Anda di halaman 1dari 45

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT TERMINAL

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK VII

1. MUTMAINNAH
2. NISWATUN ASNAWATI
3. NI WYN NOVIANI SHINTARI
4. PARLAN BAMBANG

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM PRODI
JENJANG S1 KEPERAWATAN TAHUN AKADEMIK
2019/2020

ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat-Nya sehingga makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan
Penyakit Terminal ” dapat terselesaikan dengan baik. Maksud dan tujuan dari
penulisan makalah ini tidaklain untuk memenuhi salah satu dari sekian kewajiban
Mata Kuliah keperawatan Menjelang Ajal Dan Paliatif , serta merupakan
bentuk langsung tanggung jawab kelompok pada tugas yang diberikan.
Pada kesempatan ini, kelompok juga ingin menyampaikan ucapan terima
kasih kepada seluruh rekan-rekan yang sudah membantu menyelesaikan makalah
ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi referensi
bagi pembaca.

Mataram 26 September 2019


Penulis

Kelompok 7

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR. .............................................................................. i
DAFTAR ISI. ............................................................................................. ii
BAB I. PENDAHULUAN. ........................................................................ 1
1.1 Latar Belakang. ................................................................................... 1
1.2 Tujuan. ................................................................................................. 2
1.3 Rumusan Masalah............................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN TEORI. ................................................................... 3
2.1 Konsep Dasar Pada Pasien HIV/AIDS. ............................................ 3
2.2 Konsep Dasar Penyakit Terminal ..................................................... 19
BAB III Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terminal. ......................... 27
3.1 Pengkajian Riwayat Kesehatan ......................................................... 27
3.2 Analisa Data......................................................................................... 27
3.3 Diagnosa Kepetawatan ....................................................................... 31
3.4 Intervensi Keperawatan ..................................................................... 31
3.5 Implementasi Keperwatan ................................................................. 38
3.6 Evalusi Kreperawatan ........................................................................ 38
BAB IV. PENUTUP. ................................................................................. 41
3.1 Kesimpulan. ......................................................................................... 41
3.2 Saran. ................................................................................................... 41
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan individu,
keluarga,dan masyarakat sehingga mereka dapat mencapai, mempertahankan,
atau memulihkan kesehatan yang optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai
mati. Peran perawat sangat komprehensif dalam menangani pasien karena
peran perawat adalah membimbing rohani pasien yang merupakan bagian
integral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya memenuhi kebutuhan
biologis-psikologis-sosiologis-spritual (APA, 1992 dalam Kemhay, 2018),
karena pada dasarnya setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual
(Basic spiritual needs, Dadang Hawari, 1999 dalam Kemhay, 2018).
Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan
WHO yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu
unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984 dalam Kemhay,
2018). Oleh karena itu dibutuhkan dokter dan terutama perawat untuk
memenuhi kebutuhan spritual pasien. Karena peran perawat yang
komprehensif tersebut pasien senantiasa mendudukan perawat dalam tugas
mulia mengantarkan pasien diakhir hayatnya sesuai dengan Sabda Rasulullah
yang menyatakan bahwa amalan yang terakhir sangat menentukan, sehingga
perawat dapat bertindak sebagai fasilisator (memfasilitasi) agar pasien tetap
melakukan yang terbaik seoptimal mungkin sesuai dengan kondisinya.
Namun peran spiritual ini sering kali diabaikan oleh perawat. Padahal aspek
spiritual ini sangat penting terutama untuk pasien terminal yang didiagnose
harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut. Pada kondisi
ini pasien yang mengalami atau pada fase-fase terminal harus diberikan
perrhatian khusus untuk mengurangi bebean fisik dan psikis guna
menghadapi kematian yang tenang. Oleh karena itu kelompok akan
membahas salah satu penyakit yang tergolong dalam penyakit terminal yaitu
HIV/AIDS mengingat pasien-pasien HIV/AIDS merupakan salah satu
penyakit yang sangat membutuhkan perhatian khusus terutama pada pasien
HIV/AIDS yang sudah pada tahap atau fase terminal.

1
1.2 Tujuan
1. Mengidentifikasi kondisi pasien HIV/AIDS yang berada pada tahap
terminal
2. Mengetahui konsep teori pasien HIV/AIDS dan kebutuhan terminal atau
menjelang ajal
3. Mengkaji dan memaparkan diagnosa dari kebutuhan terminal
4. Memberi diagnosa dan intervensi yang tepat pada klien yang menjelang
ajal.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara mendefinsikan kondisi pasien HIIV/AIDS yang berada
pada tahap terminal ?
2. Bagaimana konsep teori dari HIV/AIDS dan kebutuhan terminal atau
menjelang ajal ?
3. Apa saja diagnosa yang muncul pada pasien pada fase terminal ?
4. Bagamana Memberi diagnosa dan intervensi klien pada fase terminal ?

2
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar pada pasien HIV/AIDS
2.1 1 Pengertian HIV/AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan retrovirus bersifat
limfotropik khas yang menginfeksi sel-sel dari sistem kekebalan tubuh,
menghancurkan atau merusak sel darah putih spesifik yang disebut
limfosit T-helper atau limfosit pembawa faktor T4 (CD4). Virus ini
diklasifikasikan dalam famili Retroviridae, subfamili Lentiviridae, genus
Lentivirus. Selama infeksi berlangsung, sistem kekebalan tubuh menjadi
lemah dan orang menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Tingkat HIV
dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator
bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS (Acquired
Imunnodeficiency Syndrome.
HIV adalah virus yang menumpang hidup dan merusak sistem
kekebalan tubuh. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus
HIV. (Brunner&Suddarth; edisi 8)
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome,
yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya
kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia
mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar seperti
kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem
pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis
penyakit lain (Yatim, 2006).
AIDS merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan
oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat virus HIV. Sebagian besar
orang yang terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan, akan
menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 8-10 tahun. AIDS
diidentifikasi berdasarkan beberapa infeksi tertentu yang dikelompokkan
oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) menjadi 4
tahapan stadium klinis, dimana pada stadium penyakit HIV yang paling

3
terakhir (stadium IV) digunakan sebagai indikator AIDS. Sebagian besar
keadaan ini merupakan infeksi oportunistik yang apabila diderita oleh
orang yang sehat, infeksi tersebut dapat diobati.
2.1 2 Epidemiologi dan karakteristik penyakit
Di seluruh dunia, sekitar 23 juta orang (40% diantaranya wanita)
terinfeksi HIV-1 dan saat ini sekitar 500.000 bayi yang terinfeksi setiap
tahunnya (CDC, 1997: CDC, 1998b dalam Charles, 2010). terleoas dari
terobosan pengobatan yang tidak dapat diduga, semua individu yang
terinfeksi ini akan mengidap AIDS.
Di Amerika Serikat, epidemiologi AIDS bergeser dari sebuah
populasi yang sebagian besar terdiri atas pria homoseksual dan biseksual
serta pengguna obat-obatan suntik menjadi kelompok yang lebih
beragam. Meski peria yang melakukan seks dengan pria tetap menjadi
kelompok yang paling terjangkit, kini individu yang terinfeksi HIV
makin terus bertambah dikalangan anak-anak dan pria serta wanita
heteroseksual. Perbandingan jumlah kasus orang Afrika Amerika dan
Hispanik Amerika yang terinfeksi HIV tidak sama besarnya (CDC, 1998a
dalam Charles, 2010). Virus tersebut ditularkan melalui hubungan
seksual, darah dan produk darah, dan pada masa perinatal atau melalui
ASI dari ibu yang terinfeksi HIV tidak sama besarnya (CDC, 1998a
dalam Charles, 2010).
Virus tersebut ditularkan melalui hubungan seksual, darah dan produk
darah, dan pada masa perinatal atau melalui ASI dari yang terinfeksi
kepada bayinya. Awitan gejala klinis bervariasi dari 2 minggu setelah
terpajan hingga 12 tahun (Flemming & Visscher, 1997 dalam Charles,
2010). Sekitar 50% individu yang terinfeksi mengalami gejala retroviral
akut atau sindrom serokonversi (infeksi HIV-1 primer) dan sekitar 50%
tidak mngalami gejala. Perkembangan penyakit ditandai oleh penurunan
progresif limfosit CD4+, peningkatan muatan virus, dan adanya berbagai
infeksi oportunistik (Saag, 1997 dalam Charles, 2010).
Infeksi oportunis adalah gejala klinis utama penyakit HIV dan
menjadi penyebab primer kesakitan dan kematian pada penyakit HIV

4
(Chaisoon & Moore, 1997; Piemme, 1998 dalam Charles, 2010). Insiden
infeksi oportunis meningkat seiring penurunan imun yang ditandai
dengan penurunan hitung CD4+ dan peningkatan muatan virus (
Temesgen & Wright, 1997 dalam Charles, 2010). Pada umumnya
semakin sering, semakin bervariasi, dan semakin berat infeksi maka
semakin buruk prognosisnya. Resiko terbesar kematian terjadi akibat
penurunan hitung sel CD4 dan peningkatan muatan virus serta adanya
penyakit atau limfoma, leukoensefalopati multifokal progresif (LPM),
infeksi komleks Mycobacterium avium diseminata (MAC), dan penyakit
sitomegalovirus (CMV). Kondisi-kondisi lain yang menunjukkan
penurunan masa bertambah hidup menncakup pneumonia Pneumocystis
carinii (PCP), Sarkoma Kaposi (SK), toksoplasmosis, kriptosporidiosis,
demensia, sendrom pelisutan, dan kandidiasis esofagus. (Chaisson,
Gallant, Keruly, & Moore, 1998).
Penyakit dapat digolongkan menurut hitung CD4 dan kombinasi dari
berbagai gambaran klinis (Saag, 1997 dalam Charles, 2010) adalah
sebagai berikut :
1. Infeksi HIV awal atau primer (retroviral akut atau sindrom
serokonversi) seringkali ditandai serupa dengan flu atau
mononukleosis. Infeksi HIV primer dijelaskan dibagian masalah fisik
pada AIDS
2. Batasan HIV-1 stadium dini adalah hitung CD4+ lebih dari 500 sel
mm3. Mnifestasi klinis yang biasa muncul mencakup limfadenopati,
kelainan dermatologi dan pada derajat ringan, lesi mulut.
3. Penyakit HIV stadium menengah ditndai dengan hitung CD4+ antara
200 dan 500 sel mm3. Manifestasi klinis mencakup peningkatan
frekuensi, tingkat keparahan dan variasi lesi kulit dan mulut; berbagai
gejala utama intermiten, seperti sakit kepala, keletihan, atralgia dan
mialgia; dan peningkatan frekuensi infeksi umum.
4. Penyakit HIV stadium lanjut dihitung dengan hitung CD4+ antara 50
dan 20 sel mm3. Panduan yang diterbitkan CDC pada tahun 1993
mendefinisikan AIDS sebagai hitung CD4+ kurang dari 200 sel mm3

5
atau adanya kondisi klinis yang menunjukkan adanya ADIS, seperti
PCP, SK toksoplakmosis, kriptokokosis, kriptos poridiosis, kandidiasis
esofagus, dan lin-lain. Pada penyakit HIV stadium lanjut, berbagai
gejala utama meningkat, seperti jug gangguan saraf, kanker yang
berkaitan dengn HIV, gangguan hematologis dan gangguan hormonal.
5. Penyakit HIV stadium lanjut ditandai hitung CD4+ kurang dari 50 sel
mm3. Infeksi oportunis yang berkaitan dengan penyakit stadium lanjut
mencakup penyakit MAC, meningitis kriptokokus, retinitis CMV,
aspergilosis invasif, PML, histoplasmosis diseminata,
kokidioidomikosis, dan bartonelosis. Berbagai infeksi oportunis
dapat terjadi secara bersamaan atau berulang. Gangguan sistem saraf
pusat (SSP) lebih sering terjadi, parah dan progresif. Anoreksia dan
malabsorbsi pencernaan biasa terjadi dan menyebabkan sindrom
pelisutan HIV.
6. HIV Terminal terjadi akibat ketidakmampuan mengendalikan gejala
penyakit atau pengobatan yang ada menjadi tidak efektif.
AIDS memberikan beberapa tantangan besar bagi para praktisi
yang terlibat dalam perawatan terminal, paliatif atau hospice ( Kemp &
Stepp, 1995 dalam Charles, 2010). Beberapa dari tantangan tersebut
adalah :
1. Tingkat keparahan, kerumitan dan perjalanan AIDS yang tidak
terduga membuat perawatan bagi pasien dengan penyakit stadium
lanjut menjadi sebuah tantangan bagi tenaga yang bukan ahli
AIDS.
2. Kadang terdapat kesulitan mengenai pengobatan mana yang paliatif
dan mana yang kuratif. Infus intravena dan tranfusi darah, dan terapi
supresif yang mahal jarang digunakan disebagian besar lingkungan
hospice. Selain itu, beberapa mengobati diri mereka sendiri dengan
terapi alternative. Bahkan pada stadium terminal AIDS, banyak
pasien, terutma dewasa muda, bergantung pada harapan akan
adanya obat hingga tidak mau mendapatkan perawatan hospice.

6
3. Masalah psikososial yang menantang yang seringkali menyertai
AIDS, mencakup gaya hidup terkait keluarga atau konflik
interpersonal, ketakutan pemberian perawatan akan infeksi dan
masalah yang menyertai penyakit stadium lanjut atau mematikan.
Pada beberapa kasus, perawatan dipersulit oleh penggunaaan obat
suntik atau obat lainnya. (dahulu atau sekarang)
4. Pendanaan untuk layanan tersebut sering kali tidak mencukupi.
2.1 3 Etiologi
Penyebabnya adalah golongan virus retro yang disebut Human
Immunodeficiency Virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun
1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika
ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap
sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk
memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi.
Tidak ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu
likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala
tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Di atas 3 tahun dengan gejala demam,
keringat malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash,
limfadenopati, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS
pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor
pada berbagai sistem tubuh, dan manifestasi neurologist.
Menurut UNAIDS (2004), individu dapat tertular virus HIV melalui 3
cara, yaitu:
1. Kontak seksual tanpa pelindung.
2. Darah yang terinfeksi pada transfusi darah.

7
3. Penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya, selama
kehamilan, proses kelahiran atau pemberian ASI (Air Susu Ibu).
Perkembangan virus :
1. Proses Perkembangan Virus HIV
Proses perkembangan virus HIV dalam tubuh. Proses tersebut
menurut Kaplan (1993); Sarafino (2006) adalah sebagai berikut:
a. Munculnya tanda-tanda infeksi primer HIV akut (acut HIV
infection).
b. Seroconversion
c. Penurunan sistem kekebalan
d. Gejala yang lebih berat
2. Reaksi terhadap kondisi terpapar HIV/AIDS
Kubler-Ross (dalam Sarafino, 2006) melakukan wawancara
terhadap 2000 individu yang mengalami teminal illnes dan mengatakan
bahwa penyesuaian individu biasanya mengikuti pola-pola yang dapat
diprediksi dalam 5 tahapan yang tersusun secara hirarkhi. Tahapan
tersebut adalah:
a. Denial
Reaksi pertama untuk prognasa yang mengarah ke kematian
melibatkan perasaan menolak mempercayainya sebagai suatu
kebenaran.
b. Anger
Penolakan akan segera menghilang dan muncul perasaan marah,
dengan reaksi kemarahan yang tertuju pada orang-orang yang ada
disekitarnya saat itu.
c. Bargaining
Pada tahapan ini, orang tersebut berusaha mengubah kondisinya
dengan melakukan tawar-menawar atau berusaha untuk bernegosiasi
dengan tuhan.
d. Depression

8
Perasaan depresi muncul ketika upaya negosiasi tidak menolong dan
orang tersebut merasa sudah tidak ada waktu untuk peluang lagi
serta tidak berdaya
e. Acceptance
Orang dengan kesempatan hidup yang tidak banyak lagi akan
mencapai penerimaan ini setelah tidak lagi mengalami depresi, tetapi
lebih merasa tenang dan siap menghadapi kematian.
2.1 4 Faktor Resiko
HIV Dan AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi,
pria maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
1. Lelaki homoseksual atau biseks.
2. Orang yang ketagian obat intravena.
3. Partner seks dari penderita AIDS.
4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
2.1 5 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada penderita AIDS umumnya
sulit dibedakan karena bermula dari gejala klinis umum yang didapati
pada penderita penyakit lainnya. Secara umum dapat dikemukakan
sebagai berikut:
1. Rasa lelah dan lesu
2. Berat badan menurun secara drastis
3. Demam yang sering dan berkeringat waktu malam
4. Mencret dan kurang nafsu makan

5. Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut


6. Pembengkakan leher dan lipatan paha
7. Radang paru
8. Kanker kulit
Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS umumnya meliputi 3
hal yaitu:
1. Manifestasi tumor
a. Sarkoma Kaposi

9
Kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Penyakit ini
sangat jarang menjadi sebab kematian primer.
b. Limfoma ganas
Timbul setelah terjadi Sarkoma Kaposi dan menyerang saraf
serta dapat bertahan kurang lebih 1 tahun.
2. Manifestasi oportunistik
a. Manifestasi pada Paru
1) Pneumoni pneumocystis (PCP)
Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS
merupakan infeksi paru PCP dengan gejala sesak nafas, batuk
kering, sakit bernafas dalam dan demam.
2) Cytomegalovirus (CMV)
Pada manusia 50% virus ini hidup sebagai komensal pada
paru-paru tetapi dapat menyebabkan pneumocystis. CMV
merupakan 30% penyebab kematian pada AIDS.
3) Mycobacterium avilum
Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir
dan sulit disembuhkan.
4) Mycobacterium tuberculosis
Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi milier
dan cepat menyebar ke organ lain di luar paru.
b. Manifestasi gastrointestinal
Tidak ada nafsu makan, diare kronis, penurunan berat badan
>10% per bulan.
c. Manifestasi neurologis
Sekitar 10% kasus AIDS menunjukkan manifestasi neurologis
yang biasanya timbul pada fase akhir penyakit. Kelainan saraf yang
umum adalah ensefalitis, meningitis, demensia, mielopati,
neuropati perifer.
Gejala dan stadium klinis Human Immunodeficiency Virus (HIV) /
Acquired Imunnodeficiency Syndrome (AIDS)

10
Diagnosis infeksi HIV & AIDS dapat ditegakkan berdasarkan
klasifikasi klinis WHO atau CDC. Di Indonesia diagnosis AIDS untuk
keperluan surveilans epidemiologi dibuat apabila menunjukkan tes
HIVpositif dan sekurang-kurangnya didapatkan dua gejala mayor dan satu
gejala minor.
Tabel 2.1. Gejala mayor dan Gejala minor HIV/AIDS
Gejala Mayor Gejala Minor
BB menurun >10% dalam 1 Batuk menetap>1 bulan
bulan Dermatitis generalisata
Diare kronik berlansung >1 bulan Herpes zootser multi-segmental
Demam berkepanjangan > 1 dan berulang
bulan Kandidiasis orofaringeal
Penurunan kesadaran Herpes simpleks kronis progresif
Demensia/HIV ensefalopati Limfadenofati generalisata
Infeksi jamur berulang pada alat
kelamin wanita
Retinitis cytomegalovirus

Tabel 2. 2 Stadium Klinis HIV/AIDS Menurut WHO


Stadium Gejala Klinis
I Tidak ada penurunan BB,Tanpa gejala atau hanya
limfadenopati generalisata persisten.
II Penurunan BB <10%
ISPA berulang, sinusitis, otitis media, tonsillitis, dan
faringitis
Herpes zootser dalam 5 tahun terakhir
Luka disekitar bibir
Ulkus mulut berulang
Ruam kulit yang gatal
Dermatitis seboroik
Infeksi jamur pada kuku
III Penurunan BB >10%

11
Diare, demam yang tidak diketahui penyebabnya >1 bulan
TB paru dalam satu tahun terakhir
Limfadenitis TB
Infeksi bacterial yang berat : peneumonia
Anemia ( <8gr/ dl) trombositpenia kronik
IV Sindroma wasting ( HIV )
Pneumoni pneumocystis
Pneumonia bacterial yang berat berulang dalam 6 bulan
Kandidiasis esophagus
Herpes simpleks ulseratif > 1 bulan
Limfoma
Sarcoma kaposi
Kanker serviks yang simpatik
Retinitis CMV
TB ekstra paru
Toksoplasmosis
Ensofalopati HIV
Meningitis Kroptokokus
Infeksi mikobakteria non-TB meluas
Lekoensefalopati mulifokal progresif
Kriptosperidiosis kronis, mikosis meluas

2.1 6 Patofisiologi
Dasar utama terinfeksinya HIV adalah berkurangnya jenis Limfosit T
helper yang mengandung marker CD4 (Sel T4). Limfosit T4 adalah pusat
dan sel utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam
menginduksi fungsi imunologik. Menurun atau menghilangnya sistem
imunitas seluler, terjadi karena virus HIV menginfeksi sel yang berperan
membentuk antibodi pada sistem kekebalan tersebut, yaitu sel Limfosit
T4. Setelah virus HIV mengikatkan diri pada molekul CD4, virus masuk
ke dalam target dan melepaskan bungkusnya kemudian dengan enzim
reverse transkriptase virus tersebut merubah bentuk RNA (Ribonucleic

12
Acid) agar dapat bergabung dengan DNA (Deoxyribonucleic Acid) sel
target. Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengandung Acid) sel
target. Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengandung bahan
genetik virus. Infeksi HIV dengan demikian menjadi irreversibel dan
berlangsung seumur hidup.
Pada awal infeksi, virus HIV tidak segera menyebabkan kematian dari
sel yang diinfeksinya, tetapi terlebih dahulu mengalami replikasi sehingga
ada kesempatan untuk berkembang dalam tubuh penderita tersebut dan
lambat laun akan merusak limfosit T4 sampai pada jumlah tertentu. Masa
ini disebut dengan masa inkubasi. Masa inkubasi adalah waktu yang
diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai menunjukkan
gejala AIDS. Pada masa inkubasi, virus HIV tidak dapat terdeteksi
dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus
HIV yang dikenal dengan masa “window period”. Setelah beberapa bulan
sampai beberapa tahun akan terlihat gejala klinis pada penderita sebagai
dampak dari infeksi HIV tersebut.20 Pada sebagian penderita
memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut, 3-6 minggu
setelah terinfeksi. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan,
pembengkakan kelenjar getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah
infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa
tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun, tetapi ada
sekelompok kecil penderita yang memliki perjalanan penyakit amat cepat
hanya sekitar 2 tahun dan ada juga yang sangat lambat (non-progressor).
Secara bertahap sistem kekebalan tubuh yang terinfeksi oleh virus HIV
akan menyebabkan fungsi kekebalan tubuh rusak.
Kekebalan tubuh yang rusak akan mengakibatkan daya tahan tubuh
berkurang bahkan hilang, sehingga penderita akan menampakkan gejala-
gejala akibat infeksi oportunistik.
2.1 7 Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes untuk mendiagnosa HIV, yaitu :
a. ELISA
b. Western blot

13
c. P24 antigen test
d. Kultur HIV
2. Tes untuk mendeteksi gangguan system imun, yaitu :
a. Hematokrit
b. LED
c. Rasio CD4/CD limposit
d. Serum mikroglobulin B2
e. Hemoglobin
2.1 8 Penatalaksanaa
1. Pengobatan Suporatif
Tujuan :
a. Meningkatkan keadaan umum pasien
b. Pemberian gizi yang sesuai
c. Obat sistometik dan vitamin
d. Dukungan Pasienikologis
2. Pengobatan infeksi oportunistik
a. Untuk infeksi :
1) Kardidiasis eosofagus
2) Tuberculosis
3) Toksoplasmosis
4) Herpes
5) Pcp
6) Pengobatan yang terkait AIDS , limfoma malignum , sarcoma
Kaposi dan sarcoma servik, disesuaikan dengan standar terapi
penyakit kanker b.
b. Terapi :
1) Flikonasol
2) Rifamfisin, INH , Etambutol, Piraziramid, Stremptomisin
3) Pirimetamin, Sulfadiazine, Asam folat
4) Ansiklovir
5) Kotrimoksazol
3. Pengobatan anti retro virus

14
Tujuan :
a. Mengurangi kematian dan kesakitan
b. Menurunkan julah virus
c. Meningkatkan kekebalan tubuh
d. Mengurangi resiko penularan
2.1 9 Pengkajian Pada pasien HIV/AIDS
a. Aktivitas pengkajian
Gejala: mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas
biasanya, progresi kelelahan/ malaise, perubahan pola tidur.
Tanda: kelemahan otot, menurunnya massa otot
Respon fisiologi terhadap aktivitas seperti perubahan dalam TD,
frekuensi jantung, pernafasan
b. Sirkulasi
Gejala: proses penyembuhan luka yang lambat (bila anemia);
perdarahan lama pada cedera (jarang terjadi)
Tanda: takikardi, perubahan TD postural, menurunnya volume nadi
perifer,
Pucat atau sianosis; perpanjangan kapiler
c. Intergritas ego
Gejala: factor stress yang berhubungan dengan kehilangan, mis:
dukungan keluarga, hubungan dengan orang lain
Penghasilan, gaya hidup tertentu dan stress spiritual
Mengkuatirkan diagnose, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak
berguna, rasa bersalah
Kehilangan control diri dan depresi
Tanda: mengingkari, cemas, defpresi, takut, menarik diri perilaku
marah, postur tubuh mengelak menagis, dan kontak mata kurang
Gejala menepati janji atau banyak janji untuk periksa dengan gejala
yang sama
d. Eliminasi
Gejala diare yang itermiten, terus menerus, sering dengan atau tanpa
disertai kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

15
Tanda: feses dengan atau tanpa disertai mucus dan darah, diare pekat
yang sering nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal, personal,
perubahan dalam jumlah, warna dan karakteristik urine
e. Makanan/cairan
Gejala: anoreksia, perubahan dalam kemampuanan mengenali
makanan/mual/muntal, Disfagia, nyeri retrostenal saat menelan
Penurunan berat badan: perawatan kurus, menurunnya lemak
subkutan/massa otot, turgor kulit buruk, adannya selaput putih dan
perubahan warna Kesehatan gigi/gusi yang buruk, adanya gigi yang
tanggal edema (umum, dependen)
f. Hygiene
Gejala: tidak dapat menyelsaikan aktivitas
Tanda: memperlihatkan penampilan yang kurang rapi, kukurangan
dalam atau perawatan diri, aktivitas perawatan diri
g. Neoronsensori
Gejala: pusing, sakit kepala, perubahan status mental. Kehilangan
ketajaman atau kemampuan diri untuk mengatasi masalah, tidak
mampu untuk mengingat dan konsentrasimenurun, kerusakan sensasi
atau indera posisi dan getaran. Kelemahan otot, tremor dan perubahan
ketajaman penglihatan, Kebas, kesemutan pada ekstremitas (kaki
tanpak menunjukan perubaahan paling awal)
Tanda: perubahan status mental dan rentang antara kacau mental
sampai dimensia, lupa, konsentrasi buruk, tingkat kesadaran menurun,
apatis, retardasi psikomotor/respon melambat, Ide paranoid, ansietas
yang berkembang bebas, harapan yang tidak realistis timbul refleksi
tidak normal, menurunnya kekuatan otot dan gaya berjalan ataksia
Tremor pada motorik kasar/ halus, menurunnya motori Vocalis: hemi
paresis; kejang, Hemoragi: retina dan eksudat
h. Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri umum atau local, sakit, rasa terbakar pada kaki, Sakit
kepala, Nyeri dada peluritis

16
Tanda: pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan,
menururnan rentang gerak, perubahan gaya jalan/pincang
Gerak otot melindungi bagian yang sakit
i. Pernapasan
Gejala: isksering, menetap, Napas pendek yang frogresip,
Batuk(sedang samapai parah), produktid/non produktif sputum,
Bandungan atau sesak dada
Tanda: takipnea, distress pernapasan, Perubahan pada bunyi nafas/
bunyi nafas adventisius, Sputum: kuning( pada pneumonia yang
menghasilkan sputum)
j. Keamanan
Gejala: riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka lambat proses
penyembuhannya
Riwayat menjalani tranfusi darah yang sering dan berulang
Riwayat penyakit defiensi imun, yakni kangker tahap lanjut
Riwayat/berulangnya infeksi dengan PHS
Demam berulang, suhu rendah, peningkatan suhu intemiten,
berkeringat malam
Tanda: perubahan integritas kulit, timbulnya nodul-nodul, pelebaran
kelenjar limfe pada 2 area tubuh atau lebih, menurunya kekuatan
umum, tekanan otot, perubahan pada gaya berjalan
k. Seksualitas
Gejala: riwayat perilaku beresiko tinggi yakni mengadakan hubungan
seksual dengan pasangan yang positif HIV, pasangan seksual multiple,
aktivitas seksual yang tidak terlindung dan seks anal, Menurunnya
libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan seks, Penggunaan
kondom yang tidak konsisten, Penggunaan pil pencegahan kehamilan
Tanda: kehamilan atau resiko terhadap hamil
l. Genetalia
Manifestasi kulit (mis, herpes, kulit): rabas
m. Interaksi social

17
Gejala: masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, mis: kehilangan
kerabat/ orang terdekat, teman, pendukung, rasa takut untuk
mengungkapkannya pada orang lain, takut akan penolakan/ kehilangan
pendapatan, Isolasi, kesepian, teman dekat ataupun pasangan seksual
yang meninggal akibat AIDS, Mempertanyakan kemampuan untuk
tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana.
Tanda: perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat
Aktivitas yang tidak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan
n. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: kegagalan untuk mengikuti perawatan, melanjutkan perilaku
beresiko tinggi( mis, seksual atau penggunaan obat-obatan,
Penggunaan atau penyalahgunaan obat-obatan IV , saat ini merokok,
penyalahgunaan alcohol.
o. Pertimbangan rencana pemulangan
Memperlukan bantuan keuangan, obat-obatan atau tindakan, perawat
kulit/luka , peralatan/bahan; transportasi, belanja makanan dan
persiapan perawatan diri, prosedur perawatan teknis, tugas
perawatan/pemeliharaan rumah, perawatan anak, perubahan fasilitas
hidup
a. Pemeriksaan fisik
1. Kepala
Inspeksi : Bentuk kepala simetris, rambut hitam keriting, kulit
kepala kering, tidak ada ketombe.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
2. Mata
Inspeksi : Sklera putih, dapat melihat dengan jelas, bola mata
simetris, konjungtiva merah muda, ada reaksi terhadap
cahaya (miosis) tidak mengguakan alat bantu penglihatan,
fungsi penglihatan normal.
Palpasi : Tidak nyeri tekan.
3. Hidung
Inspeksi : bentuk simetris, tidak ada polip, tidak ada sekret.

18
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan dan
pembengkakan.
4. Telinga
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada kelainan dikedua telinga,
tidak ada lesi dan serumen.
Palpasi : Tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan.
5. Mulut
Inspeksi : Gigi tampak kuning, lidah bersih, mukosa mulut lembab.
Palpasi : Otot rahang kuat.
6. Leher
Inspeksi : Ada pembesaran kelenjar getah bening.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
7. Thoraks (paru-paru)
Inspeksi : Dada simetris, tidak ada lesi, respirasi 40 kali per menit,
terdapat retraksi dinding dada. Palpasi : Tidak ada nyeri
tekan.
Auskultasi : Bunyi napas ronkhi. Perkusi : Batas paru-paru normal.
b. Pemeriksaan penunjang
1) Tes serologi terdiri atas: tes cepat, tes ELISA, Tes western blot,
2) Tes virologis dengan PCR yang dianjurkan: HIV DNA Kualitatif
(EID), HIV RNA Kuantitatif.
3) Tes HIV antibodi-antigen
2.2 Konsep Dasar Penyakit Terminal
2.2.1 Pengertian Penyakit terminal
Penyakit terminal adalah keadaan sakit dimana menurut akal sehat
tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Keadaan sakit itu dapat
disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaa. Kondisi terminal
adalah suatu proses yang progresif menuju kematian yang berjalan
melalui suatu tahapan proses penurunan fiisik, psikososial dan spiritual
bagi individu (Kubler-Rosa, 1969). Penyakit terminal adalah penyakit
progresif yaitu penyakit yang menuju kearah kematian. Contohnya
seperti penyakit jantung, dan kanker atau penyakit terminal ini dapat

19
dikatakan harapan untuk hidup tipis, tidak ada lagi obat-obatan, tim
medis sudah give up (menyerah) dan seperti yang dikatakan diatas tadi
penyakit terminal ini mengaruh kearah kematian. (white, 2002 dalam
Charles, 2010).
Kondisi terminal adalah suatu proses yang progresif menuju
kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik,
psikososial dan spiritual bagi individu (Carpenito, 1999).
2.2.2 Jenis Penyakit Terminal
Beberapa jenis penyakit terminal :
1. Penyakit-penyakit kanker.
2. Penyakit-penyakit infeksi.
3. Congestif Renal Falure (CRF).
4. Stroke Multiple Sklerosis.
5. Akibat kecelakaan fatal.
6. AIDS
2.2.3 Manifestasi Klinik Fisik
1. Gerakan pengindaran menghilang secara berangsur-angsur dimulai
dari ujung kaki dan ujung jari.
2. Reflek mulai menghilang.
3. Suhu klien biasanya tinggi tapi merasa dingin dan lembab terutama
pada kaki dan tangan dan ujung-ujung ekstremitas.
4. Kulit kelihatan kebiruan dan pucat.
5. Denyut nadi tidak teratur dan lemah.
6. Nafas berbunyi, keras dan cepat ngorok.
7. Penglihatan mulai kabur.
8. Klien kadang-kadang kelihatan rasa nyeri.
9. Klien dapat tidak sadarkan diri.
2.2.4 Tahap Berduka
Dr.Elisabeth Kublerr-Ross telah mengidentifikasi lima tahap
berduka yang dapat terjadi pada pasien dengan penyakit terminal
menurut (Jufry Kemhay dkk, 2018) adalah :
1. Denial ( pengingkaran )

20
Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia
tidak dapat menerima informasi ini sebagai kebenaran dan bahkan
mungkin mengingkarinya.
2. Anger ( Marah )
Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa
ia akan meninggal.
3. Bergaining ( tawar-menawar )
Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien menscoba
menawar waktu untuk hidup.
4. Depetion ( depresi
Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan
segera mati.ia sangat sedih karna memikirkan bahwa ia tidak akan
lama lagi bersama keluarga dan teman-teman.
5. Acceptance ( penerimaan
Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan
bahwa ia akan meninggal. Ia akan berusaha keras untuk
menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum terselesaikan.
2.2.5 Rentang Respon Kehilangan
Denial—–> Anger—–> Bergaining——> Depresi——> Acceptanc
1. Fase denial
a. Reaksi pertama adalah syok, tidak mempercayai kenyataan
b. Verbalisasi;” itu tidak mungkin”, “ saya tidak percaya itu terjadi ”.
c. Perubahan fisik; letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan
pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah.
2. Fase anger / marah
a. Mulai sadar akan kenyataan
b. Marah diproyeksikan pada orang lain
c. Reaksi fisik; muka merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan
mengepal
d. Perilaku agresif.
3. Fase bergaining / tawar- menawar.

21
Verbalisasi; “ kenapa harus terjadi pada saya ? “ kalau saja yang
sakit bukan saya “ seandainya saya hati-hati “.
4. Fase depresi
a. Menunjukan sikap menarik diri, tidak mau bicara atau putus asa.
b. Gejala ; menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido
menurun.
5. Fase acceptance
a. Pikiran pada objek yang hilang berkurang.
b. Verbalisasi ;” apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat
sembuh”, “ yah, akhirnya saya harus operasi “
2.2.6 Tipe-tipe Perjalanan Menjelang Kematian
Ada 4 (empat) tipe dari perjalanan proses kematian, yaitu:
1. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya
perubahan yang cepat dari fase akut ke kronik.
2. Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui, baisanya
terjadi pada kondisi penyakit yang kronik.
3. Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum pasti,
biasanya terjadi pada pasien dengan operasi radikal karena adanya
kanker.
4. Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu. Terjadi pada
pasien dengan sakit kronik dan telah berjalan lama.
2.2.7 Tanda-tanda Meninggal secara klinis Secara tradisional
Tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat melalui perubahan-
perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. Pada tahun 1968, World
Medical Assembly, menetapkan beberapa petunjuk tentang indikasi
kematian, yaitu:
1. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.
2. Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan.
3. Tidak ada reflek.
4. Gambaran mendatar pada EKG.
2.2.8 Macam Tingkat Kesadaran atau Pengertian Pasien dan
Keluarganya Terhadap Kematian

22
Strause et all (1970), membagi kesadaran ini dalam 3 tipe:
1. Closed Awareness/Tidak Mengert
Pada situasi seperti ini, dokter biasanya memilih untuk tidak
memberitahukan tentang diagnosa dan prognosa kepada pasien dan
keluarganya. Tetapi bagi perawat hal ini sangat menyulitkan karena
kontak perawat lebih dekat dan sering kepada pasien dan
keluarganya. Perawat sering kal dihadapkan dengan pertanyaan-
pertanyaan langsung, kapan sembuh, kapan pulang, dan sebagainya.
2. Matual Pretense/Kesadaran/Pengertian yang Ditutupi.
Pada fase ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk
menentukan segala sesuatu yang bersifat pribadi walaupun
merupakan beban yang berat baginya.
3. Open Awareness/Sadar akan keadaan dan Terbuk
Pada situasi ini, klien dan orang-orang disekitarnya mengetahui
akan adanya ajal yang menjelang dan menerima untuk
mendiskusikannya, walaupun dirasakan getir. Keadaan ini
memberikan kesempatan kepada pasien untuk berpartisipasi dalam
merencanakan saat-saat akhirnya, tetapi tidak semua orang dapat
melaksanaan hal tersebut.
2.2.9 Bantuan yang Dapat Diberikan Saat Tahap Berduka
Bantuan terpenting berupa emosional.
a. Pada Fase Denial
Perawat perlu waspada terhadap isyarat pasien dengan denial
dengan cara mananyakan tentang kondisinya atau prognosisnya dan
pasien dapat mengekspresikan perasaan-perasaannya.
b. Pada Fase Marah
Biasanya pasien akan merasa berdosa telah mengekspresikan
perasaannya yang marah. Perawat perlu membantunya agar mengerti
bahwa masih me rupakan hal yang normal dalam merespon perasaan
kehilangan menjelang kamatian. Akan lebih baik bila kemarahan
ditujukan kepada perawat sebagai orang yang dapat dipercaya,
memberikan ras aman dan akan menerima kemarahan tersebut, serta

23
meneruskan asuhan sehingga membantu pasien dalam
menumbuhkan rasa aman.
c. Pada Fase Menawar
Pada fase ini perawat perlu mendengarkan segala keluhannya dan
mendorong pasien untuk dapat berbicara karena akan mengurangi
rasa bersalah dan takut yang tidak masuk akal.
d. Pada Fase Depresi
Pada fase ini perawat selalu hadir di dekatnya dan mendengarkan
apa yang dikeluhkan oleh pasien. Akan lebih baik jika
berkomunikasi secara non verbal yaitu duduk dengan tenang
disampingnya dan mengamati reaksi-reaksi non verbal dari pasien
sehingga menumbuhkan rasa aman bagi pasien.
e. Pada Fase Penerimaan
Fase ini ditandai pasien dengan perasaan tenang, damai. Kepada
keluarga dan teman-temannya dibutuhkan pengertian bahwa pasien
telah menerima keadaanya dan perlu dilibatkan seoptimal mungkin
dalam program pengobatan dan mampu untuk menolong dirinya
sendiri sebatas kemampuannya.

24
Penyakit Terminal ( HIV/AIDS)

Fase Denial Fase Anger Fase Bergaining Fase Depresi Fase Acceptance

Syok Marah Tawar menawar Gangguan hubungan Menerima kondisi


sosial

Mengingkari kondisi Takut akan dosa Merasa tidak Mempersikapkan


berharga mental

Tidak percaya Takut akan kematian Penarikan diri dari


lingkungan sosial

Resiko bunuh diri

Faktor usia Faktor lingkungan, Faktor Jenis kelamin Faktor tingkat


sosial dan budaya pendidikan

25
Faktor ekonomi Faktor pengetahuan Faktor lama rawat Faktor caring perawat
inap

Berduka Ansites Ketidakmampuan


Resiko distress Koping tidak
koping keluarga
spiritual efektif

26
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL
3.1 Pengkajian Riwayat Kesehatan
3.1.1 Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat sekarang
3.1.2 Riwayat kesehatan dahulu
Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk rumah sakit
dengan penyakit yang sama
3.1.3 Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit yang sama dengan
klien
3.1.4 Head To To
Perubahan fisik saat kematian mendekat:
a. Pasien kurang rensponsif
b. Fungsi tubuh melamban
c. Pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja
d. Rahang cendrung jatuh
e. Pernafasan tidak teratur dan dangkal
f. Sirkulasi melambat dan ektremitas dingin, nadi cepat dan melemah.
3.2 Analisa Data
No Symtom Etiologi Problem
1 Tanda dan ejala Mayor Penyakit terminal Ansietas
Ds : HIV/AIDS berhubungan
1. Merasa Bingung dengan
2. Merasa khawatir dengan Fase Bergaining diperkirakan
akibat dari kondisi yang dengan situasi yang
dihadapi Fase Tawar menawar tidak dikenal, sifat
3. Sulit Berkonsentrasi dan kondisi yang
Do : Takut akan dosa tidak dapat
1. Tampak Gelisah diperkirakan takut
2. Tampak tegang Takut akan kematian akan kematian dan
3. Sulit tidur efek negatif pada

27
Tanda dan Gejala minor Faktor lingkungan sosial gaya hidup.
Ds : dan budaya
1. Mengeluh pusing
2. Anoreksia Faktor pengetahuan, faktor
3. Merasa tidak berdaya eknomi, faktor lama rawat
Do: inap dan faktor caring
1. Frekuensi napas meningkat perawat
2. Frekuensi nadi meningkat
3. Tekanan darah meningkat Ansietas
4. Tremor
5. Muka tampak pucat
6. Suara bergetar
7. Kntak mata buruk
8. Berorientasi pada masa lalu
2 Tanda dan gejala minor Penyakit terminal Berduka yang
Ds : HIV/AIDS behubungan
1. Merasa sedih dengan penyakit
2. Merasa bersalah atau Fase Depresi terminal dan
menyalahkan orang lain kematian yang
3. Tidak menerima Kehilangan Gangguan hubungan sosial dihadapi,
4. Merasa tidak ada harapan penurunan fungsi
Do: Merasa tidak berharga perubahan konsep
1. Menangis diri dan menarik
2. Pola tidur berubah Penarikan diri dari diri dari
3. Tidak mampu berkonsentrasi lingkungan sosial lingkungan sosial
Tanda dan Gejala Minor
Ds : Resiko bunuh diri
1. Mimpi buruk dan pola
mimpi berubah Faktor lingkungan sosial
2. Merasa tidak berguna budaya dan faktor
3. Fobia pendidikan
Do :

28
1. Marah Faktor lama rawat inap
2. Tampak panic perawat
3. Fungsi immmunitas
terganggu Berduka

3 Penyakit terminal Resiko terhadap


HIV/AIDS 29istress spiritual
yang
Fase Acceptance berhubungan
dengan
Menerima Kondisi perpisahan dari
system
Mempersiapkan mental pendukung
keagamaan,
Faktor tingkat pendidikan kurang pripasi
atau ketidak
Faktor Pengetahuan mampuan diri
dalam
Resiko terhadap distress menghadapi
spiritual ancaman
kematian.

4 Tanda dan Gejala mayor Penyakit terminal Koping tidak


Ds : HIV/AIDS efektif
1. Mengungkapkan tidak mmpu berhububgan
mengatasi masalah Fase Denial dengan kondisi
Do : perawatan kritis
1. Menggunakan mekanisme Syok akibat penyakit
koping yang tidak sesuai terminal
Tanda dan gejala minor Mengingkari kondisi
Ds:
1. Tidak mampu memenuhi Tidak percaya

29
kebutuhan dasar
2. Kekhawatiran kronis Faktor lingkungan sosial
Do: dan budaya
1. Memanipulasi orang lain
untuk memenuhi keinginan Faktor pengetahuan, faktor
sendiri eknomi, faktor lama rawat
2. Prilaku tidak asertif inap dan faktor caring
3. Partisipasi sosial kurang perawat

Koping tidak efektif


5 Tanda dan Gejala mayor Penyakit terminal Ketidakmampuan
Ds : HIV/AIDS koping keluarga
1. Merasa diabaikan berhubungan
Do : Fase Acceptance dengan faktor
1. Tidak memenuhi kebutuhan lama rawat inap
anggota keluarga Menerima Kondisi terhadp pasien,
2. Tidak toleran gangguan
3. Mengabaikan anggota Mempersiapkan mental kehidupan
keluarga keluarga, takut
Tanda dan gejala minor Faktor tingkat pendidikan, akan hasil (
Ds: faktor lingkungan sosial, kematian ) dengan
1. Terlalu khawatir dengan dan budaya lingkungnnya
anggota keluarga penuh dengan
2. Merasa tertekan (depresi) Faktor lma rawat inap, stress dan caring
Do: faktor caring perawat perawat ( tempat
1. Prilaku menyerang (agresi) perawatan ).
2. Prilaku menolak
3. Perawatan yang mengabaikan
kebutuhan dasar klien
4. Mengabaikan
perawatan/pengobatan
anggota keluarga

30
5. Prilaku sehat terganggu
6. Ketergantungan anggota
keluarga meningkat
7. Realitas kesehatan anggota
keluarga terganggu

3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Ansietas berhubungan dengan diperkirakan dengan situasi yang tidak
dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut terhadap
kematian dan efek negatif pada gaya hidup.
2. Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang
dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep diri dan mearik diri dari
lingkungan sosial
3. Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari
system pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri
dalam menghadapi ancaman kematian.
4. Koping tidak efektif berhububgan dengan kondisi perawatan kritis akibat
penyakit terminal
5. Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan faktor lama rawat
inap terhadp pasien, gangguan kehidupan keluarga, takut akan hasil (
kematian ) dengan lingkungnnya penuh dengan stress dan caring perawat (
tempat perawatan ).
3.4 Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi (SIKI)
keperawatan (SLKI)
1. Ansietas Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji dan catat tanda-
berhubungan keperwawatan selama tanda vital,
dengan 2x24 jam di harapkan 2. Indetivikasi saat tingkat
diperkirakan tingkat ansietas pasien ansietas berubah (mis:
dengan situasi berkurang dengan criteria kondisi, waktu, stressor)
yang tidak hasil : 3. Identifikasi kemampuan
dikenal, sifat 1. Perilaku gelisah mengambil keputusan

31
dan kondisi menurun 4. Monitor tanda-tanda
yang tidak dapat 2. Perilaku tegang ansietas (verbal dan non
diperkirakan menurun verbal
takut terhadap 3. Keluhan pusing 5. Ciptakan suasana
kematian dan tidak ada terapuetik untuk
efek negatif 4. Anoreksia menumbuhkan
pada gaya menurun kepercayaan
hidup. 5. Palpitasi menurun 6. Temani pasien untuk
6. Pasien tidak mengurangi kecemasan
mengalami pucat 7. Pahami situasi yang
7. Pasien tidak membuat ansietas
mengalami tremor dengarkan dengan penuh
8. TTV dalam batas perhatian
normal 8. Gunakan pendekatan
9. Kontak mata yang meyangkinkan
pasien baik 9. Motivasi
10. Pperasaan mengidentifikasi situasi
ketidakberdayaan yang memicu kecemasan
pasien membaik 10. Diskusikan perencanaan
11. Pola tidur pasien realistis tentang peristiwa
membaik yang akan datang
11. Jelaskan prosedur,
termasuk sensasi yang
dialami
12. Informasikan secara
vaktual yang mengalami
diagnosis, pengobatan,
dan prognosis.
13. Anjurkan keluarga untuk
tetap bersama pasien
14. Latih kegiatan
pengalihan untuk

32
mengurangi ketegangan
15. Latih tehnik relaksasi
16. Kolaborasi pemebrian
obat antlansietas, jika
perlu
2. Berduka yang Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi reaksi awal
behubungan keperwawatan selama terhadap kehilangan
dengan penyakit 2x24 jam di harapkan 2. Identifikasi kehilangan
terminal dan tingkat berduka pasien yang dihadapi
kematian yang membaik dengan kriteria 3. Memberikan motivasi
dihadapi, hasil : untuk menguatkan
penurunan fungsi 1. Verbalisasi dukungan keluarga atau
perubahan menerima pasien orang terdekat
konsep diri dan membaik 4. Fasilitasi melakukan
mearik diri dari 2. Pasien tidak kebiasaan sesuai dengan
lingkungan sosial mengalami rasa budaya , agama , dan
kehilangan norma sosial
3. Tidak ada 5. Fasilitasi
Verbalisasi mengekspresikan
perasaan bersalah perasaan dengan cara
atau menyalahkan yang nyaman (misalnya
orang lain membaca buku , menulis
4. Perasaan marah , menggambar atau
dan panik pasien bermain)
menurun 6. Anjurkan
5. Pola tidur pasien mengidentifikasi
meningkat ketakutan terbesar pada
kehilangan
7. Ajarkan melewati proses
berduka secara bertahap
8. Jelaskan kepada pasien
dan keluarga bahwa

33
sikap mengingkari ,
marah , tawar , menawar
, sepresi , dan menerima
adalah wajar dalam
meninghadapi
kehilangan.

3 Resiko terhadap Setelah dilakukan tindakan 1. Sediakan lingkungan


distres spiritual keperwawatan selama yang tenang untuk
yang 2x24 jam di harapkan refleksi diri
berhubungan status spiritual pasien 2. Fasilitasi
dengan meningkat dengan criteria mengidentifikasi
perpisahan dari hasil : masalah spiritual
system 1. Verbalisasi makna 3. Fasilitasi
pendukung dan tujuan hidup mengeksplorasi
keagamaan, membaik keyakinan terkait
kurang pripasi 2. Verbalisasi pemulihan tubuh ,
atau ketidak perasaan pikiran , dan jiwa
mampuan diri keberdayaan 4. Fasilitasi hubungan
dalam pasien membaik persahabatan dengan
menghadapi 3. Verbalisasi orang lain dan pelayanan
ancaman perasaan tenang keagamaan
kematian. pasien membaik 5. Anjurkan membuat
4. Tidak ada perilaku komitmen spiritual
marah pada tuhan berdasarkan keyakinan
5. Tidak ada dan nilai
Verbalisasi 6. Rujuk pada pemuka
menyalahkan diri agama atau kelompok
sendiri agama , jika perlu
6. Tidak ada perasaan
takut
7. Kemampuan

34
beribadah pasien
meningkat

4 Koping tidak Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi persepsi


efektif keperwawatan selama mengenai masalah informasi
berhububgan 2x24 jam di harapkan yang memicu konflik
dengan kondisi status koping pasien 2. Fasilitasi mengklarifikasi
perawatan kritis membaik dengan kriteria nilai dan harapan yang
akibat penyakit hasil : membantu membuat pilihan
terminal 1. Prilaku koping adaptif 3. Diskusikan setiap kelebihan
2. Kemampuan dan kekurangan dari setiap
memenuhi peran solusi
sesuai usia meningkat 4. Fasilitasi melihat situasi
3. Verbalisasi secara realistic
kemampuan mengatasi 5. Motivasi mengungkapkan
masalah meningkat tujuan perawatan yang
4. Verbalisasi kelemahan diharapkan
diri menurun 6. Fasilitasi pengamnbilan
5. Tanggung jawab diri keputusan secara kolaboratif
meningkat 7. Hormati hak pasien untuk
6. Orientasi realitas menerima atau menolak
membaik informasi
8. Fasilitasi hubungan antara
pasien, keluarga, dan tenaga
kesehatan lainnya
9. Informasikan alternative
solusi secara jelas
10. Berikan informasi yang
diminta pasien
11. Kolaborasi dengan tenaga
kesehatan lain dalam
memfasilitasi pengambilan

35
keputusaan
5 Ketidakmampuan Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi respons
koping keluarga keperawatan selama 2x24 emosional terhadap kondis
berhubungan jam, diharapkan status saat ini
dengan faktor koping keluarga membaik 2. Identifikasi beban prognosis
lama rawat inap dengan kriteria hasil : secara psikologi
terhadp pasien, 1. Ketepaparan 3. Identifikasi kesesuaian antara
gangguan informasi keluarga harapan pasien, keluarga,
kehidupan pasien membaik dan tenaga kesehatan
keluarga, takut 2. Perasaan diabaikan 4. Dengarkan masalah, perasaan
akan hasil ( menurun dan pertanyaan keluarga.
kematian ) 3. Kekhawatiran 5. Terima nilai-nilai keluarga
dengan tentang anggota dengan cara yang tidak
lingkungnnya keluarga menurun menghakimi
penuh dengan 4. Prilaku 6. Diskusikan rencana medis
stress dan caring mengabaikan dan perawatan
perawat ( tempat anggota keluarga 7. Fasilitasi pengungkapan
perawatan ). menurun perasaan antara pasien dan
5. Kemampuan keluarga atau antara anggota
memenuhi keluarga
kebutuhan anggota 8. Fasilitasi pengambilan
keluarga keputusan dalam
meningkat merencanakan perawatan
6. Komitmen pada jangka panjang, jika perlu.
perawatan/pengoba 9. Fasilitasi anggota keluarga
tan keluarga yang dalam mengidentifikasi dan
sakit meningkat menyelesaikan konflik nilai
7. Komunikasi antara 10. Fasilitasi anggota keluarga
anggota keluarga melalui proses kematian dan
meningkat berduka jika perlu.
8. Perasaan tertekan 11. Fsilitasi memperoleh
(depresi) menurun pngetahuan, keterampilan,

36
9. Prilaku menyerang dan peralatan yang
tidak ada diperlukan untuk
memepertahankan keputusan
perawatan pasien.
12. Bersikap sebagai pengganti
keluarga untuk
menenangkan pasien
dan/atau jika keluarga tidak
dapat ,memberikan
perawatan
13. Hargai dan mekanisme
koping adaptif yang
digunakan
14. Informasikan fasilitas
perawatan kesehatan yang
tersedia
15. Kolaborasi (rujuk untuk
terapi keluarga jika perlu)

37
3.5 Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang
dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria
hasil yang diharapkan (Gordon, 1994 dalam Potter & Perry, 2011).
Beberapa pedoman atau prinsip dalam pelaksanaan implementasi
keperawatan (kozier et al,. 1995) adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan respon klien
Berdasarkan ilmu pengetahuan, hasil penelitian keperawatan, standar
pelayanan professional, hukum dan kode etik keperawatan.
2. Berdasarkan penggunaan sumber-sumber yang tersedia.
Sesuai dengan tanggung jawab dan tanggung gugat profesi keperawatan.
Mengerti dengan jelas pesanan-pesanan yang ada dalam rencana intervensi
keperawatan. Harus dapat menciptakan adaptasi dengan klien sebagai
individu dalam upaya meningkatkan pesan serta untuk merawat diri sendiri
(self care). Menekankan pada aspek pencegahan dan upaya peningkatkan
status kesehatan. Dapat menjaga rasa aman, harga diri, dan melindungi
klien. Memberi pendidikan, dukungan dan bantuan. Bersifat holistic.
Kerjasama dengan profesi lain. Melakukan dokumentasi.
3.6 Evaluasi keperawatan
Evaluasi merupakan langkah proses keperawatan yang memungkinkan
pearawat untuk menentukan apakah intervensi keperawatan telah berhasil
meningkatkan kondisi klien. (Potter & Perry,2009. Fundamental of Nursing 7
th Edition).
Meskipun tahap evaluasi di letakkan pada akhir proses keperawatan,
evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan.
Pengumpulan data perlu direvisi untuk menentukan apakah informasi yang
telah dikumpulkan sudah mencukupi dan apakah perilaku yang diobservasi
sudah sesuai. Diagnose juga perlu dievaluasi dalam hal keakuratan dan
kelengkapannya. Tujuan dan intervensi dievaluasi adalah untuk menentukan
apakah tujuan tersebut, dapat dicapai secara efektif.

38
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai
tujuan. Hal ini bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien
berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan,
sehingga perawat dapat mengambil keputusan :
a. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan
yang ditetapkan).
b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan
untuk mencapai tujuan).
c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu yang
lebih lama untuk mencapai tujuan) (Iyer et al., 1996).
Salah satu format catatan perkembangan yang diorientasikan kearah proses
keperawatan adalah metode SOAPIER (Fischbach, 1991). Hal ini meliputi
sebagai berikut :

S Subjective data (data subyektif) Pernyataan atau


interaksi klien
O Objective data (data obyektif) Pengamatan dan
penilaian perawat
A Analysis (analisis) Status diagnosa
keperawatan
P PlanOf Care ( rencana asuhan) Hasil dan tindakan
yang direncanakan
I Implementation (implementasi) Tindakan yang
diimplementasikan
E Evaluation (evaluasi) Respon klien
terhadap tindakan
/hasil
R Revision (revisi) Perubahan rencana
saat diperlukan
Evaluasi ditulis setiap kali setelah semua tindakan dilakuakan
terhadap pasien. Pada tahap evaluasi dibagi menjadi 4 yaitu SOAPIER atau
SOAP :

39
S Subyektif Hasil pemeriksaan terahir yang dikelukan
oleh pasien biasanya biasanya data ini
berubungan dengan kriteria hasil
O Obyektif Hasil pemerikasaan terakhir yang dilakukan
oleh perawat biasanya data ini juga
berhubungan dengan kriteria hasil
A Analisia Pada tahap ini dijelaskan apakah masalah
kebutuhan pasien telah telah terpenuhi atau
tidak
P Rencana asuhan Dijelaskan rencana tindakan lanjut yang
akan dilakukan terhadap pasien
I Intervensi Tindakan prawat untuk mengatasi masalah
yang ada
E Evaluasi Evaluasi terhadap tindakan keperawatan
R Revisi
Untuk penentuan masalah teratasi, teratasi sebagian,atau tidak
teratasi adalah dengan cara membandingkan antara SOAP dengan
tujuan dan criteria hasil yang telah ditetapkan. Formaat evaluasi
menggunakan :
S Subjektif adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari
klien setelah tindakan diberikan
O Objektif adalah informasi yang didapat berupa hasil
pengamatan, penilaian, pengukuran yang dilakukan oleh
perawat setelah tindakan dilakukan
A Analisis adalah membandingkan antara informasi subjective
dan objective dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian
diambil kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian
atau tidak teratasi.
P Planning adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan
dilakukan berdasarkan hasil analisa

40
BAB IV
PENUTUP
4. 1 Kesimpulan
Kondisi terminal adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami
penyakit atau sakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh sehingga
sangat dekat dengan proses kematian. Paien yang mengalami HIV, HIV
Terminal terjadi akibat ketidakmampuan mengendalikan gejala penyakit
atau pengobatan yang ada menjadi tidak efektif.
Respon klien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi
fisik, psikologis, sosial yang dialami, sehingga dampak yang ditimbulkan
pada tiap individu juga berbeda. Hal ini mempengaaruhi tingkat kebutuhan
dasar yang ditunjukkan oleh pasien terminal.
Seseorang yang menghadapi kematian/kondisi terminal, dia akan
menjalani hidup, merespon terhadap berbagai kejadian yang dan orang
disekitarnya sampai kematian itu terjadi. Perhatian utama pasien terminal
sering bukan pada kematian itu sendiri tapi lebih kepada kehilangan control
terhadap fungsi tubuh, Pengalaman nyeri yang menyakitkan atau tekanan
psikologis yang diakibatkan ketakutan akan perpisahan, kehilangan orang
yang dicintai.
4. 2 Saran
Perawat harsu menmahami apa yang dialami klien dengan kondisi
terminal, tujuannya untuk dapat mnyiapkan dukungan dan bantuan bagi
klien sehingga pada saat-saat terakhir dalam hidup bisa bermakna dan
akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan damai terutama pada pasien
yang mengalami HIV/SIDS yang memiliki kondisi dan penyakit yang sangat
kompleks dan sangat sulit dimengerti dalam proses perkembangan penyakit
maupun tanda dan gejala masuk pada fase terminal.

41
DAFTAR PUSTAKA
Fitria Cemy Nur. 2010. Paliatif care pada penderita penyakit terminal. Surakarta.
https://scholer.google.com

Kemhay, J. d. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terminal. Jakarta:


https://studylibid.com/doc/1122960/laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan-
pada-pasien-terminal. Di unggah padatanggal 25 September 2019

Kemp, C. (2010). Klien Sakit Terminal Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

Nana Nofiana. 2013 Catatan Kuliah Kesehatan Kuliah Reproduksi Hiv-Aids.


Jakarta Timur : Cv Trans Info media

PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta. DPP PPNI


PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta. DPP PPNI
PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta. DPP PPNI

42