Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KONSOLIDASI TANAH

NAMA MATA KULIAH : MEKANIKA TANAH II

OLEH :

GUSTI NGURAH WISNU WARDANA (1705511062)

MUHAMAD PUTRA DIANTO SANTU RAFAEL (1705511063)

KADEK DODY BUDI SAYOGA (1705511064)

ANAK AGUNG FERRY SATYA ARIANTO (1705511070)

ALIFIAN AKRAM FACHREZA SITORUS (1705511071)

HASAN FERDI PANIGORO (1705511074)

I GEDE AGUNG WISNU SEGARA (1705511076)

RAFII DITO HENDRARTO (1705511080)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
Asung Kertha Waranugraha-Nyalah Laporan Mekanika Tanah II mengenai
Konsolidasi dan Settlement ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Adapun laporan ini merupakan tugas bagi Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan
Teknik Sipil yang mengikuti mata kuliah Mekanika Tanah II.

Dalam penyusunan laporan ini penulis banyak mendapat bimbingan dan


informasi yang sangat berharga dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam
kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dodiek selaku dosen pengajar mata kuliah Mekanika Tanah II


2. Serta semua pihak yang turut membantu kami dalam menyelesaikan
Laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
sangat diharapkan saran–saran maupun kritik–kritik yang sifatnya membangun dari
pembaca, sebagai bahan pertimbangan dan penyempurnaan laporan ini di masa
mendatang.

Denpasar, 19 Mei 2019

Tim Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1

1.2 Latar Belakang .................................................................................................... 1

1.2 rumusan masalah ................................................................................................. 1

1.3 Tujuan .................................................................................................................. 1

BAB II ........................................................................................................................... 2

ISI .................................................................................................................................. 2

2.1 Teori Penurunan .................................................................................................. 2

2.2 Immediate Settlement – Penurunan Seketika ...................................................... 3

2.3 Primary Consolidation – Konsolidasi Primer ...................................................... 4

2.4 Secondary Consolidation – Konsolidasi Sekunder ............................................. 7

BAB III ....................................................................................................................... 10

PENUTUP ................................................................................................................... 10

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 10

3.2 Saran .................................................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Konsolidasi adalah suatu proses pengecilan volume secara perlahan-lahan pada
tanah

jenuh sempurna dengan permeabilitas rendah akibat pengaliran sebagian air

Pori.Dengan kata lain, pengertian konsolidasi adalah proses terperasnya air


tanah akibatbekerjanya beban, yang terjadi sebagai fungsi waktu karena kecilnya
permeabilitastanah. Proses ini berlangsung terus sampai kelebihan tekanan air

Pori yang disebabkan oleh kenaikan tegangan total telah benar-benar hilang.
Kasus yang paling sederhana adalah konsolidasi satu dimensi, di mana kondisi
regangan lateral nol mutlak ada. Proses konsolidasi dapat diamati dengan
pemasangan piezimeter, untuk mencatat perubahan tekanan air pori dengan
waktunya. Besarnya penurunan dapat diukur dengan berpedoman pada titik referensi
ketinggian pada tempat tertentu.

1.2 rumusan masalah


Apakah yang dimaksud dengan konsolidasi primer, sekunder dan sementara

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui lebih dalam perihal konsolidasi primer, sekunder dan sementara

1
BAB II

ISI
2.1 Teori Penurunan
Bila suatu lapisan tanah mengalami pembebanan akibat beban di atasnya,
maka tanah di dibawah beban yang bekerja tersebut akan mengalami kenaikan
tegangan, ekses dari kenaikan tegangan ini adalah terjadinya penurunan elevasi tanah
dasar (settlement). Pembebanan ini mengakibatkan adanya deformasi partikel tanah,
relokasi partikel tanah, dan keluarnya air pori dari tanah yang disertai berkurangnya
volume tanah. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan tanah.

Pada umumnya tanah, dalam bidang geoteknik, dibagi menjadi 2 jenis, yaitu
tanah berbutir dan tanah kohesif. Pada tanah berbutir (pasir/sand), air pori dapat
mengalir keluar struktur tanah dengan mudah, karena tanah berbutir memiliki
permeabilitas yang tinggi. Sedangkan pada tanah kohesif (clay), air pori memerlukan
waktu yang lama untuk mengalir keluar seluruhnya. Hal ini disebabkan karena tanah
kohesif memiliki permeabilitas yang rendah.

Secara umum, penurunan dapat diklasifikasikan menjadi 3 tahap, yaitu :

1) Immediate Settlement (penurunan seketika), diakibatkan dari deformasi elastis


tanah kering, basah, dan jenuh air, tanpa adanya perubahan kadar air. Umumnya,
penurunan ini diturunkan dari teori elastisitas. Immediate settlement ini biasanya
terjadi selama proses konstruksi berlangsung. Parameter tanah yang dibutuhkan untuk
perhitungan adalah undrained modulus dengan uji coba tanah yang diperlukan seperti
SPT, Sondir (dutch cone penetration test), dan Pressuremeter test.

2) Primary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi primer), yaitu


penurunan yang disebabkan perubahan volume tanah selama periode keluarnya air
pori dari tanah. Pada penurunan ini, tegangan air pori secara kontinyu berpindah ke
dalam tegangan efektif sebagai akibat dari keluarnya air pori. Penurunan konsolidasi
ini umumnya terjadi pada lapisan tanah kohesif (clay / lempung)

2
3) Secondary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi sekunder), adalah
penurunan setelah tekanan air pori hilang seluruhnya. Hal ini lebih disebabkan oleh
proses pemampatan akibat penyesuaian yang bersifat plastis dari butir-butir tanah.

2.2 Immediate Settlement – Penurunan Seketika


Penurunan seketika / penurunan elastic terjadi dalam kondisi undrained (tidak
ada perubahan volume). Penurunan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat saat
dibebani secara cepat. Besarnya penurunan elastic ini tergantung dari besarnya
modulus elastisitas kekakuan tanah dan beban timbunan diatas tanah.

Dimana :

Sc = Immediate settlement

Δσ = Beban timbunan (kN/m2)

Es = Modulus elastisitas tanah

μs = Poisson’s Ratio

3
B = Lebar / diameter timbunan (m)

Ip = non-dimensional influence factor

Schleicher (1926) mendefinisikan factor Ip ini sebagai :

Dimana m1 = L/B (panjang/lebar beban yang bekerja)

2.3 Primary Consolidation – Konsolidasi Primer


Pada tanah lempung jenuh air, penambahan total tegangan akan diteruskan ke
air pori dan butiran tanah. Hal ini berarti penambahan tegangan total (Δσ) akan
terbagi ke tegangan efektif dan tegangan air pori. Dari prinsip tegangan efektif, dapat
diambil korelasi :

Δσ = Δσ’ + Δu

Dimana :

Δσ’ = penambahan tegangan efektif

Δu = penambahan tegangan air pori

Karena lempung mempunyai daya rembes yang sangat rendah dan air adalah
tidak termampatkan (incompressible) dibandingkan butiran tanah, maka pada saat t =

4
0, seluruh penambahan tegangan, Δσ, akan dipikul oleh air (Δu = Δσ) pada seluruh
kedalaman lapisan tanah.

Penambahan tegangan tersebut tidak dipikul oleh butiran tanah (Δσ’ =


0).Sesaat setelah pemberian penambahan tegangan, Δσ, pada lapisan lempung, air
dalam pori mulai tertekan dan akan mengalir keluar. Dengan proses ini, tekanan air
pori pada tiap-tiap kedalaman pada lapisan lempung akan berkurang secara perlahan-
lahan, dan tegangan yang dipikul oleh butiran tanah keseluruhan (tegangan efektif /
Δσ’) akan bertambah. Jadi pada saat 0 < t < ∞

Δσ = Δσ’+ Δu (Δσ’ > 0 dan Δu < Δσ)

Tetapi, besarnya Δσ’ dan Δu pada setiap kedalaman tidak sama, tergantung
pada jarak minimum yang harus ditempuh air pori untuk mengalir keluar lapisan pasir
yang berada di bawah atau di atas lapisan lempung.

Pada saat t = ∞, seluruh kelebihan air pori sudah hilang dari lapisan lempung,
jadi Δu = 0. Pada saar ini tegangan total, Δσ, akan dipikul seluruhnya oleh butiran
tanah seluruhnya (tegangan efektif, Δσ’). Jadi Δσ = Δσ’.

Berikut adalah variasi tegangan total, tegangan air pori, dan tegangan efektif
pada suatu lapisan lempung dimana air dapat mengalir keluar struktur tanah akibat
penambahan tegangan, Δσ, yang ditunjukan gambar dibawah.

5
Proses terdisipasinya air pori secara perlahan, sebagai akibat pembebanan
yang disertai dengan pemindahan kelebihan tegangan air pori ke tegangan efektif,
akan menyebabkan terjadinya penurunan yang merupakan fungsi dari waktu (time-
dependent settlement) pada lapisan lempung. Suatu tanah di lapangan pada
kedalaman tertentu telah mengalami tegangan efektif maksimum akibat beban tanah
diatasnya (maximum effective overburden pressure) dalam sejarah geologisnya.
Tegangan ini mungkin sama, atau lebih kecil dari tegangan overburden pada saat
pengambilan sample.

Berkurangnya tegangan di lapangan tersebut bisa diakibatkan oleh beban


hidup. Pada saat diambil, contoh tanah tersebut terlepas dari tegangan overburden
yang telah membebani selama ini. Sebagai akibatnya, tanah tersebut akang
mengalami pengembangan. Pada saat dilakukan uji konsolidasi pada tanah tersebut,
suatu pemampatan yang kecil (perubahan angka pori yang kecil) akan terjadi bila
beban total yang diberikan pada saat percobaan adalah lebih kecil dari tegangan
efektif overburden maksimum (maximum effective overburden pressure) yang pernah
dialami sebelumnya.

Apabila beban total yang dialami pada saar percobaan lebih besar dari
maximum effective overburden pressure, maka perubahan angka pori yang terjadi

6
akan lebih besar. Ada 3 definisi dasar yang didasarkan pada riwayat geologis dan
sejarah tegangan pada tanah, yaitu :

Normally consolidated (Terkonsolidasi secara normal), dimana tegangan


efektif overburden saat ini merupakan tegangan maksimum yang pernah dialami oleh
tanah selama dia ada.

Overconsolidated, dimana tegangan efektif overburden saat ini lebih kecil


daripada tegangan yang pernah dialami oleh tanag tersebut. Tegangan efektif
overburden maksimum yang pernah dialami sebelumnya dinamakan tegangan
prakonsolidasi. (preconsolidation pressure / PC).

Underconsolidated, dimana tegangan efektif overburden saat ini belum mencapai


maksimum, sehingga peristiwa konsolidasi masih berlangsung pada saat sample tanah
diambil.

Ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan dalam penurunan konsolidasi ini, yaitu :

1. Besarnya penurunan yang terjadi.

2. Kecepatan penurunan terjadi.

2.4 Secondary Consolidation – Konsolidasi Sekunder


Pada akhir konsolidasi primer (setelah tegangan air pori U = 0), penurunan
pada tanah masih tetap terjadi sebagai akibat dari penyesuaian plastis butiran tanah.
Tahapan konsolidasi ini dinamakan konsolidasi sekunder. Variasi angka pori dan
waktu untuk penambahan beban akan sama seperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut.

7
Besarnya konsolidasi sekunder dapat dihitung dengan rumus :

dimana :

Ca = Indeks pemampatan sekunder

Δe = Perubahan angka pori

t = Waktu

ep = angka pori pada akhir konsolidasi primer

H = tebal lapisan lempung, m

8
Penurunan yang diakibatkan konsolidasi sekunder sangat penting untuk semua
jenis tanag organic dan tanah anorganik yang sangat mampu mampat (compressible).
Untuk lempung anorganik yang terlalu terkonsolidasi, indeks pemampatan sekunder
sangat kecil sehingga dapat diabaikan.

9
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Konsolidasi adalah suatu peristiwa terjadinya pemampatan atau pengurangan
volume tanah sebagai akibat beban statis yang bekerja diatasnya. Peristiwa ini
terjadi secara perlahan-lahan seiringnya keluar air dari dalam tanah.
2. Tahapan dari penurunan yaitu Immediate Settlement (Penurunan Seketika),
Primary Consolidation Settlement (Penurunan Konsolidasi Primer),
Secondary Consolidation Settlement (Penurunan Konsolidasi Sekunder).

3. Konsolidasi primer atau Primary Consolidation yaitu penurunan yang


disebabkan perubahan volume tanah selama periode keluarnya air pori dari
tanah. Penurunan konsolidasi ini umumnya terjadi pada lapisan tanah kohesif
(clay / lempung).

3.2 Saran
Penulisan laporan ini merupakan langkah awal dalam mempelajari penurunan
konsolidasi. Untuk dapat memperoleh hasil yang lebih baik dan akurat, kiranya dapat
dilakukan penulisan dan penelitian lebih lanjut agar bisa bermanfaat bagi yang
membaca.

10
DAFTAR PUSTAKA

Apriliana, Restu. 2015. Konsolidasi Mekanika Tanah 2 (Diakses di :


https://www.academia.edu/12512160/konsolidasi-mekanika_tanah_2) Diakses
pada : 20 Mei 2019

Doni, Kahardiansyah. 2017. Makalah Konsolidasi Teknik Sipil (Diakses di :


http://kahardiansyahsipil.blogspot.com/2017/05/contoh-makalah-konsolidasi-
teknik-sipil.html) Diakses pada : 20 Mei 2019

Fery, Eka Apriadi, Aprinato.2010. Studi Pemampatan Tanah Timbunan Reklamasi


Pelabuhan Kendawangan Kabupaten Ketapang (Diakses di :
https://media.neliti.com/media/publications/192628-ID-studi-pemampatan-
tanah-timbunan-reklamas.pdf) Diakses pada : 20 Mei 2019

Nustyani, Fauziah. 2019. Konsolidasi Primer (Diakses di :


https://www.academia.edu/9467088/KONSOLIDASI_PRIMER) Diakses
pada : 20 Mei 2019

11