Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

KONSEP DASAR INKLUSI

DISUSUN OLEH KELOMPOK :

1. Lijar Jakiah Rambe (118331300)

2. Khofifah Apriani (1183113050)

3. Lia Audiah Andira (118113003)

DOSEN PENGAMPU :Dra, Nurmaniah, M.Pd

MATA KULIAH : INKLUSI

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

T.A. 2019/2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat taufik dan hidayah
Nya kita masih diberikan kesehatan dan keselamatan, dan yang telah memberikan kemudahan
bagi penulis hingga dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun makalah ini mengenai “Konsep
Dasar Inklusi” telah penulis susun semaksimal mungkin, sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada ibu
Dra, Nurmaniah, M.Pd sebagai dosen pangampu.

Semoga ini dapat memberikan wawasan yang luas bagi pembaca dan dapat menjadi ilmu
baru bagi kita semua. Namun tidak lepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan baik dari segi bahasa maupun dari segi isinya. Oleh karena itu penulis berharap
pembaca agar memberikan kritik dan saran yang membangun sehingga penulis dapat
memperbaiki makalah ini untuk kedepannya.

Medan, Agustus 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................................2
BAB I..........................................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.......................................................................................................................................4
A. Latar Belakang Masalah...................................................................................................................4
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................................4
C. Tujuan Dan Manfaat........................................................................................................................4
BAB II.........................................................................................................................................................5
PEMBAHASAN.........................................................................................................................................5
A. Pengertian Pendidikan Inklusif............................................................................................................5
B. Prinsip-Prinsip Pendidikan Inklusif.......................................................................................................6
C. Rasional Dasar Hukum Inklusif............................................................................................................7
D. Sejarah Perkembangan Pendidikan Inklusif.........................................................................................8
BAB III.......................................................................................................................................................9
PENUTUP...................................................................................................................................................9
A. Kesimpulan......................................................................................................................................9
B. Saran................................................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................10

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Inklusi merupakan istilah dalam dunia pendidikan yang menyatukan anakanak


berkebutuhan khusus ke dalam program–program sekolah reguler. Istilah inklusi juga dapat
diartikan sebagai penerimaan anak-anak berkebutuhan khusus ke dalam kurikulum, lingkungan,
interaksi sosial, dan konsep diri sekolah, sehingga anak-anak berkebutuhan khusus dapat terlibat
langsung dalam kehidupan sekolah yang menyeluruh (Smith, 2014). Anak berkebutuhan khusus
atau yang sering di singkat dengan ABK merupakan anak yang memiliki karakteristik yang
berbeda dari anak pada umumnya. Meyatukan anak berkebutuhan khusus dengan anak reguler di
sekolah merupakan upaya yang dilakukan pemerintah Republik Indonesia untuk mewujudkan
pendidikan yang menghargai keberagaman dan tidak diskriminatif, hal tersebut tercantum dalam
Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaiamanakah Konsep Dasar Inklusi ?

C. Tujuan Dan Manfaat

2. Untuk Mengetahui Tentang Konsep Dasar Inklusi

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Inklusif

Istilah pendidikan inklusif digunakan untuk mendeskripsikan penyatuan anak-anak


berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program sekolah. Konsep inklusi
memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerimaan anak-anak yang memiliki hambatan
ke dalam kurikulum, lingkungan, dan interaksi sosial yang ada di sekolah.

Menurut beberapa ahli menyatakan pendidikan inklusif ialah :

1. Daniel P. Hallahan, dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70


Tahun 2009 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah sistem
penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang
memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti
pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan
peserta didik pada umumnya.

2. Baihaqi dan Sugiarmin, menekankan bahwa siswa memiliki hak yang sama tanpa dibeda-
bedakan berdasarkan perkembangan individu, sosial, dan intelektual.

Jadi pendidikan inklusif berarti pendidikan yang dirancang dan disesuaikan dengan
kebutuhan semua peserta didik, baik peserta didik yang normal maupun peserta didik
berkebutuhan khusus. Masing-masing dari mereka memperoleh layanan pendidikan yang sama
tanpa dibeda-bedakan satu sama lain.

5
B. Prinsip-Prinsip Pendidikan Inklusif

1. Terbuka, adil, tanpa diskriminasi


2. Peka terhadap setiap perbedaan
3. Relevan dan akomodatif terhadap cara belajar
4. Berpusat pada kebutuhan dan keunikan setiap individu peserta didik
5. Inovatif dan fleksibel
6. Kerja sama dan saling mengupayakan bantuan
7.Kecakapan hidup yang mengefektifkan potensi individu peserta didik dengan potensi
lingkungan.
8. Mengalami dan menghargai perbedaan siswa dan bahwa semua anak memperlukan support.
9.Menerima dan menghargai bahwa semua anak berbeda dalam beberapa hal dan memiliki
kebutuhan belajar yang berbeda.
10.Menyediakan struktur pendidikan, sistem dan metodologi belajar agar mampu memenuhi
kebutuhan semua siswa.
Karena pendidikan inklusi diaplikasikan dalam bentuk pembelajaran di kelas, maka
karakteristik terpentingd ari pendidikan inklusi adalah suatu komunitas yang kohesif, menerima
dan responsif, terhadap individual setiap siswa.

Untuk itu ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu :


1) Inklusi berarti menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang hangat, menerima
keanekaragaman dan menerima perbedaan.
2) Inklusi berarti penerapan kurikulum yang multilevel dan multi modalitas.
3) Inklusi berarti menyiapkan dan mendorong guru mengajar secara interaktif.
4) Inklusi berarti menyediakan dorongan bagi siswa dan kelasnya secara terus menerus dan
penghapusan hambatan yang berkaitan dengan isolasi profesi.
5) Inklusi melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses perencanaan.

6
C. Rasional Dasar Hukum Inklusif

Dasar Hukum dan kesepakatan-kesepakatan telah memberikan landasan bagi


pengembangan dan pelaksanaan pendidikan inklusif, di antaranya adalah

 Declaration of Human Rights (1948),


 Convention on The Rights of The Childs (1989),
 Life long education →Education for All (Bangkok, 1991),
 Dakar Statement,
 Salamanca Statement (1994),
 Bhineka Tunggal Ika,
 The Four Pillars of education (Unesco, 1997),
 Asian Pacific decade for Disabled (Biwako) 2002,
 Amanah UU No. 20 th 2003 (Sisdiknas).

Beberapa pasal dan ayat yang dalam UU No. 20 tahun 2003 (sisdiknas) yang secara
khusus mengatur tentang pelaksanaan pendidikan bagi ABK, di antaranya adalah Pasal 5 dan
pasal 32.

Pasal 5

 Ayat 1 berbunyi “ Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu”.
 Kemudian dalam ayat 2 disebutkan bahwa “Warga negara yang mempunyai kelainan
fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.”
 Kemudian ayat 4 berbunyi “warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.”

Pasal 32

 Ayat 1 berbunyi “Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan
fisik,emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”.

7
D. Sejarah Perkembangan Pendidikan Inklusif

Sejarah perkembangan pendidikan inklusif di dunia pada mulanya diprakarsai dan diawali
dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia). Di Amerika Serikat pada
tahun1960-an oleh Presiden Kennedy mengirimkan pakar-pakar Pendidikan Luar Biasa ke
Scandinavia untuk mempelajari mainstreaming dan Least restrictive environment, yang ternyata
cocok untuk diterapkan di Amerika Serikat. Selanjutnya di Inggris dalam Ed.Act. 1991 mulai
memperkenalkan adanya konsep pendidikan inklusif dengan ditandai adanya pergeseran model
pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dari segregatif ke integratif.

Tuntutan penyelenggaraan pendidikan inklusif di dunia semakin nyata terutama sejak


diadakannya konvensi dunia tentang hak anak pada tahun 1989 dan konferensi dunia tentang
pendidikan tahun 1991 di Bangkok yang menghasilkan deklarasi ’education for all’. Implikasi
dari statemen ini mengikat bagi semua anggota konferensi agar semua anak tanpa kecuali
(termasuk anak berkebutuhan khusus) mendapatkan layanana pendidikan secara
memadai.Sebagai tindak lanjut deklarasi Bangkok, pada tahun 1994 diselenggarakan konvensi
pendidikan di Salamanca Spanyol yang mencetuskan perlunya pendidikan inklusif yang
selanjutnya dikenal dengan ’the Salamanca statement on inclusive education” yang berbunyi :
(1)Semua anak sebaiknya belajar bersama
(2) Pendidikan didasarkan kebutuhan siswa
(3)ABK diberilayanan khusus
Sejalan dengan kecenderungan tuntutan perkembangan dunia tentang pendidikan inklusif,
Indonesia pada tahun 2004 menyelenggarakan konvensi nasional dengan menghasilkan
Deklarasi Bandung dengan komitmen Indonesia menuju pendidikan inklusif.Untuk
memperjuangkan hak-hak anak dengan hambatan belajar, pada tahun 2005 diadakan simposium
internasional di Bukittinggi dengan menghasilkan Rekomendasi Bukittinggi yang isinya antara
lain menekankan perlunya terus dikembangkan program pendidikan inklusif sebagai salah satu
cara menjamin bahwa semua anak benar-benar memperoleh pendidikan dan pemeliharaan yang
berkualitas dan layak.Berdasarkan perkembangan sejarah pendidikan inklusif dunia tersebut,
maka Pemerintah Republik Indonesia sejak awal tahun 2000 mengembangkan program
pendidikan inklusi.

8
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Salah satu tujuan adanya pendidikan inklusif adalah untuk mendorong terwujudnya
partisipasi penuh difabel dalam kehidupan masyarakat. Tujuan yang lain adalah memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada semua anak mendapatkan pendidikan yang layak sesuai
dengan kenutuhannya, membantu mempercepat program penuntasan wajib belajar pendidikan
dasar 9 tahun yang bermutu, membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah
dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah, selanjutnya yaitu menciptakan sistem
pendidikan yang menghargai keberagaman, tidak diskriminatif, serta ramah terhadap
pembelajaran.

B. Saran

Dari berbagai peraturan perundangan dan kesepakatan yang ada tersebut telah mencakup
hampir semua hak anak-anak berkebutuhan khusus, hanyaa yang masih menjadi kendala atau
permasalahan adalah point pada pelanggaran hak-hak anak yang belum ada sangsinya sehingga
masih belum adanya pencapaian hak-hak tersebut secara optimal. Sebagai calon pendidikan,
harus tetap mampu mewujudkan hak-hak anak berkebutuhan tersebut sehingga tidak ada
deskriminasi karena telah diketahui tujuan pendidikan penting bagi semua orang. Masyarakat
pun harus memiliki kesadaran untuk peduli dengan anak berkebutuhan khusus bukan tindakan
pengucilan yang dilakukan.

9
DAFTAR PUSTAKA
 Ilahi, Mohammad Takdir. 2013. Pendidikan Inklusi Konsep & Aplikasi. Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media.
 Mudjito dkk, 2012. Pendidikan Inklusif Tuntunan untuk Guru, Siswa dan Orang Tua
anak berkebutuhan Khusus dan layanan Khusus. Jakarta: Baduose Media.
 Abdul, Salim Choiri Munawir Yusuf. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Secara Inklusif. FKIP .UNS
 Suparno. 2008. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
 Sunaryo.2009. Manajemen Pendidikan Inklusi, Bandung : FIP UPI
 Tarmansyah.2009. Perspektif Pendidikan Inklusif. Padang : UNP Press
 Smith, David.2012. Sekolah Inklusif Konsep dan Penerapan Pembelajaran. Bandung:
Nuansa

10