Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah
ini membahas tentang “Asuhan Kesehatan Bayi dan Balita di Komunitas yang Berkaitan dengan
Program Pemerintah”Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapat tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Karena itu
kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini, semoga mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini memberikan manfaat bagi
kita semua.

Sragen, April 2018


Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................... i


DAFTAR ISI ......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ......................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah ................................................................................................... 1
C. Tujuan ..................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
Standar tata ruang .......................................................................................................... 3
Pernyataan standar ......................................................................................................... 3
Standar Peralatan ........................................................................................................... 6
Proses Pelayanan pada bayi dan balita menurut program pemerintah ........................... 7
Pelayanan Pada Bayi ...................................................................................................... 8
Pelayanan Pada Balita .................................................................................................... 9
BAB III PENUTUP
Kesimpulan .................................................................................................................... 20
Saran ............................................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebidanan Komunitas sebagai segala aktifitas yang dilakukan oleh bidan untuk
menyelamatkan pasiennya dari gangguan kesehatan. Pengertian kebidanan komunitas yang
lain menyebutkan upaya yang dilakukan Bidan untuk pemecahan terhadap masalah
kesehatan Ibu dan Anak balita di dalam keluarga dan masyarakat. Kebidanan komunitas
adalah pelayanan kebidanan profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan
penekanan pada kelompok resiko tinggi, dengan upaya mencapai derajat kesehatan yang
optimal melalui pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, menjamin keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kebidanan (Spradly, 1985; Logan dan
Dawkin, 1987 dalam Syafrudin dan Hamidah, 2009 : 1).
POSYANDU Adalah suatu forum komunikasi, alih tehnologi dan pelayanan kesehatan
masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia
sejak dini. Posyandu juga merupakan tempat kegiatan terpadu antara program Keluarga
Berencana – Kesehatan di tingkat desa.
Deteksi dini tumbuh kembang anak / balita adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk
menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra
sekolah.
Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi dengan menyuntikkan vaksin
kepada anak sebelum anak terinfeksi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi kebidanan komunitas ?
2. Apa definisi posyandu ?
3. Apa definisi DDTK dan fungsinya ?
4. Apa yang dimaksud dengan imunisasi beserta macam-macamnya ?
5. Apa saja masalah yang ada diposyandu ?
6. Bagaimana penatalaksanaan untuk meningkatkan keaktifan dalam berposyandu ?
1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi kebidanan komunitas
2. Untuk mengetahui definisi posyandu
3. Untuk mengetahui definisi DDTK dan fungsinya
4. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan imunisasi beserta macam-macamnya
5. Untuk mengetahui masalah yang ada diposyandu
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan untuk meningkatkan keaktifan dalam berposyandu

BAB II
PEMBAHASAN

2
Standar Pelayanan Minimal Alat dan Tempat pada Bayi dan Balita Standar tempat
pelayanan Mempunyai lokasi tersendiri yang telah disetujui oleh pemerintah daerah setempat
(tata kota), tidak berbaur dengan kegiatan umum lainnya seperti pusat perbelanjaan, tempat
hiburan, sejenisnya.Tidak berdekatan dengan lokasi bentuk pelayanan sejenisnya dan juga agar
sesuai dengan fungsi sosialnya yang salah satu fungsinya adalah mendekatkan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat.
A. Standar Tata Ruang
Setiap ruang periksa mempunyai luas 2×3 meter, Setiap bangunan pelayanan, minimal
mempunyai ruang periksa, ruang administrasi/kegiatan lain sesuai kebutuhan, ruang tunggu
dan kamar mandi/ WC, masing-masing 1 buah. Semua ruangan mempunyai ventilasi dan
penerangan.Lebih bagus jika ada ruangan khusus rooming in / rawat gabung, dan ruang
laktasi.
Standar 15 : Pelayanan Bagi Ibu Dan Bayi Pada Masa Nifas
Tujuan : Memberikan Pelayanan Pada Ibu Dan Bayi Sampai 42 Hari Setelah
persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif
Pernyataan Standar
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau
melalui kunjungan kerumah pada hari ketiga, minggu kedua, dan mingu keenam setelah
persalinan untukmembantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penatalaksanaan tali
pusat yang benar, penemuan dini, penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin
terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum,
kebersihan perorangan, makan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi,
dan KB
1. Hasil
a. Komplikasi pada masa nifas segera di deteksi dan dirujuk pada saat yang tepat
b. Mendukung dan menganjurkan pemberian ASI eksklusif
c. Mendukung penggunaan cara tradisional yang berguna dan menganjurkan untuk
menghindarikebiasaan yang merugikan
d. Menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan bayi
e. Masyarakat semakin menyadari pentingnya keluarga berencana/ penjarangan kelahiran

3
f. Meningkatnya imunisasi pada bayi

2. PRASYARAT
System yang berjalan dengan baik agar ibu dan bayi mendapatkan pelayanan pasca
persalinan dari bidan terlatih sampai dengan 6 minggu setelah persalinan, baik di rumah,
puskesmas, atau rumah sakit.
Bidan telah terlatih dan terampil dalam :
Perawatan nifas, termasuk pemeriksaan ibu dan bayi dengan cara yang benar,membantu ibu
untuk memberikan ASI,mengetahui komplikasi yang dapat terjad ipada ibu dan bayi pada
masa nifas,penyuluhan dan pelayanan KB/ penjarangan kelahiran,bidan dapat memberikan
pelayanan imunisasi atau bekerjasama dengan juri imunisasi di puskesmas atau fasilitas
kesehatan masyarakat,tersedia vaksin, alat suntik, tempat penyimpanan vaksin dan tempat
pembuangan benda tajam yang memadai,tersedianya tablet besi dan asam folat,tersedia alat/
perlengkapan, misalnya untuk membersihkan tangan, yaitu sabun, air bersih dan handuk
bersih, sarung tanagn bersih/ DTT,Tersedia kartu pencatatan, kartu ibu, kartu bayi, buku
KIA, Sistem rujukan untuk perawatan komplikasi kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir
yang berjalaan dengan baik

3. PROSES
Bidan harus :
Pada kunjungan rumah, sapalah ibu dan suami/ keuarganya dengan ramah,Tanyakan pada
ibu dan suami/ keluarganya jika ada masalah atau kekhawatiran tentang ibu atau bayinya
Cuci tangan sebelum dan sesudah memeriksa ibu dan bayi, Pakai sarung tangan DTT/
bersih bila melakukan kontak dengan darah atau cairan tubuh. Periksa tanda-tanda vital
ibu( suhu tubuh, nadi, dan tekanan darah ). Periksa payudara ibu, amati bila putting retak,
dan tanda-tanda atau gejala-gejala saluran ASI tersumbat atau infeksin Periksa involusi
uterus ( pengecilan uterus sektar 2 cm/ hari selama 8 hari pertama ). Periksa lochia, yang
pada hari ketiga seharusnya mulai berkurang dan berwarna coklat, dan pada hari ke- 8 –
10 menjadi sedikit dan berwarna merah muda. Jika ada kelainan segera rujuk ( lihat daftar
tanda-tanda bahaya dan tanda-tandanya di akhir standar ini ). Jika dicurigai sepsis

4
puerperalis gunakan ( standar 23 ). Untuk penanganan perdarahan pasca persalinan
gunakan standar 22 )
Tanyakan apakah ibu meminum tablet sesuai ketentuan ( sampai 42 hari setelah
melahirkan ), dan apakah persediaannya cukup Bila ibu menderita anemia semasa hamil
atau mengalami perdarahan berat selama proses persalinan, periksa Hb pada hari Nasehati
ibu supaya makan makanan bergizi dan berikan talet tambah darah. Berikan penyuluhan
kepada ibu tentang pentingnya menjaga kebersihan diri, memakai pembalut yang bersih,
makanan bergizi, istirahat cukup dan cara merawat bayi. Cucilah tangan, lalu periksalah
Periksalah tali pusat pada setiap kali kunjungan. ( paling sedikit sampai hari ketiga,
minggu kedua, dan minggu keenam ). Tali pusat harus tetap kering. Ibu perlu diberitahu
bahayanya membubuhkan sesuatu pada tali pusat bayi, misalnya minyak atau bahan lain.
Jika ada kemerahan pada tali pusat, perdarahan atau tercium bau busuk, bayi segera
dirujuk. Perhatikan kondisi umum bayi, tanyakan pada ibu pemberian ASI, misalnya bayi
tidak mau menyusu, waktu jaga, cara bayi menangis, berapa kali b.a.k, dan bentuk
fesesnya. Perhatikan warna kulit bayi, apakah ada icterus atau Ikterus pada hari ketiga
postpartum adalah icterus fisiologis yang tidak memerlukan pengobatan. Namun, bila
icterus terjadi sesudah hari ketiga/ kapan saja, dan bayi malas untuk menyusu dan tampak
mengantuk, maka bayi harussegera dirujuk ke rumah sakit. Bicarakan pemberian ASI,
dan bila mungkin perhatikan apakah bayi menyusu denganbaik( amati apakah ada
kesulitan atau masalah ). Nasehati ibu tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif
sediki 4 sampai 6 bulan. Bicarakan bahaya pemberian unsure tambahan( susu formula,
air, atau makanan lain ) sebelum bayi berumur 4 bulan. Bicarakan tentang KB dan kapan
senggama dapat Sebaiknya hal ini didiskusikan dengan kehadiran suaminya. Catat
dengan tepat semua yang ditemukan. Jika ada hal-hal yang tidak normal, segeralah
merujuk ibu dan/ atau bayi ke puskesmas/ rumahsakit. Jika ibu atau bayi meninggal,
penyebab kematian harus diketahui sesuai dengan standar kabupaten/ propinsi/nasional

B. Standar Peralatan
Peralatan Tidak Steril
No Jenis Alat
1. Stetoskop
5
2. Timbangan bayi
3. Pengukur panjang bayi
4. Termometer
5. Oksigen dalam regulator
6. Penghisap lendir
7. Ambubag (bayi)
8. Lampu sorot
9. Penghitung Nadi
10. Sterilisator
11. Bak Instrumen dan tutup
12. Metlin (lila)
13. Sarung tangan
14. Celemek
15. Masker
16. Sarung kaki plastic (penolong)
17. Pengaman mata
18. Tempat kain kotor
19. Tempat sampah
20. Tempat plasenta
21. Gunting (biasa,perban)
22. Suction
23. Handuk
24. Peralatan steril

No Jenis Alat
1. Klem ½ Kocher
2. Korentang
3. Penghisap lendir
4. Handscon
5. Gunting tali pusat
6. Gunting benang
6
7. Benang dan jarum
8. Duk steril
9. Pinset (anatomis,ciruge)
10. Pengikat tali pusat
11. Kapas
12. Kain kasa
13. Plester

C. Proses Pelayanan pada bayi dan balita menurut program pemerintah


1. Pelayanan Pada Bayi
a. Pengertian Bayi
Menurut Soetjiningsih (2004), bayi adalah usia 0 bulan hingga 1 tahun, dengan
pembagian masa neonatal, yaitu usia 0 – 28 hari. Masa neonatal dini yaitu usia 0 – 7
hari Masa neonatal lanjut, yaitu usia 8 – 28 hari. Masa pasca neonatal yaitu usia 29
hari – 1 tahun.Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur 1 tahun, namun
tidak ada batasan yang pasti. Pada masa ini manusia sangat lucu dan menggemaskan
tetapi juga rentan terhadap kematian. Kematian bayi dibagi menjadi dua, kematian
neonatal (kematian di 27 hari pertama hidup), dan post-natal (setelah 27 hari).

b. Pengertian Pelayanan Pada Bayi


Pengertian pelayanan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pelayanan adalah
menolong menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain seperti tamu atau
pembeli.
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standart yang di
berikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari
sampai dengan 12 bulan setelah bayi lahir.
c. Jadwal Kunjungan Bayi
Pelaksanaan kunjungan neonatus dan bayi baru lahir:
1) Kunjungan I

7
Dilakukan pada 6 jam pertama setelah persalinan. Menjaga agar bayi tetap hangat
dan kering. Menilai penampilan bayi secara umum yaitu bagaimana penampakan
bayi secara keseluruhan dan bagaimana ia bersuara yang dapat menggambarkan
keadaan kesehatannya.Tanda-tanda pernapasan, denyut jantung dan suhu badan
penting untuk diawasi selama 6 jam pertama. Memeriksa adanya cairan atau bau
busuk pada tali pusat, menjaga tali pusat agar tetap bersih dan kering. Pemberian
ASI awal.
2) Kunjungan II
Pada hari ke-3 setelah persalinan.
 Menanyakan pada ibu mengenai keadaan bayi
 Menanyakan bagaimana bayi menyusui.
 Memeriksa apakah bayi terlihat kuning (ikterus)
 Memeriksa apakah ada nanah pada pusat bayi dan apakah baunya busuk
3) Kunjungan III
Pada minggu ke-2 setelah persalinan.
 Tali pusat biasanya sudah lepas pada kunjungan 2 minggu pasca salin
 Memastikan apakah bayi mendapatkan ASI yang cukup
 Bayi harus mendapatkan imunisasi BCG untuk mencegah tuberculosis, vaksin
polio I secara oral, vaksin hepatitis B

4) Kunjungan IV
Pada 6 minggu setelah kelahiran.
 Memastikan bahwa laktasi berjalan baik dan berat badan bayi meningkat
 Melihat hubungan antara ibu dan bayi.
 Menganjurkan ibu untuk membawa bayinya ke posyandu untuk penimbangan
dan imunisasi
d. Tujuan Kunjungan Bayi
 Untuk meningkatkan akses bayi terhadap pelayanan kesehatan dasar.
 Mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan pada bayi sehingga cepat
mendapat pertolongan

8
 Pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pemantauan
pertumbuhan,imunisasi,serta peningkatan kualitas hidup bayi dengan stimulasi
tumbuh kembang.
1) Tujuan Bidan Memberikan Kunjungan:
o Mengidentifikasi gejala penyakit.
o Menawarkan tindakan skrining metabolik.
o Memberikan KIE kepada orang tua.
o Mengkaji riwayat atau masalah pada pemenuhan nutrisi bayi, perhatian, usaha
menangis, BAB, BAK dll.
o Melakukan pemriksaan fisik, memberikan penyuluhan dan anticipatory
guidance pada orang tua.
o Membuat kunjungan dalam 6-8 minggu untuk imunisasi dan check-up serta
harus melakukan pengkajian fisik kembali jika ditemukan kondisi emergency
yang memerluakan perawatan dari dokter spesialis anak
2. Pelayanan Pada Balita
a. Pengertian Balita
Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi dengan rentang usia
dimulai dari dua sampai dengan lima tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu
usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah.
Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5
tahun). Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan
kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan
berjalan sudah bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas. Masa balita
merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan
pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan
anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang
berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering disebut golden age
atau masa keemasan.

b. Pengertian pelayanan pada Balita

9
Pelayanan pada balita adalah pelayanan yang diberikan pada balita sehat dan sakit
yang sesuai diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai dengan standar.
1) Jadwal kunjungan pada balita
 Anak berumur sampai 5 bulan diperiksa setiap bulan
 pemeriksaan dilakukan setiap 2 bulan sampai anak berumur 12 bulan
 Pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan sampai anak berumur 24 bulan
 Permeriksaan dilakukan satu kali dalam satu tahun
2) Kegiatan yang dilakukan pada kunjungan balita
 Pemeriksaan fisik anak dilakukan termasuk penimbangan berat badan
 Penyuluhan atau nasihat pada ibu tentang pemeliharaan kesehatan anak dan
perbaikan gizi serta hubungan psikososial antar anak, ibu, dan keluarga. Ibu
diminte memperhatikan tumbuh kembang anak, pola makan, dan tidur serta
perkembangan perilaku sosial anak
 Penjelasan tentang keluarga berencana untuk mengatur jarak kehamilan
c. Jenis-jenis pelayanan pada Balita
Buku KIA/KMS
Pemantauan pertumbuhan balita dengan KMS minimal 8 kali KMS (kartu
menuju sehatr) untuk balita adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat
digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS
harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali
mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter.

Manfaat KMS adalah :


Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap,
meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare,
pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan pemberian ASI eksklusif, dan
makanan pendamping ASI. Sebagai media edukasi bagi orang tua belita tentang
kesehatan anak, Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk
menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi. Vitamin A 2 Kali
Setahun, Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat
diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata (agar dapat melihat dengan
10
baik) dan untuk kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya tahan tubuh,jaringan epitel,
untuk melawan penyakit misalnya campak, diare dan infeksi lain. Pemberian vitamin
A termasuk dalam program Bina Gizi yang dilaksanakan oleh departemen
kesehatansetiap 6 bulan yaitu bulan februari dan agustus, anak-anak balita diberikan
vitamin A secara gratis dengan target pemberian 80% dari seluruh balita.
Kapsul vitamin A biru (100.000 IU) diberikan pada bayi berusia 6-11 bulan
satu kali dalam satu tahun. Kapsul vitamin A merah (200.000) diberikan kepada balita
kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia (mata kering).halini dapat
terjadi karena sarapan vitamin A pada mata mengalami pengurangan sehingga terjadi
kekeringan pada selaput lendir atau konjungtiva dan selaput bening (kornea
mata).balita akan terlindungi dari kekurangan vitamin A terutama bagi balita dari
keluarga menengah bawah.
Pelayanan MTBS
MTBS adalah suatu pendekatan yang terintegrasi atau terpatu dalam
tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita)
secara menyeluruh.MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu
pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Kegiatan MTBS merupakan upaya
pelayanan kesehatan yang ditunjukan untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian sekaligus meningkatkan pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan
dasar (puskesmas dan jaringan termasuk pustu, polindes, poskesdes, dll)
Bila dilaksanakan dengan baik, pendekatan MTBS tergolong lengkap untuk
mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian bayi dan balita
di indonesia. Dikatakan lengkap karena meliputi upaya preventif (pencegahan
penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif (berupa konseling) dan upaya kuratif
(pengobatan) terhadap penyakit-penyakit dan masalah yang sering terjadi pada balita.
Badan kesehatan dunia WHO telah mengakui bahwa pendekatan MTBS sangat cocok
diterapkan negara-negara berkembang dalam upaya menurunkan angka kematian,
kesakitan, dan kecacatan pada bayi dan balita.
Kegitan MTBS memiliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu :

11
Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksanan kasus balita
sakit (selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan
menangani pasien asalkan sudah terlatih)
Memperbaiki sistem kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak program
kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS)
Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan
upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan
masyarakat dalam pelayanan kesehatan)
Konseling pada keluarga balita tentang pemberian makanan bergizi pada bayi
dan balita, pemberian makanan bayi, mengatur makanan anak usia 1-5 tahun,
pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi dan balita, peningkatan kesehatan pola tidur,
bermain, peningkatan pendidikan seksual dimulai sejak balita (sejak anak mengenal
identitasnya sebagai laki-laki atau perempuan.
SDIDTK (Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang)
Pengertian :
SDIDTK (Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang) adalah pembinaan
tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan
stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang pada masa
5tahun pertama kehidupan . Diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga,
masyarakat dengan tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan sosial).
Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak secara
komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini
penyimpangan tumbuh kembang pada masa lima tahun pertama kehidupan,
diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak
dan anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, tokoh masyarakat, organisasi
profesi, lembaga swadaya masyarakat) dengan tenaga professional (kesehatan,
pendidikan dan sosial).
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar
anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi
rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan.

12
Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan
secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.
Dengan ditemukan secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang anak, maka
intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai “waktu”
dalam membuat rencana tindakan/intervensi yang tepat, terutama ketika harus
melibatkan ibu/keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya
akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Intervensi dini penyimpangan perkembangan adalah tindakan tertentu pada anak yang
perkembangan kemampuannya menyimpang karena tidak sesuai dengan umurnya.
Penyimpangan perkembangan bisa terjadi pada salah satu atau lebih kemampuan anak
yaitu kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan
kemandirian anak.
Sasaran :
 Sasaran langsung
Semua anak umur 0 sampai 6 tahun yang ada di wilayah kerja Puskesmas
 Sasaran tidak langsung
Tenaga kesehatan yang bekerja di lini terdepan (dokter, bidan perawat, ahli gizi,
penyuluh kesehatan masyarakat, dan sebagainya).
Tenaga pendidik, petugas lapangan KB, petugas sosial yang terkait dengan
pembinaan tumbuh kembang anak.
Petugas sector swasta dan profesi lainnya.
Tujuan SDIDTK
 Tujuan Umum
Agar semua balita umur 0–5 tahun dan anak pra sekolah umur 5-6 tahun tumbuh
dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya sehingga
berguna bagi nusa dan bangsa serta mampu bersaing di era global melalui
kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini.1
 Tujuan Khusus
a. Terselenggaranya kegiatan stimulasi tumbuh kembang pada semua balita dan
anak pra sekolah di wilayah kerja Puskesmas.

13
b. Terselenggaranya kegiatan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang pada
semua balita dan anak pra sekolah di wilayah kerja Puskesmas.
c. Terselenggaranya intervensi dini pada semua balita dan anak pra sekolah
dengan penyimpangan tumbuh kembang.
d. Terselenggaranya rujukan terhadap kasus-kasus yang tidak bisa ditangani di
Puskesmas.
 Jenis Skrining
a. Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan
b. Pengukuran Berat Badan Terhadap Tinggi Badan (BB/TB)
c. Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak, normal,
kurus, kurus sekali atau gemuk.
d. Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal DDTK. Pengukuran dan
penilaian BB/TB dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih, yaitu tenaga
kesehatan yang telah mengikuti pelatihan SDIDTK.
 Pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA).
Tujuan pengukuran LKA adalah untuk mengetahui lingkaran kepala anak dalam
batas normal atau diluar batas normal
Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dilakukan di semua tingkat pelayanan.
Adapun pelaksana dan alat yang digunakan dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Pelaksana dan Alat yang Digunakan untuk Deteksi Dini Penyimpangan
Pertumbuhan

Tingkat Pelayanan Pelaksana Alat yang Digunakan


Keluarga masyarakat
o Orang tua
o Kader kesehatan
o Petugas PAUD, BKB, TPA dan Guru TK
o KMS
o Timbangan dacin
Puskesmas

14
o Dokter
o Bidan
o Ahli gizi
o Petugas lain
o Table BB/TB
o Grafik LK
o Timbangan
o Alat ukur tinggi badan
o Pita pengukur lingkar kepala
Sumber: Buku Pedoman Pelaksanaan SDIDTK

 Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan


Deteksi ini dilakukan di semua tingkat pelayanan. Pelaksana dan alat yang
digunakan dapat dilihat pada tabel 2.2
Tabel 2.2 Pelaksanaan dan Alat yang digunakan untuk Deteksi Dini Penyimpangan
Perkembangan Anak
Tingkat Pelayanan Pelaksana Alat yang Digunakan
Keluarga dan Masyarakat
· Orang tua
· Kader kesehatan, BKB, TPA
· Petugas pusat PAUD terlatih
· Guru TK terlatih
Buku KIA
· KPSP
· TDL
· TDD
Puskesmas
· Dokter
· Bidan
· Perawat

15
· KPSP
· TDL
· TDD
Sumber: Buku Pedoman Pelaksanaan SDIDTK
Keterangan :
Buku KIA : Buku Kesehatan Ibu dan Anak
KPSP : Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
TDL : Tes Daya Lihat
TDD : Tes Daya Dengar
BKB : Bina Keluarga Balita
TPA : Tempat Penitipan Anak
Pusat PAUD : Pusat Pendidikan Anak Usia Dini
TK : Taman Kanak-kanak
Skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining
Perkembangan (KPSP)
Tujuan pemeriksaan perkembangan menggunakan KPSP adalah untuk mengetahui
perkembangan anak normal atau ada penyimpangan.
Tes Daya Dengar (TDD)
Tujuan tes daya dengar adalah untuk menemukan gangguan pendengaran sejak dini,
agar dapat segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan
bicara anak.

Tes Daya Lihat (TDL)


Tujuan TDL adalah untuk mendeteksi secara dini kelainaan daya lihat agar segera
dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman
penglihatan menjadi lebih besar.
 Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan/ pemeriksaan untuk
menemukan gangguan secara dini adanya masalah emosional, autisme dan
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera
dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat

16
diketahui maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada
tumbuh kembang anak.
 Deteksi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Deteksi dini masalah mental emosional pada anak pra sekolah.
Bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan/ masalah mental
emosional pada anak pra sekolah
 Deteksi dini autis pada anak pra sekolah.
Bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya autis pada anak umur 18 bulan
sampai 36 bulan.
Pengukuran pertumbuhan dan perkembangan berdasarkan umur dan jenis skrining
Intervensi Dini Penyimpangan Perkembangan Anak
Tujuan intervensi dan rujukan dini perkembangan anak adalah untuk mengoreksi,
memperbaiki dan mengatasi masalah atau penyimpangan perkembangan sehingga
anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya.
Waktu yang paling tepat untuk melakukan intervensi dan rujukan dini
penyimpangan perkembangan anak adalah sesegera mungkin ketika usia anak
masih di bawah lima tahun.
Tindakan intervensi dini tersebut berupa stimulasi perkembangan terarah yang
dilakukan secara intensif di rumah selama 2 minggu, yang diikuti dengan evaluasi
hasil intervensi stimulasi perkembangan.
Rujukan diperlukan jika masalah/penyimpangan perkembangan anak tidak dapat
ditangani meskipun sudah dilakukan tindakan intervensi. Rujukan penyimpangan
tumbuh kembang dilakukan secara berjenjang sebagai berikut:
Tingkat keluarga dan masyarakat
Keluarga dan masyarakat (orang tua, anggota keluarga lainnya dan kader)
dianjurkan untuk membawa anak ke tenaga kesehatan di Puskesmas dan jaringan
atau Rumah Sakit. Orang tua perlu diingatkan membawa catatan pemantauan
tumbuh kembang buku KIA
 Tingkat Puskesmas dan jaringannya
Pada rujukan dini, bidan dan perawat di posyandu, Polindes, Pustu termasuk
Puskesmas keliling, melakukan tindakan intervensi dini penyimpangan tumbuh
17
kembang sesuai standar pelayanan yang terdapat pada buku pedoman. Bila kasus
penyimpangan tersebut ternyata memerlukan penanganan lanjut, maka dilakukan
rujukan ke tim medis di Puskesmas.
 Tingkat Rumah Sakit Rujukan
Bila kasus penyimpangan tersebut tidak dapat di tangani di Puskesmas maka perlu
dirujuk ke Rumah Sakit Kabupaten yang mempunyai fasilitas klinik tumbuh
kembang anak dengan dokter spesialis anak, ahli gizi serta
laboratorium/pemeriksaan penunjang diagnostic. Rumah Sakit Provinsi sebagai
tempat rujukan sekunder diharapkan memiliki klinik tumbuh kembang anak yang
didukung oleh tim dokter spesialis anak, kesehatan jiwa, kesehatan mata, THT,
rehabilitasi medic, ahli terapi, ahli gizi dan psikolog.
 Pelayanan posyandu
Posyandu adalah wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh dan
untuk masyarakat yang dibimbing petugas terkait. (Departemen Kesehatan RI.
2006) Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan
kesehatan dan keluarga berencana.(Effendi, Nasrul. 1998: 267) Posyandu (Pos
Pelayanan Terpadu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari dan bersama
masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada
masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita.
(Pusat Promosi Kesehatan, 2012)
Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan untuk, dari, dan oleh masyarakat
dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberikan kemudahan
kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk
mempercepat penurunan kematian ibu dan bayi. Dalam pelaksanaan tugasnya
kader pada posyandu selalu didampingi oleh tim dari Puskesmas, seperti pada
pelaksanaan pada meja IV, apabila kader menemui masalah kesehatan, kader harus
berkonsultasi pada petugas kesehatan yang ada, masalah tersebut dapat berupa:
1) Balita yang berat badanya tidak naik tiga kali berturut-turut.
2) Balita yang berat badanya di bawah garis merah.
18
3) Balita yang sakit; batuk, sukar bernafas, demam dan sakit telinga.
4) Balita yang mencret.
5) Anak yang menderita buta senja atau mata keruh.
6) Balita dengan penyimpangan tumbuh kembang atau perkembangan terlambat.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan
oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari sampai dengan
11 bulan setelah lahir.
Pelaksana pelayanan kesehatan bayi :
 Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari – 2 bulan
 Kunjungan bayi satu kali pada umur 3 – 5 bulan
 Kunjungan bayi satu kali pada umur 6 – 8 bulan
 Kunjungan bayi satu kali pada umur 9 – 11 bulan
Pelayanan kesehatan pada bayi tersebut meliputi :
 Pemberian imunisasi dasar lengkap (BCG, Polio 1, 2,3, 4, DPT/HB 1, 2, 3, Campak)
sebelum bayi berusia 1 tahun
 Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi (SDIDDTK)

19
 Pemberian vitamin A 100.000 IU (6 – 11 bulan)
 Konseling ASI ekskulusif, pemberian makanan pendamping ASI, tanda –tanda sakit dan
perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan Buku KIA
 Penanaganan dan rujukan kasus bila di perlukan
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan bayi adalah dokter
spesialis anak, dokter, bidan dan perawat.
Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan intelektual berkembang pesat.
Masa ini merupakan masa keemasan atau golden period dimana terbentuk dasar-dasar
kemampuan keindraan, berfikir, berbicara serta pertumbuhan mental intelektual yang
intensif dan awal pertumbuhan moral. Pada masa ini stimulasi sangat penting untuk
mengoptimalkan fungsi-fungsi organ tubuh dan rangsangan pengembangan otak. Upaya
deteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia dini menjadi
sangat penting agar dapat dikoreksi sedini mungkin dan atau mencegah gangguan ke arah
yang lebih berat.
Pelayanan kesehatan anak balita meliputi pelayanan pada anak balita sakit dan sehat.
Pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai standar yang meliputi :
Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun yang tercatat dalam Buku
KIA/KMS. Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan anak balita setiap
bulan yang tercatat pada Buku KIA/KMS. Bila berat badan tidak naik dalam 2 bulan
berturut-turut atau berat badan anak balita dibawah garis merah dirujuk ke sarana
pelayanan kesehatan.
Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) minimal 2 kali
dalam setahun. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik kasar,
motorik halus, bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali setahun (setiap 6
bulan). Pelayanan SDIDTK diberikan di dalam gedung (sarana pelayanan kesehatan)
maupun di luar gedung.

B. SARAN
Penulis sangat mengharapkan agar makalah ini dapat menjadi acuan dalam mempelajari
tentang pelayanan kesehatan pada bayi dan balita. Dan harapan penulis makalah ini tidak
hanya berguna bagi penulis tetapi juga berguna bagi semua pembaca. Terakhir dari

20
penulis walaupun makalah ini kurang sempurna penulis mengharapkan kritik dan saran
untuk perbaikan di kemudian hari

21