Anda di halaman 1dari 53

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk

mengembangkan kemampuan, baik kemampuan sosial maupun kemampuan individu,

sikap, serta perilaku untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pendidikan dapat

dilakukan oleh seseorang dimana saja dan kapan saja. Secara umum, pendidikan

terbagi menjadi 3, yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan

informal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang bisa didapat dengan mengikuti

kegiatan atau program pendidikan terstruktur dan terencana oleh badan pemerintahan.

Contohnya, kegiatan belajar mengajar disekolah (dari tingkat PAUD, TK, SD/MI,

SMP/MTS, dan SMA/MA/SMK) dan kegiatan belajar mengajar di Universitas.

Pendidikan non formal adalah pendidikan yang dilaksanakan di luar sekolah yang

biasanya dilaksanakan oleh lembaga swasta sebagai pelengkap pendidikan formal

yang bertujuan untuk membantu siswa lebih memahami pelajaran dan untuk

menggali lebih dalam bakat terpendam yang dimiliki oleh siswa. Contohnya, lembaga

kursus, lembaga pelatihan, dan sanggar. Pendidikan informal adalah pendidikan yang

berasal dari keluarga dan lingkungan disekitar peserta didik yang dapat dilakukan

secara mandiri. Contohnya, agama, budi pekerti, moral, sopan santun, sosialisasi, dan

etika.
2

Pada saat ini, kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dengan negara-

negara, seperti: Finlandia, Singapura Amerika Serikat dan beberapa negara-negara

maju lainnya. Ini dikarenakan ada beberapa faktor yang mempengaruhinya,

diantaranya: rendahnya kualitas pendidik, rendahnya kualitas siswa, kurang

lengkapnya sarana dan prasarana, biaya pendidikan yang masih mahal dan beberapa

faktor lainnya. Untuk itu diperlukan peningkatan faktor-faktor tersebut, agar kualitas

pendidikan di Indonesia meningkat juga. Pendidikan dapat berjalan karena telah

direncanakan oleh pemerintah khususnya Kementrian Pendidikan secara matang.

Rencana tersebut sebagai pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan belajar

mengajar yang dinamakan kurikulum.

Menurut Triwiyanto (2015:23), kurikulum merupakan suatu rencana dan

penataan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan

sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai

produktivitas pendidikan. Produktivitas pendidikan dimaknai sebagai efisiensi dan

efektivitas dalam mencapai tujuan pendidikan

Pada saat sekarang ini, kurikulum yang digunakan di Indonesia adalah

Kurikulum 13 (K13). Kurikulum ini mengganti kurikulum sebelumnya, yaitu

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dimana KTSP menuntut siswa untuk

dapat menguasai satu ranah saja, yaitu ranah kognitif (pengetahuan). Sedangkan K13

menuntut siswa untuk dapat menguasai tiga ranah, yaitu ranah kognitif

(pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotorik (keterampilan).

Perubahan kurikulum terjadi bukan karena untuk meningkatkan kualitas pendidikan


3

saja, tetapi juga untuk mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan dalam dunia

kerja. Didalam dunia kerja, tidak dibutuhkan lagi seseorang yang hanya mempunyai

intelektual yang tinggi, tetapi seseorang itu harus mempunyai aspek intelektual yang

tinggi, aspek sikap atau attitude yang baik, keterampilan atau skill yang tinggi pula.

Pada saat diterapkannya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan),

proses belajar mengajar masih berpusat pada guru (Teacher Centered Learning)

dimana guru aktif memberikan dan menjelaskan materi pelajaran kepada siswa dan

siswa hanya diam, mendengarkan, dan mencatat penjelasan dari guru. Hal ini

menyebabkan terhambatnya perkembangan keterampilan dan kemampuan siswa dan

hasil belajarnya juga tidak maksimal. Sedangkan K13 (Kurikulum 13), proses belajar

mengajar berpusat pada siswa (Studeent Centered Learning) dimana siswa aktif

mencari dan mengumpulkan materi pelajaran sedangkan guru hanya sebagai

fasilitator dalam proses pembelajaran. Dengan ini, tidak hanya hasil belajar yang

maksimal tetapi juga perkembangan keterampilan dan kemampuan siswa berjalan

dengan baik.

Didalam sekolah khususnya Sekolah Menengah Atas, terdapat pelajaran Ilmu

Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu pengetahuan Alam (IPA) memiliki 3 cabang ilmu,

yaitu Biologi, Fisika, dan Kimia. Siswa menganggap ketiga ilmu ini sulit untuk

dipelajari.

Menurut Poerwadarminta (1976:509), ilmu kimia adalah pengetahuan tentang

persenyawaan zat-zat dan unsur-unsur (zat asli). Materi kimia dianggap sulit oleh
4

siswa karena siswa kesulitan dalam memahami istilah-istilah asing yang belum

pernah diketahui. Kemudian juga karena dalam ilmu kimia banyak terdapat materi

berhitung yang sulit menurut siswa, serta siswa juga sulit dalam memahami konsep

materi kimia.

Dalam memahami materi kimia, siswa harus mengerti konsep kimia

sebelumnya yang telah dipelajari. Apabila siswa belum mengerti konsep kimia

sebelumnya, siswa akan sulit untuk mempelajari konsep kimia selanjutnya karena

antar satu konsep materi kimia dengan konsep lainnya saling keterkaitan. Untuk

memahami konsep kimia dengan baik, maka siswa perlu mengembangkan

kemampuan berpikir kritis, abstrak, dan analitis. Dengan berkembangnya kemampuan

ini, berkembang juga kemampuan siswa dalam berargumentasi.

Menurut Mcneill dalam Devi (2018:153), argumentasi adalah kegiatan

membandingkan teori dengan memberikan penjelasan disertai data yang logis. Ada

beberapa unsur dalam argumentasi yaitu pertama adalah klaim yang merupakan

pendapat atau kesimpulan hasil berfikir seseorang. Kedua, data yang merupakan

fakta yang digunakan dalam mendukung klaim. Ketiga warrants atau alasan untuk

menghubungkan antara data dan klaim. Keempat, backing atau asumsi teoritis yang

mendukung alasan yang diberikan. Kelima, qualifiers atau batasan atau prasyarat dari

klaim. Keenam, rebuttal atau sanggahan. Unsur kelima ini menjadi unsur tertinggi

dari level argumentasi dengan syarat memiliki dasar dari unsur lain sebelumnya yang

memadai.
5

Argumentasi adalah suatu pernyataan yang diberikan kepada orang lain

dengan menyertakan bukti dan alasan supaya dapat diterima oleh orang lain. Dalam

penelitian ini, hanya 3 unsur dalam argumentasi yang digunakan, terdiri atas: (1)

pendirian (claim), (2) penalaran (reasoning), dan (3) bukti (evidence).

Keterampilan siswa menyampaikan argumentasi bervariasi. Ada siswa yang

terampil menyampaikan argumentasi dengan oral. Siswa lebih terampil

menyampaikan argumentasinya secara langsung dan dalam bentuk lisan. Ada juga

siswa yang terampil menyampaikan argumentasi dengan tertulis. Siswa lebih terampil

menyampaikan argumentasinya secara tidak langsung dan dalam bentuk tulisan

Berdasarkan hasil observasi saya pada saat PPL di kelas XI IPA, SMA Negeri

8 Kota Jambi, guru khususnya mata pelajaran kimia masih menggunakan metode

ceramah dalam menjelaskan materi kimia. Ini membuat siswa menjadi pasif hanya

mendengarkan dan mencatat penjelasan dari guru. Padahal kurikulum 13 (K13)

menuntut siswa untuk aktif mencari dan menemukan sendiri materi dan aktif bertanya

serta menjawab pertanyaan berkenaan dengan materi yang dipelajari. Bahkan ada

beberapa siswa tidak memperhatikan penjelasan dari guru. Mereka ada yang tidur

dikelas, bermain HP, dan ngobrol dengan temannya. Ini menyebabkan hasil belajar

siswa yang didapat rendah. Selain itu juga, saya menemukan bahwa sebagian besar

siswa memiliki kemampuan berargumentasi yang rendah. Rendahnya kemampuan

argumentasi siswa dapat terlihat dengan ketika guru memberikan sebuah pertanyaan,

kemudian siswa menjawab dan ketika ditanya lagi alasan dan buktinya, mereka tidak

ada yang menjawab hanya diam, saling tunjuk temannya, dan ada juga yang asal
6

sebut. Contohnya seperti pada pelajaran hidrolisis garam, guru bertanya kepada siswa

“Dibawah ini yang mana campuran yang bersifat asam: (a) 10ml HCl 0,01 M dan 10

ml NaOH 0,1 M (b) 10 ml HCl 0,01 M dan 5 ml N𝐻4 OH 0,1 M”. Kemudian siswa

menjawab ada yang menjawab a dan ada juga yang menjawab b. Ketika guru

menanya alasan dan buktinya, mereka hanya diam.

Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru kimia di SMA Negeri 8 Kota

Jambi yang bernama Dra Netri Mardia, dia masih menggunakan metode ceramah

karena menurutnya dengan metode ceramah, siswa lebih mudah mempelajari materi

kimia apalagi jika materi kimia yang memerlukan perhitungan dan juga penggunaan

metode ceramah tidak membuang-buang waktu pelajaran. Selain itu juga, ibu Netri

juga mengatakan bahwa pada materi kimia khususnya hidrolisis garam, 50 % siswa

mendapatkan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dimana nilai KKM

di SMA Negeri 8 Kota Jambi adalah 75.

Untuk membantu meningkatkan keterampilan argumentasi dan hasil belajar

siswa serta mengatasi masalah diatas, diperlukan suatu model pembelajaran

kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran

yang diperlukan kerja sama antar siswa dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif yang cocok untuk meningkatkan

kemampuan berargumentasi adalah model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS)

dan Jigsaw.
7

Model TSTS dan Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif yang

memberikan kesempatan kepada siswa bekerja sama dalam suatu kelompok kecil

yang terdiri dari 4 orang untuk memberikan suatu materi kepada kelompok lain untuk

mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dalam model ini, suatu kelompok

menjelaskan suatu materi kepada kelompok lain dan kelompok lain akan

mendengarkan dan menyimak apa yang disampaikan. Seorang siswa lebih mudah

memahami penjelasan yang diberikan sesama siswa dibandingkan oleh guru karena

kadang-kadang bahasa yang digunakan oleh guru dalam menjelaskan materi sulit

dipahami oleh siswa. Dalam model pembelajaran ini, siswa dituntut untuk aktif dalam

berdiskusi, memberikan pertanyaan, mencari jawaban, menjelaskan materi, dan

menyimak penjelasan dari teman. Selain itu, pembagian kerja dalam model TSTS

dan Jigsaw merata atau sama. Artinya, setiap siswa mempunyai tugas masing-masing.

Tidak ada yang tidak bekerja. Ini menyebabkan teratasinya kondisi ramai, ribut, dan

sulit diatur pada saat proses belajar mengajar. Jadi, setiap siswa mempunyai dua

tanggung jawab, yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan belajar untuk seluruh

temannya.

Salah satu materi kimia yang cocok digunakan dalam model pembelajaran

TSTS dan Jigsaw adalah Hidrolisis garam. Alasannya, karena materi hidrolisis garam

adalah materi yang memerlukan tingkat pemahaman yang tinggi. Selain itu,

diperlukannya pemahaman konsep abstrak yang perlu dikuasai oleh siswa dalam

materi ini. Materi ini juga bersifat hitung-hitungan. Ini semua akan lebih baik jika
8

dipelajari secara kooperatif dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dan

TSTS.

Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmi (2014),

membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS lebih

tinggi daripada hasil belajar siswa dengan model pembelajaran konvensional pada

pokok bahasan ikatan kimia di kelas X SMA Negeri 1 Sausu. Berdasarkan penelitian

oleh Istijabatun (2015), pembelajaran dengan menggunakan model Jigsaw dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa yang dapat dilihat dari peningkatan aktivitas

dan tanggung jawab siswa dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, model

pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian lain oleh

Sihaloho (2016) membuktikan bahwa pembelajaran menggunakan model kooperatif

tipe two stay two stray (TSTS) lebih efektif diterapkan dalam meningkatkan hasil

belajar siswa dibandingkan model kooperatif tipe Jigsaw.

Dari sekian banyak penelitian yang dilakukan oleh peneliti, belum ada yang

meneliti tentang perbandingan antara model TSTS dan Jigsaw terhadap kemampuan

argumentasi khususnya dalam pembelajaran kimia materi hidrolisis garam.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka penulis

bermaksud mengadakan penelitian tentang “Perbandingan antara Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS dan Jigsaw terhadap Kemampuan Argumentasi

Siswa pada Materi Hidrolisis Garam di SMAN 8 Kota Jambi”

1.2. Rumusan Masalah


9

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah penelitian

ini adalah:

1. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan Jigsaw dapat

meningkatkan kemampuan argumentasi siswa pada materi hidrolisis garam di

SMA Negeri 8 Kota Jambi?

2. Apakah terdapat perbedaan perbandingan yang signifikan antara model

pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan Jigsaw terhadap kemampuan

argumentasi siswa pada materi hidrolisis garam di SMA Negeri 8 Kota

Jambi?

1.3. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Kemampuan argumentasi yang diteliti terdiri dari 3 unsur, yaitu: (1) pendirian

(claim), (2) penalaran (reasoning), dan (3) bukti (evidence)

2. Signifikansi perbandingan antara model pembelajaran kooperatif tipe TSTS

dan Jigsaw terhadap kemampuan argumentasi siswa pada materi hidrolisis

garam di SMA Negeri 8 Kota Jambi

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:


10

1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan kemampuan argumentasi

siswa pada materi hidrolisis garam dengan model pembelajaran kooperatif

tipe TSTS dan Jigsaw di SMA Negeri 8 Kota Jambi

2. Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan perbandingan yang signifikan

antara model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan Jigsaw terhadap

kemampuan argumentasi siswa pada materi hidrolisis garam di SMA Negeri 8

Kota Jambi

1.5. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat setelah melaksanakan penelitian ini adalah:

1. Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan argumentasi melalui

model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan Jigsaw sehingga hasil belajar

siswa juga meningkat

2. Bagi guru, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang

model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan Jigsaw

3. Bagi sekolah, diharapkan dapat menjadi tambahan wawasan dan sumbangan

pemikiran yang berguns untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah

4. Bagi peneliti, diharapkan dapat menjadi bekal pengalaman setelah menjadi

tenaga pengajar dan dapat menerapkannya dengan baik dalam proses belajar

mengajar

5. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menjadi informasi awal dan

referensi bagi peneliti yang akan membahas hal yang sama


11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Belajar dan Pembelajaran

Menurut Howard L. Kingskey dalam Djamarah (2002:13), learning is the

process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through

practice or training. Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas)

ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

Menurut Gagne dalam Djamarah (2002:22), belajar memiliki dua definisi,

yaitu:

a) Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan,

keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku

b) Belajar adalah pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi

Menurut Djamarah (2002:13), belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga

untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman

individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif,

dan psikomotorik.

Menurut Suyono (2016:9), belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses

untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku,

sikap, dan mengokohkan kepribadian.

Menurut Djamarah (2002:15-16), ciri-ciri belajar adalah:


12

1. Perubahan yang terjadi secara sadar

2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional

3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara

5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Menurut Gestalt dalam Djamarah (2002:20-22), belajar memiliki beberapa

prinsip, yaitu:

1. Belajar berdasarkan keseluruhan

2. Belajar adalah suatu proses perkembangan

3. Anak didik sebagai organisme keseluruhan

4. Terjadi transfer

5. Belajar adalah reorganisasi pengalaman

6. Belajar harus dengan insight (pengertian)

7. Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan

8. Belajar berlangsung terus-menerus

Menurut Gagne dalam Djamarah (2002:22-23), segala sesuatu yang dipelajari

oleh manusia dapat dibagi menjadi lima kategori yang disebut the domainds of

learning, yaitu sebagai berikut ini.

1. Keterampilan motoris (motor skill)


13

Dalam hal ini perlu koordinasi dari berbagai gerakan badan, misalnya

melempar bola, main tenis, mengemudi mobil, mengetik huruf, dan

sebagainya

2. Informasi verbal

Orang dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar;

dalam hal ini dapat dimengerti bahwa untuk mengatakan sesuatu itu perlu

inteligensi

3. Kemampuan intelektual

Manusia mengadakan interaksi dengan dunia luar dengan menggunakan

simbol-simbol. Kemampuan belajar dengan cara inilah yang doisebut

“kemampuan intelektual”. Misalnya, membedakan huruf m dan n,

menyebutkan tanaman yang sejenis

4. Strategi kognitif

Ini merupakan organsasi keterampilan yang internal (internal organized skill)

yang perlu untuk belajar mengingat dan berpikir. Kemampuan ini berbeda

dengan kemampuan intelektual, karena ditujukan ke dunia luar dan tidak

dapat dipelajari hanya dengan berbuat satu kali serta memerlukan perbaikan-

perbaikan terus-menerus

5. Sikap

Kemampauan ini tak dapat dipelajari dengan ulangan-ulangan, tidak

tergantung atau dipengaruhi oleh hubungan verbal seperti halnya domain yang
14

lain. Sikap ini penting dalam proses belajar tanpa kemampuan ini belajar tak

akan berhasil dengan baik.

Menurut Corey (1986) dalam Majid (2014:4), pembelajaran adalah suatu

proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan

ia turut serta dalam tingkah laku tertentu. Pembelajaran merupakan subjek khusus

dari pendidikan.

Menurut Gagne dan Briggs (1979) dalam Majid (2014:4), pembelajaran

adalah rangkaian peristiwa (events) yang memengaruhi pembelajaran sehingga proses

belajar dapat berlangsung dengan mudah.

Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang

mengkondisikan/merangsang seseorang agar bisa belajar dengan baik agar sesuai

dengan tujuan pembelajaran. oleh sebab itu kegiatan pembelajaran akan bermuara

pada dua kegiatan pokok. Pertama, bagaimana orang melakukan tindakan perubahan

tingkah laku melalui kegiatan belajar. Kedua, bagaimana orang melakukan tindakan

penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar (Majid, 2014:5).

Menurut Djamarah (2002:143), faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan

hasil belajar adalah:

a) Lingkungan (alami dan sosial budaya)

b) Instrumental (kurikulum, program, sarana, fasilitas, dan guru)

c) Fisiologis (Kondisi fisiologis dan kondisi panca indra)

d) Psikologis (minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif)


15

2.2. Teori Belajar Konstruktivisme

1) Teori Konstruktivisme Piaget

Teori Piaget berlandaskan gagasan bahwa perkembangan anak bermakna

membangun struktur kognitifnya atau peta mentalnya yang diistilahkan

“schema/skema (jamak = schemata/skemata)”, atau konsep jejaring untuk memahami

dan menanggapi pengalaman fisik dalam lingkungan di sekelilingnya. Secara ringkas

dijelaskan bahwa menurut teori skema, seluruh pengetahuan diorganisasikan menjadi

unit-unit, didalam unit-unit pengetahuan ini, atau skemata ini, disimpanlah informasi.

Sehingga skema dapat dimaknai sebagai suatu deskripsi umum atau sistem

konseptual untuk memahami pengetahuan tentang bagaimanapengetahuan itu

dinyatakan atau tentang bagaimana pengetahuan diterapkan. Lebih lanjut Piaget

menyatakan bahwa struktur kognitif anak meningkat sesuai dengan perkembangan

usianya, bergerak dari sekedar refleks-refleks awal seperti menangis dan menyusu,

menuju aktivitas mental yang kompleks. Dasarnya tentu saja teori skema, asimilasi

dan akomodasi tetap relevan karena memang teori kognitivisme Piaget memiliki

kesinambungan hubungan dengan teori konstruktivisme (Suyono, 2016:107-108).

2) Teori Konstruktivisme Vygotsky

Ciri khusus dari konsep Vygotsky (1978) yaitu zona perkembangan, zone of

development. Terdapat perbedaan antara apa-apa yang dapat dilakukan siswa tanpa

bantuan orang lain (zona perkembangan actual, ZAD, zone of actual development)

dengan apa-apa yang dapat dilakukan siswa dengan bantuan orang lain

(perkembangan potensial), yang sering disebut sebagai zona perkembangan terdekat


16

(ZPD, zone of proximal development). Orang lain yang dimaksud adalah teman

sebaya atau guru maupun orang tua. Vygotsky meyakini bahwa anak-anak mengikuti

contoh-contoh yang diberikan oleh orang dewasa dan secara bertahap

mengembangkan kecakapannya untuk melakukan tugas-tugas tertentu tanpa bantuan

atau pendampingan orang lain. Proses atau cara memberikan bantuan yang diberikan

oleh orang dewasa atau teman sebaya yang lebih berkompeten (capable peer), agar

siswa beranjak dari zona actual menuju zona potensial ini yang disebut sebagai

scaffolding (Suyono, 2016:112-113).

Vygotsky (1978:86) dalam Suyono (2016:113) mendefinisikan ZPD sebagai

“jarak antara tingkat pengembangan actual, yang ditentukan melalui pemecahan

masalah yang dapat diselesaikan secara individu, dengan tingkat pengembangan

potensial, yang ditentukan melalui suatu pemecahan masalah dibawah bimbingan

orang dewasa atau dengan cara berkolaborasi dengan teman-temannya sebaya”.

Dalam kaitan dengan scaffolding ini, lebih lanjut Vygotsky berpendapat bahwa “apa-

apa yang dapat dikerjakan siswa dengan cara bekerja sama dengan orang-orang yang

berkompeten pada hari ini, tentu dapat dilakukannya sendiri besok pagi”.

2.3. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan

kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif

(cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan

bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif, yang anggotanya terdiri


17

dari 4 sampai dengan 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen

(Majid, 2014:174)

Menurut Majid (2014:175), pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa

tujuan, diantaranya:

a) Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Model kooperatif

ini memiliki keunggulan dalam membantu siswa untuk memahami konsep-

konsep yang sulit

b) Agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai

perbedaan latar belakang

c) Mengembangkan keterampilan sosial siswa; berbagi tugas, aktif bertanya,

menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau

menjelaskan ide atau pendapat, dan bekerja dalam kelompok

Menurut Ibrahim dkk (2000:6) dalam Majid (2014:176), pembelajaran

kooperatif mempunyai ciri atau karakteristik sebagai berikut:

a) Siswa bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajar

b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki keteraampilan tinggi, sedang,

dan rendah (heterogen)

c) Apabila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku,

dan jenis kelamin yang berbeda

d) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu


18

Menurut Lundgren (1994) dalam Majid (2014:178), keterampilan kooperatif

terdiri dari 3 bentuk.

a) Keterampilan kooperatif tingkat awal

Keterampilan ini meliputi: 1) menggunakan kesempatan; 2) menghargai

kontribusi; 3) mengambil giliran dan berbagi tugas; 4) berada dalam

kelompok; 5) berada dalam tugas; 6) mendorong partisipasi; 7) mengundang

orang lain untuk berbicara; 8) menyelesaikan tugas pada waktunya; 9)

menghormati perbedaan individu

b) Keterampilan kooperatif tingkat menengah

Keterampilan ini meliputi: 1) menunjukkan penghargaan dan simpati; 2)

mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima; 3)

mendengarkan dengan aktif; 4) bertanya; 5) membuat ringkasan; 6)

menafsirkan; 7) mengatur dan mengorganisir; 8) menerima tanggung jawab;

9) mengurangi ketegangan

c) Keterampilan kooperatif tingkat mahir

Keterampilan ini meliputi: 1) mengelaborasi; 2) memeriksa dengan cermat;

3) menyatakan kebenaran; 4) menetapkan tujuan; 5) berkompromi.

Dalam pembelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif, terdapat

enam langkah utama atau tahapan. Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan

tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini digunakan untuk

menyampaikan informasi dan bahan bacaan daripada verbal. Selanjutnya siswa

dikelompokkan dalam tim-tim belajar. Tahapan ini diikuti bimbingan guru pada saat
19

siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama. Fase terakhir pembelajaran

kooperatif adalah meliputi presentasi hasil kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa

yang telah mereka pelajari, dan memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha

kelompok maupun individu (Majid, 2014:178-179)

Anita Lie (2005) dalam Majid (2014:180) menyebutkan bahwa dalam

pembelajaran kooperatif terdapat lima prinsip, yaitu sebagai berikut:

1. Prinsip ketergantungan positif (positive interpendence), yaitu keberhasilan

dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh

kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja

masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam

kelompok akan merasa saling ketergantungan

2. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan

kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh

karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab

yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut

3. Interaksi tatap muka (face to face promation interaction), yaitu memberikan

kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka

dalam melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima

informasi dari kelompok lain

4. Partisipasi dan komunikasi (participation and communication), yaitu melatih

siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan

pembelajaran
20

5. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu secara khusus bagi

kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama

mereka, agar selanjutnya dapat bekerja sama lebih efektif.

Ada beberapa pendekatan untuk model kooperatif, yaitu STAD (Student

Teams Achievement Devisions), tipe jigsaw, tipe investigasi kelompok, dan tipe

pendekatan struktural (Majid, 2014:181)

2.4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Ditinjau dari sisi etimologi, jigsaw berasal dari bahas Inggris yang berarti

“gergaji ukir”. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah fuzzle, yaitu sebuah teka-

teki yang menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini

juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (jigsaw), yaitu siswa melakukan

kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan

bersama. Pembelajaran kooperatif model jigsaw adalah sebuah model belajar

kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok

kecil (Majid, 2014:182).

Menurut Ibrahim, dkk (2000:52) dalam Majid (2014:182), dalam terapan tipe

jigsaw, siswa dibagi menjadi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok

belajar heterogen. Materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks. Setiap

anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu dari bahan yang

diberikan. Anggota dari kelompok yang lain mendapat tugas topik yang sama, yakni
21

berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut dengan

kelompok ahli.

Menurut Nurhadi dan Agus Gerrard (2003:40) dalam Majid (2014:182-183),

langkah-langkah model jigsaw dibagi menjadi enam tahapan, yaitu:

a) Menyampaikan tujuan belajar dan membangkitkan motivasi

b) Menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi disertai penjelasan

verbal, buku teks, atau bentuk lain

c) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar

d) Mengelola dan membantu siswa dalam belajar kelompok dan kerja di tempat

duduk masing-masing

e) Mengetes penguasaan kelompok atas bahan ajar

f) Pemberian penghargaan atau pengakuan terhadap hasil belajar siswa

Menurut Majid (2014:183), kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a) Melakukan kegiatan membaca untuk menggali informasi. Siswa memperoleh

topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan informasi dari

permasalahan tersebut

b) Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topic permasalahan

yang sama bertemu dalam satu kelompok, atau kita sebut dengan kelompok

ahli untuk membicarakan topik permasalahan tersebut.

c) Laporan kelompok. Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan

menjelaskan hasil yang didapatkan dari diskusi tim ahli


22

d) Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi

e) Perhitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok

Menurut Ibrahim, dkk (2000:70-71) dalam Majid (2014:184), dalam

pelaksanaannya, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki kelebihan dan

kekurangan, diantara kelebihannya adalah:

 Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan

siswa lain

 Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan

 Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya

 Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif

 Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain

Sedangkam kekurangannya adalah:

 Membutuhkan waktu yang lama

 Siswa yang pandai cenderung tidak mau disatukan dengan temannya yang

kurang pandai dan yang kurang pandai pun merasa minder apabila

digabungkan dengan temannya yang pandai, walaupun lama kelamaan

perasaan itu akan hilang dengan sendirinya

2.5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray

Metode two stay two stray atau “Dua Tinggal Dua Tamu” dikembangkan oleh

Spencer Kagan pada tahun 1992. Metode pembelajaran kooperatif ini dapat

digunakan pada semua mata pelajaran dalam semua jenjang pendidikan atau semua

tingkatan usia pembelajar (Lie, 2005:61).


23

Banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan

individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang

lain. Dalam kenyataan hidup sehari-hari di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia

saling bergantung satu dengan yang lainnya. Pada metode two stay two stray

memberi kesempatan kepada kelompok untuk bekerja sama memecahkan suatu

masalah, kemudia membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain, sehingga

terjalin suatu hubungan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.

Pembagian kelompok dalam pembelajaran dengan metode two stay two stray

harus memperhatikan kemampuan akademis masing-masing siswa. Alasan

membentuk kelompok heterogen seperti pendapat Jarolimek dan Parker (Isjoni,

2011:95) antara lain, guru memberikan kesempatan siswa untuk saling mengajar

(peer tutoring) dan saling mendukung, meningkatkan relasi dan interaksi antar ras,

etnik, dan gender serta memudahkan pengelolaan kelas karena masing-masing

kelompok memiliki siswa berkemampuan tinggi (special hilper) yang dapat

membantu teman lainnya dalam memecahkan suatu permasalahan dalam kelompok.

Model pembelajaran two stay two stray ini memiliki banyak manfaat baik

bagi guru maupun siswa itu sendiri. Manfaat model pembelajaran ini bagi siswa

yaitu: 1) melatih siswa untuk bekerja sama dalam kelompok, 2) mendorong siswa

untuk dapat berbicara dalam sebuah diskusi, 3) merangsang kreativitas siswa selama

pembelajaran berlangsung, 4) menarik minat siswa dalam melaksanakan

pembelajaran di kelas, dan 5) membantu siswa untuk lebih memahami topik diskusi
24

secara lebih mendalam. Sementara itu, bagi guru bermanfaat sebagai alternative cara

menyampaikan pembelajaran dengan lebih inovatif dan kreatif.

Adapun langkah-langkah metode two stay two stray yang dalam Huda

(2012:141) adalah sebagai berikut:

1. Siswa bekerja sama dengan kelompok berempat sebagaiman biasa

2. Guru memberikan tugas pada setiap kelompok untuk didiskusikan dan

dikerjakan secara bersama-sama

3. Setelah selesai, dua anggota dari masing-masing kelompok diminta

meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu kepada anggota dari

kelompok lain

4. Dua orang yang “tinggal” dalam kelompok bertugas mensharing informasi

dan hasil kerja mereka ke tamu mereka

5. Dua siswa yang bertugas menjadi “tamu” mohon diri dan kembali ke

kelompok yang semula dan melaporkan apa yang mereka temukan dari

kelompok lain

6. Setiap kelompok lalu membandingkan dan membahas hasil pekerjaan mereka

semua

Melalui pembelajaran two stay two stray, siswa dikondisikan untuk aktif

dengan cara memecahkan masalah, mengungkapkan pendapat dan memahami suatu

materi secara berkelompok dan saling membantu antar anggota kelompoknya maupun
25

bekerja sama dengan anggota kelompok yang lain, membuat kesimpulan (diskusi)

dan mempresentasikan hasil kerja kelompok kepada kelompok “tamu” didepan kelas

Adapun kelebihan dari metode two stay two stray yang disimpulkan dari

berbagai pendapat diatas adalah sebagai berikut:

1. Dapat diterapkan pada semua kelas atau tingkatan

2. Dapat diterapkan pada semua mata pelajaran

3. Kecendrungan belajar siswa menjadi lebih bermakna

4. Lebih berorientasi pada keaktifan siswa

5. Membantu meningkatkan motivasi belajar siswa

6. Memberi kesempatan siswa yang berkemampuan tinggi membantu siswa yang

berkemampuan rendah dan menengah

Sedangkan kekurangan dari metode two stay two stray yang disimpulkan dari

berbagai pendapat diatas adalah sebagai berikut:

1. Kecendrungan waktu pembelajaran relatif lama

2. Siswa cenderung gaduh ketika pembelajaran berlangsung

3. Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok

2.6. Kemampuan Argumentasi

Kata argumentasi berasal dari kata “argumen” yang berarti alasan,

argumentasi merupakan usaha yang dilakukan seseorang dalam menyampaikan suatu

pendapat yang disertai fakta yang menguatkan pendapat tersebut. Menurut Keraf
26

(2003:3) menyatakan bahwa, “Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang

berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka percaya

dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau

pembicara.” Argumentasi merupakan suatu pernyataan yang diberikan kepada orang

lain dengan menyertakan bukti dan alasan supaya dapat diterima oleh orang lain.

Lebih tegas Inch (2006:18) mengemukakan bahwa, “Argumentation is a set of

statements where claims are made, support is offered for that and there is an effort to

influence someone in the context of a dispute. The person who makes it is expected to

offer further support by using evidence and reasoning. Evidence consists of facts or

conditions that are objectively observed, or conclusions set beforehand.” Argumentasi

adalah satu set pernyataan dimana klaim dibuat, dukungan ditawarkan untuk itu dan

ada upaya untuk mempengaruhi seseorang dalam konteks perselisihan. Orang yang

membuat klaim diharapkan untuk menawarkan dukungan lebih lanjut dengan

menggunakan bukti dan penalaran. Bukti terdiri dari fakta-fakta atau kondisi yang

objektif diamati, keyakinan atau pernyataan umum diterima sebagai benar oleh

penerima, atau kesimpulan ditetapkan sebelumnya.

Argumentasi sebagai studi tentang bagaimana seseorang dalam situasi tertentu

beralasan dari premis ke kesimpulan, yang menggunakan penalaran formal dan

keterampilan evaluasi. Berargumentasi adalah bagian dari mengambil keputusan,

mempertahankannya, dan mempengaruhi orang lain menurut data yang disertai

dengan rasionalisasi
27

Esensi argumentasi tersebut disandarkan pada dua alasan, yakni argumentasi

merupakan sebuah usaha mencari tahu pandangan mana yang lebih baik dari yang

lain dan argument dijabarkan sebagai cara seseorang menjelaskan dan

mempertahankan suatu gagasan. Argumentasi memiliki beberapa unsur yang terdiri

atas: (1) pendirian (claim), (2) penalaran (reasoning), dan (3) bukti (evidence)

(Widyartono, 2012:1). Lebih lengkap lagi, Stephen Toulmin dalam Siswanto

(2014:106) mengembangkan suatu pola argumentasi yang dikenal sebagai Toulmin’s

Argumen Pattern (TAP). TAP memiliki enam komponen yaitu data, claim, warrant,

backing, qualifiers, dan rebuttal.

Argumentasi dalam pembelajaran sangat diperlukan untuk membangun

pondasi yang kuat dalam memahami suatu konsep. Selama ini guru kurang

menggunakan argumentasi dalam proses pembelajaran. Hal ini mungkin disebabkan

karena minimnya kinerja guru. Benar dalam prakteknya, untuk bisa berargumen,

siswa perlu memahami pengetahuan dan fakta dengan baik, serta memiliki

keterampilan penalaran yang cukup.

Argumentasi dapat terjadi pada siswa yang melakukan diskusi dan perdebatan

untuk memecahkan masalah yang ditugaskan, oleh karena itu perlu gagasan

pembekalan pemahaman konsep dan kemampuan berargumentasi bagi siswa yang

dilandasi oleh beberapa konsepsi teoritis bahwa (1) salah satu tujuan pendidikan

adalah memfasilitasi siswa to achieve understanding yang dapat diungkapkan secara

verbal, numerikal, kerangka pikir positivistik, kerangka pikir kehidupan


28

berkelompok, dan kerangka kontemplasi spiritual, (2) pemahaman konsep adalah

suatu proses mental terjadinya adaptasi dan transformasi ilmu pengetahuan.

2.7. Hidrolisis Garam

1. Garam yang Berasal dari Asam Kuat dan Basa Kuat

Salah satu contoh garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat adalah

natrium klorida (NaCl). Dalam air, garam itu terionisasi sebagai berikut.

+ −
𝑁𝑎𝐶𝑙(𝑎𝑞) → 𝑁𝑎(𝑎𝑞) + 𝐶𝑙(𝑎𝑞)

Air adalah elektrolit yang sangat lemah dan terionisasi menurut reaksi

kesetimbangan:

+ −
𝐻2 𝑂(𝑙) ↔ 𝐻(𝑎𝑞) + 𝑂𝐻(𝑎𝑞)

Tetapan kesetimbangan air adalah 𝐾𝑤 = [𝐻 + ] [𝑂𝐻 − ]. Pada temperature 25℃

harga 𝐾𝑤 = 10−14

Pada air, [𝐻 + ] = [𝑂𝐻 − ] karena koefisiennya sama, sehingga harga [𝐻 + ] =

[𝑂𝐻 − ] = 10−7 . Karena NaOH basa kuat maka ion 𝑁𝑎+ dari garam tidak beraksi

dengan ion 𝑂𝐻 − dari air. Demikian juga dengan 𝐶𝑙 − , karena HCl asam kuat makan

ion 𝐶𝑙 − dari garam tidak bereaksi dengan ion 𝐻 + dari air. Berarti garam NaCl tidak

bereaksi dengan air dan dikatakan tidak terhidrolisis. Akibatnya:

a) [𝐻 + ] tetap 10−7

b) [𝑂𝐻 − ] tetap 10−7


29

c) pH larutan sama dengan 7

d) larutan bersifat netral

2. Garam yang Berasal dari Asam Lemah dan Basa Kuat

Salah satu contoh garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat adalah

natrium asetat (𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝑎). Dalam air, garam itu terionisasi sebagai berikut.

+ −
𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝑎(𝑎𝑞) → 𝑁𝑎(𝑎𝑞) + 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂(𝑎𝑞)

+ −
𝐻2 𝑂(𝑙) ↔ 𝐻(𝑎𝑞) + 𝑂𝐻(𝑎𝑞)


Karena 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻 asam lemah maka ion 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂(𝑎𝑞) dari garam bereaksi dengan

ion 𝐻 + dari air, sebagai berikut.

_ +
𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂(𝑎𝑞) + 𝐻(𝑎𝑞) ↔ 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑎𝑞)

Karena NaOH basa kuat maka ion 𝑁𝑎+ tidak bereaksi dengan ion 𝑂𝐻 − .

Berarti, garam 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝑎 hanya mengalami hidrolisis sebagian dan disebut

terhidrolisis parsial. Akibatnya:

_
a) [𝐻 + ] berkurang, lebih kecil dari 10−7 , karena diikat oleh ion 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂(𝑎𝑞)

b) [𝑂𝐻 − ] bertambah, lebih besar dari 10−7, karena kesetimbangan bergeser ke

kanan (bergeser kea rah yang berkurang)

c) pH larutan lebih besar dari 7

d) larutan bersifat basa

Menentukan tetapan hidrolisis (𝐾ℎ )


30

𝐾𝑤
𝐾ℎ =
𝐾𝑎

Menentukan [𝑂𝐻 − ]

𝐾𝑤
[𝑂𝐻 − ] = √ . [𝑔]
𝐾𝑎

Keterangan:

 𝐾𝑤 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟

 𝐾𝑎 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑖𝑜𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑎𝑠𝑎𝑚

 [𝑔] = 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚

3. Garam yang Berasal dari Asam Kuat dan Basa Lemah

Salah satu contoh garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah adalah

ammonium klorida (𝑁𝐻4 𝐶𝑙). Dalam air, garam itu terionisasi sebagai berikut.

𝑁𝐻4 𝐶𝑙 → 𝑁𝐻4 +
(𝑎𝑞)

+ 𝐶𝑙(𝑎𝑞)

+ −
𝐻2 𝑂(𝑙) ↔ 𝐻(𝑎𝑞) + 𝑂𝐻(𝑎𝑞)

Karena 𝑁𝐻3 basa lemah maka ion 𝑁𝐻4 +


(𝑎𝑞)
dari garam bereaksi dengan ion 𝑂𝐻 − dari

air, sebagai berikut.

𝑁𝐻4 _(𝑎𝑞) + 𝑂𝐻(𝑎𝑞)



↔ 𝑁𝐻3 (𝑎𝑞) + 𝐻2 𝑂(𝑙)
31

Karena HCl asam kuat maka ion 𝐻 + tidak bereaksi dengan ion 𝐶𝑙 − . Berarti,

garam 𝑁𝐻4 𝐶𝑙 hanya mengalami hidrolisis sebagian dan disebut terhidrolisis parsial.

Akibatnya:

e) [𝐻 + ] betambah, lebih besar dari 10−7 , karena kesetimbangan bergeser ke

kanan (bergeser kea rah yang berkurang)

f) [𝑂𝐻 − ] berkurang, lebih kecil dari 10−7, karena diikat oleh ion 𝑁𝐻4 +

g) pH larutan lebih kecil dari 7

h) larutan bersifat asam

Menentukan tetapan hidrolisis (𝐾ℎ )

𝐾𝑤
𝐾ℎ =
𝐾𝑏

Menentukan [𝐻 + ]

𝐾𝑤
[𝐻 + ] = √ . [𝑔]
𝐾𝑏

Keterangan:

 𝐾𝑤 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟

 𝐾𝑏 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑖𝑜𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑎𝑠𝑎

 [𝑔] = 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚


32

4. Garam yang Berasal dari Asam Lemah dan Basa Lemah

Salah satu contoh garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat adalah

ammonium asetat (𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝐻4 ). Dalam air, garam itu terionisasi sebagai berikut.

𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝐻4 (𝑎𝑞) → 𝑁𝐻4 +


(𝑎𝑞)

+ 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂(𝑎𝑞)

+ −
𝐻2 𝑂(𝑙) ↔ 𝐻(𝑎𝑞) + 𝑂𝐻(𝑎𝑞)


Karena 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻 asam lemah maka ion 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂(𝑎𝑞) dari garam bereaksi dengan

ion 𝐻 + dari air. Demikian juga, karena 𝑁𝐻3 basa lemah maka ion 𝑁𝐻4+ dari garam

bereaksi dengan ion 𝑂𝐻 − dari air. Reaksinya sebagai berikut.

_ +
𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂(𝑎𝑞) + 𝐻(𝑎𝑞) ↔ 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑎𝑞)

𝑁𝐻4 _(𝑎𝑞) + 𝑂𝐻(𝑎𝑞)



↔ 𝑁𝐻3 (𝑎𝑞) + 𝐻2 𝑂(𝑙)

Berarti, garam 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝐻4 mengalami hidrolisis total atau terhidrolisis sempurna.

Menentukan tetapan hidrolisis (𝐾ℎ )

𝐾𝑤
𝐾ℎ =
𝐾𝑎 . 𝐾𝑏

Menentukan [𝑂𝐻 − ] atau [𝐻 + ]

𝐾𝑤 . 𝐾𝑎
[𝐻 + ] = √
𝐾𝑏

2.8. Kerangka Berpikir


33

Pembelajaran kimia di sekolah tentunya kurang tepat jika hanya

memperhatikan produk tanpa memperdulikan proses yang berlangsung dalam setiap

pembelajaran. Kondisi awal yang menjadi sebab dilakukannya penelitian ini yaitu: (1)

kegiatan pembelajaran masih terpaku pada buku pelajaran yang digunakan, sehingga

memberikan kesan bahwa siswa hanya menyalin dan menghafal materi, (2) siswa

cenderung pasif dan malu untuk bertanya tentang materi pelajaran yang telah

diberikan serta kurang berani menyampaikan pendapatnya selama pembelajaran, (3)

model pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran kimia belum diterapkan, (4)

rendahnya aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran, (5) rendahnya hasil

belajar siswa. Untuk dapat mengetahui sesuatu, siswa haruslah aktif sendiri

mengkonstruksi. Dengan kata lain, dalam belajar siswa harus aktif mengolah bahan,

mencerna, memikirkan, menganalisis, dan akhirnya yang terpenting merangkumnya

sebagai suatu pengertian yang utuh sehingga dituntut adanya kemampuan

beragumentasi dengan baik. Siswa yang memiliki kemampuan argumentasi akan

terdorong untuk rajin mencari informasi dan akan muncul usaha yang lebih luas dan

mendalam untuk mempelajari materi pelajaran. Maka perlu pemilihan sebuah model

pembelajaran yang tepat untuk mendukung peningkatan kemampuan argumentasi

siswa.

Berdasarkan kondisi awal tersebut peneliti melakukan tindakan perbaikan

(proses) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Two

Stay Two Stray. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan TSTS merupakan

pembelajaran kelompok yang mendorong siswa untuk berpikir dalam suatu tim dan

berani tampil mandiri dan memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi
34

gagasan dan mempertimbangkan kerja sama siswa, kedua model ini juga bisa

diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas. Dengan demikian

kemampuan sosial siswa akan lebih terasah, karena siswa dituntut untuk mampu

berinteraksi, berkomunikasi, berargument, dan bekerja sama dengan siswa lainnya.

Melalui tindakan perbaikan tersebut, diharapkan siswa mampu menjadi lebih

termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran, sehingga kondisi akhir (output) berupa

kemampuan argumentasi oral dan tertulis siswa dapat ditingkatkan.

2.9. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian dalam penelitian ini adalah:

1. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dan Two Stay Two Stray dapat

meningkatkan kemampuan argumentasi siswa pada materi hidrolisis garam di

kelas XI IPA SMAN 8 Kota Jambi

2. terdapat perbedaan kemampuan argumentasi siswa dikelas Numbered Heads

Together (NHT) dan dikelas Team Assisted Individualization (TAI) dalam

proses pembelajaran pada materi hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 8 Kota

Jambi.
35

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 8 Kota Jambi yang terletak di

Jalan Marsdha Suryadharma KM 8 Kenali Asam Bawah, Kota Baru, Jambi pada

kelas XI IPA semester genap tahun ajaran 2019/2020.

3.2. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan

data berupa angka yang dianalisis untuk memperoleh suatu pengetahuan. Metode

penelitiannya adalah penelitian eksperimen. Penelitian ini merupakan penelitian yang

dilakukan kepada kelompok atau kelas eksperimen. Setiap kelompok eksperimen

diberikan suatu perlakuan tertentu untuk mencapai suatu keadaan atau kondisi

tertentu. Penelitian ini termasuk ke dalam kelompok penelitian True Experiment.

Desain penelitian yang digunakan adalah Subjek Random Desain Pretes-Postes Grup

(Randomized Subjects, Pretest-Posttest Control Group Design). Terdapat 2 kelompok

atau kelas eksperimen yang diambil secara acak. Kelas eksperimen 1 diberikan

perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan kelas

eksperimen 2 diberikan perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw. Sebelum diberikan perlakuan, kedua kelas eksperimen

diberikan tes awal (pretest). Hasil dari tes ini dinyatakan baik apabila tidak terjadi

perbedaan yang signifikan antara kedua kelas eksperimen. Dan setelah diberikan
36

perlakuan, kedua kelas eksperimen juga diberikan tes akhir (posttest) untuk melihat

apakah ada terjadi peningkatan kemampuan argumentasi siswa dan apakah terdapat

perbedaan yang signifikan dari kedua kelas eksperimen ini.

E1 O1 X1 O3

E2 O2 X2 O4

Gambar 3.1. Randomized Subjects, Pretest-Posttest Control Group Design

Keterangan:

 E1= Kelas eksperimen 1

 E2= Kelas eksperimen 2

 O1= Pretest kelas eksperimen 1

 O2= Pretest kelas eksperimen 2

 X1= Perlakuan dengan model pembelajaran TSTS

 X2= Perlakuan dengan model pembelajaran jigsaw

 O3= Posttest kelas eksperimen 1

 O4= Posttest kelas eksperimen 2


37

True Experimental Design

Randomized Subjects, Pretest-Posttest Control Group


Design).

Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2

Pretest Pretest

Uji Beda

Uji Beda Uji Beda

Treatment Gain Treatment

Uji Beda

Posttest Posttest

Uji Beda

Gambar 3.2. Kerangka Eksperimen


38

3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA SMA Negeri 8

Kota Jambi yang terdiri dari tujuh kelas. Dibawah ini merupakan jumlah kelas XI

IPA yang menjadi populasi dalam penelitian ini.

Tabel 3.1. Jumlah Siswa Kelas XI

Kelas Jumlah

XI IPA 1 33 orang

XI IPA 2 34 orang

X1 IPA 3 34 orang

XI IPA 4 32 orang

XI IPA 5 33 orang

XI IPA 6 34 orang

XI IPA 7 32 orang

(Sumber: TU SMA Negeri 8 Kota Jambi)

3.3.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik rambang

(random sampling). Pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan

strata yang ada dalam populasi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan

dengan cara undian dimana dibuat gulungan kertas yang berisi angka 1 sampai 7 yang
39

nomor tersebut merupakan nama kelas. Kemudian diguncang atau diacak kertas

tersebut sebanyak 2 kali dan diambil salah satu kertas setiap guncangan. Kertas yang

diambil pertama akan menjadi kelas eksperimen 1 yang akan diberi perlakuan dengan

menerapkan model pembelajaran TSTS dan kertas yang diambil kedua akan menjadi

kelas eksperimen 2 yang diberi perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran

jigsaw. Kelas eksperimen 1 pada penelitian ini adalah kelas XI IPA 7 dan kelas

eksperimen 2 pada penelitian ini adalah kelas XI IPA 4.

3.4. Variabel Penelitian

Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:

 Variabel Bebas (X): keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe

Jigsaw dan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS

 Variabel Terikat (Y): kemampuan argumentasi siswa

3.5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

3.5.1. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Lembar kerja peserta didik digunakan untuk mengetahui keterampilan siswa

dalam berargumen ilmiah terhadap keterlaksanaan model Jigsaw dan model Two Stay

Two Stray yang mengacu tiga aspek kemampuan argumentasi yaitu claim, evidence

dan reasoning. Kemampuan argumentasi menurut McNeill & Krajcik (2006) memuat

aspek berupa claim, evidence dan reasoning. Claim merupakan pernyataan yang

menjawab permasalahan. Evidence menurut Wilson, Taylor, Kowalski & Carlson,


40

(2010) merupakan data ilmiah yang mendukung suatu pernyataan. Reasoning

merupakan pembenaran terkait pernyataan dan bukti. Suatu argumen yang berkualitas

harus mampu menghadirkan komponen tersebut dengan jelas dan logis. Adapun kisi-

kisi lembar diskusi kelompok dapat dilihat pada tabel 3.2

Tabel 3.2. Kisi-Kisi Lembar Diskusi Kelompok

Aspek Kemampuan Kegiatan Diskusi Kelompok No

Argumentasi Butir

Claim/Pernyataan Memberikan pernyataan berupa argument 1-9

(Ade, dkk.2016) sementara dalam menjawab pertanyaan yang

diberikan kelompok lain saat diskusi

Memberikan sanggahan dari pernyataan

kelompok lain

Mempersentasikan kesimpulan (keputusan) hasil

evaluasi argumentasi dari permasalahan diskusi

Evidence/Bukti Ilmiah Menentukan pokok permasalahan yang diajukan

dan Teori Pendukung guru

(Ade, dkk. 2016) Mempresentasikan hasil diskusi anggota

kelompok menyajikan laporan atau grafik dari

hasil pengumpulan data/pengamatan dan teori

pendukung

Menjawab pertanyaan kelompok lain dengan data

ilmiah dan teori pendukung


41

Reasoning/Alasan dan Berdiskusi dengan anggota kelompok terhadap

Pembenaran (Ade, hasil pengumpulan data ilmiah

dkk. 2016) Memberikan jawaban dari pertanyaan yang

diberikan kelompok lain dengan alasan yang tepat

dengan menghubungkan pernyataan dan bukti

ilmiah

Memberikan hasil analisis pembenaran yang

menghubungkan penyataan dan bukti

3.5.2. Lembar Test Lisan

Lembar test lisan digunakan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam

berargumen ilmiah secara oral terhadap model Jigsaw dan model Two Stay Two Stray

yang mengacu tiga aspek yaitu claim, evidence dan reasoning dalam menjawab

pertanyaan. Dalam penelitian ini peneliti mewawancarai 6 siswa yang telah terlebih

dahulu dipilih. Siswa tersebut dipilih berdasarkan tingkat kemampuan yaitu 2

berkemampuan tinggi, 2 berkemampuan sedang dan 2 berkemampuan rendah.

Peneliti dalam mewanwancarai siswa dibantu oleh 6 pewawancara menggunakan

lembar wawancara yang berisikan soal materi Hidrolisis Garam yang mengacu tiga

aspek yaitu claim, evidence dan reasoning. Wawancara dilakukan disetiap pertemuan

setelah pembelajaran selesai. Kisi-kisi tes lisan dapat dilihat pada table 3.3
42

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Tes Lisan

Kompetensi Dasar Indikator Level Item

Menganalisis larutan

3.12. Menganalisis garam-garam garam yang bersifat

yang mengalami hidrolisis asam, basa, dan garam C4 1,2

Menganalisis pH larutan

garam C4 3,4

4.12 Merancang, melakukan, dan

menyimpulkan serta menyajikan Menganalisis larutan

hasil percobaan untuk menentukan garam yang mengalami

jenis garam yang hidrolisis hidrolisis C4 5,6

3.5.3. Tes Essay

Soal posttest digunakan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam

berargumen ilmiah secara tertulis terhadap model Jigsaw dan model Two Stay Two

Stray yang mengacu tiga aspek yaitu claim, evidence dan reasoning dalam menjawab

butir soal.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tes dengan tipe essay. Adapun

pada analisis butir tes, butir akan dilihat karakteristiknya dan dipilih butir – butir yang

baik. Arikunto (2008) menyatakan bahwa sebuah tes yang dapat dikatakan baik

sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes. Soal posttest diberikan pada
43

pertemuan ke-3, soal dibuat berdasarkan gabungan materi dari pertemuan pertama

sampai pertemuan ketiga. Kisi-kisi posttest dapat dilihat pada table 3.4

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Posttest

Kompetensi Dasar Indikator Level Item

Menganalisis larutan

3.12. Menganalisis garam-garam garam yang bersifat

yang mengalami hidrolisis asam, basa, dan garam C4 1,2

Menganalisis pH larutan

garam C4 3,4

4.12 Merancang, melakukan, dan

menyimpulkan serta menyajikan Menganalisis larutan

hasil percobaan untuk menentukan garam yang mengalami

jenis garam yang hidrolisis hidrolisis C4 5

3.6. Teknik Analisis Data

Data hasil penelitian ini dianalisis dengan analisis kuantitatif. Analisis

kuantitatif adalah suatu teknik analisis yang penganalisisannya dilakukan dengan

perhitungan matematis .

Setelah diberikan perlakuan, kedua kelas sampel diberikan posttest. Data

posttest yang telah diperoleh terlebih dahulu diuji normalitas dan homogenitasnya

sebelum dilakukan pengujian hipotesis.


44

No. Pertanyaan Instrumen Analisis data

1. Bagaimana kemampuan argumentasi Lembar diskusi Statistik Deskriptif :

siswa selama menggunakan model kelompok

Numbered Heads Together (NHT) dan Test Lisan - Kuatitatif

model Teams Assisted Individualization Posttest - uji t

(TAI)

2. Apakah terdapat perbedaan kemampuan Lembar diskusi Statistik Deskriptif

argumentasi siswa dengan menggunakan kelompok

model Numbered Heads Together Angket - kuatitatif

(NHT) dan model Teams Assisted Test Lisan - uji t

Individualization (TAI) pada materi Posttest

larutan asam basa SMAN 8 Kota Jambi

Tabel 3.5 Instrument dan Teknik Analisis Data

3.6.1. Lembar Diskusi Kelompok menggunakan LKPD

Instrument lembar diskusi kelompok menggunakan LKPD yang digunakan

untuk menilai dan mengukur kemampuan argumentasi siswa disetiap pertemuan yang

berisikan pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk esai dan memberi jawaban dengan

memuat tiga aspek kemampuan argumentasi yaitu claim, evidence, and reasoning

dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pengajaran.

Tabel 3.6 Kriteria Rubrik Tes Essay

4 3 2 1 0

Skor 100 Skor 75 Skor 50 Skor 25 Skor 0


45

Ada jawaban

claim, Ada jawaban

Ada jawaban Ada jawaban evidance dan claim,

claim, evidance claim, evidance reasoning evidance dan

dan reasoning dan reasoning tetapi hanya reasoning Tidak

yang semuanya tetapi hanya dua satu yang tetapi semua memberi

relevan. yang relevan. relevan. tidak relevan. jawaban

Pada lembar diskusi kelompok terhadap kemampuan argumentasi siswa, skor

yang didapat kemudian dihitung dan dimasukkan kedalam rumus untuk memperoleh

nilai, seperti di bawah ini :

𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟


Nilai = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑥 100%

(Suprapto, 2013).

3.6.2. Tes lisan

Test Lisan berisi 6 pertanyaan dengan skor minimal 6 dan maksimal 24

dimana interpretasi skor tersebut adalah sebagai berikut :

Skor minimum :1x6=6

Skor maksimum : 4 x 6 = 24

Kategori kriteria :4
24−6
Rentang nilai : = 4,5
4
46

Tabel 3.7 kategori keterlaksanaan model oleh siswa

Skala Range % nilai kemampuan Kategori kemampuan

nilai argumentasi siswa argumentasi siswa

4 19,50 ˗ 24 81,25 ˗ 100 Sangat Baik

3 15 ˗ 19,49 62,50 ˗ 81,23 Baik

2 10,50 ˗ 14,99 43,75 ˗ 62,48 Cukup Baik

1 6 ˗ 10,49 25 ˗ 43,73 Kurang Baik

Pada tes lisan kemampuan argumentasi siswa menggunakan rumus untuk

mencari persentase rata-rata seperti di bawah ini:

∑ 𝑠𝑘𝑜𝑟 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑜𝑏𝑠𝑒𝑟𝑣𝑎𝑠𝑖


Presentase = 𝑥 100%
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

3.6.3. Tes Tertulis/Essay

Tes essay berisi 5 pertanyaan dengan skor minimal 5 dan maksimal 20 dimana

interpretasi skor tersebut adalah sebagai berikut :

Skor minimum :1x5=5

Skor maksimum : 4 x 5 = 20

Kategori kriteria :4

20−5
Rentang nilai : = 3,75
4
47

Tabel 3.8 kategori keterlaksanaan model oleh siswa

Skala Skor % nilai test Essay Kategori test essay

nilai

4 16,25 ˗ 20 81,25 ˗ 100 Sangat Baik

3 12,51 ˗ 16,24 62,50 ˗ 81,23 Baik

2 8,75 ˗ 12,50 43,75 ˗ 62,48 Cukup Baik

1 5 ˗ 8,75 25 ˗ 43,73 Kurang Baik

Pada tes tertulis kemampuan argumentasi siswa menggunakan rumus untuk

mencari persentase rata-rata seperti di bawah ini:

∑ 𝑠𝑘𝑜𝑟 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑜𝑏𝑠𝑒𝑟𝑣𝑎𝑠𝑖


Presentase = 𝑥 100%
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

3.7. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data

dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk

umum atau generalisasi. Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin

mendeskripsikan data sampel, dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku

untuk populasi dimana sampel diambil.

Termasuk dalam statistik deskriptif antara lain adalah penyajian data melalui

tabel, grafik, diagram, perhitungan modes, median, mean (pengukuran tendensi

sentral), perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui

perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan persentase.


48

3.8. Uji Hipotesis

3.8.1. Uji Normalitas

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah sampel berdistribusi normal

atau tidak. Menurut Sudjana (2005), prosedur yang harus dilakukan dalam uji

Lilieforts adalah sebagai berikut:

1. Menghitung nilai rata-rata masing-masing kelas sampel.

2. Menyusun nilai rendah ke yang tinggi

3. Pengamatan XI1,XI2, …, XIn dijadikan bilangan baku z1,z2, …, zn dengan


𝑥𝑖 −𝑥
menggunakan rumus 𝑍1 = (XIi dan s masing-masing merupakan rata-rata
𝑠

dan simpangan baku sampel)

4. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku dihitung peluang F(zi) = P (z

≤ z i)

5. Menghitung proporsi skor baku S(zi)

6. Menghitung selisih F(zi) dan S(zi) kemudian tentukan harga mutlaknya

7. Mengambil harga yang terbesar di antara harga-harga untuk selisih tersebut.

Harga terbesar itu dinamakan Lo

8. Membandingkan nilai Lo dengan nilai kritis L yang diambil dari nilai tabel untuk

taraf kepercayaan yang ditentukan

9. Menentukan criteria pengujian dengan Lo lebih kacil dari Lt dikatakan data

berdistribusi normal dan sebaliknya data tidak berdistribusi normal.

Jika L0 < Ltabel berarti hasil belajar berdistribusi normal.


49

Jika L0 > Ltabel berarti hasil belajar tersebut tidak berdistribusi normal.

3.8.2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai

varians yang homogen atau tidak. Uji menguji dilakukan uji f dengan langkah-

langkah sebagai berikut :

1. Mencari varians masing-masing data kemudian dihitung harga f dengan

rumus :

𝑆12
F=
𝑆22

Dimana :

F = Varians kelompok data

S12 = Varians terbesar

S22 = Varians terkecil

2. Jika nilai sudah didapat maka dibandingkan f tersebut dengan harga ftabel ɑ = 0,05

dan pembilang = n1-1 dan penyebut= n2-1, bila :

fhitung > ftabel : Varians nilai kelompok yang dibandingkan homogen

fhitung < ftabel : Varians nilai kelompok yang dibandingkan tidak homogen

3. Uji-t Independent

Hipotesis statistik yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut :

H0 : μ1 = μ2 (tidak ada pengaruh)

H1 : μ1 ≠ μ2 (ada pengaruh)

Keterangan:
50

H0 : Rata-rata hasil belajar kimia siswa pada kelompok eksperimen 1 sama

dengan rata-rata hasil belajar kimia siswa pada kelompok eksperimen 2

H1 : Rata-rata hasil belajar kimia siswa pada kelompok eksperimen 1 tidak sama

dengan hasil belajar kimia siswa pada kelompok kontrol eksperimen 2

μ1 : Rata-rata hasil belajar kimia siswa yang dalam pembelajaran menggunakan

model Two Stay Two Stray (TSTS).

μ2 : Rata-rata hasil belajar kimia siswa yang dalam pembelajaran menggunakan

model Jigsaw

Uji hipotesis yang digunakan adalah uji kesamaan dua rata-rata pihak kanan.

Kriteria pengujian adalah:

1. Hipotesis diterima jika thitung > ttabel. Pada taraf nyata 95% (ɑ = 0,05) dan

derajat kebebasan (n1 + n2 – 2)

2. Hipotesis diterima jika thitung = ttabel. Pada taraf nyata 95% (ɑ = 0,05) dan

derajat kebebasan (n1 + n2 – 2)

Pada penelitian ini, peneliti mengunakan uji-t independen. Uji-t sampel

independen (bebas) adalah metode yang digunakan untuk menguji kesamaan rata-rata

dari 2 populasi yang bersifat independen, dimana peneliti tidak memiliki informasi

mengenai ragam populasi. Independen maksudnya adalah bahwa populasi yang satu

tidak dipengaruhi atau tidak berhubungan dengan populasi yang lain. Barangkali,

kondisi dimana kita tidak memiliki informasi mengenai ragam populasi adalah

kondisi yang paling sering dijumpai di kehidupan nyata. Adapun rumus uji-t yang

digunakan adalah sebagai berikut :

Separated varian :
51

𝑥1 −𝑥2
𝑡 =
𝑠 1 1
√𝑛 +𝑛
1 2

Polled varian :

2 2
𝑡 = √(𝑛1 −1)𝑆1 +(𝑛2 −1)𝑆2
𝑛1 +𝑛2 − 2

Keterangan:

XI1 = Rata-rata sampel sebelum perlakuan

XI2 = Rata-rata sampel sesudah perlakuan

n1 = jumlah sampel sebelum perlakuan

n2 = Jumlah sampel sesudah perlakuan

s12 = simpangan baku sebelum perlakuan

s22 = simpangan baku sesudah perlakuan


52

DAFTAR PUSTAKA

Devi, N.D.C., Elvi S.V.H., dan Nurma Y.I. 2018. Analisis Kemampuan Argumentasi

Siswa SMA pada Materi Larutan Penyangga. Jurnal Kimia dan Pendidikan

Kimia. 3(3). 152-159

Djamarah, S.B. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Istijabatun, S. 2015. Aplikasi Model Jigsaw dalam Pembelajaran Kimia Materi PH

Larutan untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa. 9(2). 1517-1527

Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Poewadarminta, W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai

Pustaka

Rahmi, S., Irwan S., dan Solfarina. 2014. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran

Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray pada Pokok Bahasan Sistem Periodik Unsur

terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Dampelas. Jurnal Akademik

Kimia. 3(1). 8-14

Sihaloho, I., dan Ashar H. 2016. Perbandingan Model Kooperatif Tipe Jigsaw

dengan Tipe Two Stay Two Stray Menggunakan Media Audiovisual terhadap

Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Reproduksi Manusia di SMA Negeri 1

Panguruan. Jurnal Pelita Pendidikan. 4(3). 51-57

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta


53

Suyono dan Hariyanto. 2016. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya

Triwiyanto, Teguh. 2015. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT

Bumi Aksara