Anda di halaman 1dari 11

FARMAKOLOGI II

FARMAKOLOGI ANTI EKTOPARASIT

OLEH :

NOVREDHA RAHMADITA
1702101010066
KELAS 1
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2019
DAFTAR ISI
BAB I .......................................................................................................................1

PENDAHULUAN ...................................................................................................1

BAB II ......................................................................................................................2

PEMBAHASAN ......................................................................................................2

1. Invermectim .........................................................................................................2

2. Phenizole ..............................................................................................................3

3. Revolution 12 %...................................................................................................3

4. Cyromazin - 10 .....................................................................................................3

5. Frontline Spray .....................................................................................................4

6. Finigen .................................................................................................................4

7. Surolan .................................................................................................................4

8. Larvatox ...............................................................................................................4

9. Neguvon ...............................................................................................................5

10. Ecofleece ............................................................................................................5


BAB III ....................................................................................................................6

KESIMPULAN ........................................................................................................6

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................7


BAB I

PENDAHULUAN

Ektoparasit (ektozoa) merupakan parasit yang berdasarkan tempat manifestasi


parasitismenya terdapat di permukaan luar tubuh inang, termasuk di liang-liang
dalam kulit atau ruang telinga luar. Kelompok parasit ini juga meliputi parasit
yang sifatnya tidak menetap pada tubuh inang, tetapi datang - pergi di tubuh
inang. Adanya sifat berpindah inang tentu tidak berarti ektoparasit tidak
mempunyai preferensi terhadap inang. Seperti parasit lainnya, ektoparasit juga
memiliki spesifikasi inang, inang pilihan, atau inang kesukaan (Ristiyanto dkk.,
2009).

Parasitisme seperti ini biasanya disebabkan oleh adanya lingkungan inang


yang serasi dengan ektoparasit tersebut. Adanya poliektoparasitisme itu sudah
dikenal lama, tetapi rupa-rupanya arti penting poliparasitisme dalam
hubungannya dengan pengendalian penyakit kurang disadari, baik oleh ahli
pengobatan maupun oleh ahli kesehatan masyarakat, sehingga intervensi
penanggulangan penyakit tular vektor atau tular rodensia sering mengalami
kekurang berhasilan (Ristiyanto dkk., 2009).

Anti ektoparasit atau disebut juga dengan ektoparasitisida adalah senyawa


yang digunakan untukpengobatan berbagai kelainan yang disebabkan oleh
ektoparasit contohnya skabies dan otitis. Pengendalian ektoparasit dapat
dilakukan dengan pemberian parasitidal, sanitasi, memahami bahan aktif dan sifat
farmakologi obat.

1
BAB II

PEMBAHASAN

Berikut beberapa anti ektoparasit :

1. Invermectim

Ivermectin merupakan analog dari avermectin, termasuk khemoterapeutik


kelompok senyawa lakton makrosiklik, yang merupakan produk biologic dari
jamur tanah Streptomyces avermilitis (lestari dkk., 2018). Pengobatan terhadap
ektoparasit dan endoparasit seperti cacing pada saluran pencernaan, cacing paru-
paru, cacing hidung, kutu, tungau, caplak, pada sapi, kambing, domba, babi,
anjing dan kucing (Hardjopangarso dkk., 2017). Obat ini bekerja dengan mengikat
dan mengaktifkan glutamate-gated chloride channels (GluCls) yang merupakan
ligan ion channels neurons and myocytes. Jenis obat yaitu obat keras. Obat ini
diberikan dengan cara injeksi.

Dengan dosis:
Sapi : 1 ml / 50 kg berat badan
Kambing,domba : 0,5 ml per 25 kg berat badan
Babi : 1 ml per 33 kg berat badan
Anjing dan kucing :0,2 ml per 10 kg berat badan
(Hardjopangarso dkk., 2017)

2
Efek samping : Hipersaliva, muntah, mydriasis, kebingungan, ataksia,
hipersensitivitas terhadap suara, kelemahan, rebah dalam waktu lama, dan
kematian (Nurcahyo, 2018).

2. Phenizole

Phenizole merupakan jenis obat dalam bentuk sediaan cair, memiliki indikasi
sebagai pencegahan dan mengatasi investasi parasit internal yang disebabkan oleh
larva dan cacing dewasa jenis nematoda pada saluran pencernaan dan paru-paru,
cacing pita dan cacing hati pada domba,kambing, dan sapi. Kontra indikasi dari
obat ini yaitu jangan diberikan pada sapi betina selama 45 hari pertama masa
kebuntingan dan kambing betina selama 30 hari pertama umur kebuntingan. Obat
ini diberikan secara oral, dengan dosis :

Sapi : 10 mg/kg BB

Kambing : 5 ml larutan / 50 kg BB

Domba : 7.5 mg/kg BB

(Hardjopangarso dkk., 2017).

3. Revolution 12 %

Revolution 12% mengandung selamectin 120mg/ml. Indikasi dari obat ini


yaitu pengobatan infestasi parasit eksternal dan internal seperti kutu
( Ctenocephalides spp.), caplak ( Otodectes cynotis), tungau (Sarcoptes scabei) ,
dan infestasi kutu karena dermacentor variabilipada anjing dan kucing. Cara
pemakaian obat ini yaitu diberikan untuk anjing di atas umur 6 ,imggu dan kucing
di atas 8 minggu. Berikan seluruh isi tube single dose secara topikal sesusai
dengan berat badaan hean . jenis obat ini yaitu obat keras (Hardjopangarso dkk.,
2017).

3
4. Cyromazin - 10

Cyromazin - 10 berbentuk serbuk, setiap kg mengandung cyromizin 10 g .


Indikasi dari obat ini yaitu membasmi lalat dan kontrol metamorphosis. Obat ini
diberikan dengan cara di campur dengan pakan sebanyak 300-500 g/ton pakan.
Jenis obat ini yaitu obat bebas terbatas dengan waktu henti yaitu 3 hari sebelum
hewan dipotong (Hardjopangarso dkk., 2017).

5. Frontline Spray

Frontline spray merupakan obat dalam bentuk cairan spray yang memiliki
indikasi untuk pengobatan dan pengendalian kutu (pinjal) pada anjing dan
kucinng, serta investasi caplak pada anjing. Obat ini termasuk obat bebas terbatas,
Frontline kemasan 100 ml memiliki dosis 3ml/kg BB ( 6 kali penyemprotan )
pada anijing dengan berat badan kurang dari 10 kg dan kucing (Hardjopangarso
dkk., 2017).

6. Finigen

Finigen merupakan anti ektoparasit dalam bentuk cai. Indikasi dari obat ini
yang merupakan insektisida golongan neonicotinoid yang bekerja sistemik, yang
efektif terhadap serangga penghisap, lalat putih, kutu tanaman, thrips, kumbang,
nyamuk, dan tropinota sp. Obat ini dipakai dengan cara disemprotkan di atas
permukaan bagian yang terinfeksi (Hardjopangarso dkk., 2017).

7. Surolan

4
Surolan mengandung miconazole nitrate 23 mg, prednisolon acetate 5 mg dan
polymixin B sulfate 0.5293. Indikasi dari obat ini yaitu pengobatan otitis eksternal
dan dermatitis pada anjing dan kucing. Kontra indikasi dari obat ini yaitu jangan
diberikan obat ini pada hewan yang mengalami perforated eardrum dan
hipersensitivitas terhadap surolen. Obat ini deberikan dengan cara diteteskan pada
telinga dan kulit setelah bagian tersebut dibersihkan. Pada masalah otitis , obat
diberikan pada kedua telingan, bukan hanya pada telinga yg terinfeksi saja
(Hardjopangarso dkk., 2017).

8. Larvatox

Larvatox merupakan obat yang memiliki bentuk serbuk yang mengandung


cyromazine 5 %. Indikasi drai obat ini yaitu membunuh larva lalat Lucillia sp. dan
Musca domestica. Dosis dan cara pembrian obat ini yaitu dengan cara
mencampurkan 100 g Larvatox pada 5 kg ransum secara bertahap, kemudian
dicapur dengan 1 ton ransum smapai homogen, diberikan selama 4-6 minggu
berturut-turut. Hentikan pemakaina Larvatox selama 4-8 minggu berikutnya dan
gunakan kembalijika lalat terliaht mulai berkembang biak (Hardjopangarso dkk.,
2017).

9. Neguvon

Neguvon merupakan obat anti ektoparasit dalam bentuk serbuk, mengandung


trichlorfon 970 mg, memiliki indikasi sebagai anti ektoparasit pada sapi, babi,
kuda, domba, kambing dan ayam. Cara pemakaian obat ini bervasiasi ergantung
dari parasit yang akan dikendalikan (Hardjopangarso dkk., 2017).

10. Ecofleece

Ecofleece merupakan bentuk obat sediaan cairan, setiap liter mengandung


sipermetrin dengan inidaksi yang sangat eektif membasmi berbagai jenis

5
ektoparasit pada ternak, antara lain lalat dan larvanya, caplak, lice, mites. Obat ini
tidak boleh diberikan pada hewan yang sedang lemah, payah , dan kehausan, juga
jangan diberikan pada lebah dan ikan. Obat Ini digunakan dengan cara
disemprotkan (Hardjopangarso dkk., 2017).

BAB III

6
KESIMPULAN

Ektoparasit (ektozoa) merupakan parasit yang berdasarkan tempat manifestasi


parasitismenya terdapat di permukaan luar tubuh inang, termasuk di liang-liang
dalam kulit atau ruang telinga luar. Parasitisme biasanya disebabkan oleh adanya
lingkungan inang yang serasi dengan ektoparasit tersebut.

Anti ektoparasit atau disebut juga dengan ektoparasitisida adalah senyawa


yang digunakan untukpengobatan berbagai kelainan yang disebabkan oleh
ektoparasit contohnya skabies dan otitis. Ada beberapa ektoparasitisida yaitu
Invermectim, phenizole, cyromazin - 10, frontline spray, finigen, surolan,
larvatox, neguvon, ecofleece. Pengendalian ektoparasit dapat dilakukan dengan
pemberian parasitidal, sanitasi, memahami bahan aktif dan sifat farmakologi obat.

Aplikasi anti ektoparasit aau ektoparasitisida bisa melalui dipping, spray,


dusting, buckrubbers, pour on, ear tag. Mekanisme kerja anti ektoparasit yaitu
dapat memengaruhi sistem syaraf pusat, sistem syaraf otonom, produksi energi di
mitokondria, dan memengaruhi pertumbuhanparasit itu sendiri.

7
DAFTAR PUSTAKA

Lestari, M., Budiasa, K., dan Dwinata, I.M. 2018. Efikasi ivermectin peroral
terhadap infeksi cacing nematoda gastrointestinal pada ternakbabi di Bali.
Indonesia Medicus Veterinus. 7 (1):25-31.

Nurcahyo, R.W. 2018. Penyakit Parasiter Kucing. Gadjah Mada University


Press,Yogyakarta.

Ristiyanto, Mulyono,A., Yuliaffi, B., dan Muhidin. 2009. Indeks keragaman


ektoparasit pada tikus rumah Rattus tanezumi Temminck, 1844 dan tikus
polinesia R. exulans (Peal, 1848) di daerah enzootik Pes Lereng Gunung
Merapi, Jawa Tengah. Jurnal Vektora. 1 (2) : 73-83.

Hardjopangarso, S., Sumadi, dan Nuriyanto, R. 2017. Indeks Obat Hewan


Indonesia. Jakarta.