Anda di halaman 1dari 19

Laporan Pratikum

Fisiologi Tumbuhan

PENGARUH ANGIN DAN SUHU TERHADAP TRANSPIRASI

NAMA : RAHMATUL FURQAN

NIM : G011171308

KELAS : FISIOLOGI TUMBUHAN C

KELOMPOK :6

ASISTEN : RAHMANIA RIZKI SYAWLIA

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan
hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang
kutikula dan juga lentisel. Transpirasi yaitu terjadinya pengeluaran berupa ion
H2O dan CO2 pada siang hari saat panas, melalui stomata atau mulut daun dan
lentisel atau disebut dengan celah batang.
Dengan terlepasnya air dalam bentuk uap air melalui mulut daun atau
stomata dan kutikula ke udara bebas yang dikenal dnegan istilah evaporasi maka
akan semakin cepat terjadinya laju transpirasi. Hal ini berarti semakin cepat pula
proses pengangkutan air dan zat hara yang terlarut dan begitu pula sebaliknya.
Stomata akan dapat mengukur laju transpirasi cukup dengan hanya
mengendalikan seberapa terbuka dan menutupnya stomata melalui sel penjaga.
Stomata yang nantinya terbuka lebih luas akan memfasilitasi tingkat yang lebih
besar dari transpirasi, sedangkan stomata yang terbukanya lebih sempit akan
mengurangi tingkat transpirasi. Dengan memiliki daun lebih atau lebih besar juga
maka akan meningkatkan jumlah keseluruhan stomata dan oleh sebab itu juga
akan meningkatkan laju transpirasi juga.
Tingkat transpirasi akan meningkat seiring dengan menignkatkannya suhu. Oleh
karena itu suhu sangat biasanya akan berhubungan dengan sinar matahari dan
musim tanam sehingga suhu yang lebih tinggi akan menyebabakan sel penjaga
untuk membuka stomata. Sementara jika cuaca dingin maka akan memberi sinyal
penjaga untuk menutup stomata.
Jumlah ketersediaan air juga akan berpengaruh pada tingkat transpirasi yang
terjadi. Jika terdapat sedikit air yang tersedia bagi tanaman untuk menerima, maka
akan ada sedikit air untuk tumbuhan mengalami perubahan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui bahwa transpirasi terjadi
dari peoses penguapan yang akan membantu tanaman dalam pengeluaran air dan
gas yang dikeluarkan manusia untuk dibutuhkan oleh tumbuhan untuk
fotosintesis.
1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikun ini yaitu untuk mengamati pengaruh angin, suhu,
kelembaban dan cahaya terhadap laju transpirasi, perbedaan laju transpirasi antar
jenis tanaman serta jumlah air yang digunakan oleh tanaman perluas daun
tanaman.

1.3 Kegunaan

Kegunaan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh


angina, suhu, kelembaban dan cahaya terhadap laju transpirasi, bagaimana
perbedaan laju transpirasi antar tanaman serta bagaimana jumlah air yang
digunakan oleh tanmana perluas daun tanaman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Transpirasi

Transpirasi merupakan penguapan yang terjadi pada jaringan tumbuhan


melalui stomata. Tingginya laju transpirasi dipengaruhi beberapa faktor. Salah
satunya yaitu besarnya bukaan stomata. Secara garis besar terdapat empat faktor
yang mempengaruhi laju transpirasi pada tumbuhan. Keempat faktor tersebut
yaitu suhu udara, suhu pada daun tanaman, kelembaban udara lingkungan dan
beberapa faktor yang mempengaruhi bukaan stomata. Umumnya transpirasi hanya
menyebabkan tanamna kekurangan air. Namun, disisi lain transpirasi memiliki
kekurangan seperti pengangkutan unsur hara oleh xilem lajunya menjadi lebih
cepat, turgiditas sel tetap terjada secara optimal dan dengan transpirasi stabilisasi
suhu akan tetap terjaga (Lakitan, 2013).
Proses transpirasi dimual dari absorbs air tanah oleh akar tanaman yang
kemudian ditransport melalui batang menuju daun dan dilepaskan (transpired)
sebagai uap air ke atmosfir. Laju transpirasi dipengaruhi oleh faktor karakter
vegetasi, karakter tanah, lingkungan serta pola budidaya tanaman (Prijono, 2016).
Laju transpirasi mempunayi relasi dengan jenis tanaman dan populasi
tanaman. Perbedaan jenis tanaman berpengaruh terhadap laju transpirasi. Tiap
vegetasi mempunyai struktur akar dan tajuk yang berbeda-beda. Struktur tajuk,
fisiologi tanaman, indeks luas daun dan conductanse stomata berpengaruh
terhadap transpirasi. Volume air tanah yang mampu diserap oleh tanamn sangat
bergantung pada pola perakaran, semakin tinggi penetrasi akar pada tanah maka
akan semakin banyak air yang mampu diserap oleh tanaman sehingga volume air
yang mengalami transpirasi juga semakin tinggi (Prijono, 2016).
Perbedaan struktur kanopi dapat dilihat dari perbedaan struktur batang serta
daun yaitu luas daun tanaman maka semakin tinggi laju transpirasi tanaman.
Perbedaan akumulasi water loss dan laju transpirasi tiap tanamn disebabkan oleh
karakter tanaman dan stomata yang meliputi luas daun, seta density dan lebar
stomata. Transpirasi dikontrol oleh perilaku membuka dan menutupnya stomata
pada setiap daun tanaman, dimana perilaku stomata tersebut bervariasi menurut
jenis tanaman (Prijono, 2016).
2.2 Tipe-Tipe Transpirasi

Menurut Setiawan dan Shiddieq, 2013 ia menyatakan bahwa ada tiga tipe-
tipe transpirasi yaitu antara lain, sebagia berikut ini :
1. Transpirasi Kutikula
Transpirasi kutikula adalah evaporasi (penguapan) air yang terjadi secara
langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air
dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasu kutikula 10% atau kurang
dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar air
yang hilang terjadi melalui stomata.
2. Transpirasi Stomata
Trasnpirasi stomata adalah sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi
diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-
dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari dinding-dinding basah ini
ke ruangruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui stomata dari
ruang-ruang antar sel ke atmosfer di luar. Shingga dalam kondisi normal
evaporasi membuat ruang-ruang itu selalu jenuh uap air. Asalkan stomata terbuak,
difusi uap air ke atmosfer pasti terjadi kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama
lembab.
3. Transpirasi Lentikuler
Lentikuler adalah daerah pada kulit kayu yang berisi sel-sel yang tersusun
lepas yang dikenal sebagai alat komplementer, uap air yagn hilang melalui
jaringan ini sebesar 0,1% dari total transpirasi.

2.3 Faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhi Transpirasi

Transpirasi merupakan aktivitas fisiologis penting yang sangat dinamis,


berperan sebagai mekanisme regulasi dan adaptasi terhadap kondisi internal dan
eksternal tubuhnya, terutama terkait dengan kontrol cairan tubuh (turgiditas sel/
jaringan), penyerapan dan transportasi air, garam-garam mineral serta
mengendalikan suhu jaringan (Al, 2003).
Proses transpirasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal
maupun eksternal. Faktor-faktor internal antara lain adala hukuran daun, tebal
tipisnya daun, ada tidaknya lapisan lilin pada permukaan daun, banyak sedikitnya
bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan lokasi stomata,
termasuk pula umur jaringan, keadaan fisiologis jaringan dan laju metabolisme.
Faktor-faktor eksternal antara lain meliputi radiasi cahaya, suhu, kelembaban
udara, angin dan kandungan air tanah, gradient potensial air tanah - jaringan –
atmosfer, serta adanya zat-zat toksik di lingkungannya. Pembukaan stomata
dipengaruhi oleh karbondioksida, cahaya, kelembaban, suhu, angin, potensial air
daun dan laju fotosintesis. Mekanisme kontrol laju kehilangan air atau transpirasi
dapat dilakukan dengan cara mengontrol laju metabolisme, adaptasi struktural
daun yang dapat mengurangi proses kehilangan air dan mengatur konduktivitas
stomata (Fitter, 1994).

2.4 Mekanisme Toleransi Tanaman pada Proses Transpirasi

Air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian
besar bergerak menurut gradien potensial air melalui xilem. Air dalam pembuluh
xilem mengalami tekanan besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom
berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas. Sebagian besar
ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xilem, dan kemudian ke atas
melalui arus transportasi. Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan,
kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah.
Faktor-faktor ini memengaruhi perilaku stoma yang membuka dan menutupnya
dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan
kadar ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran gas
antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer. Untuk
mengukur laju transpirasi tersebut dapat digunakan potometer (Papuangan, 2013).
Transpirasi berlangsung melalui stomata sedangkan melalui kutikula daun
dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka
stomatanya untuk mengambil karbon dioksida dari udara untuk melaksanakan
proses berfotosintesis. Penutupan stomata., sebagian besar transpirasi terjadi
melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit
transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar,
lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit
untuk masing-masing satuan penambahan lebar stomata (Khairunnisa,2000).
Proses transpirasi dapat diterangkan dengan mengacu sifat fisik air.
Molekul air akan melakukan tarik menarik dengan molekul air lainnya
melalui proses kohesi. Selain itu molekul air juga dapat melakukan tarik
menarik dengan dinding xilem melalui proses adhesi. Penguapan air melalui
stomata akan menarik kolom air yang ada di dalam xilem, dan molekul air
baru akan masuk ke dalam rambut akar. Teori kehilangan air melalui
traspirasi ini disebut juga teori tegangan adhesi dan kohesi (Jumin, 1992).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum transpirasi ini dilaksanakan di laboratorium Ekofisiologi dan


Nutrisi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar pada hari
Sabtu, 8 September 2018 pukul 13.00 WITA sampai selesai.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu spoit yang berukuran, air
PDAM, pipet ukur, penjepit tabung, lap halus dan kasar, cutter, selang plastic
50cm, Vaseline, kipas kecil, tiang penyangga dan karet gelang.
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah bibit tanaman
tomat umur 1 bulan dengan dan tanpa akar, air PDAM, gabus styrofoam, plastik
wrapper, dan vaselin.

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Membersihkan alat dengan menggunakan lap kasar dan lap halus
2. Menyiapkan alat yang akan digunakan untuk setting alat transpirometer
3. Membuat penutup spoit dari sterofoam yang diberi lubang di tengahnya sesuai
dengan diameter batang tanaman yang akan digunakan
4. Mencabut tanaman preparat secara hati-hati dari media, kemudian
membersihkan tanah dari akar
5. Memasang penyumbat spoit pada pangkal batang dengan membelah sumbat
spoit, kemudian memasangnya pada spoit secara rapi
6. Mengoleskan vaselin pada penutup spoit agar udara tidak dapat masuk melalui
penutup gabus
7. Membungkus rapi penutup dengan wrapping agar mencegah terjadinya
kebocoran
8. Memasukkan air dengan menggunakan spoit dari ujung selang sampai pada
batas sumbat gabus pada spoit sehingga akar seluruhnya terendam air
9. Memasang pipet ukur dengan rapi pada ujung selang, kemudian mengoleskan
vaselin pada pertemuan selang dengan pipet ukur
10. Pada pengukuran pengaruh angin, menggunakan kipas angin kecil dan
memposisikan kipas angin sekitar 50 cm – 75 cm dari transpirometer
menghadap ke daun tanaman
11. Pada pengukuran pengaruh cahaya, menggunakan lampu dan memposisikan
lampu sekitar 40 cm dari transpirometer menghadap ke daun tanaman
12. Pada pengukuran pengaruh kelembaban daun, menyungkup tanaman dengan
plastik transparan kemudian menyemprotkan air dengan sprayer pada daun
tanaman, lalu mengikat kantong plastik sehingga daun tetap lembab
13. Mencatat posisi air dalam pipet ukur pada semua instrumen yang sudah di set
sebagai data awal (0 menit), lalu hidupkan lampu dan kipas angina
14. Mencatat posisi air setiap 10 menit pada semua instrumen selama 30 menit
15. Melanjutkan percobaan di atas dengan menggunakan tanaman tanpa akar,
dengan memotong akar tanaman tadi pada batas leher akar di dalam air
16. Menghitung luas daun tanaman dengan menggunakan aplikasi petiole
17. Menghitung laju transpirasi menggunakan rumus:
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴
Laju transpirasi =
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh hasil


sebagai berikut.
Tabel 1. Pengamatan Laju Transpirasi Tanaman Tomat

Tanaman Tomat
Waktu
Perlakuan
Pengamatan
Dengan Akar Tanpa Akar

0 menit 0 0

10 menit 0,1 0
Kontrol
20 menit 0,1 0

30 menit 0,1 0

Laju Transpirasi 0,2 mL/menit 0 mL/menit

0 menit 0 0

10 menit 0,2 0
Kelembaban
20 menit 0 0

30 menit 0,3 0

Laju Transpirasi 0,34 mL/menit 0 mL/menit

0 menit 0 0

10 menit 0 0
Angin
20 menit 0 0

30 menit 0 0

Laju Transpirasi 0 mL/menit 0 mL/menit

0 menit 0 0
Cahaya
10 menit 0 0
20 menit 0 0

30 menit 0,2 0

Laju Transpirasi 0,13 mL/menit 0 mL/menit


Sumber: Data primer setelah diolah, 2018

Gambar 1. Pengamatan Jumlah Air yang Hilang per 10 menit (Dengan Akar)

Gambar 2. Pengamatan Jumlah Air yang Hilang per 10 menit (Tanpa Akar)
4.2 Pembahasan
Berdasarkan tabel data hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa terjadi
perbedaan kecepatan transpirasi dari beberapa perlakuan pada tanaman tomat
dengan akar. Grafik pada laju trasnpirasi dengan akar menunjukkan bahwa faktor
kelembaban lebih mempengaruhi laju transpirasi atau laju kehilangan air pada
tanaman dibandingkan dengan faktor lainnya. Hal ini tidak sesuai dengan
pendapat Lakitan (2013) bahwa umumnya laju transpirasi lebih dipengaruhi oleh
faktor cahaya dimana stomata membuka dan dapat dirangsang oleh adanya cahaya
matahari yang mampu meningkatkan konsentrasi ion K+ pada sel penjaga stomata
sehingga stomata terbuka lebar. Akumulasi dari ion K+ inilah yang menyebabkan
stomata daun membuka.
Pada perlakuan tanaman tanpa akar menunjukkan bahwa tanaman dengan
faktor kelembaban kehilangan air lebih banyak daripada perlakuan lainnya. Hal
ini sesuai dengan pendapat Anu (2017) bahwa bila daun mempunyai kandungan
air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju transpirasi bergantung pada selisih
antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel di daun dengan
konsentrasi mulekul uap air di udara.
Perbedaan kecepatan penguapan air atau transpirasi pada perlakuan
tanaman tomat dengan akar dan tanpa akar dipengaruhi oleh oleh faktor dalam
antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, lapisan lilin pada permukaan
daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata,
bentuk dan letak stomata. Semua tanaman mengalami transpirasi selama proses
hidupnya. Transpirasi merupkaan proses kehilangan air pada tubuh tanaman
melalui stomata (penguapan) (Anu, 2017).
Sebenarnya transpirasi tidak hanya terjadi melalui stomata banyak organ
lain yang dilalui dalam proses transpirasi seperti lentisel. Namun, persentasenya
tidak sebesar yang melalui stomata dari sinilah mengapa transpirasi identik
dengan stomata. Stomata terdiri dari dua sel penjaga, cara kerja stomata saat
transpirasi adalah stomata akan membuka lebar ketika kedua sel penjaganya
dimasuki air sehingga terjadi tekanan turgor yang mengharuskan stomata
membuka. Sifat air adalah mengalir dari tempat potensi air yang lebih tinggi ke
potensi air yang lebih rendah. Tinggi rendahnya potensi air ini dipengaruhi oleh
jumlah bahan yang terlarut didalam sel, sehingga untuk menjaganya jumlah bahan
yang terlarut harus tetap banyak (Anu, 2017).
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Menurut penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Faktor-faktor lingkungan seperti angin, air, suhu, dan cahaya dapat
mempengaruhi laju transpirasi.
2. Pada beberapa perlakuan, perlakuan kontrol yang cukup banyak
mempengaruhi hilangnya air dalam proses transpirasi.

5.2 Saran
Untuk kedepannya, sebaiknya waktu diefisiensikan dengan cara asisten
mengkordinir praktikan agar semuanya bergerak.
DAFTAR PUSTAKA

Al, Suyitno et all. 2003. Tanggapan Stomata dan Laju Transpirasi Daun
Vaccinium Varingiaefolium (Bl.) Miq. Menurut Tingkat Perkembangan
Daun dan Jarak Terhadap Sumber Emisi Gas Belerang Kawah Sikidang
Dataran Tinggi Dieng. Staf Pengajar di Jurdik. Biologi FMIPA.
Anu, Oktarin. Henny L. 2017. Struktur Sel Epidermis dan Stomata Daun
Beberapa Tumbuhan Suku Euphorbiaceae. Jurusan Biologi, FMIPA,
Unsrat, Manado.
Fitter, A.H. dan Hay, R.K.M. (1994). Fisiologi Lingkungan Tanaman.
(Terjemahan: Sri Andani dan E.D. Purbayanti). Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Jumin, H. B. 1992. Ekologi Tanaman suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Press:
Jakarta.
Khairunnisa, L. 2000. Tanggapan Tanaman Terhadap Kekurangan Air. Fakultas
Pertanian USU : Medan.
Lakitan, B. 2013. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Rajawali Pers.
Papuangan, N., dkk. 2014. Jumlah dan Distribusi Stomata pada Tanaman
Penghijaua. Jurnal ßIOêduKASIISSN :2301-4678. Vol 3 No (1).
Pirojono, Segeng dan Moh.Teguh Satya Laksamana. 2016. Studi Laju Transpirasi
Peltophorum dan Gliricidia sepium padaSistem Budidaya Tanaman
Pagar serta Pengaruh Konduktivitas Hidrolik Tidak Jenuh. J-PAL,
Vol.7, No.1. ISSN : 2087-3522. E-ISSN : 2338-1671.
Schymanski, S.J. 2015. Wind Effect on Leaf Transpiration Challlenge The
Concept of Potensial Evaporation. Proc IAHS, 371: 99-107.
Setiawan, Tohari dan D. Shiddieq. 2013. Pengaruh Cekaman Kurang Air
terhadap Bebebrapa Karakter Fisiologi Tanaman Nilam (Pogostemon
cablin Benth). Littri, 19 (3): 108-116.
LAMPIRAN

Lampiran Tabel. Tabel Pengamatan Laju Transpirasi pada Tanaman Tomat


Waktu Tanaman Tomat
Perlakuan
Pengamatan Dengan Akar Tanpa Akar
0 menit 0 0
10 menit 0,1 0
Kontrol
20 menit 0,1 0
30 menit 0,1 0
0 menit 0 0
10 menit 0,2 0
RH
20 menit 0 0
30 menit 0,3 0
0 menit 0 0
10 menit 0 0
Angin
20 menit 0 0
30 menit 0 0
0 menit 0 0
10 menit 0 0
Suhu
20 menit 0 0
30 menit 0,2 0
Lampiran Gambar. Pengamatan Laju Transpirasi pada Tanaman Tomat

Gambar 1. Proses pembersihan akar tanaman tomat dari media tanam

Gambar 2. Proses pengisian air pada spoit

Gambar 3. Proses penutupan spoit dengan gabus dan dilapisi dengan wrapper
Gambar 4. Proses pemasangan spoit pada alat penyangga

Gambar 5. Proses pemberian perlakuan angin pada daun tanaman tomat


Lampiran perhitungan. Perhitungan Rata-Rata Jumlah Air yang Hilang per
Total Luas Daun Tanaman

1. Perhitungan rata-rata jumlah air yang hilang per total luas daun tanaman
(perlakuan kontrol)
Jumlah air hilang per cm2 luas daun (30 menit) =
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴
0,3 𝛴𝛴
=
5 𝛴𝛴2
= 0,06

mL/cm2
= 0,06 mL x 100 m2
= 6 mL/m2
Jumlah air hilang per menit per m2 luas daun = 6 mL/m2/30 menit = 0.2
mL/menit.

2. Perhitungan rata-rata jumlah air yang hilang per total luas daun tanaman
(perlakuan RH)
Jumlah air hilang per cm2 luas daun (30 menit) =
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴
0,5 𝛴𝛴
=
4,8 𝛴𝛴2
= 0,104

mL/cm2
= 0,104 mL x 100 m2
= 10,4 mL/m2
Jumlah air hilang per menit per m2 luas daun = 10,4 mL/m2/30 menit =
0.34 mL/menit.

3. Perhitungan rata-rata jumlah air yang hilang per total luas daun tanaman
(perlakuan angin)
Jumlah air hilang per cm2 luas daun (30 menit) =
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴
0 𝛴𝛴
=
6,5 𝛴𝛴2
= 0 mL/cm2
= 0 mL x 100 m2
= 0 mL/m2
Jumlah air hilang per menit per m2 luas daun = 0 mL/m2/30 menit = 0
mL/menit.

4. Perhitungan rata-rata jumlah air yang hilang per total luas daun tanaman
(perlakuan suhu)
Jumlah air hilang per cm2 luas daun (30 menit) =
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴
𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴 𝛴𝛴𝛴𝛴
0,2 𝛴𝛴
=
4,5 𝛴𝛴2
= 0,04

mL/cm2
= 0,04 mL x 100 m2
= 4 mL/m2
Jumlah air hilang per menit per m2 luas daun = 4 mL/m2/30 menit = 0.13
mL/menit.