Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori

2.1.1 Pijat Oksitosin

2.1.1.1 Definisi Pijat Oksitosin

Pijat oksitosin merupakan suatu tindakan untuk mengatasi ketidaklancaran

produksi ASI dengan cara pemijatan pada tulang belakang (vertebrata)

sampai tulang kosta ke lima dan ke enam dan pijatan itu juga merupakan

usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan hormon oksitosin setelah ibu

melahirkan (Roesli & Yohmi, 2009 dalam Delima-Arni dan Rosya, 2016).

Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang belakang mulai dari

nervus ke lima-enam sampai scapula yang akan mempercepat kerja saraf

parasimpatis untuk menyampaikan perintah ke otak bagian belakang

sehingga oksitosin keluar (Suherni, 2008; Suradi, 2009; Hamranani 2010

dalam Khairani-Komariah & Mardiah, 2012). Pijat oksitosin adalah

pemijatan pada sepanjang kedua sisi tulang belakang. Pijat ini dilakukan

untuk merangsang refleks oksitosin atau refleks pengeluaran ASI. Ibu yang

menerima pijat oksitosin akan merasa lebih rileks (Monika, 2014). Dapat

disimpulkan pijat oksitosin merupakan cara pemijatan pada tulang belakang

dimulai dari tulang kosta ke lima-enam sampai scapula yang bertujuan

merangsang refleks oksitosin atau refleks pengeluaran ASI.

8
9

2.1.1.2 Faktor- faktor yang mempengaruhi keberhasilan pijat oksitosin

Faktor- faktor yang mempengaruhi keberhasilan pijat oksitosin

Astutik (2014) dalam Delima-Arni & Rosya (2016) adalah sebagai

berikut:

1. Mendengarkan suara bayi yang dapat memicu aliran yang

memperlihatkan bagaimana produksi susu dapat dipengaruhi secara

psikologi dan kondisi lingkungan saat menyusui.

2. Rasa percaya diri sehingga tidak muncul persepsi tentang

ketidakcukupan suplai ASI, mendekatkan diri dengan bayi.

3. Relaksasi yaitu latihan yang bersifat merilekskan maupun menenangkan

seperti meditasi, yoga, dan relaksasi progresif dapat membantu

memulihkan ketidakseimbangan saraf dan hormon dan memberikan

ketenangan alami, sentuhan dan pijatan ketika menyusui, dukungan

suami dan keluarga, minum kopi karena mengandung kafein,

menghangatkan payudara, merangsang puting susu yaitu dengan

menarik dan memutar puting secara perlahan dengan jari-jarinya.

2.1.1.3 Tujuan pijat oksitosin

Tujuan pijat oksitosin adalah sebagai berikut Hanum-Purwanti &

Khumairoh (2015); Delima-Arni & Rosya (2016):

1. Meningkatkan hormon oksitosin yang dapat menenangkan ibu,

sehingga ASI pun otomatis keluar (Yohmi&Roesli, 2009 dalam

Hanum-Purwanti & Khumairoh, 2015).


10

2. Mempengaruhi faktor psikologis sehingga meningkatkan relaksasi dan

tingkat kenyamanan pada ibu, sehingga memicu produksi hormon

oksitosin dan mempengaruhi produksi ASI (Hanum-Purwanti &

Khumairoh, 2015).

3. Meningkatkan produksi ASI (Delima-Arni & Rosya, 2016).

Menurut Monika (2014) tujuan dalam dilakukan pemijatan

oksitosin adalah merangsang refleks oksitosin atau refleks pengeluaran

ASI. Ibu yang menerima pijat oksitosin akan merasa lebih rileks.

2.1.1.4 Manfaat Pijat Oksitosin

Menurut Depkes RI (2007) dalam Monika (2014), selain

memberikan kenyamanan pada ibu dan merangsang refleks oksitosin, pijat

oksitosin juga memiliki manfaat lain, yaitu sebagai berikut:

1. Mengurangi pembengkakan payudara (engorgement)

2. Mengurangi sumbatan ASI (plugged / milk duct)

3. Membantu mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit.

Efek pijat oksitosin adalah sel kelenjar dipayudara mensekresikan

ASI sehingga bayi mendapatkan ASI sesuai dengan kebutuhan (Hanum-

Purwanti & Khumairoh, 2014).

2.1.1.5 Langkah- langkah melakukan pijat oksitosin

Langkah langkah melakukan pijat oksitosin sebagai berikut

(Depkes RI, 2007, hlm.44):

1. Melepaskan baju ibu bagian atas.


11

2. Ibu miring ke kanan maupun ke kiri, lalu memeluk bantal, namun ada

dua posisi alternative yaitu: boleh telungkup di meja atau sandaran di

kursi.

3. Memasang handuk.

4. Melumuri kedua telapak tangan dengan minyak atau baby oil.

5. Memijat sepanjang kedua sisi tulang belakang ibu dengan

menggunakan dua kepala tangan, dengan ibu jari menunjuk ke depan.

Area tulang belakang leher, cari daerah dengan tulang yang paling

menonjol, namanya processus spinosus/cervical vertebrae.

6. Menekan kuat-kuat kedua sisi tulang belakang membentuk gerakan-

gerakan melingkar kecil-kecil dengan kedua ibu jarinya.

7. Pada saat bersamaan, memijat kedua sisi tulang belakang ke arah

bawah, dari leher ke arah tulang belikat, selama 2 - 3 menit.

8. Mengulangi pemijatan hingga 3 kali.

9. Membersihkan punggung ibu dengan waslap air hangat dan dingin

secara bergantian.

Menurut Monika (2014) berikut ini langkah-langkah melakukan

pijat oksitosin.

Untuk ibu:

1. Duduklah dengan nyaman sambil bersandar ke depan, bisa dengan cara

melipat lengan di atas meja.

2. Letakkan kepala di atas lengan.

3. Lepas bra dan baju bagian atas. Biarkan payudara tergantung lepas.
12

Untuk pemijat:

1. Lumuri kedua telapak tangan dengan sedikit minyak atau baby oil.

2. Kepalkan kedua tangan dengan ibu jari menunjuk ke depan dimulai

dari bagian tulang yang menonjol di tengkuk (lihat tanda panah pada

gambar). Turun sedikit ke bawah kira-kira dua ruas jari dan geser ke

kanan ke kiri, setiap kepalan tangan sekitar dua ruas jari.

3. Dengan menggunakan kedua ibu jari, mulailah memijat membentuk

gerakan melingkar kecil menuju tulang belikat atau daerah di bagian

batas bawah bra ibu.

4. Lakukan pijat ini sekitar 3 menit dan dapat diulangi sebanyak 3 kali.

5. Setelah selesai memijat sambil membersihkan sisa baby oil, kompres

pundak-punggung ibu dengan handuk hangat.

Gambar 2.1 Pijat Oksitosin

(Depkes RI, 2007) (Monika, 2014)


13

2.1.2 Suami

2.1.2.1 Pengertian Suami

Suami adalah orang yang paling penting bagi seorang wanita

hamil. Banyak bukti yang menunjukan bahwa wanita yang diperhatikan

dan dikasihi oleh pasangannya selama kehamilan akan menunjukkan lebih

sedikit gejala emosi dan fisik, lebih mudah melakukan penyesuaian diri

selama kehamilan dan sedikit resiko komplikasi persalinan. Hal ini

diyakini karena ada dua kebutuhan utama yang ditunjukkan wanita selama

hamil yaitu menerima tanda-tanda bahwa ia dicintai dan dihargai serta

kebutuhan akan penerimaan pasangannya terhadap anaknya.

(Rukiyah,2014)

Seorang suami mempunyai peran yang sangat baik dalam

membantu ibu mencapai keberhasilan menyusui bayinya. Suami dan

keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan ketenangan,

kenyamanan dan kasih sayang. Kebahagiaan, kenyamanan, dan

ketenangan yang dirasakan ibu akan meningkatkan produksi hormon

oksitosin sehingga ASI dapat mengalir dengan lancar (Kemenkes RI,

2012).

Suami merupakan faktor pendukung pada kegiatan yang bersifat

emosional dan psikologis yang diberikan kepada ibu menyusui.Sekitar

80% sampai 90% produksi ASI ditentukan oleh keadaan emosi ibu yang

berkaitan dengan refleks oksitosin ibu berupa pikiran, perasaan dan


14

sensasi. Apabila hal tersebut meningkat akan memperlancar produksi ASI

(Ramadani & Hadi, 2010).

Dapat disimpulkan suami merupakan orang paling penting yang

memiliki peran untuk mendukung dalam membantu ibu mencapai

keberhasilan menyusui bayinya.

2.1.2.2 Peran Suami

Peran suami dalam mendukung selama memberikan ASI diantara

lain yakni menjadikan seorang istri merasa dicintai, dan diperhatikan.

Maka akan muncul emosi positif yang akan meningkatkan produksi

hormon oksitosin, sehingga produksi ASI pun lancar. Hal tersebut dapat

diwujudkan dengan memberikan sentuhan lembut pada punggung ibu

pada saat menyusui, memijat punggung ibu ketika lelah menyusui akan

memberi kenyamanan pada ibu, dan secara psikologis perasaan tersebut

membantu kelancaran proses keluarnya ASI (Yusari, 2016 dalam

Nurasiaris, 2018).

2.1.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi peran

Peranan dipengaruhi banyak hal, menurut Yohana (2008) dalam

Nurasiaris (2018) beberapa faktor yang mempengaruhi peran adalah

sebagai berikut:

1. Umur

Menurut Wawan & Dewi (2010) mengatakan bahwa seseorang yang

semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang

akan lebih matang dalam fikiran.


15

2. Pendidikan

Menurut Mubarak (2010) adanya informasi baru mengenai suatu hal

memberikan landasan kognitif bagi sikap terhadap suatu hal, apabila

cukup kuat efektif dalam menilai suatu hal, sehingga terbentuknya

arah ke sikap tertentu.

3. Pengetahuan

Menurut Wawan & Dewi (2010) sistem sosial budaya ada pada

masyarakat dapat mempengaruhi pengetahuan dalam menerima

informasi.

4. Motivasi

Motivasi adalah dorongan dasar untuk menggerakan seseorang

bertingkah laku (Hamzah, 2011).

5. Ekonomi

Kekurangan pendapatan membawa konsekuensi buruk yang

menyebabkan ketahanan pangan akan terganggu (Santoso, 2004).

2.1.3 Pendidikan Kesehatan

2.1.3.1 Pengertian Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan merupakan proses perubahan perilaku secara

terencana pada individu, kelompok, atau masyarakat untuk dapat lebih

mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat. Pendidikan kesehatan

merupakan proses belajar pada individu, kelompok, atau masyarakat dari

tidak tahu dan dari tidak mampu mengatasi masalah kesehatan sendiri

menjadi mandiri (Suliha, 2013).


16

Pendidikan kesehatan dalam arti pendidikan secara umum adalah

segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik

individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa

yang diharapkan oleh pelaku promosi kesehatan. Batasan ini tersirat

unsur-unsur input (sasaran dari pendidik dan pendidik dari pendidikan),

proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan

output (melakukan apa yang diharapkan). Hasil yang diharapkan dari

suatu promosi kesehatan atau pendidikan kesehatan adalah perilaku

kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif

oleh sasaran dari promosi kesehatan (Notoatmodjo, 2012).

Dapat disimpulkan pendidikan kesehatan merupakan segala upaya

dalam mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau

masyarakat dari tidak tahu dan tidak mampu mengatasi masalah

kesehatan sendiri menjadi memahami, memelihara, dan mampu

mengatasi masalah kesehatan secara mandiri.

2.1.3.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan

Tujuan pendidikan kesehatan secara umum adalah mengubah

pengetahuan, sikap dan keterampilan individu atau masyarakat di bidang

kesehatan yang dapat dirinci sebagai berikut: menjadikan kesehatan

sebagai sesuatu yang bernilai dimasyarakat, menolong individu agar

mampu secara mandiri atau berkelompok mengadakan kegiatan untuk

mencapai tujuan hidup sehat dan mendorong pengembangan dan


17

penggunaan secara tepat sarana pelayanan kesehatan yang ada (Maulana,

2009).

2.1.3.3 Metode pendidikan kesehatan

1. Metode pendidikan individual (perorangan)

a. Bimbingan dan penyuluhan (Guidance and Counceling)

Dengan cara ini dapat melakukan kontak antara klien dengan

petugas kesehatan lebih intensif. Setiap masalah yang dihadapai

oleh klien dapat dibantu penyelesaiannya. Sampai akhirnya

klien tersebut dengan sukarela, berdasarkan kesadaran dan

penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut atau

berperilaku baru (Fitriani, 2011).

b. Wawancara (Interview)

Wawancara merupakan bagian dari bimbingan dan

penyuluhan.Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien

untuk menggali informasi apakah klien dapat menerima

perubahan dan tertarik atau tidak terhadap perubahan. Untuk

mengetahui apakah perilaku yang sudah atau akan diadopsi itu

mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila

belum, dapat dilakukan penyuluhan yang lebih mendalam

kembali (Fitriani, 2011).

2. Metode Kelompok

Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus diingat

besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dan sasaran.


18

Untuk kelompok besar, metodenya berbeda dengan metode untuk

kelompok kecil. Efektifitas suatu metode akan tergantung pada

besarnya sasaran pendidikan. (Notoatmodjo, 2014 dalam Nisak 2015).

a. Kelompok besar

Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta

penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok

besar ini antara lain: ceramah dan seminar.

1) Ceramah

Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun

rendah.

2) Seminar

Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan

pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian dari

suatu penyajian dari satu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik

yang penting dan dianggap berita hangat di masyarakat.

(Notoatmodjo, 2014).

b. Kelompok kecil

1) Diskusi kelompok

Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan

pancingan-pancingan yang dapat berupa pertanyaan atau kasus

yang sehubungan dengan topik yang akan dibahas. Agar terjadi

diskusi yang hidup maka pemimpin kelompok harus mengarahkan

dan mengatur jalannya diskusi sehingga semua orang dapat


19

kesempatan berbicara dan tidak menimbulkan dominasi dari salah

seorang peserta (Suliha, 2013).

2) Curah pendapat (Brain Storming)

Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok.

Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok hanya berbeda

pada permulaanya pempimpin kelompok memancing dengan satu

masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban-jawaban

atau tanggapan (curah pendapat). Tanggapan atau jawaban-

jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan

tulis (Suliha, 2013).

3) Bola salju (Snow Balling)

Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang)

kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah (Fitriani,

2011).

4) Kelompok-kelompok kecil (Buzz group)

Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok- kelompok kecil

yang kemudian diberi suatu permasalahan yang sama atau tidak

sama dengan kelompok lain (Notoatmodjo, 2014 dalam Cahya

2015).

5) Bermain peran (Role Play)

Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai

pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan, misalnya

sebagai dokter puskesmas, yang memperagakan misalnya interaksi/


20

berkomunikasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari

(Notoatmodjo, 2014 dalam Nisak 2015).

6) Permainan simulasi (Simulation game)

Metode ini merupakan gabungan antara role play dengan diskusi

kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk

permainan seperti permainan monopoli (Notoatmodjo, 2014 dalam

Cahya 2015).

3. Metode massa

1) Ceramah umum (Public speaking)

2) Pada cara-cara tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan Nasional,

menteri kesehatan atau pejabat kesehatan lainnya berpidato di

hadapan rakyat untuk menyampaikan pesan – pesan kesehatan.

3) Berbincang-bincang (Talk show) tentang kesehatan melalui media

elektronik, baik TV maupun radio, pada hakikatnya merupakan

bentuk pendidikan kesehatan massa.

4) Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas

kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan di

suatu media massa juga merupakan pendekatan massa.

5) Sinetron Dokter Sartika dalam acara TV pada tahun 1990-an juga

merupakan bentuk pendekatan pendidikan kesehatan massa.

6) Tulisan – tulisan di majalah atau Koran, baik dalam bentuk artikel

maupun Tanya jawab/ konsultasi tentang kesehatan dan penyakit

juga merupakan bentuk pendekatan pendidikan kesehatan massa.


21

7) Billboard yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster, dan

sebagainya dapat merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.

Contoh: Billboard “Ayo ke Posyandu.”

(Notoatmodjo, 2014 dalam Caesar 2018).

4. Metode Demonstrasi

Metode demontrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan

memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu

proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau sekedar tiruan.

Sebagai metode penyajian demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan

secara lisan oleh guru, walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa

hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat

menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi

pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung

keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuri (Sanjaya,

2014).

Keuntungan metode demonstrasi yaitu lebih menyakinkan

masyarakat karena dapat segera ditiru dan dibuktikan, tidak sekedar

memberikan berita yang didengar dan dibaca saja. Kerugian metode

demonstrasi yaitu memerlukan waktu dan biaya besar dalam

mempersiapkan bahan yang diperlukan, karena menggunakan benda

dan bahan yang sesungguhnya. (Sanjaya, 2014).


22

2.1.4 Pengetahuan

2.1.4.1 Definisi Pengetahuan

Pengertian pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil

pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil daripada: kenal,

sadar, insaf, mengerti dan pandai (Salam, 2008).

Pengetahuan menurut Reber (2010) dalam makna kolektifnya,

pengetahuan adalah kumpulan informasi yang dimiliki oleh seseorang atau

kelompok, atau budaya tertentu. Sedangkan secara umum pengetahuan

menurut Reber (2010) adalah komponen-komponen mental yang

dihasilkan dari semua proses apapun, entah lahir dari bawaan atau dicapai

lewat pengalaman. Menurut Dulistiawati (2013) dalam Indahyani (2015)

pengetahuan adalah faktor penentu bagaimana manusia berpikir, merasa,

dan bertindak.

Berdasarkan beberapa definisi tentang pengetahuan dapat

disimpulkan bahwa pengetahuan adalah kumpulan informasi yang didapat

dari pengalaman atau sejak lahir yang menjadikan seseorang itu tahu akan

sesuatu. Proses tahu tersebut diperoleh dari proses kenal, sadar, insaf,

mengerti dan pandai (Fauziyah, 2015).


23

2.1.4.2 Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoadmojo (2010) dan Maulana (2009) pengetahuan

seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkatan yang

berbeda- beda satu dengan yang lain. Secara garis besar dibagi menjadi 6

antara lain:

1. Tahu (know)

Tahu diartikan hanya recail (memanggil) memori yang telah ada

sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Oleh sebab itu tahu merupakan

tingkat pengetahuan yang paling rendah.

2. Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut,

tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat

menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

3. Aplikasi (application)

Aplikasi dapat diartikan apabila seseorang yang telah memahami objek

tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus

dapat menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui

tersebut.

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan sesorang untuk menjabarkan dan

memisahkan, dan mencari hubungan antara komponen-komponen yang

terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa

pengetahuan seseorang telah sampai pada tingkat analisis adalah apabila


24

orang tersebut telah dapat membedakan, atau mengelompokkan,

membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan seseorang untuk

merangkum atau meletakan dalam satu hubungan yang logis dari

komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain

sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari

formulasi-formulasi yang telah ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan

justifikasi atau penelitian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri.

2.1.4.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Wawan & Dewi (2010) ada beberapa faktor- faktor yang

mempengaruhi pengetahuan yaitu:

1. Faktor internal

Faktor internal dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang pada

orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak

dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin

mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin

banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang


25

tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap

seseorang terhadap penerimaan, informasi dan nilai-nilai yang baru

diperkenalkan.

b. Pekerjaan

Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk

menunjang kehidupannya dengan mencari nafkah. Bekerja bagi

siapapun akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarganya.

c. Umur

Usia adalah umur individu yang terhitung saat lahir sampai

berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan

seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.

(Wawan & Dewi, 2010).

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Faktor lingkungan

Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar

manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan

dan perilaku orang atau kelompok (Wawan & Dewi, 2010 dalam

Fitriani 2011).

b. Sosial Budaya

Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat

mempengaruhi perkembangan dari sikap dalam menerima informasi

(Wawan & Dewi, 2010 dalam Fitriani 2011).


26

2.1.4.4 Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek

penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui

atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas (Arikunto,

2009).

Penilaian pengetahuan dapat dilihat dari setiap item pertanyaan

yang akan diberikan peneliti kepada responden. Kategori pengetahuan

dapat ditentukan dengan kriteria:

1. Pengetahuan baik : jika jawaban benar 76-100%

2. Pengetahuan cukup : jika jawaban benar 56-75%

3. Pengetahuan kurang : jika jawaban benar ≤ 55%

(Arinkunto, 2009).

2.1.5 Keterampilan

2.1.5.1 Definisi Keterampilan

Keterampilan adalah keahlian, kemampuan berlatih, fasilitas dalam

melakukan sesuatu, ketangkasan dan kebijaksanaan. Keterampilan

mencakup pengalaman dan praktik dan memperoleh keterampilan

mengarah ketindakan sadar dan otomatis keterampilan merupakan praktik

atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan materi

pendidikan yang diberikan (Cahya, 2015).

Keterampilan adalah perilaku yang terkait dengan tugas, yang bisa

dikuasai melalui pembelajaran, dan bisa ditingkatkan melalui pelatihan


27

dan bantuan orang lain. Keterampilan merujuk pada kemampuan

seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. (Nisak, 2015)

Dapat disimpulkan keterampilan merupakan perilaku, praktik atau

tindakan dan kemampuanseseorang untuk melakukan suatu tindakan yang

diperoleh melalui pembelajaran.

2.1.5.2 Indikator – Indikator dalam Keterampilan

Menurut Nisak (2015) adapun indikator-indikator pada

keterampilan adalah sebagai berikut:

1. Concern for order (CO) merupakan dorongan dalam diri seseorang

untuk mengurangi ketidakpastian di lingkungan sekitarnya, khususnya

berkaitan dengan pengaturan kerja, instruksi, informasi dan data.

2. Intiative (INT) merupakan dorongan bertindak untuk melebihi yang

dibutuhkan atau yang dituntut dari pekerjaan, melakukan sesuatu tanpa

menunggu perintah lebih dahulu. Tindakan ini dilakukan untuk

memperbaiki atau meningkatkan hasil pekerjaan atau menghindari

timbulnya masalah atau menciptakan peluang baru.

3. Impact and influence (IMP) merupakan tindakan membujuk,

menyakinkan, mempengaruhi atau mengesankan sehingga orang lain

mau mendukung agendanya.

4. Information seeking (INFO) merupakan besarnya usaha tambahan yang

dikeluarkan untuk mengumpulkan informasi lebih banyak.


28

2.1.5.3 Tindakan Praktik

Tindakan praktik atau tindakan menurut Notoadmodjo (2007)

dalam Cahya (2015) terdiri dari :

1. Persepsi (perception)

Praktik tingkat pertama adalah persepsi yaitu mengenal dan memilih

berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

2. Respon terpimpin (guided response)

Indikator praktik tingkat kedua adalah respon terpimpin yaitu sesorang

dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan

contoh.

3. Mekanisme (mechanism)

Peserta didik dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis

atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.

4. Adaptasi (adaptation)

Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang

dengan baik. Tindakan atau keterampilan itu sudah dimodifikasi

sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.


29

2.5.1.4 Pengukuran Keterampilan

Menurut Wirawan (2002) dalam Cahya (2015) mengukur tingkat

keterampilan digunakan alat ukur lembar observasi. Lembar observasi diisi

oleh peneliti. Pertanyaan terdiri dari 6 item dengan mengunakan skala

Guttman jika melakukan tindakan dinilai 1 dan jika tidak melakukan

dinilai 0. Dengan hasil ukur sebagai berikut:

1. Memadai: apabila skor 6-5

2. Cukup: apabila skor 4-3

3. Kurang memadai: apabila skor 2-1


30

2.2 Kerangka Teori


Faktor yang
Faktor yang Peran suami mempengaruhi
mempengaruhi dalam pengetahuan:
peran: melakukan
pijat oksitosin 1. Faktor internal:
1. Umur a. Pendidikan
2. Pendidikan b. Pekerjaan
3. Pengetahuan c. Umur
4. Motivasi 2. Faktor
5. Ekonomi Eksternal:
a. Lingkungan
Pengetahuan b. Sosial
dan budaya
Keterampilan
Faktor yang suami
mempengaruhi Faktor yang
keberhasilan pijat mempengaruhi
oksitosin: Keterampilan:
1. Makanan
2. Ketenangan jiwa 1. Persepsi
dan pikiran 2. Respon
3. Faktor terpimpin
aktivitas/istirahat 3. Mekanisme
4. adaptasi
Pendidikan
Kesehatan
Metode
Demonstrasi

Poster Leaflet Booklet Flip Chat

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Monika (2014), Notoatmodjo (2014), Arikunto (2009), Cahya (2015), Nisak


(2015)

Keterangan :

Variabel yang diteliti

Variable yang tidak diteliti


31

2.3 Kerangka konsep

Kerangka konseptual merupakan kerangka fikir mengenai

hubungan antar variable-variabel yang terlibat dalam penelitian atau

hubungan antar konsep dengan konsep lainnya dari masalah yang diteliti

sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada studi kepustakaan (Nasir dkk,

2011). Kerangka konseptual ini menjelaskan tentang variable-variabel

yang dapat diukur dalam penelitian ini. Kerangka konsep ini meliputi dua

komponen yaitu:

Variabel Independen Variabel dependen

Pengetahuan dalam pijat


Pendidikan oksitosin
kesehatan
Keterampilan dalam pijat
oksitosin

Gambar 2.2 Kerangka konsep

2.4 Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau

pertanyaan penelitian (Nursalam, 2014). Hipotesis dalam penelitian ini

adalah:

2.4.1 Ho = Tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang pijat

oksotosin terhadap pengetahuan dan keterampilan suami.

2.4.2 Ha = Ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang pijat oksotosin

terhadap pengetahuan dan keterampilan suami.


32

2.5 Keaslian Penelitian

Berdasarkan pengetahuan peneliti, belum pernah dilakukan penelitian

yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu tentang

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Pijat Oksotosin Terhadap

Pengetahuan dan Keterampilan Suami di Wilayah Kerja Puskesmas Gajahan

Surakarta. Penelitian lain yang berkaitan dengan pijat oksitosin yaitu :

Tabel 2.1 Keaslian Penelitian

No Nama pengarang Judul penelitian Metode penelitian Hasil penelitian

1. Leli Khairani, Pengaruh Pijat Quasi eksperimen Hasil dari


Maria Komariah, Oksitosin dengan desain post penelitian ini
Wiwi Mardiah Terhadap Involusi test only teridentifikasi
(2012) Uterus Pada Ibu pengaruh oksitosin
Post Partum Di terhadap involusi
Ruang Post uterus pada ibu
Partum Kelas III post partum di
RSHS Bandung Ruang Post Partum
Kelas III RSHS
Bandung, melalui
uji statistik Chi-
square dengan nilai
p < 0.05.
2. Sri Mukhodim Efektivitas Pijat Metode penelitian Mayoritas produksi
Faridah Hanum, Oksitosin ini menggunakan ASI pada ibu post
Yanik Purwanti, Terhadap desai quasi partum normal
Ike Rohmah Produksi ASI eksperiment dengan adalah cukup dan
Khumairoh rancangan ada perbedaan
(2015) penelitian semu antara produksi
atau dengan ASI ibu post
rancangan non partum setelah
randomized posttest mendapatkan pijat
without control oksitosin dan tidak.
group desain
33

3. Septi Komala Pengaruh Peran pre eksperimental Ada pengaruh


Nurasiaris (2018) Suami Dalam dengan rancangan peran suami dalam
Melakukan Pijat One Group Pretest melakukan pijat
Oksitosin Posttest oksitosin terhadap
Terhadap kelancaran ASI
Kelancaran ASI pada ibu nifas di
Pada Ibu Nifas Wilayah Kerja
(Di Wilayah Ponkesdes Grogol
Kerja Ponkesdes Kecamatan Diwek
Desa Grogol Kec. Kabupaten
Diwek, Kab. Jombang.
Jombang)
4. Aswin Fauziah Hubungan Antara Metode Penelitian Terdapat hubungan
(2013) Pengetahuan Dan ini adalah yang signifikan
Sikap Suami observasional antara pengetahuan
Tentang analitik dengan dan sikap suami
Pemberian Asi rancangan cross tentang pemberian
Eksklusif sectional. ASI eksklusif.

5. Neni Ampi Juwita Pemberian Quasi eksperiment Hasil penelitian


Sirait, Yeni Informasi pre and post test menunjukkan
Rustina, Fajar Tri Meningkatkan design adanya
Waluyanti (2013) Pengetahuan, peningkatan secara
Sikap Dan bermakna pada
Keterampilan kelompok
Orang Tua Dalam intervensi dalam
Penanganan aspek pengetahuan,
Demam Pada sikap, dan
Anak keterampilan (p=
0,000;
0,008;0,001;
α=0,05) orang tua
dalam penanganan
demam.