Anda di halaman 1dari 10

SUGAR GROUP COMPANIES (GULAKU)

Penyusun:
Marga Masaji 10411910000026
Lulu Sekar Taji 10411910000046
Khairun Nisa 10411910000050

PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK KIMIA INDUSTRI


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INDUSTRI
FAKULTAS VOKASI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi
perdagangan utama. Gula sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai
pemberi rasa manis terhadap makanan dan minuman sehingga Gula termasuk
kebutuah pokok. ada banyak macam-macam gula yang di produksi akan tetapi gula
yang berjenis gula pasir yang sering digunakan oleh konsumen, awal pembuatan
gula yang terbuat dari tebu yang di olah sedemikian rupa sehingga menghasikan
sebuah produk yang bercita rasa manis. Gula tersendiri jga memegang peran
terpenting dalam negara karena banyaknya negara yang mengimpor Gula dari
pabrik-pabrik Gula yang ada di Indonesia juga meraup keuntungan yang tinggi.
1.2 Tujuan Penelitian
Sebagaimana yang kita ingin ketahui bagaimana tentang Profil perusahaan Gulaku,
Bahan Baku apa saja yang digunakan, ketika melakukan proses pengolahan, apa
Output/hasil yang dikeluarkan, dan Proses Pemasaran pada produk gulaku ini,.
untuk itulah makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui sistematika tentang
profil perusahaan Gulaku, bahan baku, proses pengolahan, Output (hasil
pengeluaran), dan Proses Pemasaran. yang kita temui.
1.3 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca terutama mahasiswa
guna mengerti tentang Perusahan Sugar Grup Companies dan mengerti cara
pembuatan/pemngolahan sehingga menjadi Gula.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profil Perusahaan GULAKU (Sugar Group Companies)
Sugar Group Companies adalah salah satu perkebunan Tebu Indonesia Gula terbesar.
dan company gula manufaktur. Perusahaan yang Headquarted. Terletak di propinsi
Lampung dan saat ini di dukung oleh 12 kantor cabang di seluruh Indonesia. Pabrik
Gula perusahaan yang terintegrasi dengan perkebunan Gula dengan total 94.000
Hektar di Lampung.
2.2 Bahan Baku
Tebu merupakan tumbuhan monokotil dari famili rumput-rumputan (Gramineae),
Batang tanaman tebu memiliki memiliki anakan tunas dari pangkal batang yang
membentuk rumpun. Tanaman ini memerlukan waktu musim tanam sepanjang 11-
12 bulan. Tanaman ini berasal dari daerah tropis basah sebagai tanaman liar.
2.3 Proses Pengolahan
2.3.1 Proses Pengolahan Gula Tebu
a) Ekstraksi
Tahap pertama pembuatan gula tebu adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Caranya dengan
menghancurkan tebu dengan mesin penggiling untuk memisahkan ampas tebu dengan
cairannya. Cairan tebu kemudian dipanaskan dengan boiler. Jus yang dihasilkan masih
berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan
ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.

Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 50 % air, 15% gula dan serat residu,
dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula. Dan juga kotoran seperti pasir
dan batu-batu kecil dari lahan yang disebut sebagai “abu”.

b) Pengendapan kotoran dengan kapur (Liming)


Jus tebu dibersihkan dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan
mengendapkan sebanyak mungkin kotoran , kemudian kotoran ini dapat dikirim
kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming.

Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses
penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus
dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian
dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier).
Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat
mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih.

Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga
biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus
residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan
hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke
proses.

c) Penguapan (Evaporasi)
Setelah mengalami proses liming, proses evaporasi dilakukan untuk mengentalkan jus
menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas (steam). Terkadang
sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal
tanpa adanya pembersihan lagi.

Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula
jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula
hingga 80%. Evaporasi dalam ‘evaporator majemuk’ (multiple effect evaporator) yang
dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi
mendekati kejenuhan (saturasi).

d) Pendidihan/ Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam wadah yang sangat besar
untuk dididihkan. Di dalam wadah ini air diuapkan sehingga kondisi untuk
pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan
sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan
dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan
keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan
pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas
sebelum disimpan.

Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula
sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula
yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena
keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan
sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai
kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan.

Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka
terbuatlah produk samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya
diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat
alkohol (etanol) . Belakangan ini molases dari tebu di olah menjadi bahan energi
alternatif dengan meningkatkan kandungan etanol sampai 99,5%.

e) Penyimpanan
Gula kasar yang dihasilkan akan membentuk gunungan coklat lengket selama
penyimpanan dan terlihat lebih menyerupai gula coklat lunak yang sering dijumpai di
dapur-dapur rumah tangga. Gula ini sebenarnya sudah dapat digunakan, tetapi karena
kotor dalam penyimpanan dan memiliki rasa yang berbeda maka gula ini biasanya tidak
diinginkan orang. Oleh karena itu gula kasar biasanya dimurnikan lebih lanjut ketika
sampai di negara pengguna.
f) Afinasi (Affination)
Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan pembersihan
lapisan cairan induk yang melapisi permukaan kristal dengan proses yang dinamakan
dengan “afinasi”. Gula kasar dicampur dengan sirup kental (konsentrat) hangat dengan
kemurnian sedikit lebih tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan
melarutkan kristal, tetapi hanya sekeliling cairan (coklat). Campuran hasil (‘magma’)
di-sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup sehingga kotoran dapat dipisahkan
dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan sebelum proses karbonatasi.

Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang telah dicuci mengandung berbagai zat
warna, partikel-partikel halus, gum dan resin dan substansi bukan gula lainnya. Bahan-
bahan ini semua dikeluarkan dari proses.

g) Karbonatasi
Tahap pertama pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya bertujuan untuk
membersihkan cairan dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh. Pada
tahap ini beberapa komponen warna juga akan ikut hilang.

Salah satu dari dua teknik pengolahan umum dinamakan dengan karbonatasi.
Karbonatasi dapat diperoleh dengan menambahkan kapur/ lime [kalsium hidroksida,
Ca(OH)2] ke dalam cairan dan mengalirkan gelembung gas karbondioksida ke dalam
campuran tersebut.

Gas karbondioksida ini akan bereaksi dengan lime membentuk partikel-partikel kristal
halus berupa kalsium karbonat yang menggabungkan berbagai padatan supaya mudah
untuk dipisahkan. Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil, perlu dilakukan
pengawasan yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi.

Gumpalan-gumpalan yang terbentuk tersebut akan mengumpulkan sebanyak mungkin


materi-materi non gula, sehingga dengan menyaring kapur keluar maka substansi-
substansi non gula ini dapat juga ikut dikeluarkan. Setelah proses ini dilakukan, cairan
gula siap untuk proses selanjutnya berupa penghilangan warna.

Selain karbonatasi, teknik yang lain berupa fosfatasi. Secara kimiawi teknik ini sama
dengan karbonatasi tetapi yang terjadi adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat.
Fosfatasi merupakan proses yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan
menambahkan asam fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan di
atas.

h) Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya
mengandalkan pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-
kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular
[granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat
warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”, sebuah granula karbon
yang terbuat dari tulang-tulang hewan.

Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus
untuk menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat.
Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari
karbon.

Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang menghilangkan
lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan beberapa garam yang ada.
Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak diharapkan.

Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali
jika jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam
pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum diolah di panci
kristalisasi.

i) Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk
tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk
mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari
kristal-kristal dan cairan induk yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk
memisahkan keduanya.

Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci
yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas
sebelum dikemas dan/ atau disimpan siap untuk didistribusikan
2.3.2 Limbah Pabrik Gula
 Pucuk Tebu
Pucuk tebu adalah ujung atas batang tebu berikut 5-7 helai daun yang dipotong dari tebu
giling ataupun bibit. Diperkirakan dari 100 ton tebu dapat diperoleh sekitar 14 ton
pucuk tebu segar. Pucuk tebu segar maupun dalam bentuk awetan, sebagai silase atau
jerami dapat menggantikan rumput gajah yang merupakan pakan ternak yang sudah
umum digunakan di Indonesia.
 Ampas Tebu
Tebu diekstrak di stasiun gilingan menghasilkan nira dan bahan bersabut yang disebut
ampas. Ampas terdiri dari air, sabut dan padatan terlarut. Komposisi ampas rata-rata
terdiri dari kadar air : 46 – 52 %; Sabut 43 – 52 %; padatan terlarut 2 – 6 %. Umumnya
ampas tebu digunakan sebagai bahan bakar ketel (boiler) untuk pemenuhan kebutuhan
energi pabrik. Pabrik gula yang efisien dapat mencukupi kebutuhan bahan bakar
boilernya dari ampas, bahkan berlebih. Ampas yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk
pembuatan briket, partikel board, bahan baku pulp dan bahan kimia seperti furfural,
xylitol, methanol, metana, dll.
 Blotong
Pada proses pemurnian nira yang diendapkan di clarifier akan menghasilkan nira kotor
yang kemudian diolah di rotary vacuum filter. Di alat ini akan dihasilkan nira tapis dan
endapan yang biasanya disebut “blotong” (filter cake). Blotong dari PG Sulfitasi rata-
rata berkadar air 67 %, kadar pol 3 %, sedangkan dari PG. Karbonatasi kadar airnya 53
% dan kadar pol 2 %. Blotong dapat dimanfaatkan antara lain untuk pakan ternak,
pupuk dan pabrik wax. Penggunaan yang paling menguntungkan saat ini adalah sebagai
pupuk di lahan tebu.
 Tetes
Tetes (molasses) adalah sisa sirup terakhir dari masakan (massecuite) yang telah
dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga tak mungkin lagi
menghasilkan gula dengan kristalisasi konvensional. Penggunaan tetes antara lain
sebagai pupuk dan pakan ternak dan pupuk. Selain itu juga sebagai bahan baku
fermentasi yang dapat menghasilkan etanol, asam asetat, asam sitrat, MSG, asam laktat
dll.
 Asap
Telah disebutkan di atas hasil sampingan (limbah) pabrik gula cukup beragam. Agar
limbah ini tidak menjadi masalah bagi lingkungan sekitar, maka diperlukan suatu
pengelolaan terhadap limbah tersebut. Cara- cara yang bisa digunakan dalm pengolahan
limbah yaitu menetralkan limbah sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan , dan
dengan merubah limbah menjadi barang lain yang lebih bernilai tinggi.
2.4 Strategi Pemasaran
Kesadaran para pemasar terhadap pentingnya merek patut diacungi jempol. Demi
memenangkan kompetisi pasar yang ketat, para pemasar mulai rajin membangun merek
(branding). Termasuk, untuk produk komoditas Gulaku.
Sejak dua tahun lalu, Gulaku intensif membangun merek. Sama seperti tepung terigu
Bogasari yang memiliki puluhan merek, atau tepung beras Rose Brand, Grup Sugar,
produsen Gulaku, pun berusaha membangun merek yang kuat, unik dan mudah diingat.
Perusahaan yang dulu dimilili Grup Salim dan tiga tahun lalu diakusisi Grup Makindo
(Keluarga Gunawan Yusuf) ini benar-benar serius mengembangkan merek. Terbukti,
melalui manajemen baru, Grup Sugar langsung mengambil inisiatif pemasaran dengan
melakukan kampanye besar-besaran saat peluncuran perdananya. Gulaku dipromosikan
di televisi dalam bentuk spot-spot iklan di jam-jam utama. Selain itu, Gulaku juga
melakukan in-store promotion, terutama dengan mem-book space-space premium di
ritel modern seperti Carrefour dan Superindo.
Bagaimanapun, langkah Gulaku merupakan suatu terobosan. Sebelumnya, di kalangan
pemain gula, branding masih jauh dari bayangan. Umumnya pemasaran gula masih
dilakukan layaknya produk komoditas, sehingga yang terjadi hanya trading atau
kegiatan penjualan. Kegiatan promosi melalui televisi atau media above the line
misalnya, tidak ada satu pun pemain yang melakukan sebelum Gulaku. Karena itu, dari
sisi timing, branding Gulaku sungguh tepat karena pemain lain belum memulai. Ini bisa
dilihat sebagai upaya mencuri start dalam strategi pemasaran .
Dari sisi pengemasan, Gulaku cukup cerdik. Gulaku dikemas dalam dua pilihan, 1 kg
dan 0,5 kg. Kemasan kecil-kecil akan mempercepat proses branding selain
memudahkan konsumen menjangkau dari sisi harga.Perusahaan berusaha mengemas
gulaku secara menarik dan bersih,sedangkan produknya hiegenis dan berkualitas .
Sasaran Gulaku bukan semata-mata konsumen yang sadar harga, karena harganya cuma
berbeda tipis, Rp 300-400/kg. Targetnya, segmen yang memburu higienitas. “Jadi,
segmentasinya lebih ke segmen yang (punya) perhatian terhadap higienitas dan yang
belum. Cuma, kalau bicara yang sadar higienitas, otomatis memang segmen menengah-
atas karena lebih care,” Djoko meyakinkan. Saat ini Gulaku kemasan satu kilogram
dijual ritel modern dengan kisaran harga Rp 4.250-4.500.
Tak mengherankan, dengan strategi itu, Gulaku terbilang sukses. Sumber SWA yang
tahu banyak Gulaku menjelaskan, proses pemasaran Gulaku melebihi target yang
diharapkan. Yang semula ditargetkan bisa dicapai dalam 1,5-2 tahun ternyata bisa
direalisasi dalam lima bulan. Sukses ini tak hanya dalam artian tingkat penetrasinya ke
pasar (outlet), tetapi juga dari penerimaan konsumen. Dulu Grup Sugar hanya
menargetkan 4.000 ton sebulan, tapi realisasinya rata-rata bergerak dari 5.000 hingga
5.500 ton.
Lebih dari itu, Gulaku kini menjadi pilihan utama kalangan ibu-ibu rumah tangga
perkotaan. Malahan, Gulaku langsung menggeser produk-produk home brand di pasar
modern seperti Hero. Gulaku ditujukan buat konsumen rumahan massal (home
customer). Grup Sugar sendiri juga memasarkan gula industri (biasanya ukuran 50 kg)
melalui PT Indolampung Perkasa dan PT Gula Putih Mataram.
2.6 Distribusi
Dari sisi distribusi, Gulaku juga terbilang cepat menyebar, karena distributornya dikenal
sebagai salah satu distributor yang masif yang juga sukses memasarkan minyak goreng
Filma. Perlu dicatat, meskipun Gulaku terbilang amat sukses, pangsa pasarnya baru 5%.
Maklum, pasar gula pasir memang amat besar dan sejauh ini masih dikuasai gula curah
(ketengan) dan gula untuk segmen industrial. “Distribusi Gulaku sudah menasional,”
kata Djoko. Saat awal peluncuran, pemasaran Gulaku masih dipusatkan di Pulau Jawa,
sedangkan kini PT Intermas Tata Trading memeratakan pendistribusiannya hingga ke
Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Namun menurut sumber SWA, Gulaku tak terlalu
ngotot di wilayah Sumatera Utara, Riau dan Pontianak (Kalimantan Barat) karena di
daerah-daerah tersebut cukup banyak beredar gula selundupan.
Terlepas dari sukses penjualan itu, dari sisi kemampuan membaca visi, branding Gulaku
bisa dimengerti karena ke depan jumlah gerai modern, baik minimarket, supermarket
maupun hypermarket, akan bertambah pesat. Sudah pasti, di gerai-gerai modern,
kehadiran produk-produk bermerek menjadi satu-satunya pilihan karena amat kecil
kemungkinan para pengelola pasar modern menjual gula secara ketengan. Selain itu,
jumlah pemain gula kemasan di pasar modern tentu bakal bertambah. Konsumen
dihadapkan pada banyak pilihan. Memiliki produk dengan merek yang kuat dan kualitas
prima, menjadi keharusan untuk merebut hati konsumen.
Apalagi, jika ditambah dengan tawaran kemasan yang bagus, dalam bentuk kecil-kecil,
akan lebih mudah meningkatkan brand image produk. Bagaimanapun, jumlah anggota
masyarakat menengah-atas perkotaan yang menyukai produk higienis dalam kemasan
bersih dan rapi makin banyak. Mereka tak membeli model ketengan karena amat sadar
gengsi. Mereka juga cukup perhatian soal kebersihan dan tampilan produk.
Kendati demikian, sejauh ini tak sedikit pengamat yang meragukan branding Gulaku,
baik dari sisi kesuksesan maupun strateginya. Terutama, dengan melihat kenyataan
bahwa di pasar gula pasir, nuansa komoditas lebih kental dibanding produk-produk lain.
2.7 Analisis SWOT
1. Kekuatan / Strength
Kekuatan / Strength (S) yang dimiliki Perusahaan GULAKU (Sugar Group Companies)
adalah sangat kuat dikarenakan memiliki mutu Bahan baku yang baik sehingga Produk
(Gulaku) yang dihasilkan bermutu dan berkualitas, memiliki warna gula pasir yang
putih bersih dan benih di bandingkan dengan Kualitas gula yang ada, sehingga banyak
konsumen yang tertarik.
2. Kelemahan/ Weakness
Kelemahan/ Weakness (W) pada Perusahaan GULAKU (Sugar Group Companies)
adalah harga yang pasarkan lebih mahal di bandinkan dengan harga-harga Gula merk
lainnya, sehingga untuk konsumen kurang berminat dengan Produk ini dalam hal
harganya.
3. Peluang / Opportunity
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan semakin bagus dimana pada tahun
2011 mencapai 6.5 persen. Peluang lain tentu saja berupa kekayaan alam indonesia yang
begitu melimpah. Baik kekayaan hasil alam seperti pertanian, perkebunan,
pertambangan, wisata alam, dan seterusnya. Begitu juga dengan jumlah penduduk
Indonesia yang mencapai 259 juta pada tahun lalu.
4. Tantangan / Threats
Banyaknya Perusahan-perusahan yang membuat dan mengolah Gula membuat
persaingan semakin banyak, dalam perusahaan Gula lainnya banyak yang lebih
mengutamakan harga yang terjankau agar konsumen tertarik tetapi dengan hasil produk
yang kurang baik, sedangkan, dalam Perusahaan GULAKU (Sugar Group Companies)
lebih mengutamakan mutu dan kualitas, jadi tergantung pada konsumen ingin memilih
yang mana, jika lebih mengutamakan harga maka Perusahaan GULAKU (Sugar Group
Companies) akan terancam.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sugar Group Companies adalah salah satu perkebunan Tebu Indonesia Gula terbesar
yang terletak di propinsi Lampung dan saat ini di dukung oleh 12 kantor cabang di
seluruh Indonesia. Yang menggunakan Bahan baku Tebu yang baik sehingga dapat
menghasilkan Gula yang memiliki nilai mutu tinggi dan berkulitas dengan cara
mengolah atau pembuatan Produk yang terjamin.
3.2 Saran
Ketika mengkonsumsi suatu Produk kita tidak hanya memperhatikan Harga yang tertera
saja teptapi meperhatikan mutu dan kualitas dari produk tersebut karena dengan
memperhatikan hal tersebut kita berarti mengkonsumsi Produk yang baikseperti yang di
miliki Produk Gulaku pada PT.Sugar Grup Companies