Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

KONSEP DASAR PERAWATAN PALIATIF

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
1. MOH EFENDY JAYADI
2. NISA SURYANA
3. ROSDIATUN
4. VERISSA FAULANI

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S1
MATARAM
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang “KOSEP DASAR PERAWATAN PALIATIF”
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.Untuk
itu kami menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi sususnan kalimat maupun tata bahasanya.Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Mataram,26 September 2019


DAFTAR ISI

COVER .....................................................................................................................
KATA PENGANTAR ..............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................
1.1 Latar Belakang .............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................
1.3 Tujuan ..........................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................
2.1 Pengertian perawatan paliatif.....................................................................
2.2 Prinsip-prinsip perawatan paliatif .............................................................
2.3 tujuan perawatan paliatif ............................................................................
2.4 ruang lingkup perawatan paliatif ...............................................................
2.5 langkah-langkah perawatan paliatif ..........................................................
2.6 peran perawat dalam perawatan paliatif...................................................
2.7 filosopy perawatan paliatif .........................................................................
BAB III PENUTUP ..................................................................................................
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................
3.2 Saran ...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian perawatan paliatif


Pengertian dan arti kata Ungkapan “palliative” berasal dari bahasa latin
yaitu “pallium” yang artinya adalah menutupi atau menyembunyikan.
Perawatan Paliatif ditujukan untuk menutupi atau menyembunyikan keluhan
pasien dan memberikan kenyamanan ketika tujuan penatalaksanaan tidak
mungkin disembuhkan (Muckaden 2011).
Perawatan paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan
meningkatkan kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeri dan penderitaan
orang lain, memberikan dukungan spiritual dan psikososial mulai saat
diagnosis ditegakkan sampai akhir hayat dan dukungan terhadap keluarga
yang kehilangan/berduka (Nendra et al., 2011), serta bertujuan memperbaiki
kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapai masalah yang
berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa (Kemenkes RI, 2007).

2.2 Prinsip dasar perawatan paliatif


Prinsip dasar perawatan paliatif sangat penting dalam memberikan
perawatan paliatif. Adapun prinsip dasar perawatan paliatif menurut
Commitee on Bioethic and Committee on Hospital Care (2000) dalam
Ningsih (2011):
a. Menghormati serta menghargai pasien dan keluargan
b. Kesempatan atau hak mendapatkan kepuasan dan perawatan paliatif yang
pantas
c. Mendukung pemberi perawatan (caregiver)
d. Pengembangan profesi dan dukungan sosial untuk perawatan paliatif
(Ningsih, 2011).

2.3 Tujuan
Tujuan akhir dari perawatan paliatif adalah mencegah dan mengurangi
penderitaan serta memberikan bantuan untuk memperoleh kualitas kehidupan
terbaik bagi pasien dan keluarga mereka tanpa memperhatikan stadium
penyakit atau kebutuhan terapi lainnya, dengan demikian perawatan paliatif
dapat diberikan secara bersamaan dengan perawatan yang memperpanjang/
mempertahankan kehidupan atau sebagai fokus keperawatan (Campbell,
2009).
Penilaian klinis pada pasien yang berbaring, terfokus untuk menentukan
kebutuhan baik fisik, sosial, ataupun spiritual dan merencanakan kebutuhan
klien dengan keluarga untuk mengatasi masalah yang teridentifikasi. Tujuan
dari perawatan paliatif adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien,
yang secara rinci tujuan utamanya adalah (Nendra et al., 2011):
a. Meningkatkan kapasitas keluarga untuk memberikan perawatan paliatif.
b. Mendukung peningkatan akses ke perawatan paliatif dalam perawatan,
dukungan, dan layanan pengobatan yang ada.
c. Menganjurkan untuk perawatan paliatif yang berkelanjutan dan holistik.
d. Meningkatkan akses terhadap obat-obatan dan komoditas penting dalam
pearawatan paliatif.
e. Meningkatkan kualitas pelayanan perawatan paliatif
Sedangkan menurrut Hudson & Bruce Aspek (2003) spiritual
merupakan tujuan dari pelayanan perawatan paliatif yang bertujuan untuk
membuat seseorang menjadi lebih tenang, berfikir positif senantiasa
mengkreasikan hidup sejahtera. Beberapa tahun terakhir, telah terjadi
peningkatan dramatis dalam agama dan keyakinan spiritual sebagai
sumber kekuatan dan dukungan dalam penyakit fisik yang serius
professional kesehatan memberikan perawatan medis dalam memenuhi
kebutuhan spiritual dan keagamaan (Woodruff, 2004).
Menurut Hudson dan Bruce (2003) spiritual dijadikan sebuah
komponen penting dalam melaksanakan perawatan paliatif. Spiritual
menjadi hal yang paling penting bagi sebagian orang bahkan lebih dari
interaksi sosial. Pada bagian ini perawat dan ahli spiritual yang
mempunyai minat dalam keperawatan, dua profesi yang berbeda yang
saling berkolaborasi sehingga menghasilkan sifat perawatan yang berfokus
pada akhir kehidupan seseorang (Hudson dan Bruce, 2003).
Persoalan spiritual manjadi jelas melalui suatu situasi tertentu
tergantung dari pengalaman masa lalu dan kepercayaan masing-masing.
(Hudson dan Bruce, 2003), menurut potter & perry (2005) banyak orang
yang mengalami pertumbuhan spiritual ketika memasuki hubungan yang
langgeng, penerimaan tentang diri yang didasarkan hubungan yang
langgeng dengan yang maha agung. Penyakit dan kehilangan dapat
mengancam dan menentang proses perkembangan spiritual.
Suatu pengkajian spiritual dimaksudkan untuk menilai apa yang
menjadi kebutuhan pasien, dan kesadaran terhadap spiritual sering
meningkat pada saat pasien belajar mengenai penyakit terminal. Salah satu
alat untuk mengkaji spiritual memakai singkatan FICA (Faith (keyakinan)
Important (makna atau pengaruh) Community (komunikasi) Address
(aplikasi)) (Puchalski, 1999 dalam Campbell, 2009). Selain spiritual ada
juga aspek hubungan dengan lingkungan yang ada di sekitar mencakup:
a. Hubungan dengan pasien dan perawat
Saat ini di Rumah Sakit, pasien sering menemui kesulitan untuk
memiliki perawat primer karena jadwal yang berubah-ubah. Pasien
dengan penyakit terminal menghargai hubungan dengan klinisi, namun
berbeda dengan beberapa perawat yang justru menghindari pasien
dengan penyakit terminal karena takut untuk mengatakan atau
melakukan hal yang salah (Campbell, 2009).
b. Hubungan social
Bagi pasien-pasien yang mendekati akhir kehidupan, hubungan
manjadi salah suatu hal yang lebih penting. Bagi beberapa orang, ada
suatu kebutuhan untuk menyambung kembali hubungan yang
renggang, meminta atau memberi maaaf, atau memulihkan hubungan
(Campbell, 2009)
c. peran keluarga
Ketika pasien sudah mendekati kematian, satu atau lebih anggota
keluarga dapat berada di sisi pasien terus menerus, hal ini kadang-
kadang disebut dengan “berjaga-jaga dengan kematian.”(Campbell,
2009). Selain hal tersebut, aspek komunikasi menjadi hal yang penting
dalam menghadapi pasien terminal (Hudson dan Bruce, 2003).
Kemahiran berkomunikasi dalam perawatan paliatif sangat penting,
yaitu bagaimana cara menyampaikan berita buruk (breaking bad news)
mengenai vonis mendekatnya kematian bagi penderita dan berikutnya
kepada keluarga yang hampir pasti dalam keadaan emosional menjadi
sangat penting. Kemahiran berkomunikasi tidak hanya antar anggota
tim saja tetapi juga non medis misalnya ulama ataupun notaris dalam
menuliskan surat wasiat (Mahajudin, 2009).

2.4 Ruang Lingkup perawatan paliatif


a. Rumah sakit
Tim perawatan paliatif merupakan kolaborasi antara interdisiplin
(antar keilmuan) dan biasanya mencakup seseorang dokter dan atau
perawat senior bersama dengan satu atau lebih pekerja sosial dan
pendeta (pemuka agama). Sebagai tambahan, tim tersebut dibantu
teman sejawat dari gizi dan rehabilitasi, seperti fisioterapis atau petugas
terapi okupasi dan terapis pernapasan. Konsultasi awal biasanya
dilakukan oleh seseorang dokter atau perawat yang berhubungan
dengan kebutuhan pasien dan keluarganya serta membuat rekomendasi
ke dokter utama si pasien. Terkadang, konsultan perawatan paliatif
dilibatkan untuk membantu komunikasi antara keluarga dalam
mencapai tujuan pengobatan.
b. puskesmas
untuk pasien yang memrlukan rawat jalan
c. Hospice
Hospice merupakan tempat dimana pasien dengan penyakit stadiun
terminal yang tidak dapat dirawat di rumah namun tidak melakukan
tindakan yang harus dilakukan di rumah sakit. Pelayanan yang
diberikan tidak seperti di rumah sakit, tetapi dapat memberikan
pelayanan untuk mengendalikan gejala-gejala yang ada, dengan
keadaan seperti di rumah pasien sendiri (Kemenkes RI, 2007).
Perawatan hospice bagi pasien yang sakit atau dalam keadaan
terminal memiliki filosofi yang sama dengan perawatan paliatif
bagaimanapun “semua perawatan hospiceadalah perawatan paliatif
namun tidak semua perawatan paliatif merupakan perawatan
hospice”(Morris et al., 2006 dalam Campbell, 2009).
Perawatan paliatif sebaiknya ditawarkan kepada pasien yang
membutuhkan beberapa pelayanan, tetapi perawatan hospice diatur dan
seseorang pasien harus memiliki setidaknya memiliki harapan hidup
paling sedikit setidaknya enam bulan untuk mendapatkan perawatan
hospice.
d. Rumah
Pada perawatan di rumah, maka peran keluarga lebih menonjol
karena sebagian perawatan dilakukan oleh keluarga, dan kelurga atau
orang tua sebagai care giverdiberikan latihan pendidikan keperawatan
dasar.Perawatan di rumah hanya mungkin dilakukan bila pasien tidak
memerlukan alat khusus atau keterampilan perawatan yang mungkin
dilakukan oleh keluarga (Muckaden, 2011). (Kemenkes RI, 2007).

2.5 Langkah-Langkah Perawatan Paliatif


1. membentuk tim untuk menghadapi beragam pasien dan masalah-masalah
keluarga
2. tujuan dari tim ini adalah mengobati, merawat, memberikan penyuluhan
sosial dan pelayanan lainnya dan bekerjasama dengan departemen
kesehatan, swasta (LSM), relawan, dll
3. perubahan dari pengobatan aktif ke pengobatan palaiatif tidak terjadi
dalam waktu yang singkat.
4. perawata opaliatif sangat berhasil ketika masih ada fase dini mendapat
dukungan dari lingkungannya yaitu keluarga dan adanya tim yang
membangkitkan kesadarannya
2.6 Peran perawat dalam perawatan paliatif
1. dapat menerapkan pengetahuan an pengetahuan dalam memberikan
asuhan keperawatan
2. menetapkan prioritas asuhan keperawatan, mengelola waktu secara
efektif dan saran-saran untuk meningkatkan kualitas hidup
3. sebagai narasumber atau konselor bagi pasien, keluarga dan komunitas
dalam menghadapi perubahan ksehatan, ketidakmampuan dan
kematian
4. sebagai komunikator yang terapiutik dan pendengar yang baik dalam
memberikan dukungan dan perhatian
5. membantu pasien tetap independen sesuai kemampuan mereka
sehingga kenyamanana terpenuhi, serta meningkatkan mutu hidup

2.7 Filosopy Perawatan Paliatif


1. Menjelaskan bahwa kehidupan dan kematian adalah proses yang normal
2. Tidak mempercepat atau menunda kematian
3. Menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain yang menganggu
4. Menjaga keseimbangan dalam aspek psikologis dan aspek spiritual
5. Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya
6. Berusaha memberikan dukungan kepada keluarga yang berduka
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perawatan paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan
meningkatkan kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeri dan penderitaan
orang lain, memberikan dukungan spiritual dan psikososial mulai saat
diagnosis ditegakkan sampai akhir hayat dan dukungan terhadap keluarga
yang kehilangan/berduka (Nendra et al., 2011), serta bertujuan memperbaiki
kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapai masalah yang
berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa (Kemenkes RI, 2007).
Prinsip dasar perawatan paliatif sangat penting untuk dilakukan dalam
memberikan perawatan paliatif.

3.2 Saran
Pada permasalahan dalam keperawatan paliatif di ruang perawatan kritis
memerlukan kesiapan yang baik oleh setiap perawat yang berada dalam
tatanan kerja tersebut sehingga dalam pelayanannya dapat dilakukan secara
maksimal sesuai dengan yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Agustina, M. 2019. Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Keperawatan Tentang


Keperawatan Paliatif di Universitas Advent Indonesia. Faculty Of Nursing
Of Universitas Klaba

Bustomi, A. 2016. Perawatan Paliatif dan Kualitas Hidup Penderita kanker.


Tanjungkarang.

Wulanddari, F. 2012. Hubungan Tingkat pengetahuan perawat Tentang


Perawatan Paliatif Dengan Sikap Terhadap Penatalaksanaan Pasien
Dalam Perawatan Paliatif di Rumah Sakit Dr Moewardi Surakarta.
Surakarta