Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

PERCOBAAN II
PEWARNAAN SUPRAVITAL

OLEH :

NAMA : HERMIN ADA

STAMBUK : F1D1 18 013

KELOMPOK : II (DUA)

ASISTEN PEMBIMBING : DIKI CANDRA

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Epitel adalah salah satu jaringan yang menutupi permukaan tubuh dan

menyusun bagian luar. Jaringan ini tersusun atas sel-sel yang bsangat rapat

dengan sedikit bahan antar sel. Jaringan epitel ini berfungsi untuk melindungi

tubuh dari pengruh luar anatar zat zat dari luar yang masuk dalam tubuh terlebih

dahulu melalui jaringan epitel. Melindungi dari mikroorganisme dan mencegah

penguapan air.jaringan epitel merupakan jaringan yang melapisi permukaan tubuh

baik luar maupun dalam, jaringan tersebut terbagi tiga salah satunya jarinagn

epytelium yakni lapisan yang melapisai permukaan luar tubuh. Jaringan epitel

bersifat uniseluler dan multiseluler yamg tersusun kompak serta tidak memiliki

ruang antar sel.

Metode supravital adalah suatu metode untuk mendapatkan sediaan sel

atau jaringan yang hidup. Sel sel yang hidup juga dapat menyerap warna. Zat

warna yang biasa dipakai untuk pewarnaan supravital adalah janus green, neutral,

red atau methylene blue dengan konsentarasi tertentu. Pewarnaan supravital

adalah metode pewarnaan yang digunakan dalam mikroskop untuk memeriksa sel-

sel hidup yang telah dikeluarkan dari suatu organisme. Pewarnaan supravital yang

paling umum dilakukan pada retikulosit menggunakan metilen blue yang

memungkinkan untuk melihat pola retikulofilamen ribosom yang secara khas


diendapakan dal sel-sel darah merah muda yang belum matang oleh pewarnaan

supravital.

Preparat supravital merupakan suatu metode pembuatan preparat dengan

membuat irisan tipis dari sepotong kecil jaringan yang telah difiksasi, kemudian

dipulas, dilekatkan dalam medium dengan indeks refraksi yang sesuai di atas

sebuah kaca objek kemudian ditutup dengan suatu kaca tutup. Preparat supravital

ini merupakan preparat yang tidak tahan lama atau bersifat sementara jadi harus

segera diamati setelah pembuatan preparat. Biasanya yang diamati adalah

pengamatan terhadap jaringan ephitelium yang terdapat didalam rongga mulut.

Epithelium mukosa mulut merupakan epithelium pipih berlapis. Berdasarkan

uraian latar belakang diatas maka dilakukan praktikum tentang Pewarnaan

Supravital.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah bagaimana bagian bagian sel

tanpa mematikan sel sel ?

C. Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah mengetahui bagian

bagian sel tanpa mematikan sel sel

D. Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh pada praktikum ini adalah mengetahui bagian

bagian sel tanpa mematikan sel sel


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Jaringan Epitel

Jaringan merupakan kumpulan sel-sel yang mempunyai bentuk dan

fungsi yang sama dan berkelompok disebut jaringan. Jaringan dipelajari dalam

cabang ilmu yang dinamakn histology. Salah satu jaringan yang terdapat pada

manusi dan hewan adalah jaringan epitel. Jaringan epitel merupakan jaringan yang

membatasi tubuh dan lingkungannya baik disebelah luar maupun dalam. Jaringan

epitel berasal dari spesialisasi lapisan ectoderm. Jarinagn epitel terdiri dari lapisan

laur tubuh epidermis atau ephytelium, ada yang membatsi rongga dalam disebut

endodermis dan yang membatsi rongga disebut mesoderm. Jaringan epitel

tersusun oleh sel-sel bersisi dan bersudut banyak. Memiliki sedikit atau tanpa

subtansi intra seluler, dapat berupa membrane atau kelenjar (Komariah, 2012).

B. Jaringan Epitelium

Jaringan epitelium merupakan jaringan penutup permukaan tubuh, baik

permukaan tubuh sebelah luar (kulit) maupun sebelah dalam (misalnya:

permukaan dalam usus, paru-paru, pembuluh darah, rongga tubuh) berasal dari

perkembangan lapisan ektodema, mesoderma, atau endoderma. Epitelium yang

melapisi dinding dalam kapiler darah, pembuluh limfa, dan jantung, disebut

endotelium. Endotelium berasal dari perkembangan lapisan mesoderma.

Sedangkan epitelium yang melapisi rongga tubuh, misalnya perikardium, pleura,

dan peritoneum disebut mesotelium, yang sama-sama berasal dari lapisan

mesoderma. Sel-selnya terlekat satu dengan yang lainnya oleh zat pengikat
(semen) antarsel, sehingga hampir tidak ada ruangan antarsel. Maka jaringan ini

dapat melindungi jaringan yang berada di bawahnya dari pengaruh lingkungan

luar. Selain itu epitelium juga sebagai tempat pertukaran zat dari dalam atau dari

luar tubuh, maka sifat permeabilitas sel sangat berperan (Hernawati, 2008).

C. Eptelium Mukosa Mulut

Struklur dan fungsi mukosa mulut bersifat transisi antara kulit dan mukosa

traktus gastro inteslrnalis. Mukosa mulut menyerupai mukosa intestin karena

secara konstan dibasahi oleh cairan (mucus) dan lapisan epitelnya memiliki

kemampuan regenerasi yang tinggi. Tetapi mukosa mulut juga menyerupai kulit

arena memiliki lapisan epitel berlapis gepeng yang banyak region mempunyai

lapisan keratin. Strukturnya yang spesifik tersebut mukosa mulut mampu berperan

sebagai pelindung jaringan lunak dibawahnya dan kekuatan fisik yang berpotensi

merusak akan tetapi juga cukup teratur dan tahan untuk mengakomodasikan

proses pembentukan makanan. Mukosa mulut juga berperan sebagai barier

terhadap mikroorganisme, toksin dan berbagai antigen (Puspitawati, 2003).

Mukosa rongga mulut adalah jaringan yang melapisi rongga mulut, terdiri

dari dua bagian yaitu epitel dan lamina propia. Lamina propia mengandung

serabut kolagen, serabut elastik, retikulin, dan jaringan penghubung. Lapisan di

bawah lamina propia adalah lapisan submukosa, yang merupakan jaringan ikat

kendor yang mengandung lemak, pembuluh darah, limfe, dan saraf. Epitel rongga

mulut tersusun dari sel squamos bertingkat, mirip dengan epitel squamous

bertingkat yang ditemukan di bagian tubuh lain, yaitu memiliki aktivitas turn over

yang dimulai dari sel basalis. Turn over atau indeks maturasi adalah perbandingan
antara sel basal-parabasal, sel intermediet, dan sel superfisial. Sel basalis yang

matur akan berdiferensiasi menjadi sel intermediet, kemudian akan berdiferensiasi

lagi menjadi sel superfisial. Sel superfisial adalah lapisan terluar dari epitel dan

yang paling mudah terlepas dari permukaan. Ketebalan mukosa bukal mencapai

40-50 lapisan sel, yaitu sekitar 500-800 µm4 (Santoso, 2013).

D. Preparat Supravital

Preparat supravital merupakan suatu proses pembuatan preparat dengan cara

metode supravital yakni dengan mengambil jaringan yang hidup untuk kemudian

di amati tanpa membunuh sel sel jaringan yang hidup. Metode supravital adalah

suatu metode untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang hidup tanpa

mematikan sel selnya. Jaringan yang diambil bisa jaringan epitel yang terdapat

pada rongga mucus mulut dan mengamati sirkulasi darahnya. Preparat ini

merupakan preparat sementara yakni tidak bisa bertahan lebih dari 24 jam.

Preprat supravital mukosa mulut tidak dilakukan pengawetan dengan cara apapun

tapi tetap memberikan pewarnaan pada preparat dengan metilen blu misalnya

(Ayu, 2015).

E. Pewarnaan Supravital

Pewarnaan supravital adalah metode pewarnaan yang digunakan dalam

mikroskop untuk memeriksa sel-sel hidup yang telah dikeluarkan dari suatu

organism. Pewarnaan supravital merupakan pewarnaan tunggal maksudnya hanya

menggunakan satu zat warna saja pada saat membuat preparat. Pewarnaan

supravital yang paling umum dilakukan pada retikulosit menggunakan metilen


blue yang memungkinkan untuk melihat pola retikulofilamen ribosom yang secara

khas diendapakan dal sel-sel darah merah muda yang belum matang oleh

pewarnaan supravital (Liswanti, 2014).


DAFTAR PUSTAKA

Ayu, R., 2015, Indeks RDW dan Mentzer sebagai Uji Skrining Diagnosis
Thalassemi, Jurnal Majority, 4(7): 7-12

Hernawati, 2008., Jaringan Dasar, Bahan Kuliah Struktur Hewan, Universitas


Pendidikan Indonesia, Jakarta.

Komariah., dan Ridhawati, S., 2012, Kolonisasi Candida dalam Rongga Mulut,
Jurnal Majalah Kedokteran FK UKI, 28(1): 39-47

Liswanti, Y., dan Nisa, F., 2014, Gambaran Badan Inklusi Hbh pada Suspek
Thalasemia di Rumah Sakit Ptpn Suban, Jurnal Kesehatan Bakti
Tunas Husada, 11(1): 129-149

Puspitawati, R., 2003, Struktur Makroskopik dan Mikroskopik Jarincan Lunak


Mulut, Jurnal Kedokleran Gigi Universitas Indonesi,10(1): 462-467

Santoso, D., Indah, T., dan Putri, K. W. M., 2013, Pengaruh Pemakaian Breket
Terhadap Maturasi Sel Epitel Mukosa Bukal pada Pasien Anak
Periode Gigi Bercampur (Kajian pada Tahap Leveling 2 Minggu),
Jurnal Ked Gi, 4(4): 248-253
III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 2 Oktober 2019 pukul 12.50-

15.00 WITA yang Bertempat di Laboratorium Lanjut Zoologi, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Haluoleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat dan Kegunaan


No Nama Alat Satuan Kegunaan
1 2 3 4
1. Skalpel - Untuk mengambil sel dari
rongga mulut

2. Cotton bud - Untuk mengambil sel dari


rongga mulut
3. Pipet tetes mL Untuk mengambil larutan
4. Kaca Objek - Untuk menyimpan objek
pengamatan
5. Mikroskop - Untuk mengamati objek
pengamatan
6. Kaca Penutup - Untuk menutup kaca objek
pengamatan
7. Kamera mp Untuk mengambil gambar hasil
pengamatan
8 Tissue - Untuk membersihkan kaca benda
2. Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2. Bahan dan Kegunaan


No. Bahan Satuan Kegunaan
1 2 3 4
1. Alkohol 70% mL Sebagai larutan fiksasi
2. Giemsa mL Sebagai larutan pewarna
3. Mukosa mulut - Sebagai bahan pengamatan

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah dapat dilihat

sebagai berikut :

Ujung skalpel dan cotton bud disterilkan dengan alkohol 70%

Dikeruk selaput lendir mulut dengan menggunakan skalpel dan cotton bud

Dioleskan lendir pada kaca objek

Diberi pewarnaan selama 3 menit

Amati