Anda di halaman 1dari 7

Makalah

Peran Tokoh Dalam Budaya Banjar

Kelompok 1 :
Rheisa Maulida
Yunny Mahriani
Melissa Ariana
Daniel Guruh
Selviana Rizky Pramitha
Sella Puteri Ariza
Widamayanti Cahyani
Insan Akbar Nurhakim
Azhary Ramadhan
Derti Elevi Sabrina

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

MEI 2010
Bab I

Pendahuluan

Menurut sensus penduduk tahun 2000,suku banjar adalah suku terbesar urutan kesepuluh
diantara seratus suku di Indonesia.Jumlah orang banjar keseluruhan adalah 3,496 juta jiwa atau
1,74% dari penduduk jiwa.ada dua teori tentang asal usul orang Banjar.Yang pertama adalah
hipotesis’kali jerangan’ (melting pot).Menurut hipotesis ini,orang banjar adalah hasil akhir dari
pencampuran berbagai suku seperti orang bukit,orang Melayu,orang Bugis,orang Jawa dan lain-
lain.Yang kedua adalah hipotesis’kaum cerdik tempatan’ (local genious).Menurut hipotesis ini
komunitas orang bukit dikwasan pesisir Kalimantan Selatan sebai cikal bakal orang
banjar.Melalui Pengaruh Pedagang Melayu orang bukit persisir itu lau mengembangakan diri
dari masyarakat pengumpul (collecting society) menjadi masyarakat yang terorganisasi dalam
satu suku (tribal society ).

Noerid Haloei Radam yang mengemukakan teori ini lebih cenderung kepada hipotesis
kedua karena hipotesis ini menempatkan komunitas local sebagai orang-orang yang secara
kreatif mengembangkan kebudayaannya sendiri,bukan sebagai penerima pasif belaka.Inilah cirri
kabudayaan Banjar yakni terbuka atau mau menerima pengaruh dari luar namun tetap dalam
krangka etos budaya yang sudaha ada.
Bab II

Isi

Kebudayaan sebagai wujud Dinamis

Asal usul orang Banjar tidak sekedar terkait dengan asal usul biologis atau hubungan
darah belaka,melainkan menyangkut masalah yang lebih luas .Yakni masalah kebudayaan
sebagai hasil cipta,rasa,karsa manusia dalam upaya mencapai kehidupan yang lebih baik dan
lebih bermakna.Teori tentang perjumpaan antara pendatang baru dengan penduduk lama sebagai
cikal bakal manusia banjar menujukkan adanya proses perjumpaan,pembauran dan
pengembangan budaya.

Tidak ada suatu definisi yang jelas dan tegas.Pandangan esensialis mungkin berguna
untuk melakukan identifikasi tentang apa saja yang dianggap sebagai ciri-ciri khas suatu
kebudayaan,sehingga akan mudah dikenali dan dilestarikan.Tetepi pandangan esensialis dapat
menjerumuskan kita pada suatu pandangan yang melihat kebudayaan sebagai wujud yang beku
dan statis. Padahal sejalan dengan dinamika kebudayaan masyarakat,kebudayaan selalu
berkembang dan berubah. Interaksi antar budaya juga terus menerus berlangsung difasilitasi oleh
teknologi,informasi dan komunikasi.

Kebudayaan mencakup kehidupan manusia yang sangat luas seperti agama dan
kepercayaan,ilmu pengetahuan,kesenian,teknologi dan bahasa. Tetapi yang akan kami bahas
pada makalah ini adalah tokoh-tokoh yang berperan dalam ilmu pengetahuan dan kesehatan.

Peran Ilmuwan dan Seniman

Perjumpaan orang Indonesia umumnya, dan orang Banjar khususnya, dengan kebudayaan
Barat melalui lembaga-lembaga pendidikan dimulai pada awal abad ke-20, yakni ketika politik
etis diterapkan. Pemerintah colonial Belanda mendirikan sejumlah sekolah,khususnya untuk
pendidikan tingkat dasar dan menengah, untuk anak-anak pribumi. Tujuannya adalah agar kelak
orang-orang pribumi dapat berpartisipasi dalam kebudayaan Belanda atau kebudayaan Barat
seehingga penjajahan dapat dilanggengkan.

Paling tidak ada empat reaksi masyarakat Indonesia terhadap pendidikan Belanda ketika
itu, termasuk di masyarakat Banjar. Pertama, kelompok yang menolak mentah-mentah
pendidikan Belanda karena dianggap pendidikan orang kafir. Mereka umumnya dari kalangan
ulama konservatif. Kedua, kalangan yang menolak kurikulum pemerintah Belanda, tetapi
memasukkan sejumlah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah Belanda. alasan utama
penolakan bukan terletak pada kurikulum itu sendiri, melainkan pada watak gerakan ini yang
bersifat nasionalis dan anti penjajahan. Ketiga, menerima kurikulum pemerintah Belanda
sehingga berhak menerima subsidi dari pemerintah. Namun pada saat yang sama diberikan pula
pelajaran agama. Sikap ini diambil oleh Muhammadiyah. Keempat, kelompok yang menerima
pendidikan Belanda dengan senang hati. Mereka antara lain adalah anak-anak dari orang-orang
yang bekerja untuk pemerintah Belanda, disamping ada pula dari masyarakat biasa.

Ilmu dan seni merupakan dua unsur penting dalam kebudayaan. Sekurang-kurangnya ada
dua peran penting yang dimainkan para ilmuwan, baik yang bekerja di dalam atau di luar
universitas, dalam kaitannya dengan perkembangan budaya Banjar. Pertama, para dosen dan
mahasiswa dapat mengembangkan kajian-kajian keilmuan dengan menjadikan lingkungan Kalsel
sebagai objek kajian. Dengan ini banyak rahasia ilmu yang terpendam di bumi Kalsel ini yang
dapat diungkap. Kedua, kesadaran dikalangan keilmuan, khususnya dibidang social dan
humaniora, untuk menelliti sejarah dan akar-akar budaya Banjar itu sendiri dan
mendokumentasikannya.

Selain para ilmuwan, tokoh-tokoh seniman tentu amat penting dalam memelihara dan
mengembangkan budaya Banjar. Sebagai gambaran umum barangkali tidak salah untuk
mengatakan bahwa kesenian tradisional Banjar berkembang secara alamiah dalam tubuh
masyarakat itu sendiri. Tetapi seiring dengan perubahan jaman, terutama setelah maraknya
televisi dan dunia hiburan modern lainnya, kesenian tradisional Banjar mulai terpinggirkan.
Meskipun demikian, tidak berarti tidak ada sama sekali kesenian tradisional Banjar yang bangkit.
Kebangkitan kesenian itu terjadi ketika kreatifitas tumbuh dari seorang seniman. Seniman yang
berbakat akan mencoba melihat perkembangan jaman.

Peran Dokter Gigi

Dalam makalah ini kami mencoba membahas tentang peran dokter gigi dalam perkembangan
budaya banjar.

Masyarakat banjar memiliki budaya yang tidak baik untuk kesehatan gigi. Contohnya :

1. Masyarakat masih saja menggunakan air sungai yang kotor untuk keperluan mandi,
makan, minum, dan menggosok gigi.
2. Kebiasaan menggosok gigi pada waktu yang tidak tepat, dan cara menyikat gigi yang
salah.
3. Masyarakat yang sangat suka makanan yang manis-manis khas daerah banjar.

Oleh karena itu, dokter gigi memegang peranan penting dalam perkembangan kehidupan social
budaya masyarakat. Dokter gigi harus mengubah kebiasaan masyarakat yang tidak baik tersebut
agar menjadi lebih baik.
Tentu ini merupakan hal yang tidak mudah, mengubah suatu kebiasaan yang sudah membudaya
dalam masyarakat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dokter gigi harus turut ikut andil
dan terjun langsung kedalam kehidupan sehari-hari masyarakat tersebut. Berikut ini yang bisa
dilakukan seorang dokter gigi untuk mengubah perilaku masyarakat:

1. Memberikan penyuluhan
2. Mengadakan pemeriksaan berkala untuk mengetahui perkembangan kesehatan gigi
masyarakat.
3. Mengadakan bakti sosial.

Dengan demikian,diharapkan dokter gigi dapat berperan aktif dalam perkembangan budaya
Banjar.
Bab III

Penutup

1. Kesimpulan
Tokoh bidang ilmu pengetahuan dan kesehatan memiliki peranan penting dalam
perkembangan budaya Banjar.

2. Saran
Ilmuwan, seniman, maupun dokter gigi diharapkan dapat berperan aktif dalam
perkembangan budaya Banjar dan mampu merubah budaya yang kurang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar.
Jakarta: Grafindo Husada

Mujiburrahman. 2010. Peran Tokoh dalam Perkembangan Budaya Banjar. Banjarmasin:


Kongres Budaya Banjar