Anda di halaman 1dari 29

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Teori Menurut Kasus Kehamilan


Kehamilan adalah pertemuan persenyawaan antara sel telur (ovum) dan sel mani
(sperma). Kehamilan lamanya 280 hari atau 40 minggu ata 10 bulan (lunar month).
Kehamilan yang berlangsung antara 23-36 minggu disebut kehamilan premature.
Kehamilan yang berlangsung antara 37-42 minggu disebut kehamilan matur. Sedangkan
bila kehamilan terjadi lebih dari 34 minggu disebut post matur. Proses kehamilan
merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari:
1. Ovulasi atau pelepasan ovum
2. Terjadi imigrasi sperma dan ovum
3. Terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot
4. Terjadi nidasi (implantasi pada uterus)
5. Terjadi pembentukan plasenta
6. Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm
7. Menurut usia kehamilan dibagi atas 3 triwulan (trimester) yaitu :
a. Kehamilan trimester pertama : 0-12 minggu
b. Kehamilan trimester kedua : 12-28 minggu
c. Kehamilan trimester ketiga : 28-40 minggu
(Muchtar, Rustam, Sinopsis Obstetri).
1. Tanda dan Gejala Kehamilan
a. Tanda-tanda persumtif
1) Aminorea (tidak dapat haid)
Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir (HPHT)
agar dapat ditaksir umur kehamilan dan hari perkiraan lahir (HPL)
Cara penghitungan menggunakan rumur Naegele :
Hari + 7, bulan – 3 dan tahun + 1
2) Mual dan mutah (nausca dan vomiting)
Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir
trimester pertama karena terjadi pada pagi hari maka disebut “Morning
Sickness”, dan bila mual dan muntah terlalu sering disebut hiperemesis.
3) Ngidam (ingin makanan khusus)
1
Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu terutama pada
bulan-bulan trimester pertama.
4) Tidak tahan dengan bau-bauan
5) Pingsan (sinkope)
Terjadi gangguan sirkulasi kedaerah kepala (central) menyebabkan
iskemia saluran saraf pusat dan menimbulkan pingsan menghilang setelah 16
minggu.
6) Tidak ada selera makan (anoreksia)
Hanya timbul pada trimester pertama kehamilan, kemudian nafsu makan
timbul kembali.
7) Lelah (fatigue)
8) Payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri disebabkan pengaruh estrogen
dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara, kelenjar
motgomery terlihat lebih membesar.
9) Miksi sering
Kandung kemih tertekan oleh tahim yang membesar, gejala ini akan
hilang pada trimester kedua kehamilan dan pada trimester ketiga atau akhir,
kehamilan akan muncul lagi karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.
10) Konstipasi/Obstipasi
Karena tonus otot-otot usus menurun oleh pengaruh hormon steroid
11) Pigmentasi kulit
Karena pengaruh hormon kortikosteroid plasenta dijumpai dimuka
(cloasma gravidarum) areola payudara, leher, dan dinding perut (linea nigra :
grisea)
12) Apulis : hipertrofi dari papil gusi
13) Pemekaran vena-vena (varices)
Dapat terjadi pada kaki, baris dan vulva biasanya dijumpai pada
trimester III
b. Tanda-Tanda Kemungkinan Hamil
1) Perut membesar (pembesaran perut sesuai dengan usia kehamilan)
2) Uterus membesar (terjadi perubahan dalam bentuk besar, dan konsistensi dari
rahim)
3) Tanda hegar (otot uterus lembek)

2
4) Tanda chadwick (serviks dan vagina menjadi kebiruan)
5) Broxton-Hick (kontraksi-kontraksi uterus bila dirangsang)
6) Teraba ballotement
7) Reaksi kehamilan positif
c. Tanda-Tanda Tidak Pasti Hamil
1) Amenore (tidak haid)
2) Morning sickness (mual-mual dipagi hari)
3) Sering kencing
4) Pembesaran payudara
5) Membesarnya perut
6) Pergerakan anak yang pertama (Quickening)
d. Diagnosis Banding Kehamilan
1) Hamil palsu (Pseudocyesis = kehamilan spurra) gejala hampir sama dengan
kehamilan, bahkan wanit merasakan gerakan janin. Namun pada pemeriksaan
uterus tidak membesar. Tanda-tanda kehamilan lain reaksi kehamilan negatif.
2) Mioma uteri : perut dan rahim membesar namun pada perabaan, rahim terasa
padat, kadang kala berbenjol-benjol. Tanda kehamilan negatif dan tidak
dijumpai tanda-tanda kehamilan lainnya.
3) Kista ovari : perut membesar bahkan makin bertambah besar namun pada
pemeriksaan dalam rahim teraba sebesar biasa. Reaksi kehamilan negatif,
tanda-tanda kehamilan negatif juga.
4) Kandung kemih penuh dan terjadi tetensi urin : pada pemasangan kateter
keluar banyak air kencing.
5) Hematometra : uterus membesar karena terisi darah yang disebabkan himen
imperforata, stenosis vagina atau serviks.
e. Jadwal Pemeriksaan Kehamilan
Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu
dan anak minimal 4 kali selama kehamilan dalam waktu :
1) Trimester I : 1 x kunjungan (sebelum 14 minggu)
2) Trimester II : 1x kunjungan (14-28 minggu)
3) Trimester III : 2 x kunjungan (28-36 minggu dan sesudah minggu ke 36)
Namun demikian dirasakan ibu hamil untuk memeriksa kehamilannya dengan
jadwal sebagai berikut :

3
1) Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya
terlambat 1 bulan.
2) Usia kehamilan < 28 minggu (7 bulan) : 4 minggu sekali kunjungan
3) Usia kehamilan 26-36 minggu (7-9 bulan) : 2 minggu sekali kunjungan
f. Menentukan Umur Kehamilan dan BB Janin Dalam Kandungan
1) Menghitung dari tanggal haid terakhir (HPHT)
2) Ditambahkan 4,5 bulan dari waktu ibu merasa janin hidup “Feeling Life”
(Quckening)
3) Menurut Spiegelberg : dengan jalan mengukur tinggu fundus uteri dari
simpisis maka diperoleh tabel :
a. 22-28 minggu 24-25 cm diatas simpisis
b. 28 minggu 26,7 cm diatas simpisis
c. 30 minggu 29,5-30 diatas simpisis
d. 32 minggu 29,5-30 diatas simpisis
e. 34 minggu 31 cm diatas simpisis
f. 36 minggu 32 cm diatas simpisis
g. 38 minggu 33 cm diatas simpisis
h. 40 minggu 37,7 diatas simpisis
4) Menurut Mac Donald : adalah modifikasi spegelbelg yaitu jarak fundus sampai
simpisis dalam cm dibagi 3,5 merupakan tuanya kehamilan dalam bulan
5) Menurut Ahlfeld : ukuran kepala bokong = panjang anak sebenarnya. Bila
diukur jarak kepala-bokong janin adalah 20 cm, maka tua kehamilan adalah 8
bulan.
6) Rumus johnson-Tausk : BB = (MD-12) x 155
BB = berat badan : MD = jarak simpisis – fundus uteri
g. Pemeriksaan Ibu Hamil
1) Anamnesa
a) Anamnesa identitas istri dan suami : nama, umur, agama, pekerjaan, alamat
dan sebagainya
b) Anamnesa umum
(1) Tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur, miksi, defekasi, perkawinan
dan sebagainya.

4
(2) Tentang haid kapan mendapat haid terakhir (HT). Bila hari pertama haid
terakhir diketahui, maka dapat dijabarkan taksiran tanggal persalinan
memakai rumus Naegel = hari + 7, bulan – 3 dan tahun + 1
(3) Tentang kehamilan, persalinan, keguguran dan kehamilan ektopik atau
kehamilan mola sebelumnya.
c) Inspeksi dan pemeriksaan fisik diagnostik
Pemeriksaan seluruh tubuh secara baik dan lege artis : tekanan darah,
nadi, suhu, pernafasan, jantung, paru-paru dan sebagainya.
d) Perkusi
Tidak begitu banyak artinya kecuali bila ada sesuatu indikasi.
e) Palpasi
Ibu hamil disuruh terlentang, kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dengan
memakai bantal. Pemeriksa berdiri disebelah kanan ibu hamil. Dengan sikap
normal lakukanlah palpasi bimanual terutama pada pemeriksaan perut dan
payudara.
(1) Palpasi perut untuk menentukan:
(a) Besar dan konsistensi rahim
(b) Bagian-bagian janin, letak, presentasi
(c) Gerakan janin
(d) Kontraksi rahim Braxton-Hick dan his
(2) Pemeriksaan Palpasi :
(a) Leopold 1
 Untuk menentukan TFU
 Untuk menentukan bagian teratas janin
(b) Leopold II
Menentukan letak punggung dengan satu tangan menekan disebelah
kanan atau kiri perut ibu
(c) Leopold III
Menentukan bagian terbawah uterus
(d) Leopold IV
Untuk menentukan kepala sudah masuk pintu atas panggul (PAP) atau
belum
f) Auskultasi

5
Menggunakan stetoskop monoral (stetoskop obstetrik) untuk mendengar
Denyut Jantung Janin (DJJ), cara menghitung DJJ dan DJJ normal :

(1) DJJ normal 120 – 160 x /menit


(2) Dari janin
(a) DJJ pada bulan ke 4-5
(b) Bising tali pusat
(c) Gerakan tendengan janin
(3) Dari Ibu
(a) Bising rahim (uterine souffle)
(b) Bising aorta
(c) Peristaltik usus
Cara menghitung DJJ
(a) Setiap menit misalnya 140 x/menit
(b) Dihitung 3x5 detik secara beraturan dengan cara ini dapat diketahui teratur
tidaknya contoh :
11 12 12
DJJ = 4x (11 + 12 + 13) = 136 x /menit
(c) Pemeriksan dalam
 Vagina toucher (VT)
 Rectal toucher (RT)
Tabel hubungan tua kehamilan (bulan), besar uterus dan tinggi fundus uteri
No Akhir bulan Besar uterus Tinggu fundus uteri

1. 4 Bulan Lebih besar dari biasa Belum teraba (palpasi)


2. 8 Bulan Telur bebek Dibelakang simpisis
3. 12 Bulan Telur angsa 1-2 jari diatas simpisis
4. 16 Bulan Kepala bayi Pertengahan simpisis pusat
5. 20 Bulan Kepala dewasa 2-3 jari dibawah pusat
6. 24 Bulan Kepala dewasa Kira-kira setinggi pusat
7. 28 Bulan Kepala dewasa 2-3 jari diatas pusat
8. 32 Bulan Kepala dewasa Pertengahan pusat, procesus xgphordeus
9. 36 Bulan Kepala dewasa 3 jari dibawah Px atau sampai setinggi Px

6
10. 40 Bulan Kepala dewasa Sama dengan kehamilan 8 bulan namun melebar
kesamping

B. Konsep Teori Menurut Hellen Varney


Menurut Hallen Varney ada 7 langkah dalam manajemen kebidanan yaitu :
1. Langkah 1 : Tahap Pengumpulah Data Dasar
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data
dilakukan dengan cara :
a. Anamnesis. Dilakukan untuk mendapatkan biodata, riwayat menstruasi, riwayat
kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, bio-psiko-sosial-spiritual,
serta pengetahuan klien.
b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital,
meliputi :
1) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auscultasi, dan perkusi )
2) Pemeriksaan penunjang ( laboratorium, radiologi/USG, dan cacatan terbaru serta
catatan sebelumnya ).
Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah
berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi yang
akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap
selanjutnya. Sehingga dalam pendekatan ini harus komprehensif meliputi data
subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi
pasien yang sebenarnya dan valid.
Kaji ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.
2. Langkah 2 : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah
berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan.
Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan
diagnosis dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosis dan masalah keduanya
digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosis tetapi tetap
membutuhkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang
dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah
juga sering menyertai diagnosis.

7
Diagnosis kebidanan adalah diagnose yang ditegakkan bidan dalam lingkup
praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnose kebidanan.
Standar nomenklatur diagnosis kebidanan :

a. Diakui dan telah disahkan oleh profesi.


b. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan.
c. Memiliki cirri khas kebidanan.
d. Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan.
e. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan.

3. Langkah 3 : Mengidentifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial dan Mengantisipasi


Penanganannya.
Pada langkah ini bidan mengidantifikasi masalah potensial atau diagnosis
potensial berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini
membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan
diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis atau masalah
potensial ini menjadi benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam
melakukan asuhan yang aman.
Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah
potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga
merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis potensial tidak terjadi.
Sehingga langkah ini benar merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional
atau logis.
Kaji ulang apakah diagnosis atau masalah potensial yang diidentifikasi sudah
tepat.
4. Langkah 4 : Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera
Mengindentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau
tenaga konsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain
sesuai dengan kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen
kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau
kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus
menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.

8
Data baru mungkin saja dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin
mengidentifikasi situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk
kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak.
Data baru mungkin saja dikumpilkan dapat menunjukkan satu situasi yang
memerlukan tindakan segera sementara yang lain harus menunggu intervensi dari
seorang dokter. Situasi lainnya tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan
konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Demikian juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari preeklampsia, kelainan
panggul, adanya penyakit jantung, diabetes, atau masalah medic yang serius, bidan
memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan
konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial,
ahli gizi atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus
mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi
dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan kebidanan.
Kaji ulang apakah tindakan segera ini benar-benar dibutuhkan.
5. Langkah 5 : Menyusun Rencana Asuhan yang Menyeluruh.
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-
langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
masalah atau diagnose yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini
informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah
terindentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga
dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang
diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan
apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial
ekonomi-kultural atau masalah psikologis. Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita
tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan setiap aspek asuhan
kesehatan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua pihak, yaitu oleh
bidan dank lien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan
melaksanakan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan
bersama sebelum melaksanakannya.

9
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus
rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date
serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.

6. Langkah 6 : Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman.


Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan
pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bias
dilakukan seluruh oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan
lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggungjawab
untuk mengarahkan pelaksanaannya, misalnya memastikan langkah-langkah tersebut
benar-benar terlaksana.
Dalam situasi di mana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien
yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi
klien adalah tetap bertanggungjawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama
yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan
biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.
Kaji ulang apakah semua rencana asuha telah dilaksanakan.
7. Langkah 7 : Evaluasi
Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi kefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah
terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnose dan
masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam
pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedangkan sebagian
belum efektif. Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupakan suatu
kegiatan yang berkesinambungan maka perlu mengulang kembali dari awal setiap
asuhan yang tidak efektif melalui manajemen tidak efektif serta melakukan
penyusaian terhadap rencana asuhan tersebut.
Langkah-langkah proses manajemen umumnya merupakan pengkajian yang
memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada
proses klinis, karena proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik

10
dan dua langkah terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin
proses manajemen ini dievaluasi dalam tulisan saja.
C. Implementasi Manajemen Kebidanan Varney
1. Langkah I : Pengkajian
Adalah pengumpulan data dasar untuk mengevaluasi keadaan klien.Data yang
dikumpulkan meliputi data subjektif dan data objektif serta data penunjang (bila ada).
a. Data subjektif
Data ini bisa didapat dengan cara anamnesa yaitu tanya jawab antara klien
dengan petugas kesehatan (auto anamnesa) maupun antara petugas kesehatan
dengan orang lain yang mengetahui keadaan / kondisi klien (alo anamnesa).
Anamnesa dapat dilakukan pada pertama kali klien datang (secara lengkap) dan
anamnesa selanjutnya / ulang untuk hal yang diperlukan saja setelah melakukan
review data yang lalu.
Hal – hal yang perlu dikaji dalam dat subjektif, meliputi :
1) Biodata
a) Nama klien
Dimaksudkan agar lebih mengenal klien sehingga tercipta hubungan
interpersonal yang baik, sehingga bidan lebih mudah dalam memberikan
asuhannya karena klien lebih kooperatif.
b) Umur
Untuk mengetahui apakah umur klien termasuk dalam usia produktif atau
usia beresiko tinggi untuk hamil, karena umur yang < 20 tahun atau > 35 tahun
beresiko tinggi bila hamil.
c) Pendidikan
Dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pendidikan dan tingkat
intelegensi klien, sehingga bidan bisa menyesuaikan cara pemberian
Konseling, Informasi dan Edukasi (KIE) dengan kemampuan daya tangkap
klien.
d) Pekerjaan
Dimaksudkan untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi klien yang
tentunya berpengaruh dengan kemampuan klie dalam pemenuhan kebutuhan
nutrisinya.Hal ini juga dapat membantu bidan dalam pemberian KIE tentang

11
nutrisi ibu hamil.Selain itu juga untuk mengetahui apakah pekerjaan yang
dilakukan klien dapat mengganggu kehamilan atau tidak.
e) Suku atau bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari – hari.
f) Agama atau kepercayaan
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui agama atau kepercayaan yang
dianut klien, sehingga bidan secara tidak langsung dapat menyesuaikan
pemberian KIE yang sesuai dengan ajaran-ajaran maupun norma-norma agama
atau kepercayaan yang dianut.

g) Alamat
Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila
keadaan mendesak. Dengan diketahuinya alamat tersebut, bidan dapat
mengetahui tempat tinggal pasien/klien dan lingkunganya. Dengan tujuan
untuk mempermudah menghubungi keluarganya, menjaga kemungkinan bila
ada nama ibu yang sama, untuk dijadikan saat kunjungan rumah.
h) Penanggung jawab
Untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap klien, sehingga
bila sewaktu – waktu dibutuhkan bantuannya dapat segera ditemui.
2) Keluhan pasien
Perlu dikaji untuk mengetahui hal apa saja yang dikeluhkan dalam
kehamilannya ini, terutama keluhan saat pengkajian dilakukan. Keluhan-
keluhan yang muncul pada ibu hamil kembar berbeda-beda dalam tiap
trimesternya, dan keluhannya khas untuk masing-masing ibu.Keluhan juga perlu
dikaji untuk mengetahui adakah tanda dan gejala yang mengarah pada bahaya
maupun ketidaknormalan (patologis).
3) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu
Untuk mengetahui apakah dahulu ibu mempunyai penyakit yang
berbahaya bagi kehamilannya.Selain itu untuk mengetahui apakah ibu pernah
menjalani operasi yang berhubungan dengan organ reproduksinya atau tidak,
karena akan berpengaruh pada kehamilanya
b) Riwayat kesehatan sekarang

12
Untuk mengetahui apakah pada saat sekarang ini ibu benar-benar
dalam keadaan sehat, tidak menderita suatu penyakit kronis seperti ashma,
jantung, TBC, hipertensi, ginjal, DM dan lainnya, karena apabila ada
gangguan kesehatan pada saat ibu hamil akan secara tidak langsung
berpengaruh pada kehamilannya baik itu pada diri ibu sendiri maupun
perkembangan dan pertumbuhan janin yang dikandungnya.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Hal penting yang perlu dikaji bila ada riwayat penyakit menular
dalam keluarga ibu maupun suami (seperti hepatitis, TBC, HIV/AIDS, PMS)
yang dapat menularkan kepada anggota keluarga yang lain. Juga pelu dikaji
bila ada rieayat penyakit keturunan dalam keluarga ibu maupun suami seperti
jantung, DM, ashma, hipertensi, dan lainnya, karena dapat menurunkan
kepada anggota keluarga yang lain dan dapat membahayakan apabila
penyakit – penyakit tersebut terjadi pada ibu yang sedang hamil.
4) Riwayat obstetri
a) Riwayat haid
Beberapa hal yang perlu dikaji di dalam riwayat haid meliputi umur
menarche,siklus haid (teratur atau tidak), lama haid, dysmenorrhea(ya atau
tidak) dan HPHT (Haid Pertama Haid Terakhir). Dengan diketahuinya HPHT
maka bidan dapat menentukan HPLnya (Hari Perkiraan Lahir), usia
kehamilan sehingga keadaan kehamilannya dapat dipantau, terutama untuk
memantau pertambahan BB, TFU (Tinggi Fundus Uteri) dan frekuensi gerak
anak, karena hal tersebut dapat mendukung dalam penegakkan diagnose
kehamilan, selain melalui palpasi dan USG.
b) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah ibu memiliki riwayat
obstetric yang buruk atau tidak baik dalam kehamilan, persalinan dan nifas
yang lalu, sehingga bila memang ibu memiliki riwayat obstetric yang buruk
maka dapat dipersiapkan tindakan-tindakan untuk pencegahan.
c) Riwayat kehamilan sekarang
Hal-hal yang perlu dikaji di dalamnya antara lain berapa kali ibu
sudah melakukan ANC, di mana ibu memperoleh ANC, apakah ibu sudah
mendapatkan imunisasi TT dan berapa kali mendapatkannya, apakah ibu

13
teratur minum tablet tambah darah, kalk dan vitamin yang ibu peroleh setiap
kali control, apakah ada keluhan atau komplikasi selama ibu hamil dan
apakah ibu mempunyai kebiasaan-kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan,
merokok, minum jamu dan alcohol dan sebagainya, sehingga bidan dapat
memantau perkembangan kehamilannya. Pada kehamilan, pemeriksaan ANC
harus lebih sering guna untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan
janin yang dikandung.
5) Riwayat perkawinan
Dikaji untuk mengetahui sudah berapa lama klien menikah, sudah berapa
kali klien menikah, berapa umur klien dan suami pada saat menikah, sehingga
dapat diketahui apakah klien masuk dalam infertilitas sekunder atau
bukan.Selain itu secara normal juga untuk mengetahui apakah anak yang
dikandungnya sah secara hokum atau anak hasil hubungan di luar nikah karena
dapat berpengaruh terhadap penerimaan ibu terhadap kehamilannya.
6) Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah ibu sudah menjadi akseptor KB sebelum
hamil atau tidak, metode kontrasepsi yang digunakan apa dan sudah berapa
lama ibu menjadi akseptor KB serta rencana KB apa yang akan digunakan ibu
(klien) setelah melahirkan.
7) Pola pemenuhan kebutuhan sehari – hari
Pola ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah ibu sudah menunjukkan
perilaku hidup sehat dalam kehidupannya sehari – hari atau belum. Pola – pola
yang dikaji di dalamnya, meliputi :
a) Pola nutrisi
Dikaji tentang jenis makanan yang dikonsumsi klien, apakah ibu hamil
(klien) sudah makan teratur 3x sehari atau belum, apakah sudah
mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan menu seimbang (nasi, lauk-
pauk, sayur dan buah) atau belum, karena asupan nutrisi juga akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin yang
dikandungnya. Selain makanan, berapa kali minum dalam sehari juga perlu
dipertanyakan, hal ini juga dimaksudkan untuk mencegah keadaan
kekurangan cairan.
b) Pola eliminasi

14
Eliminasi yang dikaji adalah BAB dan BAK.BAB perlu dikaji
untuk mengetahui berapa kali ibu BAB setiap harinya dan bagaimana
konsistensi warna fecesnya, biasanya pada ibu hamil kemungkinan besar
terkena sembelit karena pengaruh dari hormon progesterone dan juga warna
dari fecesnya terkadang hitam yang disebabkan oleh tablet Fe yang
dikonsumsi selama hamil.
BAK dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu BAK setiap harinya,
lancar atau tidak. Biasanya ibu yang hamil apalagi hamil kembar akan sering
BAK karena adanya penekanan pada kandungan kencing oleh uterus (TM 1)
dan oleh kepala janin (TM II-III).
c) Pola istirahat
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu dapat beristirahat dengan
cukup dan tenang setiap harinya atau tidak, karena dapat berpengaruh
terhadap kondisi kesehatannya apabila tidak mempunyai cukup waktu untuk
beristirahat.
d) Pola personal hygiene
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu sudah menerapkan perilaku hidup
sehat dalam kehidupannya. Kebersiahan diri yang paling dan harus
diperhatikan oleh ibu hamil adalah kebersihan alat kelamin (genetalia),
apabila ibu tidak menjaga genetalia akan memudahkan masuknya kuman ke
dalam kandungan.
e) Pola seksual
Dikaji untuk mengetahui apakah selama hamil ibu melakukan
hubungan seksual atau tidak, karena pada dasarnya hubungan seksual boleh
dilakukan selama hamil, asal umur kehamilan ibu cukup besar, karena
hubungan seksual yang dilakukan pada saat hamil mudaakan sangat
berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandung.
8) Psikologi dan sosiospiritual ibu
Dikaji untuk mengetahui bagaiman penerimaan ibu terhadap
kehamilannya.Dikaji pula apakah pihak keluarga mendukung kehamilan ibu,
bagaiman hubungan ibu dengan keluarga dan masyarakat sekitar, apakah ibu
mempunyai hewan peliharaan, karena hewan peliharaan dapat menyebabkan

15
penyakit TORCH pada ibu hamil yang dapat mengancam janin yang
dikandungnya.
b. Data objektif
1) Pemeriksaan umum, meliputi :
a) Keadaan umum
Dikaji pada saat pertama kali pasien datang.Lihat apakah pasien
tampak baik atau tampak lemah dan pucat.Hal ini penting untuk mengetahui
bila ibu mengalami anemia yang merupakan komplikasi tersering dari
kehamilan.
b) Tanda-tanda vital (Vital sign)
Vital sign terpenting yang harus selalu dikaji, yaitu:
(1) Tekanan darah
Tekanan darah pada ibu hamil perlu dikaji secara teratur untuk
mengetahui bila ibu mengalami preeklamsia terutama selama trimester II
dan III.Waspadai bila tekanan darah sistolik ibu > 140 mmHg dan
diastolic > 90 mmHg.
(2) Berat badan
Kenaikan berat badan yang normal pada ibu hamil yaitu 6,5 kg –
16,5 kg selama hamil.
2) Status present
a) Kepala :
Untuk observasi bentuk, benjolan, infeksi pada kepala.Palpasi bila tampak
benjolan untuk mengetahui besar, bentuk, kekenyalan dan mobilitasnya.
b) Rambut :
Untuk mengetahui keadaan rambut, seperti hitam, lebat, tidak berbau, tidak
berketombe.
c) Muka :
Untuk mengetahui bentuk muka lonjong atau bulat, ada atau tidak ada
kelainan.
d) Mata :
Untuk mengetahui mata simetris atau tidak, apakah terjadi anemia atau tidak
pada conjungtiva, sklera ikterik atau tidak.
e) Hidung :

16
Untuk mengetahui kebersihan, ada atau tidak ada polip atau secret.
f) Telinga :
Untuk mengetahui kebersihan, ada atau tidak ada serumen di telinga.
g) Mulut :
Untuk mengetahui kebersihan dan keadaan konstruksi gigi apakah terjadi
kekeroposan atau tidak dimana hal ini menjadi indikasi adanya kekurangan
kalsium atau tidak, ada stomatitis atau tidak.
h) Leher :
Untuk mengetahui ada atau tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, ada
atau tidaknya struma atau kelenjar gondok, dan ada atau tidaknya pembesaran
vena jugularis.
i) Dada :
Observasi bentuk thorak.Misal, apakah kifosis atau tidak.

j) Payudara :
Observasi dilakukan untuk mengetahui bentuk payudara.Palpasi dilakukan
untuk mengetahui ada tidaknya benjolan, rasa sakit (oleh karena adanya
infeksi).
k) Aksila :
Observasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya benjolan.Palpasi
dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya rasa sakit dan tumor.
l) Abdomen :
Untuk mengetahui bentuk abdomen membujur / melintang.Ada tidaknya bekas
operasi.
m) Pinggang :
Untuk mengetahui adanya nyeri tekan pada daerah ginjal.
n) Punggung :
Untuk mengetahui bentuk tulang punggung, misal apakah lordosis atau tidak.
o) Anus :
Untuk mengetahui ada atau tidak ada hemoroid.
p) Genetalia :
Untuk mengetahui kebersihan genetalia, adanya keputihan atau tidak.
17
q) Ekstremitas :
Atas : Obeservasi keadaan tangan terutama kelengkapan
jari tangan, kuku pucat atau sianosis, oedem atau
tidak.
Bawah : Obeservasi keadaan kaki terutama kelengkapan
jari tangan, kuku pucat atau sianosis, oedem atau
tidak, adanya varises atau tidak.
r) Kulit :
Observasi kelembaban kulit ibu dengan kembalinya turgor kulit.
3) Pemeriksaan obstetri
a) Inspeksi
(1) Muka
Dikaji apakah ada chlosma gravidarum, apakah ada oedema muka,
terutama pada trimester II dan III yang dapat mengarah pada preeklamsia,
terutama bila tekanan darah ibu tinggi.

(2) Dada
Kaji mammae ibu dan kesiapan masa laktasi yang meliputi bagaimana
bentuk putting susunya, pigmentasi pada areola mammae dan putting,
bentu payudara serta apakah kolostrum sudah keluar atau belum.
(3) Abdomen
Lihat apakah ada linea nigra dan striae. Biasanya pada kehamilan
kembar, striae akan sangat jelas terlihat karena peregangan dari kulit perut
akibat perbesaran perut ibu.
(4) Vulva
Kaji apakah ada oedema, varises dan kondiloma yang nantinya dapat
mengganggu proses persalinan pervaginam, karena varises dapat pecah
saat persalinan dan menimbulkan perdarahan.
b) Palpasi leopold
(1) LI : Pada leopold I dikaji bagian janin apakah yang ada pada fundus
uteri, apakah kepala (bulat keras) atau bokong janin (bulat lunak). Pada
kehamilan kembar dapat teraba dua bagian besar janin pada fundus uteri.
Tetapi bila kehamilan masih dalam Trimester I dan awal Trimester II,
leopold I hanya untuk mengetahui adanya ballottement.
18
(2) LII : Leopold II ini efektif digunakan bila umur kehamilan sudah
menginjak usia 6 bulan, karena bagian-bagian janin sudah mulai dapat
dibedakan. Leopold II ini dilakukan untuk mengetahui dimanakah letak
punggung janin yang ditandai dengan terabanya bagian panjang, keras,
danada tahanan dan juga untuk mengetahui dimanakah letak ekstremitas
janin yang dtandai dengan terabanya bagian-bagian kecil.
(3) LIII : Dilakukan untuk mengetahui bagian terbawah janin, yaitu bulat
lunak/bulat keras. Masih bisa digoyangkan atau tidak.
(4) LIV : Dilakukan untuk mengetahui apakah bagian bawah janin sudah
masuk PAP atau belum. Apabila posisi tangan difergen berarti bagian
bawah janin sudah masuk PAP dan konvergen apabila bagian bawah janin
belum masuk PAP.
c) Auskultasi
Mendengarkan DJJ menggunakan linex ataupun doppler. DJJ normal
120 – 160 x / menit.

4) Data penunjang
a) Pemeriksaan dalam
Dilakukan untuk mengetahui ukuran panggul dalam ibu dan kemungkinan
jalan lahir dapat dilewati oleh janin.
Ukuran panggul luar :
(1) Distansia spinarum : 23 – 26 cm
(2) Distansia kristarum : 26 – 29 cm
(3) Lingkar panggul : 80 – 90 cm
(4) Conjugata eksterna : 18 – 20 cm
b) Pemeriksaan Hb
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keadaan hemoglobin ibu dalam
darah dan apakah ada anemia.Kadar Hb ibu hamil normal yaitu 11 gr / dl.
c) Pemeriksaan protein urine
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya protein dalam urine.
Adanya protein dalam urine, menunjukkan ibu mengalami preeklamsia.
d) Pemeriksaan USG
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menegakkan diagnosis kehamilan normal.
2. Langkah II : Identifikasi masalah diagnosa dan kebutuhan (intrepretasi data)
19
Dalam langkah ini data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan
menjadi diagnose spesifik yang sudah diidentifikasi. Interpretasi data diambil
berdasarkan data – data yang telah dikumpulkan pada langkah pengkajian.Susunan
interpretasi data, mengacu pada diagnosa.Diagnosa yang dapat ditegakkan adalah
gravida, para, abortus, umur ibu, umur kehamilan dan keadaan janin (jumlah,
presentasi dan letak janin).Pada kasus ini diagnosa yang dapat ditegakkan adalah
gravida, para, abortus, umur ibu, umur kehamilan dengan kehamilan normal.
Dasar – dasar dari diagnosa tersebut adalah :
a. Pernyataan klien tentang jumlah kehamilan yang dialaminya.
b. Pernyataan klien tentang jumlah persalinan yang dialaminya.
c. Pernyataan klien tentang jumlah abortus yang dialaminya.
d. Pernyataan klien tentang umurnya.
e. Pernyataan klien tentang HPHT.
f. Hasil palpasi Leopold I, yaitu hasil pengukuran TFU.
g. Hasil palpasi Leopold II, teraba satu bagian besar janin dan bagian – bagian kecil
janin.
h. Hasil palpasi Leopold III, yaitu teraba bagian terendah janin.
i. Hasil palpasi Leopold IV, yaitu diketahui apakah bagian terendah janin sudah
masuk PAP atau belum.
j. Denyut jantung janin pada auskultasi.
3. Langkah III : Identifikasi diagnosa atau masalah potensial
Langkah ke- 3 ini dibuat berdasarkan keadaan ibu yang mungkin terjadi yang
dapat diketahui dari pemeriksaan objektif dan data penunjang serta yang
membutuhkan tindakan antisipasi.
4. Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang membutuhkan penanganan segera
(antisipasi)
Langkah ke- 4 ini akan muncul bila langkah ketiga muncul. Langkah ini berupa
tindakan yang harus segera bidan lakukan maupun berkolaborasi dengan tenaga
kesehatan yang lebih kompeten karena adanya diagnose potensial.
5. Langkah V : Merencanakan asuhan yang menyeluruh
Langkah ini merupakan lanjutan dari diagnosa yang telah diidentifikasi. Rencana
asuhan yang akan diberikan harus menyeluruh. Tidak hanya meliputi apa yang sudah

20
terlihat dari kondisi klien atau masalah yang berkaitan tetapi juga tentang perkiraan
atau kemungkinan yang akan terjadi berikutnya.
6. Langkah VI : Pelaksanaan perencanaan
Setiap rencana yang telah dibuat oleh bidan dilaksanakan dalam langkah ini.
Caranya dengan memberitahu klien tentang apa saja yang harus klien lakukan
berkaitan dengan kehamilannya serta anjuran – anjuran apa saja yang harus
dilaksanakan oleh klien. Bidan dalam hal ini tetap memiliki tanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaannya.Pelaksanaan perencanaan juga dapat dilakukan secara
kolaborasi apabila bidan tidak mempunyai kewenangan dalam menangani hal – hal
yang tidak normal atau patologi.
7. Langkah VII : Evaluasi
Langkah VII ini untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan asuhan kebidanan sesuai
dengan diagnosa yang telah diidentifikasi. Apabila dalam pelaksanaannya belum
efektif, maka akan berpengaruh pula terhadap kegiatan evaluasinya sehingga perlu
mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang akan diberikan.

BAB II
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL NORMAL


Ny S UMUR 26 TAHUN G1P0A0 HAMIL 38 MINGGU 5 HARI
DI BPM NY. RIYANTI ACHWAN Amd.Keb
BUGEN BANGETAYU SEMARANG

Tempat Praktek : Bidan Riyanti Amd.Keb Nama Mahasiswa : Lina Fathma


Tanggal Masuk : 27 Juni 2014 Tingkat/Semester : II/IV

I. PENGKAJIAN
A. Data Subyektif
Identitas/ Biodata
Nomer RM :
21
Nama Ibu : Ny S Nama Suami : Tn. M
Umur : 26 tahun Umur : 29 tahun
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan/ Penghasilan : Swasta Pekerjaan : Swasta
Suku/ Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Alamat : Tlogosari wetan Rt 10 Rw 03 Pedurungan Semarang

Anamnesa pada tanggal 27 Juli 2014 pukul 18.30 WIB


1. Alasan datang : Ibu mengatakan ingin kontrol ulang kehamilan
2. Keluhan Utama : Ibu menyatakan kenceng – kenceng sejak tadi siang pada
pukul 12.00 WIB
3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu menyatakan tidak sedang menderita penyakit menular ( HIV/AIDS, TBC,
hepatitis), menurun (DM,hipertensi, asma), menahun (jantung, ginjal)

b. Riwayat kesehatan yang lalu


Ibu menyatakan bahwa tidak pernah menderita penyakit menular seperti
(HIV/AIDS, TBC, hepatitis) menurun seperti ( hipertensi, DM,Asma) dan
menahun seperti (jantung , ginjal)
c. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu menyatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
menular ( HIV/AIDS,TBC, hepatitis), menurun ( DM, hipertensi), menahun
( jantung, ginjal)
4. Riwayat perkawinan :
a. Umur waktu menikah : 24 tahun
b. Lama : 2 tahun
c. Perkawinan ke : 1
d. Jumlah anak: -
5. Riwayat menstruasi :
a. Menarche : 12 tahun Siklus : ± 28 hari
b. Lama : ±7 hari Jumlah : 2-3 x /ganti pembalut

22
c. Warna : Merah keluhan : tidak ada
6. Riwayat kehamilan sekarang :
a. HPHT : 01-10-2013 HPL: 08-07-2014
b. Haid bulan sebelumnya : september Lama: ±7 hari
c. Siklus : ±28 hari
d. ANC : teratur, 8x di Bidan
e. Imunisasi TT : 2x di Bidan
f. Keluhan selama hamil :
TM I : Mual, muntah , Therapy :B 6 2X1
TM II : tidak ada keluhan
TM III : tidak ada keluhan
g. Pergerakan janin selama 24 jam terahir : aktif ± 10 kali
h. BB sebelum hamil : 50 kg
7. Riwayat KB :
Jenis
Lama penggunaan
Keluhan
Alasan berhenti
Dahulu : -
Rencana: belum tahu
8. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari :
Kebutuhan
Sebelum hamil
Selama hamil
Keluhan
9. Data Psikologis :
Ibu menyatakan bahwa ibu dan keluarganya menerima dan merasa senang
dengan kehamilannya.
10. Data Sosial, ekonomi, budaya :
a. Hewan peliharaan : ibu menyatakan tidak memiliki hewan peliharaan.
b. Lingkungan : ibu menyatakan lingkungan rumahnya bersih, nyaman dan
tidak kumuh.

23
c. Hubungan dengan suami dan/ keluarga : ibu menyatankan hubungannya
dengan keluarga dan suami harmonis, saling menyayangi dan menerima
kehadiran bayinya
d. Adat istiadat : ibu menyakan tidak ada pantangan adat istiadat dalam
pengambilan keputusan
e. Pengambilan keputusan : keluarga terutama suami
f. Penghasilan : cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga
11. Data Spiritual : ibu menyatakan beragama islam menjalankan sholat 5 waktu
sesuai dengan kepercayaannya
12. Pengetahuan Ibu :
a. Tentang kehamilan : ibu mengatakan sudah mengetahui tentang kehamilannya
dan mengetahui tentang tanda bahaya kehamilan seperti: (ketuban pecah
sebelum waktunya, gerakan janin berkurang, oedema, dll)
b. Tentang senam hamil : ibu mengetahui tentang senam hamil tetapi ibu tidak
melakukannya
c. Tentang persiapan persalinan : ibu sudah mempersiapkan persalinan seperti
peralatan bayi

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan Umum : Baik
b. Kesadaran : Composmenthis
c. Status emosional : Stabil
d. Tanda vital
1) Tensi : 110/70 mmHg BB sebelum : 50 kg
2) Nadi : 84x/ menit BB sekarang : 59 kg
3) RR : 20x/ menit TB : 146 cm
4) Suhu : 36,2º C Lila : 30 cm
e. Status present
1) Kepala : Mesochepal
a) Rambut : bersih, distribusi merata, tidak rontok dan kulit kepala tidak
ketombe

24
b) Muka : tidak ada oedema, tidak pucat
c) Mata : conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
d) Hidung : bersih, tidak ada polip
e) Telinga : tidak ada serumen, simetris
f) Mulut : tidak ada caries dentis, tidak stomatitis, gusi tidak berdarah, lidah
bersihdan gigi tidak berlubang
2) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid , kelenjar limfe dan vena
jugularis
3) Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada
4) Mammae : simetris, tidak ada benjolan abnormal
5) Perut : tidak ada pembesaran hati dan limfa, tidak ada bekas oprasi
6) Pinggang : tidak ada nyeri tekan pada daerah ginjal, dan abdomen
7) Punggung : tulang belakang lordosis oleh karena kehamilan
8) Genetalia : bersih, tidak ada varises
9) Anus : tidak ada hemoroid
10) Ekstremitas
a) Atas : tidak ada varises, tidak oedema, tidak pucat, tugor baik, jari –
jari lengkap.
b) Bawah : tidak pucat, tidak ada nyeri tekan, tidak oedema, tidak sianosis,
tidak ada varises, turgor cepat kembali, jari lengkap
2. Pemeriksaan Obstetri
a. Inspeksi
1) Wajah/muka : Tidak ada cloasma gravidarum, tidak bengkak.
2) Mammae : Simetris, kelenjar Montgomery membesar, putting verted,
areola hiperpigmentasi, kolostrum belum keluar, tidak ada benjolan
abnormal
3) Abdomen : Nampak linea nigra dan strie, pembesaran sesuai usia
kehamilan.
4) Genetalia : tidak ada albus
b. Palpasi
1) Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX, bagian fundus teraba lunak, bulat,
tidak ada lentingan yaitu bokong. TFU : 31 cm

25
2) Leopold II : bagian kanan perut ibu teraba bagian kecil-kecil yaitu
ekstremitas janin, sedangkan bagian perut kiri teraba keras memanjang , ada
tahanan yaitu punggung janin
3) Leopold III : bagian bawah janin teraba bulat keras ada lentingan dan
tidak bisa di goyang yaitu kepala
4) Leopold IV : kepala sudah masuk PAP ( devergen)
c. Mc. Donald : 31 cm
: TBJ : (31-11)x155 : 3000 gram
d. Auskultasi
DJJ :
Frekuensi : 140 kali/menit
Irama : teratur
Interval : 12-12-12
e. Perkusi (reflek patella) : (+/+)
f.Periksa Dalam : tidak dilakukan
g. UPL :
Distansia spinarum : 25 cm
Distansia cristarum : 27 cm
Conjugata externa : 19 cm
Lingkar panggul : 85 cm

3. Pemeriksaan Penunjang/ laboratorium


a. Protein urine : Negatif
b. HB : 11,5
II. INTERPRETASI DATA DASAR
Ny S umur 26 tahun G1P0A0 usia kehamilan 38 minggu 5 hari janin tunggal hidup
intra uterin letak membujur presentasi kepala sudah masuk PAP Ʉ puki
Dasar :
DS :
a. Ibu menyatakan bernama ny. S dan berumur 26 tahun
b. Ibu menyatakan hamil yang pertama, belum pernah keguguran
c. Ibu menyatakan HPHT 01 – 10 – 2013
d. Ibu menyatakan merasakan gerakan janin yang aktif

26
DO :
a. KU : Baik
b. Kesadaran : composmentis
c. Leopold I : TFU 2 jari di bawah PX, bagian fundus teraba lunak, bulat, tidak
ada lentingan yaitu bokong, TFU : 31 cm
d. Leopold II : bagian kanan perut ibu teraba bagian kecil-kecil yaitu ekstremitas
janin, sedangkan bagian perut kiri teraba keras memanjang , ada tahanan yaitu
punggung janin.
e. Leopold III : bagian bawah janin teraba bulat keras ada lentingan dan tidak bisa
di goyang yaitu kepala
f. Leopold IV : kepala sudah masuk PAP ( devergen)
g. TBJ : ( 31-11 ) x 155 : 3000 gr
h. DJJ :
1) Frekuensi : 140 kali/menit
2) Irama : teratur
3) Kontraksi : kuat
4) Interval : 12-12-12

III. IDENTIFIKASI MASALAH/ DIAGNOSA POTENSIAL

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA


V. PERENCANAAN
1. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik.
2. Beritahukan pada ibu hasil pemeriksaan bahwa kehamilannya dalam keadaan baik,
posisi janin normal dan sudah masuk panggul.
3. Anjurkan ibu untuk banyak istirahat dan mengurangi aktifitas berat
4. Beritahu ibu tentang bahaya kehiamilan trimester III dan anjurkan ibu untuk segera
memeriksakan kandungannya ke tenaga kesehatan apabila mengalaminya

27
5. Beritahu ibu untuk menyiapkan persalinan dan tanda-tanda persalinan seperti
kenceng-kenceng sering semakin kuat, keluar air kawah, ada lendir darah dan dan
menganjurkan ibu segera kembali .
6. Berikan therapy tablet B12 3x1 dan FE dengan dosis 1x1 dan ajarkan cara
meminumnya.
7. Anjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu kemudian dan sewaktu –
waktu apabila terdapat keluhan

VI. IMPLEMENTASI
1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik.
2. Memberitahukan pada ibu hasil pemeriksaan bahwa kehamilannya dalam keadaan
baik, posisi janin normal dan sudah masuk panggul
3. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat dan mengurangi aktifitas berat seperti,
menggendong, mengangkat benda – benda berat
4. Memberi tahu ibu tentang tanda bahaya trimester III antara lain perdarahan pada jalan
lahir dan pengeluarannya berbau busuk, bengkak pada ekstremitas, tekanan darah
tinggi, pandangan kabur, nyeri kepala hebat, nyeri perut bagian bawah, serta
memberitahu ibu apabila mengalaminya untuk segera periksa ke tenaga kesehatan
terdekat.
5. Memberitahu ibu untuk menyiapkan persalinan dan tanda-tanda persalinan seperti
kenceng-kenceng sering semakin kuat dan berlangsung lama, keluar air kawah, ada
lendir darah dan beritahu ibu untuk segera menuju tempat persalinan yang aman yaitu
bidan / dokter. Memberitahu ibu untuk persiapan persalinan yaitu, pakaian ibu dan
bayi, uang, kesiapan fisik dan mental, pendamping persalinan, donor darah,
transportasi
6. Memberikan ibu tablet B12 3x1 pada pagi hari dan FE dengan dosis 1x1 diminum
sebelum tidur dengan menggunakan air putih, tidak boleh menggunakan air teh, kopi
ataupun susu karena akan menghambat dan menggangu penyerapan.
7. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 1 minggu kemudian dan sewaktu – waktu
apabila terdapat keluhan

VII. EVALUASI
1. Ibu mengetahui tentang kondisinya saat ini

28
2. ibu mengetahui bahwa kehamilannya dalam keadaan baik
3. ibu bersedia untuk beristirahat yang cukup dan mengurangi aktifitas yang berat
4. Ibu sudah mengetahui tanda bahaya trimester III dan bersedia periksa ke tenaga
kesehatan terdekat apabila mengalaminya
5. ibu sudah mempersiapkan persalinannya dan sudah mengetahui tanda – tanda
persalinan dan bersedia kembali lagi apabila sudah akan mendapat tanda – tanda
tersebut
6. ibu sudah mendapat tablet B12 dan FE dan sudah mengetahui dosis serta cara
meminumnya
7. ibu bersedia kunjungan ulang 1 minggu kemudian dan apabila sewaktu – waktu
terdapat keluhan

29