Disusun oleh :
PROGRAM S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan
puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang krisis.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan hati yang senang kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang krisis adventisius ini dapat
memberikan manfaat, menambah ilmu pengetahuan oleh pembaca.
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan, manusia harus mengatasi krisis dalam kehidupannya untuk
menjaga keseimbangan anatara stress dan mekanisme koping. Krisis merupakan suata
keadaan dilakukannya intervensi jangka pendek yang terfokus pada upaya memobilisasi
kekuatan-kekuatan dan sumber-sumber klien untuk mengatasi suatu krisis dan
memperbaiki tingkat penaggulangan, kepercayaan, dan pemecahan masalah.Sedangkan
suatu krisis timbul karena peristiwa atau masalah yang sangat menekan dan memberikan
traumatic bagi klien.
Salah satu krisis yang sedang banyak terjadi adalah krisis adventisius (krisis
bencana alam). Krisis adventisius terjadi sebagai respon terhadap trauma berate atau
bencana yang disebabkan oleh suatu kejadian yang tidak di harapkan serta dapat
menyebabkan kehilangan ganda yang berupa harta benda dan sejumlah perubahan
dilingkungannya seperti bencana alam gunung meletus, kebekaran, banjir, ataupun
perang. Krisis ini tidak banyak dialami oleh semua orang.Tetapi krisis adventisius ini
dapat mempengaruhi individu, masyarakat, bahkan Negara.
Dalam hal ini intervensi krisis adventisius merupakan pendekatan yang dalam
mencegah gangguan jiwa dengan fokus pada penemuan kasus secara dini dan mencegah
dampak lebih jauh dari stress, hal ini dilaksanakan dengan kerja sama dan interdisiplin
dalam mencegah dan meningkatkan kesehatan mental pada suatu keluarga dan
masyarakat. Oleh karena itu diperlukan tenaga keperawatan yang memiliki kemampuan
dalam membuat asuhan keperawatan dengan gangguan psikososial masalah krisis.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu bencana alam?
2. Apa dampak psikososial korban bencana alam ?
3. Apa dampak spiritual korban bencana alam ?
4. Bagaimana penanganan pada korban bencana alam ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian bencana alam
2. Mengetahui dampak psikososial korban bencana alam
3. Mengetahui dampak spiritual korban bencana alam
4. Mengetahui cara penanganan korban bencana alam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bencana Alam
Kata bencana biasanya dikaitkan dengan dengan bencana alam seperti banjir,
gempa bumi dan kebakaran. Namun, istilah ini juga dapat digunakan untuk bencana
buatan manusia ( bencana sosial Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),
2012.
Menurut World Health Organization (WHO) bencana merupakan suatu gangguan
yang serius terhadap fungsi suatu komunitas atau masyarakat yang mengakibatkan
hilangnya nyawa, materi, kerugian ekonomi atau lingkungan yang melebihi kemampuan
dari masyarakat yang terkena dampak bencana tersebut untuk mengatasi dengan
menggunakan sumber daya sendiri.Bencana biasanya menyerang cepat, tetapi bisa
memakan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan dampak dari bencana tersebut.Selain
Itu bencana dapat menyebabkan gangguan psikologis yang serius pada beberapa individu
yang mengalaminya.Pengaruh bencana ini pada seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor
resiko dan ketahanan orang tersebut. Tidak semua orang bereaksi dengan cara yang sama
saat menghadapi bencana yang sama.
Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa
fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia.Karena
ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga
menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian.
Bencana alam juga dapat diartikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh gejala
alam.Sebenarnya gejala alam merupakan gejala yang sangat alamiah dan biasa terjadi
pada bumi.Namun, hanya ketika gejala alam tersebut melanda manusia (nyawa) dan
segala produk budidayanya (kepemilikan, harta dan benda), kita baru dapat menyebutnya
sebagai bencana.
Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau
menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan
pernyataan: “bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan”.
Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di
daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak
berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa
tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia.Besarnya
potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran,
yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang
berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.
Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta
memiliki kerentanan/kerawanan(vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi
dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap
bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan
sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani
tantangan-tantangan serius yang hadir.Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan
bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan
terhadap bencana yang cukup.
Berdasarkan hasil penelitian empiris, dampak psikologis dari bencana dapat diketahui
berdasarkan tiga faktor yaitu faktor pra bencana, faktor bencana dan faktor pra bencana
(Tomoko, 2009) :
1) Faktor pra bencana : dampak psikologi pada faktor pra bencana ini dapat ditinjau dari
beberapa hal dibawah ini ;
a) Jenis kelamin : perempuan mempunyai resiko lebih tinggi terkena dampak psikologis
dibanding laki-laki dengan perbandingan 2:1.
b) Usia dan pengalaman hidup : kecenderungan kelompok usia rentan stres masing-
masing negara berbeda karena perbedaan kondisi sosial politik ekonomi dan latar
belakang sejarah negara yang bersangkutan.
c) Faktor budaya, ras, karakter khas etnis : Dampak yang ditimbulkan bencana ini lebih
besar di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. Pada kelompok usia
muda tidak ada gejala khas untuk etnis tertentu baik pada etnis mayoritas maupun etnis
minoritas, sedangkan pada kelompok usia dewasa, etnis minoritas cenderung
mengalami dampak psikologis dibanding mayoritas.
d) Sosial Ekonomi : Dampak bencana pada individu berbeda menurut latar belakang
pendidikan, proses pembentukan kepribadian, penghasilan dan profesi. Individu
dengan kedudukan sosio ekonomi yang rendah akan mengalami stress pasca trauma
lebih berat.
e) Keluarga : Pengalaman bencana akan mempengaruhi stabilitas keluarga seperti tingkat
stress dalam perkawinan, posisi sebagai orang tua terutama orang tua perempuan.
f) Tingkat kekuatan Mental dan kepribadian : Hampir semua hasil penelitian
menyimpulkan bahwa kondisi kesehatan mental pra bencana dapat dijadikan dasar
untuk memprediksi dampak patologis pasca bencana. Individu dengan maslah
kesehatan jiwa akan mengalami stress yang lebih berat dibandingkan dengan individu
dengan kondisi psikologis yang stabil.
2) Faktor bencana : pada faktor ini, dampak psikologis dapat ditinjau dari beberapa hal
dibawah ini ;
a) Tingkat keterpaparan : Keterpaparan seseorang akan masalah yang dihadapi
merupakan variabel penting untuk memprediksi dampak psikologis korban bencana.
b) Ditinggal mati oleh sanak keluarga atau sahabat.
c) Diri sendiri atau keluarga terluka.
d) Merasakan ancaman keselamatan jiwa atau mengalami kekuatan yang luar biasa.
e) Mengalami situasi panik pada saat bencana
f) Pengalaman berpisah dengan keluarga terutama pada korban usia muda
g) Kehilangan harta benda dalam jumlah besar
h) Pindah tempat tinggal akibat bencana
i) Bencana yang menimpa seluruh komunitas. Hal ini mengakibatkan rasa kehilangan
pada individu dan memperkuat perasaan negatif dan memperlemah perasaan positif.
Semakin banyak fakltor yang diatas, maka akan semakin berat gangguan jiwa yang
dialami korban bencana. Apalagi pada saat-saat seperti ini mereka cenderung menolak
intervensi tenaga spesialis, sehingga menghambat perbaikan kualitas hidup pasca bencana.
3) Faktor pasca bencana : dampak psikologis pasca bencana dapat diakibatkan oleh kegiatan
tertentu dalam siklus kehidupan stress kronik pasca bencana yang terkait dengan kondisi
psykitrik korban bencana. Hal ini perlu adanya pemantuan dalam jangka panjang oleh
tenaga spesialis.Gejala dan dampak psikologis pasca bencana juga dapat dilihat dari daftar
gejala Hopkins untuk mengetahui adanya depresi dan kecemasan. Gejala-gejala Hopkins
tersebut meliputi perasaan depresi, minat atau rasa senang yang kurang. Gejala perasaan
depresi meliputi menangis, merasa tidak ada harapan untuk masa depan, merasa galau dan
merasa kesepian.
C. Dampak Spiritual pada Korban Bencana
Manusia sebagai makhluk yang utuh atau holistik memiliki kebutuhan yang kompleks yaitu
kebutuhan biologis, psikologis, sosial kultural dan spiritual. Spiritual digambarkan sebagai
pengalaman seseorang atau keyakinan seseorang, dan merupakan bagian dari kekuatan yang
ada pada diri seseorang dalam memaknai kehidupannya. Spiritual juga digambarkan sebagai
pencarian individu untuk mencari makna. Bahwa spiritual menggabungkan perasaan dari
hubungan dengan dirinya sendiri, dengan ornag lain dan dengan kekuatan yang lebih tinggi.
Kejadian bencana dapat merubah pola spiritualitas seseorang. Ada yang bertambah
meningkat aspek spiritualitasnya ada pula yang sebaliknya. Bagi yang meningkatkan aspek
spiritualitasnya berarti mereka meyakini bahwa apa yang terjadi merupakan kehendak dan
kuasa sang pencipta yang tidak mampu di tandingi oleh siapapun. Mereka mendekat dengan
cara mendekatkan spiritualitasnya supaya mendapatkan kekuatan dan pertolongan dalam
menghadapi bencana atau musibah yang dialaminya. Sedangkan bagi yang menjauh
umumnya karena dasar keimanan atau keyakinan terhadap sang pencipta rendah atau kaarena
putus asa
Penelitian yang dilakukan oleh Catani pada tahun 2009 (dalam Tumanggor, 2013)
pada anak-anak korban tsunami di Srilangka, menyebutkan exposure therapy dan
meditation relaxation dapat dilakukan pada anak-anak dengan latar belakang bencana
yang sama. Anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini diajarkan dan dilatih meditasi-
relaksasi dengan teknik pernapasan. Meditasi-relaksasi ini dapat dipraktekkan di rumah
dengan dukungan orang tua. Exposure therapy, merupakan bentuk terapi yang dilakukan
dengan cara meminta anak-anak menuliskan tentang bencana yang dialami untuk
mengeksplorasi lebih lanjut tentang perasaan mereka. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa lebih dari 70% anak-anak dapat pulih kembali.
Pilihan alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mengobati anak-anak dengan
PTSD, yaitu: mengajarkan strategi atau cara mengontrol kecemasan misalnya, relaksasi
pernapasan, bermain peran, pendidikan dan beberapa teknik distraksi. Penelitian oleh
Carrion dkk. tahun 2002 dan Scheeringa tahun 2006 (dalam Tumanggor, 2013),
menyarankan psikoterapi juga diberikan untuk anak-anak yang tidak memenuhi kriteria
PTSD, namun mengindikasikan atau menunjukkan adanya gangguan dan penurunan
fungsional. Hal ini penting untuk mencegah anak-anak mengembangkan gangguan
tersebut menjadi lebih berat.
Untuk pengobatan atau psikofarmaka, menurut Sadock & Sadock (2007) dan
NIMH (2008) ada beberapa jenis pengobatan yang dapat digunakan untuk penderita
PTSD, yaitu: (1) Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) seperti Sertraline
(Zoloft) dan Paroxetine (Paxil), dianggap sebagai pengobatan lini pertama yang efektif
untuk mengurangi gejala-gejala PTSD. Kedua obat ini merupakan anti-depresan yang
juga digunakan untuk mengobati depresi. Efek samping yang mungkin ditimbulkan
seperti sakit kepala, mual, sulit tidur dan agitasi; (2) Imipramin (Tofranil) dan
Amitriptyline (Evavil), merupakan anti-drepesant trisilik untuk pengobatan PTSD.
Namun anti-depresan ini tidak merupakan pilihan utama karena memiliki banyak efek
samping dibandingkan dengan anti-depresan lainnya; (3) Obat-obatan lain yang dapat
digunakan, yaitu monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) (seperti Phenelzine [Nardil]),
Trazodone (Dsyrel), dan anti-convulsants (seperti Carbamazepine [Tegretol], Valproate
[Depakene]).
E. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KORBAN BENCANA
Struart, G. W. (2003), principle and practice of psychiatric nursing (9 ed). Missouri: Mosby, inc.
eprints.undip.ac.id/34400/5/2149_chapter_II.pdf
repository.ump.ac.id/5105/3/Oka%20Suhendro_BAB%20II.pdf