Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM NON-STERIL

TEKNOLOGI FARMASI SEDIAAN LIKUIDA-SEMI SOLIDA


FA 3132

Piperis betle Folia Infusa

Tanggal Praktikum : 13 September 2017


Tanggal Pengumpulan : 20 September 2017

Asisten : Martella Monalisa / 10714072

Disusun oleh :
Kelompok L-II-1
Jessica Benita Nathania P. 10715040
Rizka Apriliana Kumalasari 10715047
Aldi Budiman 10715059
Mutiara Hasanah 10715068
Cornelia Pradhita Lyman 10715090

LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMI SOLIDA


PROGRAM STUDI SAINS & TEKNOLOGI FARMASI
SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2017
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA
NON STERIL

KELOMPOK :L-II-1 Piperis bettle folia Infusa SHIFT : Rabu

I. TUJUAN
1. Menentukan formula yang sesuai untuk sediaan Piperis bettle folia Infusa
2. Menentukan hasil evaluasi sediaan Piperis bettle folia Infusa

II. LATAR BELAKANG


Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simpilisia nabati dengan air
pada suhu 90oC selama 15 menit. (Farmakope Indonesia, ed. IV, hal. 9).

Sediaan sirup bahan alam Piperis betle folia infus digunakan untuk penggunaan secara
oral. Piperis betle folia memiliki kandungan minyak atsiri (1-4.2%), hidroksikavikol,
kavikol (7.2-16.7%), kavibetol (2.7-6.2%), allypykatekol (0-9.6%), karvakol (2.2-5.6%),
eugenol (26.8-42.5%) dan eugenol methyl ether (4.2-15.8%).

Eugenol berguna untuk mencegah ejakulasi prematur, mematikan jamur Candida


albicans, antikejang, analgesik, anestesik dan penekan pengendali gerak. Tanin yang
terdapat pada daun berfungsi untuk astringent dan antidiare. Sedangkan, minyak atsiri
dari Piperis betle folia berguna untuk mematikan kuman, antisariawan, antioksidan dan
anti jamur.

Pada umumnya kekuatan sediaan infusum daun Piper betle sebagai antiseptikum
diketahui 450 mg per 120 mL. Untuk sekali minum (15 mL), dosis adalah :
15𝑚𝐿
× 450𝑚𝑔 = 56,25𝑚𝑔
120𝑚𝐿

Dosis untuk dewasa: 3-4 kali sehari, 3 sdm (45 mL)


Dosis sekali minum: 3 x 56,25 mg = 168,75 mg
Dosis sehari: (3 x 168,75)mg - (4 x 168,75)mg = (506,25 – 675) mg
Dosis untuk anak : 2 kali sehari, 1 sdm (15 mL)
Dosis sekali minum : 56,25 mg
Dosis sehari: 2 x 56,25mg = 112,5 mg.

III. PERMASALAHAN FARMASETIKA


A. Preformulasi Zat Aktif
Zat aktif Piperis betle folia
Pemerian Bau khas rasa pedas, warna coklat kehijauan sampai coklat,
panjang daun 5 cm sampai 18,5 cm, lebar daun 3 cm sampai
12 cm, permukaan atas rata licin agak mengkilat
(Materia Medika Indonesia hal 95 jilid 4)
Senyawa Kimia Minyak atsiri mengandung hidroksi kavikol, kavibetol,
estragol, metileugenol, karvakrol, terpinen, seskuiterpinen,
fenil propan, tanin
(Materia Medika Indonesia hal 98 jilid 4)
Fungsi Anti sariawan, anti batuk, adstringensia, antiseptik
(Materia Medika Indonesia hal 98 jilid 4)
Inkompatibilitas -
Kesimpulan :
Bentuk sediaan (lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : Larutan
Kemasan :
Dalam wadah tertutup rapat.
Botol coklat tertutup rapat

B. Permasalahan Farmasetika berdasarkan Sifat Fisika dan Kimia Zat Aktif


Eksipien yang
Permasalahan Penyelessaian Masalah
Diusulkan
Zat aktif memberikan rasa Diberikan pemanis dan Sirupus
pedas dalam sediaan flavoring agent untuk simpleks
menutupi rasa pedas
Bahan pemanis sebagai Diberikan anti caps locking Sorbitol
penutup rasa pedas dapat
menyebabkan cap-locking
pada leher wadah sediaan
Sediaan yang dibuat adalah Ditambahkan pengawet Natrium
sediaan multiple dose (dosis Benzoat
berulang) dan dapat
mengakibatkan pertumbuhan
mikroorganisme pada sediaan.

C. Preformulasi Eksipien
1. Sirupus Simpleks
Struktur

(Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th, hal 744-745)


Rumus Molekul C12H22O6\11
Berat Molekul 342.30
Pemerian Kristal tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis
Kelarutan Kelarutan dalam air 1:0,5 pada suhu kamar dan 1 : 0,2 pada
suhu 1000C
Stabilita Stabilitas baik pada suhu kamar dan pada kelembaban yang
rendah. Sukrosa akan menyerap 1% kelembaban yang akan
melepaskan panas pada 90oC. Sukrosa akan menjadi karamel
pada suhu di atas 160oC. Sukrosa yang encer dapat
terdekomposisi dengan keberadaan mikroba
Bubuk sukrosa dapat terkontaminasi dengan adanya logam
Inkompatibilitas
berat yang akan berpengaruh terhadap zat aktif seperti asam
askorbat. Sukrosa dapat terkontaminasi sulfit dari hasil
penyulingan. Dengan jumlah sulfit yang tinggi, dapat terjadi
perubahan warna pada tablet yang tersalut gula. Selain itu,
sukrosa dapat bereaksi dengan tutup aluminium
Pemanis, coating agent, granulating agent, suspending agent
Kegunaan

2. Sorbitol (70%)
Struktur

(Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th, hal 718-719)


Rumus Molekul C6H14O6
Berat Molekul 182.17
Pemerian Tidak berbau, putih atau tidak berwarna, kristal, serbuk
higroskopis
Kelarutan Dapat bercampur dengan air 1: 0,5 dalam air
Stabilita Bersifat inert dan kompatibel dengan hampir semua
eksipien.Stabil di udara karena tidak ada katalis, pada kondisi
dingin, asam encer dan basa. Tidak mengalami penggelapan
atau dekomposisi pada saat suhu dinaikkan atau saat ada
amina. Tidak mudah terbakar, non korosif, dan tidak mudah
menguap. Tahan terhadap fermentasi oleh banyak
mikroorganisme, sebaiknya pengawet ditambahkan pada
larutan sorbitol. Larutan dimpan pada wadah gelas, rivale,
aluminium dan anti karat.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th, hal 718)
Sorbitol akan membentuk kelat yang larut air dengan banyak
Inkompatibilitas
ion logam divalen dan trivalen pada kondisi basa dan asam
kuat. Penambahan cairan polietilen glikol pada larutan sorbitol
dengan agitasi yang kuat mengahasilkan sebuah lilin, gel larut
air dengan titik didih 35–400C. Larutan sorbitol akan bereaksi
dengan besi oksida sehingga menjadi tidak berwarna. Sorbitol
mempercepat degradasi penisilin pada larutan yang netral
Anti caps-locking, pemanis, humektan
Kegunaan

3. Natrium Benzoat

Struktur

(Handbook of Pharmaceutical Exepients 5 ed. Hlm. 662-663 )


h

Rumus Molekul NaC6H5CO2

Berat Molekul 144.11

Pemerian Granul atau kristalin agak higroskopis, sedikit berbau benzoin,


dan memiliki rasa manis dan asin yang tidak mengenakan

Kelarutan 1 : 1.8 air


1 : 1.4 air 100°C
1 : 75 etanol 95%

Stabilita Stabil terhadap panas.

Sifat fisik Optimal pada pH dibawah 5

Gelatin, garam besi, garam kalsium, logam berat, dan kaolin


Inkompatibilitas
(dapat menyebabkan efektivitas antimikroba menurun)

Pengawet, antimikroba
Kegunaan

4. Aqua destilata
Rumus Molekul H2O
(Farmakope Indonesia IV hal 112)
Berat Molekul 18.01
Pemerian Larutan jernih, tidak berbau, dan tidak memiliki rasa
Kelarutan
-
(Larut dalam)
Stabilita Stabil pada semua keadaan fisik.
Inkompatibilitas Dapat membentuk senyawa hidrat, dan menghidrolisis
Kegunaan Pelarut

IV. KESIMPULAN FORMULA


Zat aktif Piperis betle folia kecuali dinyatakan lain maka kadarnya 10% b/v.
(FI IV hal 9)
Bahan Jumlah Fungsi penambahan bahan
Piperis betle folia 10% Zat aktif (anti sariawan dan
anti batuk)
Sirupus simpleks 25% Pemanis
Sorbitol (70%) 20% Anti Caps-locking
Natrium Benzoat 0,5% Pengawet
Aqua destilata Ad to 100 ml Pelarut

V. PENIMBANGAN
Jumlah sediaan yang dibuat : 2
Volume sediaan tiap botol : 60 mL
Volume terpindahkan tiap botol : 2 % dari 60 mL : 1.2 mL
Volume total sediaan tiap botol : 61.2 mL
Volume sediaan bulk :200 ml

No Nama bahan Jumlah yang ditimbang


1 Piperis bettle folia 10% x 200 ml = 20 gram
2 Sirupus Simpleks 25% x 200 ml= 50 gram
3 Sorbitol (70%) 20% x 200 ml= 40 gram
4 Natrium Benzoat 0.5% x 200 ml= 1 gram
5 Aqua destilata ad hingga 200 ml

VI. PROSEDUR PEMBUATAN


1. Persiapan Alat dan Bahan
 Wadah dan alat-alat yang akan digunakan dicuci dengan sabun dan air, lalu dibilas
bersih dengan air, kemudian dikeringkan.

 Tiga Botol sediaan 60 mL ditara sebanyak 61,2 mL dengan menggunakan spidol.


Cara mengukurnya adalah penaraan pertama dengan menggunakan gelas ukur 100 mL
yang diisi dengan air sebanyak 60 mL, lalu air dimasukan ke botol sediaan, lalu
penaraan kedua dengan menggunakan gelas ukur 10 mL yang diisi dengan air
sebanyak 1,2 mL, lalu air dimasukan ke botol sediaan. Setelah ditandai dengan spidol,
air dalam botol dibuang dan botol dibilas dua kali dengan aquades.

 Gelas kimia 500 mL (gelas A) ditara sebanyak 200 mL dengan spidol menggunakan
air yang diukur pada gelas ukur 500 mL.

 Gelas kimia 500 mL (gelas A) ditara sebanyak 160 mL dengan spidol menggunakan
air yang diukur pada gelas ukur 250 mL (untuk in process control ).

2. Pembuatan Sirupus Simpleks


 Sukrosa ditimbang sebanyak 67 gram di atas cawan penguap dengan menggunakan
timbangan gram.

 Aquades sebanyak 40 mL dimasukan ke dalam gelas kimia 100 mL, lalu dipanaskan
diatas penangas hingga suhu sekitar 90oC.

 Sukrosa yang telah ditimbang dimasukan sedikit demi sedikit ke gelas kimia tersebut
sambil diaduk hingga semua sukrosa terlarut

 Larutan yang telah jadi disaring dengan menggunakan kain batis, lalu dimasukan ke
gelas kimia 100 mL.

 Aquades ditambahkan ke larutan hingga mencapai 100 gram, lalu diaduk hingga
homogen.

 Sirupus simpleks dimasukan ke dalam wadah.


3. Pembuatan Ekstraksi Piperis betle Folia.
 Timbang 20 gram Piperis betle folia yang telah dipotong dengan ukuran yang
seragam dan dimasukan ke gelas kimia 500 mL.
 Aquades ditambahkan sebanyak 150 mL ke gelas kimia (dipastikan hingga seluruh
bagian simplisia terendam).
 Gelas kimia dipanaskan diatas penangas hingga mencapai suhu 90oC sambil
dilakukan pengadukan sesekali.
 Setelah larutan sudah mencapai suhu 90oC, larutan dibiarkan selama sekitar 15 menit
sambil sesekali diaduk.
 Larutan ekstrak disaring ke dalam gelas kimia 500 mL yang sebelumnya sudah ditara
(gelas A).

4. Pembuatan Sediaan Piperis betle folia Infus


 Sirupus simpleks ditimbang sebanyak 50 gram pada cawan penguap, ditambahkan 5
mL aquades, lalu dituang ke dalam gelas kimia berisi infusum. Cawan dibilas dengan
aquades, lalu hasil bilasan dimasukkan ke gelas kimia berisi infusum (gelas A).
 Sorbitol 70% ditimbang sebanyak 40 gram pada cawan penguap, ditambahkan 5 mL
aquades, lalu dituang ke dalam gelas kimia berisi infusum. Cawan dibilas dengan
aquades, lalu hasil bilasan dimasukkan ke gelas kimia berisi infusum.
 Natrium benzoat ditimbang sebanyak 1 gram, lalu dilarutkan dalam 5 mL air, lalu
dituang ke dalam gelas kimia berisi infusum. Cawan dibilas dengan aquades, lalu
hasil bilasan dimasukkan ke gelas kimia berisi infusum.
 Aquades ditambahkan sampai batas tara 160 mL di gelas kimia A, lalu diaduk hingga
homogen.
 Dilakukan In Process Control, yang terdiri dari pemeriksaan pH, organoleptik,
partikulat dan homogenitas.
 Aquades ditambahkan sampai batas tara 200 mL, lalu diaduk hingga homogen.
 Infusum dimasukkan ke dalam botol sampai batas kalibrasi.
 Botol ditutup, lalu dikocok hingga homogen.
 Label pada botol diberikan, lalu botol dimasukkan ke dalam dus.

VII. ANALISIS TITIK KRITIS PEMBUATAN SEDIAAN


1. Penambahan air hingga seluruh bagian simplisia terendam ketika pembuatan sediaan
infus.
2. Suhu dijaga 90oC dalam waktu tidak lebih dari 15 menit selama pembuatan ekstraksi
Piperis betle folia.
3. Semua zat dipastikan terlarut sempurna.
4. Pada saat pembuatan sirupus simpleks, dipastikan agar suhu tidak terlalu tinggi dan
pemanasan tidak terlalu lama agar tidak terbentuk karamel.
VIII. EVALUASI SEDIAAN
a. Evaluasi Sediaan In Process Control (IPC)
Jenis evaluasi Prinsip evaluasi Jumlah Hasil Syarat
No sampel pengamatan

1 Organoleptik Rasa manis


(warna, rasa Sediaan diperiksa Bulk menutupi rasa Rasa manis
dan bau) dengan sample pedas sirih, menutupi rasa
menggunakan sediaan jernih pedas, sediaan
pancaindera. dan bau aroma jernih, bau
khas sirih aromatik khas
sirih

2 Jernih tidak ada Larutan jernih,


Partikulat Partikel pengotor Bulk pengotor/partikel tidak terdapat
(Farmakope cairan dihitung sample pengotor.
Indonesia ed. dengan sistem
IV, hal. 1061) elektronik yang
dilengkapi sensor
cahaya redup atau
dilihat dengan latar
belakang hitam.
3 Homogenitas Saat dilakukan Homogen Homogen.
penggeseran sediaan Bulk
pada kaca objek, sample
tidak ditemukan
granul.

4 Penetapan pH pH sediaan dicek pH 5,24 pH antara 4 - 5


(Farmakope dengan Bulk (pH aktivitas
Indonesia ed. menggunakan pH sample pengawet dan
IV, hal.1039) meter aman bagi
tubuh).

b. Evaluasi Sediaan Akhir


No Jenis evaluasi Prinsip evaluasi Jumlah Hasil pengamatan Syarat
sampel

1 Organoleptik Sediaan diperiksa 3 Rasa manis Rasa manis


(warna, rasa dan dengan menutupi rasa pedas menutupi
bau) menggunakan sirih, sediaan jernih rasa pedas,
pancaindera dan bau aroma khas sediaan
sirih jernih, bau
aromatik
khas sirih

2 Penetapan pH pH sediaan dicek 3 4,96 pH antara 4 -


(Farmakope dengan 5 (pH
Indonesia ed. IV, menggunakan pH aktivitas
hal.1039) meter. pengawet dan
aman bagi
tubuh).
3 Bobot jenis Berat jenis sediaan 3 w1= 12,3 g -
(Farmakope diukur dengan w2= 23,1 g
w3= 23,9 g
Indonesia ed. IV, menggunakan
hal. 1030) piknometer. berat jenis :
23,9 𝑔 − 12,3 𝑔
23,1 𝑔 − 12,3 𝑔
= 1,097 𝑔/𝑚𝐿

4 Viskositas Viskositas sediaan 3 waktu jatuh bola Waktu jatuh


(Farmakope ditentukan dengan 119 detik bola diantara
menggunakan bola
Indonesia ed. IV, menggunakan no.2 dengan massa 30-300 detik.
hal. 1037) viskometer 4,45366 g, berat
jenis 2,22 g/cm3,
Hoppler/
konstanta 0,06354
viskometer bola
jatuh. viskositas:
ƞ sediaan= B (ρ1 –
ρ2) t
= 0,06354x (2,22 -
1,097) x 119
= 8,49 poise
5 Partikulat Partikel pengotor 3 Jernih tidak ada Larutan
(Farmakope cairan dihitung pengotor jernih, tidak
Indonesia ed. IV, dengan sistem terdapat
hal. 1061) elektronik yang pengotor.
dilengkapi sensor
cahaya redup atau
dilihat dengan
latar belakang
hitam.

6 Uji caps-locking Sediaan disimpan 3 Tidak terdapat caps- Tidak


dalam suhu ruang. locking terbentuk
Apabila ada kristal kristal pada
yang terbentuk di mulut dan
sekitar mulut dan leher wadah.
leher botol, maka
terdapat gula yang
telah mengkristal.
7 Volume Sediaan dalam 3 60 mL Volume rata-
terpindahkan wadah rata tidak
(Farmakope dipindahkan ke kurang dari
Indonesia ed. IV, dalam gelas ukur 60 mL
hal. 1089) bersih dan kering. (100%) dan
Volume diukur. tidak ada
lebih dari
satu wadah
yang kurang
dari 57 mL
(95%).

8 Efektivitas Penggunaan cara 3 Tidak ada endapan Tidak terjadi


pengawet inokulasi perubahan
antimikroba langsung, yaitu: sifat
(Farmakope mikroba organoleptik
Indonesia ed. IV, ditumbuhkan sediaan serta
hal. 854-855) dalam medium tidak
tertentu, terbentuk
ditambahkan endapan.
dengan zat
pengawet untuk
melihat
penghambatan
yang terjadi pada
pertumbuhan
mikroba tersebut.
Pertumbuhan
mikroba dengan
tambahan zat
pengawet dan
pertumbuhan
mikroba tanpa zat
pengawet
dibandingkan.

c. Tabel Hasil Pengamatan Sediaan Sirup Piperis betle Folia Infus

Waktu
No Warna Aroma Rasa Cap-locking Mikroba Kristal pH
Pengamatan
Berbau Tidak 5,17
Hari ke-1 Coklat
1. aroma Manis - - ada
(14-09-2017) jernih
sirih kristal
Bau Tidak 5,14
Hari ke-2 Coklat
2. aroma Manis - - ada
(15-09-2017) jernih
sirih kristal
Bau Tidak 5
Hari ke-3 Coklat
3. aroma Manis - - ada
(18-09-2017) jernih
sirih kristal

IX. PEMBAHASAN
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengektrasi simplisia nabati dengan air
pada suhu 90 0C selama 15 menit. Dalam pembuatan Piperis bettle folia infus ini
dibutuhkan 10% dalam sediaan. Hal ini berdasarkan Farmakope Edisi IV yaitu kecuali
dinyatakan lain, dan kecuali untuk simplisia yang tertera dibawah (Kulit kina, daun
digitalis, akar ipeka, daun kumiskucing, sekale kornutum, daun sena, dan temulawak ),
infus yang mengandung bahan berkhasiat keras dibuat dengan menggunakan 10%
simplisia. Pada percobaan dilakukan ekstraksi , bahan baku daun sirih segar yang
dipotong direbus dalam pembawa air, agar air akan masuk ke dalam sel-sel simplisia
dan membawa keluar bahan berkhasiatnya. Semakin lama perebusan maka hasil yang
didapatkan juga akan berkurang karena air yang menguap. Hasil pada percobaan pada
suhu 90 0C selama 15 menit didapatkan hasil ekstraksi 140 ml dari volume awal 250ml.
Hasil infus yang merupakan dari bahan alam merupakan sediaan yang sangat sukar
distandardisasi, tidak stabil dan sebagian akan dengan mudah ditumbuhi bakteri dan
jamur. Sediaan yang dibuat hanya tahan untuk 12 jam, sehinga dibutuhkan pengawet
untuk membuat sediaan tetap stabil dan tidak ditumbuhi mikroba. Pengawet yang kami
pilih, yaitu natrium benzoat dengan penambahan pada sediaan sebesar 1%. Natrium
benzoat memiliki syarat aktifitas antimikroba dengan pH dibawah 5. Pada sediaan
Piperis bettle folia memiliki pH sediaan 5,24 saat dicek pada proses IPC, sehingga perlu
adjust pH dengan HCl 0,1 N dengan sebelumnya dilakukan pengenceran terhadap HCl
12 N. Pada pemeriksaan pH sediaan akhir, diketahui pH sediaan adalah 4.96. Selama 3
hari pengamatan, pH sediaan diatas 5, yaitu hari pertama 5,17 , hari kedua 5,14 dan hari
ketiga 5. Meskipun sediaan menunjukkan pH diatas 5, tetapi tidak terlihat adanya
pertumbuhan mikroba dan tidak adanya endapan, hal ini dikarenakan fungsi infusum
yang sebagai antiseptik sehingga tidak ada pertumbuhan mikroba. Namun, karena
pengamatan hanya diamati secara makroskopik, tidak dapat dipastikan apakah sediaan
benar-benar bebas dari mikroba.
Rasa pedas pada daun sirih, maka harus ditutupi dengan penambahan pemanis yaitu
sirupus simpleks sebesar 25% dari sediaan. Sirupus simpleks dibuat dari 67% sukrosa
dan 33% air. Hasil sediaan selama penagamatan 3 hari tetap memberikan rasa manis dan
dapat menutupi rasa pedas sirih. Tetapi penggunaan pemanis sirupus simpleks dapat
membuat caps-locking pada leher botol, sehingga perlu ditambahkan anti capslocking,
yaitu sorbitol (70%) sebanyak 20% dari sediaan. Hasilnya pada pengamatan selama 3
hari tidak terjadi capslocking. Penambahan sorbitol (70%) dan sirupus simpleks dapat
meningkatkan viskositas pada sediaan sehingga tidak mudah tumpah saat dituang. Pada
Piperis bettle folia infusum tidak diberikan flavoring agent dan pewarna, karena bau
minyak atsiri ynag dihasilkan daun sirih sudah khas dan warna yang diberikan juga khas
serta terkesan memberikan warna alami produk herbal.
X. KESIMPULAN

Formula yang tepat untuk pembuatan infusum Piper betle folia adalah:

No Zat Jumlah Kegunaan


1 Piperis betle folia 10% Bahan aktif(antisariawan)
2 Sirupus Simpleks 25% Pemanis
3 Sorbitol 70% 20% Anti caps-locking
4 Natrium benzoat 1% Pengawet
5 HCl qs. Adjust pH
6 Aquadest ad 100% Pelarut utama

Hasil evaluasi pada sediaan infusum Piperis betle folia adalah:


a. Organoleptik : bau khas sirih, warna coklat bening alami, rasa
manis
b. Densitas : 1,097g/ml
c. Viskositas : 8,49 poise
d. Volume terpindahkan : 60 mL
e. pH : rentang 4.96-5.24 (rentang pH sediaan:4-5)
f. Efektifitas pengawet : tidak ada mikroba
g. Efektifitas anti-caplocking : tidak terjadi caps-locking

Berdasarkan hasil evaluasi diatas, dapat disimpulkan bahwa sediaan tidak


memenuhi syarat kelayakan.

XI. DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan RI. 1980. Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Jakarta:
Departemen Kesehatan.
Kemenkes, R.I.. 2010. Suplemen I Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Permadi, Adi. 2008. Membuat Kebun Tanaman Obat. Jakarta : Pustaka Bunda.

Rowe, Raymond C.2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 5th ed.,


London : Pharmaceutical Press.