dilakukan secara sistematik.
d. Bimbingan bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan.

2. Pengertian konseling
Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu esl yang berarti "dengan"" atau
"bersama" yang dirangkai dengan menerima" atau "memahami". Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon,
olah konseling berasal dari "sellan" yang berarti "menyerahkan" atau "menyampaikan"

Beberapa teori oleh para ahli ,yaitu :

suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang dituiukan pada pemberian bantuan
kepadanya untuk dan menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya sendi dan dengan
lingkungannya. (McDaniel, 1956)

proses dalam mana konselor membantu konseli membu interpretasi-interpretasi tentang fakta-fakta
yang berhubung dengan pilihan, rencana, atau penyesuaian yang perlu dibuatnya (A.C. English, dalam
Shertzer & Stone, 1974).

Rumusan 1 (McDaniel 1965)

d. Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien


e. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan- kesulitan yang dihadapinya.
f. Tujuan dan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya, baik dengan
diri sendiri maupun lingkungannya.

Rumusan 2 (blocher, dalam Sherzer dan stone, 1974)

a. Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu.


b. Tujuan konseling adalah agar individu dapat memahami dirinya sendiri, dapat memberikan
reaksi (tanggapan) terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan, dan dapat mengembangkan serta
memperjelas tujuan tujuan hidupnya

B. Istilah Penyuluhan dan konseling


Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah "penyuluhan" yang selama ini
menyertai khta bimbingan, yaitu kesatuan istilah "bimbingan dan penyuluhan". Masyarakat umum telah
mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah asing "Guidance and
Counseling". Dengan demikian yang dimaksud dengan " penyuluhan" di sini adalah sesuatu yangke sama
artinya dengan konseling.
Penggunaan istilah penyuluhan dalam arti "konseling" dan penyuluhan dalam arti "pembinaan
masyarakat" seolah-olah berlomba dan saling ntikanmempertahankan keberadaan masing-masing.
Dalam "perlombaan" ini dapat dimengerti bahwa penyuluhan dalam arti yang kedua lebih memperoleh
nasaran, dalam arti konseling makin tertinggal dan terkungkung dalam lingkungannya sendiri, khususnya
lingkungan sekolah. Yang lebih penyumemprihatinkan lagi ialah penyuluhan dalam arti konseling itu
ternyata steril, kurang mampu memantapkan diri sendiri maupun pelayanannya kepada masyarakat.
Dalam keadaan seperti ini dikhawatirkan pengertian penyuluhan dalam arti konseling makin luntur atau
mungkin tidak dikenal satu pihak, dan di pihak lain penggunaan penyuluhan dalam arti yang lainnya
makin meluas dan sama sekali tidak dapat dibendung.

C. Perkembangan konsepsi bimbingan dan konseling


Perkembangan tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik.
Belkin (1975) secara tegas menolak konsep, rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan arti istilah
konseling. la bahkan mengusulkan, daripada meletakkan konseling sebagai bagian dari bimbingan,
adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentangPerkembangan yang
lebih lanjut tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik.
Belkin (1975) secara tegas menolak konsep, rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan arti istilah
konseling. la bahkan mengusulkan, daripada meletakkan konseling sebagai bagian dari bimbingan,
adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentang konseling yang
meliputi juga segala sesuatu yang selama ini disebutkan sebagai pelayanan bimbingan. Seluruh
pengertian bimbingan dilebur ke dalam pengertian konseling. Istilah bimbingan tidak dipakai lagi. Dalam
kaitan ini tidak dapat dielakkan bahwa para konselor mau tidak mau terlibat dalam masalah

Perkembangan rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik. Belkin
(1975) secara tegas menolak konsep, rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan arti istilah
konseling. la bahkan mengusulkan, daripada meletakkan konseling sebagai bagian dari bimbingan,
adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentang konseling yang
meliputi juga segala sesuatu yang selama ini disebutkan sebagai pelayanan bimbingan. Seluruh
pengertian bimbingan dilebur ke dalam pengertian konseling. Istilah bimbingan tidak dipakai lagi. Dalam
kaitan ini tidak dapat dielakkan bahwa para konselor mau tidak mau terlibat dalam masalah
pertumbuhan dan perkembangan individu, serta segenap permasalahannya, dengan keseluruhan
totalitas perwujudannya. Itu semua adalah pekerjaan konseling.

Bagaimanakah di Indonesia? Apakah sudah perlu mengganti rangkaian istilah bimbingan dan konseling
dengan konseling saja? Mengingat perkemmbangan bimbingan dan konseling di Indonesia belum cukup
mantap (ingat istilah bimbingan baru diakui secara legal dalam Undang-Undang sistem Pendidikan
Nasional), beserta perangkat perundangan pelaksanaannya, maka istilah bimbingan dan konseling.masih
perlu dipertahankan, namun dari segi pelayanan nya hendaknya menekankan porsi yang lebih besar
pada konseling

D.Tujuan Bimbingan dan konseling


 untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan, penye suaian-penyesuaian dan interpretasi-
interpretasi dala hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. (Hamrin&Clifford, dalam Jones,
1951)
 Untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan (Bradshow, dalam McDaniel, 1956)
 untuk membantu orang-orang menjadi insan yang bergun tidak hanya sekadar mengikuti
kegiatan-kegiatan yang berg saja. (Tiedeman, dalam Bernard& Fullmer, 1969)

Dengan proses konseling klien dapat:

mendapat dukungan selagi klien memadukan segenap kekuatan da i kemampuan untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi.

memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternati pandangan dan pemahaman-
pemahaman, serta keterampilan keterampilan bara

menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri; mencapai kemampuan unt mengambil keputusan dan


keberanian untuk melaksanakanny kemampuan untuk mengambil risiko yang mungkin ada dalam prose
pencapaian tujuan-tujuan yang dikehendaki. (Coleman, dalam Thompson & Rudolph, 1983)

E. Asas asas bimbingan dan konseling


1. Asas kerhasiaan

Segala hal yang disampaikan klien kepada konselor tidak boleh di ketahui okeh khalayak rami

2. Asas kesukarelaan

Proses bimbingan dan konseling harus atas dasar kesukeralaan, baik dari pihak ai konselor maupun klien

3. Asas keterbukaan

Harus saling terbuka dalam kegiatan bimbingan dan konseling tidak boleh ada yang dititip tutupin

4. Asas kekinian

Masalah yang di bicarakan dan di diskusikan kepada klien harus lah masalah yang sedang di hadapin saat
ini , bukan masalah lampau atau sebelumnya

5. Asas kemandirian

Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan nenjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri, tidak
tergantung pada orang lain maupun konselor
6. Asas kegiatan

Usaha bimbingan dan konseling tidak akan berhasil jika sang konseli tidak melakukan senildiri kegiatan
dalam memecahkan masalahnya

7. Asas kedinamisan

Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki perubahan pada diri klien ke arah yang lebih
baik

8. Asa keterpaduan

Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian klien

9. Asas kenormatifan

Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma norma yang ada

10. Asas keahlian

Seorang konselor harus ahli dalam bidangnya dari segi wawasan maupun pengalaman

11. Asas alih tangan

Ketika seorang klien belum dapat terbantu walau sudah melakukan bimbingan dan konseling maka sang
konselor dapat mengalihkan kasus tersebut kepada yang lebih ahli atau berwenang

12. Asas tutwuri handayani

Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tida hanya dirasakan pada waktu klien
mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja, namun di luar hubungan proses bantuan
bimbing dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayan bimbingan dan
konseling itu.

F. Kesalahpahaman dalam bimbingan dan konseling


1. Bimbingan dan Konseling Disamakan Saja dengan atau Dinisahkan Sama Sekali dari
Pendidikan
2. Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
3. Bimbingan dan Konseling Dianggap Semata-Mata Sebagai Proses Pemberian Nasihat
4. Bimbingan dan konselor dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat
insidental
5. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien klien tertentu saja
6. Bimbingan dan konseling melayani orang sakit dan/atau kurang normal
7. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri
8. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
9. Mengganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
10. Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja
11. Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling Dengan pekerjaan dokter atau
psikiater
12. Mengganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera di lihat
13. Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien
14. Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumental
bimbingan dan konseling ( misalnya tes, invebtori, angket , dan alat penggungkap
lainnya)
15. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya nebangabi masalah Malasah yang
ringan saja

Bab 4 Landasan Bimbingan dan Konseling


A. Landasan filosofis
Landasan Filosofis Kata filosofi atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: philos berarti cinta, dan shopos
berarti bijaksana. Jadi filosofis berarti kecintaan terhadap Aebijaksanaan. Lebih luas, kamus Webster
New Universal memberikan gertian bahwa filsafat merupakan ilmu yang mempelajari kekuatan yang
didasari proses berfikir dan bertingkah laku, teori tentang prinsip-prinsip atau hukum-hukum dasar yang
mengatur alam semesta serta mendasari semua pengetahuan dan kenyataan, termasuk ke dalamnya
studi tentang estetika, etika, logika, metafisika, dan lain sebagainya.

1. Hakikat manusia
Alblaster& Lukes, 1971: Thompson & Rudolph, 1983). Beberapa di antar deskripsi tersebut
mengemukakan manusia adalah makhluk rasional yang mampu berpikir dan mem pergunakan ilmu
untuk meningkatkan perkembangan dirinya manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang
dihadapinys khususnya apabila ia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampu yang ada pada
dirinya manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri,
khususnya melalui pendidikan manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk; dan
hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengontrol
keburukan

2. Tujuan dan Tugas Kehidupan


Adler (1954) mengemukakakan bahwa tujuan akhir dari kehidupan psikis adalah "menjamin" terus
berlangsungnya eksistensi kehidupanstik kemanusiaan di atas bumi, dan memungkinkan
terselesaikannya denganlktu aman perkembangan manusia. Sedangkan Jung (1958) melihat bahw
kehidupan psikis manusia mencari keterpaduan, dan di dalamnya terdapaorang dorongan instinktual ke
arah keutuhan dan hidup sehat

Witney dan Sweeney Ciri ciri hidup sehat sepanjang hayat yaitu:

1. Spiritualitas
2. Pengaturan diri
3. Bekerja
4. Persahabatan
5. Cinta

B. Landasan Relegius
1. Manusia sebagai makhluk tuhan
2. Sikap keberagamaan
3. Peranan agama

C. Landasan psikologis
1. Motif dan motivasi
2. Pembawaan dasar dan lingkungan
3. Perkembangan individu
4. Belajar, balikan dan penguatan
5. Kpribadian

D. Landasan sosial budaya


Dalam Bab I telah dikemukakan adanya dimensi-dimensi kemanusia- Salah satu dari dimensi
kemanussiaan itu adalah "dimensi kesosialan" bagai makhluk sosial, manusia tidak pernah dapat hidup
seorang diri. Di mana pun dan bilamana pun manusia hidup senantiasa membentuk kelompok hidup
terdiri dari sejumlah anggota guna menjamin baik keselamatan, perkembangan, maupun keturunan.
Budhi Santoso, 1992 mengatakan sisi generasi tua sebagai pewaris dan sisi generasi muda sebagai
penerus.

1. Individu sebagai produk lingkungan sosial budaya


(Pedersen, dkk.., 1976). Individu yang berasal dari latar belakang sosial-budaya yang sama cenderung
memiliki unsur. unsur subjektif yang sama. Demikianlah, orang-orang yang berasal dari latar belakang
budaya yang berbeda cenderung memiliki caranya sendir Cyang berbeda) dalam menyikapi berbagai hal
yang dihadapinya. Apabils perbedaan-perbedaan itu tidak dijembatani, hal itu akan dapat
menghidupkan kecenderungan timbulnya pertentangan dan saling tidak menyukai yang akhimya dapat
menghambat tercapainya kesepakatan. Sebaliknya, apabila perbedaan-perbedaan itu tidak dibesar-
besarkan, melainkan diberi hikmak keindahan warna-warninya, hal itu justru akan menjadi daya tarik
untu saling mendekat dan saling mendorong kedua pihak untuk lebih keras lagi menempa upaya kerja
sama di antara keduanya.

2. Bimbingan dan konseling anar budaya


Karena inti proses pelayanan bimbingan dan konseling adaalh komunikasi antara klien dan konselor,
maka proses pelayanan bimbingan konseling yang bersifat antarbudaya (klien dan konselor) berasal dari
ar belakang budaya yang berbeda ,sangat peka terhadap pengaruh dari smber-sumber hambatan
komunikasi seperti tersebut. Perbedaan dalam latar belakang ras atau etnik, kelas sosial ekonomi dan
pola bahasa nenimbulkan masalah dalam hubungan konseling, dari awal pengembangan hubungan yang
akrab dan saling mempercayai (rapport) antara klien dan konselor, penstrukturan suasana konseling,
sampai peniadaan sikap menolak dari klien (Pedersen, dkk., 1976)

E. Landasan Ilmiah dan Teknologis

1. Keilmuan Bimbingan dan Konseling


Paparan melalui laporan hasil penelitian, buku teks, dan tulis tulisan ilmiah lainnya mengenai objek
kajian bimbingan dan konsel merupakan wujud dari keilmuan bimbingan dan konseling Telah lama
dikenal, bahkan sejak awal gerakan bimbingan dicetuska pelayanan bimbingan dan konseling
menekankan pentingnya logika pemikiran, pertimbangan, dan pengolahan lingkungan secara ilmiah
(McDaniel, 1956). Dalam kaitan itu, McDaniel mengemukakan bahwimt konselor adalah seorang
ilmuwan, karena mendasarkan teori, pendekataya dan tindakan-tindakannya pada kaidah-kaidah
keilmuan. Di samping lah konselor juga disebutkan sebagai seniman, karena apa-apa yang dilakukannya
tidak terlepas dari unsur-unsur kemanusiaan yang harus

2. Peran ilmu lain dan teknologi dalam bimbingan dan konseling


dalam Bimbingan dan Konseling Pernah disebutkan, bimbingan dan konseling, sebagaimana juga
endidikan, merupakan ilmu yang bersifat multireferensial, artinya ilmu gan rujukan berbagai ilmu yang
lain. Di muka telah diuraikan betapa payaeogi, pendidikan, dan filsafat memberikan sumbangan yang
besar ada bimbingan dan konseling. Demikian juga dengan sosiologi m-lain)mberikan pemahaman
tentang peranan individu dalam berfungsinya tatayarakat, keluarga, interaksi antarindividu dalam
kelompok; gabungan ars sosiologi dan ilmu ekonomi memberikan pemahaman tentang kondisi SOsial-
ckonomi individu; gabungan antara sosiologi, antropologi dan clapadayaan memberikan pemahaman
tentang latar belakang antropologi- caraal-budaya klien; ilmu-ilmu kemasyarakatan dan lingkungan
memberikan mahaman tentang interaksi timbal balik antara individu dan lingkungan; hukum, agama,
dan adat-istiadat memberikan pemahaman tentang dan norma yang harus diikuti olch individu dalam
menjalani dupannya di masyarakat; ilmu statistik dan evaluasi memberikan haman dan teknik-tcknik
pengukuran dan evaluasi karakteristik davidu; biologi memberikan pemahaman tentang kehidupan
kejasmanian individu. Hal itu semua sangat penting bagi teori dan praktek bimbingan konseling
3. Pengembangan bimbingan dan konseling melalui penelitian
Pengembangan teori , melalui proses pemikiran dan perenungan, hasil hasil penelitian di lapangan ,
pengembangan praktek pelayanan bimbingan dan konseling, tidak boleh tidak harus malalui penelitian.
Dengan demikian melal penelitian suatu teori dan praktek bimbingan dan konseling menemuka
pembuktian tentang ketepatan dan/atau keefektifan/keefisienannya d lapangan Penelitian adalah jiwa
dari perkembangan ilmu dan teknologi. Apabils pelayanan bimbingan dan konseling diinginkan untuk
berkembang dan maju maka penelitian tentang bimbingan dan konseling dalam berbagai bentuk
penelitian dan aspek yang diteliti harus terus-menerus dilakukan. Tanp penelitian pertumbuhan
pelayanan bimbingan dan konseling akan mandul dan steril

F. Landasan pedagogis
Pendidikan itu merupakan satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi
sosial (budi santoso, 1992)

1. 1.Pendidikan sebagai upaya pengembangan manusiadan bimbingan merupakan salah satu


bentuk kegiatan pendidikan,
2. pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, dan
3. pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan pelayanan bimbingan dan konseling

Bab 5 Fungsi dan Prinsip Prinsip Bimbinggan dan Konseling


A. Fungsi bimbingan dan konseling

1. Fungsi pemahaman
Berkenaan dengan kedua hal tersebut, pemahaman yang sangat perlu dihasilkan oleh pelayanan
bimbingan dan konseling adalah pemahaman tentang diri klien beserta permasalahannya leh klien
sendiri dan oleh pihak-pihak yang akan membantu klien, serta Pemahaman tentang lingkungan klien
oleh klien.

a. Pemahaman tentang klien


b. Pemahaman tentang masalah klien
c. Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas

2. Fungsi pencegahan

a. Pengertian pencegahan
Pencegahan didefinisikan sebagai upaya mempengaruhi dengan cara yang positif dan bijaksana
lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian sebelum kesulitan atau kerugian itu benar
benar terjadi (Horner dan McElhaney, 1993)

b. Upaya pencegahan
Upaya pencegahan dalam arti mengurangi kemungkinan timbulnya kondisi bermasalah pada diri klien,
pada umumnya dilakukan dengan memperkecil kondisi ketidakimbangan organis dan stres pada diri
individu, dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, self sistem dan dukungan kelompok.
Pemberian informasi dapat pula berfungsi pencegahan.

3. Fungsi pengentasan
Fungsi pengentasan sering dianggap sebagai inti dan puncak pelayanan bimbingan dan konseling.
Dengan fungsi ini klien terbebaskan dari masalah masalah yang dialaminya, ibarat tersembuhkannya
klien dari penyakit yang dideritanya. Pengentasan melalui konseling itu ada yang berdasarkan diag nosis,
dengan keempat dimensi diagnosisnya, yaitu diagnosis mental psikologis, sosial emosional dan
instrumentasi ada yang berdasarkan teori konseling tertentu.

4.Fungsi pemeliharaan dan pengembangan


ibarat dua sisi dari satu mata uang. Keduanya mengarah pada dimuliakannya segenap potensi yang ada
pada diri individu dan dikembangkan ke arah yang positif Fungsi ini mengarah pada tujuan umum
bimbingan, yang tidak lain adalah pemuliaan manusia melalui perkembangan individu dalam keempat
dimensi kemanusiaannya. Upaya yang dilakukan terkait langsung dengan fungsi- fungsi lainnya.

B.Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling


merupakan pemaduan hasil- hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman dan dasar
bagi penyelenggaraan pelayanan. Prinsip-prinsip itu berkenaan dengan

1. sasaran pelayanan,
2. masalah individu,
3. program dan
4. penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling.
5. Prinsip prinsip bimbingan konseling di sekolah

Konselor terikat oleh prinsip-prinsip tersebut, di sekolah maupun di luar sekolah


Bab 6 orientasi dan ruang lingkyp kerja bimbingan dan
konseling
A. Orientasi bimbingan dan konseling
Orientasi yang dimaksudkan disini ialah pusat perhatian atau titik berat pandangan

1. Orientasi perseorangan
Orientasi perorangan berarti pusat perhatian das titik berat pelayanan bimbingan dan konseling
diarahkan kepada orang perorang sasaran layanan.

2. Orientasi perkembangan
Orientasi perkembangan melihat sasaran layanan sebagai individu yang sedang berkembang. Pelayanan
bimbingan dan konseling justru melayani perkembangan itu, agar perkembangan itu berjalan melalui
tahap tahapnya secara lancar dan mencapai tugas-tugasnya secara optimal sesuai dengan tahap-tahap
perkembangan itu.

3. orientasi permasalahan
bermaksud mengarahkan perhatian konselor kepada kemungkinan adanya masalah pada diri sasaran
layanan, dan kalau ternyata masalah itu memang ada, layanan bimbingan dan konseling berusaha
mengentaskannya. Lebih jauh, orientasi permasalahan itu berusaha agar sasaran mengalami masalah.

B. Ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling

1. Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah


a). Keterkaitan antara bidang pelayanan bimbingan konseling dan bidang bidang lainnya

1. Bidang kurikulum dan pengajaran


2. Bidang administrasi atau kepemimpinan
3. Bidang kesiswaan

b). Tanggung jawab konselor sekolah


1. Tanggung jawab konselor kepada siswa
2. Tanggung jawab kepada oeang tua
3. Tanggung jawab kepada sejawat
4. Tanggung jawab kepada sekolah dan masyarakat
5. Tanggung jawab kepada diri sendiri
6. Tanggung jawab kepada profesi

2. Pelayanan bimbingan dan konseling di luar sekolah


Di luar sekolah, pelayanan bimbingan dan konseling diselenggarakan di dalam keluarga dan di lembaga
lembaga serta bidang bidang lain dalam masyarakat luas

Bab 7 Jenis Layanan Dan Kegiatan Bimmbingan Dan Konseling

A. Layanan orientasi
Layanan orientasi mengacu pada diperkenalkannya individu atau klien kepada lingkungan yang baru
dimasukinya Dengan program orientasi itu proses penyesuaian diri individu kepada lingkungan biasanya
akan lebih cepat sehingga ia dapat menjalani per kembangan dan kehidupannya di lingkungan yang baru
itu secara optimal. Layanan orientasi meliputi :

1. Layanan orientasi di sekolah

2. Layanan orientasi di luar sekolah

B. Layanan informasi
Layanan informasi amat dibutuhkan oleh individu-individu yang periu mempertimbangkan dan hendak
mengambil keputusan tentang sesuatu (misalnya pilihan sekolah lanjutan),

1.jenis jenis informasi

a. Informasi pendidikan

 Pertama kali masuk sekolah


 Memasuki SLTP
 memasuki SLTA
 Menasuki perguruan tinggi

b. Informasi jabatan
 Pertama kali masuk sekolah
 Memasuki SLTP
 memasuki SLTA
 Menasuki perguruan tinggi

c. Informasi sosial budaya

1. Macam-macam suku bangsa.


2. Adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan
3. Agama dan kepercayaan-kepercayaan.
4. Bahasa, terutama istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalah- pahaman suku bangsa
lainnya.
5. Potensi-potensi daerah.
6. Kekhususan masyarakat atau daerah tertentu.

Berbagai informasi itu diperlukan individu , baik di sekolah maupun di luar sekolah. Metode layanan
informasi yang lazim dipakai ialah ceramah, diskusi ,karyawisata, buku panduan,dan konferensi karier.

C.Layanan penempatan dan penyaluran

1. Penempatan dan penyaluran siswa di sekolah


a. Layanan pemepatan di dalam kelas
b. Penempatan dan penyaluran ke dalam kelompok belajar
c. Penempatan Dan penyaluran ke dalam kegiatan ko/ekstrakulikuler
d. Penempatan Dan penyaluran ke jurusan/ program studi

2. Penempatan Dan penyaluran lulusan


a. Penempatan dan penyaluran ke dalam pendidikan lanjutan

b. Penempatan dan penyaluran ke dalama jabatan / pekerjaan

D. Layanan bimbingan belajar

1. Pengendalian siswa yang mengalami masalah belajar


a. Keterlambatan akademik
b. Ketercepaan dalam belajar
c. Sangat lambbat dalam belajar
d. d.Kurang motivani dalam belajar,
e. Bersikap dan berkebiasan buk dalam belajar

belajar seperti tersebut dapat dikenal melalui prosedur pengungkapan melalui

1. tes hasil belajar,


2. tes kemampuan dasar,
3. skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar, dan
4. pengamatan

2. Upaya membantu siswa yang mengalami masalah belajar


a. Pengajaran perbaikan
b. Kegiatan pengayaan
c. Peningkatan motivasi belajar
d. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif

E. Layanan konseling perorangan


konseling perorangan juga diberi sifat "resmi" dalam arti bahwa layanan itu merupakan usaha yang
disengaja dengan niat yang mantap, memiliki tujuan yang tidak bisa lain kecuali untuk kepentingan dan
kebahagiaan klien, dilaksanakan dalam perlu format tertentu, dengan mempergunakan metode yang
terukur dan teruji, sesuatu serta hasilnya dievaluasi dan ditindak lanjuti. Dalam sifatnya yang "resmi"
yang tu layanan konseling berupa mengentaskan masalah klien melalui sejumlah iputuskan angkah
umum, yaitu

1. Layanan konseling diselenggarakan secara resmi


2. Pengentasan masalah melalu konseling
3. Pendekatan dan teori konseling
a. Konseling direktif
Layanan konseling yang berorientasi pada pengubahan tingkah laku secara langsung
(hansen, dkk 1977
b. Konseling non direktif
Menekankan pentingnya pengembangan potensi dan kemampuan yang secara hakiki
ada pada setiap individu agar menjadi penggerak bagi upaya individu untuk mencapai
tujuan tujuan hidupnya
c. Konseling elektrik
Mengambil berbagai kebaikan dari kedua pendekatan ataupun dari berbagai teori
konseling yang ada itu, mengembangkan dan menerapkannya dalam praktek sesuai
dengan masalah klien.
5. Konseling di lingkungan kerja yang berbeda
a. Konseling di sekolah dasar
b. Konseling di sekolah pertama dan menengah
c. Konseling di perguruan tinggi
d. Konseling di masyarakat

F. Layanan bimbingan dan konseling kelompok


1. Ciri-ciri kelompok

Sekumpulan orang yang memiliki tujuan bersama

2. Bimbingan kelompok

Gazda (1978) mengemukakan bahwa bimbingan elompok di sekolah merupakan kegiatan


informasi kepada sekelompok ayaswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang
tepat

3. Konseling Kelompok

Konseling kelompok adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan di dalam suasana
kelompok. Di sana ada konselor dan ada klien yaitu para anggota kelompok

G. Kegiatan penunjang
Pelaksanaan berbagai jenis layanan bimbingan dan konseling memerlukan sejumlah kegiatan penunjang
yaitu :

1. Instrumentasi bimbingan dan konseling


a. Instrumen tes

Tes merupakan prosedur untuk mengungkapkan tingkah lak seseorang dan menggambarkannya dalam
skala angka atau klasifikasi tertentu (Cronbach, 1970) Dalam bentuknya nyata tes meliputi serangkaian
pertanyaan (tertulis atau lisan) atau tugas yang harus di jawab dan dikerjakan oleh orang yang dites

b. Instrumen non tes

Instrumen Non-Tes Instrumen non-tes meliputi berbagai prosedur, seperti pengamatan, wancara,
catatan anekdot, angket, sosiometri, inventori yang dibakukan agar diperoleh hasil yang terandalkan,
pengamatan dan wawancara sakukan dengan mempergunakan pedoman pengamatan atau pedoman
wawancara.
2. Himpunan data
Pengumpulan data pribadi setiap siswa

Pengimpulan data umum, yaitu data yang menyangkut berbagai informasi dan berbagai hal tentang
lingkungan yang lebih luas.

3. Kegiatan khusus
a. Konfersi kasus
b. Kunjungan rumah
c. Alih tangan

BAB VIII Bimbingan Dan Konseling Sebagai Profesi


A. Pengertian dan Ciri-Ciri Profesi
Istilah "profesi" memang selalu menyangkut pekerjaan, tetapi tida ar semua pekerjaan dapat disebut
profesi. Untuk mencegah kesimpangsiuran oll tentang arti profesi dan hal-hal yang bersangkut paut
dengan itu, berikut iniri dikemukakan beberapa istilah dan ciri-ciri profesi.

1. Beberapa Istilah Tentang Profesi


Berkaitan dengan "profesi" ada beberapa istilah yang hendaknya tidak dicampuradukkan, yaitu
profesi, profesional, profesionalisme, profesi onalitas, dan profesionalisasi.

"Profesi" adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya.
Artinya, pekerjaan yang disebut profesi itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak
disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu.

"Profesional" menunjuk kepada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi; misalnya
sebutan dia seorang "profesional"

Kedua, penampilan seorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Dalam
pengertian kedua ini, istilah profesional sering dipertentangkan dengan istilah non-profesional atau
amatiran.

"Profesionalisme" menunjuk kepada komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan
kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya
dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya.

"Profesionalitas", mengacu kepada sikap para anggota suatu profesi. terhadap profesinya serta
derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka melakukan pekerjaannya.
"Profesionalisasi'" menunjuk pada proses peningkatan kualifikasi mau- pun kemampuan para
anggota suatu profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam penampilannya sebagai anggota
suatu profesi.

2. Ciri ciri profesi


a. Suatu profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang memiliki fungsi dan kebermaknaan sosial
yang sangat menentukan.

b. Untuk mewujudkan fungsi tersebut pada butir di atas para anggotanya (petugasnya dalam pekerjaan
itu) harus menampilkan pelayanan yang Khusus yang didasarkan atas teknik-teknik intelektual, dan
keterampilan- keterampilan tertentu yang unik

c. Penampilan pelayanan tersebut bukan hanya dilakukan secara rutin saja, melainkan bersifat
pemecahan masalah atau penanganan situasi kritis yang menuntut pemecahan dengan menggunakan
teori dan metode ilmiah

d. Para anggotanya memiliki kerangka ilmu yang sama yaitu yang di dasarkan atas ilmu yang jelas,
sistematis, dan eksplisit; bukan hanya didasarkan atas akal sehat (common sense) belaka,

e. Untuk dapat menguasai kerangka ilmu itu diperlukan pendidikan dan latihan dalam jangka waktu yang
cukup lama.

f. Para anggotanya secara tegas dituntut memiliki kompetensi minimum melalui prosedur seleksi,
pendidikan dan latihan, serta lisensi ataupun

g. Dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pihak yang dilayani, para anggota memiliki kebebasan
dan tanggung jawab pribadi dalam memberikan pendapat dan pertimbangan serta membuat keputusan
tentang apa yang akan dilakukan berkenaan dengan penyelenggaraan pelayanan profesional yang
dimaksud.

h. Para anggotanya, baik perorangan maupun kelompok, lebihose mementingkan pelayanan yang
bersifat sosial daripada pelayanan yang mengejar keuntungan yang bersifat ekonomi.

i. Standar tingkah laku bagi anggotanya dirumuskan secara tersurat (eksplisit) melalui kode etik yang
benar-benar diterapkan; setiap pelanggaran atas kode etik dapat dikenakan sanksi tertentu.

j. berada dalam pekerjaan itu, para anggotanya terus-menerus berusaha menyegarkan dan
meningkatkan kompetensinya dengan jalan mengikuti secara cermat literatur dalam bidang pekerjaan
itu, menye- lenggarakan dan memahami hasil-hasil riset, serta berperan serta secara aktif dalam
pertemuan-pertemuan sesama anggota

B. Pemgembangan profesi bimbingan dan konseling


Pengembangan profesi bimbingan dan konseling antara lain melalu )standardisasi untuk kerja
profesional konselor, (b) standardisasi penyiapan onselor, (c) akreditasi, (d) stratifikasi dan lisensi, dan
(e) pengembangan ganisasi profesi.

1. Standardisasi Unjuk Kerja Profesional Konselor


Masih banyak orang yang memandang bahwa pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh
siapa pun juga, asalkan mampu ckomunikasi dan berwawancara. Anggapan lain mengatakan bahwa
clayanan bimbingan dan konseling semata-mata diarahkan kepada mberian bantuan berkenaan dengan
upaya pemecahan masalah dalam i yang sempit saja. Ini jelas merupakan anggapan yang keliru.
bagaimana telah diuraikan pada Bab VI, pelayanan bimbingan dan aseling tidak semata-mata diarahkan
kepada pemecahan masalah saja, api mencakup berbagai jenis layanan dan kegiatan yang mengacu
kepada wujudnya fungsi-fungsi yang luas. Berbagai jenis bantuan dan kegiatan menuntut adanya unjuk
kerja profesional tertentu. Di Indonesia memang um ada rumusan tentang unjuk kerja profesional
konselor yang standar. aha untuk merintis terwujudnya rumusan tentang unjuk kerja itu telah akukan
oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada Konvensi sional VII IPBI di Denpasar, Bali (1989).
Upaya ini lebih dikonkretkan nycpada Konvensi Nasional VIII di Padang (1991).

Sebagai bahan perbandingan berikut ini disajikan unjuk kerja konselor gditetapkan oleh American School
Counselor Association (ASCA) catatkan hanya gugus-gugusnya saja:

a. Menyusun program bimbingan dan konseling.

b. Menyelenggarakan konseling perorangan.

c. Memahami diri siswa.

d. Merencanakan pendidikan dan pengembangan pekerjaan siswa.

e. Mengalihtangankan siswa

f. Menyelenggarakan penempatan siswa.

g. Memberikan bantuan kepada orang tua

h. Mengadakan konsultasi dengan staf.

i. Mengadakan hubungan dengan masyarakat.

2. Standardisasi penyiapan konselor


Seleksi/penerimaan mahasiswa

Seleksi atau pemilihan calon mahasiswa merupakan tahap awal dalam oses penyiapan konselor.
Kegiatan ini memegang peranan yang amat nting dan menentukan dalam upaya pemerolehan calon
konselor yang harapkan. Bukankah bibit yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula? Komisi
tugas, standar, dan kualifikasi konselor Amerika Serikat (dalam mortensen&Schmuller, 1976)
mengemukakan syarat-syarat pribadi yang us dimiliki oleh konselor sebagai berikut:

1) Memiliki bakat skolastik yang memadai untuk mengikuti pendidikan tingkat sarjana atau yang lebih
tinggi.

2) Memiliki minat dan kemauan yang besar untuk bekerja sama dengan orang lain. (3) Memiliki
kemampuan untuk bekerja dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.

3) Memiliki kematangan pribadi dan sosial, meliputi kepekaan terhadap orang lain, kebijaksanaan,
keajegan, rasa humor, bebas dari kecenderungan-kccenderungan suka menyendiri, mampu mengambil
pelajaran dari kesalahan-kesalahan, dan mampu menerima kritik berpenampilan menyenangkan, sehat,
suara menyenangkan, memiliki daya tarik, dan bebas dari tingkah laku yang tidak menyenangkan.

b. Pendidikan konselor
Kurikulum program pendidikan konselor mengacu kepada standar ambah-ampuan konselor yang
mampu melaksanakan tugasnya dengan baik di angan. Materi kurikulum program studi meliputi:

1) Materi inti, yaitu materi tentang perturmbuhan dan perkembangan individu, dasar-dasar ilmu sosial
dan kebudayaan, teori tentang permberian bantuan, dinamika kelompok, gaya hidup dan
perkembangan karier, pemahaman individu, riset dan evaluasi, orientasi profesional.

2) Studi lingkungan dan studi khusus, yaitu materi tentang studi lingkungan dan materi khusus sesuai
dengan keperluan mahasiswa untuk bekerja dalam lingkungan tertentu.

3) Pengalaman tersupervisi, yaitu kegiatan praktek langsung pelayanan bimbingan dan konseling baik
melalui kegiatan di laboratorium, praktikum dan intership, maupun praktek pengalaman lapangan yang
sesuai dengan cita-cita karier mahasiswa, dan kesempatan berinteraksi dengan sejawat dan organisasi
profesional.

c. Akreditasi
Lembaga pendidikan konselor perlu diakreditasi untuk menjamin mutu ulusannya. Akreditasi itu
meliputi penilaian terhadap misi, tujuan, struktur dan isi program, jumlah dan mutu pengajar, prosedur,
seleksi, mutu penye- lenggaraan program, penilaian keberhasilan mahasiswa dan keberhasilan program,
potensi pengembangan lembaga, unsur-unsur penunjang, dan hubungan masyarakat.

Tujuan pokok skreditasi adalah untuk memantapkan kredibilitas profesi. Tujuan ini lebih lanjut
dirumuskan sebegai berikut

(1) Untuk menilai bahwa program yang ada memenuhi standar yang ditetapkan oleh profesi.

(2) Untuk menegaskan misi dan tujuan program,

(3) Untuk menarik calon konselor dan tenaga pengajar yang bermutu
(4) Untuk membantu para lulusan memenuhi tuntutan kredensial, seperti lisensi

(5) Untuk meningkatkan kemampuan program dan pengakuan terhadap program tersebut.

(6) Untuk meningkatkan program dari penampilan dan penutupan.

(7) Untuk membantu mahasiswa yang berpotensi dalam seleksi memakai program pendidikan konselor.

( 8 ) Memungkinkan mahasiswa dan staf pengajar berperan serta dalam evaluasi program secara
intensif.

(9) Membantu para pemakai lulusan untuk mengetahui program mana yang telah standar.

(10) Untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat pendidikan, masyarakat profesi dan masyarakat
pada umumnya tentang kemantapan pelayanan bimbingan dan konseling.

d. Sertifikasi dan Lisensi


Sertifikasi merupakan upaya lebih lanjut untuk lebih memantapkan dan menjamin profesionalisasi
bimbingan dan konseling. Para lulusan pen- didikan konselor yang akan bekerja di lembaga-lembaga
pemerintah, misalnya di sekolah-sekolah, diharuskan menempuh program sertifikasi yang
diselenggarakan oleh pemerintah. Sedangkan mereka yang hendak bekerja di luar lembaga atau badan
pemerintah diwajibkan memperoleh lisensi atau sertifikat kredensial dari organisasi profesi bimbingan
dan konseling. Hal semua dimaksudkan untuk menjaga profesionalitas para petugas yang akan
menangani pelayanan bimbingan dan konseling.

e. Pengembangan organisasi profesi


Organisasi Profesi adalah himpunan orang orang yang mempunyai profesi yang sama. Sesuai dengan
dasar pembentukan dan sifat organisasi itu sendiri, yaitu profesi dan profesional, maka tujuan organisasi
profesi menyangkut hal-hal yang berbau keilmuannya. Organisasi profesi tidak berorientasi pada
keuntungan ekonomi ataupun pada penggalangan ke- kuatan politik, ataupun keuntungan-keuntungan
yang bersifat material lainnya. Tujuan organisasi profesi dapat dirumuskan ke dalam "tri darma
organisasi profesi, yaitu:

(1) pengembangan ilmu

(2) pengembangan pelayanan

(3) penegakan kode etik profesional

C. Perkembangan Gerakan Bimbingan di Indonesia


Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan sistem pendidikan di Indonesia semakin dirasakan
pula kebutuhan akan adanya pelayanan thusus bimbingan dan konseling, baik di sekolah maupun di luar
sekolah. Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 emAgustus 1945, telah
menghasilkan berbagai perubahan yang mendasar bagi pelaksanaan pendidikan. Sejak itu, perubahan
demi perubahan dalam bidang ependidikan terus-menerus dilancarkan oleh pemerintah untuk dapat
mewujudkan cita-cita yang terkandung di dalam Pembukaan Undang- ganUndang Dasar 1945, yaitu
mencerdaskan kehidupan bangsa. Anak-anak yang masuk sekolah tidak lagi terbatas pada hanya anak-
anak yang bersifat dari golongan masyarakat tertentu saja. Setiap anak berhak mendapat pendidikan.
Oleh karena itu mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mendapat pendidikan tanpa
memandang latar belakangnya (orang tua, ekonomi, kemampuan, dan sebagainya). Akibatnya, sekolah
harus menampung semua anak yang beraneka tingkat kemampuan, bakat, minat, berbagai latar
belakang. Pelajaran klasikal saja tidak mungkin dapat melayani kebutuhan semua anak yang beraneka
ragam itu. Untuk itu diperlukan adanya pelayanan khusus yang disebut bimbingan dan konseling.

Selama perkembangannya sejak awal sampai dewasa ini terdapat beberapa peristiwa penting yang
menjadi tonggak-tonggak sejarah per kembangan bimbingan dan konseling di Indonesia, yaitu:

a. Tahun 1971

Berdirinya proyek perintis sekolah pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP, yaitu IKIP Padang, IKIP
Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Malang, IKIP Surabaya, dan IKIP Malang. Melalui proyek itu,
pelayanan bimbingan dan konseling ikut dikembangkan. Setelah beberapa kali lokakarya yang dihadiri
oleh beberapa pakar pada waktu itu, berhasil disusun buku "Pola Dasar Rencana dan Pengembangan
Bimbingan Penyuluhan pada Proyek Perintis Sekolah Pembangunan". Selanjutnya buku ini dimodifikasi
menjadi buku "Pedoman Operasional Pelayanan Bimbingan pada Proyek-Proyek Perintis Sekolah
Pembangunan"

b. Tahun 1975:

Lahir dan berlakunya kurikulum sekolah menengah umum yang di- sebut Kurikulum SMA 1975 sebagai
pengganti kurikulum sebelumnya (Kurikulum 1968). Kurikulum 1975 memuat beberapa pedoman
pelaksanaan kurikulum tersebut, yang salah satu di antaranya adalah buku Pedoman Bimbingan dan
Penyuluhan.

c. Tahun 1975: Diadakannya Konvensi Nasional Bimbingan I di Malang. Konvensi ini berhasil menelurkan
beberapa keputusan penting, yaitu:

1) terbukanya organisasi profesi Ikatan Petugas Bimbingan Indone sia (IPBI);

2) tersusunnya AD/ART IPBI, kode etik jabatan konselor, dan prog ram kerja IPBI periode 1976-1978.
Selanjutnya konvensi ini diikuti oleh beberapa kali konvensi dan kongres, yang diadakan secara berturut-
turut di Salatiga, Semarang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Padang.
BAB III
Kelebihan Dan Kekurangan

A. Kelebihan Buku
Setelah melakukan pembandingan dengan buku pembanding, maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa Buku Dasar Dasar Bimbingan Dan Konseling yang ditulis oleh Tim
Penyusun FIP UNIMED memiliki beberapa kelebihan, diantaranya
 Pemberian latihan dalam buku juga diberikan pada tiap bab nya, sehingga guru
dapat menilai hasil belajar dari masing masing siswanya.
 Penulisan dalam buku juga sangat jelas menggunakan ukuran huruf yang tidak
terlalu kecil dan tidak terlalu besar sehingga mudah dibaca oleh peserta didik.
 Dalam penggunaan bahasa, menurut saya buku ini sudah menggunakan bahasa
yang lugas yang dibuktikan dengan kesederhanaan bahasa

B. Kelemahan Buku
Disamping kelebihan-kelebihan buku yang sudah ada di atas, buku ini juga memiliki
kelemahan jika dibandingkan dengan buku pembanding yang patut untuk di kritik.
pengkritikan ini ditujukan agar dapat memperbaiki pembuatan buku-buku sekolah yang
akan datang.
Adapun kekurangan atau kelemahan buku tersebut ialah :

 penggunaan warna dalam buku yang terkesan monoton, sehingga memberikan


kesan sedikit kurang menarik ketika melihat kedalam buku.
 Tidak adanya rangkuman di tiap bab untuk memudahkan pembaca dalam mengerti
konteks dari semua materi yang ada
 Jika melihat perkembangan zaman yang ada maka buku ini juga perlu mendapatkan
tambahan agar isu-isu yang sedang berkembang dalam masyarakat dapat dijadikan
rujukan dalam materi buku.
 Adanya materi yang di ulang ulang di beberapa bab
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa critikal book
merupakan kegiatan untuk mengkritisi buku untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan
dalam buku, baik dalam sistematika penulisan, penggunaan bahasa, isi materi dan tampilan
buku. Hal tersebut dilakukan agar buku yang di kritik dapat direvisi agar menjadi buku yang
lebih baik.
Kedua buku menjelaskaan materi yang sama yaitu dasar dasar bimbingan dan kosnseling
dengan penyajian yang berbeda
Buku Dasar Dasar Bimbingan Dan Konseling yang ditulis oleh Tim Penyusun FIP UNIMED,
sudah memiliki sistematika penggunaan bahasa, dan kedalaman materi yang cocok untuk
diajarkan di perguruan tinggi. Hal tersebut didapat setelah mengadakan pembandingan dengan
Buku Dasar Dasar Bimbingan Dan Konseling yang di tulis oleh Prof.Dr.H.Prsyitno, M.Sc.Ed dan
Drs. Erman amti. Meskipun demikian buku tersebut juga memiliki beberapa kelemahan yang
membuat buku ini menjadi tidak sempurna
B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, maka penulis akan selalu
menerima kritik dan saran yang membangun untuk menjadikan critical buku ini menjadi lebih
baik. Penulis harusnya mengemas buku dengan tampilan yang lebih menarik baik cover maupun
isi dalam buku agar pembaca tidak cepat bosan dan tidak memasukkan materi yang sama di
beberapa bab.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun FIP UNIMED, Dasar Dasar Bimbingan Dan Konseling, FIP UNIMED, Medan,
2019.

Prof.Dr.H.Prsyitno, M.Sc.Ed dan Drs. Erman amti, Dasar Dasar Bimbingan Dan
Konseling, PUSAT PERBUKUAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

1999.

Anda mungkin juga menyukai