Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN SUPERVISI KEPALA INSTALASI FARMASI

BULAN AGUSTUS 2019

A. PENDAHULUAN
Pengelolaan obat merupakan rangkaian kegiatan yang kompleks dan
berkesinambungan mulai dari proses pemilihan, perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, pendistribusian, penyiapan dan pemberian, penggunaan, dan
pemantauan obat. Obat sebagai komoditi yang paling utama dalam terapi pasien
keberadaannya dijumpai tidak hanya di Instalasi Farmasi akan tetapi juga di jumpai
diseluruh ruang perawatan, ruang kritis, bahkan di mobil ambulance dalam
persediaan obat emergency. Sehingga pengelolaan obat seharusnya menjadi tanggung
jawab instalasi farmasi dan seluruh managerial yang ada di unit-unit yang
memerlukan penggunaan obat dalam pelayanannya.

B. LATAR BELAKANG
Pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat merupakan bagian penting dalam
pelayanan pasien sehingga dalam penataan organisasinya harus efektif dan efisien.
Instalasi Farmasi sendiri dalam pelaksanaan kegiatan terbagi dalam beberapa unit
layanan yaitu farmasi rawat jalan 1, farmasi rawat jalan 2, farmasi rawat inap, farmasi
IGD, farmasi IBS, dan bangsal cempaka. Untuk meningkatkan mutu pelayanan harus
selalu dilakukan supervisi kesesuaian standar antara pelaksanaan kegiatan terhadap
regulasi dan standar prosedur operasional yang telah ditetapkan.

C. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS


1. Tujuan Umum
a. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian
2. Tujuan Khusus
a. Menyelenggarakan kegiatan kefarmasian yang efektif dan efisien
b. Mengawasi pelaksanaan kegiatan kefarmasian sesuai dengan regulasi
dan standar prosedur operasional yang telah ditetapkan

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


a. Mengumpulkan data hasil supervisi apoteker di masing-masing unit dan
ruang rawat inap
b. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil supervise
c. Melakukan rencana tindak lanjut

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


a. Mengumpulkan data hasil supervise apoteker di masing-masing unit dan
ruang rawat inap
1). Apoteker unit melakukan supervise 2 minggu sekali sesuai dengan
tugas dan tanggung jawabnya dengan menggunakan lembar ceklist
pelaksanaan supervise apoteker
2). Apoteker unit menyusun laporan hasil pelaksanaan supervise sebulan
sekali
3). Apoteker unit menyerahkan laporan hasil supervise kepada kepala
instalasi farmasi
b. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil supervise
1). Dilakukan analisa, monitoring dan evaluasi terhadap hasil supervise
seluruh apoteker unit
2). Analisa, monitoring dan evaluasi dilaksanakan oleh kepala Instalasi
Farmasi dan seluruh staf Instalasi farmasi dalam rapat internal Instalasi
Farmasi
c. Melakukan rencana tindak lanjut
1). Dari hasil analisa dan monitoring evaluasi disusun rencana tindak
lanjut.
F. SASARAN
a. Mengumpulkan data hasil supervise apoteker di masing-masing unit
dan ruang rawat inap
1). Mendapatkan data-data yang akurat terkait pelaksanaan pelayanan
kefarmasian
b. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil supervise
1). Melakukan analisa terhadap data-data yang telah dikumpulkan
2). Mengumpulkan informasi kendala yang dihadapi dalam
pelaksanaan kegiatan kefarmasian
c. Melakukan rencana tindak lanjut
1). Merumuskan langkah-langkah untuk mengatasi kendala yang
dihadapi dalam pelaksanaanpelayanan kefarmasian

G. HASIL CAPAIAN
1. Gudang Penyimpanan
Pengadaan berdasarkan perencanaan dari gudang dengan mempertimbangkan
kebutuhan, pola penyakit, anggaran, dan kapasitas gudang. Pengadaan dilakukan oleh
kepala Instalasi Farmasi dan disetujui oleh PPK. Pengadaan dipastikan dari jalur
resmi karena setiap distributor yang masuk dipersyaratkan melengkapi persyaratan
dokumen kualifikasi. Penyimpanan sudah memenuhi persyaratan aman dari pencurian
karena telah dilengkapi dengan CCTV dan pintu dengan kunci kode rahasia yang
selalu dicek berfungsi dengan baik oleh bagian yang berwenang. Tempat
penyimpanan diberi space yang cukup, disimpan diatas palet dan dibersihkan secara
rutin sehingga terpantau apabila ada rayap dan binatang pengerat lainnya. Karena
kapasitas yang terpatas space yang diberikan relative kurang longgar untuk petugas
bisa leluasa bergerak dalam mengatur barang. Sudah ada pantauan suhu dan
kelembaban dilengkapi dengan ceklist pantauan setiap hari. Apabila suhu dan
kelembaban berada diatas range yang dipersyaratkan petugas paham bahwa harus
segera mengkonfirmasi ke pihak IPSRS agar segera dicek kemungkinan adanya
kerusakan. Penyimpanan sudah dilakukan berdasarkan FIFO dan FEFO dengan
menata kardus obat dengan ED lebih dekat di paling atas dalam susunan tumpukan
atau paling depan untuk susunan diatas rak agar bisa digunakan terlebih dahulu.
.Penyimpanan B3 sudah di almari besi dan diberikan penandaan dilengkapi dengan
MSDS. Demikian juga obat-obat HAM sudah diberikan label oleh petugas farmasi di
gudang sebelum didistribusikan ke unit lain.

2. Farmasi Rawat Jalan


Sudah ada sumber informasi obat berupa formularium RS, Fornas dan MIMS di
unit rawat jalan. Penyimpanan sudah dilakukan dengan pemantauan suhu dan
kelembaban yang sesuai berdasarkan stabilitas obat. Pelayanan dilakukan oleh
petugas yang kompeten dari mulai telaah, penyiapan hingga penyerahan obat. Sudah
melakukan konfirmasi ke dokter saat kejadian resep tidak terbaca dan adanya produk
kosong dengan mendokumentasikan dalam buku. Pelabelan sudah dilakukan dengan
label elektronik memuat identitas pasien, nama obat, dosis, aturan pakai, cara
penggunaan dan tanggal pembuatan. Penyerahan ke pasien dilakukan dengan prinsip
5 benar dan informasi terkait obat yang diperoleh pasien. Obat-obatan yang termasuk
kategori HAM disimpan sesuai ketentuan. Obat Narkotika psikotropika dalam almari
dengan kunci ganda dibawa oleh 2 petugas yang berbeda. Obat HAM lainnya
disimpan dengan akses terbatas. Obat LASA disimpan dalam rak dengan
jarakminimal 2 kotak obat dengan obat LASA lainnya.

3. Farmasi Rawat Inap


Sudah ada sumber informasi obat berupa formularium RS, Fornas dan MIMS di
unit rawat jalan. Penyimpanan sudah dilakukan dengan pemantauan suhu dan
kelembaban yang sesuai berdasarkan stabilitas obat. Pelayanan dilakukan oleh
petugas yang kompeten dari mulai telaah, penyiapan hingga penyerahan obat. Sudah
melakukan konfirmasi ke dokter saat kejadian resep tidak terbaca dan adanya produk
kosong dengan mendokumentasikan dalam buku. Pelabelan sudah dilakukan dengan
label elektronik memuat identitas pasien, nama obat, dosis, aturan pakai, cara
penggunaan dan tanggal pembuatan. Penyerahan ke perawat dilakukan oleh petugas
yang kompeten disertai pengecekan kesesuaian obat yang diresepkan dengan yang
diserahkan ke perawat. Obat-obatan yang termasuk kategori HAM disimpan sesuai
ketentuan. Obat Narkotika psikotropika dalam almari dengan kunci ganda dibawa
oleh 2 petugas yang berbeda. Obat HAM lainnya disimpan dengan akses terbatas.
Obat LASA disimpan dalam rak dengan jarakminimal 2 kotak obat dengan obat
LASA lainnya.

4. Farmasi IBS
Sudah ada sumber informasi obat berupa formularium RS, Fornas dan MIMS di
unit rawat jalan. Penyimpanan sudah dilakukan dengan pemantauan suhu dan
kelembaban yang sesuai berdasarkan stabilitas obat. Pelayanan dilakukan oleh
petugas yang kompeten dari mulai telaah, penyiapan hingga penyerahan obat. Sudah
melakukan konfirmasi ke dokter saat kejadian resep tidak terbaca dan adanya produk
kosong dengan mendokumentasikan dalam buku. Pelabelan sudah dilakukan dengan
label elektronik memuat identitas pasien, nama obat, dosis, aturan pakai, cara
penggunaan dan tanggal pembuatan. Penyerahan obat ke perawat dilakukan oleh
petugas yang kompeten disertai pengecekan kesesuaian obat yang diresepkan dengan
yang diserahkan ke perawat. Obat-obatan yang termasuk kategori HAM disimpan
sesuai ketentuan. Obat Narkotika psikotropika dalam almari dengan kunci ganda
dibawa oleh 2 petugas yang berbeda. Obat HAM lainnya disimpan dengan akses
terbatas. Obat LASA disimpan dalam rak dengan jarakminimal 2 kotak obat dengan
obat LASA lainnya.

5. Farmasi IGD
Sudah ada sumber informasi obat berupa formularium RS, Fornas dan MIMS di
unit rawat jalan. Penyimpanan sudah dilakukan dengan pemantauan suhu dan
kelembaban yang sesuai berdasarkan stabilitas obat. Pelayanan dilakukan oleh
petugas yang kompeten dari mulai telaah, penyiapan hingga penyerahan obat. Sudah
melakukan konfirmasi ke dokter saat kejadian resep tidak terbaca dan adanya produk
kosong dengan mendokumentasikan dalam buku. Pelabelan sudah dilakukan dengan
label elektronik memuat identitas pasien, nama obat, dosis, aturan pakai, cara
penggunaan dan tanggal pembuatan. Penyerahan ke pasien dilakukan dengan prinsip
5 benar dan informasi terkait obat yang diperoleh pasien. Sedangkan penyerahan obat
ke perawat dilakukan oleh petugas yang kompeten disertai pengecekan kesesuaian
obat yang diresepkan dengan yang diserahkan ke perawat. Obat-obatan yang
termasuk kategori HAM disimpan sesuai ketentuan. Obat-obatan yang termasuk
kategori HAM disimpan sesuai ketentuan. Obat Narkotika psikotropika dalam almari
dengan kunci ganda dibawa oleh 2 petugas yang berbeda. Obat HAM lainnya
disimpan dengan akses terbatas. Obat LASA disimpan dalam rak dengan
jarakminimal 2 kotak obat dengan obat LASA lainnya.

6. Ruang Penyimpanan dan Pencampuran Obat di Ruang Rawat dan Tas


Emergency
Ruang penyimpanan dan pencampuran obat di ruang rawat inap sudah terpiah
dengan ruang yang lain, sudah dilengkapi dengan alat pemantauan suhu dan
kelembaban serta ceklist yang diisi setiap hari oleh petugas ruangan. Mengedukasi
petugas ruang rawat agar segera melapor ke petugas IPSRS saat suhu dan
kelembaban dipantau diluar range yang dipersyaratkan. Untuk pemakaian obat
emergency harus sering mengingatkan petugas agar selalu melaporkan setiap
pembukaan kunci agar segera bisa diganti oleh petugas farmasi.

H. EVALUASI

Ka. Instalasi Farmasi

Sandi Purbaningsih, MSc., Apt


NIP. 19770308 200401 2 001

Anda mungkin juga menyukai