Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Harta merupakan titipan Allah SWT. yang pada hakekatnya hanya dititipkan
kepada kita sebagai manusia ciptaan-Nya. Konsekuensi manusia terhadap segala
bentuk titipan yang dibebankan kepadanya mempunyai aturan-aturan tuhan, baik
dalam pengembangan maupun penggunaan.
Terdapat kewajiban yang dibebankan pada pemiliknya untuk mengeluarkan
zakat untuk kesejahteraan masyarakat, dan ada ibadah Maliyah sunnah yakni
sedekah dan infaq. Karena pada hakekatnya segala harta yang dimiliki manusia
adalah titipan Allah SWT. maka setiap kita manusia wajib melaksanakan segala
perintah Allah mengenai hartanya.
Salah satu sisi ajaran islam yang belum ditangani secara serius adalah
penanggulangan kemiskinan dengan cara mengoptimalkan pengumpulan dana
pendayagunaan sedekah, infaq dan wakaf dalam arti yang seluas-luasnya.
Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW serta penerusnya dizaman-
zaman kejayaan islam.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang Dimaksud dengan Infaq ?
2. Apa yang Dimaksud dengan Shadaqah ?
3. Apa yang Dimaksud dengan Waqaf ?
4. Apa Dasar Hukum Infaq, Shadaqah dan Waqaf ?

1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Apa yang Dimaksud dengan Infaq.
2. Untuk Mengetahui Apa yang Dimaksud dengan Shadaqah.
3. Untuk Mengetahui Apa yang Dimaksud dengan Waqaf.
4. Untuk Mengetahui Apa Dasar Hukum Infaq, Shadaqah dan Waqaf.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Infaq
Infaq ditinjau dari segi bahasa berarti “membelanjakan”. Sedangkan menurut
syari’at Infaq adalah mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan
(penghasilan) untuk suatu kepentingan kemanusiaan yang diperintahkan ajaran
Islam.
Pengertian infaq dalam Al-Qur’an dapat dipahami bahwa istilah tersebut
mengandung pengertian yang umum mencakup setiap aktivitas pengeluaran dana
baik berupa kewajiban seperti zakat maupun kewajiban menafkahi keluarga,
pengertian infaq juga bisa sebagai kedermawanan dari seseorang untuk
menafkahkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial.
Dengan demikian, infaq terlepas dari ketentuan dan ukuran, tetapi tergantung
kepada kerelaan masing-masing. Sehingga, kewajiban memberikan infaq tidak
tergantung pada mereka yang kaya saja tetapi juga ditunjukkan kepada orang-
orang yang mempunyai kelebihan dari kebutuhannya sehari-hari.
Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan jenis harta,
berapa jumlah yang yang sebaiknya diserahkan. Terkait dengan infak ini
Rasulullah SAW bersabda : ada malaikat yang senantiasa berdo’a setiap pagi dan
sore : “Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang
lain : “Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran”. (HR.
Bukhori).
Adapun urgensi infaq bagi seorang muslim antara lain:
 Infaq merupakan bagian dari keimanan dari seorang muslim.
 Orang yang enggan berinfaq adalah orang yang menjatuhkan diri dalam
kebinasaan.
 Di dalam ibadah terkantung hikmah dan mamfaat besar.hikmah dan
mamfaat infaq adalah sebagai realisasi iman kepada allah, merupakan
sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang
dibutuhkan ummat islam, menolong dan membantu kaum duafa.

2
2.2 Pengertian Shadaqah
Secara bahasa, Shadaqah berasal dari kata sadaqa yang berarti benar. Orang
yang gemar bersedekah bisa diartikan sebagai orang yang benar pengakuan
imannya. Sementara secara istilah atau terminology syariat, sedekah sama dengan
infak, yakni mengeluarkan sebagaian harta atau pendapatan/penghasilan untuk
suatu kepentingan yang diperintahkan oleh agama.
Begitu juga sedekah merupakan pemberian yang dikeluarkan secara sukalera
kepada siapa saja, tanpa nisab dan tanpa adanaya aturan waktu yang mengeikat.
Hanya saja, infaq lebih pada pemberian yang sifatnya maretial, sedangkan
sedekah mempunyai makna yang lebih luas, baik dalam bentuk pemberian yang
bersifat materi maupun non materi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Bersedekah
1. Harta yang disedekahkan bukan berupa barang yang haram, baik haram
karena zat barangnya, seperti daging babi dan minuman keras, maupun
haram karena diperoleh dengan cara yang tidak halal. Bersedekah
dengan barang yang haran juga haram.
2. Barang yang akan disedekahkan hendaknya berkualitas baik. Sengaja
memilih barang-barang yang jelek atau rusak untuk disedekahkan
hukumnya makhruh.
3. Hendaknya menghindari hal-hal yang dapat membatalkan sedekah.
Hal–hal tersebut dijelaskan dalam surah Al-baqarah ayat 264, ”wahai
orang-orang yang beriman janganlah kamu merusak sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaaan penerima)”.
4. Memberikan sedekah dengan ikhlas semata-mata mengharap pahala dan
keridhoan Allah. bersedekah karena pamer dan ingin mendapat pujian
dari orang lain akan menjadikan sedekah itu sia-sia dan tidak berpahala.
5. Harta yang disedekahkan hendaknya berupa barang-barang yang tidak
mudah rusak dan dapat terus bermanfaat untuk waktu yang lama. Hal
yang demikian disebut sadaqah jariyyah (sedekah yang pahalanya
mengalir terus). Artinya, selama benda tersebut masih memberikan
manfaat kepada orang lain, selama itu pula orang yang bersedekah akan
terus mendapatkan pahala.

3
2.3 Pengertian Waqaf
Secara etimologis waqaf berasal dari kata waqafa-yaqifu-waafan yang
mempunyai arti menghentikan atau menahan (al-habs), ragu-ragu, berhenti,
memberhentikan, memahami, mengaitkan, memperlihatkan, meletakkan,
memerhatikan, mengabdi, tetap berdiri, radiah (terkembalikan), al-tahbis
(tertahan), dan al-man’u (mencegah)
Rasulullah saw menggunakan kata al-habs (menahan) yaitu menahan suatu
harta benda yang manfaatnya digunakan untuk kebajikan dan dianjurkan agama.
Menurut Imam Nawawi, waqaf ialah menahan harta yang dapat diambil
manfaatnya tetapi bukan untuk dirinya, sementara benda itu tetap ada padanya dan
digunakan manfaatnya untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Rukun Wakaf ada empat rukun yang mesti dipenuhi dalam berwakaf.
1. Orang yang berwakaf (al-waqif).
2. Benda yang diwakafkan (al-mauquf).
3. Brang yang menerima manfaat wakaf (al-mauquf ‘alaihi).
4. Lafadz atau ikrar wakaf (sighah).

Syarat-syarat wakaf, yaitu sebagai berikut :


1. Syarat-syarat orang yang berwakaf (al-waqif)
Syarat-syarat al-waqif ada empat:
 Orang yang berwakaf ini mestilah memiliki secara penuh harta itu,
artinya dia merdeka untuk mewakafkan harta itu kepada sesiapa
yang ia kehendaki.
 Dia mestilah orang yang berakal, tak sah wakaf orang bodoh, orang
gila, atau orang yang sedang mabuk.
 Dia mestilah baligh.
 Dia mestilah orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid).
Implikasinya orang bodoh, orang yang sedang muflis dan orang
lemah ingatan tidak sah mewakafkan hartanya.

4
2. Syarat-syarat harta yang diwakafkan (al-mauquf)
 Barang yang diwakafkan itu mestilah barang yang berharga.
 Harta yang diwakafkan itu mestilah diketahui kadarnya. Jadi
apabila harta itu tidak diketahui jumlahnya (majhul), maka
pengalihan milik pada ketika itu tidak sah.
 Harta yang diwakafkan itu pasti dimiliki oleh orang yang berwakaf
(wakif).
 Harta itu mestilah berdiri sendiri, tidak melekat kepada harta lain
(mufarrazan) atau disebut juga dengan istilah (ghaira shai’).

3. Syarat-syarat orang yang menerima manfaat wakaf (al-mauquf alaih)


Dari segi klasifikasinya orang yang menerima wakaf ini ada dua
macam,
 Tertentu (mu’ayyan)
Yang dimasudkan dengan tertentu ialah, jelas orang yang
menerima wakaf itu, apakah seorang, dua orang atau satu
kumpulan yang semuanya tertentu dan tidak boleh dirubah.
Persyaratan bagi orang yang menerima wakaf tertentu ini (al-
mawquf mu’ayyan) bahwa ia mestilah orang yang boleh untuk
memiliki harta (ahlan li al-tamlik), Maka orang muslim, merdeka
(bukan budak ) boleh memiliki harta wakaf. Adapun orang bodoh,
hamba sahaya, dan orang gila tidak sah menerima wakaf.
 Tidak tertentu (ghaira mu’ayyan)
Sedangkan yang tidak tentu maksudnya tempat berwakaf itu tidak
ditentukan secara terperinci, umpamanya seseorang sesorang untuk
orang fakir, miskin, tempat ibadah, dll. Syarat-syarat yang
berkaitan dengan ghaira mu’ayyan pertama ialah bahwa yang akan
menerima wakaf itu mestilah dapat menjadikan wakaf itu untuk
kebaikan yang dengannya dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Dan wakaf ini hanya ditujukan untuk kepentingan Islam saja.

5
4. Syarat-syarat berkaitan dengan isi ucapan (sighah)
 Pertama, ucapan itu mestilah mengandungi kata-kata yang
menunjukkan kekalnya (ta’bid). Tidak sah wakaf kalau ucapan
dengan batas waktu tertentu.
 Kedua, ucapan itu dapat direalisasikan segera (tanjiz), tanpa
disangkutkan atau digantungkan kepada syarat tertentu.
 Ketiga, ucapan itu bersifat pasti.
 Keempat, ucapan itu tidak diikuti oleh syarat yang membatalkan.
Apabila semua persyaratan diatas dapat terpenuhi maka penguasaan
atas tanah wakaf bagi penerima wakaf adalah sah.

Macam-macam Wakaf bila ditinjau dari segi peruntukan ditujukan kepada


siapa wakaf itu, maka wakaf dapat dibagi menjadi dua macam:
1. Wakaf Ahli
Yaitu wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, seseorang
atau lebih, keluarga si wakif atau bukan. Wakaf seperti ini juga disebut
dengan wakaf Dzum.
Apabila ada seseorang mewakafkan sebidang tanah kepada
anaknya, lalu kepada cucunya, wakafnya sah dan yang berhak
mengambil manfaatnya adalah mereka yang ditunjuk dalam pernyataan
wakaf.
Wakaf untuk keluarga ini secara hukum islam dibenarkan
berdasarkan Hadist Nabi yang diriwaytakan oleh bukhari dan Muslim
dari Anas bin Malik tentang adanya wakaf keluarga Abu Thalhah
kepada kaum kerabatnya. Di ujung Hadist tersebut dinyatakan sebagai
berikut:
“Aku telah mendengar ucapanmu tentang hal tersebut. Saya
berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada keluarga terdekat.
Maka Abu Thalhah membagikannya untuk para keluarga dan anak-anak
pamannnya”.

2. Wakaf Khairi

6
Yaitu wakaf yang secara tegas untuk kepentingan agama
(keagamaan) atau kemasyarakatan (kebajikan umum). Seperti wakaf
yang diserahkan untuk keperluan pembangunan masjid, sekolah,
jembatan, rumah sakit, panti asuhan anak yatim dan sebagainya.
Jenis wakaf ini seperti yang telah dijelaskan dalam Hadist Nabi
Muhammad SAW yang menceritakan tentang wakaf sahabat Umar bin
Khatab. Beliau memberikan hasil kebunnya kepada fakir miskin, ibnu
sabil, sabilillah, para tamu, dan hamba sahaya yang berusaha menebus
dirinya.
Wakaf ini ditujukan kepada umum dengan tidak terbatas
penggunaannya yang mencakup semua aspek untk kepentingan dan
kesejahteraan umat manusia pada umumnya. Kepentingan umum
tersebut bisa umtuk jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, pertahanan,
keamanan dan lain-lain.

2.4 Dasar Hukum Infaq, Shadaqah dan Waqaf


Didalam Al-Qur`an surah At-Taubah ayat 103 yang artinya Artinya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka, dan Allah
Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (At-Taubah:103)
Ayat di atas, merupakan keterangan tentang faidah-faidah menyedekahkan
harta dan anjuran untuk melakukannya. Sekalipun sebab turunya ayat ini bersifat
khusus, namun nash tentang pengambilan harta pada ayat ini bersifat umum,
mencakup para khalifah Rasul setelah wafat beliau, dan para pemimpin kaum
muslimin setelah wafatnya para khalifah. Juga mencakup secara umum tentang
orang-orang yang diambil hartanya yaitu kaum muslimin yang kaya. Oleh sebab
itulah, abu Bakar Ash-Shidiq bersama para sahabat lainnya memerangi orang-
orang yang menolak zakat, sehingga mereka mau mengeluarkan zakat kembali.
Al-Qur`an surah Al-Baqarah yang artinya: “Dan belanjakanlah (harta
bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke

7
dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik”. (QS.Al-Baqarah: 195)
Al-Qur`an surah Al-Baqarah yang Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman,
belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan
kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak
ada lagi syafa'at dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim”. (QS.Al-
Baqarah 254)
Arti “ keluarkan nafkah” ialah mengeluarkan harta untuk kepentingan
agama seperti pembelanjaan penunaian haji, menghubungkan silaturahmi,
bershadaqah serta menyumbang pada amal-amal kebajikan.
Sedangkan shadaqah hanyalah untuk mencapai keridhaan Allah
semata dan dianjurkan walau hanya perkataan saja. Dan bagi siapa saja
yang mengeluarkan shadaqah akan lebih baik jika diberikan kepada fakir
miskin secara sembunyi, meskipun secara terang-terangan diperbolehkan
tetapi tidak menimbulkan riya’. Apabila ini terjadi maka pahalanya
menjadi terhapus.

8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahwasanya zakat,infaq, dan shodaqoh merupakan kebuktian iman kita
kepada allah dan sesama muslim yang membutuhkannya. Dan hikmah dari semua
itu adalah :
1. Menghindari kesenjangan sosial antara orang kaya dan kaum dhu'afa.
2. Membersihkan dan mengingkis akhlak yang buruk.
3. Alat membersih harta dan menjagah dari ketamakan orang jahat.
4. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang allah berikan.
5. Untuk pengembangan potensi ummat.
6. Dukunkan moral kepada prang yang baru masuk islam.
7. Menolong, membantu,dan membina kaum dhu'afa yang lemah.

3.2 Saran
Sebagai penulis kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dalam pembuatannya. Untuk itu kami memohon maaf apabila ada kesalahan
dan kami sangat mengharap kritik yang membangun dari pembaca agar
kemudian pembuatan makalah kami semakin lebih baik. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, dan bagi kita semua
pada khususnya.

9
DAFTAR PUSTAKA

Al-habsy, Muhammad baqir. 1999. Fiqih Praktis. Mizan: Bandung


Annullah, Indi. 2008. Ensiklopedia Fiqih Untuk Remaja Jilid 2. Pustaka Islam
Madani: Yogyakarta
Sunarto, Achmad. 2008. Dasar-dasar Fiqih Islam. Husaini: Bandung
Uwaidah, Kamil Muhammad. 1998. Fiqih Wanita. Pustaka Al-Kausar: Jakarta

10