Anda di halaman 1dari 29

TEKNIK FINISHING

ANILIN & SEMIANILIN

EDDY PURNOMO

POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA


DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN R.I
YOGYAKARTA
2018
TEKNIK “FINISHING-ANILIN”
1. Tujuan Umum
Memahami pengertian dan mengenal karakteristik umum tentang
finishing-anilin serta mengerti teknik dan metode aplikasinya pada
artikel kulit yang berbeda secara benar.
2. Tujuan Khusus
a. Pembelajaran dan pelatihan dalam menentukan, mengenali, bahan
bahan kimia, membuat formulasi finishing-anilin seperti, staining,
base coat, color coat, top/seasoning coat untuk artikel kulit samak
sapi, domba/kambing reptile untuk atasan sepatu, sol, garment,
sarung tangan dengan benar.
b. Pembelajaran dan pelatihan dalam membedakan kulit dengan tipe
finishing aniline, semi-aniline, finishing full pigment, finishing wax
dengan benar.
c. Melakukan dan membedakan tipe finishing-anilin akan dipolishing,
glazing atau ironing, dengan benar.
d. Melakukan sortasi kulit yang telah selesai finshing.

3. Finishing Anilin.
Pengelompokan jenis atau tipe finishing dapat berdasarkan alat/mesin
yang digunakan atau bahan kimia apakah itu binder, wax, oil atau
pewarnanya. Anilin diambikan dari kata aniline yang merupakan bahan
dasar untuk membuat dyestuff. Sehingga finishing anilin menunjukan bahwa
pewarna nya menggunakan dyestuff, yang bersifat tranparan.
Dari alasan diatas dapat diambil kesimpulan finishing anilin lebih dititk
beratkan untuk kulit full-grain, yang memiliki kualitas rajah/grain yang baik,
atau reptile natural (non-bleaching) untuk menonjolkan keindahan
rajah/marking nya karena sifat dyestuff yang tranparant. Dalam
perkembangannya penggunaan pewarna dapat ditambahkan sedikit pewarna

2
pigmen dalam campuran formulanya untuk memanipulasi/menyembunyikan
cacat kecil yang ada di permukaan kulit. Penggunaan sedikit pigmen dalam
formula anilin diatas sering disebut “finishing semi anilin/semi pigmen”.
Pada awalnya binder yang digunakan pada finishing anilin adalah
binder protein kasein dan diakhiri dengan perlakuan glazing untuk
mengkilapkan permukaan kulit terutama kulit reptile, glaze kid atasan
sepatu, namun kini dapat dilihat finishing anilin dapat dikembangkan dengan
menggunakan semua jenis binder bahkan menggunakan minyak/wax/oil
seperti pull-up, crazy horze, distressed, patent leather dll serta diakhir
dengan perlakuan mekanik seperti setrika/ironing.
4. Pengenalan alat bantu Finishing anilin.
1. Spray Gun.
Sebagai alat dasar utama yang banyak digunakan baik dalam skala kecil
atau besar dalam aplikasi pengecatan tutup. Spray-gun atau pistol semprot
merupakan alat dalam satu kesatuan dengan compressor sebagai motor
pengisi udara, yang merupakan sumber tenaga untuk menekan cairan dan
memancarkan cairan keatas menuju atomizer pada spray unit ke-permukaan
kulit. Proses terjadi pada saat trigger (pelatuk) ditekan terjadi aliran udara
melalui air inlet yang menekan campuran cat yang naik melalui fluid inlet
dimana jumlah yang akan keluar diatur oleh fluid controll melalui mix nozzle
dalam bentuk partikel halus.

2. Alat Padding.
Alat padding dapat merupakan alat ulas busa ditutup dengan kain yang terbuat dari
beludru atau mohair atau sikat dengan blu pendek dan halus. Biasanya padding
dilakukan pada lapisan impregnasi atau base coat.

3. Mesin Berat Finishing.


Ada beberapa jenis mesin yang sering dan sangat sering digunakan antara
lain mesin Roll Ironing, Plating, Embossing, Roller Coater, Curtain
3
Coating, yang umumnya sudah dirancang secara komputerising dengan presisi
tinggi.
4. Mesin Glazing.
Mesin atau alat penggosok agar kulit menjadi mengkilap. Alat gosok nya
merupakan batu granit, kaca, atau besi yang terpasang pada ujung alat
gosok. Alat ini digunakan apabila formulasi binder nya merupakan binder
protein.
5. Struktur Grain Kulit.
Struktur permukaan kulit yang akan dikenai cairan finishing adalah dermal papillae
atau yang dikenal dengan grain rajah kulit yang pada dasarnya bergelombang spt
tampak pada gambar dibawah ini. Cairan finishing masuk kedalam dibawah dermal
papillae sekitar 0,08 mm.

4
MATERI POKOK PRAKTIKUM

1. KULIT NAPPA GARMEN ANILIN PULL UP

2. KULIT SEPATU GLACE

3. KULIT BIAWAK & ULAR

4. KULIT IKAN PARI

5
I. KULIT NAPPA GARMEN ANILIN PULL UP.
1.Tujuan Intruksional Umum
Mahasiswa mampu mengenal karakteristik bahan finishing dan mengerti
teknik dan metode semi aniline finish untuk kulit garmen nappa secara
benar.
2. Tujuan Intruksional Khusus
Mahasiswa diharapkan mampu memahami dengan baik tentang :
a. Menentukan dan menyeleksi kulit crust domba/kambing untuk
garment yang akan di finish dengan metode aniline pull up finish.
b. Membuat formulasi/komposisi penggunaan bahan kimia dari tahapan
awal sampai selesai sesuai dengan standar bakunya.
c. Memahami kendala yang timbul dalam pelaksanakan proses dan dapat
melakukan kontrol dari masing-masing tahapan proses dengan benar.

6
3. Pokok Bahasan Materi

Berdasarkan efek yang ditimbulkan salah satu metode dalam


finishing adalah semi aniline finish. Tujuan semi aniline finish untuk
menonjolkan penampakan grain yang alami, namun dengan bantuan
penambahan pigmen dalam komposisi cat tutup nya, mengingat untuk
mendapatkan kulit dengan kualitas I, II, III sangat terbatas jumlah nya.
Diharapkan dengan penambahan sejumlah pigmen dapat menutup cacat
ringan dan tetap tampak natural seperti kulit full grain anilin finished. Kulit
yang di-finishing semi aniline umumnya kulit crust kambing/domba kualitas
I-IV.

7
4. Tahapan proses
1. Selesksi: Sepeti biasanya tahap awal yang harus diperhatikan pada
proses finishing ini diantaranya adalah seleksi kualitas kulit crust-nya. Dalam
hal pull up finish ini boleh menggunakan kulit crust kw yang lebih rendah
(III-IV) spt karena warna yang tidak rata baik karena dyeing atau faktor
alam seperti area perut dan leher atau garis punggung yang biasanya
mempunyai warna lebih tua.
2. Penentuan bahan kimia : Yang kedua pemilihan bahan kimia,
jumlah dan jenis bahan kimia yang digunakan untuk dapat menghasilkan
finishing kulit yang sesuai dengan baku mutu spt pemilihan wax, oil, resin
tidak menimbulkan dampak munculnya Cr6+ mengingat minyal/oil tak jenuh
menyebabkan outoxidation menghasilkan peroksida terutama bila dari
hewani atau nabati. Umumnya digunakan mineral oil seperti paraffin
pasta/cair dan hard paraffin (lilin), bee wax dll.
3. Apilkasi praktek: Teknis pelaksanaan seperti cara spray, padding, hand
roll coater harus hati hati karena implentasi wax + oil dalamn kondisi hangat
(50oC). Campuran Oil dan wax diulas dengan / menggunakan padding
setelah dilakukan staining (bila diperlukan). Top coat bisa menggunakan
nitrocellulose/PU baik solvent atau water bases. Lapisan top coat harus tipis
(0,1 mm), soft, berfungsi untuk menjaga permukaan dari bahan kimia,
benturan, udara, air, serta daya gosok disamping untuk menutup cacat
sehingga performance kulit semakin indah.
4. Ironing: Gunakan tekanan 10-12 MPa, waktu 3 detik, panas 100-110.
Perlakuan ironing pertama setelah oil padding, kedua setelah top coat.

8
5. Praktikum
5.1. Persiapan Bahan Praktikum
Kulit crust kambing/domba berwarna.

5.2. Persiapan Peralatan Praktek


• Alat Padding
• Spray Gun unit
• Compressor
• Ironing Machine
• Mesin Buffing
• Mesin Toggle
• Alat penjepit
• Meja Miring

5.3. Bahan Kimia


- Polyethylene-glycol
- Filler wax.
- Resin Acrylic.
- Polimer Acrylic Binder
- liquid dyes non metal komplek/free chrome
- Parrafin wax (hard)
- Mineral oil.
- Urethan Soft Binder
- PU hard emulsi
- Protein binder/Isocyanate
- NC water base

9
6. Formulasi finishing.
Tipe Kulit : Crust domba/kambing garmen.
Tipe Finishing : pull-up.
Warna :. .. …...
Tanggal :…………..

st nd rd
Produk Generik Clearing Persiapan 1 2 3 Procedure
coat coat coat
Persiapan: Spray

Surfactan 20 dengan, larutan

Polyethylene 20 surfaktan (5%).

glycol Kering

Filler wax 50 anginkan.

Ironing 1
Ironing 1.
Oil Mineral 850
15 MPa, 110 oC, 1”.
Liquid Dyes 300
Parrafin wax 100 -1st Coat: Spraying
Bee wax 50 (jika diperlukan)
Urethan-Soft- Pull up 100
binder Patent -2ndCoat: Mix (50

PU hard emulsi garmen. 175 oC) Padding.

Hardener 25
isocyanat/protein Ironing 2

NC water base Pull-up 300 15 MPa, 110 oC, 1”.

Normal
-3rd Coat:Spray 2x
Air/Solvent Air  980 850 700 Non 700
tambah hingga 1
lt

10
II. KULIT SEPATU GLACE

1. Tujuan Intruksional Umum


Mahasiswa mampu mengenal karakteristik bahan finishing dan mengerti
teknik dan metode finishing untuk kulit kulit glace kambing secara benar.

2. Tujuan Intruksional Khusus

Mahasiswa diharapkan mampu memahami dengan baik tentang:


a. Menentukan dan menyeleksi kulit crust biawak, ular untuk tas dan
dompet (leather gods) yang akan di finish dengan metode aniline finish.
b.Melaksanakan pemilihan jenis bahan kimia untuk persiapan finishing, base
coat, anilin/color coat, top/seasoning coat untuk artikel kulit diatas.
c.Membuat formulasi/komposisi penggunaan bahan kimia dari tahapan awal
sampai selesai sesuai dengan standar bakunya.
d. Memahami kendala yang timbul dalam pelaksanakan proses dan dapat
melakukan kontrol dari masing-masing tahapan proses dengan benar.

3. Pokok Bahasan Materi

Glace : Kata yang menunjuk pada kulit samak yang lembut dan highly
polished. Namun pada awalnya kulit glace secara tradisional disamak
dengan zp.aluminium, warna putih menggunakan bahan bahan alami spt
aluminium sulphate, garam, kuning telor, tepung gandum, minyak dan air.
Dewasa ini “glacé leather” dikatakan kulit dengan "glacé effect" dengan
berbagai metoda penyamakan dan finishing. Gambaran lain glace leather
merupakan “chrome-tanned soft leather” dengan karakter extremely glossy,
shiny finish, dan softness, pliabilitas nya tepat untuk sepatu dan barang kulit
kecil. Rata rata luas: 0.23 - 0.46m² (2½ - 5 ft²), Standard tebal: 0.8mm.
Jadi kulit kecil seperti kambing atau domba yang umumya mempunyai
kulaitas baik sehingga tepat untuk kilit glace dan finishingnya menggunakan
11
glazing untuk mencapai glossy yang diharapkan, serta menonjolkan
penampakan grain yang alami. Cara ini ini tepat untuk kulit kambing domba
dengan kualitas prima, mengingat tidak diperkenankan menggunakan
pigment dengan pengecualian kulit nya sedikit rusak.
Kulit glace harus mempunyai rajah yang halus, patern dan natural, grain-
nya utuh, disamak dengan penyamak krom (chrome tanned) atau aluminium
wet white, di-retanning dengan zat penyamak nabati, syntan sebagai
pengendali kemuluran agar saat glazing tidak mengalami perubahan bentuk.
Sebagai catatan penting untuk kulit dengan hasil akhir glossy digunakan
mesin glazing dan selalu menggunakan binder protein casein yang berasal
dari susu sapi. Sifat lapisannya keras (thermosetting) sehingga perlu sedikit
plastiziser dan perlu penambahan crossed lingker agent aldehyde.
Untuk itu warna harus dicapai pada diperoleh proses dyeing dan harus
mendekati sasaran warna akhir kulit finished sehingga tampak karakteristik
alaminya. Kulit crust yang di-finishing aniline diperlukan kualitas I-II, tidak
ada bercak atau bekas cacat/pigmen yang tertinggal karena proses
pengapuran tidak sempurna.

Casein Glace Finish


The aim of this type of finish is to produce leather, which retains its "natural"
look but at the same time achieves a degree of uniformity in colour with the
minimum opacity necessary. This is achieved by using a mixture of aniline
dyestuffs and pigmented dyestuffs bound together using casein. Pigments,
unlike dyestuffs are insoluble in water or solvents and are opaque. Casein, a
protein that comes from milk exists as a water-soluble colloid. It is not
unlike albumen (known in the bookbinding world as 'glaire'), which is the
protein present in egg white. Binding takes place by the deposition of the
binder around the pigment due to the loss of water by evaporation and also
hydration of the leather fibres. Pigmented dyestuffs would not themselves
12
adhere to leather or form a "film" so, as in the case of ordinary paints; other
materials such as casein like melamine must be mixed into the finish. For
this reason caseins are known as "Binders".

4. Tahapan Operational Produksi


Beberapa hal yang harus diperhatikan pada proses finishing ini diantaranya
adalah pertama seleksi kulit crust-nya. Yang kedua pemilihan bahan kimia,
jumlah dan jenis bahan kimia yang digunakan untuk dapat menghasilkan
finishing kulit yang sesuai dengan standar bakunya sehingga tidak
menurunkan kualitasnya, bahkan nantinya diharapkan dapat meningkatkan
nilai kulit. Yang ketiga yaitu pengaturan teknisnya seperti cara spray,
aplikasi alat-alat mekanik dan kontrol proses selama berlangsungnya.
Takaran umum pengecatan kulit dengan spray gun yaitu dengan tekanan
udara 60-70 psi dengan jarak penyemprotan 45-60 cm pada meja miring.

5. Pokok Bahasan Praktikum


5.1. Bahan Praktikum
Kulit crust reptile ular dan biawak berbagai warna.
5.2. Peralatan Praktek
• Alat Padding
• Spray Gun unit
• Compressor
• Ironing Machine
• Mesin Buffing
• Mesin Toggle
• Alat penjepit
• Meja Miring

13
5.3. Bahan Kimia
• Binder protein/casein
• Binder melamin
• Sorbitol.
• Wax ground/Filler
• Metalcomplex dyestuff/Liquid dyes/lake color.
• Hand modifier
• Crossed linker agent protein
• Top-wax.
• Amonia
• Non-ionic surfactant.

14
Tipe Kulit : Goat skin
Tipe Finishing: Semi Aniline Finished Glazing.
Color : Sesuaikan warna dasar.
Tanggal :

Product Generik Produk patent 1st 2nd 3rd 4th 5th procedure
coat coat coat coat coat
Air 980 770 670 775 1. Ulas dgn busa
keringkan.
- 2. Spray 2x, drying
Soft Casein protein - 200 150 50 3.Spray 2x, drying,
binder
Hard protein binder - - 50 - Glazing.
Synthetic hard - - - 150 4. Spray, drying,
protein (melamin) polishing/Ironing, (80
C; 3 detik; 1,5 atm)
Solvent Lacquer - - - -
- - - -
Wax - - - 15
Lake pigment - - 25 -
Plastisizer 15 5 -
Liquid Dye - - 50 -
Surfactant 10 - - -
Amonia 10 - - -
Crossed lingker - - - 10
protein

15
Catatan.
1. Lapisan I berfungsi sebagai clearing.
2. Lapisan II berfungsi sebagai base coat dan III sebagai color coat.
3. Lapisan IV dan V sebagai Top coat atau seosening.

16
III. KULIT BIAWAK & ULAR
1.Tujuan Intruksional Umum
Mahasiswa mampu mengenal karakteristik bahan finishing dan mengerti
teknik dan metode aniline finish untuk kulit kulit reptil secara benar.
2. Tujuan Intruksional Khusus

Mahasiswa diharapkan mampu memahami dengan baik tentang :


d. Menentukan dan menyeleksi kulit crust biawak, ular untuk tas dan
dompet (leather gods) yang akan di finish dengan metode aniline
finish.
e. Melaksanakan pemilihan jenis bahan kimia untuk persiapan finishing,
base coat, anilin/color coat, top/seasoning coat untuk artikel kulit
diatas.
f. Membuat formulasi/komposisi penggunaan bahan kimia dari tahapan
awal sampai selesai sesuai dengan standar bakunya.
g. Memahami kendala yang timbul dalam pelaksanakan proses dan dapat
melakukan kontrol dari masing-masing tahapan proses dengan benar.

3. Pokok Bahasan Materi dan Tahapan proses.


Berdasarkan efek yang ditimbulkan salah satu metode dalam
finishing adalah aniline finish. Tujuan aniline finish untuk menonjolkan
penampakan grain yang alami, sehingga metode ini cocok untuk kulit reptile
yang akan menonjolkan nilai natural nya dengan kualitas prima, mengingat
tidak diperkenankan menggunakan pigment dengan pengecualian kulit nya
rusak.
Kulit reptile biawak dan ular harus mempunyai rajah yang halus,
patern dan natural, grain-nya utuh, disamak dengan penyamak krom
(chrome tanned ), atau metoda wet white, di-retanning dengan zat
penyamak nabati, syntan sebagai pengendali kemuluran agar saat glazing
17
tidak mengalami perubahan bentuk. Sebagai catatan penting kulit reptile
yang akan mengalami glazing selalu menggunakan binder protein casein
yang berasal dari susu sapi. Sifat lapisan keras (thermosetting) sehingga
perlu sedikit plastiziser seperti sorbitol dan perlu penambahan crossed
lingker agent aldehyde. Mengingat kulit reptile yg diutamakan patern atau
marking rajahnya maka harus tampak senatural mungkin sehingga harus
menggunakan pewarna dyes atau lake. Untuk itu warna harus dicapai pada
diperoleh proses dyeing dan harus mendekati sasaran warna akhir kulit
finished sehingga tampak karakteristik alaminya. Kulit crust yang di-finishing
aniline diperlukan kualitas I-II, tidak ada bercak atau bekas sisik yang
tertinggal karena proses pengapuran tidak sempurna. Setelah glazing
terakhir apabila diinginkan untuk menjadi paten leather ulaskan / spray
lapisan PU dengan isocyanat crossed lingker agent.
4. Tahapan proses
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada proses finishing ini
diantaranya adalah tahap pertama yaitu seleksi kulit crust-nya. Yang kedua
pemilihan bahan kimia, jumlah dan jenis bahan kimia yang digunakan untuk
dapat menghasilkan finishing kulit yang sesuai dengan baku mutu yang
dipersyaratkan. Tahapan yang ketiga yaitu pengaturan teknisnya seperti
cara spray, tehnik glazing, atau polishing yang memang dilakukan dengan
skil yang tinggi.
5. Pokok Praktikum
- Bahan Praktikum
Kulit crust reptile ular dan biawak berbagai warna.
-Peralatan Praktek
 Alat Padding
 Spray Gun unit
 Compressor
 Ironing Machine
18
 Mesin Buffing
 Mesin Toggle
 Alat penjepit
 Meja Miring

1.2. Bahan Kimia


 Binder protein/casein
 Binder PU gloosy
 Sorbitol
 Metalcomplex dyestuff/Liquid dyes/lake color.
 Hand modifier
 Crossed linker agent protein
 Crossed liker agent PU
 Amonia
 Surfactant anionik.

19
Tipe Kulit : Biawak
Tipe Finishing: Aniline Finished Glazing +Patent
Color : Sesuaikan warna dasar.
Tanggal :
Product-Generik Produk- Paten 1st 2nd 3rd 4th 5th procedure
coat coat coat coat coat
Air 1. Ulas dgn busa
980 795 700 600
keringkan
- - - - - 2. Ulas 2x, drying,
glaze
Soft Binder protein - 200 - - - 3. Ulas 2x, drying,
glaze
Hard binder protein - - 300 400 - 4. Ulas, drying,
glazing
Plastisizer sorbitol - 5 *)
- - - 5. Ironing/Flating (80
C; 3 detik; 1,5 atm)
Solvent /Thinnert - - - 500 5. If patent leather
*)
Jika terlalu soft
Surfactant Anionic 20 - -
Crossed lingker - 20
Agent Protein
Glutaraldehyde
PU Glossy - - 300
Crossed lingker - - 20
agent PU Isocyanate

Catatan.
1. Lapisan I berfungsi sebagai clearing.
2. Lapisan II berfungsi sebagai base coat dan III sebagai color coat.
3. Lapisan IV dan V sebagai Top coat atau seosening.

20
Tipe Kulit : Ular
Tipe Finishing: Aniline Finished Polishing /Ironing
Color : Sesuaikan warna dasar.
Tanggal :
Produk Generik Produk patent 1st 2nd 3rd 4th 5th procedure
coat coat coat coat coat
Air 980 770 670 - 800 1. Ulas dgn busa
keringkan.
Impregnating agent 50 - - - - 2. Spray 2x, drying,
polishing.
Soft protein Binder - 100 200 200 - 3.Spray 2x, drying,
Wax top - - - 50 50 Polishing, flating.
Plastisizer - 10 5 - - 4.Spray, drying.
- - - - - -
Polyurethan Binder - 100 - - -
Filler - 50 10 - -

Liquid Dyes

Surfactant 10 - - - -
Amonia 10 - - - -
Crossed lingker - - - 10 -
Poliamide - - 100 20 -

NC - - - - 200 5. If we need water


proofness only. Ironing
80 C; 3 sec ; 1 atm)

21
V. KULIT IKAN PARI
1.Tujuan Intruksional Umum
Mahasiswa mampu mengenal karakteristik bahan finishing dan mengerti
teknik dan metode aniline finish untuk kulit kulit ikan pari secara benar.
2. Tujuan Intruksional Khusus
Mahasiswa diharapkan mampu memahami dengan baik tentang :
a. Menentukan dan menyeleksi kulit crust pari untuk tas dan dompet
(leather gods) yang akan di finish dengan metode aniline finish.
b. Melaksanakan pemilihan jenis bahan kimia untuk persiapan
finishing, base coat, anilin/color coat, top/seasoning coat untuk artikel kulit
diatas.
c. Membuat formulasi/komposisi penggunaan bahan kimia dari
tahapan awal sampai selesai sesuai dengan standar bakunya.
d. Memahami kendala yang timbul dalam pelaksanakan proses dan
dapat melakukan kontrol dari masing-masing tahapan proses dengan benar.
3. Pokok Bahasan Materi
Ada perbedaan prinsif yang mendasar antara finishing kulit reptile
seperti biawak dan ikan pari. Perbedaan tersebut disebabkan karena kulit
ikan pari grainnya dipenuhi sisik bulat keras seperti batu yang merupakan
komponen mineral, Ca, Si, dll sedangkan kulit biawak atau ular merupakan
ujung serat protein keratin.
Kulit ikan pari permukaannya tidak menyerap cat tetapi hanya dipermukaan
dan membentuk lapisan tipis.
Efek glossy umumnya dilakukan sebelum proses coating seperti
pembersihan serat antara sisik, pengampelasan sisik, polishing dll. Diikuti
dengan proses base coating, color atau printing, polishing, dan top coating.
Metoda printing baik hand printing atau machine printing dapat digunakan
untuk memberi nuasa/motif tertentu.

22
Nitrocelulose/Polyurethan Finish
Seperti konsep anilin finished, finishing kulit pari menghendaki
tampilan yang natural dan tidak covering karena yang akan di tonjolkan
keindahan sisik batuan nya yang tampak shiny. Untuk mendapatkan efek
tersebut selain dengan di buffing berulang ulang juga harus di coating
dengan nitrocellulose atau polyurethane keras. Dapat juga menggunakan NC
clear untuk kendaraan (motor/mobil)
` Implentasi dilakukan pada saat top coat setelah color coat selesai.
Seperti telah disinggung diatas color coat dilakukan dengan technic printing
baik dengan cara manual (sabloon) atau mesin printing, bahkan banyak
yang mengunakan tehnik lukis tertentu yang menggunakan pewarna acrylic.
4. Tahapan proses
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada proses finishing ini
diantaranya adalah pertama seleksi kulit crust-nya. Yang kedua pemilihan
bahan kimia, jumlah dan jenis bahan kimia yang digunakan untuk dapat
menghasilkan finishing kulit yang sesuai dengan standar bakunya sehingga
tidak menurunkan kualitasnya, bahkan nantinya diharapkan dapat
meningkatkan nilai kulit. Yang ketiga yaitu pengaturan teknisnya seperti
cara spray, aplikasi alat-alat mekanik dan kontrol proses selama
berlangsungnya.
Takaran umum pengecatan kulit dengan spray gun yaitu dengan
tekanan udara 60-70 psi dengan jarak penyemprotan 30-45 cm pada meja
miring 20-30 derajat.

5.Pokok Bahasan Praktikum


1.Bahan Praktikum
Kulit crust ikan pari berbagai warna.
Peralatan Praktek
 Spray Gun unit
23
 Compressor.
 Hand Polishing unit
 Mesin Buffing
 Mesin Toggle.
 Alat penjepit
 Meja Miring

3. Bahan Kimia
• Nitrocellulose/Polyuretan.
• Thinner
• Metalcomplex dyestuff/Liquid dyes.
• Hand modifier (silicon missible emulsion)
• Crossed linker agent polyurethane (di-isocyanate)
• BA (butyl asetat)
• Amonia
• Non-ionic surfactant.

6. Persiapan dan Aplikasi.


1. Buffing: mengingat permukaan kulit crust adalah batuan mineral
tersusum atas Ca, Si, Mg dll yang keras dan dikelilingi oleh serat serat yang
padat pada awal pengecatan dilakukan pengampelasan permukaan dengan
kertas buffing no: 800, 1000. Kedalaman buffing tergantung keinginan
namun biasan nya 50 % dari batuan yang menonjol.
2. Bersihkan sekeliling batu dengan jarum sehingga batu bebas bekas serat
kulit.
3. Clearing dengan diulas menggunakan:
R/ air 970 cc
ammonia 20 g.
surfaktan 10 g
24
3. Stainning /Painting.
Bila ingin di beri motif /lukisan/ painting lakukan dengan LD atau pewarna
pigmen.
4. Top coating: Semprotkan nitro selulose (NC) dalam palarut solven seperti
thinner atau gunakan PU glossy.

25
Tipe Kulit : Crust pari.
Tipe Finishing: Aniline Finished (laquer) and Polishing.
Color : Sesuaikan warna dasar.
Tanggal :

Product Generik Produk Paten 1st 2nd 3rd 4th 5th procedure
coat coat coat coat coat
Air 970 - - - 1. Spray dan
keringkan, bersihkan
dengan kain fanel.
LD/lake color - 50 - - 2. Spray 2x, drying,
hand polishing.
Buthyl Asetat (BA) - 100 200 50 3.Spray 2x, drying,
Solvent - 250 50 285 Polishing.
dyes/thinner
Lacquer NC - 100 5 - 4.Spray, drying.
Crossed lingker - - 15
Surfactant 20 - -
Amonia 10 - -
PU Glossy - 150

Note:
- Lapisan pertama berfungsi membersihkan permukaan sisik.
- Lapisan kedua color staining atau print atau spot color.
- Lapisan ketiga dan keempat merupakan top caot yang keras dan
shiny/glossy.

26
C.Pustaka :

1. Anonim, ( 2002 ), Dyeing Chrome-Tanned Leather using PRO MX Reactive Dyes,


PO Box 14 Somerset, MA 02726orders 1-800-2-BUY-DYE technical support 08-676-
3838, http://www.prochemical.com

2. Anonim ( 2002 ), establishing revised ecological criteria for the award of the Communityeco-
label to footwear and amending Decision 1999/179/EC , Commission Decision, Official Journal
of the European Communities, EU

3. BASF ( 1997 ), Leather Finishing Manual, Badische Aniline & Soda Fabrik AG,
6700 Ludwigshafen.

4. BASF ( 2007 ), Pocket Book Of Leather Technologiest, Edisi empat, Aktiengesellschaft 67056
Ludwigshafen, Germany. http://www.basf.com/leather,
5. Bell, R. Hays, Patricia Breslin, Richard Lemen ( 1997 ), Healt Hazard Alert
Benzidine,o-Toluidine, and o-Dianisidine Based Dyes, National Institute for
Occupational Safety and Health, USA.

6. Bienkiewicz. K ( 1983 ), Physical chemistry of Leather making, Robert E Krieger Publishing


Company, Malabar, Florida.

7. Bird, CL.( 1972 ), The Theory and Practice of Wool Dyeing, fourth edition, The Sociaty of
Dyers and Colourist, Perkin House, Gratan Road Broadford Yorkshire, England.

8. Blackburn.RS dan Burkinshaw SM, 2002, A greener approach to cotton dyeings with
excellent wash fastness, Royal Society Chemistry Journal, Received 3rd Specialty Chemical
Group, School of Textiles & Design, University of Leeds, UK LS2 9JT.

27
9. COTANCE (2002), The European Tanning Industry Sustainability Review, World Summit on
Sustainable Development

10. Feiz. M dan Radfar.Z ( 2006 ), Improvement of Wash Fastness of Direct and Acid Dyes
Applied to Silk by Aftertreatment with Syntan, Syntan/Cation, and Full Backtan Processes,
Iranian Polymer Journal 15 (4), 2006, 299-305, Textile Department, Isfahan University of
Technology, Isfahan-84156/83111, Iran.

11. Jufri,RD dkk, ( 1973 ), Teknologi Pengelantangan Pencelupan dan Pengecapan, ITT
Bandung.

12. Oflaherty, F dan Roddy W. ( 1978 ), The Chemistry and Technology of Leather, Volume III,
Robert E Krieger Publishing Company, Huntington New York.

13. Otto, G. ( 1950 ), Contribustions to The Study of Interactions in The System Hide Tanning
Dyestuff, Report, BASF, Lugwigshafenan Rhm, Germany.

14. Purnomo, E ( 1985 ), Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan Kulit, Akademi Teknology
Kulit Yogyakarta.

15. Purnomo, E ( 2002 ), Penyamakan Kulit Ikan Pari, ISBN , Penerbit KANISIUS Yogyakarta.

16. Thortensen,TC. ( 1976 ) ,Practical Leather Technogy, Hebert E Publishing Company


Huntington, New York.

17. Frendrup,W ( 2000 ), Hair-Shave Unhairing Methods In Leather Processing, Regional


Programme for Pollution Control in the Tanning Industry in South-East Asia, US/RAS/92/120,
UNIDO.

28
18. Van der, zee FP (2002 ), Anaerobic azo dye reduction ISBN: 90-5808-610-0, Thesis
Wageningen University, Wageningen, The Netherlands .

19. Vankar.PS dan Baipai D ( 2006 ), Evaluation of Leather Dyeing Using Ecofriendly Black
Dyestuff, Facility for Ecological and Analytical Testing (FEAT), Electronic Journal of
Environmental, Agriculture and Food Chemistry, Institute of Technology, Kanpur-208 016, India.

20. WHO ( 1993 ), Lists of IARC Evaluation According to IARC Monographs,


International Agency for research on Cancer, IARC, 150 cours Albert Thomas, 69372
Lyon Cedex 08 France.

21. BLMRA (1974), Hide, Skin and Leather, under the Microscope, Milton Park Engham Surry,
England.

22. Buljan.J, G. Reich, J. Ludvik ( 2000 ), Mass Balance In Leather Processing, Agro-

Industries and Sectoral Support Branch UNIDO.

29