Anda di halaman 1dari 17

Survei dengan Metode Kompas & Langkah VI.

BAB - VI
PENGENALAN GEOLOGI STRUKTUR

I. Teori Dasar
Geologi Struktur adalah ilmu yang mempelajari unsur-unsur dan bentuk
arsitektur kulit bumi, serta gejala-gejala pembentukan yang menyebabkannya.
Lebih tepatnya Sukendar A (1977) menyatakan bahwa geologi struktur
adalah studi yang membahas mengenai bangun arsitektur dan kulit bumi, dan
gejala-gejala yang menyebabkan terjadinya perubahan pada kulit bumi.
Secara umum yang dimaksud dengan struktur batuan adalah bentuk dan
kedudukan yang kita lihat. Ditinjau dan proses teijadinya kita mengenal 3 (tiga)
macam siruktur batuan, yaitu:
1. Struktur primer (depositional structure) adalah gejala
struktur yang terjadi pada saat pembentukan batuan tersebut, conto
pelapisan bersusun, konvolut, pelapisan sejajar, silang siur, riple
mark, dan lain-lain.
2. Struktur sekunder adalah gejala struktur yang
terbentuk setelah proses pembentukan batuan, dimana batuan
tersebut te!ah mengalami konsolidasi, baik berupa deformasi
mekanis atau perubahan kimia, conto : lipatan, kekar, sesar,
cleavage, foliasi, dan lain-lain.
3. Struktur penekontemporer (penecontemporaneous),
adalah gejala struktur yang terbentuk tepat setelah pengendapan,
dimana batuan belum mengalami konsolidasi, conto endapan-
endapan gaya berat (gravity flow) ---> slump, turbidit
Dalam hal ini struktur-struktur yang akan dipelajari dalam geologi
struktur adalah struktur sekunder yang disebabkan oleh deformasi mekanis.

III. Maksud Dan Tujuan / Target Kegiatan


Maksud acara pengenalan geologi struktur adalah agar peserta dapat
mengetahui gejala struktur geologi di lapangan, mengetahui hal-hal yang perlu
diamati, dapat menentukan lokasi pada peta topografi, dapat melakukan plotting
data lapangan pada peta topografi, dan peserta mampu untuk mencatat secara
benar dan lengkap data-data lapangan yang ditemui, melakukan interpretasi di
lapangan, dan analisis struktur geologi di kampus lapangan.
Acara pengenalan geologi struktur bertujuan agar peserta KL-1 dapat
menggunakan peralatan geologi lapangan dengan benar. Menentukan lokasi
pengamatan struktur geologi di peta topografi, mencatat secara benar dan lengkap
data-data yang di dapat di lapangan, melakukan interpretasi, dan analisis yang
dilaporkan dalam bentuk peta struktur geologi.

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah VI. 2

1.1. Geometri Unsur Struktur


Berdasar atas pengertian geometri, struktur geologi dapat dibedakan
menjadi:
 Struktur bidang (planar)
 Struktur garis (linier)
Dengan dasar tersebut di atas diperlukan cara untuk menyatakan orientasi
struktur bidang maupun garis dalam ruang. Umumnya, orientasi ini merupakan
hubungan antara :
 Koordinat geogratis
 Komponen arah
 Kecondongan
Orientasi atau posisi unsur struktur geologi dalam ruang disebut juga
kedudukan(altitude)
1.2. Struktur Bidang
Dijumpai pada bidang pelapisan, bidang sesar, patahan, kekar, foliasi, dan
sebagainya.
Definisi-deflnisi untuk struktur bidang:
 Arah (bearing) : sudut horizontal antara garis dengan arah koordinat
tertentu, umumnya arah utara atau selatan.
 Kecondongan (inclination) : batas umum untuk sudut vertikal, diukur
ke arah bahwa antara bidang horizontal dengan bidang atau ganis.
 Jurus (strike) : arah dari garis horizontal yang terletak pada bidang
miring.
 Kemiringan (dip) : kecondongan dengan sudut kemiringan terbesar,
dibentuk oleh bidang miring dengan horizontal, diukur  jurus.
 Keminingan semu (apparent dip) : kecondongan dengan kondisi
pengukuran yang tidak  jurus (gambar 1)
Kedudukan struktur bidang dapat dinyatakan dalam :
 Jurus/kemiringan
 Besar kemiringan, arah kemiringan

1.2.1 Struktur Garis


Struktur garis dijumpai sebagai : sumbu perlipatan, gores-garis pada
bidang sesar, striasi, perpotongan 2 bidang, misal antara bidang lapisan sedimen
dengan korok.
Definisi-definisi untuk struktur ganis:
 Penunjaman (plunge) : besar sudut pada bidang vertikal, antara ganis
dengan bidang horizontal.
 Rake (pitch) : besarnya sudut garis dengan garis horizontal, diukur
pada bidang dimana garis tersebut terdapat (sudut rake < 90°)

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah VI. 3

 Arah penunjaman (trend) : jurus dan bidang vertikal, yang melalui


garis dan menunjukkan arah penunjaman ganis tersebut. (gambar 2)
 Kedudukan struktur garis dinyatakan dalam besar penunjaman dan
arah penunjaman
Penulisan dengan cara azimuth : 300, N 1700 E atau cara kuadran :
30°,S l0°E

Cara penulisan kedudukan struktur bidang dan struktur garis, serta


simbolnya di peta dapat dilihat pada gambar 3.

IV. Tahapan Studi Geologi Struktur / Tatacara Kegiatan


(Sumber dan Sukendar, 1990)
Pada dasarnya tahap-tahap mempelajari geologi struktur adalab sebagai
berikut (lihat diagram berikut) :

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah VI. 4

Diagram 1 : Tahapan mempelajari geologi struktur (Sukendar A., 1990)


1. Dikenal di lapangan  geometri dan kedudukannnya,
diukur sebagai unsur-unsur struktur bidang dan garis
2. Disajikan dalam peta, Lokasi, diagram
penampang, sketsa,  stereo, frekuaensi,
diagram-diagram roset (bunga)

3. Kinematikanya dianalisa  elipsoid-elipsoid keterakan


dan tegasan ditentukan
Ditafsirkan mekanisme pembentukan

Kekar Sesar Lipatan

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 5

o o o
flex
tarikan naik ure
o shear o o
FR
o gash turu she
FR n ar
dll. o o

dext flo
ral w
o o
sinis
tral,
dll. TH

Fol

d dll

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 6

Tahap pertama adalah mengetahui dengan mengenal bentuknya. Yang


dimaksud di sini adalah bentuk dalam 3 dimensi. Hal ini penting, dan kadang-
kadang tidak selalu mudah untuk dapat dilakukan. Masalahnya adalah, karena
singkapan yang memperlihatkan struktur pada umumnya adalah 2 dimensi.

Untuk dapat membayangkan singkapan dalam 3 dimensi diperlukan


kemampuan dalam hal :
a. Penafsiran dan
b. Peramalan terhadap bentuk singkapan yang kita amati dan ini
dilakukan dengan cara: ”menerapkan prinsip-pninsip geometri
terhadap bentuk-bentuk geologi, baik yang dianggap sebagai unsur
bidang maupun ganis”.
Tetapi karena pada umumnya data yang diperoleh dari suatu singkapan
itu tidak lengkap, maka diperlukan kemampuan untuk melakukan generalization
dan assumption terhadap suatu singkapan. Upamanya terhadap suatu singkapan
yang yang berupa breksi sesar yang terpisah-pisah di suatu sungai, diperlukan
kemampuan mengumpamakannya sebagai suatu bidang sesar (assumption) yang
menjurus dan miring ke arab tertentu (generalization).

4.1. Analisa Struktur Sesar


Sesar adalah struktur rekahan pada batuan yang mengalami pergeseran
sejajar dengan bidang rekahan dapat berupa bidang, jalur gerus, atau lenturan.

4.2. Pengenalan Dasar


Sesar dikenali dari :
1. Foto udara dan peta topografi yang berupa kelurusan atau pembelokan
arah alur sungai dengan tiba-tiba (gawir, lembah, dan lain-lain).
2. Pengamatan lapangan sebagai :
o gawir, sesar
o bidang sesar
o jalur terbreksikan hancuran atau mylonite
o deretan sumber-sumber air (panas)
o penyimpangan yang menyolok dan kedudukan lapisan
foliasi,dan sebagainya.
o Pengamatan dan analisa struktur batuan
o Bergesernya lapisan, hilang dan perulangan lapisan
Untuk mengenal adanya suatu gejala sesar di lapangan, sering diperlukan
lebih dan satu macam bukti seperti yang disebut di atas.
Beberapa cinto tanda/cara pengamatan struktur sesar secara langsung dan
tidak langsung dapat dilihat pada lampiran.

4.3. Penyajian dalam Peta


Setelah sesar dapat dikenali di lapangan, baik itu berupa gawir, jalur
terbreksikan, mylonite, bidang sesar atau bahkan zona dengan jurus dan
kemiringan lapisan yang kacau, tahap berikutnya adalah menggambarkan

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 7

jejaknya pada peta. Penggambaran ini harus segera dibuat dan dilakukan di
lapangan.
Karena sesar diasumsikan sebagai bidang, maka jejaknya dalam peta
akan berupa garis, yang bentuknya mengikuti hukum geometri, yaitu perpotongan
antara bidang dengan topografi (dikenal dengan hukum “V”). Dengan demikian,
penting sekali untuk dapat menentukan kedudukan bidang sesar itu, apakah
vertikal atau miring.
Tidak selalu dan bahkan lazimnya sukar sekali, kedudukan bidang itu
dapat diukur dan ditentukan di lapangan. Kadang-kadang kita hanya mampu
menarik garis sesar berdasarkan jejaknya, umpamanya penyebaran jalur breksi-
sesar. Kadang-kadang morfologi akan sangat membantu, umpamanya kelurusan
sungai atau lembah, punggungan bukit, deretan sumber air dan sebagainya.

4.4. Pengamatan Analisa Struktur Batuan


Meskipun demikian, usahakan agar garis sesar itu dapat ditarik pada
peta begitu kita yakin akan adanya sesar di lapangan.
Jejak sesar ini juga harus ditarik seandainya kita menduga (tidak
yakin/pasti) adanya sesar (lihat tanda yang digunakan pada lampiran). Gambar 4
memperlihatkan beberapa contoh cara menarik jejak sesar pada peta.

4.5. Menentukan Mekanisme Pergeseran Sesar


Apabila suatu gejala sesar sudah dapat digambarkan jejaknya pada peta,
maka tahap selanjutnya adalah mencoba untuk mengetahui jenis sesar itu.
Mengetahui jenis sesar diperlukan untuk mengetahui pola tektonik dari wilayah
yang dipetakan, tetapi juga simbol tanda yang akan dicantuinkan pada peta akan
tergantung dani jenis pergeserannya. Apakah itu sesar normal, sesar naik, atau
mendatar (lihat pengelompokan sesar dalam geologi struktur).
Data yang harus dikumpulkan dan diukur di lapangan, sesuai dengan
yang diuraikan dalam pruduk-pruduk struktur penyerta dalam geologi siruktur,
berkisar dari cermin sesar dengan gores garisnya, rekahan-rekahan geser, dan
tarikan sekitar sesar dan dalam zona sesar, dan lipatan serta seretan.
 Kemirngan lapaisan (dip) : sudut terbesar antara bidang perlapisan batuan
dengan bidang horisontal, diukur pada arah tegak lurus jurus
 Kemiringan semu (apparent dip) : yaitu kemiringan lapisan (dip) diukur
tidak tegak lurus jurus (strike)
 Penulisan kedudukan struktur garis (strike dan dip)
cara azimuth  N 220 E/64 atau
cara kuadran  S 40 E / 64 SW

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 8

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 9

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 10

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 11

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 12

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 13

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 14

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 15

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 16

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung


Survei dengan Metode Kompas & Langkah
VI. 17

Buku Pedoman Kuliah Lapangan-I Karangsambung