Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH HADITS TARBAWI

HADITS TENTANG PENDIDIKAN


MASYARAKAT

OLEH : Kelompok 13

ST KHADIJAH

LISMAYANTI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI MAJENE

( STAIN MAJENE )

TAHUN AKADEMIK 2019

1
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa atas
ridho dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah ini
dengan penuh keyakinan serta usaha maksimal. Semoga dengan terselesaikannya
tugas ini dapat memberi pelajaran positif bagi kita semua.
Selanjutnya penulis juga ucapkan terima kasih kepada bapak dosen H.M.Zaini
Al-Luthfi.MA mata kuliah Hadis Tarbawi yang telah memberikan tugas Makalah ini
kepada kami sehingga dapat memicu motifasi kami untuk senantiasa belajar lebih giat
dan menggali ilmu lebih dalam khususnya mengenai “Hadist tentang pendidikan
masyarakat” sehingga dengan kami dapat menemukan hal-hal baru yang belum kami
ketahui.
Terima kasih juga kami sampaikan atas petunjuk yang di berikan sehingga
kami dapat menyelasaikan tugas Makalah ini dengan usaha semaksimal mungkin.
Terima kasih pula atas dukungan para pihak yang turut membantu terselesaikannya
laporan ini, ayah bunda, teman-teman serta semua pihak yang penuh kebaikan dan
telah membantu penulis.
Terakhir kali sebagai seorang manusia biasa yang mencoba berusaha sekuat
tenaga dalam penyelesaian Makalah ini, tetapi tetap saja tak luput dari sifat
manusiawi yang penuh khilaf dan salah, oleh karena itu segenap saran penulis
harapkan dari semua pihak guna perbaikan tugas-tugas serupa di masa datang.

Majene, 17 Mei 2019

Tim Penyusun
Kelompok 13

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

BAB I ............................................................................................................................. i

PENDAHULUAN ......................................................................................................... i

A. Latar belakang ..................................................................................................... i

B. Rumusan masalah................................................................................................ i

C. Tujuan pembahasan ............................................................................................. i

BAB II ........................................................................................................................... 2

PEMBAHASAN ........................................................................................................... 2

A. Pendidikan masyarakat....................................................................................... 2

B. Hadits-hadits tarbawi tentang pendidikan masyarakat ....................................... 3

C. Konsep pendidikan islam menurut Hadits tarbawi ............................................ 7

BAB III ....................................................................................................................... 11

PENUTUP ................................................................................................................... 11

A. Kesimpulan ...................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pendidikan islam dalam teori dan praktik selalu mengalami perkembangan,
hal ini disebabkan karena pendidikan islam secara teoritikmemiliki dasar dan sumber
rujukan yang tidak hanya berasal dari nalar, melainkan juga wahyu. Kombinasi ini
adalah ideal, karena memadukan antara potensi akal manusia dan tuntunan firman
Allah Swt. terkait dengan masalah pendidikan. Kombinasi ini adalah ciri khas
pendidikan islam yang tidak dimiliki oleh konsep-konsep pendidikan pada umumnya
yang hanya mengandalkan kekuatan akal dan budaya manusia.
Diantara hal-hal yang urgen untuk dibahas adalah kajian tentang lingkungan
pendidikan masyarakat. Usaha itu diantaranya dapat kita lakukan berangkat dari
beberapa hadits tarbawi atau hadits yang bertemakan pendidikan. Dari hadits-hadits
tersebut dapat kita gali kembali apa yang tersirat dan terlipat dalam sabda nabi yang
mengandung mukjizat jawami’ul kalim. Ini merupakan sebuah kebutuhan bagi kita
untuk menuju ke arah pendidikan yang lebih baik dan ideal.

B. Rumusan masalah
a. Bagaimanakah pengertian dari pendidikan masyarakat?
b. Bagaimanakah hadits yang menjelaskan tentang pendidikan masyarakat?
c. Bagaimanakah konsep pendidikan masyarakat berdasarkan hadits-hadits tarbawi
tersebut?

C. Tujuan pembahasan
a. Membahas pengertian pendidikan masyarakat?
b. Membahas hadits yanga menjelaskan tentang pendidikan masyarakat?
c. Membahas konsep pendidikan masyarakat berdasarkan hadits-hadits tarbawi
tersebut?

i
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan masyarakat
Secara sederhana, masyarakat ( lingkungan sosial) dapat diartikan sebagai
sekelompok individu pada suatu komunitas yang terikat oleh satu kesatuan visi
kebudayaan yang mereka sepakati bersama. Setidaknya ada dua macam bentuk
masyarakat dalam komunitas yang terikat oleh satu kesatuan visi kebudayaan yang
mereka sepakati bersama. Setidaknya ada dau macam bentuk masyarakat dalam
komunitas kehidupan manusia. Pertama, kelompok primer yaitu kelompok dimana
manusia mula-mula berinteraksi dengan orang lain secara langsung, seperti keluarga
dan masyarakat secara umum. Kedua, kelompok sekunder yaitu kelompok yang
dibentuk secara sengaja atas pertimbangan dan kebutuhan tertentu, seperti
perkumpulan profesi, sekolah, partai politik, dan sebagainya. Kesatuan visi ini secara
luas kemudian membentuk hubungan yang komunikatif dan dinamis, sesuai dengan
tuntutan perkembangan zamannya.1
Bila penjelasan di atas ditarik dalam dataran pendidikan, eksistensi
masyarakat sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap perkembangan
intelektual dan kepribadian individu peserta didik, Sebab, keberadaan masyarakat
merupakan laboratorium dan sumber makro yang penuh alternative bagi memperkaya
pelaksanaan proses pendidikan. Untuk itu, setiap anggota masyarakat memiliki
peranan dan tanggung jawab moral terhadap terlaksananya proses pendidikan.
Kesemua unsur yang ada dalam masyarakat harus senantiasa terpadu, bekerja sama
dan sekaligus menjadi alat control bagi pelaksanaan pendidikan. Hal ini disebabkan
adanya hubungan dan kepentingan yang timbale balik antara masyarakat dan
pendidikan. Sebab lewat pendidikanlah nilai-nilai kekebudayaan suatu komunitas
masyarakat dapat dipertahankan dan dilestarikan. Disisi lain, pendidikan merupakan
sarana yang paling tepat dan efektif untuk menyatukan visi dan tujuan suatu

1
Omar Mohammad Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan Islam. (Jakarta.: Penerbit Bulan
Bintang. 1979) hal.54

2
komunitas masyarakat yang demikian heterogen dan kompleks. Untuk itu, pendidikan
harus mampu mengakumulasikan seluruh potensi dan nilai kebudayaan masyarakat
dan sistem pendidikannya. Dengan konsep dan upaya kondusif ini, baik masyarakat
maupun lembaga pendidikan akan merasa saling memiliki dan bertanggung jawab
atas berhasil atau tidaknya proses pendidikan, dalam mensosialisasikan nilai-nilai

Fungsi lembaga pendidikan masyarakat:2

1. Pelengkap (complement)
2. Pengganti (subtitute)
3. Dan Tambahan (supplement) terhadap pendidikan yang diberikan oleh
lingkungan yang lain.

B. Hadits-hadits tarbawi tentang pendidikan masyarakat


‫ مولى عبد هللا بن‬,‫ عن أبي سعيد‬,‫ أخبرنا داود بن قيس‬,‫حدثنا عبد الرزاق‬
,‫ وال تناجشوا‬,‫ "ال تحاسدوا‬:‫ قال رسول هللا صلى هللا عليه وسلم‬:‫ قال‬,‫عامر‬
‫ وكونوا عباد هللا‬,‫ وال يبع أحدكم على بيع أخيه‬,‫ وال تدابروا‬,‫وال تباغضوا‬
- ‫ التّقوى ههنا‬,‫ ال يظلمه وال يخذله واليحقره‬,‫ المسلم أخو المسلم‬,‫إخوانا‬
‫ حسب امرئ مسلم من الشر أن‬. - ) ‫(وأشار بيده إلى صدره ثالث مرات‬
– "‫ وعرضه‬,‫ وماله‬,‫ دمه‬:‫ كل المسلم على المسلم حرام‬,‫يحقر أخاه المسلم‬
.‫أحمد‬

Artinya: Janganlah saling menghasud, janganlah saling mencari kessalahan


,janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, janganlah salah
seorang dari kalian menjual atas dagangan saudaranya, jadilah kalian hamba-
hamba allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara muslim yang lain,
janganlah dia mendzhaliminya, janganlah dia merendahkannya, janganlah dia
2
Hasan Basri, Filsafat pendidikan islam. (Bandung:Pustaka setia. 2009.)hal.65

3
menghinanya, sesungguhnya taqwa itu ada di sini(seraya nabi memberi isyarat
dengan meletakkan tangannya di dadanya sebanyak tiga kali), telah cukup keburukan
seorang muslim yang menghina saudara muslimnya, setiap muslim diharamkan atas
muslim lainnya, darahnya, hartanya dan harga dirinya. (H.R. Ahmad)

Penjelasan :3

 Keadaan dalam suatu masyarakat sangat dinamis dan manusia mempunyai


keluwesan sifat dan selalu berubah, sehingga sering sekali terjadi dinamika
sosial yang perlu untuk diperhatikan. Hal ini karena kesadaran adanya
perbedaan perseorangan diantara manusia.
 Perlunya menjunjung persatuan dan kesatuan antar individu dan beberapa
kelompok serta lapisan sosial. Serta mengusahakan untuk menghindarkan
terjadinya konflik dan ketidak stabilan.
 Untuk menciptakan lingkungan pendidikan masyarakat yang baik, maka perlu
adanya karakter yang baik dari setiap individu. Hal ini diisyaratkan dengan
redaksi ‫ التّقوى ههنا‬. hendaknya setiap iindividu menghormati individu yang lain
dengan berusaha menjaga hubungan yang baik. Maka haruslah menghindari
hasud (iri, dengki), saling curiga, saling berpaling, mengganggu hak orang
lain.
 Sebaliknya seharusnya masyarakat islam punya ciri khas terasendiri yang
harus saling menyayangi, saling menghormati, dan menghargai hak orang
lain. Terutama yang menyangkut hak asasi, yaitu harta, nyawa dan nama baik.

‫حدثنا خالد بن يحيى قال حدثنا سفيان عن أبي بردة بن عبد هللا بن أبي بردة‬
‫ي صلى هللا عليه وسلم قال إن المؤمن‬
ّ ‫عنجده عن أبي موسى عن النب‬
.‫ي‬
ّ ‫البخار‬ - )‫للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا – (وشبك أصابعه‬
3
Muhammad Imarah, Islam dan Keamanan Sosial. (Jakarta.Gema Insani
Press. 1999.)hal.231

4
Artinya
Sesungguhnya Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang
saling menguatkan satu sama lain, dan beliau menyilangkan (menyatukan) jari-
jarinya. (H.R. Al bukhari)

Penjelasan :4

 Semua unsur dalam masyarakat harus menciptakan situasi yang kondusif dan
saling mendukung dalam menciptakan suasana berpendidikan. Hal itu
dikarenakan negara yang aman adalah jaminan adanya keamanan sosial.
 Kepercayaan bahwa masyarakat itu sekumpulan individu dan kelompok
nyang diikat oleh kesatuan tanah air, kebudayaan dan agama
 Kepercayaan bahwa manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan, maka
sebagai anggota masyarakat kita harus behu-membahu mewujudkan cita-cita
bersama.
 Setiap individu dalam m masyarakat harus menmahami hak dan kewajbannya
masing-masing.

‫ كان‬:‫ أنا جعفر يعني بن سليمان عن ثابت عن أنس قال‬:‫أخبرنا قتيبة بن سعيد قال‬
‫رسول هللا صلى هللا عليه وسلم يزور األنصار فيسلم علي صبيانهم ويمسح برؤوسهم‬
‫ويدعو لهم – النسائي‬

Artinya

Rasulullah saw mengunjungi kaum Anshar, lalu beliau mengucapkan salam kepada
anak-anak mereka, lalu mengusap kepala mereka dan mendo’akan mereka (H.R. an-
Nasai)

Penjelasan:

4
Ibid.hal.232

5
 Dalam masyarakat terjadi asimilasi budaya, yaitu pertemuan antara budaya
dalam masyarakat itu sendiri dan budaya dari luar. Maka yang harus
dilakukan adalah prinsip ‫المحافظة على القديم الصالح واألخذ بالجديد األصلح‬, yaitu
memelihara budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang
tentunya lebih baik.
 Dalam suatu masyarakat ada dua golongan, yaitu golongan dari masyarakat
itu sendiri dan golongan yang sengaja masuk ke dalam masyarakat itu.
 Dalam bermasyarakat, kita harus senantiasa membiasakan untuk menjalin tali
silaturahim, tawadlu’ atau memperlakukan seseorang sesuai dengan
keadaannya, bersikap lemah lembut, dan mengucapkan salam. Karena
mengucapkan salam kepada sesam saudara muslim adalah bagian bentuk
penghormatan untuknya

‫حدثنا سعيد بن الربيع حدثنا األشعث بن سليم قال سمعت معاوية بن سويد سمعت‬
‫البراء بن عازب رضي هللا عنهما قال امرنا النبي صلى هللا عليه وسلم بسبع ونهانا‬
‫بسبع فذكر عيادة المريض واتباع الجنائز وتشميط العاطش ورد السالم ونصر‬
‫المظلوم وإجابة الداعي وإبرار المقسم – رواه البخاري‬

Artinya:

Rasulullah saw memerintahkan kita dengan tujuh hal, dan melarang kita dari tujuh
hal yang lain, lalu nabi menuturkan menjenguk orang yang sedang sakit,
mengantarkan jenazah, mendo’akan orang yang bersin, menjawab salam, menolong
orang yang didhalimi, mendatangi undangan dan membebaskan tanggungan orang
yang bersumpah. (H.R. Al Bukhari)

Penjelasan: 5

5
Ibid.hal.234

6
 Kepercayaan bahwa segala sesuatu yang menuju kesejahteraan bersama,
keadilan dan kemaslahatan diantara manusia termasuk diantara tujuan-tujuan
syari’at islam

C. Konsep pendidikan islam menurut Hadits tarbawi


Dari perluasan dilalah dari hadits-hadits diatas membuktikan bahwa islam
mempunyai keistimewaan dalam dunia pendidikan, tidak terkecuali dalam
perhatiannya terhadap lingkungan pendidikan masyarakat. Perpaduan antara wahyu
dan akal yang diadopsi oleh islam merupakan keistimewaan yang tak dapat disamai
oleh konsep pendidikan lainnya.6
Mungkin dalam beberapa aspek, konsep islam tentang hal ini ada mempunyai
beberapa kemiripan dengan yang ada dalam teori-teori pendidikan pada umumnya.
Akan tetapi sekali lagi keistimewaan islam adalah ruhul Islam itu sendiri. Yang
bermula dari wahyu dan kemudian diajarkan kepada manusia melalui Nabi
Muhammad saw.
Keistimewaan itu bukanlah hanya sekedar klaim-klaim yang tak berdasar.
Sebaliknya, keistimewaan itu terungkap dalam beberapa pandangan pemikir islam.
Mereka bukan membentuk sesuatu yang dibuat-buat, akan tetapi dari hasil penggalian
inspirasi dari warisan peradaban islam yang adiluhur.
Konsep lingkungan pendidikan menurut islam tidak jauh dari pandangan islam
sendiri terhadap masyarakat. Diantaranya:

1. Kepercayaan bahwa masyarakat itu sekumpulan individu dan kelompok yang


diikat oleh kesatuan tanah air, kebudayaan dan agama
2. Kepercayaan bahwa masyarakat islam mempunyai identitas khas dan ciri-ciri
tersendiri

6
Toto Suharto, Pendidikan Berbasis Masyarakat. (Yogyakarta: LKiS. Yogyakarta. 2012)
hal.109

7
Untuk lebih jelasnya, ciri-ciri masyarakat islam sebagai berikut:7

a. Prinsip tauhid yang seperti revolusi yang meleburkan kemusyrikan. Tauhid


berperan memperbaiki kedudukan masyarakat dari segi agama dan
masyarakat.
b. Agama berada dalam proporsi tertinggi.
c. Penilaian tinggi terhadapa akhlak dan tata susila. Segala prilaku manusia
ditundukkan pada prinsip dan metode yang sesuai dengan perikemanusiaan.
d. Perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
e. Menghormati dan menjaga kehormatan manusia dengan tanpa membedakan
warna, bangsa, agama, harta ataupun keturunan. Ia menyeimbangkan antara
hak pribadi dan masyarakat
f. Keluarga dan kehidupan berkeluarga mendapat perhatian yang besar. Ia
berusaha menguatkan ikatan dan binaan institusi keluarga
g. Masyarakat islam adalah masyarakat yang dinamis.
h. Dunia kerja mendapat perhatian yang sungguh-sungguh sebagai sumber hak
dan obligasinya.
i. Nilai dan peranan harta diperuntukkan untuk menjaga kehormatan manusia
dan membangun masyarakat.
j. Kekuatan dan keteguhan dibimbing oleh agama, akhlak, ukuran kebenaran,
keadilan, kasih sayang dan perikemanusiaan.
k. Bersifat terbuka, yang dapat menerima pengaruh yang baik dan ilmu
penghetahuan dari masyarakat yang lain dengan memegang teguh prinsip:
i. ‫المحافظة على القديم الصالح واألخذ بالجديد األصلح‬
l. Masyarakat islam bersifat kemanusiaan.
3. Kepercayaan bahwa dasar pembinaan masyarakat islam adalah akidah
4. epercayaan bahwa agama itu akidah, ibadah dan mu’amalah

7
Yusuf , A. Muri. Pengantar ilmu pendidikan. (Jakarta :Ghalia Ind\Onesia. 1982.)hal.113

8
5. Kepercayaan bahwa ilmu adalah dasar terbaik bagi kemajuan masyarakat,
sesudah agama
6. Kepercayaan bahwa masyarakat selalu berubah (dinamis)
7. Kepercayaan pada pentingnya individu dalam masyarakat
8. Kepercayaan pada pentingnya keluarga dalam masyarakat
9. Kepercayaan bahwa segala sesuatu yang menuju kesejahteraan bersama, keadilan
dan kemaslahatan diantara manusia termasuk diantara tujuan-tujuan syari’at
islam

Segala sesuatu yang diajarkan islam mengarah pada hal itu. Bahkan dalam
ibadah pun, terdapat dua pendapat terkait tujuannya, sebagian ulama’ mengatakan
bahwa ibadah sekedar bertujuan mencari pahala, sedangkan menurut jumhur ulama’,
disamping buntuk mencari pahala, ibadah juga mengandung hikmah tersendiri yang
terkandung didalamnya.
Dalam pandangan al Ghazali, memelihara maslahat manusia termasuk ibadah,
bahkan ia termasuk dalam kategori ibadah yang paling mulia. Sabda Rasulullah
s.a.w.:

‫ وأحبهم إلى هللا أنفعهم لعياله‬،‫الخلق كلهم عيال هللا‬


Makhluk-makhluk ini semuanya adalah “keluarga” Allah, dan yang paling dicintai
Allah adalah yang paling bermanfaat kepada “keluargaNya”

Untuk mengawal segala sesuatunya agar mengarah menuju kemaslahatan,


maka perlu adanya jaminan keamanan sosial. Keamanan sosial adalah ketenangan
yang menghilangkan kegelisahan dan ketakutan dari diri manusia baik individu
maupun kelompok, dalam seluruh kehidupan duniawi, bahkan juga dalam kehidupan
akhirat, setelah kehidupan ini.sebagaimana keamanan sosial secara umum
mengharuskan adanya hal-hal berikut:8

8
Tirtarahardja. Umar & S. L. La sulo.. pengantar pendidikan. Jakarta : (Rineka cipta. 2005)hal.95

9
a. Keamanan manusia atas penghidupannya dalam kadar yang dapat mencukupi
kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
b. Keamanan atas dirinya, kebebasannya, dan kehormatannya, yang telah
diberikan oleh penciptanya, Allah SWT, dan tuntutan bagi kehormatan dan
kemuliaan itu, seperti keadilan dan persamaan
c. Keamanan atas kehidupan privasi jiwa manusia yang memberikannya
kebahagiaan dan ketentraman dalam lingkup pribadinya, seperti keluarga,
keturunan, dan nama baik.
d. Keamanan atas agamanya yang merupakan rambu-rambu petunjuk jalan dan
tujuan manusia dalam hidup ini.
Sebagaimana keamanan sosial mengharuskan untuk mewujudkan hal-hal
primer ini dan yang sejenis dengannya, manusia juga—yang merupakan pihak
yang dituju—dalam mewujudkan unsur-unsur keamanan sosialnya harus
memiliki “wadah” yang menaungi dan menjega unsur-unsur keamanan sosial
itu.9

“wadah” itu adalah negara, yang tanpa keberadan dan keamanannya, tidak ada
nilainya pembicaraan tentang macam keamanan sosial apapun. Bisa disimpulkan
bahwa negara yang aman adalah wadah bagi keamanan sosial dalam masyarakat.

9
Ibid.hal.96

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Lingkungan pendidikan masyarakat adalah suatu lingkungan dimana ada
sekelompok masyarakat yang bnayak yang di dalamnya berlaku suatu kesatuan visi
yang telah mereka sepakati bersama. Lingkungan pendidikan masyarakat lebih luas
dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Oleh karena itu pendidikan dalam
lingkungan masyarakat dapat berfungsi sebagai pelengkap (complement),
pengganti(subtitute) dan tambahan (supplement) terhadap pendidikan yang diberikan
oleh lingkungan yang lain.

Konsep lingkungan pendidikan islam sesuai dengan kedudukan masyarakat


dalam perspektif filsafat pendidikan Islam yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Masyarakat islam adalah guru bagi semua manusia yang memiliki kemauan
mengambil pelajaran dar i setiap yang terjadi di dalamnya.
b. Masyarakat adalah subyek yang menilai keberhasilan pendidikan.
c. Masyarakat adalah tujuan bagi semua anak didik yang telah belajar di
berbagai lingkungan.
d. Masyarakat adalah ujian yang paling sulit bagi aplikasi-aplikasi pendidikan
e. Masyarakat adalah cermin keberhasilan atau kegagalan dunia pendidikan
f. Masyarakat adalah etika dan estetika pendidikan, karena norma-norma
individu berproses menjadi norma sosial dan norma sosial yang disepakati
dalam masyarakat merupakan puncak estetika kehidupan. Tanpa ada norma
sosial yang disepakati, sesungguhnya kehidupan tidak indah.

11
DAFTAR PUSTAKA

Al-Thoumy, Omar Mohammad.1979. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta.:


Penerbit Bulan Bintang.

Basri, Hasan. 2009. Filsafat pendidikan islam. Bandung.Pustaka setia.

Imarah, Muhammad.1999. Islam dan Keamanan Sosial. Jakarta.Gema Insani


Press.

Suharto, Toto.2012. Pendidikan Berbasis Masyarakat. Yogyakarta: LKiS.


Yogyakarta.

Yusuf , A. Muri.1982. Pengantar ilmu pendidikan. Jakarta :Ghalia Ind\Onesia.

Tirtarahardja. Umar & S. L. La sulo.2005. pengantar pendidikan. Jakarta : Rineka


cipta.

12