Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN 1

STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

PASIEN STROKE NON HEMORAGIK

Oleh:

QORI NUR AZIZAH

I4B019008

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

PROFESI KEPERAWATAN

2019
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia yang diperkirakan akan
menempati posisi keenam tertinggi di dunia pada tahun 2020 cenderung
meningkatkan risiko terjadinya penyakit vaskuler. Salah satu penyakit
vaskuler berbahaya adalah stroke. Stroke merupakan gangguan neurologik
mendadak yang terjadi akibat gangguan aliran darah karena sumbatan atau
pecahnya pembuluh darah di otak. Stroke adalah penyebab kematian ketiga
terbesar setelah penyakit jantung koroner dan kanker, selain itu stroke juga
merupakan penyebab kecacatan tertinggi pada dewasa di dunia (Salim, 2015).
Pada Riskesdas (2013) prevalensi penderita stroke sebesar 7,0‰. Jumlah
ini mengalami peningkatan dari tahun 2007 dengan prevalensi sebesar 6,0‰.
Sedangkan prevalensi stroke di Provinsi Gorontalo tahun 2013 sebesar 8,3‰,
dan wilayah Kota Gorontalo menempati urutan pertama prevalensi stroke di
Provinsi Gorontalo, yakni sebesar 15,0‰. Stroke secara luas diklasifikasikan
ke dalam stroke non-hemoragik dan hemoragik (Goldszmidt MD dan Caplan
MD, 2013). Dimana persentase kejadian stroke non-hemoragik sekitar 85%,
lebih besar dari stroke hemoragik yang kejadiannya hanya sekitar 15%
(Wirawan, 2009).
Stroke non-hemoragik dapat mengakibatkan kerusakan bahkan sampai
kematian sel otak Kerusakan sel-sel otak dapat menyebabkan kecacatan
fungsi sensorik, motorik maupun kognitif (Yudawijaya, dkk. 2011). American
Heart Association (AHA) menyatakan gangguan fungsi kognitif merupakan
gangguan fungsi luhur otak berupa gangguan orientasi, perhatian,
konsentrasi, daya ingat dan bahasa, serta fungsi intelektual yang diperlihatkan
dengan adanya gangguan dalam berhitung, bahasa, daya ingat semantik (kata-
kata) dan pemecahan masalah (dalam Rahayu, dkk. 2014). Risiko terjadinya
gangguan kognitif pada pasien post stroke akan semakin meningkat bila
pasien tersebut juga memiliki beberapa faktor risiko yang salah satunya
pernah mengalami stroke sebelumnya dan stroke pertama kali saat usia lebih
dari 50 tahun (Arfa, 2013).
Tanda gejala dari pasien stroke non-hemoragik, antara lain hemiparesis,
hemiplegia, kesulitan berbicara atau kehilangan berbicara, kehilangan sensori,
serta inkontinensia urun atau retensi urin. Pada pasien stroke non-hemoragik
memerlukan perawatan dan pengawasan yang ketat terutama pada pasien
dengan penurunan kesadaran. Sehingga sangat diperlukan tindakan yang
sesuai dengan asuhan keperawatan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Smeltzer, 2002).
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah gangguan neurologik mendadak
yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui system
suplai arteri otak (Price, 2006). Stroke non hemoragik adalah sindroma klinis
yang awalnya timbul mendadak, progresi cepat berupa deficit neurologis
fokal atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung
menimbul kematian yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak
non straumatik (Mansjoer, 2000).
Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya iskemia akibat emboli
dan trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun
tidur atau di pagi hari dan tidak terjadi perdarahan. Namun terjadi iskemia
yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder
(Muttaqin, 2008).
B. Etiologi
Pada tingkatan makroskopik, stroke non hemoragik paling sering disebabkan
oleh emboli ekstrakranial atau trombosis intrakranial. Selain itu, stroke non
hemoragik juga dapat diakibatkan oleh penurunan aliran serebral. Pada
tingkatan seluler, setiap proses yang mengganggu aliran darah menuju otak
menyebabkan timbulnya kaskade iskemik yang berujung pada terjadinya
kematian neuron dan infark serebri.
1. Emboli
a. Embolus yang dilepaskan oleh arteria karotis atau vertebralis, dapat
berasal dari “plaque athersclerotique” yang berulserasi atau dari
trombus yang melekat pada intima arteri akibat trauma tumpul pada
daerah leher.
b. Embolisasi kardiogenik dapat terjadi pada:
- Penyakit jantung dengan “shunt” yang menghubungkan bagian
kanan dan bagian kiri atrium atau ventrikel.
- Penyakit jantung rheumatoid akut atau menahun yang
meninggalkan gangguan pada katup mitralis.
- Fibrilasi atrium
- Infarksio kordis akut
- Embolus yang berasal dari vena pulmonalis
- Kadang-kadang pada kardiomiopati, fibrosis endrokardial, jantung
miksomatosus sistemik.
c. Embolisasi akibat gangguan sistemik dapat terjadi sebagai:
- Embolia septik, misalnya dari abses paru atau bronkiektasis
- Metastasis neoplasma yang sudah tiba di paru.
- Embolisasi lemak dan udara atau gas N (seperti
penyakit “caisson”).
Emboli dapat berasal dari jantung, arteri ekstrakranial, ataupun
dari right-sided circulation (emboli paradoksikal). Penyebab terjadinya
emboli kardiogenik adalah trombi valvular seperti pada mitral stenosis,
endokarditis, katup buatan), trombi mural (seperti infark miokard, atrial
fibrilasi, kardiomiopati, gagal jantung kongestif) dan atrial miksoma.
Sebanyak 2-3 persen stroke emboli diakibatkan oleh infark miokard dan
85 persen di antaranya terjadi pada bulan pertama setelah terjadinya
infark miokard.
2. Trombosis
Stroke trombotik dapat dibagi menjadi stroke pada pembuluh darah
besar (termasuk sistem arteri karotis) dan pembuluh darah kecil
(termasuk sirkulus Willisi dan sirkulus posterior). Tempat terjadinya
trombosis yang paling sering adalah titik percabangan arteri serebral
utamanya pada daerah distribusi dari arteri karotis interna. Adanya
stenosis arteri dapat menyebabkan terjadinya turbulensi aliran darah
(sehingga meningkatkan resiko pembentukan trombus aterosklerosis
(ulserasi plak), dan perlengketan platelet.
Penyebab lain terjadinya trombosis adalah polisitemia, anemia
sickle sel, defisiensi protein C, displasia fibromuskular dari arteri
serebral, dan vasokonstriksi yang berkepanjangan akibat gangguan
migren. Setiap proses yang menyebabkan diseksi arteri serebral juga
dapat menyebabkan terjadinya stroke trombotik (contohnya trauma,
diseksi aorta thorasik, arteritis).
C. Patofisiologi
Infark ischemic cerebri sangat erat hubungannya
dengan aterosklerosis dan arteriosklerosis. Aterosklerosis dapat menimbulkan
bermacam-macam manifestasi klinis dengan cara:
1. Menyempitkan lumen pembuluh darah dan mengakibatkan insufisiensi
aliran darah.
2. Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya thrombus dan
perdarahan aterm.
3. Dapat terbentuk thrombus yang kemudian terlepas sebagai emboli.
4. Menyebabkan aneurisma yaitu lemahnya dinding pembuluh darah atau
menjadi lebih tipis sehingga dapat dengan mudah robek.
Faktor yang mempengaruhi aliran darah ke otak:
1. Keadaan pembuluh darah.
2. Keadan darah : viskositas darah meningkat, hematokrit meningkat, aliran
darah ke otak menjadi lebih lambat, anemia berat, oksigenasi ke otak
menjadi menurun.
3. Tekanan darah sistemik memegang peranan perfusi otak. Otoregulasi otak
yaitu kemampuan intrinsik pembuluh darah otak untuk mengatur agar
pembuluh darah otak tetap konstan walaupun ada perubahan tekanan
perfusi otak.
4. Kelainan jantung menyebabkan menurunnya curah jantung dan karena
lepasnya embolus sehingga menimbulkan iskhemia otak.
5. Suplai darah ke otak dapat berubah pada gangguan fokal (trombus, emboli,
perdarahan dan spasme vaskuler) atau oleh karena gangguan umum
(Hipoksia karena gangguan paru dan jantung). Arterosklerosis
sering/cenderung sebagai faktor penting terhadap otak. Trombus dapat
berasal dari plak arterosklerotik atau darah beku pada area yang stenosis,
dimana aliran darah akan lambat atau terjadi turbulensi.
D. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang timbul dapat berbagai macam tergantung dari berat
ringanya lesi dan juga topisnya. Namun ada beberapa tanda dan gejala yang
umum dijumpai pada penderita stroke non-hemoragik yaitu (Axanditya et al.
2015):
a. Gangguan motorik ditandai dengan tonus abnormal, penurunan kekuatan
otot, gangguan gerak volunter, gangguan keseimbangan, gangguan
koordinasi, gangguan ketahanan.
b. Gejala gangguan sensorik, seperti gangguan kinestetik dan gangguan
diskriminatif.
c. Gangguan kognitif
Pada gangguan kognitif akan muncul berbagai gangguan, yaitu atensi,
insiatif, memori, daya perencanaan, dan cara menyelesaikan suatu
masalah.
d. Gangguan kemampuan fungsional
Gangguan yang timbul berupa kegiatan sehari-hari, seperti mandi,
makan, ke toilet, berpakaian.

Dilihat dari bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat berupa:
Hemisfer kiri Hemisfer kanan
Mengalami hemiparese kanan H Hemiparese sebelah kiri tubuh
Perilaku lambat dan hati-hati Penilaian buruk
Kelainan lapan pandang kanan Mempunyai kerentanan terhadap sisi
Disfagia global kontralateral sehingga
Afasia memungkinkan terjatuh ke sisi yang
Mudah frustasi berlawanan tersebut
E. Pemeriksaan penunjang
Berikut beberapa pemeriksaan penunjung yang dapat dilakukan kepada
pasien stroke non-hemoragik (Axanditya et al. 2015).
1. Angiografi serebral
2. Menentukan penyebab stroke scr spesifik seperti perdarahan atau obstruksi
arteri.
3. Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT).
4. Untuk mendeteksi luas dan daerah abnormal dari otak, yang juga
mendeteksi, melokalisasi, dan mengukur stroke (sebelum nampak oleh
pemindaian CT).
5. CT scan
6. Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi
hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya
secara pasti.
7. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
8. Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan bsar
terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami
lesi dan infark akibat dari hemoragik.
9. EEG
10. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak
dari jaringan yang infark sehingga menurunya impuls listrik dalam
jaringan otak.
11. Pemeriksaan laboratorium
a. Lumbal pungsi: pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai pada
perdarahan yang masif, sedangkan pendarahan yang kecil biasanya
warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama.
b. Pemeriksaan darah rutin (glukosa, elektrolit, ureum, kreatinin)
c. Pemeriksaan kimia darah: pada strok akut dapat terjadi hiperglikemia.
d. gula darah dapat mencapai 250 mg di dalam serum dan kemudian
berangsur-rangsur turun kembali.
e. Pemeriksaan darah lengkap: untuk mencari kelainan pada darah itu
sendiri.
F. Pathway
G. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
MRS, nomor register, diagnose medis.
2. Keluhan utama
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara
pelo, dan tidak dapat berkomunikasi.
3. Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien
sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah
bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh
badan atau gangguan fungsi otak yang lain.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia,
riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat
anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.
5. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun
diabetes melitus.
H. Diagnosa keperawatan
1. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
aliran darah ke otak terhambat.
2. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi ke
otak.
3. Defisit perawatan diri: makan, mandi, berpakaian, toileting berhubungan
kerusakan neurovaskuler.
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler.
5. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi fisik.
I. Fokus intervensi
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi

1. Risiko ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Monitoring neurologis


perfusi jaringan otak b.d keperawatan diharapkan suplai
aliran darah ke otak aliran darah ke otak lancar 1. Monitor ukuran,
terhambat. dengan kriteria hasil: kesimetrisan, reaksi
dan bentuk pupil
Yaitu rentan mengalami Indikator 2. Monitor tingkat
penurunan sirkulasi Target kesadaran klien
jaringan otak yang dapat 3. Monitir tanda-tanda
mengganggu kesehatan. Tekanan darah sistol 5 vital
Tekanan darah diastole 5 4. Monitor keluhan nyeri
Faktor resiko: kepala, mual, muntah
Embolisme, - 5. Monitor respon klien
hiperkolesterolemia, terhadap pengobatan
hipertensi, penyakit 6. Hindari aktivitas jika
neurologis TIK meningkat
7. Observasi kondisi
fisik klien

Terapi oksigen

1. Bersihkan jalan nafas


dari sekret
Domain 4 2. Pertahankan jalan
nafas tetap efektif
No 00201 3. Berikan oksigen
sesuai intruksi
Kelas 4 Respon
4. Monitor aliran
kardivaskuler/pulmonal
oksigen, kanul oksigen
dan sistem humidifier
5. Beri penjelasan
kepada klien tentang
pentingnya pemberian
oksigen
6. Observasi tanda-tanda
hipo-ventilasi
7. Monitor respon klien
terhadap pemberian
oksigen
8. Anjurkan klien untuk
tetap memakai
oksigen selama
aktifitas dan tidur

2 Hambatan komunikasi Setelah dilakukan tindakan 1. Mendengar aktif


verbal b.d penurunan keperawatan, diharapkan klien 2. Pengurangan kecemasan
sirkulasi ke otak. mampu mengekspresikan 3. Managemen demensia
Yaitu penurunan, komunikasi dengan kriteria 4. Sentuhan
perlambatan atau ketiadaan hasil: 5. Terapi validasi
kemampuan untuk 6. Menghadirkan diri.
menerima, memproses, Indikator
mengirim atau Target
menggunakan simbol. Menggunakan Bahasa lisan
BK: 5

Sulit bicara, sulit Kejelasan berbicara


mengungkapkan kata-kata, 5
tidak ada kontak mata,
pelo.
-
Domain 5 Persepsi/kognisi

No 00051

Kelas 5 Komunikasi

3 Defisit perawatan diri; Setelah dilakukan tindakan 1 Kaji kamampuan klien


mandi keperawatan, diharapkan untuk perawatan diri
kebutuhan mandiri klien 2 Pantau kebutuhan klien
Yaitu hambatan terpenuhi, dengan kriteria hasil: untuk alat-alat bantu
kemampuan untuk dalam makan, mandi,
melakukan atau Indikator berpakaian dan
menyelesaikan aktivitas Target toileting
secara mandiri. 3 Berikan bantuan pada
Mencuci badan
5 klien hingga klien
sepenuhnya bisa
BK: ketidakmampuan - mandiri
membasuh tubuh, 4 Berikan dukungan pada
mengakses kamar mandi, klien untuk
mengambil perlengkapan menunjukkan aktivitas
mandi, mengatur air mandi, normal sesuai
mengeringkan tubuh, dan kemampuannya
menjangkau sumber air. 5 Libatkan keluarga
dalam pemenuhan
Domain 4
kebutuhan
No 00108 perawatan diri klien

Kelas Perawatan diri.

4 Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan 1. Ajarkan klien untuk


b.d kerusakan keperawatan selama, diharapkan latihan rentang gerak
neurovaskuler klien dapat melakukan aktif pada sisi
pergerakan fisik dengan kriteria ekstrimitas yang
Yaitu keterbatasan gerakan hasil : sehat
fisik satu atau lebih 2. Ajarkan rentang
ekstremitas secara mandiri Indikator gerak pasif pada sisi
dan terarah. Target ekstrimitas yang
parese / plegi dalam
BK: gerakan spastik, Gerakan otot toleransi nyeri
istabilitas postur, tremor 5 3. Topang ekstrimitas
akibat bergerak, dengan bantal untuk
keterbatasan rentang gerak. Gerakan sendi
5 mencegah atau
mangurangi bengkak
4. Ajarkan ambulasi
Domain 4 sesuai dengan
Aktivitas/istirahat tahapan dan
kemampuan klien
No 00085
5. Motivasi klien untuk
Kelas 2 aktivitas/olahraga melakukan latihan
sendi seperti yang
disarankan
6. Libatkan keluarga
untuk membantu
klien latihan sendi

5 Resiko kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan 1. Beri penjelasan


kulit b.d immobilisasi fisik perawatan selama, diharapkan pada klien tentang:
tidak terjadi kerusakan integritas resiko adanya luka
Yaitu rentan terhadap kulit dengan kriteria hasil: tekan, tanda dan
cedera pada membrane gejala luka tekan,
mukosa, kornea, system Indikator tindakan
integument ligament, fascia Target pencegahan agar
muscular, otot, tendon, tidak terjadi luka
tulang, kartilago, kapsul Integritas kulit 5
tekan)
sendi, yang mengganggu Tekstur 5 2. Berikan masase
kesehatan. sederhana
Faktor risiko:faktor a. Ciptakan
mekanik, gangguan lingkungan yang
metabolism, gangguan nyaman
sirkulasi, gangguan sensasi. b. Gunakan lotion,
minyak atau bedak
Domain 11 untuk pelicin
c. Lakukan masase
No 00248
secara teratur
Kelas 2 cedera fisik. d. Anjurkan klien
untuk rileks selama
masase
e. Jangan masase pada
area kemerahan utk
menghindari
kerusakan kapiler
f. Evaluasi respon
klien terhadap
masase
3 3. Lakukan alih baring
a. Ubah posisi
klien setiap 30
menit- 2 jam
b. Pertahankan
tempat tidur
sedatar
mungkin untuk
mengurangi
kekuatan
geseran
c. Batasi posisi
semi fowler
hanya 30 menit
d. Observasi area
yang tertekan
(telinga, mata
kaki, sakrum,
skrotum, siku,
ischium,
skapula)
4. Berikan manajemen
nutrisi
a. Kolaborasi
dengan ahli gizi
b. Monitor intake
nutrisi
c. Tingkatkan
masukan
protein dan
karbohidrat
untuk
memelihara ke-
seimbangan
nitrogen positif
d. Berikan
manajemen
tekanan
e. Monitor kulit
adanya
kemerahan dan
pecah-pecah
f. Beri pelembab
pada kulit yang
kering dan
pecah-pecah
g. Jaga sprei
dalam keadaan
bersih dan
kering
h. Monitor
aktivitas dan
mobilitas klien
i. Beri bedak atau
kamper spritus
pada area yang
tertekan
DAFTAR PUSTAKA

Axanditya, et al. 2014, ‘Hubungan Faktor Risiko Stroke Non Hemoragik Dengan
Fungsi Motorik’, Thesis. Program Studi Kedokteran. Universitas
Diponegoro
Goldszmidt, A. J. & Caplan, L. R. 2013. Stroke Essensial, 2nd edition. PT.
Indeks: Jakarta.
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI.

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4.


Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Salim, A. W. 2015,’Fibrilasi Atrium Sebagai Faktor Risiko Kejadian Stroke Non
Hemoragik Di Bagian Saraf RSUD DR Soedarso Pontianak’ Skripsi.
Program Studi Kedokteran. Universitas Tanjungpura
Smeltzer, et al. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth Edisi 8 Vol 2. alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono,
Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta: EGC