Anda di halaman 1dari 13

AUDIT TERHADAP SIKLUS PENGELUARAN: PENGUJIAN

SUBSTANTIF TERHADAP SALDO UTANG USAHA

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Auditing 2

Dosen: Yuli Novitasari, S.Pd., M.Si

Disusun Oleh:

Sonivia Gunawan NIM 17021003

PROGAM STUDI AKUNTANSI

INSTITUT MANAJEMEN WIYATA INDONESIA

SUKABUMI

2019
Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
karunia dan rahmat-Nya makalah ini dapat selesai dan tersusun dengan baik.
Tidak lupa saya ucapankan terima kasih kepada pihak yang telah membantu baik
dalam bantuan moral dan materil dalam penyusunan makalah yang berjudul”
Audit terhadap Siklus Pengeluaran: Pengujian Substantif terhadap Saldo Utang
Usaha.”

Dengan telesainya makalah ini, penyusun berharap dapat membantu


menambah pengetahuan pembaca. Selain itu penyusun berharap agar makalah
ini dapat bermanfaan bagi siapa saja yang membacanya.

Penyusun menyadari keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, serta


kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Maka penyusun sangat berharap
saran dan kritik yang membangun untuk memperbaiki dan menyempurnakan
makalah ini.

Sukabumi, 04 Oktober 2019

Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar......................................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................... 1
A. Latar Belakang......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................1
C. Tujuan....................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................. 3
A. Deskripsi Utang Usaha.........................................................................................3
B. Perbedaan Karakteristik Utang Lancar dengan Karakteristik Aktiva Lancar. . .4
C. Perbedaan Pengujian Substantif terhadap Utang Lancar dengan Pengujian
Substantif terhadap Aktiva Lancar..............................................................................4
D. Prinsip Akuntansi Berterima Umum dalam Penyajian Utang Lancar di Neraca.............5

E. Tujuan Pengujian Substantif terhadap Utang Usaha..........................................5


F. Program Pengujian Substantif terhadap Utang Usaha.......................................5
BAB III PENUTUP.................................................................................................................... 9
A. Simpulan...............................................................................................................9
B. Saran......................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................ 10
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Audit terhadap siklus pengeluaran mencakup dua pendekatan
yaitu pengujian kepatuhan dan pengujian substansi. Pengujian
kepatuhan bertujuan untuk memahami struktur pengendalian intern
terhadap siklus penjualan yang selanjutnya digunakan sebagai dasar
pengujian substansi. Pengujian substansi dimaksudkan untuk
melakukan verifikasi terhadap kelayakan jumlah rupiah serta
kesesuaian penyajian dengan prinsip akuntansi yang diterapkan di
Indonesia.
Dalam makalah ini diuraikan mengenai perancangan pengujian
substantif terhadap utang usaha. Uraian diawali dengan deskripsi
utang usaha, kemudian dilanjutkan dengan prinsip akuntansi
berterima umum dalam penyajian unsur utang usaha dalam neraca
dan tujuan audit terhadap utang usaha. Karena utang usaha
merupakan bagian terbesar utang lancar, dan karena karakteristik
utang lancar sangat berbeda dengan aktiva lancar, maka dalam
deskripsi utang lancar diuraikan dampak karakteristik utang lancar
tersebut terhadap pengujian substantif terhadap utang lancar. Dalam
makalah ini diakhiri dengan pembahasan perancangan program
pengujian substantif terhadap utang usaha.
B. Rumusan Masalah
1. Apa utang usaha itu?
2. Apa perbedaan karakteristik utang lancar dengan karakteristik
aktiva lancar?
3. Apa perbedaan pengujian substantif terhadap utang lancar dengan
pengujian substantif terhadap aktiva lancar?
4. Bagaimana prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian
utang usaha lancar di neraca?
5. Apa tujuan pengujian substantif terhadap utang usaha?
6. Bagaimana program pengujian substantif terhadap utang usaha?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu utang usaha.
2. Untuk mengetahui perbedaan karakteristik utang lancar dengan
karakteristik aktiva lancar.
3. Untuk mengetahui perbedaan pengujian substantif terhadap utang
lancar dengan pengujian substantif terhadap aktiva lancar.
4. Untuk mengetahui bagaimana prinsip akuntansi berterima umum
dalam penyajian utang usaha lancar di neraca.
5. Untuk mengetahui tujuan pengujian substantif terhadap utang
usaha.
6. Untuk mengetahui bagaimana program pengujian substantif
terhadap utang usaha.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Deskripsi Utang Usaha
Utang usaha termasuk sebagai unsur utang lancar. Utang lancar
meliputi semua kewajiban yang akan dilunasi dalam periode jangka
pendek (satu tahun atau kurang dari tanggal neraca atau dalam siklus
kegiatan normal perusahaan) dengan cara mengurangi aktiva yang
dikelompokkan dalam aktiva lancer atau dengan cara menimbulkan
utang lancar yang lain. Utang lancar digolongkan menjadi enam
kelompok yaitu:
1. Utang usaha yang timbul dari transaksi pembelian bahan baku dan
bahan penolong, suku cadang, dan bahan habis pakai pabrik
(factory supplies). Utang usaha dapat digolongkan menjadi 2
golongan : (1) utang yang tidak disertai dengan surat berharga
sebagai bukti tertulis tentang kesanggupan untuk membayar
kewajiban (disebut dengan utang usaha atau account payable) dan
(2) utang yang disertai dengan surat berharga sebagai bukti
tertulis tentang kesanggupan untuk membayar kewajiban (disebut
dengan utang wesel atau notes payable).
2. Uang jaminan masuk dari pelanggan.
3. Utang yang timbul dari berlalunya waktu (accrued payable).
4. Utang yang timbul kepada pihak ketiga karena perusahaan yang
ditunjuk sebagai pemungut pajak atau iuran yang lain, seperti
utang Pajak Pertambahan Nilai (PPN), utang Pajak Penghasilan
Karyawan (PPh Pasal 25), utang dana pensiun, utang asuransi
karyawan.
5. Accrual yang timbul dari kegiatan usaha perusahaan meskipun:
a. Jumlah utang tersebut harus ditaksir seperti utang bonus.
b. Krediturnya tidak diketahui seperti utang biaya reparasi untuk
produk perusahaan yang dijual dengan garansi.
c. Utang yang jumlahnya harus diukur dari transaksi sekarang
misalnya utang sewa, pendapatan yang diterima dimuka, utang
yang jumlahnya dihitung dari besarnya deplesi sumber alam.
6. Utang lain yang diperkirakanakan dilunasi dalam jangka waktu
pendek seperti utang bank (kredit modal kerja misalnya), utang
jangka panjang yang segera jatuh tempo, utang pajak penghasilan
utang deviden.
B. Perbedaan Karakteristik Utang Lancar dengan Karakteristik
Aktiva Lancar
1. Dalam penyajian aktiva lancar, klien berkecenderungan umum
untuk menyajikan aktiva tersebut lebih tinggi dari jumlah yang
senyatanya. Kecenderungan ini sering kali didorong oleh motif
untuk memberikan gambaran modal kerja yang lebih baik
sehingga kelihatannya perusahaan memiliki likuiditas yang baik.
Gambaran modal kerja yang baik ini juga dapat ditempuh dengan
menurunkan nilai hutang lancar, yaitu umumnya dengan cara tidak
mencatat hutang lancar sehingga terdapat hutang yang tidak
tercatat tanggal neraca.
2. Dalam penyajian aktiva lancar klien menghadapi masalah
penilaian unsur- unsur aktiva lancar per tanggal neraca.
C. Perbedaan Pengujian Substantif terhadap Utang Lancar dengan
Pengujian Substantif terhadap Aktiva Lancar
1. Pengujian substantif terhadap hutang lancar ditujukan untuk
menemukan adanya penyajian hutang lancar yang lebih rendah
dari jumlah yang seharusnya, sedangkan pengujian substantive
terhadap aktiva lancar ditujukan untuk menemukan adanya
penyajian aktiva lancar yang lebih tinggi dari jumlah yang
seharusnya.
2. Dalam pengujian substantif terhadap aktiva lancar, auditor
menghadapi masalah penentuan kewajaran nilai aktiva lancar
(nilai bersih yang dapat direalisasikan) yang dicantumkan ke
dalam neraca.
D. Prinsip Akuntansi Berterima Umum dalam Penyajian Utang
Lancar di Neraca
Sebelum membahas penyajian subtantif terhadap utang usaha,
perlu diketahui terlebih dahulu prinsip akuntansi berterima umum di
Indonesia dalam penyajian utang lancar di neraca berikut ini :
1. Setiap jenis utang usaha lancar harus disajikan secara terpisah, jika
jumlahnya material.
2. Utang kepada perusahaan afiliasi, pemegang saham, dan karyawan
perusahaan harus dipisahkan dari utang kepada pihak ketiga yang
independen.
3. Aktiva yang dijaminkan dalam penarikan utang lancar harus
diungkapkan dalam laporan keuangan.
4. Aktiva dan utang tidak boleh digabungkan penyajiannya dalam
jumlah neto.
5. Utang bersyarat harus dijelaskan dalam neraca.
E. Tujuan Pengujian Substantif terhadap Utang Usaha
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
bersangkutan dengan utang usaha.
2. Membuktikan keberadaan utang usaha dan keterjadian transaksi
yang berkaitan dengan utang usaha yang dicantumkan di neraca.
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan
akuntansi dan kelengkapan saldo utang usaha yang disajikan di
neraca.
4. Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca.
5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan utang
usaha di neraca.
F. Program Pengujian Substantif terhadap Utang Usaha
Program pengujian subtantif terhadap utang usaha berisi prosedur
audit yang dirancang untuk mencapai tujuan audit seperti yang telah
diuraiakan di atas. Tahap-tahap prosedur audit dimulai dari
pemeriksaan yang bersifat luas dan umum sampai ke pemeriksaan
yang bersifat rinci. Berbagai prosedur audit dilaksanakan dalam lima
tahap berikut ini:
1. Prosedur Audit Awal
Sebelum membuktikan apakah saldo utang usaha yang
dicantumkan oleh klien di dalam neracanya sesuai dengan utang
usaha yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditor
melakukan rekonsiliasi antara informasi utang usaha yang
dicantumkan di neraca dengan catatan akuntansi yang
mendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor
memperoleh keyakinan bahwa informasi utang usaha yang
dicantumkan di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang
dapat dipercaya. Oleh karena itu, auditor melakukan enam
prosedur audit berikut ini dalam melakukan rekonsiliasi informasi
utang usaha di neraca dengan catatan akuntansi yang
bersangkutan:
1) Usut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun
Utang Usaha yang bersangkutan di dalam buku besar.
2) Hitung kembali saldo akun utang usaha di buku besar.
3) Usut saldo awal akun utang usaha ke kertas kerja tahun lalu.
4) Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan
sumber posting dalam akun aktiva tetap dan akumulasi
depresiasinya.
5) Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun utang usaha
ke jurnal yang bersangkutan.
6) Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun
kontrol utang usaha di buku besar.
2. Prosedur Analitik
Pada tahap awal pengujian subtantif terhadap utang usaha,
pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam
memahami bisnis klien dan dalam menemukan bidang yang
memerlukan audit lebih intensif. Untuk itu auditor melakukan
perhitugan berbagai ratio berikut:

3. Pengujian terhadap Transaksi Rinci


1) Periksa sampel transaksi yang tercatat dalam akun utang usaha ke
dokumen yang mendukung timbulnya transaksi tersebut.
2) Periksa pengkreditan akun utang usaha ke dokumen pendukung
bukti kas keluar (voucher), laporan penerimaan barang, dan surat
order pembelian.
3) Periksa pendebitan akun utang usaha ke dokumen pendukung: bukti
kas keluar, memo debit untuk retur pembelian
4) Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi pembelian dan retur
pembelian
5) Periksa dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha dalam
minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah
tanggal neraca.
6) Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya utang usaha dalam
minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah
tanggal neraca.
7) Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi pengeluaran kas.
8) Periksa adanya utang usaha yang tidak di catat.
4. Pengujian terhadap Saldo Akun Rinci
Tujuan pengujian saldo akun utang usaha rinci adalah untuk
memverifikasi:
a. Keberadaan dan keterjadian
b. Kelengkapan
c. Kewajiban
d. Penyajian dan pengungkapan

Keberadaan, kelengkapan, kewajiban serta penyajian dan


pengungkapan utang usaha di neraca di buktikan oleh auditor dengan
mengirimkan surat konfirmasi kepada debitur dan rekonsiliasi utang
usaha yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang bulanan yang
diterima oleh klien dari kreditur.

1) Lakukan konfirmasi utang usaha.


2) Periksa dokumen yang mendukung transaksi pembayaran utang
usaha setelah tangal neraca.
3) Lakukan rekonsiliasi utang usaha yang tidak dikonfirmasi ke
peryataan piutang bulanan yang diterima oleh klien dari kreditur.
5. Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan
1) Periksa klasifikasi utang usaha di neraca.
Unsur utang lancar harus disajikan di neraca menurut urutan jatuh
temponya. Jika jumlahnya material, utang usaha harus disajikan di
neraca menjadi tiga golongan: (a) Utang usaha kepada kreditur usaha
(b) Utang usaha kepada perusahaan afiliasi (c) Utang usaha kepada
direksi, pemegang saham utama, manager, dan karyawan
perusahaan.
2) Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang nonusaha.
Jika utang jangka panjang yang segera jatuh tempo dilunasi dengan
aktiva tidak lancar, maka jumlah utang ini tetap disajikan di neraca
dalam kelompok utang jangka panjang, bukan utang lancar untuk
menghindari pengaruh signifikan terhadap perhitungan perubahan
posisi keuangan (modal kerja).
3) Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang usaha.
Utang usaha yang dijamin dengan aktiva harus diungkapkan secara
memadai di neraca atau dalam penjelasan laporan keuangan.
4) Mintalah informasi dari klien untuk menemukan komitmen yang
belum diungkap dan utang bersyarat dan periksa penjelasan yang
bersangkutan dengan utang usaha tersebut.
5) Pelajari notulen rapat direksi sampai dengan tanggal penyelesaiaan
pekerjaan lapangan.
6) Periksa kontrak-kontrak pembelian, penjualan, dan kontrak yang
lain.
7) Mintalah informasi dari pengacara klien mengenai perkara
pengadilan yang melibatkan klien.
8) Kirimkan konfirmasi ke bank.
9) Pelajari arsip korespondensi klien dengan lembaga keuangan.

BAB III

PENUTUP
A. Simpulan
Utang lancar memiliki karakteristik yang berbeda dengan
karakteristik aktiva lancar, yang berdampak terhadap pengujian
substantif terhadap utang lancar. Dalam menyajikan utang lancar,
klien berkecenderungan umum untuk menyajikan utang tersebut lebih
rendah dari jumlah yang senyatanya. Oleh karena itu, pengujian
substantif terhadap utang lancar ditujukan untuk menemukan adanya
penyajian utang lancar yang lebih rendah dari jumlah yang
seharusnya.
Pengujian substantif terhadap utang usaha ditujukan untuk
memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
bersangkutan dengan utang usaha, membuktikan keberadaan utang
usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan utang usaha
yang dicantumkan di neraca, membuktikan kelengkapan transaksi
yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo utang
usaha yang disajikan di neraca, membuktikan kewajiban klien yang
dicantumkan di neraca, membuktikan kewajaran penyajian dan
pengungkapan utang usaha di neraca.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini semoga dapat membantu para
pembaca untuk menambah wawasan dan informasi mengenai
Pemahaman atas Pengendalian Intern. Walaupun tidak bisa dipungkiri
bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan juga masih
banyak kesalahan. Oleh karena itu penyusunpun meminta agar
kiranya pembaca dapat memberikan saran yang membangun agar
makalah ini bisa menjadi lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi. 2014. Auditing Buku 2 Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat.

Anda mungkin juga menyukai