Anda di halaman 1dari 18

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

DEPARTEMEN TEKNIK
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA

TUGAS 3
PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI

Disusun Oleh :

NAMA : Muhammad Amini


NIM : 410018058

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Praktikum Geomorfologi


Program Studi Teknik Geologi, Departemen Teknik, Institut Teknologi Nasional
Yogyakarta

YOGYAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa penulis
mengucapkan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang telah membantu.

Penulis berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca dan


juga mampu memenuhi tugas yang telah diberikan oleh asisten dosen
geomorfologi. Bahkan penulis berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa
pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari segala hal tersebut, penulis sadar sepenuhnya bahwa masih
ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karenanya penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca agar dapat memperbaiki makalah ini.

Yogyakarta, 4 April 2019

Muhammad Amini

( 410018058 )
DAFTAR ISI
BAB I ................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 1
C. Tujuan.................................................................................................................... 1
BAB II .............................................................................................................................. 2
PEMBAHASAN .............................................................................................................. 2
Pola Pengaliran ........................................................................................................... 2
POLA PENGALIRAN DASAR ................................................................................. 3
POLA PENGALIRAN UBAHAN ............................................................................. 6
GENETIK SUNGAI ................................................................................................... 7
STADIA SUNGAI ..................................................................................................... 10
TEKSTUR ALIRAN SUNGAI ................................................................................ 13
BAB III........................................................................................................................... 14
PENUTUP...................................................................................................................... 14
KESIMPULAN ........................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 15
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pola aliran sungai adalah kumpulan dari sungai yang mempunyai bentuk
sama, yang dapat menggambarkan keadaan profil dan genetik sungainya

Genetik sungai merupakan Sungai yang dalam pembentukannya, sangat


dipengaruhi oleh proses – proses diastrofisme struktur – struktur geologi yang
dihasilkannya, dan lereng – lereng yang menentukan arah alirannya.

Sungai adalah aliran air di permukaan tanah yang mengalir ke laut.


Dalam Bahasa Indonesia, kita hanya mengenal satu kata “sungai”. Sedangkan
dalam Bahasa Inggris dikenal kata “stream” dan “river”. Kata “stream”
dipergunakan untuk menyebutkan sungai kecil, sedang “river” untuk
menyebutkan sungai besar.

B. Rumusan Masalah

1. Sebut dan jelaskan 2 pola pengaliran dasar dan pola pengaliran ubahan
2. Jelaskan yang dimaksud dengan genetik sungai
3. Jelaskan yang dimaksud dengan stadia sungai
4. Jelaskan yang dimaksud dengan tekstur aliran sungai

C. Tujuan

1. Menjelaskan 2 pola pengaliran dasar dan pola pengaliran ubahan


2. Menjelaskan tentang genetik sungai
3. Menjelaskan tentang stadia sungai
4. Menjelaskan tentang tekstur aliran sungai
BAB II

PEMBAHASAN

Pola Pengaliran

Pola Aliran Sungai dan Jenis-Jenisnya - Air dalam pergerakannya akan selalu
mengerosi bumi, sehingga menyebabkan terbentuknya sebuah cekungan
dimana air tertampung melalui sebuah saluran kecil ataupun besar yang biasa
disebut dengan istilah alur sungai atau badan sungai (Sandy, 1985). Saluran air
tersebut (baik itu kecil maupun besar) akan saling bertemu dan membentuk suatu
pola aliran tertentu, yang dipengaruhi oleh faktor jenis batuan dan bentuk
morfologinya (Barstra, 1982; Thornbury, 1954).

Pola aliran sungai adalah kumpulan dari sungai yang mempunyai bentuk sama,
yang dapat menggambarkan keadaan profil dan genetik sungainya (Sandy, 1985
dan Katili, 1950; Lobeck, 1939). Secara umum ada 5 pola aliran sungai yang
dapat terbentuk, yaitu pola aliran dendritik, pola aliran rektangular, pola aliran
trellis, pola radial, dan pola radial sentripetal

Kegiatan erosi dan tektonik yang menghasilkan bentuk - bentuk lembah


sebagai tempat pengaliranair, selanjutnya akan membentuk pola - pola
tertentu serta daerah rendah tempat air permukaanmengalir dan berkumpul
disebut sebagai pola aliran. Pola aliran ini sangat berhubungan dengan jenis
batuan (lithologi) struktur geologi kondisi erosi dan sejarah bentuk
bumi (geomorfologi)
Faktor – faktor pengontrol pola pengaliran antara lain
 Topografi
 Bentuk lahan
 Tingkat erosi
 Litologi
 Struktur geologi ( Sesar, kekar, lipatan )

Pola pengaliran sangat mudah dikenal dari peta topografi atau foto udara,
terutama pada skala yang besar. Percabangan - percabangan dab erosi yang kecil
pada permukaan bumi akan tampak dengan jelas, sedangkan pada skala
menengah akan menunjukkan pola yang menyeluruh sebagai cerminan jenis
batuan, struktur geologi dan erosi. Pola pengaliran pada batuan yang berlapis
sangat tergantung pada jenis, sebaran, ketebalan dan bidang perlapisan batuan
serta geologi struktur seperti sesar, kekar, arah dan bentuk perlipatan.Howard
(1967) membedakan pola pengaliran menjadi pola pengaliran dasar dan pola pen
galiran modifikasi.
Definisi pola pengaliran yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Pola pengaliran adalah kumpulan dari suatu jaringan pengaliran di suatu
daerah yang dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh
curah hujan, alur pengaliran tetap pengali. Biasanya pola pengaliran yang
demikian disebut sebagai pola pengaliran permanen (tetap)
2. Pola dasar adalah salah satu sifat yang terbaca dan dapat dipisahkan dari
pola dasar lainnya.
3. Perubahan (modifikasi) pola dasar adalah salah satu perbedaan yang
dibuat dari pola dasar setempat.

Klasifikasi pola aliran dasar menurut howard ( 1967 )


Pola dasar adalah salah satu sifat yang terbaca dan dapat dipisahkan dari pola
dasar lainnya. Pola Perubahan (modifikasi) pola dasar adalah salah satu
perbedaan yang dibuat dari poladasar setempat.Pola pengaliran juga berguna
dalam penentuan variasi litologi karena bentuknya dikontrololeh kemiringan
lereng dan ketahanan batuan. Selain itu, sungai dapat bertahan lebih lama
dibandingkan dengan bentuk fisiografi lainnya. Oleh karena itu, pola pengaliran
dapat merekam sejarah geologi yang lebih panjang pada suatu daerah.

POLA PENGALIRAN DASAR

Pola pengaliran dasar merupakan pola pengaliran yang terbaca dan dapat dipisahkan
denganpola pengaliran dasar lainnya. Kebanyakan dari pola aliran dasar dikontrol oleh
struktur regionalyang berkembang pada daerah tersebut

Pola Pengaliran Dasar Karakteristik


Bentuk umum seperti daun, berkembang
pada batuan dengan kekerasan relatif sama,
perlapisan batuan sedimen relatif datar
serta tahan akan pelapukan,kemiringan
landai, kurang dipengaruhi struktur
geologi. Umumnya anak-anak sungainya
Dendritik (tributaries) cenderung sejajar dengan
induk sungainya, dimana anak-anak
sungainya bermuara pada induk sungai
dengan sudut lancip.Pola ini biasanya
terdapat pada daerah berstruktur plain, atau
pada daerah batuan yang sejenis (seragam,
homogen) dengan penyebaran yang luas.
Bentuk umum cenderung sejajar, berlereng
sedang sampai agak curam,dipengaruhi
struktur geologi, terdapat pada perbukitan
memanjang dipengaruhiperlipatan,
Paralel
merupakan transisi pola dendritik dan
trelis. Beberapa wilayah di pantai barat
Sumatera memperlihatkan pola pengaliran
parallel.
Bentuk memanjang sepanjang arah strike
batuan sedimen. Biasanya dikontrol
olehstruktur lipatan. Batuan sedimen
Trelis dengan kemiringan atau terlipat, batuan
vulkanikserta batuan metasedimen
berderajat rendah dengan perbedaan
pelapukan yang jelas. Jenis pola
pengalirannya berhadapan pada sisi
sepanjang aliran subsekuen.Induk sungai
mengalir sejajar dengan strike, mengalir di
atas struktur synclinal,sedangkan anak-
anak sungainya mengalir sesuai diping dari
sayap-sayap synclinaldan anticlinal-nya.
Jadi, anak-anak sungai juga bermuara
tegak lurus terhadapinduk sungainya.Pola
pengaliran trellis mencirikan daerah
pegunungan lipatan (folded mountains).
Induk sungainya memiliki kelokan-kelokan
± 900, arah anak-anak sungai
(tributary)terhadap sungai induknya
berpotongan tegak lurus. Induk sungai
dengan anaksungai memperlihatkan arah
lengkungan menganan, pengontrol struktur
atau sesar yang memiliki sudut
kemiringan, tidak memiliki perulangan
Rektangular
perlapisanbatuan dan sering
memperlihatkan pola pengaliran yang tidak
menerus.Biasanya ditemukan di daerah
pegunungan patahan (block mountains).
Pola seperti ini menunjukkan adanya
pengaruh joint atau bidang-bidang dan/atau
retakan patahan escarp-escarp atau graben-
graben yang saling berpotongan.
Bentuk menyebar dari satu pusat, biasanya
terjadi pada kubah intrusi, kerucutvulkanik
dan bukit yang berbentuk kerucut serta
sisa-sisa erosi. Memiliki duasistem,
Radial
sentrifugal dengan arah penyebaran keluar
dari pusat (berbentuk kubah)dan sentripetal
dengan arah penyebaran menuju pusat
(cekungan)
Pola Radial Sentripetal, Kebalikan dari
pola radial yang menyebar dari satu pusat,
pola sentripetal ini justru memusat dari
banyak arah. Pola ini terdapat pada satu
Pola Radial Sentripugal
cekungan (basin), dan biasanya bermuara
pada satu danau. Di daerah beriklim kering
dimana air danau tidak mempunyai saluran
pelepasan ke laut karena penguapan sangat
tinggi, biasanya memiliki kadar garam
yang tinggi sehingga terasa asin

bentuk seperti cincin yang disusun oleh


anak-anak sungai, sedangkan induk sungai
memotong anak sungai hampir tegak lurus.
Mencirikan kubah dewasa yang sudah
terpotong atau terkikis dimana disusun
perselingan batuan keras dan lunak.
Jugaberupa cekungan dan kemungkinan
Anular stocks.Terdapat pada daerah berstruktur
dome (kubah) yang topografinya telah
berada pada stadium dewasa. Daerah dome
yang semula (pada stadium remaja)
tertutup oleh lapisan-lapisan batuan
endapan yang berselang-seling antara
lapisan batuankeras dengan lapisan batuan
lembut
Endapan permukaan berupa gumuk hasil
longsoran dengan perbedaanpenggerusan
atau perataan batuan dasar, merupakan
Multibasinal daerah gerakan tanah,vulkanisme,
pelarutan gamping serta lelehan salju atau
permafrost

Terbentuk pada batuan metamorf dengan


intrusi dike, vein yang menunjukkandaerah
yang relatif keras batuannya, anak sungai
yang lebih panjang ke arahlengkungan
Kontorted
subsekuen, umumnya menunjukkan
kemiringan lapisan batuan metamorf dan
merupakan pembeda antara penunjaman
antiklin dan sinklin.

Tabel 1
POLA PENGALIRAN UBAHAN

Pola pengaliran modifikasi adalah pola pengaliran dengan perubahan yang masih
memperlihatkan ciri pola pengaliran dasar.Hubungan pola dasar dan pola
perubahan (modifikasi) dengan jenis batuan dan struktur geologi sangat erat,
tetapi tidak menutup kemungkinan dapat ditambah atau dikurangi. Roy Syaffer
membuat klasifikasi pola pengaliran menjadi pola erosional, pola pengendapan
dan polakhusus. Pola dendritik (sub dendritik), radial, angular (sub angular),
tralis dan rektangular termasukpola erosional, sedangkan pola - pola lurus
(elongate), menganyam (braided), berkelok (meandering), yazoo, rektikular dan
pola dikhotomik termasuk pola pengendapan. Klasifikasi polakhusus dibagi
menjadi pola pe-ngaliran internal seperti pola "sinkhole" pada bentuklahan karst
(gamping) dan pola "palimpset" atau "berbed" untuk daerah yang dianggap
khusus

Pola pengaliran Karakteristik


Subdendritik Umumnya struktural
Tekstur batuan halus dan mudah
Pinnate
tererosi
Anastomatik Dataran banjir, delta atau rawa
Kipas aluvial dan delta seperti
Dikhotomik
penganyaman
Lereng memanjang atau dikontrol
Subparalel
oleh bentuk lahan memanjang
Kelurusan bentuk lahan bermaterial
Kolinier
halus dan beting pasir
Direksional Trellis Homoklin landai seperti beting gisik
Trellis Berbelok Perlipatan memanjang
Percabangan menyatu atau berpencar,
Trellis Sesar
sesar paralel
Trellis Kekar Sesar paralel dan atau kekar
Kekar dan sesar pada daerah
Angulate
berkemiringan
Karst Batu gamping

Tabel 2
GENETIK SUNGAI

Beberapa jenis genetika sungai antara lain :

 Sungai Konsekuen
Apabila mengalir searah dengan kemiringan mulai dari daerah Kubah,
pegunungan blok yang baru terangkat, dataran pantai terangkat mula-
mula memiliki sungai konsekuen.

 Sungai Subsekuen
Mengalir dan membentuk lembah sepanjang daerah lunak. Disebut juga
’strike stream’ karena mengalir
Sepanjang jurus lapisan.

 Sungai Obsekuen
Mengalir berlawanan arah dengan arah kemiringann lapisan dan juga
berlawanan dengan arah aliran sungai
Konsekuen. Biasanya pendek dengan gradient tajam, dan merupakan
sungai musiman yang mengalir pada gawir. Umumnya merupkan cabang
dari sungai subsekuen.

 Sungai Resekuen
Mangalir searah dengan sungai konsekuen dan searah dengan kemiringan
lapisan.

 Sungai Insekuen
Merupakan sungai yang tidak jelas pengendaliannya tidak mengikuti
struktur batuan, dan tidak jelas mengikuti kemiringan lapisan. Pola
alirannya umumnya dendritik. Banyak menyangkut sungai – sungai kecil.

 Sungai Superimpos
Merupakan sungai yang mula – mula mengalir diatas suatu daratan
aluvial atau dataran peneplain, dengan lapisan tipis yang menutupinya
sehingga sehingga lapisan dibawahnya tersembunyi. Jika terdapat
rejuvenasi maka sungai tersebut kemudian mengikis perlahan-lahan
endapan aluvial atau lapisan penutup tersebut dan menyingkapkan lapisan
tanpa mengubah banyak pola aliran semula.

 Sungai Asteseden
Sungai yang mengalir tetap pada pola alirannya meskipun selama itu
terjadi perubahan – perubahan struktur misalnya sesar, lipatan,. Ini dapat
terjadi jika struktur terbentuk atau terjadi perlahan – lahan.
 Anaklinal
Dipergunakan untuk sungai anteseden didaerah yang mengalami
pengangkatan sedemikian sehingga kemiringannya berlawanan dengan
arah aliran sungai.

 Compound Streams
Mengairi daerah dengan umur geomorfik yang berbedabeda, ‘compound
streams’ mengairi daerah dengan struktur geologi yang berlainan. Banyak
sungai-sungai besar dapat dimasukan kedalam compound ataupun
comporite streams misalnya sungai Bengawan solo, Citarum, Asahan,
dan sebagainya.

Gambar penampang jenis genetika sungai; C (konsekuen), S (subsekuen), O


(obsekuen), R (resekuen)
STADIA SUNGAI

Pembentukkan pola sungai dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti


litologi batuan, kemiringan lereng, tenaga tektonik dan lainnya. Sungai
yang ada saat ini merupakan proses yang terus menerus berlangsung dan
akan terus berkembang. Tahap perkembangan sungai terbagi menjadi 5
stadia yaitu stadia awal, stadia muda, stadia dewasa, stadia tua dan stadia
peremajaan (rejuvenation).

Stadia awal dicirkan dari bentuk sungai yang belum memiliki pola aliran
yang teratur seperti lazimnya suatu sungai. Sungai pada tahapan awal
umumnya berkembang di daerah dataran pantai yang mengalami
pengangkatan atau di atas permukaan lava yang masih baru.

Stadia muda dicirikan dengan sungai aktivitas alirannya mengerosi ke arah


vertikal. Erosi tersebut menghasilkan lembah menyerupai huruf "V". Air terjun
dan aliran yang deras mendominasi tahapan ini.
Stadia dewasa dicirikan dengan mulai adanya dataran banjir (flood plain)
kemudian membentuk meander. Pada tahapan ini aliran sungai sudah
memperlihatkan keseimbangan laju erosi vertikal dengan laju erosi lateral.

Stadia tua dicirikan dengan sungai yang sudah didominasi oleh meander dan
dataran banjir yang semakin melebar. Oxbow lake dan rawa mulai terbentuk
disisi sungai dan erosi lateral lebih dominan dibanding erosi vertikal.

Stadia Tua

Stadia peremajaan adalah perkembangan sungai yang kembali didominasi oleh


erosi vertikal dibanding erosi lateral. Proses ini terjadi akibat terjadinya
pengangkatan di daerah sungai tua sehingga sungai kembali menjadi stadia
muda/awal (rejuvenation). Peremajaan sungai terjadi ketika tingkat dasar sungai
turun bisa disebabkan oleh penurunan muka air laut dan pengangkatan daratan.
Keduanya merupakan dampak dari terjadinya zaman es dan antar es.
Perkembangan stadia sungai
TEKSTUR ALIRAN SUNGAI

Dengan berjalannya waktu, suatu sistem jaringan sungai akan membentuk pola
pengaliran tertentu di antara saluran utama dengan cabang-cabangnya dan
pembentukan pola pengaliran ini sangat ditentukan oleh faktor geologinya. Pola
pengaliran sungai dapat diklasifikasikan atas dasar bentuk dan teksturnya. Bentuk
atau pola berkembang dalam merespon terhadap topografi dan struktur geologi
bawah permukaannya. Saluran-saluran sungai berkembang ketika air permukaan
(surface runoff) meningkat dan batuan dasarnya kurang resisten terhadap erosi.

Sistem fluviatil dapat menggambarkan perbedaan pola geometri dari jaringan


pengaliran sungai. Jenis pola pengaliran sungai antara alur sungai utama dengan
cabang-cabangnya di satu wilayah dengan wilayah lainnya sangat bervariasi.
Adanya perbedaan pola pengaliran sungai di satu wilayah dengan wilayah lainnya
sangat ditentukan oleh perbedaan kemiringan topografi, struktur dan litologi
batuan dasarnya.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Pola aliran sungai adalah kumpulan dari sungai yang mempunyai bentuk sama,
yang dapat menggambarkan keadaan profil dan genetik sungainya

Genetik sungai merupakan Sungai yang dalam pembentukannya, sangat


dipengaruhi oleh proses – proses diastrofisme struktur – struktur geologi yang
dihasilkannya, dan lereng – lereng yang menentukan arah alirannya.

Sungai adalah aliran air di permukaan tanah yang mengalir ke laut.


Dalam Bahasa Indonesia, kita hanya mengenal satu kata “sungai”. Sedangkan
dalam Bahasa Inggris dikenal kata “stream” dan “river”. Kata “stream”
dipergunakan untuk menyebutkan sungai kecil, sedang “river” untuk
menyebutkan sungai besar.
DAFTAR PUSTAKA

 https://unpak.academia.edu/DjauhariNoor
 https://www.google.com
 Supriatna, Upi., 2013. Pola aliran sungai, FPIPS
 Journal.umy.ac.id/index.php/perubahan kecepatan aliran sungai