Anda di halaman 1dari 8

YAYASAN PHARMASI SEMARANG

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
Jln. Sarwo Edi Wibowo Plamongan Sari km 1 Pucanggading Semarang, telp. (024)6706147-8

UJIAN AKHIR SEMESTER

MATA AJARAN : FARMASI RUMAH SAKIT

HARI, TANGGAL : 7 Desember 2018

Nama : Dwi Nurfinalita Mayanti

NIM : 1061812037

No. Absen :

KELOMPOK SOAL II

1. Buatlah alur pelayanan depo farmasi rawat jalan yang dapat menjamin penggunaan
obat yang benar? Jelaskan masing2 tahapnya!
Jawab :

Pasien

Umum Jaminan

Penyerahan Penyerahkan Formulir Resep Disertai


Resep Dengan SJP

Cek Ketersediaan Obat


Kurang Lengkap/Kurang
SKRINING RESEP
Jelas

Konfirmasi Dokter Penulis Resep/


Petugas Poli

Administrasi Farmasetis Klinis

Penyiapan Obat

ETIKET

Peracikan
Obat
Pengemasan
Obat

Telaah Obat / Diperiksa Kembali

Penyerahan Obat Beserta


PIO Kepada Pasien

Penjelasan :
a) Penerimaan resep  Pada pasien umum akan memberikan resep di dalam keranjang
disertai dengan kartu pasien. sementar pada pasien yang termasuk pasien program
jaminan resep harus disertai dengan Surat Jaminan Pelayanan (SJP) dan Surat Keabsahan
Peserta (SKP) jaminan. Resep yang sudah diserahkan pasien akan diterima oleh petugas
(Apoteker atau TTK).
b) Cek ketersediaan obat  petugas penerima resep akan melakukan pengecekan
ketersediaan obat yang ada di resep sekaligus melakuakn pemberiaan harga. Jika obat
yang ada di resep tidak tersedia atau stok kosong maka petugas harus melakukan
konfirmasi ke dokter penulis resep. Resep yang telah diberi harga juga di konfirmasi
kepada pihak pasien apakah menyetujui harga yang telah ditentukan. Jika ketersediaan
obat lengkap dan pasien menyetujui maka akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
c) Skrining resep /pengkajian resep  resep yang sidah diterima dan disejui selanjutnya
akan dilakukan pengecekan keaslian resep dan telaah atau pengkajian oleh apoteker
dimana ada tiga aspek yang harus ditelaah yaitu:
 Administrasi, harus lengkap guna untuk memperkecil terjadinya kesalahan misalnya
pasien salah menerima obat karena data tidak lengkap atau sama.
– informasi pasien (nama, umur, jenis kelamin,BB, alamat) dan informasi dokter
penulis resep (nama, dan paraf)
– tanggal penulisan resep
 Farmasetis :
– bentuk (tablet, sirup, puyer dll apakah sudah sesuai dengan umur atau kondisi
pasien yang akan menggunakan obat tersebut)
– kekuatan sediaan yang tertera di resep dan sediaan yang ada sesuai atau tidak.
– Stabilitas dan kompatibilitas
 Pertimbangan Klinis :
– Tepat pasien (tepat indikasi atau tidak kontraindikasi dengan kondisi pasien)
– perhitungan dosis obat sudah tepat atau tidak
– aturan, cara dan lama penggunaan obat tepat atau tidak
– duplikasi atau polifarmasi
– reaksi obat yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi pada pasien (seerti alergi,
ES obat) dan interaksi
– pengecekan riwayat pemakaian obat
Jika resep tidak terbaca maka petugas bisa menanyakan pendapat teman atau rekan
farmasi lainnya terlebih dahulu sebelum melakukan konfirmasi dengan dokter penulis
resep. Jika masigh belum bisa di pecahkan maka petugas bisa konfirmasi ke dokter
penulis resep.
d) Penyiapan obat  setelah resep dilakukan skrining dan memenuhi semua aspek maka
selanjutnya akan dilakukan tahap penyiapan obat dimana meliputi kegiatan:
 Pembuatan etiket sesuai dengan perintah di resep
 Peracikan obat untuk obat racikan sekaligus pengemasannya.
 Pengambilan obat untuk obat non racik sesuai dengan perintah di resep.
e) Telaah obat atau pemeriksaan kembali  sebelum obat di serahkan ke pasien maka
petugas harus melakukan telaah obat terlebih dahulu dengan mengecek kembali dan
membandingkan obat yang disiapkan apakah sudah sesuai dengan yg ada di resp dan
sesuai dengan etiket atau tidak.
f) Penyerahan pbat  setelah dilakukan telaah obat maka apoteker melakukan penyerahan
obat kepada pasien di sertai dengan PIO/konsling terkait hal yang berhubungan dengan
pengobatan.
2. Rumah Sakit melakukan produksi obat sendiri dengan kriteria yang sesuai dengan
kebutuhannya. Kriteria apa saja yang lazim mendasari RS memproduksi obat sendiri?
Jelaskan beserta jenis produk obatnya !
Jawab :
a) Kriteria obat yang diproduksi:
 Sediaan farmasi yang diproduksi akan lebih murah
Produksi sendiri dilakukan oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) apabila
secara ekonomi diperhitungkan sediaan farmasi akan lebih murah jika diproduksi
sendiri sehingga lebih menguntungkan bagi pihak rumah sakit khususnya IFRS, bukan
hanya murah tapi mutu juga dipertimbangkan dalam produksi sendiri. Contoh: inj.
Metylen Blue
 Sediaan farmasi yang tidak tersedia di pasaran
Produksi sendiri dilakukan oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), bila
produk obat/sediaan farmasi tersebut tidak diperdagangkan secara komersial padahal
sediaan farmasi dibutuhkan baik oleh pasien maupun oleh rumah sakit. Contoh:
kloralhidrat.
 Sediaan farmasi dengan formula khusus
Resep yang diterima oleh instalasi farmasi adalah resep yang berisi obat racikan
dengan formula khusus sehingga dalam hal ini instalasi farmasi memproduksi secara
khusus untuk sediaan sesuai dengan yang diresepkan oleh dokter. Contoh: peracikan
sediaan puyer untuk pasien anak.
 Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil
Kegiatan produksi yang bisa dilakaukan oleh IFRS salah satunya yaitu
melaksanakan pengemasan atau pengemasan kembali sediaan farmasi dengan kemasan
yang lebih kecil dan pengemasan dosis tunggal. Pengemasan kembali bertujuan untuk
mengemas sediaan sesuai dengan peresepan dan kebutuhan pasien. Misalnya sediaan
yang dibeli dari distributor dalam kemasan yang besar yang tidak bisa diberikan
langsung kepada pasien dengan kemasan itu, sehingga perlu dilakukan pembuatan
sediaan dengan kemasan yang lebih kecil. Atau bisa juga pada sediaan konsentrasi
tinggi yang memerlukan pengenceran terlebih dahulu sebelum diberikan ke pasien
sehingga memerlukan pengemasan ulang. Contoh: Barium sulfat
 Sediaan farmasi untuk penelitian
Sediaan farmasi yang menjadi kriteria produksi yang dilakukan IFRS adalah
sediaan farmasu yang dipergunakan untuk penelitian terutama penelitian yang dilakukan
di rumah sakit tersebut dan sediaan farmasi tersebut dibutuhkan dalam jumlah besar.
Contoh: adalah larutan formalin
 Sediaan nutrisi parenteral
Sediaan nutrisi parenteral ini juga merupakan salah satu sediaan yang diproduksi
oleh IFRS karena ada beberapa kondisi pasien yang harus mendpatkan nutrisi secara
parenteral seperti pasien koma dan setiap orang memiliki kebutuhan nutrisi yang
berbeda jadi IFRS harus meproduksinya sendiri sesuai kebutuhan pasien. Penyiapan
nutrisi parenteral dilakukan dibagiab produksi steril. Contoh: Campuran sediaan
karbohidrat, protein, lipid, vitamin, mineral, untuk kebutuhan perorangan
b) Jenis Produk:
 Produk steril  produk yang pada pembuatannya harus dilkukan secara aseptis dan
hasil akhir produknya merupakan sediaan yang bebas kontaminasi atau steril.
– Cairan Besar: Aqua pro irigasi , Betadin 1 % steril
– Cairan Kecil : Sol CMC 2 %, Talk Steril 4 %
– Cairan Insidentil: Injeksi Methylen Blue 1 % 10 ml
– Sedian nutrisi parenteral.
– Pencampuran sediaan intravena yaitu dengan melarutkan sediaan intravena dalam
bentuk serbuk dengan pelarut yang sesuai.
 Produk non steril
– Padat: pembuatan kapsul-kapsul dan puyer
– Semi padat: pembuatan sediaan salep
– Cair : pembuatan sirup OBH, alkohol gliserin, yodium gliserin, yodium tincture.
– Pengemasan kembali Barium sulfat, minyak kayu putih
– Pengenceran alkohol 70%.
3. Sebutkan metode sterilisasi yang lazim digunakan dalam pelayanan CSSD? Jelaskan !
Jawab:
 Sterilisasi panas uap  merupakan salah satu metode sterilisasi yang menggunakan
uap bertekanan tinggi dengan waktu yang sudah di tentukan.
Alat yang digunakan adalah autoclave
Metode ini sering digunakan di rumah sakit karena merupakan metode yang paling
efisien dan efektif serta memiliki keuntungan pelaksanaannya yang mudah, biaya
operasionalnya rendah, hasil sterilisasinya baik, proses waktunya relatif pendek, serta
bisa diterapkan pada hampir 80% alat yang dibutuhkan.
 Sterilisasi panas kering  salah atu metode sterilisasi yang menggunakan panas
kering. Panas kering yang dimaksud adalah oven. Alat yang digunakan pada metode
ini adalah lemari stelisator.
Bahan yang bisa di sterilisasi dengan metode ini adalah bahan termostabil atau bahan
yang tahan terhadap panas seperti alat-alat gelas. Metode ini merupakan salah satu
metode sterilisasi yang masih digunakan di rumah sakut karena keuntungannya ang
bisa digunakan untuk sterilisasi bahan serbuk atau minyak dan juga tidak memiliki
sifat korosif pada bahn logam akan tetai metode ini memiliki kekurangan yaitu
proses waktunya yang relatif lama.
 Sterilisasi dengan gas kimia digunakan untuk sterilisasi alat yang tidak dapat di
sterilkan dengan metode sterilisasi uap/suhu tinggi
4. Apa saja yang dibutuhkan apabila instalasi farmasi akan memberikan pelayanan
informasi obat ? Jelaskan !
Jawab:
a) Sumber Daya Manusia  pelayanan informasi obat oleh instalasi farmasi akan berjalan
baik dan lancar jika didukung dengan tenaga ahli yang memadai yaitu dilakukan oleh:
 Apoteker yang berkompeten dan profesional yang memiliki pemahaman atau
wawasan yang luas sehingga dapat memberikan informasi yang tepat dan bermanfaat
bagi pasien terkait pengobatan.
 Apoteker yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik secara lisan maupun
tertulis sehingga informasi yang disampaikan mudah di terima oleh pasien.
b) Sarana dan Fasilitas yang memadai  untuk mendukung kegiatan pelayanan informasi
obat yang baik di rumah sakit harus di dukung dengan sarana dan fasilitas yang lengkap,
seperti :
 Adanya ruangan khusus untuk kegiatan PIO akan membuat pasien merasa lebih
nyaman dalam berkonsultasi dengan Apoteker, rasa nyaman ini akan mempengaruhi
keadaan saat melakukan PIO dimana informasi yang diberikan dapat diterima dengan
baik oleh pasien serta pasien juga dapat menanyakan informasi suatu obat secara
leluasa dan pribadi sehingga melindungi privasi pasien. Ruangan khusus PIO juga
berfungsi untuk menghindari suara yang bising dan ramai dari luar sehingga tidak
mengganggu pada saat berkomunikasi dengan pasien.
 Instalasi farmasi juga bisa menyediakan sumber informasi kepada pasien bisa dengan
menerbitkan buletin, leaflet, poster dll tentang obat sehingga bisa membantu pasien.
 Adanya sumber informasi yang lengkap dan dapat dipercaya sehingga informasi
yang disampaikan oleh apoteker akurat (tepat), tidak bias (tidak membingungkan
pasien), terkini (berasal dari pustaka yang terbaru), komprehensif dan independen.
Sehingga pasien mendapatkan informasi yang lengkap dan sesuai kebutuhanya
 Adanya alat peraga untuk mempermudah apoteker dalam penyampaian PIO obat-
obat yang penggunaannya dengan alat khusus seperti penggunaan inhaler pada
pasien asma atau isulin pada pasien DM sehngga pasien pasien akan cepat
memahaminya karena bisa langsung di praktekan oleh apoteker.
 Adanya alat komunikasi seperti telpon karena PIO juga bisa dilakukan melalui
telpon.
 Adanya dokumen administrasi yang lengkap untuk keperluan dokumentasi dan
monitoring selanjutnya setelah penggunaan obat oleh pasien sehingga apoteker
memiliki informasi tambahan untuk bisa memaksimalkan PIO yang dilakukan
kepada pasen.
c) Pembentukan panitia PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit) yang dapat membantu
terlaksananya program PIO kepada masyarakat dengan melakukan sosialisasi dalam
upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan kesehatan
(preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitative).
5. Resiko apa saja yang dapat terjadi pada pelayanan farmasi klinik yang berupa
konseling pasien dan bagaimana mengatasinya ? jelaskan !
Jawab:
a) Resiko yang dapat terjadi pada konseling pasien :
 Resiko penyakit semakin parah, bisa terjadi karena informasi yang di dapatkan
pasien saat konseling salah sehingga dapat mempengaruhi konsidi penyakit pasien.
 Resiko efek yang tidak dikehendaki seperti efek samping obat, intraksi obat, over
dosis karena saat konseling tidak di perhatikan.
 Resiko kesalahan penggunaan obat, bisa terjadi karena kemungkinan pasien tidak
paham dengan apa yang di sampaikan apoteker terkait penggunaan obatnya.
b) Cara mengatasi :
 Disediakan sumber informasi yang lengkap dan terpercaya sehingga informasi yang
di sampaikan tidak salah.
 Saat penerimaan resep oleh apoteker dikakukan pengecekan dosis dan penelusuran
riwayat penggunan obat pasien untuk menghindari terjadinya kesalahan dosis dan
terjadinya efek yang tidak dikehendaki.
 Sebelum meutup konseling apoteker menyuruh pasien mengulang kembali tentang
apa yang disampaikan untuk mengecek apakah pasien benar-benar sudah memahami
cara penggunaan obat yang akan dijalaninya.