Anda di halaman 1dari 12

A.

REVIEW JURNAL
1 Judul PENGARUH MODEL SISTEM SALURAN PADA
PROSES PENGECORAN ALUMINIUM DAUR
ULANG TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN
KEKERASAN CORAN PULLI DIAMETER 76 mm
DENGAN CETAKAN PASIR
2 Jurnal Jurnal Teknik Mesin
3 Download https://media.neliti.com/media/publications/114152-ID-
pengaruh-model-sistem-saluran-pada-prose.pdf
4 Volume dan Volume 8, NO. 1, dan 7 halaman
Halaman
5 Tahun April 2012
6 Penulis K. Roziqin
H. Purwanto
I. Syafa’at
7 Reviewer Muhammad Al-Hafiez
8 Tanggal 26 September 2019
9 Abstrak
Tujuan 1. Mengetahui hasil produk cor daur ulang paduan
aluminium terhadap cacat penyusutan yang
Penelitian dipengaruhi oleh tiga bentuk model sistem saluran
yang digunakan pada temperatur tuang 700 oC.
2. Mengetahui struktur mikro dan kekerasan yang
dipengaruhi oleh model sistem saluran yang
digunakan pada temperatur tuang 700 oC.
- Subjek Bahan baku penelitian ini adalah paduan alumunium
Penelitian bekas (Al-Si) dicetak menggunakan pasir cetak.
- Kata Kunci Pengecoran Cetakan Pasir, Aluminium Daur Ulang,
Struktur Mikro, Kekerasan.
10 Pendahuluan
- Latar Pemanfaatan logam bekas menjadi bahan baku industri
Belakang dan semakin meningkat,sehingga menjadi komoditi
Teori perdagangan dan mendorong berkembangnya usaha-
usaha penampungan logam bekas di sekitar lokasi
usaha. Salah satu jenis logam bekas (daur ulang) yang
banyak digunakan untuk pengecoran adalah jenis logam
aluminium. Untuk menghasilkan produk yang baik pada
proses pengecoran salah satunya yaitu merencanakan
model sistem saluran. Kualitas coran salah satunya
tergantung pada sistem saluran yang diantaranya
saluran turun, penambah, keadaan penuangan, dan lain
lain. Sehingga sistem saluran perlu diperhatikan secara
detail dan teliti, sehingga masalah tersebut perlu
dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh model
sistem saluran terhadap kualitas coran yang dihasilkan
pada coran pulli dengan diameter 76 mm.
Metode Penelitian
- Langkah Metode penelitian yang digunakan adalah
Penelitian menerapkan model saluran tuang tipe offset basin
dan offset stepped basin.
Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah: Variabel bebas yaitu sistem saluran, dengan
besar sistem saluran langsung, saluran samping, dan
saluran bawah. Variabel terikat pada penelitian ini
adalah uji kekerasan, fluiditas dan cacat coran logam.
Variabel kontrol pada penelitian ini adalah Pasir silika
yang digunakan dalam pembuatan pasir cetak adalah
pasir Malang. Bahan pengikat yang digunakan Lumpur
Porong Sidoarjo sebanyak 15% karena pada penelitian
sebelumnya dihasilkan uji kekerasan yang baik (Broto,
2014), Cetakan yang digunakan yaitu cetakan pasir
basah, Logam yang digunakan untuk pengecoran adalah
logam paduan aluminium dengan silikon (Al-Si).
- Hasil Data yang diperoleh dari pengujian kekerasan
Penelitian memiliki nilai rata-rata kekerasan yang paling tinggi
terletak pada saluran bawah yaitu sebesar 116,59 HV.
Untuk kekerasan terendah adalah pada saluran atas
sebesar 106,93 HV. Sesdangkan untuk saluran samping
adalah 115 HV.
Berdasarkan hasil penelitian diatas yang
mempengarui kekerasan tertinggi adalah laju pengaliran
cor, pada saluran bawah hasil coran paling tinggi karena
pada saluran ini aliran mempunyai gaya tekan yang
tinggi dari atas menuju ke bawah dan mengalir ke atas
lagi.
Selain itu laju pembekuan juga berpengaruh
terhadap kekerasannya Jadi semakin lama laju
pembekuannya semakin rendah kekerasanya dan
sebaliknya semakin cepat laju pembekuannya semakin
keras hasil coran (Roziqin,2012).
Dapat disimpulkan bahwa yaitu matrik Al-Si
memiliki ukuran lebih kecil sehingga yang tampak
dominan pada struktur mikro yaitu Si primer, dan dapat
disimpulkan bahwa Si primer sangat mempengaruhi nilai
hasil kekerasan. Jadi semakin kecil matrik Al-Si maka
semakin keras kekerasannya.
12 Analisis Jurnal
- Kekuatan
Penelitian
- Kelemahan
Penelitian
13 Kesimpulan Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan
yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
(1) Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil uji
fluiditas, spesimen coran yang menggunakan saluran
samping memiliki fluiditas yang paling baik. Hal ini
disebabkan oleh ukuran total yang dimiliki oleh saluran
samping yang paling mendekati ukuran total yang
dimiliki oleh pola. Ukuran yang dimiliki oleh saluran
samping meliputi panjang total 797.9 mm, lebar total
82.5 mm dan tebal total 20.7 mm. Sedangkan yang
paling buruk adalah saluran bawah dengan meliliki
ukuran panjang total 653.7 mm, lebar total 80.7 mm dan
tebal total 19.1 mm.

(2) Berdasarkan data yang diperoleh dari pengujian


kekerasan menunjukkan bahwa saluran bawah memiliki
nilai rata-rata kekerasan yang paling tinggi jika
dibandingkan dengan saluran langsung dan samping.
Nilai kekerasan untuk saluran bawah adalah 116.59 HV.
Sedangkan untuk kekerasan yang rendah adalah saluran
langsung yaitu sebesar 106.93 HV.

(3) Berdasarkan data yang diperoleh dari pemeriksaan


rupa pada masing-masing spesimen menunjukkan bahwa
cacat yang muncul di penelitian ini adalah cacat rongga
udara, cacat lubang jarum, cacat penyusutan, cacat
cetakan rontok, cacat salah alir dan sumbat dingin, cacat
inklusi pasir dan cacat kekasaran erosi. Model saluran
samping merupakan model yang paling baik karena
jumlah cacat yang terlihat merupakan yang paling sedikit
jika dibandingkan dengan spesimen lainnya.

Adapun data yang diperoleh dari foto makro


menunjukkan bahwa spesimen cor yang menggunakan
saluran samping memi-liki ukuran cacat lubang jarum
yang paling kecil berjumlah ± 9 buah dan cacat struktur
butir terbuka ± 31 buah, Berdasarkan hal tersebut
penggunaan saluran samping merupakan yang paling
baik karena memi-liki cacat lubang jarum yang sedikit
dan cacat struktur butir terbuka yang sedikit sehingga
permukaannya nampak lebih baik dari pada spesimen
lainnya.
14 Saran Berdasarkan hasil penelitian dan ke-simpulan, maka
saran-saran yang diberikan untuk meminimalisasi
kerusakan pada hasil pengecoran logam aluminium
adalah seba-gai berikut: (1) Perlu diadakan penelitian le-
bih lanjut mengenai pengaruh model saluran lainnya
pada hasil cor. (2) Perlu diadakan penelitian lebih lanjut
jika saluran masuk-nya di tambah lebih dari satu. (3)
Perlu diadakan penelitian perbedaan temperatur, dalam
penelitian ini tempertur yang diguna-kan adalah 700 oC.
(4) Perlu diperhatikan kelembaban suhu ruang terhadap
pasir cetak. (5) Perlu diadakan pengujian lain seperti
pengujian impact dan pengujian tarik untuk melengkapi
hasil penelitian ini. (6) Bagi praktisi dunia usaha kecil
menengah yang lebih mengutamakan nilai estetika dari
pada sifat fisik maupun mekanik hasil cor, penggunaan
saluran samping lebih dianjur-kan untuk memperoleh
hasil coran yang lebih baik dalam mengisi rongga cetak
dengan hasil kekerasan yang cukup baik. Bila ingin
mendapatkan kekerasan yang tinggi maka dapat
menggunakan saluran bawah akan tetapi saluran ini
kurang baik untuk ukuran fluiditasnya.
15 Daftar Pustaka Broto, Opi Wisnu. 2014. Pengaruh peng-gunaan Lumpur
Lapindo Sebagai Bahan Pengikat pada Pasir Cetak
terhadap Kualitas dan Fluiditas Hasil Pengecoran
Logam Al-Si. Skripsi tidak di terbitkan: Universitas
Negeri Malang.

Rozikin, K. 2012. Pengaruh Model Sistem Saluran


Pada Proses Pengecoran Alumunium Daur
Ulang Terhadap Struktur Mikro dan Kekerasan
Coran Pulli Diameter 76 mm Dengan Cetakan
Pasir. Jurnal tidak diterbit-kan. Semarang:
Universitas Wahid Hasyim.

Sularjaka. 2010. Analisis Cacat Cor Pada Proses


Pengecoran Burner Kompor (Studi Kasus Di PT. Suyuti
Sido Maju, Ceper). Jurnal tidak diterbitkan: Universitas
Diponegoro.
Surdia, Tata. 1982. Teknik Pengecoran Logam. Jakarta:
Pradnya Paramita.
Surdia, Tata. 2000. Teknik Pengecoran
Logam. Jakarta: Pradnya Paramita.

Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman Penulisan


Karya Ilmiah Edisi Kelima. Malang: Universitas Negeri
Malang.

B. REVIEW JURNAL II
1 Judul Pengaruh Model Sistem Saluran Pada Proses
Pengecoran Aluminium Daur Ulang Terhadap Stuktur
Mikro Dan Kekerasan Coran Pulli Diameter 76 mm
Dengan Cetakan Pasir.
2 Jurnal Jurnal Teknik Mesin
3 Download https://media.neliti.com/media/publications/114152-ID-
pengaruh-model-sistem-saluran-pada-prose.pdf
4 Volume dan Vol. 8, No. 1, dan 7 halaman
Halaman
5 Tahun April 2012
6 Penulis K. Roziqin, H. Purwanto, dan I. Syafa’at
7 Reviewer Cindy Aprillia Arfani
8 Tanggal 04 Oktober 2017
9 Abstrak
- Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk:
Penelitian
1.Mengetahui hasil produk cor daur ulang paduan
aluminium terhadap cacat penyusutan yang dipengaruhi
oleh tiga bentuk model sistem saluran yang digunakan
pada temperatur tuang 700˚C.

2.Mengetahui struktur mikro dan kekerasan yang


dipengaruhi oleh model sistem saluran yang digunakan
pada temperatur tuang 700˚C.
- Subjek Penelitian terhadap pengaruh model saluran tuang pada
Penelitian cetakan pasir terhadap hasil cor logam.
- Kata Kunci Pengecoran Cetakan Pasir, Aluminium Daur Ulang,
Struktur Mikro, Kekerasan.
10 Pendahuluan
- Latar Pemanfaatan logam bekas menjadi bahan baku industri
Belakang semakin meningkat, sehingga menjadi komoditi
dan Teori perdagangan dan mendorong berkembangnya usaha-
usaha penampungan logam bekas di sekitar lokasi
usaha. Salah satu jenis logam bekas (daur ulang) yang
banyak digunakan untuk pengecoran adalah jenis logam
aluminium. Untuk menghasilkan produk yang baik pada
proses pengecoran salah satunya yaitu merencanakan
model sistem saluran. Kualitas coran salah satunya
tergantung pada sistem saluran yang diantaranya saluran
turun, penambah, keadaan penuangan, dan lain lain.
Sehingga sistem saluran perlu diperhatikan secara detail
dan teliti, sehingga masalah tersebut perlu dilakukan
penelitian untuk mengetahui pengaruh model sistem
saluran terhadap kualitas coran yang dihasilkan pada
coran pulli dengan diameter 76 mm.

Pengecoran
Coran dibuat dari logam yang dicairkan, dituang
kedalam cetakan, kemudian dibiarkan mendingin dan
membeku. Oleh karena itu sejarah pengecoran dimulai
ketika orang mengetahui bagaimana mencairkan
logamdan bagaimana membuat cetakan. Hal itu terjadi
kira-kira tahun 4.000 sebelum Masehi, sedangkan tahun
yang lebih tepat tidak diketahui orang (Surdia dan
Chijiiwa, 1986).

Penentuan tambahan penyusutan


Volume logam pada kondisi cair dan membeku terjadi
perubahan penyusutan. Karena hal tesebut maka dalam
perencanaan pola dimensi atau ukurannya harus
ditambah dengan faktor penyusutan sesuai dengan
logam yang akan di cor. (Surdia dan Chijiiwa, 1986).

Sistem Saluran
Sistem saluran adalah sistem yang dibuat dimana logam
cair mengalir hingga ke rongga cetakan. Secara umum
sistem saluran terdiri dari: cawan tuang, saluran turun,
saluran pengalir, saluran masuk dan.

Cawan tuang adalah sebuah cekungan atau corong di


cetakan yang menerima langsung logam cair dari ladel.
Saluran turun adalah saluran dimana logam cair
mengalir dari cawan tuang menuju saluran pengalir dan
saluran masuk.
11 Metode Penelitian
- Langkah
Penelitian

- Hasil Hasil menunjukkan bahwa dari ketiga model sistem


Penelitian saluran tersebut pola saluran A dan pola saluran C tidak
terdapat cacat penyusutan, sedangkan hasil coran pada
pola saluran B masih terdapat cacat penyusutan yang
terletak dibagian tengah coran. Pada pengamatan
struktur mikro, pola saluran C lebih sedikit cacat
porositasnya dibandingkan dengan pola saluran A dan
B. Pada Uji kekerasan menunjukkan bahwa pola saluran
A pada spesimen A1 dan A3 mempunyai kekerasan
yang paling tinggi diantara spesimen yang lain yaitu
sebesar 77,40 BHN. Sedangkan kekerasan terendah
terdapat pada pola saluran C yaitu pada spesimen C2
sebesar 74,40 BHN. Hal tersebut karena laju
pembekuan terakhir terletak pada bagian tengah coran.
Jadi semakin lama laju pembekuannya semakin rendah
kekerasannya.
12 Analisis Jurnal
- Kekuatan
Penelitian
- Kelemahan
Penelitian
13 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, pengujian dan analisa
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.Dari ketiga model sistem saluran tersebut hasil coran
dapat dikatakan bahwa pola saluran A dan pola saluran
C tidak terdapat cacat penyusutan, sedangkan hasil
coran pada pola saluran B masih terdapat cacat
penyusutan yang terletak ditengah coran. Cacat
penyusutan terjadi akibat gas dan uap air terjebak
didalam rongga cetakan yang tidak dapat keluar.

2.Dari hasil pengamatan struktur mikro pada ketiga


sistem saluran tersebut adalah cacat porositas terjadi
akibat gas yang terbawa dalam logam cair selama
pencairan terjebak didalam rongga cetakan. Hasil
struktur mikro pada pola saluran C lebih sedikit cacat
porositasnya dibandingkan dengan pola saluran A dan
paling banyak cacat porositasnya terdapat pada pola
saluran B.

3.Hasil pengujian kekerasan terlihat bahwa spesimen


A1 dan A3 mempunyai kekerasan yang paling tinggi
diantara spesimen yang lain yaitu sebesar 77,4 BHN.
Sedangkan kekerasan terendah terdapat pada spesimen
C2 yaitu sebesar 74,4 BHN. Hal ini dikarenakan laju
pembekuan terakhir terletak pada sumbu tengah coran.
Jadi semakin lama laju pembekuannya semakin rendah
kekerasannya.
14 Saran Berdasarkan pelaksanaan dan hasil penelitian, maka:

1.Peneliti merekomendasikan untuk pola saluran C lebih


baik digunakan pada pengecoran dengan cetakan pasir.
2.Saran yang dibutuhkan untuk penelitian selanjutnya
perlu dilakukan penelitian yang sama dengan
menambah saluran penambah pada bagian tengah yang
terdapat cacat penyusutan dengan pembuatan coran
minimal tiga kali percobaan untuk masing-masing
model sistem saluran.
15 Daftar Pustaka Amstead B.H. dan Ostwalt P.F., 1995, Teknologi
Mekanik, Erlangga, Jakarta.

Basuki B. dan Djuhana, 2005, Pengaruh Analisa


Penampang Riser Terhadap Cacat Pengecoran Logam
Aluminium, Jurnal material Metalurgi PUSPIPTEK
Serpong Tangerang.

Fleemings, M.C., 1974, Solidification Processing, Mc.


Graw-Hill Book Company, pp. 134-135.

Hardi S., 2008, Teknik Pengecoran Logam, BSE


SMK, Departemen Pendidikan Nasional.

Purwanto H., 2009, Teknik Pengecoran, Diktat Kuliah


Teknik Mesin Universitas Wahid
Hasyim Semarang.

Purnomo, 2004, Pengaruh Pengecoran Ulang terhadap


Sifat Mekanis pada Paduan
Aluminium, Jurnal Teknik Mesin Universitas
Gunadarma, Jakarta.

C. REVIEW JURNAL III


1 Judul Defects, Causes and Their Remedies in Casting
Process: A Review
2 Jurnal International Journal of Research in Advent
Technology
3 Download http://www.ijrat.org/downloads/march-
2014/paper%20id-232014109.pdf
4 Volume dan Halaman Vol.2, No.3, dan 9 halaman
5 Tahun Maret 2014
6 Penulis Rajesh Rajkolhe dan J. G. Khan
7 Reviewer Cindy Aprillia Arfani
8 Tanggal 04 Oktober 2017
9 Abstrak
- Tujuan This study aims to finding different defects in
Penelitian casting, analysis of defect and providing their
remedies with their causes. In this paper an attempt
has been made to list different types of casting
defects and their root causes of occurrence. This
paper also aims to provide correct guideline to
quality control department to find casting defects
and will help them to analyze defects which are not
desired.
- Subjek Analysis of defect and providing their remedies
Penelitian with their causes.
- Kata Kunci Casting; defects in casting; quality control in
casting; causes and remedies for casting defects.
10 Pendahuluan
- Latar Belakang Casting is a process which carries risk of failure
dan Teori occurrence during all the process of
accomplishment of the finished product. Hence
necessary action should be taken while
manufacturing of cast product so that defect free
parts are obtained. Mostly casting defects are
concerned with process parameters. Hence one has
to control the process parameter to achieve zero
defect parts. For controlling process parameter one
must have knowledge about effect of process
parameter on casting and their influence on defect.

To obtain this all knowledge about casting


defect, their causes, and defect remedies one has to
be analyze casting defects. Casting defect analysis
is the process of finding root causes of occurrence
of defects in the rejection of casting and taking
necessary step to reduce the defects and to improve
the casting yield.

In this review paper an attempt has been made to


provide all casting related defect with their causes
and remedies.

During the process of casting, there is always a


chance where defect will occur. Minor defect can
be adjusted easily but high rejected rates could lead
to significant change at high cost. Therefore it is
essential for die caster to have knowledge on the
type of defect and be able to identify the exact root
cause, and their remedies.

CASTING DEFECT CAN BE CLASSIFIED


AS FOLLOWS-
 Filling related defect
 Shape related defect
 Thermal defect
 Defect by appearance

These defects are explained as follows.


 Filling related defects
11 Metode Penelitian
- Langkah
Penelitian
- Hasil Penelitian
12 Analisis Jurnal
- Kekuatan
Penelitian
- Kelemahan
Penelitian
13 Kesimpulan In this research work different casting defects are
studied. By referring different research papers
causes and their remedies are listed. These will help
to quality control department of casting industries
for analysis of casting defect. This study will
definitely be helpful in improving the productivity
and yield of the casting. Rejections of the casting on
the basis of the casting defect should be as
minimized and all the above research is heading in
the same direction.
15 Daftar Pustaka [1]. Review of Casting Defect Analysis to Initiate
the Improvement Process”A.P.More,
Dr.R.N.Baxi, Dr.S.B.Jaju Mechanical
Engineering Department, G.H.Raisoni College
of Engineering, Nagpur. 440016 (India)

[2].Defect formation in cast iron Lennart Elmquist


School of Engineering Jönköping University,
Sweden Tammerfors, Finland, November 8,
2012

[3]. Analysis of Casting Defects and Identification


of Remedial Measures – A Diagnostic Study
Dr D.N.
Shivappa1, Mr Rohit2, Mr. Abhijit
Bhattacharya3 International Journal of Engineering
Inventions ISSN:

2278-7461, www.ijeijournal.com Volume 1,


Issue 6 (October2012) PP: 01-05

[4]Casting Defect Analysis using Design of


Experiments (DoE) and Computer Aided
Casting Simulation Technique Uday A.
Dabade* and Rahul

C. Bhedasgaonkar,(2013)