Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI TUMBUHAN

“ ANALISIS VEGETASI”

Kelompok 5 :

Novia Efendi ( 16 507 039 )

Desti Febriani ( 17 507 043 )

Dosen Pengampuh : Dr. Anatje Lihiang, MP

Dr. Ir. Joutje A. Koapaha, M.Sc

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

BIOLOGI

2019
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan, sehingga kami bisa menyelesaikan
Laporan praktikum ekologi tumbuhan yaitu analisis vegetasi ini. Adapun tujuan
disusunnya laporan ini adalah sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah
tersebut.

Tersusunnya laporan ini tentu bukan karena buah kerja keras kami semata,
melainkan juga atas bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, kami ucapkan terima
kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu terselesaikannya
laporan ini.

Kami sangat menyadari bahwa laporan ini masihlah jauh dari sempurna.
Untuk itu, kami selaku tim penyusun menerima dengan terbuka semua kritik dan
saran yang membangun agar laporan ini bisa tersusun lebih baik lagi. Kami
berharap semoga laporan ini bermanfaat untuk kita semua.

Tondano, 29 Juni 2019

Kelompok 5

I
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i

Daftar Isi .............................................................................................................. ii

Bab I. Pendahuluan............................................................................................. 1

Bab II. Dasar Teori ............................................................................................. 3

Bab III. Metode Praktikum ............................................................................... 8

Bab IV. Hasil dan Pembahasan ......................................................................... 10

Bab V. Penutup ................................................................................................... 27

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 28

II
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu faktor penyusun hutan alam adalah vegetasi. Vegetasi
merupakan suatu kumpulan dari berbagai macam tumbuhan yang hidup bersama
di suatu tempat. Vegetasi selalu dinamis dan selalu berkembang sesuai dengan
keadaan habitatnya. Dengan itulah maka perlu melakukan kegiatan analisis
vegetasi.

Analisis vegetasi merupakan cara adalah mempelajari susunan dan bentuk


vegetasi yang ada. Hutan adalah komponen terpenting dari kehidupan manusia
maupun keseimbangan ekologi, oleh karenanya potensi yang meliputi komposisi
jenis tumbuhan dominasi jenis kerapatan dan lainnya sangat perlu diukur. Hal ini
sangat penting untuk menentukan perlakuan yang harus dilakukan dari suatu
luasan hutan. Hal yang diselidiki dan diukur dalam ekologi hutan alam adalah
tegakan.

Vegetasi atau komunitas tumbuhan salah satu komponen biotik yang


menempati habitat dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh
komponen ekosistem lain yang saling beriteraksi. Dengan saling berinteraksi
membuat ekosistem semakin berlangsung lama. Sehingga vegetasi pada tumbuhan
secara alami pada wilayah tersebut merupaka pencempuran hasil interaksi
berbagai faktor lingkungan dan mengalami perubahan drastis.

Istilah ekologi juga berkaitan dengan komunitas dan populasi. Populasi


merupakan kumpulan individu dari jenis yang sama dalam suatu daerah, maka
komunitas merupakan kumpulan populasi dari berbagai jenis dalam suatu daerah.
Setiap dari satu jenis komunitas bisa saja terdapat berbagai macam spesies. Dan
tentunya jumlah spesies yang satu dengan yang lainnya dalam suatu komunitas
tidaklah sama. Bisa saja terdapat spesies yang lebih mendominasi, bahkan
terdapat pula jumlah spesies yang terlalu sedikit pada komunitas tersebut.

1
B. Tujuan
Adapun tujuan penulis dalam penulisan laporan ini adalah:
1. Memahami pentingnya faktor kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi
dalam analisis vegetasi.
2. Dapat memberi nama suatu vegetasi berdasarkan indeks nilai pentingnya
(INP).

2
BAB II
DASAR TEORI

A. Struktur dan Komposisi Hutan

Yang dimaksud dengan struktur komunitas adalah bentuk dari komunitas


dilihat dari stratafikasinya lapisan (dari atas kebawah) secara horizontal bentuk
pertumbuhannya, sosialitasnya, asosiasinya antar spesifik serta kerapatan dan
biomassa (analisis kuantitatif) sedang komposisi komunitas adalah anggota
spesies. Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui
keadaan sebelumnya paling baik digunakan cara jalur transek. Cara ini paling
efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah,
topografi dan elevasi. Jalur-jalur contoh dibuat memotong garis-gasris topografi,
misalnya dari tepi laut kepedalaman memotong sungai dan mendaki atau menurun
lereng pegunungan.

B. Analisis Vegetasi

Menurut Polunin (1990) para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai


salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari
kondisi-kondisi faktor lingkungan dari sejarah dan faktor mudah di ukur dan
nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat
untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen
lainnya dari suatu ekosistem. Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu
mendeskrisipkan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagai
konsep pendekatan yang berlainan. Metode manapun yang dipilih yang penting
adalah harus disesuaikan dengan tujuan kajian, luas atau sempitnya yang ingin di
ungkapkan, keahlian dari bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah
pengetahuan dalam sistematik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri. Pakar
ekologi dalam pengetahuan yang memadai tentang sistematik tumbuhan
berkecenderungan untuk melakukan pendekatan secara floristika dalam
mengungkapkan sesuatu vegetasi, yaitu berupa komposisi dan struktur tumbuhan
pembentuk vegetasi tersebut. Pendekatan kajian pun sangat tergantung pada

3
permasalahan apakah bersifat autokelogi atau sinetologi, dan juga apakah
menyangkut masalah produktifitas atau hubungan sebab akibat. Pakar autekologi
biasannya memerlukan pengetahuan tentang kekerapan atau penampakan dari
suatu spesies tumbuhan, sedangkan pakar sinekologi berkepentingan dengan
komunitas yaitu problema yang dihadapi sehubungan dengan keterkaitan antara
alam dengan variasi vegetasi. Pakar ekologi produktifitas memerlukan data
tentang berat kering dan kandungan kalori yang dalam melakukannya sangat
menyita waktu dan juga bersifat destruktif.

Deskripsi vegetasi juga memerlukan bagian yang integral dengan kegiatan


survey sumber daya alam, misalnya sehubungan dengan inventarisasi kayu untuk
balok dihutan, dan menelaah kapasitas tampung suatu lahan untuk tujuan ternak
atau pengembalaan. Pakar tanah, dan sedikit banyak pakar geologi dan pakar
iklim tertarik dengan vegetasi sebagai ekspresi dari factor-faktor yang mereka
pelajari. Dalam mendeskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik
pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dari tumbuh-tumbuhan
yang hidup bersama didalam suatu tempat tertentu yang mungkin dikarakterisasi
baik oleh spesies sebagai komponennya, maupun oleh kombinasi dari struktur dan
fungsi sifat-sifatnya yang mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara umum atau
fisiognomi (Kimmins, 1987).

Jika berbicara mengenai vegetasi, kita tidak bisa terlepas dari komponen
penyusun vegetasi itu sendiri dan komponen tersebutlah yang menjadi fokus
dalam pengukuran vegetasi. Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu
vegetasi umumnya terdiri dari (Andre, 2009) :

- Belukar (Shrub), tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan
memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
- Epifit (Epiphyte), tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain
(biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau
hemi-parasit.

4
- Paku-pakuan (Fern), tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya
memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut
keluar tangkai daun.
- Palma (Palm), tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan
biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang
dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
- Pemanjat (Climber), tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak
berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya
seperti kayu atau belukar.
- Terna (Herb), tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai
rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang
menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut
yang kadang-kadang keras.
- Pohon (Tree), tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki
satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.

Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya,


yaitu :

- Semai (Seedling), permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang


dari 1.5 m.
- Pancang (Sapling), permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan
berdiameter kurang dari 10 cm.
- Tiang (Poles), pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.

Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya,


jumlah spesies yang mereka miliki. Mereka juga berbeda dalam hubungannya
dalam kelimpahan relative spesies. Beberapa komunitas terdiri dari beberapa
spesies yang jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang
sama dengan jumlah spesies pada umumnya banyak ditemukan.

Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan
sebelumnya paling baik digunakan cara jalur atau transek. Metode transek biasa

5
digunakan untuk mengetahui vegetasi tertentu seperti padang rumput dan lain-lain
atau suatu vegetasi yang sifatnya masih homogen (Admin, 2008).

Dalam ilmu vegetasi telah dikembangakan berbagai metode untuk


menganalisis dan juga sintesis sehingga akan sangat membantu dalam
mendeskripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal metodologi
ini sangat berkembang pesat sesuai dengan kemajuan dalam bidang-bidang
pengetahuan lainnya, tetapi tidak lupa pula diperhitungkan berbagai kendala yang
ada.

Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk


menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu
vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat
berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang
pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada.

1. Metode Destruktif (Pengukuran yang bersifat merusak)

Metode ini biasanya dilakukan untuk memahami jumlah materi organik


yang dapat dihasilkan oleh suatu komunitas tumbuhan. Variable yang dipakai bisa
diproduktivitas primer, maupun biomasa. Dengan demikian dalam pendekatan
selalu harus dilakukan penuain atau berarti melakukan perusakan terhadap
vegetasi tersebut. Metode ini umumnya dilakukan untuk bentuk vegetasi yang
sederhana, dengan ukuran luas pencuplikan antara satu meter persegi sampai lima
meter persegi. Penimbangan bisa didasarkan pada berat segar materi hidup atau
berat keringnya. Metode ini sangat membantu dalam menentukan kualitas suatu
padang rumput dengan usaha pencairan lahan penggembalaan dan sekaligus
menentukan kapasitas tampungnya. Pendekatan yang terbaik untuk metode ini
adalah secara floristika, yaitu didasarkan pada pengetahuan taksonomi tumbuhan.

2. Metode non Destruktif (Pengukuran yang bersifat tidak merusak)

Metode ini dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan, yaitu


berdasarkan penelaahan organisme hidup/tumbuhan (tidak didasarkan pada

6
taksonominya), dan pendekatan lainnya adalah didasarkan pada penelaahan
organisme tumbuhan secara taksonomi atau pendekatan floristika.

Teknik analisis vegetasi ada 2 cara, yaitu:

Dengan Plot
Tanpa Plot, adalah metode yang tidak memerlukan luas kuadran titik.
Yang dibagi kedalam 7 yaitu:
o Metode kuadran
o Metode Individu terdekat
o Metode Acak Berpasangan
o Metode Bertetangga Terdekat
o Metode Intersep/ titik jenuh
o Metode Garis Sentuh
o Metode Bitterlinch

7
BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Rabu, 26 Juni 2019
Waktu : 12.00 – selesai
Tempat : Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Manado

B. Alat
 Alat tulis
 Kertas
 Tali Raffia
 Gunting
 Patok kayu
 Kamera

C. Langkah Kerja

Prosedur pelaksanaan praktik, dalam rangka pengumpulan data vegetasi


diuraikan sebagai berikut:

1. Pembentukan kelompok praktik. Setiap kelompok beranggotakan 2 atau 3


mahasiswa.
2. Menentukan lokasi/unit contoh (jalur pengamatan).
3. Membuat jalur pengamatan/pengukuran dengan bantuan tali raffia
4. Pengamatan (pengumpulan) data vegetasi dilakukan pada plot ukuran: 1 m
x1m

8
Analisis Data

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis baik INP dan parameter


kuantitatif lainnya dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

𝐾𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠


Kerapatan relatif (KR) = 𝑥 100%
𝐾𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠

𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑠𝑢𝑎𝑡𝑢 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠


Frekuensi relatif (FR) = 𝑥 100%
𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠

∑ kerimbunan suatu spesies


Kerimbunan Relatif (KR) = ∑ total seluruh kerimbunan suatu spesies x 100 %

INP = Kerapatan relatif + kerimbunan relatif + frekuensi relatif.

9
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data Hasil Analisis Vegetasi

1. Petak Pertama ( 1m x 1m )
Jumlah spesies : 26
Terdiri dari :
- Poa annua 16
- Parietaria officinalis 3
- 7

 Tabel Jumlah Individu

Spesies Kuadran I Jumlah

Poa annua 16 16

Parietaria officinalis 3 3

- 7 7

Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan metode kuadrat,
sehingga sistem analisis yang dilakukan meliputi kerapatan, kerimbunan, dan
frekuensi.

 Kerapatan relatif
Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ individu
Kerapatan Relatif = ∑ total
x 100%

16
 Poa annua :26 𝑥 100% = 0,61%
3
 Parietaria officinalis : 26 𝑥 100% = 0,11%
7
 Spesies A :26 𝑥 100% = 0,26,%

10
 Kerimbunan relatif
Kerimbunan didefinisikan sebagai seberapa luas area tanah yang dikuasi
oleh tumbuhan. Kerimbunan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
∑ kerimbunan suatu spesies
Kerimbunan Relatif = ∑ total seluruh kerimbunan suatu spesies x 100

16
 Poa annua : 𝑥 100% = 0,61%
26
3
 Parietaria officinalis : 26 𝑥 100% = 0,11%
7
 Spesies A :26 𝑥 100% = 0,26%

 Frekuensi relatif
Dapat didefinisikan sebagai berapa kali satu jenis tumbuhan dijumpai
selama pengamatan dilakukan. Penghitungan dapat menggunakan rumus:
∑ frekuensi suatu spesies yang tertunjuk
Frekuensi = ∑ total seluruh frekuensi spesies
x 100 %

16
 Poa annua : 9 𝑥 100% = 1,78 %
3
 Parietaria officinalis :9 𝑥 100% = 0,33 %
7
 Spesies A :9 𝑥 100% = 0,78 %

 Indeks Nilai Penting


Merupakan suatu harga yang diperoleh dari menjumlahkan harga-harga relatif
dari variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi. Dihitung dengan
menggunakan rumus :
INP = Kerapatan relatif + kerimbunan relatif + frekuensi relatif.

 Poa annua : 0,61% + 0,61% + 1,78 % = 3%


 Parietaria officinalis : 0,11% + 0,11% + 0,33 % = 0,55 %
 Spesies A : 0,26% + 0,26% + 0,78 % = 1,3%

11
Kerapatan Kerimbunan Frekuensi Nilai
Spesies Kerapatan
Relatif Relatif Relatif Penting

Poa annua 16 0,61% 0,61% 1,78 % 3%

Parietaria
0,33 %
officinalis 3 0,11% 0,11% 0,55 %

- 7 0,26% 0,26% 0,78 % 1,3%

2. Petak kedua ( 1m x 1m)


Jumlah spesies : 42
Terdiri dari :
- Rumex Crispus 21
- Poa annua 13
- Spesies A 8

12
 Tabel Jumlah Individu

Spesies Kuadran II Jumlah

Rumex Crispus 21 21

Poa annua 13 13

Spesies A 8 8

Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan metode


kuadrat, sehingga sistem analisis yang dilakukan meliputi kerapatan, kerimbunan,
dan frekuensi.

 Kerapatan relatif
Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ individu
Kerapatan Relatif = ∑ total
x 100%

21
 Rumex Crispus :42 𝑥 100% = 0,5%
13
 Poa annua : 42 𝑥 100% = 0,30%
8
 Spesies A : 𝑥 100% = 0,19%
42

 Kerimbunan relatif
Kerimbunan didefinisikan sebagai seberapa luas area tanah yang dikuasi
oleh tumbuhan. Kerimbunan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
∑ kerimbunan suatu spesies
Kerimbunan Relatif = ∑ total seluruh kerimbunan suatu spesies x 100

21
 Rumex Crispus :42 𝑥 100% = 0,5%
13
 Poa annua : 42 𝑥 100% = 0,30%
8
 Spesies A :42 𝑥 100% = 0,19%

13
 Frekuensi relatif
Dapat didefinisikan sebagai berapa kali satu jenis tumbuhan dijumpai
selama pengamatan dilakukan. Penghitungan dapat menggunakan rumus:
∑ frekuensi suatu spesies yang tertunjuk
Frekuensi = ∑ total seluruh frekuensi spesies
x 100 %

21
 Rumex Crispus : 9 𝑥 100% = 2,33 %
13
 Poa annua : 9 𝑥 100% = 1,4 %
8
 Spesies A :9 𝑥 100% = 0,89 %

 Indeks Nilai Penting


Merupakan suatu harga yang diperoleh dari menjumlahkan harga-harga relatif
dari variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi. Dihitung dengan
menggunakan rumus :
INP = Kerapatan relatif + kerimbunan relatif + frekuensi relatif.

 Poa annua : 0,5% + 0,5 % + 2,33 % = 3,33%


 Parietaria officinalis : 0,30% + 0,30% + 1,4 % = 2 %
 Spesies A : 0,19% + 0,19 % + 0,89 % = 1,27%

Kerapatan Kerimbunan Frekuensi Nilai


Spesies Kerapatan
Relatif Relatif Relatif Penting

Rumex
2,33 %
crispus 21 0,5% 0,5% 3,33%

Poa annua 13 0,30% 0,30% 1,4 % 2%

- 8 0,19% 0,19% 0,89 % 1,27%

14
3. Petak ketiga ( 1m x 1m )
Jumlah spesies : 80
Terdiri dari :
- Tradescantia Fluminensis 31
- Ipomea batatas 1
- Poa annua 28
- Spesies A 7
- Spesies B 3

 Tabel Jumlah Individu

Spesies Kuadran III Jumlah

Tradescantia Fluminensis 31 31

Ipomea batatas 1 1

Poa annua 28 28

Spesies A 7 7

15
Spesies B 3 3

Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan metode


kuadrat, sehingga sistem analisis yang dilakukan meliputi kerapatan, kerimbunan,
dan frekuensi.

 Kerapatan relatif
Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ individu
Kerapatan Relatif = ∑ total
x 100%

31
 Tradescantia Fluminensis :80 𝑥 100% = 0,38%
1
 Ipomea batatas : 80 𝑥 100% = 0,01%
28
 Poa annua :80 𝑥 100% = 0,35%
7
 Spesies A :80 𝑥 100% = 0,08%
3
 Spesies B : 80 𝑥 100% = 0,03%

 Kerimbunan relatif
Kerimbunan didefinisikan sebagai seberapa luas area tanah yang dikuasi
oleh tumbuhan. Kerimbunan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
∑ kerimbunan suatu spesies
Kerimbunan Relatif = ∑ total seluruh kerimbunan suatu spesies x 100

31
 Tradescantia Fluminensis :80 𝑥 100% = 0,38%
1
 Ipomea batatas : 80 𝑥 100% = 0,01%
28
 Poa annua :80 𝑥 100% = 0,35%
7
 Spesies A :80 𝑥 100% = 0,08%
3
 Spesies B : 80 𝑥 100% = 0,03%

16
 Frekuensi relatif
Dapat didefinisikan sebagai berapa kali satu jenis tumbuhan dijumpai
selama pengamatan dilakukan. Penghitungan dapat menggunakan rumus:
∑ frekuensi suatu spesies yang tertunjuk
Frekuensi = ∑ total seluruh frekuensi spesies
x 100 %

31
 Tradescantia Fluminensis : 𝑥 100% = 3,44 %
9
1
 Ipomea batatas : 9 𝑥 100% = 0,11 %
28
 Poa annua : 𝑥 100% = 3,11 %
9
7
 Spesies A : 9 𝑥 100% = 0,78 %
3
 Spesies B : 9 𝑥 100% = 0,33 %

 Indeks Nilai Penting


Merupakan suatu harga yang diperoleh dari menjumlahkan harga-harga relatif
dari variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi. Dihitung dengan
menggunakan rumus :
INP = Kerapatan relatif + kerimbunan relatif + frekuensi relatif.

 Tradescantia Fluminensis : 0,38% + 0,38% + 3,44 % = 4,2%


 Ipomea batatas : 0,01% + 0,01% + 0,11 % = 0,13 %
 Poa annua : 0,35% + 0,35% + 3,11 % = 3,81%
 Spesies A : 0,08% + 0,08% + 0,78 % = 0,94%
 Spesies B : 0,03% + 0,03% + 0,33 % = 0,39%

17
Kerapatan Kerimbunan Frekuensi Nilai
Spesies Kerapatan
Relatif Relatif Relatif Penting

Tradescantia
3,44 %
Fluminensis 31 0,38% 0,38% 4,2%

Ipomea
0,11 %
batatas 1 0,01% 0,01% 0,13 %

Poa annua 28 0,35% 0,35% 3,11 % 3,81%

Spesies A 7 0,08 0,08 0,78 0,94

Spesies B 3 0,03 0,03 0,33 0,39

18
4. Petak keempat ( 1m x 1m )
Jumlah spesies : 43
Terdiri dari :
- Parietaria officinalis 24
- Spesies A 11
- Spesies B 8

 Tabel Jumlah Individu

Spesies Kuadran IV Jumlah

Parietaria officinalis 24 24

Spesies A 11 11

Spesies B 8 8

 Tabel Jumlah Individu

Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan metode kuadrat,
sehingga sistem analisis yang dilakukan meliputi kerapatan, kerimbunan, dan
frekuensi.

 Kerapatan relatif
Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ individu
Kerapatan Relatif = ∑ total
x 100%

24
 Parietaria officinalis :43 𝑥 100% = 0,55%
11
 Spesies A : 43 𝑥 100% = 0,25%
8
 Spesies B :43 𝑥 100% = 0,18%

19
 Kerimbunan relatif
Kerimbunan didefinisikan sebagai seberapa luas area tanah yang dikuasi
oleh tumbuhan. Kerimbunan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
∑ kerimbunan suatu spesies
Kerimbunan Relatif = ∑ total seluruh kerimbunan suatu spesies x 100

24
 Parietaria officinalis : 𝑥 100% = 0,55%
43
11
 Spesies A : 43 𝑥 100% = 0,25%
8
 Spesies B :43 𝑥 100% = 0,18%

 Frekuensi relatif
Dapat didefinisikan sebagai berapa kali satu jenis tumbuhan dijumpai
selama pengamatan dilakukan. Penghitungan dapat menggunakan rumus:
∑ frekuensi suatu spesies yang tertunjuk
Frekuensi = ∑ total seluruh frekuensi spesies
x 100 %

24
 Parietaria officinalis : 𝑥 100% = 2,67 %
9
11
 Spesies A : 𝑥 100% = 1,22 %
9
8
 Spesies B : 9 𝑥 100% = 0,89 %

 Indeks Nilai Penting


Merupakan suatu harga yang diperoleh dari menjumlahkan harga-harga relatif
dari variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi. Dihitung dengan
menggunakan rumus :
INP = Kerapatan relatif + kerimbunan relatif + frekuensi relatif.

 Parietaria officinalis : 0,55% + 0,55% + 2,67 % = 3,77%


 Spesies A : 0,25% + 0,25% + 1,22 % = 1,72 %
 Spesies B : 0,18% + 0,18% + 0,89 % = 1,25%

20
Kerapatan Kerimbunan Frekuensi Nilai
Spesies Kerapatan
Relatif Relatif Relatif Penting

Parietaria
2,67 %
officinalis 24 0,55% 0,55% 3,77%

Spesies A 11 0,25% 0,25% 1,22 % 1,72 %

Spesies B 8 0,18% 0,18% 0,89 % 1,25%

5. Petak kelima ( 1m x 1m )
Jumlah spesies : 44
Terdiri dari :
- Parietaria officinalis 25
- Ipomea batatas 2
- Poa annua 10
- Spesies A 2
- Spesies B 5

21
 Tabel Jumlah Individu

Spesies Kuadran V Jumlah

Parietaria officinalis 25 25

Ipomea batatas 2 2

Poa annua 10 10

Spesies A 2 2

Spesies B 5 5

Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan metode


kuadrat, sehingga sistem analisis yang dilakukan meliputi kerapatan, kerimbunan,
dan frekuensi.

 Kerapatan relatif
Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ individu
Kerapatan Relatif = ∑ total
x 100%

25
 Parietaria officinalis : 44 𝑥 100% = 0,56%
2
 Ipomea batatas : 44 𝑥 100% = 0,04%
10
 Poa annua : 44 𝑥 100% = 0,22%
2
 Spesies A : 44 𝑥 100% = 0,04%
5
 Spesies B : 44 𝑥 100% = 0,11%

 Kerimbunan relatif
Kerimbunan didefinisikan sebagai seberapa luas area tanah yang dikuasi
oleh tumbuhan. Kerimbunan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
∑ kerimbunan suatu spesies
Kerimbunan Relatif = ∑ total seluruh kerimbunan suatu spesies x 100

22
25
 Parietaria officinalis :44 𝑥 100% = 0,56%
2
 Ipomea batatas : 44 𝑥 100% = 0,04%
10
 Poa annua :44 𝑥 100% = 0,22%
2
 Spesies A :44 𝑥 100% = 0,04%
5
 Spesies B : 44 𝑥 100% = 0,11%

 Frekuensi relatif
Dapat didefinisikan sebagai berapa kali satu jenis tumbuhan dijumpai
selama pengamatan dilakukan. Penghitungan dapat menggunakan rumus:
∑ frekuensi suatu spesies yang tertunjuk
Frekuensi = ∑ total seluruh frekuensi spesies
x 100 %

25
 Parietaria officinalis : 𝑥 100% = 2,78 %
9
2
 Ipomea batatas : 9 𝑥 100% = 0,22 %
10
 Poa annua : 𝑥 100% = 1,11 %
9
2
 Spesies A : 9 𝑥 100% = 0,22 %
5
 Spesies B : 9 𝑥 100% = 0,56 %

 Indeks Nilai Penting


Merupakan suatu harga yang diperoleh dari menjumlahkan harga-harga relatif
dari variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi. Dihitung dengan
menggunakan rumus :
INP = Kerapatan relatif + kerimbunan relatif + frekuensi relatif.

 Tradescantia Fluminensis : 0,56% + 0,56% + 2,78 % = 3,9 %


 Ipomea batatas : 0,04% + 0,04% + 0,22 % = 0,3 %
 Poa annua : 0,22% + 0,22% + 1,11 % = 1,55%
 Spesies A : 0,04% + 0,04% + 0,22 % = 0,3%
 Spesies B : 0,11% + 0,11% + 0,56 % = 0,78%

23
Kerapatan Kerimbunan Frekuensi Nilai
Spesies Kerapatan
Relatif Relatif Relatif Penting

Parietaria
2,78 %
officinalis 25 0,56% 0,56% 3,9%

Ipomea
0,22 %
batatas 2 0,04% 0,04% 0,3 %

Poa annua 10 0,22% 0,22% 1,11 % 1,55%

Spesies A 2 0,04 0,04 0,22 0,3

Spesies B 5 0,11 0,11 0,56 0,78

24
Pembahasan
a) Kerapatan Relatif

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa kerapatan relatif tertinggi


adalah spesies Poa annua yang terdapat pada petak pertama dan kerapatan relatif
terendah spesies Ipomea batatas yang terletak pada petak ketiga.

b) Kerimbunan Relatif

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa kerimbunan tertinggi


adalah spesies Poa annua yang terdapat pada petak pertama dan kerimbunan
terendah spesies Ipomea batatas yang terletak pada petak ketiga.

c) Frekuensi Relatif

Nilai frekuensi relative yang tertinggi pada pengamatan tersebut adalah


spesies Tradescantia Fluminensis yang terdapat pada petak ketiga dan frekuensi
terendah spesies Ipomea batatas yang terletak pada petak ketiga

d) Indeks Nilai Penting

Indeks Nilai penting tertinggi pada spesies Tradescantia Fluminensis yang


terdapat pada petak ketiga dan nilai terpenting terendah adalah spesies Ipomea
batatas yang terletak pada petak ketiga.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kerapatan, kerimbunan,


frekuensi dan nilai penting untuk dapat memberi nama suatu vegetasi berdasarkan
dominansinya. Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam
suatu luasan tertentu. Dari hasil analisa data mengenai tingkat kerapatan, dapat
diketahui bahwa spesies Tradescantia Fluminensis dan Poa annua memiliki nilai
kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi paling tinggi nilainya.

Indeks nilai penting (INP) dari hasil penelitian ini didominasi oleh spesies
Tradescantia Fluminensis dengan nilai sebesar 4,2 %. Spesies Tradescantia
Fluminensis mendominasi pada indeks nilai penting di Jurusan Biologi FMIPA
UNIMA . Hal ini dikarenakan pada saat penelitian Tradescantia Fluminensis

25
banyak ditemukan di daerah tersebut. Diduga tumbuhan ini mampu bertahan
dalam keadaan tersebar yang terletak di daerah Lapangan karena sumber nutrisi
berasal dari unsur hara yang terdapat di dalam tanah dan intensitas cahaya
matahari yang cukup. Sedangkan INP terendah adalah Spesies Ipomea batatas,
keadaan ini menunjukan bahwa unsur hara pada tanah yang ada di Jurusan Biologi
FMIPA UNIMA tidak sesuai dengan jenis tumbuhan tersebut sehingga tumbuhan
itu tidak dapat berkembang dengan baik.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, juga ditemukan bahwa terdapat


spesies yang sama dalam petak yang berbeda, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis
yang terdapat pada areal, dimana semakin meningkat keanekaragaman jenis maka
semakin luas area petak. walaupun keanekaragaman spesies itu tidak terlalu
bervariasi. Hal ini sesuai dengan teori bahwa luas minimum digunakan untuk
memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif
dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas
petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang
terdapat pada areal tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat
pada areal tersebut,maka makin luas petak contoh yang digunakan.

26
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan


bahwa Spesies Tradescantia Fluminensis mendominasi pada indeks nilai penting
di Jurusan Biologi FMIPA UNIMA . Hal ini dikarenakan pada saat penelitian
Tradescantia Fluminensis banyak ditemukan di daerah tersebut. Diduga
tumbuhan ini mampu bertahan dalam keadaan tersebar yang terletak di daerah
Lapangan karena sumber nutrisi berasal dari unsur hara yang terdapat di dalam
tanah dan intesitas cahaya matahari yang cukup bagi tanaman tersebut. Sedangkan
INP terendah adalah Spesies Ipomea batatas, keadaan ini menunjukan bahwa
unsur hara pada tanah yang ada di Jurusan Biologi FMIPA UNIMA tidak sesuai
dengan jenis tumbuhan tersebut sehingga tumbuhan itu tidak dapat berkembang
dengan baik.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, juga ditemukan bahwa terdapat
spesies yang sama dalam petak yang berbeda, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis
yang terdapat pada areal, dimana semakin meningkat keanekaragaman jenis maka
semakin luas area petak.

27
Daftar Pustaka

- Kusmana, C, 1997. Metode Survey Vegetasi. PT. Penerbit Institut


Pertanian Bogor. Bogor.
- Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia.
Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
- Sinaga, Sinta Mariso.2015.Laporan Ekologi Hutan Analisis Vegetasi.
http://ekologihutan.com/2015/04/laporan-praktikum-ekologi-hutan.html
diakses pada 29 Juni 2019
- Odum, E. P., 1971. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: UGM
Press
- Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung:
ITB Press

28

Anda mungkin juga menyukai