Anda di halaman 1dari 76

LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR

“ PRAKTIKUM 2 ”
SEDIAAN STERIL THIAMIN INJECTION
INJEKSI DOSIS TUNGGAL 5 ML

NAMA NIM
AINELMA YANTI (PO713251171054)
ALYA NAMIRA (PO713251171057)
CHILVIA JULIA PADANG (PO713251171062)
ELSA.A (PO713251171065)
HURIA (PO713251171070)
KHAIRUNNISA.S (PO713251171073)

KELAS/KELOMPOK : B/ 3/ DIII
PRAKITUKUM : RABU
PEMBIMBING : MIZNAWATI, AMD.FARM

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2018
LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR

“ PRAKTIKUM 3 ”
SEDIAAN STERIL NEUROBION INJECTION
INJEKSI DOSIS GANDA

NAMA NIM
AINELMA YANTI (PO713251171054)
ALYA NAMIRA (PO713251171057)
CHILVIA JULIA PADANG (PO713251171062)
ELSA.A (PO713251171065)
HURIA (PO713251171070)
KHAIRUNNISA.S (PO713251171073)

KELAS/KELOMPOK : B/ 3/ DIII
PRAKITUKUM : RABU
PEMBIMBING : IRSAN JAYA, AMD.FARM

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2018
A. NEUROBION

B. MASTER FORMULA

1. Formula Asli

Neurobion injeksi (iso 48 halaman 594)

Nama Resmi : NEUROBION INJECTION

Nama Lain : injeksi neurobion

Komposisi : Tiap 3 ml mengandung

- Vitamin B1

- Vitamin B6

- Vitamin B1

Dosis : sehari : 1 x penyuntikan = 3 ml

Kasus ringan 2 atau 3 x seminggu = 6-9 ml

Penyimpanan : dalam wadah dosis tunggal atau ganda ,terlindung

dari cahaya

Catatan : 1) pH 3,0 – 5,0

2) Disterilkan dengan cara A atau C

2. Rancangan Formula

R/injeksi Neurobion @9 ml/vial No.VI

Tiap vial mengandung :

- Vitamin B1

- Vitamin B6

- Vitamin B12

- Nipagin
- Aqua pro injeksi

3. Master Formula

Nama produk : Neurosuka Injection

Nama pabrik : PT.Sanjaya Sukamuljo

Jumlah produk : 1 box @ 6 ml

No.registrasi : DKL1800300343AI

No.batch : 1803003

Nama Nama produk

pabrik
Tgl.formulasi Tgl.produksi Dbuat oleh:

Kode Nama bahan Kegunaan perdos perbatch

bahan

B1-001 Vit.B1 Zat aktif 100 mg 1800 mg

B6-002 Vit.B6 Zat aktif 100 mg 1800 mg

B12-003 Vit.B12 Zat aktif 1 mg 18 mg

NPG-004 Nipagin Zat aktif 3 mg 54 mg

AQ-005 Aqua pro Pelarut Ad 9 ml Ad 54 ml

injeksi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Injeksi adalah sediaan steril berupa emulsi atau suspensi atau

serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum

digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek kedalam jaringan

tubuh atau melalui kulit atau selaput lendir.

Produk steril seperti sediaan paranteral bias diberikan dengan

berbagai rute.Salah satu contoh sediaan paranteral yaitu injeksi dosis

ganda atau vial. Pada umumnya pemberian secara paranteral dilakukan

bila diinginkan kerja obat yang lebih cepat, seperti pada keadaan gawat,

bila penderita tidak sadar, tidak dapat atau tidak tahan penerima

pengobatan secara oral.

Injeksi dosis ganda diracik dengan melarutkan, mengemulsikan,

atau mesuspensikan sejumlah obat kedalam wadah dosis ganda atau vial.

Injeksi ini harus dibuat dengan tertentu menggunakan pengawet, yang

bertujuan agar sediaan injeksi dapat bertahan lama dan dijaga

kestabilannya.

Salah satu injeksi yang dibuat dalam dosis ganda ialah injeksi

neurobion. Injeksi neurobion ini dibuat untuk pasien kekurangan vitamin

B1, vitamin B6 , dan vitamin B12. Neurobion ini digunakan untuk

membantu kebutuhan muktivitamin pada masa pertumbuhan,pengobatan


dan pencegahan defisiensi vitamin pada masa pertumbuhan, kekurangan

nutrisi atau pada masa penyembuhan.

B. Tujuan Praktikum

1. Mengetahui praformulasi maupun formulasi suatu sediaan steril

dosis ganda

2. Mengetahui cara pembuatan, sterilisasi, pembagian suatu sediaan

obat paranteral khususnya injeksi dosis ganda.

C. Manfaat Praktikum

Untuk mengetahui pembuatan injeksi dosis ganda (vial) Neurobion

dengan cara sterilisasi.

D. Perinsip Percobaan

Percobaan injeksi dosis ganda neurobion dengan menggunakan

wadah vial disterilisasi akhir dan dibuat dengan penambahan bahan-

bahan yang diperlukan.


BAB II

TUJUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Sediaan injeksi dosis ganda adalah sediaan injeksi paranteral yang

mengandung dosis untuk lebih dari satu kali pemakaian yang

dipermulasikan sedemekian rupa sehingga mampu menjaga kualitasnya

untuk beberapa kali pemakaian. Volume sediaan dosis ganda haruslah

disesuaikan dengan volume dosis tunggalnya, sehingga tidak terdapat

volume sisa tidak digunakan, misalnya 1 kali penyuntikan adalah 3

ml,maka volume dosis gandanya 9 ml, walaupun vial yang tersedia

adalah 10 ml.

Sediaan steril injeksi dapat berupa ampul ataupun berupa vial.

Injeksi vial adalah suatu bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan

pada dosis ganda dan memiliki kapasitas atau volume 0,5 ml – 100 ml.

Injeksi vial pun dapat berupa takaran tunggal atau ganda dimana

digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan atau suspensi

dengan volume sebanyak 5 ml ataupun lebih.

Syarat-syarat injeksi dalam wadah vial adalah sebagai berikut:

1. Steril, yaitu sediaan vial harus bebas dari mikroorganisme yang

bersifat patogen yang dapat mengurangi khasiat sediaan vial.

2. Bebas bahan partikulat, yaitu bebas dari bahan asing atau bahan yang

tidak larut agar tidak terjadi penyumbatan pada pembuluh darah obat

saat dibunakan.
3. Mengandung zat pengawet, sediaan vial memungkinkan

pengambilan secara berulang, untuk itu, harus digunakan bahan

pengawet untuk mempertahankan khasiat zat aktif.

4. Stabil, tidak berubah khasiat obat setelah pengambilan obat secara

berulang kali dan tidak berubah bentuk atau pH dari sediaan vial.

Injeksi neurobion diindikasikan untuk pasien yang kekurangan

vitamin B1 (Thiamini Hydrochloridum), vitamin B6 (Pyridoxine

Hydrochloridum), dan vitamin B12 (Chyanocobolamin). Kelompok

vitamin ini terdiri dari sebelas senyawa yang sangat berbeda dalam

struktur kimiawi.

Vitamin B1 ini berfungsi metabolisme karbohidrat. Thiamini juga

diperlukan untuk membuat kerja jantung menjadi normal. Membuat

kerja obat lebih baik, serta menormalkan fungsi saraf tubuh. Selain

defisiensi thiamini, juga digunakan pada neurolgin sering kali

dikombinasikan dengan pridoksin (vitamin B6) dan vitamin B12 dalam

dosis tinggi. Dalam hati, pridoksin bekerja dengan bantuan ko-faktor.

Zat ini berperan penting dalam ko-enzim pada metabolisme protein dan

asam amino.

Kekurangan vitamin B1,B6,B12 seperti beri-beri neuritis parifer

gejalanya berupa akibat hanbatab kuat dari pembakaran glukosa,

gangguan keseimbangan dan sebagainya.


B. Uraian Bahan

1. Thiamini Hcl (FI.Eds.III Hal :598)

Nama Resmi : THIAMINI HYDROCHLORIDUM

Nama Lain : - Vitamin B1

- Aneurin Hcl

- Thiamin Hcl

- Pharmaneurin

- Hydrochloras aneurini

Pemerian : Hablur kecil; bau khas ; mirip ragi ; rasa

pahit.

Kelarutan : Mudah larut dalam air, sukar larut dalam

etanol ( 95%) P, praktis tidak larut dalam

eter P, dan dalam benzene P; dan larut dalam

gliserol P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari

cahaya

Khasiat : Antineuritikum (sebagai penekan fungsi

sarap pusat), komponen vitamin B

kompleks.

2. Pyridoksin Hcl (FI.Eds III Hal: 541)

Nama Resmi : PYRIDOXINI HYDROCHLORIDUM

Nama Lain : piridoksina hidroklorida,vitamin B6


Pemerian : Hablur putih tidak berwarna, atau serbuk

hablur putih ; tidak berbau; rasa asin.

Kelarutan : Mudah larut dalam air; sukar larut dalam

etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam eter

P.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung

dari cahaya

Khasiat : Komponen vitamin B kompleks

3. Cyanocobolamin (FI. Eds.III,Hal : 185)

Nama Resmi : CYANOCOBALAMINUM

Nama Lain : - Sianokobalamin

- Cobalamine

- Vitamin B12

- Cobione

- Rubramina

Rumus Molekul : C63H88CON14O14P

BM : 1355,35

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur; merah tua; tidak

berbau. Bentuk anhidrat sangat higroskopik

Kelarutan : Agak sukar larut dalam air dan dalam

etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam

kloroform P, dalam eter P dan aseton P.

Penyimpanan : DWTB, terlindung dari cahaya


Khasiat : Vitamin

4. Nipagin (FI.Eds III, Hal; 378)

Nama Resmi : METHYLIS PARABENUM

Nama Lain : - Metil paraben

- Nipagin M

Rumus Molekul : C8H8O3

BM : 152,15

Pemerian : serbuk hablur halus; pahit; hamper tidak

berbau; tidak mempunyai rasa kemudian

agak membakar diikuti rasa tebal.

Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20

bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol

(95%)P dan dalam 3 bagian aseton P

Penyimpanan : DWTB

Khasiat : zat pengawet

5. API (FI.Eds.III,Hal : 97)

Nama Resmi : AQUA PRO INJECTION

Nama Lain : Aqua untuk injeksi, Api, water for injection

Pemerian : Keasaman, kebasaan, ammonium, besi,

tembaga, timbale, kalsium, klorida, nitrat,

sulfat, zat tenoksidasi menurut syarat yang

terasa pada aqua destillata.

Penyimpanan : DWTB
Khasiat : Sebagai pelarut untuk injeksi (zat tambahan

NEURO SUKA INJECTION

Indikasi : 1) untuk pengobatan kekurangan vitamin

B1,B6,dan B12

2) Antineuritikum

3) Menormalkan kerja jantung

4) Memperbaiki metabolisme tubuh

Kontra Indikasi : Hipertensitif

Efek samping : Pemakaian Vitamin B6 dosis besar dalam

jangka waktu lama, dapat menyebabkan

sendrama neuropati

Dosis : - Sehari 1 x penyuntikan = (3 ml)

- Kasus ringan 2 atau 3 x seminggu (6-9

ml)

Peringatan perhatian : Sebaiknya tidak digunakan untuk pasien

yang sedang menerima terapi levadopa

Intraksi obat :-

Penyimpanan : simpan pada suhu dibawah 25oC,

terlindung dari cahaya

Cara Kerja Obat :


BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Alat yang digunakan

a. Erlenmeyer

b. Spoit

c. Wadah vial

d. Gelas ukur

e. Beaker gelas

f. Gelas arloji

g. Sendok porselin

h. Corong gelas

i. Batang pengaduk

j. Pipet tetes

k. Kain putih

l. Kertas pH

2. Bahan yang digunakan

a. Thiamin Hcl

b. Pyridoxini Hcl

c. Cyanocobalamin

d. Nipagin

e. Aqua pro injeksi


B. Perhitungan

Vitamin B1 : mudah larut dalam air (1-10 ml)

Vitamin B6 : mudah larut dalam air (1-10 ml)

Vitamin B12 : mudah larut dalam air (30-100 ml)

 Vitamin B1 : 100 mg

 Vitamin B6 : 100 mg

 Vitamin B12 : 1 mg

a) Volume perhitungan
100 𝑚𝑔
- Vitamin B1 = 𝑥 10 𝑚𝑙 = 1 𝑚𝑙
100 𝑚𝑔

100 𝑚𝑔
- Vitamin B6 = 𝑥 10 𝑚𝑙 = 1 𝑚𝑙
1000 𝑚𝑔

1 𝑚𝑔
- Vitamin B12= 1000 𝑚𝑔 𝑥 100 𝑚𝑙 = 1 𝑚𝑙

Σ volume penyuntikan : 1 ml + 1 ml + 0,1 ml

: 2,1 ml => 3 ml

b) Perhitungan volume pembuatan

Volume / vial : 3 x 3 ml = 9 ml

Volume 6 vial : 6 x 9 ml = 54 ml

Volume penambahan : 6 x 0,5 = 3 ml

Volume pemblas ad 70 ml

c) Perhitungan % b/v

70 𝑚𝑙
- % b/v vitamin B1 : 𝑥 100 𝑚𝑔 = 2333,33 𝑚𝑔
3 𝑚𝑙
100 𝑚𝑙
: 𝑥 2333,33 𝑚𝑔 = 3333,3285 𝑚𝑔 =
70 𝑚𝑙

3,3333 g/100 ml= 3,3333 % b/v

70 𝑚𝑙
- % b/v vitamin B6 : 𝑥 100 𝑚𝑔 = 2333,33 𝑚𝑔
3 𝑚𝑙

100 𝑚𝑙
: 𝑥 2333,33 𝑚𝑔 = 3333,3285 𝑚𝑔 =
70 𝑚𝑙

3,3333 g/100 ml= 3,3333 % b/v

70 𝑚𝑙
- % b/v vitamin B6 : 𝑥 1 𝑚𝑔 = 23,3333 𝑚𝑔
3 𝑚𝑙

100 𝑚𝑙
: 𝑥 23,3333 𝑚𝑔 = 33,3332 𝑚𝑔 =
70 𝑚𝑙

0,0333 g/100 ml= 0,0333 % b/v

d) Perhitungan tonisitas

1. Rumus I (PTB)

- PTB vitamin B1 = 0,139

- PTB vitamin B6 = 0,213

- PTB vitamin B12 =

PTB vitamin B12

C63+ CN-

Tri univalent =

L.ISO = 6,0
𝑤 𝑥 1000
∆Tf = L.ISO x 𝐵𝑚 𝑥 𝑣

1 𝑥 1000
= 6,0 x 1355,35 𝑥 100

6000
= 1355,35
= 0,0443
- PTB Nipagin
10 𝑥 1000
∆Tf = L.ISO x 𝐵𝑚 𝑥 𝑣

1 𝑥 1000
= 2,0 x 152,15 𝑥 100

2000
= = 0,1314
152,15

0,52−(𝑣𝑖𝑡.𝐵1 + 𝑣𝑖𝑡.𝐵6+𝑣𝑖𝑡.𝐵12+𝑛𝑖𝑝𝑎𝑔𝑖𝑛)
B=
𝑁𝑎𝐶𝑙

0,52 [(𝑏1.𝑐1)+ (𝑏2.𝑐2)+ (𝑏3.𝑐3)+ (𝑏4.𝑐4)]


= 𝑏𝑠

0,52−[(0,139 𝑥 3,3333)+ (0,213 𝑥 3,3333)+ (0,0443 𝑥 0,0333)+ (0,1314 𝑥 0,1)]


0,576

0,52 [ 0,4633+0,7099+0,0015+0,0131
= 0,576

0,52−1,1878
= 0,576

= -1,1594 (Hipertonis)

2. Rumus II Ekivalensi

- Ekivalensi vitamin B1 : 0,25

- Ekivalensi vitamin B2 : 0,53

- Ekivalensi vitamin B12


𝐿.𝐼𝑆𝑂
Ekivalensi vit.B12 = 17,19 x 𝐵𝑀

6,0
= 17,19 x 1355,35

= 17,19 x 0,0044

= 0,0756

- Ekivalensi Nipagin
𝐿.𝐼𝑆𝑂
Ekivalensi nipagin = 17,19 x 𝐵𝑀

2,0
= 17,19 x 152,15

= 0,2260

W = 0,9 – [(% b/v x E1) + (% b/v x E2) + (% b/v x E3) + (% b/v x

E4)]

= 0,9 – [(3,3333 x 0,25) + (3,3333 x 0,53) + (3,3333 x 0,0756) +

(0,1 x 0,226)]

= 0,9 – [(0,8333) + (1,7666) + (0,0025) + (0,0226)]

= 0,9 – 2,625

= -1,725 (hipertonis)

3. Faktor disosiasi

𝑚ℎ 𝐹𝐴 𝐹𝐵 𝐹𝐶 𝐹𝐷
h= [0,28 – ( 𝑀𝐴 𝑥 𝑎 + ( 𝑀𝐵 𝑥 𝑏 + ( 𝑀𝐶 𝑥 𝑐 + ( 𝑀𝐷 𝑥 𝑑)]
𝑡ℎ

1,5 1,5
= 32 x [0,28 – (𝑀𝐴 𝑥 33,33 + (205,64 𝑥 33,33 +

1,5 1,5
(1355,35 𝑥 0,333 + (152,15 𝑥 1 )]

= 32 x [0,28 – (0,1482 + 0,2431 + 0,0004 + 0,0099)]

= 32 x [0,28 – 0,4016]

= 32 x (-0,1216)

= -3,8912 (dalam 100 ml)

4. Rumus kataline
𝑏
% 𝑚
W = [ R – ( 𝑚𝑣 x k )] 𝑘
3,33 3,33 0,03
W = [0,031 – (337,27 x 1,8 + x 1,8 + x 1,3 +
200,64 1393,37

1,5 50,5
x 0,2)]
152,15 2

W = [0,031 – (0,017 + 0,029 + 0,00022) x 29,25

W = (0,031 – (0,0482 ) 29,25

W = -0,0172 x 29,25

W = -0,5031 (hipertonis)

e) Perhitungan bahan yang dipakai

70 𝑚𝑙
1. Vitamin B1 = 𝑥 100 𝑚𝑔 = 2,333,33 𝑚𝑔 = 2,3333 𝑔
3 𝑚𝑙

70 𝑚𝑙
2. Vitamin B6 = 𝑥 100 𝑚𝑔 = 2,333,33 𝑚𝑔 = 2,3333 𝑔
3 𝑚𝑙

70 𝑚𝑙
3. Vitamin B12= 𝑥 1 𝑚𝑔 = 23,3333 𝑚𝑔 = 0,0233 𝑔
3 𝑚𝑙

70 𝑚𝑙
4. Nipagin = 𝑥 3 𝑚𝑔 = 70 𝑚𝑔 = 0,07 𝑔
3 𝑚𝑙

5. Aqua pro injeksi ad 70ml

f) Perhitungan pengenceran

Vitamin B12 = 23,33 g

50 𝑚𝑔
Fp = 23,33 𝑚𝑔 = 2,14 = 3 𝑚𝑙

23,33 𝑚𝑔
Hp= = 3 𝑚𝑙 = 1,3998 𝑚𝑙 = 1,4 𝑚𝑙
50 𝑚𝑔

Sp= 3 ml – 1,4 ml=1,6 ml

C. Cara kerja

1. Disiapkan alat dan bahan

2. Dibuat pengenceran vitamin B12 0,0233 g


- Ditimbang vitamin B12 sebanyak 50 mg,dimasukkan ke dalam

Erlenmeyer/tabung reaksi yang telah dikalibrasi

- Ditambahkan aqua pro injeksi hingga tanda

- Diambil hasil pengenceran vitamin B12 kedalam Erlenmeyer

3. Dimasukkan hasil pengenceran vitamin B12 ke dalam Erlenmeyer

4. Ditimbang nipagin sebanyak 70 mg, dimasukkan ke dalam

Erlenmeyer II ditambahkan air pro injeksi kurang lebih 10 ml

panaskan di atas penangas air,dimasukkan ke dalam Erlenmeyer I

5. Ditimbang vitamin B1 dimasukkan ke dalam Erlenmeyer

6. Ditimbang vitamin B6 sebanyak 2,3333 g dimasukkan ke dalam

Erlenmeyer, ditambahkan API kurang lebih 5 ml,dikocok.

7. Diukur pH larutan optimal

8. Dicukupkan volume hingga 70 ml dengan API

9. Disaring larutan, kemudian dibagi sebanyak 6 vial, sebanyak volume

pervial + volume larutan penambahan (9 ml + 0,5 ml)

10. Ditutup vial


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan

Jumlah sediaan yang ngin Injeksi jadi Injeksi warna

di buat rusak

6 6 - Pink

bening

B. Pembahasan

Pada praktikum ini,telah dibuat injeksi neurobion dalam wadah dosis

ganda volume 9 ml per vial. Untuk injeksi neurobion ini dibuat dengan

menggunakan aqua pro injeksi sebagai kosolven untuk melarutkan zat

aktif,dalam hal ini yaitu thiamin Hcl, pyridoxin Hcl,dan cyanocobalamin.

Pada pembuatan injeksi neurobion ini digunakan aqua pro njeksi sebagai

pelarut karena komponen zat aktif neurobion ini (Thiamin Hcl,pyridoxin

Hcl dan cyanocobalamin) memilki larutan yang mudah larut dalam

air,namun setelah bahan dicampur dengan bantuan pemanasan,kelarutan

zat ini dapat meningkat. Berdasarkan hasil perhitungan, tonisitasnya,

injeksi neurobion yang dibuat memilki tonisitas yang hiper (hipertonis),

sehngga tidak diperlukan lagi zat pengisotonis untuk menambah

tonisitasnya. Dimana jika suatu larutan injeksi yang memiliki tonisitas

yang hipertons disuntikkan kedalam tubuh, air dalam sel akan ditarik
keluar, yang menyebabkan mengerutnya sel, meskipun demikian tubuh

masih dapat mengimbangi penyimpanan-penyimpanan dar isotonis hingga

10%, dengan kata lain mengerutnya sel akibat penyuntikkan larutan injeksi

yang hpertonis hanya bersfat sementara. Sedangkan bila larutan injeksi

yang hipertonis disuntikkan kedalam tubuh, maka air diserap masuk

kedalam sel-sel tubuh yang mengakibatkan sel-sel akan mengembang dan

dapat pecah. Maka dari itu dalam pembuatan injeksi sedapat mungkin

dibuat larutan yang isotonis.

Pada pembuatan injeksi digunakan dosis yang berbeda dengan obat oral,

dikarenakan pada penggunaan obat oral diberikan melalui mulut dan

ditelan, sehingga mekanisme pemberian secara peroral yaitu obat

didistribusikan keseluruh tubuh lalu masuk keperedaran darah. Obat

terlebih dahulu harus diabsorpsi pada saluran cerna dan belum tentu semua

obat dicerna dengan baik oleh tubuh. Sedangkan penggunaan obat melalui

suntukan langsung masuk kedalam cairan tubuh (darah) tanpa perlu

diabsorpsi lagi oleh saluran cerna sehingga efek yang dihasilkan sangan

cepat. Namun penggunaan obat suntik juga memilik kerugian yaitu resiko

yang sangat besar karena tidak dapat dilakukan bila terjadi kesalahan.

Injeksi dosis ganda dibuat dengan wadah vial dimana dosis yang dibuat

lebh dari satu kali pemakaian, maka dari itu pada injeksi dosis ganda

ditambahkan zat pengawet karena adanya pengambilan larutan injeksi

secara berulang. Untuk tu harus digunakan bahan pengawet untuk

mempertahankan khasiat zat aktif. Pada pembuatan injeksi neurobion ini


pengawet yang digunakan adalah metil paraben. Penggunaan metil

paraben pada sedan injeksi ini dapat larut dalam air dan metil paraben

merupakan bahan pengawet yang cocok untuk larutan dengan pembawa

air. Adapun alas an lain digunakan metil paraben sebagai pengawet pada

pembuatan injeksi neurobion ini ialah memiliki aktivitas anti mikroba

yang kuat dan luas.

Pada praktikum injeksi vial ini, sebelum dilakukan pengerjaan sediaan,

terlebih dahulu wadah vial dan tutup vial disterilkan. Pensterilnya ini

memerlukan perlakuan khusus, dimana terlebih dahulu untuk wadah vial

dibersihkan dalam larutan Hcl encer selama 15 menit hingga 30 menit,

pencucian dengan Hcl encer tersebut dimasukkan untuk menghilangkan

senyawa alkali dari permukaan gelas. Setelah itu, wadah maupun penutup

vial dibersihkan untuk menghilangkan sulfur dan pengobatan lainnya

dengan cara . dimasak selama 15 menit didalam larutan 2% natrium

karbonat yang mengandung 0,1 % natrium laurel sulfat, lalu dibilas

dengan aquadest setelah kering , disterilkan dengan wadah lain pada oven.

Dalam proses pembuatan injeksi neurobion ini, semua alat yang akan

digunakan terlebih dahulu disterilkan. Sebelum semua bahan

dihomogenkan atau dilarutkan dalam satu wadah, terlebih dahulu dibuat

pengenceran cynocobalamin (vitamin B12) dengan menimbang zat aktifnya

sebanyak 50 ml lalu dimasukkan kedalam wadah Erlenmeyer. Kemudan

ditambahkan aqua pro injeksi hingga 3 ml, hasil pengenceran dimasukkan

ke dalam wadah Erlenmeyer, lalu diikuti dengan menimbang vitamin B1


dan vitamin B6 kemudan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer yang berisi

hasil pengenceran vitamin B12. Setelah itu ditambahkan aqua pro injeksi

kedalam Erlenmeyer kurang lebih 10 ml untuk pengenceran. Untuk

nipagin sebelum dihomogenkan bersama komponen zat aktif, terlebih

dahulu dilarutkan terpisah lalu dipanaskan di atas penangas air hingga

seluruh nipagin larut, setelah larut dan didnginkan bahkan dicampurkan

atau ditambahkan kedalam Erlenmeyer. Diukur pH optimalnya pada saat

pengukuran pH, pH yang diperoleh adalah 5,0 dengan kata lain telah

memenuhi persyaratan pH optimal untuk injeksi neurobion yakni 3,0

sampai 5,0 sehingga tidak diperlukan lagi bahan penambah untuk

menaikkan ataupun menurunkan pHnya. Setelah pH optimal dperoleh,

dicukupkan volume hingga 70 ml, lalu dihomogenkan dan disaring

kemudian diukur sebanyak 9,5 ml untuk dimasukkan kedalam vial. Setelah

dibagi sebanyak 6 vial, vial lalu ditutup dengan tutup karetnya lalu ditutup

dengan aluminium voil.

Untuk injeksi neurobion, dapat disterilkan dengan cara sterilisasi A atau

C. Namun pada praktikum ini digunakan sterilisasi cara A. Hal tersebut

dilakukan karena sterilisasi A merupakan sterilisasi yang lebih sederhana

dan mudah pengerjaannya dibandingkan dengan sterilisasi cara C (dengan

penyaringan bakteri steril) karena telah efektif untuk mensterilkan materi-

materi yang tidak tahan panas, menggunakan penyaring terkutu, tidak

dapat menyaring virus, mempunyai kecendrungan mengabsorpsi beberapa

senyawa aktif tertentu selama proses penyaringan dan kemungkinan


kerusakan bentuk penyaring sehingga kesterilan hasil yang diperoleh tidak

pasti.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada praktikum ini, dibuat injeksi dosis ganda neurobion dengan zat

aktif vitamin B1, vitamin B6, dan vitamin B12, dimana neurobion ini

diindikasikan untuk pengobatan kekurangan vitamin B1, vitamin B6,

vitamin B12, memperbaiki fungsi syarat pusat, meneruskan kerja jantung

serta memperbaiki mekanisme tubuh.

Berdasarkan perhitungan tonisitas, injeksi neurobion yang didapat ialah

memiliki sifat hipertonis (-1,1594) sehingga tidak diperlukan lagi zat

pengisotonis. Jumlah vial yang dibuat ialah 6 vial untuk pemakaian dosis

ganda sehingga ditambahkan methyl paraben sebagai pengawet untuk

mempertahankan khasiat zat aktif akibat pengambilan larutan injeksi

secara berulang.

B. Saran

Di harapkan kepada praktikum agar berhati-hati pada saat penutupan vial

menggunakan alat.
DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen

kesehatan RI.

Dirjen POM. 1999. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen

kesehatan RI.

ISFI. 2013. ISO Indonesia Volume 48. Jakarta : ISFI.

Arief. Raymond. dkk. 2009. Buku Praktikum Farmasi. GG.


LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR

“ PRAKTIKUM 4 ”
SEDIAAN STERIL NACL 0,9 %
INFUS INTRAVENA

NAMA NIM
AINELMA YANTI (PO713251171054)
ALYA NAMIRA (PO713251171057)
CHILVIA JULIA PADANG (PO713251171062)
ELSA.A (PO713251171065)
HURIA (PO713251171070)
KHAIRUNNISA.S (PO713251171073)

KELAS/KELOMPOK : B/ 3/ DIII
PRAKITUKUM : RABU
PEMBIMBING : IRSAN JAYA, AMD.FARM

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2018
A. Infus intra vena 0,9%

B. Master formula

1. Formula asli

Injeksi Nacl (fn 78 hal ; 203)

Nama resmi : NATRII CHLORIDI INJECTION

Nama lain : injeksi natrium klorida, injeksi Nacl

Komposisi : Tiap 500 ml mengandung:

Natriichloridum 4,5g

Aqua pro injeksi ad 500ml

Keterangan :

1) ph 4,5 sampai 7,0

2) tidak boleh mengandung bakterisida

3) mengandung ion klorida dan ion natrium

masing-masing 154 MEq per liter

4) isotonis

5) disterilkan dengan cara sterilisasi A & C,

segera setelah dibuat

6) bebas pirogen

7) pada etiket harus juga tertera“

banyaknya ion klorida dan ion natrium

dalam mEq per liter

8) diinjeksikan secara infus

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal ditempat sejuk


2. Rancangan formula

R/ infuse intravena Nacl 0,9% No. 500 ml

Tiap 500 ml mengandung :

Natrii chloride

Norit

Aqua pro injeksi

3. Master formula

Nama produk : Sodium Chloride 0,9%

Nama pabrik : PT. SANJAYA SUKAMULJO

Jumlah produk : 1 @ 500ml

No. registrasi : DKL1800300149A1

No. bacth : I804004


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sediaan farmasi tidak hanya sebatas sediaan padat dan cair, selain

itu terdapat juga. Sediaan galenik dan sediaan steril. Salah satu sediaan

steril ialah sediaan injeksi. Injeksi terdiri atas injeksi volume kecil (ampul

dan vial) dan injeksi volume besar (infus) sediaan steril termasuk sediaan

yang agak rumit karena pengerjaannya harus memperhatikan keaadaan

bahan, alat dan lingkungan yang steril serta pengerjaan dilakukan secara

aseptic dan juga harus hati-hati untuk menghindari terjadinya kontaminasi

mikroba dan bahan asing.

Injeksi infus ini didefinisikan sebagai sediaan steril untuk

penggunaan parenteral. Sediaan ini dibuat dengan melarutkan,

mengemulsikan atau mensuspensikan, sejumlah obat kedalam pelarut atau

dengan menggunakan bahan atau zat yang isotonis, atau mempunyai

tekanan yang sama dengan darah dan cairan tubuh yang lain dengan

menggunakan aqua pro injeksi sebagai zat pembawanya.

Pembuatan infus dilarutkan dengan tujuan diberikan pada pasien

yang tidak dapat menelan obat dan biasanya dilakukan untuk intravena.

Selain itu, juga bertujuan agar seorang farmasis dapat mengetahui

bagaimana cara pembuatan sediaan steril infus.

Infus Nacl ini berfungsi untuk mengembalikan keseimbangan

elektrolit pada keadaan dehidrasi, diperuntukan untuk pasien yang


memiliki kadar natrium yang rendah kadar kalium, magnesium, kalsium

yang rendah.

B. Tujuan Praktikum

Mampu membuat sediaan steril infuse intravena injeksi Nacl

beserta cara sterilisasinya sesuai dengan syarat dan prosedur yang berlaku.

C. Manfaat Praktikum

Mengetahui cara pembuatan sediaan steril volume besar injeksi

Nacl beserta cara sterilisasinya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi

atau serbuk yang dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum

digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit

atau melalui selaput lendir. Injeksi diracik dengan melarutkan.

Mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat kedalam wadah dosis

tunggal atau wadah dosis ganda (Depkes RI, 1979).

Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 10 ml

yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan

peralatan yang cocok. Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui

makanan dan minuman dan dikeluarkan dalam jumlah yang relative sama,

rasisnya dalam tubuh air adalah air 57%; lemak 20,8%; protein 17,0; serta

mineral dan glukogen 6% ketika terjadi gangguan hemostatif. Maka tubuh

harus segera mendapatkan tetapi untuk mengembalikan keseimbangan air

dan elektrolit larutan untuk infus intravena harus jernih dan praktis bebas

partikel (Lukas, 2006).

Adapun penggolongan sediaan infus berdasarkan komposisi dan

kegunaanya adalah:

1. Infus elektrolit

Pada cairan fisiologi tubuh manusia mengandung 60% air dan terdiri atas

cairan intraseluler (didalam sel) 40% yang mengandung ion-ion k+ , mg2+ ,


sulfat, fosfat, protein serta senyawa organik asam fosfat seperti ATP,

heksosa, monofosfat dan lain lain. Air pun mengandung cairan

ekstraseluler (diluar sel) 20% yang kurang lebih mengandung 3 liter air

dan terbagi atas cairan intersensial (di antara kapiler dan sel) 15% dan

plasma darah 5% dalam sistem peredaran darah serta mengandung

beberapa ion seperti Na+ , klorida, dan bikarbonat.

2. Infus karbohidrat

Infus karbohidrat adalah sediaan infuse larutan glukosa atau dextrose yang

cocok untuk donor kalori, kita menggunakannya untuk memenuhi

kebutuhan glikogen otot rangka, hipoglikemia dan lain-lain

3. Infus plasma expander atau penambah darah

Larutan plasma exponder adalah suatu sediaan larutan steril yang

digunakan untuk menggantikan plasma darah yang hilang akibat

pendarahan, luka bakar, operasi, dan lain-lain (Lukas, 2005)

Syarat-syarat infusa:

1) Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksik

2) Jernih, berarti tidak ada partikel padat

3) Tidak berwarna kecuali obatnya memang berwarna

4) Sedapat mungkin isohidris, PH larutan sama dengan darah dan

cairan tubuh lain yakni PH 7,4

5) Sedapat mungkin isotonis artinya mempunyai tekanan osmosis

yang sama dengan darah atau cairan tubuh yang lain yakni setara

dengan tekanan osmosis larutan Nacl 0,9%


6) Harus steril, suatu bahan dinyatakan steril bila sama sekali bebas

dari mikroorganisme hidup yang patogen maupun yang non

patogen, baik dalam bentuk vegetativ maupun dalam bentuk tidak

vegetatif (spora)

7) Bebas pirogen, karna cairan yang mengandung pirogen dapat

menimbulkan demam menurut co tui, pirogen adalah senyawa

kompleks disakarida dimana mengandung radikal yang ada unsur

N.P selama radikal masih terikat, selama itu masih dapat

menimbulkan demam dan pirogen bersifat termestabil (Anief,

1997)

Keuntungan sediaan infuse antara lain:

1) Obat memiliki Onset( mulai kerja) yang cepat

2) Efek obat dapat diramalkan dengan pasti

3) Biovabilitas sempurna atau hampir sempurna

4) Kerusakan obat dalam tractusgostrominostinalis dapat

dihindarkan

5) Obat dapat diberikan kepada penderita yang sakit keras atau

dalam keadaan koma.

Kerugian sediaan infus

1) Rasa nyeri pada saat disuntik apalagi kalau harus diberikan

berulang kali

2) Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut suntik


3) Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin

diperoleh terutama sesudah pemberian intravena

4) Obat hanya dapat diberikan kepada penderita dirumah sakit

atau ditempat praktik dokter oleh perawat kompeten

5) Lebih mahal dari bentuk sediaan non steril hanya karena

ketatnya persyaratan yang harus dipenuhi (steril, bebas pirogen,

jernih, praktis, bebas partikel)

B. Uraian bahan

1) Natrii chloride (FI Eds lll hal.403)

Nama resmi : NATRII CHLORIDUM

Nama lain :- Chloretum natrium

- Garam dapur

- Natrium klorida

Rumusmolekul : NaCl

BM : 58,44

Pemerian : Hablur heksahedral tidak berwarna atau

serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa asin

Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7

bagian air mendidih dalam etanol (95%) p

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Khasiat : Sumber ion klorida dan ion natrium

2) Norit (FI Eds III Hal.133)


Nama resmi : CARBO ADSORBENS

Nama lain :- Actieve alcohol

- Arang jerap

- Norit

Pemerian : Serbuk sangat halus, bebas dari buhran,

hitam, tidak berbau, tidak berasa

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam

etanol (95%) p

Khasiat : Antidotum

3) Aqua Pro Injeksi (FI Eds III Hal.97)

Nama resmi : AQUA PRO INJECTIONE

Nama lain : Air untuk injeksi

Pemerian : Keasaman kebasaan, ammonium, besi,

tembaga, timbal, kalsium klorida, nitras,

sulfat zat teroksidasi memenuhi syarat yang

tertera pada aqua destillata

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Khasiat : Sebagai pelarut untuk injeksi (zat

tambahan)
BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Alat yang digunakan

a. Erlenmeyer

b. Gelas ukur

c. Beaker gelas

d. Gelas arloji

e. Sendok porselin

f. Corong gelas

g. Kertas saring

h. Batang pengaduk

i. Pipet tetes

j. Wadah botol infus

k. Kain putih

l. Kertas pH

2. Bahan yang digunakan

a. NaCl

b. Norit

c. Aqua Pro Injeksi


B. Perhitungan

1. Perhitungan volume

- Volume obat 500 ml

- Volume penambahan 2% × 500 ml 10 ml

- Volume pembilas 40 ml

Total volume yang akan dibuat (550 ml)

2. Perhitungan bahan

550 𝑚𝑙
a. Nacl = 500 𝑚𝑙 x 4,5 gram = 4,95 gram

b. Norit = 0,15 X 550 ml = 0,825 gram

c. Aqua pro injeksi ad 500 ml


1000
( 𝑥 4,5 )× 2
500
M osmol/L = 𝐵𝑀 𝑁𝑎𝑐𝑙

1000
( 𝑥 4,5 )× 2
500
= 58,5

8,1818 × 2
= 58,5

16,3636
= 58,5

= 0,2797 gram = 279,7 mosm/L (isotonis)

C. Cara kerja

1. Disiapkan alat dan bahan

2. Ditimbang Nacl sebanyak 4,95 g atau 4950 mg dimasukkan ke dalam

erlenmeyer
3. Diukur aqua pro injeksi ± 450 ml ke dalam erlenmeyer, di cek pH

larutan sesuai dengan pH yang tertera 4,5 sampai 7,0

4. Ditambahkan aqua pro injeksi hingga tanda

5. Ditimbang norit sebanyak 0,825 g dimaskkan ke dalam erlenmeyer

kemudian di kocok selama 15 menit

6. Disaring hingga jernih, lalu dimasukkan ke dalam botol infus yang telah

dikalibrasi

7. Tutup karet infus dibilas dengan sisa infus agar bebas pirogen

8. Dilakukan sterilisasi akhir


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Sediaan yang dibuat Sediaan jadi Warna Wadah

Larutan Nacl 0,9% Infus Nacl 0,9% Bening Botol kaca 500 ml

550 ml 500 ml

B. Pembahasan

Pada praktikum ini telah dibuat infus intravena Nacl 0,9%. Untuk

infus Nacl ini dibuat dengan menggunakan aqua pro injeksi sebagai

kosolven untuk melarutkan zat aktif, dalam hal ini yaitu Natrium klorida

0,9% memiliki tonisitas yang isotonis. Natrium klorida 0,9% yang

merupakan konsentrasi normal dari natrium klorida. Dari perhitungan

osmolaritas infus intravena Nacl ini merupakan larutan isotonis aman

untuk tubuh, tidak iritan, melindungi jaringan dari kondisi kering dan

sebagainya.

Pada pembuatan Nacl, dosis yang dibuat relative besar yakni 500

ml berada dengan sediaan injeksi yang biasanya diberikan dalam volume

kecil. Pada sediaan injeki, suatu sediaan tidak selalu bebas pirogen berada

dengan larutan infus. Dimana persyaratanya harus bebas pirogen, maka

dari itu pada pembuatanya ditambahkan norit yang telah diaktifkan

terlebuh dahulu dengan dipanaskan pada suhu tinggi di oven. Penambahan


norit ini bertujuan untuk menghilangkan pirogen pada larutan obat

digunakan juga untuk menyerap bahan bahan penyetor yang mungkin ada.

Adapun jumlah norit yang ditambahkan ialah 0,15% dari jumlah larutan

infus yang hendak dibuat.

Pada proses pembuatanya kurang lebih hamper sama dengan cara

pembuatan dari injeksi namun yang membedakanya ialah setelah PH

optimal dicek dan dicukupkan volumenya larutan obat tersebut kemudian

ditambahkan norit, lalu dikocok selama 15 menit setelah itu disaring

beberapa kali hingga diperoleh larutan obat yang jernih setelah yakni 10

ml lalu dimasukan kedalam wadah, lalu ditutup dengan tutup karet dan

alumunium

Setelah proses pengemasan, maka dilakukan sterilisasi akhir.

Untuk infus Nacl ini dapat dilakukan sterilisasi akhir dengan cara A dan C.

namun pada pembuatan yang kami lakukan digunakan sterilisasi A yaitu

dengan menggunakan uap bertekanan dengan alat yang disebut autoklaf

selama 15 menit pada suhu 121 derajat celcius. Hal tersebut dilakukan

karena sterilisasi cara A merupakan cara sterilisasi cara C (dengan

penyaringan bakteri steril) yang lebih efektif untuk mensterilkan materi

yang tidak tahan panas. Menggunakan penyaring tidak dapat menyaring

virus, mempunyai kecendrungan mengabsorbsi beberapa senyawa aktif

tertentu selama proses penyaringan sehingga kesterilan hasil yang

diperoleh tidak pasti


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada praktikum ini, dibuat infus Nacl 0,9% dengan zat aktif

natrium klorida dan aqua pro injeksi sebagai kosolfen dimana infus Nacl

o,9% ini diindikasikan untuk memelihara dan mengembalikan

keseimbangan elektrolit dalam tubuh yang disebabkan dehidrasi sumber

ion klorida dan ion natrium.

Berdasarkan perhitungan osmolaritas, infus Nacl ini memiliki sifat

isotonis yaitu sebanyak 308,0082 mOsm/L. jumlah infus Nacl 0,9% yang

dibuat pada praktikum ini ialah sebanyak 500 ml

B. Saran

Diharapkan pada praktikan agar berhati-hati pada saat proses

penimbangan dan lebih teliti pada proses penimbangan ataupun

pengukuran, selain itu kesterilan selama proses pembuatan infus selalu

dijaga, karena proses pembuatan sangat mrmpengaruhi hasil akhir sediaan.


DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM.1979.Farmakope Indonesia Edisi III Jakarta:Departemen

Kesehatan RI.

Dirjen POM .1975.Farmakope Indonesia Edisi Iv.jakarta;Departemen

Kesehatan RI.

Arief,Raymond,dkn.2009.Buku praktis farmasi;Makassar;EGC.

Dirjen POM.1978.Formularium Nasional Edidi III;Jakarta;Departemen

Kesehatan RI.
LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR

“ PRAKTIKUM 5 ”
SEDIAAN STERIL KAEN-3B
INFUS INTRAVENA

NAMA NIM
AINELMA YANTI (PO713251171054)
ALYA NAMIRA (PO713251171057)
CHILVIA JULIA PADANG (PO713251171062)
ELSA.A (PO713251171065)
HURIA (PO713251171070)
KHAIRUNNISA.S (PO713251171073)

KELAS/KELOMPOK : B/ 3/ DIII
PRAKITUKUM : RABU
PEMBIMBING : IRSAN JAYA, AMD.FARM

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2018
MASTER FORMULA

A. Formula Asli

KAEN-3B (ISO Indonesia Volume 49, Halaman 373)

Komposisi : Na 50 mg

K 20 mg

Cl 50 mg

Laktat 20 mg

Glukosa 27 g tiap liter

Indikasi : sebagai cairan darah untuk pasien ≥ 3 tahun atau

pasien ≥ 16 kg/BB

Dosis : dewasa dan anak-anak ≥ 3 tahun atau ≥ 13 kg

500-1000 ml pada 1 x pemberian secara intravena

B. Rancangan formula

R/Infus KA-EN 3B@500 ml No.1

Tiap 500 ml mengandung :

 Na : 963,6 mg

 K : 820,05 mg

 Cl : 1,132 mg

 Laktat : 14,85 mg

 Glukosa : 0,55 g
C. Master Formula

Nama produk : KAEN-3B

Nama pabrik : PT.Sanjaya Sukamuljo

Jumlah sediaan : 1@ 500 ml

No.registrasi : DKL1800500194AI

No,batch : 1805005

PT.sanjaya Tgl.formulas,Tgl produksi KAEN-3B

sukamuljo

No. Kode bahan Nama bahan kegunaan perdosis perbatch

1. ss-061 Nacl Zat aktif 0,8766 g 0,8766 g

2. ss-062 Kcl Zat aktif 0,7455 g 0,7455 g

3. ss-063 Na.laktat Zat aktif 1,112 g 1,112 g

4. ss-064 Glukosa Zat aktif 13,675 g 13,675 g

5. ss-065 API pelarut Ad 500 Ad 500

ml ml
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infus cairan intarevana adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh

melalui sebuah jarum kedalam pembuluh vena untuk menggantikan kehilangan

cairan atau zat-zat aktif dari tubuh. Tujuan dari sediaan infuse adalah memberikan

atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein,

lemak dan kalium yang tidak dapat dipertambahkan secara edikulat melalui oral

memperbaiki keseimbangan asam dan gas, memperbaiki komponen-komponen

darah, memberikan nutrisi pada system pencernaan yang mengalami gangguan.

Terapi intravena menempatkan cairan steril melalui jarum, langsung ke

vena pasien. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit ( Na, K, Ca), nutrent

(biasanya glikosa), vitamin/obat. Terapi intravena digunakan untuk memberikan

cairan kepada pasien tidak dapat menelan, tidak sadar, dihidrasi atau syok. Untuk

memberikan garam yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan

elektrolit, atau glukosa yang diperlukan untuk metabolism.

Berdasarkan uraian diatas yang menyebutkan bahwa banyak manfaat dari

sediaan infuse dibidang pengobatan maka kami tertarik untuk melakukan

praktikum pembuatan sediaan infus.

B. Tujuan Praktikum

1. Mempelajari cara pembuatan infus

2. Mempelajari cara evaluasi sediaan infuse

3. Mengetahui perhitungan bahan dan tonisitas larutan infuse.


C. Prinsip Percobaan

Pembuatan infuse dosis tunggal yatu KA-EN 3B dengan cara sterilisasi

akhir dengan penambahan bahan-bahan yang di perlukan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspense atau

serbuk yang dilarutkan, atau disuspensikan lebih dahulu sebelum

digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit

atau memulai selaput lender.

Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100 ml

yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan

peralatan yang cocok. Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui

makanan dan menemukan dan dikeluarkan dalam jumlah yang relatif

sama, rasionya dalam tubuh adalah air 57%, lemak 20,8%, protein 17,0%;

serta mineral dan glikogen 6%

Syarat-syarat infus yaitu:

1. Cairan, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan dan efek toksis

2. Jernih, berarti tidak ada partikel padat

3. Tidak berwarna, kecuali obatnya memang berwarna

4. Sedapat mungkin isohidris, pH larutan sama dengan darah dan cairan

tubuh lain yakni 7,4

5. Sedapat mungkin isotonis, artinya mempunyai tekanan osmosis yang

sama dengan darah dengatau atau cairan tubuh yang lain tekanan

osmosis cairan tubuh seperti darah, air mata, cairan dengan tekanan

osmosis larutan Nacl 0,9%


6. Harus steril

7. Bebas pirogen

Injeksi volume besar ataau injeksi yang dimaksudkan untuk

pemberian langsung kedalam pembuluh darah vena, dikemas dalam

wadah tunggal berukuran 100 ml

Keuntungan sediaan infus

1. Obat memiliki onset (mulai kerja) yang cepat

2. Efek obat dalam diramaikan dengan pasti

3. Biovalbilitas obat dalam traktus gastrointestinal dapat dihindarkan

4. Obat dapat diberikan kepada penderita sakit keras atau dalam keadaan

koma.

5. Kerusakan obat dalam tradisi gastroiintostinal dapat dihindarkan

Fungsi pemberian infus :

1. Dasar nutrisi

2. Pengganti cairan tubuh

3. Pembuatan obat

4. Keseimbangan elektrolit digunakan pada pasien shock, diare, mual,

muntah, membutuhkan cairan intravenous.

B. Uraian Bahan

1. Nacl

Nama resmi : NATRII CHLORIDUM

Nama lain : Natrium klorida


Pemerian : Hablur heksahedral, tidak berwarna atau serbuk

hablur, tidak berbau rasa asin

Kelarutan : larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air

mendidih dan lebih kurang 110 bagian gliserol, sukar larut dalam

etanol 90% p

Khasiat : pengisotonis

2. KCl

Nama resmi : KALII CHLORIDUM

Nama lain : Kalium klorida

Pemerian : hablur tidak berwarna transparan atau butiran atau

serbuk putih tidak berbau rasa asin agak pahit

Kelarutan : larut dalam lebih kurang 1,6 bagian air dan dalam

lebih kurang 200 bagian etanol 90% p

Khasiat : sumber ion k+ dan Cl- dalam tubuh

3. Glukosa

Nama resmi : GLUCOSUM

Nama lain : dekstrosa

Pemerian : hablur tidak berwarna serbuk hablur atau butiran

putih tidak berbau rasa manis

Kelarutan : mudah larut dalam air sehingga mudah larut dalam

air mendidih, agak sukar larut dalam etanol 95% p

Khasiat : sumber energy


4. Aqua pro injeksi

Nama resmi : AQUA PRO INJEKTIONE

Nama lain : air untuk injeksi

Khasiat : untuk pembuatan injeksi


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Sediaan yang Sediaan jadi warna wadah


dibuat
Infus KAEN-3B 500 ml bening Botol kaca 500
500 ml ml

B. Pembahasan

Pada praktikum ini, telah dibuat KAEN-3B. infus ini menggunakan

aqua pro injeksi sebagai kosolven yang berfungsi untuk melarutkan zat

aktif dalam hal ini yaitu, Natrium klorida, kalium klorida, Ntrium laktat

dan glukosa, infus KAEN-3B ioni dibuat untuk mempertajhankan volume

intramuskuler dan perlu tetaap diberikan sampai perbaikan tekanan darah,

frekuensi nadi, dan urine output.

Berdasarkan perhitungan osmositas dari sediaan infus yang

hendak dibuat maka diperoleh hasil bahwa infus KAEN-3B ini merupakan

larutan isotonis ini aman untuk tubuh .

Pada sediaan injeksi tidak selalu bebas pirogen berbeda dengan

larutan infus yang salah satu persyaratan yakni bebas pirogen. Maka dari

itu pada pembuatannya ditambahkan norit yang telah diaktifkan terlebih

dahulu dengan cara dipanaskan dengan suhu tinggi didalam oven. Pada

penambahan norit ini bertujuan untuk menghilangkan pirogen pada larutan

obat. Selain itu, norit juga menyerap bahan-bahan pengotor yang mungkin

ada. Adapun jumlaah norit yang ditambahkan ialah 0,1% dari jumlah
larutan infus yang dibuat. Namun, dengan penambahan norit pada infus

ini, juga dapat menyerap glukosa hingga kadar glukosanya akan

berkurang. Norit dapat menyerap glukosa yang diserap norit, ditambahkan

glukosa sesuai dengan jumlah yang dapat diserap norit.

Pada proses pembuatanya bahan yang pertama dilarutkan ialah

bahan yang jumlahnya sedikit yaitu KCL, lalu ditambahkan Nacl setelah

homogeny ditambahkan glukosa kemudian Natrium laktatt. Selanjutnya,

dicek PH optimal dan dicelupkan volumenya larutan obat kemudian

ditambahkan norit, lalu dikocok selama 15 menit, selanjutnya disaring

beberapa kali hingga diperoleh larutan obat yang jernih. Setelah disaring,

larutan infus diukur sebanyak 500 ml beserta dengan volumenya

penambahanya yakni 10 ml lalu dimasukan kedalam wadah, kemudian

ditutup dengan penutup karet dan alumunium foil.

Setelah proses pengemasan, maka dilakukan ialah sterilisasi A,

yakni dengan menggunakan uap berlebihan dengan yang disebut autoklaf

selama 15 menit pada suhu 121 C.

Setelah dilakukan sterilisasi akhir, selanjutnya dilakukan evaluasi

pada sediaan. Evaluasi yang dilakukan ialah pemeriksaan kejernihan dan

warna, dilakukan dengan cara melihat secara kasat mata dengan

melingkari wadah dari samping dengan latar belakang kain putih untuk

melihat kotoran-kotoran yang berwarna gelap. Selain itu pemeriksaan ini

dapat dilakukan dengan sinar polarisasi.


Berdasarkan hasil evaluasi terhadap sediaan infus yang telah

dibuat, produk ini belum dapat diedarkan, karena tidak melalui semua

proses evaluasi yang menjadi persyaratan sediaan infus steril, diantaranya

uji kebocoran, uji sterilisasi, uji pirogen, uji volume dan berat, sehingga

infus KAEN-3B ini belum memenuhi syarat.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada praktikum ini dibuat infus KAEN-3B sebanyak 500 ml

dengan zat aktif Natrium klorida, dan glukosa dimana infus KAEN-3B ini

diindikasikan sebagai cairan dasar pemeliharaan seperti sumber ion-ion K+

, Na+ , Cl- dan sebagai sumber energi.

Berdasarkan perhitungan osmolaritas, infus KAZEN-3B ini

memenuhi sifat isotonis yang sebanyak 289,8668 mOsm/L sediaan belum

layak diedarkan karena belum memenuhi semua persyaratan proses

evaluasi sediaan steril infus

B. Saran

Diharapkan kepada praktikan agar berhati-hati dan lebih teliti pada

proses penimbangan maupun pengukuran, selain itu kesterilan evaluasi

proses pembuatan harus selalu dijaga karena proses pembuatan sangat

memenuhi hasil akhir.


DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen

kesehatan RI.

Dirjen POM. 1999. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen

kesehatan RI.

ISFI. 2015. ISO Indonesia Volume 49. Jakarta : ISFI.


LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR

“ PRAKTIKUM 6 ”
TETES MATA EPHINEFRIN

NAMA NIM
AINELMA YANTI (PO713251171054)
ALYA NAMIRA (PO713251171057)
CHILVIA JULIA PADANG (PO713251171062)
ELSA.A (PO713251171065)
HURIA (PO713251171070)
KHAIRUNNISA.S (PO713251171073)

KELAS/KELOMPOK : B/ 3/ DIII
PRAKITUKUM : RABU
PEMBIMBING : IRSAN JAYA, AMD.FARM

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2018
MASTER FORMULA

A. Formula Asli

Tetes mata Epinefrin (FN. 78, hal. 121)

Nama resmi : EPINEPHRINI GUTTAE OPTHALAMICAE

Nama lain : Tetes mata Epinefrin, tetes mata Adrenalina

Komposisi : Tiap 10 ml mengandung

Epinephrini Bitartras 182 mg

Acidum Boricum 50 mg

Natrii Pyrosulfis 30 mg

Dinatrii Edetas 10 mg

Phenylhydrargyri nitras 200 mg

Aqua pro injeksi ad 10 ml

Penyimpanan : Dalam wadah terisi penuh, tertutup rapat, terlindung dari

cahaya.

Dosis : Sehari, 1 sampai 2 tetes

Catatan : 1) Digunakan air untuk injeksi bebas

2) Pada pembuatan dialiri nitrogen atau karbondioksida

3) pH 3,0 sampai 3,8

4) Disterilkan dengan cara sterilisasi C

5) Larutan yang telah berwarna cokelat atau terdapat

endapan, tidak boleh digunakan.

6) Wadah bebas alkali.

7) Sediaan berkekuatan lain : 200 mg


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sediaan mata merupakan produk steril yang secara esensial bebas

dari partikel asing senyawa dan pengemasannya sesuai untuk pemakaian

dalam mata. Sediaan mata sama dengan produk steril lainnya, yaitu steril

dari bahan partikular.

Tetes mata adalah sediaan steri berupa larutan atau suspensi yang

digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir

mata di sekitar kelopak mata dan bola mata. Tetes mata dimasukkan ke

dalam mata yang luka karena kecelakaan atau pembedahan yang lebih

potensial walaupun lebih berbahaya dibandingkan injeksi intra vena.

Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Tidak seharusnya

dalam pembuatan larutan mata membawa banyak mikroorganisme.

Organisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeroginosa.

Infeksi mata dari organisme ini dapat mengakibatkan kebutaan. Ini

khususnya berbahaya terhadap sediaan non steril yang dimasukkan ke

dalam mata ketika kornea terbuka.

Selain steril, preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang

cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahan anti

mikroba, isotonis, dapar, viskositas, dan pengemasan yang cocok. Semua

larutan untuk mata harus dibuat steril jika diberikan dan bila mungkin
ditambahkan bahan pengawet yang cocok untuk menjamin sterilitas

selama pemakaian.

B. Maksud Percobaan

Untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan obat tetes mata

steril.

C. Tujuan Percobaan

Untuk membuat sediaan obat tetes mata steril.

D. Prinsip Percobaan

Pembuatan obat tetes mata steril dengan menggunakan alat dan

bahan yang disterilkan dengan cara sesuai dan dalam kondisi aseptis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, tetes mata adalah sediaan

steril yang berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara

meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola

mata.

Tetes mata harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan,

yaitu :

1. Steril

2. Sedapat mungkin isohidris

3. Sedapat mungkin isotonis

Bila obatnya tidak tahan pemanasan, maka sterilitas dapat dicapai

dengan menggunakan pelarut steril, dilarutkan dengan cara aseptis, dan

menggunakan penambahan zat pengawet dan botol atau wadah yang steril.

Isotonis dan pH yang dikehendaki diperoleh dengan menggunakan pelarut

yang cocok.

Pelarut yang sering digunakan adalah :

1. Larutan 2% asam borat (pH=5)

2. Larutan boraks – asam borat (pH=6,5)

3. Larutan basa lemah boraks – asam borat (pH=8)

4. Aquadestillata
5. Larutan NaCl 0,9%

Faktor-faktor di bawah ini sangat penting pada larutan mata :

1. Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan : sterilitas akhir

Collyrium dan kehadiran bahan anti mikroba yang efektif untuk

menghambat pertumbuhan dari banyak mikroorganisme selama

penggunaan dan sediaan.

2. Isotonis dari larutan : pH yang pantas dalam pembawa untuk

menghasilkan stabilitas yang optimum.

Beberapa syarat tetes mata adalah jernis, steril, isotonik, isohidris,

dan stabilitas. Pemberian etiket pada sediaan tetes mata harus tertera tidak

boleh digunakan lebih dari satu bulan setelah tutup dibuka.

Guna mengurangi iritasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut

ini :

1. Penyesuaian pH dengan cairan air mata

2. Penyesuaian isotonis dengan air mata

3. Viskositas cairan air mata

Viskositas diperlukan agar larutan obat tidak cepat dihilangkan

oleh air mata serta dapat memperpanjang lama kontak dengan kornea,

dengan demikian dapat mencapai hasil terapi yang besar.

Surfaktan sering digunakan dalam tetes mata, karena mempunyai

fungsi pembasaha atau zat penetrasi. Efek samping surfaktan adalah :


1. Menaikkan kelarutan, hingga menaikkan kadar dari obat kontak dengan

mata.

2. Menaikkan penetrasi ke dalam kornea dan jaringan lain.

3. Memperlama tetapnya obat dalam konjungtiva, pada pengenceran obat

oleh air mata.

B. Uraian Bahan

1. Ephinerphini Bitartras (FI. Ed.III, hal.239)

Nama Resmi : EPINEPHRINI BITARTRAS

Nama lain : Epinefrina bitartrat, Adrenalina bitartrat

Pemerian : Serbuk hablur, putih hingga putih kelabu, tidak berbau

Kelarutan : Larut dalam 3 bagian air, sukar larut dalam etanol (95%)P,

praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P.

Khasiat : Simpatomimetikum

2. Acidum Boricum (FI.Ed.III, hal. 49)

Nama resmi : ACIDUM BORICUM

Nama lain : Asam borat

Pemerian : Hablur, serbuk hablur putih atau sisip mengkilap tidak

berwarna.

Kelarutan : larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih,

dalam 16 bagian etanol (95%) P, dan dalam 5 bagian

gliserol P.

Khasiat : Antiseptikum.

3. Natrii Pyrosulfis (FI. Ed.III, hal.419)


Nama resmi : NATRII PYROSULFIS

Nama lain : Natrium pirosulfis, natrium merabisulfis.

Pemerian : Hablur atau serbuk, yang berbentuk hablur tidak

berwarna, yang berbentuk serbuk berwarna putih

atau kuning gading.

Kelarutan : Larut dalam 2 bagian air, sukar larut dalam etanol (95%)P.

Khasiat : Antioksidan

4. Dinatrii Edetas

Nama resmi : DINATRII EDETAS

Nama lain : Dinatrium EDTA

Pemerian : Serbuk hablur, putih

Kelarutan : Larut dalam air

Khasiat : Sebagai titran

5. Phenylhydragyri Nitras

Nama resmi : PHENYLHIYDRAGYRI NITRAS

Nama lain : Fenil raksa (II) Nitras

Pemerian :-

Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, sukar larut dalam etanol dan

dalam gliserin, lebih mudah larut dalam dengan adanya

asam nitras atau alkali hidroksida.

Khasiat : Preservatif pada sediaan mata.

6. Aqua Pro Injeksi (FI. Ed.III, hal. 97)

Nama resmi : AQUA PRO INJECTIONE


Nama lain : API, air untuk injeksi

Pemerian : Keasaman, kebasaan, amonium, besi, tembaga, tinbal,

kalsium, klorida, nitrat, sulfat, zat teroksidasi menurut

syarat yang tertera pada aqua pro injeksi.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Khasiat : Sebagai pelarut untuk injeksi (zat tambahan)


BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Alat

- Beaker gelas

- Wadah botol tetes mata

- Batang pengaduk

- Pipet tetes

- Kain putih

- Kertas Ph

- Kertas saring

- Timbangan

- Gelas arloji

2. Bahan

- Epinephrini Bitatras

- Acidum Boricum

- Natrii Pyrosulfis

- Dinatrii Edetas

- Phenylhydrargyri Natrium

- Aqua Pro Injeksi

B. Perhitungan

1. Perhitungan volume penambahan

- Volume larutan obat = 10 ml x 2 = 20 ml


- Volume larutan penambah = 0,5 ml x 2 = 1 ml

- Volume pembilas = 9 ml +

Total volume yang dibuat 30 ml

2. Perhitungan Dapar

Diketahui data dari buku

- pH dapar borat = 7,0

- pKa dapar borat = 9,24

- Komposisi dapar borat = Asam Borat 2%

Asam Sulfit anhidrat 0,1%

a. pH dapar borat = 7,0

pH = - log H+

7,0 = - log H+

H+ = antilog – 7,0

H+ = 1 x 10-7

b. pKa dapar borat = 9,24

pKa = - log Ka

9,24 = - log Ka

Ka = antilog – 9,24

Ka = 5,75 x 10-10

1) Asam Borat 2% 2 g / 100 ml


𝑔
M = 𝐵𝑀 𝑋 𝑉𝑜𝑙 (𝑙)

2
= 61,83 𝑋 0,1
2
= 6,183

= 0,3235 M

2) Na. Sulfit Anhidrat 0,1% 0,1 g / 100 ml


𝑔
M = 𝐵𝑀 𝑋 𝑉𝑜𝑙 (𝑙)

0,1
= 126,04 𝑋 0,1

0,1
= 12,604

= 0,0079 M

c. Ctotal = 0,3235 M + 0,0079

= 0,3314 M

d. Kapasitas Dapar (𝛽)

𝛽 = 2,3 x C x (H+) x Ka

( (H+) + Ka )2

= 2,3 x 0,3314 x (1x 10-7) (5,75 x 10-10)

((1x10-7) + (5,75x10-10))2

= 2,3 x 0,3314 x 5,75 x 5,75 x 10-17

1,0115 x10-7

= 2,3 x 0,3314 x 5,6846 x 10-10

= 4,3329 x 10-10 g/L

e. Untuk pH 3,0

pH = - log H+

3,0 = - log H+

H+ = antilog – 3,0
H+ = 10-3

𝛽 = 2,3 x C x (H+) Ka

((H+) + Ka)2

4,3329 x 10-10 = 2,3 x C x (10-3) (5,75 x 10-10)

((10-3) + (5,75 x 10-10))2

4,3329 x 10-10 = 2,3 x C x 5,75 x 10-13

1,0000011 x 10-6

4,3329 x 10-10 = 2,3 x C x 5,7499 x 10-7

4,3329 x 10-10 = 13,2248 x 10-7 x C

C = 4,3329 x 10-10

13,2248 x 10-10

C = 3,2763 x 10-18

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
f. pH = pKa + log [𝑎𝑠𝑎𝑚]

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
3,0 = 9,24 + log [𝑎𝑠𝑎𝑚]

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
log [𝑎𝑠𝑎𝑚]
= antilog – 6,24

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
[𝑎𝑠𝑎𝑚]
= 5,754 x 10-7

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚] = 5,754 x 10-7 [𝑎𝑠𝑎𝑚]

C = [𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡] + [𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡]

3307,69 = [𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡] + 5,754 x 10-7 [𝑎𝑠𝑎𝑚]

3307,69 = 1,000000575 [𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡]


3307,69
[𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡] = = 3307,69
1,000000575

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡] = [𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡] x 5,754 x 10-7

= 3307,69 x 5,754 x 10-7

= 1,903 x 10-6

1) M [𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡] 1,903 x 10-6 M

W = M x BM x V

= 1,903 x 10-6 x 126,04 x 0,01

= 2,399 x 10-6 g/L

% b/v = 2,399 x 10-6 2,399 x 10-7 g/100 ml =2,399 x 10-7 %b/v

2) M [𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡] 3307,69 𝑀

W = M x BM x V

= 3307,69 x 61,83 x 0,01

= 2045,14 g/L

%b/v = 2045,14 g/L = 204,514 g / 100 ml = 204,514 % b/v

3. Perhitungan Bahan
30 𝑚𝑙
- Epinephrini Bitatras = 10 𝑚𝑙 x 182 = 546 + (5% x 546 mg)

= 546 + 27,3 mg = 573,3 mg

30 𝑚𝑙
- Asam Borat = x 50 mg = 150 mg + (5% x 150 mg)
10 𝑚𝑙

= 150 mg + 7,5 mg = 157,5 mg

30 𝑚𝑙
- Natrii Pyrosulfit = x 30 mg = 90 mg + (5% x 90 mg)
10 𝑚𝑙
= 90 mg + 4,5 mg = 94,5 mg

30 𝑚𝑙
- Dinatrii Edetas = x 10 mg = 30 mg + (50% x 30 mg)
10 𝑚𝑙

= 30 mg + 1,5 mg = 31,5 mg

30 𝑚𝑙
- Phenylhydrargyri nitras = x 200 mg = 600 mg + (5% x 600
10 𝑚𝑙

mg)

= 600 mg + 30 mg = 630

mg

- API ad 30 ml

4. Perhitungan Pengenceran

a. Pengenceran Dinatrii Edetas 31,5 mg

31,5 𝑚𝑔
50 mg 5 ml HP = x 5 ml = 3,15 ml
50 𝑚𝑔

SP = 5 ml -3,15 = 1,85 ml

5. Perhitungan Konsentrasi
100 𝑚𝑙
- Ephinephrini bitatras = x 182 mg =1820 mg = 1,82 g =
10 𝑚𝑙

1,82% b/v

100 𝑚𝑙
- As. Borat = x 50 mg = 500 mg = 0,5 g = 0,5% b/v
10 𝑚𝑙

100 𝑚𝑙
- Natrii Pyrosulfis = x 30 mg = 300 mg = 0,3 g = 0,3% b/v
10 𝑚𝑙

100 𝑚𝑙
- Dinatrii Edetas = x 10 mg = 100 mg = 0,1 g = 0,1 % b/v
10 𝑚𝑙
100 𝑚𝑙
- Phenylhydrargyri Nitras = x 200 mg = 2000 mg = 2 g = 2%
10 𝑚𝑙

b/v

6. Perhitungan Tonisitas

a. Cara PTB

PTB Epinefrin = 0,09

PTB As.Borat = 0,28

PTB Natrii Pyrosulfis = 0,38

PTB Dinatrii Edetas = 0,13

𝑊 𝑥 1000
PTB Phenylhydrargyri Nitras = ΔTf = Liso x 𝐵𝑀𝑥𝑉

1 𝑥 1000
= 2,0 x 634,45 𝑥 100

= 0,032

[(𝑏1.𝑐1)+ (𝑏2.𝑐2)+ (𝑏3.𝑐3)+ (𝑏4.𝑐4)+ (𝑏5.𝑐5)]


B = 0,52 – 𝑏6

[(0,09 𝑥 1,82)+ (0,28 𝑥 0,5)+ (0,38 𝑥 0,3)+ (0,13 𝑥 0,1)+ (0,032 𝑥 2)


= 0,52 – 0,576

[0,1638 + 0,14 + 0,114+0,013+0,064]


= 0,52 – 0,576

0,52−0,4948
= 0,576

0,0252
= 0,576

= 0,04375 %b/v (hipotonis)

b. Cara Equivalensi
Eq Epinefrin = 0,18

E. As borat = 0,50

E. Na pyrosulfis = 0,67

E. Dinatrii Edetas = 0,13

E. Phenylhydrargyri Nitras

𝐿.𝑖𝑠𝑜
E = 17,19 x 𝐵𝑀

2,0
= 17,19 x 634,45

= 0,054

W = 0,9 -[(%b/v x E1) + (%b/v x E2) + (%b/v x E3) + (%b/v x E4) +

(%b/vx E5)

= 0,9 – [(1,82 x 0,18) + (0,5 x 0,5) + (0,3 x 0,67) + (0,l x 0,23) + (2 x

0,054)

= 0,9 – [0,3276 + 0,25 + 0,2 + 0,023 + 0,108]

= 0,9 – 0,9096

= - 9,6 x 10-3 % b/v (hipotonis)

C. Cara Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan


2. Dibuat pengenceran Dinatrii edetas 31,5 mg

- Ditimbang Dinatrii Edetas sebanyak 50 mg, lalu dimasukkan

dengan API sebanyak 5 ml

- Diukur HP sebanyak 31,5, SP disihkan

3. Ditimbang Epinefrin Bitatras sebanyak 573,3 mg dimasukkan ke

dalam beaker gelas, dilarutkan dengan ± 10 ml API

4. Ditimbang Phenylhydrargyri Nitras sebanyak 630 mg dimasukkan ke

dalam beaker gelas, diaduk hingga larut\

5. Dimasukkan Na.Pyrosulfis sebanyak 94,5 mg dimasukkan ke dalam

beaker gelas diaduk hingga larut

6. Dimasukkan HP Dinatrii Edetas, diaduk

7. Ditimbang As.Borat sebanyak 157,5 mg dimasukkan ke dalam beaker

gelas, diaduk

8. Disaring larutan ke dalam erlenmeyer yang telah dikalibrasi 30 ml,

dicukupkan volume hingga tanda

9. Erlenmeyer ditutup dengan kapas bebas lemak dan aluminium foil

kemudian diikat dengan tali

10. Erlenmeyer yang berisi larutan disterilkan di dalamm autoklaf

11. Larutan kemudian dimasukkan ke dalam wadah botol sebanyak 10,5

ml tiap botol, lalu ditutup