Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan

1. Menentukan normalitas larutan baku sekunder HClO4 dengan titrasi bebas air.
2. Melakukan validasi metode analisis (akurasi) penentuan kadar klorfeniramini
maleat dan papaverin HCL secara titrasi bebas air.
3. Menentukan kemurnian klorfeniramini maleat dan papaverin HCL dengan
titrasi bebas air.

1.2 Prinsip Percobaan

Penetapan kadar secara volumetric berdasarkan reaksi basa lemah dengan asam
kuat didalam pelarut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar

Titrasi bebas air (TBA) adalah titrasi yang menggunakan pelarut organik
sebagai pengganti air. Dengan pelarut organik tertentu, kekuatan asam atau basa
lemah dapat diperbesar sehingga memungkinkan untuk dapat dititrasi dengan hasil
yang memuaskan. Di bidang farmasi teknik ini banyak digunakan karena banyak
obat yang bersifat asam atau basa lemah yang sukar larut dalam air. Dengan
pemilihan pelarut yang tepat, penetapan kadar dari komponen campuran asam atau
basa juga dimungkinkan.

Keuntungan titrasi bebas air :

a. Senyawa-senyawa yang tidak larut dalam air dapat menggunakan pelarut


organik yang sesuai untuk zat tersebut.
b. Karena pelarut organik sangat kurang mengalami ionisasi dibandingkan dengan
air, maka pemeriksaan dapat dikerjakan dengan sedikit zat, tanpa mengurangi
kepekaan pengamatan titik akhir titrasi.
c. Ketelitian dan ketepatan dapat disamakan dengan titrasi asam basa biasa.
d. Tablet-tablet dan pulveres dapat dititrasi tanpa pengocokan terlebih dahulu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada titrasi bebas air adalah :

a. Alat yang digunakan harus bersih dan benar-benar kering.


b. Pemilihan pelarut harus tepat.
c. Pelarut, titer, indikator dan zat yang dititrasi harus diusahakan bebas air.
d. Zat yang ditentukan kadarnya harus dapat larut sempurna dalam pelarut yang
digunakan.
e. Titik akhir titrasi harus dinyatakan dengan jelas bila ditentukan sacara visual.
f. Pelarut yang digunakan harus memiliki konstanta dielektrik kecil.
Zat-zat yang dapat ditentukan kadarnya secara titrasi bebas air.

1) Amin-amin aromatis/alifatis
Pelarut yang digunakan asam asetat glasial dan titer asam perklorat.

2) Alkaloid
Pelarut asam asetat glasial, titer asam perklorat, dan indikator kristal violet.
Untuk alkaloid dengan garam halida, halidanya harus diikat dulu dengan
penambahan larutan Hg-asetat 6%. Untuk garam-garam fosfat dan nitrat dapat
ditentukan langsung. Sedangkan garam sulfat karena tidak dapat diikat oleh
merkuri asetat maka ditentukan dengan titrasi asam basa biasa.

3) Antihistamin
Pelarut, titer dan indikator yang digunakan sama seperti alkaloida. Garam
halida harus diikat terlebih dahulu dengan Hg-asetat 6%.

4) Antibiotika
Pelarut, titer dan indikator yang digunakan sama seperti alkaloida. Garam
halida harus diikat terlebih dahulu dengan Hg-asetat 6%.

5) Asam-asam barbiturat
Asam barbiturat (barbital dan fenobarbital) dapat ditentukan kadarnya secara
titrasi bebas air. Pelarut yang digunakan dimetil formamida (DMF) atau
campuran kloroform dan etanol (50:1). Titernya natrium metilat (natrium
metoksida) dalam benzena dengan indikator thymol blue.

6) Golongan fenol
Fenol-fenol yang tersubstitusi digunakan pelarut DMF, titer asam perklorat
dengan indikator azo violet. Sedangkan untuk fenol-fenol yang tidak
tersubstitusi seperti fenol dan naftol digunakan pelarut etilen diamin, titer
natrium metilat dan indikator o-nitranilin.
7) Golongan sulfonamide
Sulfonamide yang bersifat asam lemah digunakan pelarut n-butil amin (DMF),
titer natrium metilat, dan indikator thymol blue. Sedangkan sulfonamide yang
bersifat basa lemah digunakan pelarut asam asetat glasial, titer asam perklorat,
dan indikator kristal violet.

Bahan pembawa dalam tablet atau pulveres seperti amilum dan lactosum tidak
mempengaruhi titrasi. Kecuali adanya magnesium stearat dan kalsium stearat
dapat mengganggu. Bila asam akan dititrasi dengan titer natrium metilat/kalium
metilat, maka stearat turut tertitrasi. Bila basa akan dititrasi dengan titer asam
perklorat maka Mg/Ca turut tertitrasi. Titrasi garam-garam halogenida dengan
adanya Mg/Ca tidak mengganggu bila pelarutnya asam asetat glasial. Untuk
mengikat ion halogenida ditambahkan larutan merkuri asetat, sedangkan untuk
garam-garam nitrat, fosfat bisa langsung dititrasi tanpa penambahan larutan
merkuri asetat.

2.2 Teori Tambahan

Analisis volumetri atau juga dikenal dengan istilah titrimetri yaitu dimana zat
dibiarkan bereaksi dengan zat lain yag kosentrasinya diketahui dan dialirkan dari
buret dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang diketahui (analit) kemudian
dihitung. Syaratnya adalah reaksi harus berjalan cepat, reaksi berlangsung
kuantitatif dan tidak salah dalam memilih indikator (Khopkar, 1990).

Titrasi bebas air (TBA) adalah titrasi yang tidak menggunakan air sebagai
pelarut tetapi digunakan pelarut organik. Titrasi bebas air sangat singkat, yaitu air
dapat bersifat asam lemah dan basa lemah. Oleh karena itu dalam lingkungan air,
air dapat berkompetisi dengan asam-asam atau basa-basa yang sangat lemah dalam
hal menerima atau memberi proton. Adanya kompetisi ini berakibat pada kecilnya
titik infleksi pada kurva titrasi asam sangat lemah dan basa sangat lemah sehingga
mendekati batas pH 0-14. Oleh karena itu deteksi titik akhir titrasi sangat sulit.
Sebagai aturan umum : basa-basa dengan pKa kurang dari 7 atau asam-asam
dengan pKa lebih dari 7 tidak ditentukan kadarnya secara tepat pada media air.
Berbagai macam pelarut organik dapat digunakan untuk menggantikan air karena
pelarut-pelarut ini kurang berkompetisi secara efektif dengan analit dalam hal
menerima atau memberi proton (Rohman,2007).

Titrasi dalam lingkungan bebas air, pelarut mengambil bagian yang amat
penting untuk reaksi stoikiometri, dimana pelarut tersebut dalam mengambil
bagian dalam reaksi. Ada tiga teori yang menerangkan reaksi netralisasi dalam
suatu pelarut yaitu teori ikatan hidrogen, teori Lewis dan teori Bronsted (Roth,
1988).

Pelarut yang digunakan dalam titrasi bebas air :

1. Pelarut protolitis/aprotik
Disebut juga sebagai pelarut inert, pelarut ini tidak memberi atau menerima
proton karena pelarut tidak terdisosiasi menjadi proton dan anion pelarut.
Misalnya benzen, nitro benzen dan kloroform. Digunakan dalam titrasi bebas
air karena pelarut ini tidak dapat meningkatkan pada keasaman, kebasaan asam
dan basa yang bereaksi sesamanya. Selain itu garam yang terjadi pada titrasi
tidak dapat diuraikan secara protolitik oleh pelarut. Kerugiannya adalah
sifatnya yang sedikit polar atau non polar yang mempunyai daya larut kecil.

2. Pelarut amfiprotolitis/protik
Pelarut ini dapat memberi atau menerima proton. Dengan demikian dapat
bersifat sebagai suatu basa atau asam salah satu pelarut dengan golongan ini
terpenting dan terbanyak adalah asam cuka (Underwood, 2002).

Pada penggunaan pelarut aprotik keadaan ideal hampir dicapai. Jika dilakukan
dengan pelarut amfiprotik maka pelarut akan bertindak sebagai peserta dalam
proses netralisasi dan tetapan inisiasi, disosiasi keasaman dan kebasaan tentu akan
dipengaruhi. Pengaruh pelarut aprotik terhadap titrasi bebas air adalah senyawa
HCl yang dilarutkan tidak akan bereaksi dengan pelarut , oleh karena itu kekuatan
asamnya tidak berkurang. Sebagai ukuran untuk kekuasaan asam adalah afinitas
proton. Semakin kuat proton terikat semakin sedikit proton yang diberikan dan
asamnya akan semakin meningkat/kuat. Begitupun dengan basa (Rivai, 1995).

Indikator adalah zat warna larut yang penambahan warnanya tampak jelas
dalam rentang pH yang sempit. Jenis indikator yang khas adalah asam-asam
organik lemah yang mempunyai warna berbeda dan basa konjugatnya. Indikator
yang baik mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya
membutuhkan beberapa tetes larutan indikator pada zat yang sedang diuji.
Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir tidak berpengaruh
terhadap pH larutan. Penambahan warna indikator mencerminkan pengaruh asam
dan basa dalam larutan (Oxtoby, 2001).

Untuk indikator asam basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan. Indikator ini
adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk flouresensi atau kekeruhan
pada suatu range (trayek pH tertentu). Indikator asam basa terletak pada titik
ekuivalen dan ukuran pH. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa, larut dan
stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat, biasanya merupakan
zat organik (Khopkar, 1990).

Titrasi bebas air dengan asam perklorat berasetat digunakan dalam penetapan
kadar dalam farmakope untuk : adfenalin, metronidazol, kodein, klorheksidin asetat,
klorpromazin HCl, amitriptilin HCl, propanol HCl, lignokain HCl dan garam amin.
Kuartener seperti neostigmin bromida dan pantoronium bromida.

Titrasi bebas air pada gugus yang bersifat asam dilakukan pada penetapan
kadar dalam farmakope untuk : barbiturat, urasil dan sulfonamida.

Asam asetat glasial adalah akseptor proton yang sangat lemah sehingga tidak
berkomposisi secara efektif dengan basa lemah untuk proton. Hanya asam yang
sangat kuat akan cukup besar untuk memprotonasi asam asetat.
Asam perklorat adalah asam yang paling kuat diantara asam-asam yang umum
digunakan untuk menghilangkan air. Basa lemah berkompetisi sangat efektif
dengan asam asetat untuk proton. Biru asetat, merah kuinalidin, dan kristal violet
(basa yang sangat lemah) digunakan sebagai indikator pada jenis titrasi ini.

Pada saat basa berada dalam bentuk garam asam lemah, penghilangan suatu ion
sebelum dititrasi tidak perlu dilakukan, misalnya untuk garam basa dengan asam
lemah seperti tartat, asetat dan suksinat. Akan tetapi jika basa berada dalam bentuk
garam klorida atau bromida, ion lawan harus dihilangkan sebelum titrasi. Hal ini
dapat dilakukan dengan penambahan merkuri asetat. Merkuri asetat adalah asetat
yang dibebaskan ke medium titrasi dengan asam perklorat berasetat.
BAB III
MONOGRAFI SAMPEL

Klorfeniramin Maleat (Farmakope Indonesia edisi V hal. 699)


Sinonim Klortrimeton, CTM
Rumus molekul C16H19ClN2.C4H4O4
Struktur molekul

Berat molekul 390,87


Kelarutan Mudah larut dalam air; larut dalam etanol dan
dalam kloroform; sukar larut dalam eter dan dalam
benzen.
Persyaratan Klorfeniramin Maleat mengandung tidak kurang
dari 98,0% dan tidak lebih dari 100,5%
C16H19ClN2 . C4H4O4, dihitung terhadap zat yang
telah dikeringkan.
BAB IV

REAKSI KIMIA

Reaksi kimia pembakuan KHP dan HClO4


BAB V

DIAGRAM ALIR PROSEDUR PERCOBAAN

5.1 Alat dan Bahan

A. Alat
1) Buret 25 mL
2) Labu Erlenmeyer
3) Gelas ukur 25 mL
4) Beaker glass 250 mL
5) Statif
6) Klem penjepit
7) Kaca arloji
8) Pipet tetes
9) Spatel logam
10) Kertas perkamen
11) Pipet volume 2 mL, 5 mL, dan 10 mL
B. Bahan
1) Larutan HClO4 0,1N
2) Asam asetat glasial
3) Asam asetat anhidrida
4) Kalium biphthalat p.a
5) Larutan Hg asetat 6%
6) Indicator Kristal violet
7) Chlorpheniramin maleat
8) Papaverin HCl
5.2 Prosedur Percobaan

1. Pembakuan larutan HClO4 0,1N dengan larutan baku kalium hydrogen


phthalate 0,1N

175 mg, 250 mg, 325 mg baku pembanding

- Dilarutkan dalam 15 mL
asam asetat glasial
- Ditambahkan 5 tetes asam
asetat anhidrida
- Ditambahkan 2 tetes
indikator Kristal violet
- Dititrasi dengan larutan
HClO4 0,1N

Perubahan warna ungu ke biru hijau


Hitung normalitas HClO4 sebenarnya
2. Validasi Metode Analisis
Klorfeniramina Maleat (Mr = 390,87 BE = ½)

200 mg kalium hydrogen phthalate (KHP)

- Dilarutkan 10 mL asam
asetat glasial
- Ditambahkan 5 tetes asam
asetat anhidrida
- Ditambahkan 2 tetes
indikator Kristal violet
- Dititrasi dengan larutan
HClO4 0,1N

Terjadi perubahan warna ungu ke biru hijau

- Dihitung berat
klorfeniramina maleat yang
diperoleh setiap larutan (1
mL asam peklorat 0,1N ~
19,54 mg
C16H19ClN2.C4H4O4)
- Dihitung akurasi (%R) dan
presisi (%RSD)

Hasil
3. Penetapan Kemurnian
Klorfeniramina Maleat (Mr = 390,87 BE = ½)

250 mg Klorfeniramina Maleat

- Dilarutkan dalam 10 mL
asam asetat glasial
- Ditambahkan 5 tetes asam
anhidrida
- Ditambahkan 2 tetes
indikator Kristal violet
- Dititrasi dengan larutan
HClO4 0,1N

Perubahan warna ungu ke biru hijau


Dihitung % kemurnian klorfeniramina Maleat
BAB VI

HASIL PERCOBAAN

1. Data Hasil Pembakuan HClO4


Berat KHP Yang Volume HClO4 N HClO4 Hasil
Titrasi
Ditimbang Terpakai Pembakuan
1 209,9 mg 10,7 mL 0,0960 N
2 217,6 mg 8,7 mL 0,1224 N
Rata-rata normalitas HClO4 hasil pembakuan 0,1092 N

2. Data Hasil Validasi Metode Analisis


Volume Berat
Variasi Berat yang
Pengukuran HClO4 Hasil %R
Berat ditimbang
terpakai Analisis
175 mg 1 174,8 mg 25 mL 533,5 mg 305,2%
2 175,2 mg 25 mL 533,5 mg 304,5%
522,83
3 175,4 mg 24,5 mL 298,1%
mg
250 mg 149,38
1 250 mg 7 mL 59,752%
mg
153,648
2 257,9 mg 7,2 mL 59,57%
mg
149,38
3 248,4 mg 7 mL 60,14%
mg
325 mg 1 327,3 mg 25 mL 533,5 mg 163%
531,366
2 327,3 mg 24,9 mL 162,35%
mg
536,701
3 325,7 mg 25,15 mL 164,78%
mg
Rata-rata Berat Hasil Analisis 404,8 mg
%R rata-rata 175,2%
SD 105,5%
%RSD 26,06%

3. Data Hasil Penetapan Kemurnian


Berat Sampel Volume
Berat Hasil
Titrasi yang HClO4 % Kemurnian
Analisis
Ditimbang terpakai
1 251,5 mg 16 mL 341,44 mg 135,76%
2 255,3 mg 15,3 mL 324,502 mg 127,89%
3 255,8 mg 15,1 mL 322,234 mg 125,97%
% Kemurnian rata-rata 129,87%
BAB VIII

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Metode dinyatakan tidak valid karena nilai %R tidak berada dalam rentang
98,0% - 102,0%RSD lebih dari 2%
2. Zat aktif tidak memenuhi persyaratan kemurnian karena tidak berada dalam
rentang 98,0% - 100,5%
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2014. Farmakope


Indonesia edisi V. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Khopkar. S,M.1990. Konsep-konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.

Oxtoby, dkk. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.

Rivai, Harizzal. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta UI Press.

Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Roth, J., Blaschke, G.1988. Analisa Farmasi. Yogyakarta : UGM Press.

Underwood, A.L., Day,RA.2002. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi VI. Jakarta :


erlangga.
LAMPIRAN

1. Perhitungan Normalitas HClO4 Hasil Pembakuan


𝑚𝑔 𝐾𝐻𝑃
a) N HClO4 sebenarnya 1 =
𝑀𝑟 𝐾𝐻𝑃 𝑥 𝑉 𝐻𝐶𝑙04 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖
209,9 𝑚𝑔
=
204,222 𝑥 10,7

= 0,0960 N
𝑚𝑔 𝐾𝐻𝑃
b) N HClO4 sebenarnya 2 =
𝑀𝑟 𝐾𝐻𝑃 𝑥 𝑉 𝐻𝐶𝑙04 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖
217,6 𝑚𝑔
=
204,222 𝑥 8,7

= 0,1224 N

0,0960 𝑁 + 0,1224 𝑁
c) Rata-rata N HClO4 sebenarnya =
2
= 0,1092 N

2. Kesetaraan CTM terhadap HClO4 0,1092 N (Hasil Pembakuan)


1 ml HClO4 0,1 N ⁓ 19,54 mg CTM
19,54 𝑚𝑔 𝑥 0,1092 𝑁
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
0,1 𝑁

1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM

3. Perhitungan Berat Hasil Analisis Dan %R (Akurasi)


a) Variasi Berat 175 mg
1) Berat (mg) CTM dalam 25 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
25 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 533,5 mg CTM
𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
533,5 𝑚𝑔
= x 100%
174,8 𝑚𝑔
= 305,2%

2) Berat (mg) CTM dalam 25 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)


1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
25 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 533,5 mg CTM
𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
533,5 𝑚𝑔
= x 100%
175,2 𝑚𝑔
= 304,5%
3) Berat (mg) CTM dalam 24,5 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
24,5 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 522,83 mg CTM
𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
522,83 𝑚𝑔
= x 100%
175,4 𝑚𝑔
= 298,1%

b) Variasi Berat 250 mg


1) Berat (mg) CTM dalam 7 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
7 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 149,38 mg CTM
𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
149,38 𝑚𝑔
= x 100%
250 𝑚𝑔
= 59,752%
2) Berat (mg) CTM dalam 7,2 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
7,2 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 153,648 mg CTM

𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
153,648𝑚𝑔
= x 100%
275,9𝑚𝑔
= 59,57%
3) Berat (mg) CTM dalam 7 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
7 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 149,38 mg CTM
𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
149,38 𝑚𝑔
= x 100%
248,4 𝑚𝑔
= 60,14%

c) Variasi Berat 325 mg


1) Berat (mg) CTM dalam 25 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
25 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 533,5 mg CTM
𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
533,5 𝑚𝑔
= x 100%
327,3𝑔
= 163%
2) Berat (mg) CTM dalam 24,9 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
24,9𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 531,366 mg CTM
𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
531,366𝑚𝑔
= x 100%
327,5𝑚𝑔
= 162,35%

3) Berat (mg) CTM dalam 25,15 ml HClO4 (volume pentiter terpakai)


1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
25,15 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 536,701 mg CTM
𝐶𝑎
%R =
𝐶𝑡
536,701 𝑚𝑔
= x 100%
325,7 𝑚𝑔
= 164,78%

4. Perhitungan Presisi (%RSD)


𝑆𝐷
%RSD = x 100%
𝑅𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑢𝑗𝑖
105,5
= x 100%
404,8

= 26,06%
5. Perhitungan Hasil Penetapan Kemurnian
a) Berat (mg) CTM dalam 16 ml HClO4
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
16 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 341,44 mg CTM
𝐵𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝐴𝑛𝑎𝑙𝑖𝑠𝑖𝑠
% Kemurnian = x 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔
341,44 𝑚𝑔
= x 100%
251,5 𝑚𝑔

= 135,76%

b) Berat (mg) CTM dalam 15,3 ml HClO4


1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
15,3 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 326,502 mg CTM

𝐵𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝐴𝑛𝑎𝑙𝑖𝑠𝑖𝑠


% Kemurnian = x 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔
326,502 𝑚𝑔
= x 100%
255,3 𝑚𝑔

= 127,89%

c) Berat (mg) CTM dalam 15,1 ml HClO4


1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 21,34 mg CTM
15,1 𝑚𝑙 𝑥 21,34 𝑚𝑔
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ mg CTM =
1 𝑚𝑙
1 ml HClO4 0,1092 N ⁓ 322,234 mg CTM
𝐵𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝐴𝑛𝑎𝑙𝑖𝑠𝑖𝑠
% Kemurnian = x 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔
322,234 𝑚𝑔
= x 100%
255,8 𝑚𝑔

= 125,97%

135,76+127,89+125,97
d) % Kemurnian Rata-rata = x 100%
3
= 129,87%