Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR GOUT ARTRITIS


1. Pengertian
Gout adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal
asam urat pada jaringan sekitar sendi. Gout terjadi sebagai akibat dari
hyperuricemya yang berlangsung lama ( asam urat serum meningkat ) di
sebabkan karena penumpukan purin atau eksresi asam urat yang kurang dari
ginjal.
Gout adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus
yaitu Artritis Gout, yang di sebabkan inflamasi jaringan terhadap
pembentukan kristal monosodium urat.

2. Anatomi Fisiologi
Sebagian besar sendi kita adalah sendi sinovial. Permukaan tulang
yang bersendi diselubungi oleh tulang rawan yang lunak dan licin.
Keseluruhan daerah sendi dikelilingi sejenis kantong, terbentuk dari jaringan
berserat yang disebut kapsul. Jaringan ini dilapisi membran sinovial yang
menghasilkan cairan sinovial untuk “meminyaki” sendi. Bagian luar kapsul
diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat pada tulang, menahannya kuat-
kuat di tempatnya dan membatasi gerakan yang dapat dilakukan.
Rawan sendi yang melapisi ujung-ujung tulang mempunyai mempunyai fungsi
ganda yaitu untuk melindungi ujung tulang agar tidak aus dan memungkinkan
pergerakan sendi menjadi mulus/licin, serta sebagai penahan beban dan
peredam benturan. Agar rawan berfungsi baik, maka diperlukan matriks rawan
yang baik pula.
a. Matriks terdiri dari 2 tipe makromolekul, yaitu :
Proteoglikan : yang meliputi 10% berat kering rawan sendi, mengandung
70-80% air, hal inilah yang menyebabkan tahan terhadap tekanan dan
memungkinkan rawan sendi elastis.

1
b. Kolagen : komponen ini meliputi 50% berat kering rawan sendi, sangat
tahan terhadap tarikan. Makin kearah ujung rawan sendi makin tebal,
sehingga rawan sendi yang tebal kolagennya akan tahan terhadap tarikan
Disamping itu matriks juga mengandung mineral, air, dan zat organik lain
seperti enzim.

3. Etiologi
Reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal monosodium
urat. Kelainan metabolik
Gangguan kinetik asam urat yang hiperuricemia yang terjadi karena:
a. Pembentukan asam urat berlebih
Gout primer metabolik di sebabkan sitesi langsung yang bertambah. Gout
sekunder metabolik di sebabkan pembentukan asam urat berlebih
karena penyakit lain, seperti leukuimia.
b. Kurang asam urat melalui ginjal
Gout primer renal terjadi karena eksresi asam urrat di tubulus distal yang
sehat. Gout sekunder di sebabkan karena Ginjal, misalnya ;
Glameronefritis kronis.
c. Pembengkakan dalam usus yang berkurang

4. Patofisiologi
Konsentrasi asam urat dalam darah mekanisme serangan gout akut
berlangsung melalui beberapa fase secara berurutan
a. Presipitasi kristal monosodium urat.
Terjadi bila kosentrasi dalam plasma > 9 mg/dl.
b. Respon leukosit polimorfonukuler ( PMN )
Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang menimbulkan
respon leukosit dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal oleh
leukosit.

2
c. Fagositosis
Kristal di fagositosis oleh leukosit membentuk fagolisosom dan akhirnya
membran vakula di sekeliling kristal bersatu dan membran leukositik
lisosom.
d. Kerusakan lisosom
Setelah terjadi kerusakan sel enzim lisosom sesudah selaput protein di
rusak, terjadi ikatan hidrogen antara permukaan kristal membran lisosom,
peristiwa ini menyebabkan robeka membran dan pelepasan enzim dan
oksidase radikal ke dalam sitoplasma.
e. Kerusakan sel
Setelah terjadi kerusakan sel enzim lisosom di lepaskan kedalam cairan
sinovial yang menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan
jaringan.

5. Manifestasi Klinik
a. Adanya artrittis tofi pada daaerah telinga siku dan lutut.
b. Menimbulkan rasa sakit/ nyeri daerah sendi.
c. Klien tampak segar bugar dan tengah malam terbangun klarena rasa sakit
hebat.
d. Pembengkakan, kemerahan, kesemutan, kekakuan sendi pada pagi hari.
e. Kadar asam urat tinnggi/ hyperuricemia.

6. Komplikasi
a. Urolitiasis
b. Deformitas persendian yang terserang
c. Neophropaty akibat defosit kristal urat dalam intestinal ginjal

7. Penatalaksanaan
a. Obat
1) Kolkisin, obat utama pengobatan dan pencegahan gout dengan dosis
rendah

3
2) OAINS
Semua jenis OAINS dapat di berikan palling sering di gunakan adalah
indometasin 25 – 50 mg/ 18 jam.
3) Kortikosteroid
4) Analgetik, di berikan bila rasa nyeri sangat hebat.
b. Tirah baring merupakan keharusan dan di teruskan sampai 24 jam setelah
serangan menghilang.
c. Penatalaksanaan periode antara
d. Diet di anjurkan pada pasien gemuk, serta diet rendah purin.
Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan asam
urat dan menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan
mempertahankannya dalam batas normal.
Bahan makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan pada penderita
gout artritis:

Golongan Makanan yang boleh Makanan yang tidak boleh


bahan diberikan diberikan
makanan
Karbohidrat Semua -
Protein hewani Daging atau ayam, Sardin, kerang, jantung, hati, usus,
ikan tongkol, bandeng limpa, paru-paru, otak, ekstrak
50 gr/hari, telur, susu, daging/ kaldu, bebek, angsa,
keju burung.
Protein nabati Kacang-kacangan -
kering 25 gr atau tahu,
tempe, oncom
Lemak Minyak dalam jumlah -
terbatas.
Sayuran Semua sayuran Asparagus, kacang polong, kacang
buncis, kembang kol, bayam, jamur
maksimum 50 gr sehari
Buah-buahan Semua macam buah -
Minuman Teh, kopi, minuman Alkohol

4
yang
Bumbu, dll mengandung soda Ragi
Semua macam bumbu

e. Hindari obat- obatan yang mengakibatkan hyperuricemia; tiazid, diuretik,


aspirin kolkisin secara teratur.
f. Penurunan kadar asam urat
Obat okurosurik ; bekerja menghambat reasorbsi terhadap asam urat,
inhibitor atau alupurinol, menurunkan produksi asam urat dan
menghambat pembentukan xatin dengan menghambat enzim xatin oxidase.

8. Pemeriksaan penunjang
a. Lab : asam urat yang tinggi dalam darah ( 6 mg/ dl ) ( N = 8 mg/dl, w = 7
mg/dl )
b. LED meningkat, kadar asam urat dalam urin juga tinggi ( 1500 mg%/L/
24jam )
c. Pemeriksaan cairan tofi, terpenting untuk penegakan diagnostik.

5
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Data Fokus Pengkajian
a. Wawancara
1) Identitas
Nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, tanggal
masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, suku bangsa, No. Register
dan alamat identitas penanggung jawab terdiri dari nama, usia,
pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, agama, hubungan dengan klien
dan alamat.
2) Riwayat kesehatan
- Keluhan utama
Merupakan keluhan yang ditemukan saat pengkajian
- Riwayat kesehatan sekarang
Menceritakan kapan klien mengalami kejadian seperti sekarang,
sifat klien, lamanya kejadian, serta gejala-gejala kejadian yang
mengalami riwayat kesehatan.
- Riwayat kesehatan keluarga
Perlu diketahui untuk memperoleh data apakah dalam keluarga
klien terdapat penyakit keturunan atau penyakit-penyakit karena
lingkungan yang dapat memperberat penyakit klien.
b. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral),
amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
2) Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial
- Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
- Catat bila ada krepitasi
- Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
- Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral
3) Catat bila ada atrofi, tonus yang berkurang
4) Ukur kekuatan otot
5) Kaji tingkat nyeri
6) Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari

6
c. Aktivitas/istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress.
Pada sendi : kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan
simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu
senggang, pekerjaan, keletihan.
Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktur/ kelainan pada
sendi.
d. Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki (mis: pucat intermitten,
sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
e. Integritas ego
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis. Keputus asaan dan
ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan). Ancaman pada konsep diri,
citra tubuh, identitas pribadi (misalnya ketergantungan pada orang lain).
f. Makanan/ cairan
Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/
cairan adekuat: mual, anoreksia. Kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : Penurunan berat badan / kekeringan pada membran mukosa.
g. Hygiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan
pribadi/ketergantungan
h. Neurosensori
Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari
tangan / adanya pembengkakan sendi.
i. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh pembengkakan
jaringan lunak pada sendi).
j. Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, lesi kulit, ulkus kaki.
Kesulitan ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah
tangga.Demam ringan menetap, kekeringan pada mata dan membran
mukosa.

7
k. Interaksi sosial
Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain, perubahan
peran, isolasi.
l. Riwayat Psiko Sosial
Pasien mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi
pada pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karena ia
merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan
kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan
pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan
harga diri klien.

2. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data tersebut dengan konsep,
teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan
masalah kesehatan dan keperawatan klien (Drs. Nasrul Effendy, 1995 ; 24)

3. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan proses inflamasi akibat
hiperurisemia.
b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal.
Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
c. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan
perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum,
peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas
d. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal;
penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.

4. Intervensi keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan proses inflamasi akibat hiperurisemia.
Kriteria Hasil:
1) Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol

8
2) Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas
sesuai kemampuan.
3) Kadar asm urat normal.
4) Mengikuti program farmakologis yang diresepkan,
5) Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam
program kontrol nyeri.
Intervensi Rasional
a. Kaji nyeri, catat lokasi dan a. Membantu dalam menentukan
intensitas (skala 0-5). Catat kebutuhan manajemen nyeri dan
faktor-faktor keefektifan program
yangmempercepat dan tanda-
tanda rasa sakit non verbal
b. Berikan matras / kasur keras, b. Matras yang lembut/ empuk, bantal
bantal kecil. Tinggikan linen yang besar akan mencegah
tempat tidur sesuai pemeliharaan kesejajaran tubuh yang
kebutuhan tepat, menempatkan stress pada sendi
yang sakit. Peninggian linen tempat
tidur menurunkan tekanan pada sendi
yang terinflamasi/nyeri
c. Tempatkan / pantau c. Mengistirahatkan sendi-sendi yang
penggunaan bantal, karung sakit dan mempertahankan posisi
pasir, gulungan trokhanter, netral. Penggunaan brace dapat
bebat, brace. menurunkan nyeri dan dapat
mengurangi kerusakan pada sendi
d. Dorong untuk sering d. Mencegah terjadinya kelelahan umum
mengubah posisi. Bantu dan kekakuan sendi. Menstabilkan
untuk bergerak di tempat sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit
tidur, sokong sendi yang pada sendi
sakit di atas dan bawah,
hindari gerakan yang
menyentak

9
e. Anjurkan pasien untuk e. Panas meningkatkan relaksasi otot,
mandi air hangat atau mandi dan mobilitas, menurunkan rasa sakit
pancuran pada waktu bangun dan melepaskan kekakuan di pagi
dan/atau pada waktu tidur. hari. Sensitivitas pada panas dapat
Sediakan waslap hangat dihilangkan dan luka dermal dapat
untuk mengompres sendi- disembuhkan
sendi yang sakit beberapa
kali sehari. Pantau suhu air
kompres, air mandi, dan
sebagainya.

b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal, nyeri,


ketidaknyamanan, intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
Kriteria Hasil :
1) Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan
kontraktur.
2) Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/
atau konpensasi bagian tubuh.
3) Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan
aktivitas
Intervensi Rasional
a. Evaluasi/ lanjutkan a. Tingkat aktivitas/ latihan tergantung
pemantauan tingkat dari perkembangan/resolusi dari peoses
inflamasi/ rasa sakit pada inflamasi
sendi
b. Pertahankan istirahat tirah b. Istirahat sistemik dianjurkan selama
baring/ duduk jika eksaserbasi akut dan seluruh fase
diperlukan jadwal aktivitas penyakit yang penting untuk mencegah
untuk memberikan periode kelelahan mempertahankan kekuatan
istirahat yang terus menerus
dan tidur malam hari yang

10
tidak terganggu
c. Bantu dengan rentang gerak c. Mempertahankan/ meningkatkan

aktif/pasif, demikiqan juga fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina

latihan resistif dan isometris umum. Catatan : latihan tidak adekuat

jika memungkinkan menimbulkan kekakuan sendi,


karenanya aktivitas yang berlebihan
dapat merusak sendi

d. Ubah posisi dengan sering d. Menghilangkan tekanan pada jaringan


dengan jumlah personel dan meningkatkan sirkulasi.

cukup. Demonstrasikan/ Memepermudah perawatan diri dan

bantu tehnik pemindahan kemandirian pasien. Tehnik

dan penggunaan bantuan pemindahan yang tepat dapat

mobilitas. mencegah robekan abrasi kulit

e. Posisikan dengan bantal, e. Meningkatkan stabilitas (mengurangi


kantung pasir, gulungan resiko cidera) dan mempertahankan

trokanter, bebat, brace posisi sendi yang diperlukan dan


kesejajaran tubuh, mengurangi
kontraktur

c. Gangguan citra tubuh/perubahan penampilan peran berhubungan dengan


perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan
penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
Kriteria Hasil :
1) Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk
menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan
keterbatasan.
2) Menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi Rasional
a. Dorong pengungkapan a. Berikan kesempatan untuk
mengenai masalah tentang mengidentifikasi rasa takut/
proses penyakit, harapan masa kesalahan konsep dan
depan menghadapinya secara langsung

11
b. Mengidentifikasi bagaimana
b. Diskusikan arti dari kehilangan/ penyakit mempengaruhi persepsi
perubahan pada pasien/orang diri dan interaksi dengan orang lain
terdekat. Memastikan akan menentukan kebutuhan
bagaimana pandangaqn pribadi terhadap intervensi/ konseling
pasien dalam memfungsikan lebih lanjut
gaya hidup sehari-hari, termasuk
aspek-aspek seksual. c. Isyarat verbal/non verbal orang
c. Diskusikan persepsi terdekat dapat mempunyai
pasienmengenai bagaimana pengaruh mayor pada bagaimana
orang terdekat menerima pasien memandang dirinya sendiri
keterbatasan. d. Nyeri konstan akan melelahkan,
d. Akui dan terima perasaan dan perasaan marah dan
berduka, bermusuhan, bermusuhan umum terjadi
ketergantungan e. Dapat menunjukkan emosional
e. Perhatikan perilaku menarik ataupun metode koping
diri, penggunaan menyangkal maladaptive, membutuhkan
atau terlalu memperhatikan intervensi lebih lanjut
perubahan f. Membantu pasien untuk
f. Susun batasan pada perilaku mal mempertahankan kontrol diri, yang
adaptif. Bantu pasien untuk dapat meningkatkan perasaan
mengidentifikasi perilaku positif harga diri
yang dapat membantu koping.

d. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal;


penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
Kriteria Hasil :
1) Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan
kemampuan individual.
2) Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi
kebutuhan perawatan diri.

12
3) Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat
memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi Rasional
a. Diskusikan tingkat fungsi a. Mungkin dapat melanjutkan aktivitas
umum (0-4) sebelum timbul umum dengan melakukan adaptasi
awitan/ eksaserbasi penyakit yang diperlukan pada keterbatasan
dan potensial perubahan yang saat ini
sekarang diantisipasi
b. Pertahankan mobilitas, kontrol b. Mendukung kemandirian
terhadap nyeri dan program fisik/emosional
latihan
c. Kaji hambatan terhadap c. Menyiapkan untuk meningkatkan
partisipasi dalam perawatan kemandirian, yang akan meningkatkan
diri. Identifikasi /rencana untuk harga diri
modifikasi lingkungan
d. Kolaborasi: Konsul dengan ahli d. Berguna untuk menentukan alat bantu
terapi okupasi. untuk memenuhi kebutuhan
individual. Mis; memasang kancing,
menggunakan alat bantu memakai
sepatu, menggantungkan pegangan
untuk mandi pancuran
e. Kolaborasi: Atur evaluasi e. Mengidentifikasi masalah-masalah
kesehatan di rumah sebelum yang mungkin dihadapi karena tingkat
pemulangan dengan evaluasi kemampuan aktual
setelahnya.

5. Implementasi
Implementasi adalah fase ketika perawat menerapkan/ melaksanakan rencana
tindakan yang telah ditentukan dengan tujuan kebutuhan pasien terpenuhi
secara optimal (Nursalam, 2008).

13
6. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai
atau tidak. Dalam melakukan evaluasi perawat seharusnya memiliki
pengetahuan dan kemampuan dalam memahami respon terhadap intervensi
keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang
dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada
kriteria hasil. Pada tahap evaluasi ini terdiri dari dua kegiatan yaitu kegiatan
yang dilakukan dengan mengevaluasi selama proses perawatan berlangsung
atau menilai dari respon klien disebut evaluasi proses, dan kegiatan melakukan
evaluasi dengan target tujuan yang diharapkan disebut sebagai evaluasi hasil
(Hidayat, A.A.A, 2008.

14