Anda di halaman 1dari 19

PENERAPAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK

MENGETAHUI UPAYA-UPAYA DALAM MENINGKATKAN


MUTU DARI PENDIDIKAN KARAKTER

MAKALAH PENDIDIKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Ujian Sarjana
Pendidikan Jurusan Pendidikan Ekonomi Akuntansi

Di Susun Oleh:
SITI DIAH APRIAH
NPM:151660205

PROGRAM EKONOMI (IPS)


JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI AKUNTANSI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PEBDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
STKIP PGRI SUKABUMI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur Saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga Saya dapat menyusun makalah ini
dengan baik dan tepat waktu.
Seperti yang telah kita ketahui “Pendidikan Karakter” itu sangat penting bagi
anak bangsa dari mulai dini. Semua akan dibahas pada makalah ini kenapa
Pendidikan Karakter itu sangat dibutuhkan dan layak dijadikan sebagai materi
pelajaran.
Tugas ini Saya buat untuk memberikan penjelasan tentang keberadaan
Pendidikan Karakter bagi kemajuan bangsa. Semoga makalah yang Saya buat ini
dapat membantu menambah wawasan kita menjadi lebih luas lagi.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah
ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat Saya
harapkan guna kesempurnaan makalah ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu ikut serta dalam penyelesaian makalah ini. Atas
perhatian dan waktunya, Saya sampaikan banyak terima kasih.

Sukabumi, Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................2
1.3 Tujuan ..................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendidikan Karakter ............................................................3
2.2 Perbedaan Karakter dan Kepribadian ....................................................4
2.3 Ruang lingkup Pendidikan Karakter .....................................................6
2.4 Tujuan Pendidikan Karakter ..................................................................7
2.5 Prinsip Pendidikan Karakter ..................................................................7
2.6 Contoh Program Pendidikan karakter ...................................................8
2.7 Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa ..........10
2.8 Pendidikan Karakter yang Berhasil ......................................................12

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ..........................................................................................14
3.2 Saran .....................................................................................................14

Daftar Pustaka .....................................................................................................16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang
memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi
sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan
nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan
di setiap jenjang, termasuk di sekolah harus diselenggarakan secara sistematis
guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan
karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan
santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard
University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan
seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan
teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang
lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan
sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan
orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung
kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu
pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Melihat
masyarakat Indonesia sendiri juga lemah sekali dalam penguasaan soft skill.
Untuk itu penulis menulis makalah ini, agar pembaca tahu betapa pentingnya
pendidikan karakter bagi semua orang, khususnya bangsa Indonesia sendiri.

1
1.2 Rumusan Masalah
Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah
ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Adapun beberapa masalah
yang akan dibahas dalam karya tulis ini antara lain:
1. Apa pengertian dari pendidikan karakter itu?
2. Apa perbedaan karakter dan kepribadian?
3. Apa Ruang lingkup Pendidikan Karakter ?
4. Apa Tujuan Pendidikan Karakter ?
5. Apa Prinsip Pendidikan Karakter ?
6. Bagaimana contoh program pendidikan karakter ?
7. Bagaimana peran pendidikan karakter untuk kemajuan bangsa ?
8. Bagaimana hubungan pendidikan karakter dengan keberadaban bangsa ?
9. Bagaimana gambaran dari pendidikan karakter yang sudah berhasil?

1.3 Tujuan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah yang disusun oleh penulis di atas, maka tujuan
dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu pendidikan karakter.
2. Untuk mengetahui perbedaan karakter dan kepribadian.
3. Untuk mengetahui Ruang lingkup Pendidikan Karakter
4. Untuk mengetahui Tujuan Pendidikan Karakter
5. Untuk mengetahui Prinsip Pendidikan Karakter
6. Untuk mengetahui contoh program pendidikan karakter
7. Untuk mengetahui hubungan pendidikan karakter dengan keberadaban
bangsa
8. Untuk mengetahui upaya-upaya dalam meningktakan mutu dari
pendidikan karakter
9. Untuk mengetahui bagaiamana gambaran dari pendidikan karakter yang
sudah berhasil.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Karakter.


Karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang
lebih baik didalam masyarakat. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku
manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama
manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum,
tata krama,budaya,danadatistiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap
Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun
kebangsaan sehingga menjadi manusia insan Sayal. Dalam pendidikan karakter
di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan
mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-
kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, dan pembiayaan dan ethos kerja
seluruh warga dan lingkungan sekolah. Pengertian pendidikan karakter akan
dijelaskan oleh para ahli berikut ini.
a. Wikipedia
Pendidikan karakter ialah suatu bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya
terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi
selanjutnya.
b. T. Ramli (2003)
Menurutnya pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama
dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah untuk
membentuk membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik,
warga masyarakat dan warga negara yang baik.

3
c. Suyanto (2009)
Mengemukakan pendidikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik
dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.
d. Elkind (2004)
Pendidikan karakter ialah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu
mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak
peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara
guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi,
dan berbagai hal terkait lainnya.
e. John W. Santrock
Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan
moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan
moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral
atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain.
f. Thomas Lickona
Menyatakan bahwa pendidikan karakter merupakan suatu usaha yang
dilakukan dengan sengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat
memahami, memperhatikan dan melakukan nilai-nilai etika yang pokok.
g. Kamus Psikologi (Dali Gulo, 1982: p.29)
Menurut kamus psikologi, Karakter dapat dilihat dari sudut pandang etika
atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berhubungan
dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
h. Kertajaya (2010)
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu objek atau individu.
Karakteristik yang asli dan berakar pada kepribadian atau individu benda,
serta “mesin” yang mendorong bagaimana bertindak, berperilaku,
katakanlah, dan menanggapi sesuatu.

2.2 Perbedaan Karakter dan Kepribadian.


Kepribadian adalah hadiah dari Tuhan Sang Pencipta saat manusia
dilahirkan dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya

4
dan kelebihannya di aspek kehidupan sosial dan masing-masing
pribadi.Kepribadian manusia secara umum ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-
api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria
selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-
senang.
3. Phlegmatis : tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik,
tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal
yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan
kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat
disukai.
Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki
kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan positif yang baru, inilah yang
disebut dengan Karakter. Misalnya, seorang dengan kepribadian Sanguin yang
sangat suka bercanda dan terkesan tidak serius, lalu sadar dan belajar sehingga
mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang
membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus, itulah Karakter.
Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai
jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya.
Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan
dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter
tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar
hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter
bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik
jari.Banyak Saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk
cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan
bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang
lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang
benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar

5
kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu
merupakan hasil pilihan Anda.Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi
untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter,
lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang
memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda
hargai dalam kehidupan ini.Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya.
Anda memiliki kontrol penuh atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat
menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang
bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah tanggung
jawab pribadi Anda.

2.3 Ruang Lingkup Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter merupakan bagian penting bagi kehidupan
manusia. Sebagai sebuah proses, ada dua asumsi yang berbeda mengenai
pendidikan karakter. Pertama, ia bisa dianggap sebagai sebuah proses yang
terjadi secara tidak disengaja atau berjalan secara alamiah. Misalnya, pada
dasarnya manusia belajar dari peristiwa alam yang ada untuk mengembangkan
kehidupannya. Kedua, pendidikan karakter bisa dianggap sebagai proses yang
terjadi secara sengaja, direncanakan, didesain dan diorganisasi berdasarkan
perundang-undangan yang dibuat. Misalnya, UU Sisdiknas yang merupakan
dasar penyelenggaraan pendidikan.
Pengembangan pendidikan karakter harus memiliki peruntukan yang
jelas dalam usaha membangun moral dan karakter anak bangsa melalui kegiatan
pendidikan. Ruang lingkup pendidikan karakter berupa nilai-nilai dasar etika
dan bentuk-bentuk karakter yang positif, selanjutnya menuntut kejelasan
identifikasi karakter sebagai perwujudan perilaku bermoral. Pendidikan
karakter tanpa identifikasi karakter hanya akan menjadi sebuah perjalanan tanpa
akhir, petualangan tanpa peta. Kemudian, ruang lingkup atau sasaran dari
pendidikan karakter ialah satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Peran
ketiga aspek tersebut sangat penting guna membentuk dan menanamkan
pendidikan karakter pada peserta didik. Hal tersebut sangat ditentukan oleh
semangat, motivasi, nilai-nilai, dan tujuan dari pendidikan.

6
2.4 Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang baru. Sebetulnya pendidikan
karakter sama tuanya dengan pendidikan itu sendiri. Sepanjang sejarah, di
negara-negara seluruh dunia, pendidikan memiliki dua tujuan besar yakni
membantu anak-anak menjadi pintar dan membantu mereka menjadi baik.
Sejak zaman Plato, pendidikan karakter yang dibarengkan dengan pendidikan
intelektual, kesusilaan, dan literasi, serta budi pekerti dan kemanusiaan.
Mereka mencoba membentuk sebuah masyarakat yang menggunakan
kecerdasan mereka untuk kemaslahatan orang lain dan diri mereka, yang akan
mencoba membangun dunia yang lebih baik.
Tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat
seseorang menjadi good dan smart. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad
SAW menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk
mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character).
Pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada
pembentukan budaya sekolah atau madrasah, yaitu nilai-nilai yang melandasi
perilaku, tradisi kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol yang dipraktikkan
oleh semua warga sekolah atau madrasah dan masyarakat sekitarnya.
Adapun tujuan pendidikan karakter menurut Kementerian Pendidikan
Nasional adalah mengembangkan karakter peserta didik agar mampu
mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila. Apabila tujuan pendidikan karakter
yang berbasis agama dan bangsa, maka tujuannya ialah menanamkan jiwa
kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus
bangsa, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang
mandiri, kreatif dan berwawasan kebangsaan, mengembangkan lingkungan
kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh
kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan
penuh kekuatan.

2.5 Prinsip Pendidikan Karakter

7
Pada prinsipnya, pengembangan budaya dan karakter bangsa tidak
dimasukkan sebagai pokok bahasan tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran,
pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu, guru dan sekolah
perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan
budaya dan karakter bangsa ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
2006 (KTSP) atau Kurikulum 2013 (Kurtilas), Silabus, dan Rencana Program
Pembelajaran (RPP) yang sudah ada.
Berikut prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan
pendidikan budaya dan karakter bangsa.
1. Pendidikan merupakan kiat untuk menerapkan prinsip-prinsip ilmu
pengetahuan dan teknologi bagi manusia.
2. Pendidikan merupakan proses interaksi sesama manusia yang ditandai
keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan
pendidik.
3. Pendidikan pada prinsipnya berlangsung seumur hidup.
4. Pendidikan merupakan upaya mensiapkan peserta didik menghadapi
lingkungan yang mengalami perubahan semakin besar.
5. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.
Sementara itu, orang Yunani memberikan prinsip pendidikan sebagai
usaha membantu manusia menjadi manusia. Adapun tujuan pendidikan
sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Maksud memanusiakan manusia
adalah menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya yang memiliki
kemampuan mengendalikan diri, berpengetahuan dan cinta tanah air. Untuk
mewujudkan hal tersebut, diperlukan penanaman nilai-nilai perilaku
berkarakter.

2.6 Contoh Program Pendidikan karakter.


1. Lingkungan Sekolah:
a. Training Guru
Terkait dengan program pendidikan karakter disekolah, bagaimana
menjalankan dan melaksanakan pendidikan karakter disekolah, serta

8
bagaimana cara menyusun program dan melaksanakannya, dari gagasan
ke tindakan.
Program ini membekali dan memberikan wawasan pada guru tentang
psikologi anak, cara mendidik anak dengan memahami mekanisme
pikiran anak dan 3 faktor kunci untuk menciptakan anak sukses, serta
kiat praktis dalam memahami dan mengatasi anak yang “bermasalah”
dengan perilakunya.
b. Program Bimbingan Mental
Program ini terbagi menjadi dua sesi program :
 Sesi Workshop Therapy, yang dirancang khusus untuk siswa usia
12 -18 tahun. Workshop ini bertujuan mengubah serta membimbing
mental anak usia remaja. Workshop ini bekerja sebagai “mesin
perubahan instant” maksudnya setelah mengikuti program ini anak
didik akan berubah seketika menjadi anak yang lebih positif.
 Sesi Seminar Khusus Orangtua Siswa, membantu orangtua
mengenali anaknya dan memperlakukan anak dengan lebih baik,
agar anak lebih sukses dalam kehidupannya. Dalam seminar ini
orangtua akan mempelajari pengetahuan dasar yang sangat bagus
untuk mempelajari berbagai teori psikologi anak dan keluarga.
Memahami konsep menangani anak di rumah dandi sekolah, serta
lebih mudah mengerti dan memahami jalan pikiran anak, pasangan
dan orang lain.
2. Lingkungan Keluarga:
a. Membangun Karakter Anak Sejak Usia Dini.
Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti
dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan
diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan
alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil
hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada
akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami
bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan
dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang

9
negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya
dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak
sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada
anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak
mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk
bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung
atau secara halus, dan seterusnya.
b. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan
sekitar.
Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan
karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak
wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis.
Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan
karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa
diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang
Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui
pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada
kehidupan sosial.

2.7 Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa.


Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk
memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat
mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan
demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah
menjadi kesepakatan bersama. "Dari mana asalmu tidak penting, ukuran
tubuhmu juga tidak penting, ukuran Otakmu cukup penting, ukuran hatimu
itulah yang sangat penting” karena otak (pikiran) dan kalbu hati yang paling
kuat menggerak seseorang itu ”bertutur kata dan bertindak”. Simak, telaah, dan
renungkan dalam hati apakah telah memadai ”wahana” pembelajaran
memberikan peluang bagi peserta didik untuk multi kecerdasan yang mampu
mengembangkan sikap-sikap: kejujuran, integritas, komitmen, kedisipilinan,

10
visioner, dan kemandirian. Sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga,
betapa perbedaan, pertentangan, dan pertukaran pikiran itulah sesungguhnya
yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Melalui perdebatan tersebut
kita banyak belajar, bagaimana toleransi dan keterbukaan para Pendiri Republik
ini dalam menerima pendapat, dan berbagai kritik saat itu. Melalui pertukaran
pikiran itu kita juga bisa mencermati, betapa kuat keinginan para Pemimpin
Bangsa itu untuk bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga
perbedaan-perbedaan tidak menjadi persoalan bagi mereka.
Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila,
dan landasan konstitusional UUD 1945. Sejarah Indonesia memperlihatkan
bahwa pada tahun 1928, ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk
membangun nasional Indonesia. Mereka bersumpah untuk berbangsa, bertanah
air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka dipilihnya bentuk
negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang
secara sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut.
Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti
simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia.
Dari mana memulai dibelajarkannya nilai-nilai karakter bangsa, dari
pendidikan informal, dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan
nonformal. Tantangan saat ini dan ke depan bagaimana kita mampu
menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan bangsa. Oleh
karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter
menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal
ini tentunya juga menuntut adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik,
sosial, dan, budaya bangsa. “Pendidikan Karakter Untuk Membangun
Keberadaban Bangsa” adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya
kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka
diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang
terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat,
apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan
keagamaan. Pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas
implementasinya, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan dan bukan

11
simbol atau slogan, tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun
keberadaban bangsa Indonesia. Pembiasaan berperilaku santun dan damai
adalah refreksi dari tekad kita sekali merdeka, tetap merdeka.
(MuktionoWaspodo)

2.5 Pendidikan Karakter yang Berhasil.


Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian
indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi
Lulusan SMP, yang antara lain meliputi sebagai berikut:
1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap
perkembangan remaja.
2. Memahami kekurangan dan kelebihan dirisendiri.
3. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih
luas.
4. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial
ekonomi dalam lingkup nasional.
5. .Menunjukkan sikap percaya diri.
6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-
sumber lain secara logis, kritis,dankreatif.
7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi
yang dimilikinya.
9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
10. Mendeskripsikan gejala alam dan social.
11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab.
12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara
kesatuan Republik Indonesia.
13. Menghargai karyaseni dan budayanasional.
14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.

12
15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu
luang dengan baik.
16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di
masyarakat;
18. Menghargai adanya perbedaan pendapat.
19. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.
20. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.
21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan
menengah.
22. Memiliki jiwa kewirausahaan.
23. Menunjukkan sikap percaya diri.
Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah
terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan
simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat
sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan beberapa kategori
yaitu:
1. Bangsa Indonesia telah berusaha untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu
pendidikan karakter melalui sekolah-sekolah, terutama Sekolah Menengah
Pertama (SMP), karena anak usia SMP sangat cocok untuk diberi
pembelajaran tentang pendidikan karakter.
2. Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rosulullah melarang para
orangtua (guru) mendoakan keburukan bagi anak-didiknya. Mendoakan
keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat
mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.
3. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan
dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian
pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu,
dan seimbang.
4. Bila pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi
kalau masa depan bangsa Indonesia ini akan mengalami perubahan menuju
kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini mengalami kegagalan sudah
pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan
semakin ketinggalan dari negara-negara lain.

3.2 Saran
Pemerintah harus selalu memantau atau mengawasi dunia pendidikan,
karena dari dari dunia pendidikan Negara bisa maju dan karena dunia
pendidikan juga Negara bisa hancur, bila pendidikan sudah disalah gunakan.

14
Selain mengajar, seorang guru atau orang tua juga harus mendo’akan anak atau
muridnya supaya menjadi lebih baik, bukan mendo’akan keburukan bagi anak
didiknya.
Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap
peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya, karena jika tidak semua
pembelajaran yang di jalani anak didik akan sia-sia. Semoga karya tulis dapat
bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi pembaca. Amiiin..

15
DAFTAR PUSTAKA

Anas Salahudin, Pendidikan Karakter;Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya


Bangsa, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2013). Hlm. 41.
Abdul Majid, Pendidikan Karakter Persfektif Islam, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2011), hlm. 11.
Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik dan Praktik. (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011). hlm 287.
Hamzah Ya’qub, Etika Islam: Pembinaan Akhlaqul Karimah. (Bandung: CV
Diponegoro, 2008). Cet IV, hlm 11.
Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islami (Akhlak Mulia). (Jakarta: Pustaka Panjimas,
2006), hlm. 27.
http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-
melengkapi-kepribadian/
http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/
http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakter-
anak/
http://www.pendidikankarakter.com/membangun-karakter-sejak-pendidikan-anak-
usia-dini/

16