Anda di halaman 1dari 8

pengaruh dana Bos terhadap prestasi siswa

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah hal yang sangat vital saat ini. Semua orang ingin menjadi manusia yang terdidik
yang kelak nanti bisa memberikan tuntunan kehidupn yang lebih baik. Namun sayangnya tidak semua
orang bisa mengenyam pendidikan, sebagaimana dalam amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan
bahwa “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang dapat survive di
dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Namun begitu pun sebaliknya, bangsa yang tidak cerdas
akan terlantar dan hanya akan mengunggu “ajalnya” tiba.
Kegagalan pemerintah dalam membangun pendidikan adalah cerita klasik, yang telah di
dengungkan berulang kali oleh mahasiswa, pendidik maupun pengamat pendidikan. Anggaran pendidikan
yang minim dibandinggakan dengan negara lain tentunya jauh untuk melahirkan manusia terdidik seperti
diiinginkan. Iihat saja Malaysia, Negara yan baru berkembang tersebut berani mengganggarkan
pendidikan mencapai 36 persen, bahkan tertinggi dibandingkan sektor lainnya. Bagaimana dengan di
Negara kita? Anggaram kecil namun acapkali digerogoti oleh oknum-oknum tertentu. Sangat miris!
Rasanya pemerintah juga tidak kekurangan akal, untuk mensiasati semuanya itu. Ya, meraka kan
orang terdidik, maka dengan mudah menuyusun regulasi yang masuk akal di hadapan rakyat Indonesia.
Meskipun anggaran pendidikan tergolong kecil, tentu dengan mengunggulkan program beasiswa
tepat sasaran bagi pelajar maupun mahasiswa, yang tergolong miskin/tidak mampu, maupun berprestasi.
Ini tentunya menjadi hawa sejuk dan sekaligus berita baik bagi para orang tua untuk mengatasi mahalnya
pendidikan saat ini. Mengharapkan beasiswa yang tidak seberapa, dibandingkan lonjakan biaya
pendidikan yang begitu besar.
Selain itu, untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi.
Pemerintah telah menentukan bantuan beasiswa bagi para calon mahasiswa tergolong miskin. Sesuai
dengan peraturan Pemerintah nomor 66 Tahun 2010 tentang pengelola dan Penyelenggaraan
pendidikan,semua perguruan tinggi wajib menampung 20 persen mahasiswa miskin yang mempunyai
kompetensi akademik yang memadai.
Bahkan Menteri PedidikanNasional Prof. Muh. Nuh mengatakan bahwa kebijakan tersebut
berdasarkan fakta di lapangan terkait dengan jumlah mahasiswa dari keluarga menengah bawah yang
menuntut ilmu di perguruan tinggi. Pada 2003 jumlah mahasiswa miskin di seluruh Indonesia hanya 0,98
persen,sedangkan 2008 sebesar 3 persen dan 2009 meningkat menjadi 6 persen.
Selama ini yang menjadi kendala dilapangan, banyak lulusan dari SMA/SMK yang berprestasi
namun tergolong miskin, enggan untuk melanjutkan pendidikan nya ke perguruan tinggi. Di
karenakan memikirkan jumlah uang yang harus dikelurkan sangat tinggi. Padahal, pemerintah telah
menyiapkan kebijakan khusus bagi para mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya. Sekarang
kembali lagi pada perguruan tinggi bersangkutan. Apakah telah melakukan sosialisasi secara maksimal,
sehingga para pelajar berminat masuk ke pergurun tinggi. Ini pun menjadi permasalahan yang sangat
krusial, fakta dilapangan telah membuktikan banyak mahasiswa elite yang masih mendapatkan beasiswa,
sedangkan mahasiswa yang tergolong miskin harus gigit jari menyaksikan hal tersebut, dan tidak bisa
berbuat banyak. Ini pun harus ditindak lanjuti oleh pemerintah, jangan langsung memberikan kepercayaan
penuh kepada perguruan tinggi. Perlu adanya pengawasan yang ketat dan kontrol maksimal.
Dalam rangka membangun pendidikan yang memiliki mutu baik, pemerintah kini telah
berupaya untuk membantu anak bangsa agar dapat menuntaskan program Wajib Belajar 9 Tahun
dengan cara merealokasikan sebagian besar anggarannya pada program pendidikan. Salah satu
program di bidang pendidikan adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menyediakan
bantuan bagi sekolah dengan tujuan membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu
dan meringankan beban bagi siswa yang lain dalam rangka mendukung pencapaian Program Wajib
Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Melalui program ini, pemerintah pusat memberikan
dana kepada sekolah-sekolah setingkat SD dan SMP untuk membantu mengurangi beban biaya
pendidikan yang harus ditanggung oleh orangtua siswa. BOS diberikan kepada sekolah untuk
dikelola sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat. Besarnya dana untuk tiap
sekolah ditetapkan berdasarkan jumlah murid.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut , ada beberapa masalah yang akan dibahas, yaitu:
a Apakah yang dimaksud dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS)?
b Bagaimana pengaruh dana BOS terhadap kegiatan sekolah?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan karya tulis ini adalah:
a Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
b Untuk mengetahui pengaruh dana BOS terhadap kegiatan sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biaya Pendidikan
Pendidikan memiliki nilai konsuntif dan investatif. Nilai konsumtif pendidikan adalah dalam
bentuk jasa yang dapat memberikan kegunaan terhadap pemakai jasa pendidikan. Sedangkan nilai
investatif pendidikan dapat diukur dengan pendapat (income) seorang yang terdidik sesuai dengan
tingkat produktivitasnya. Biaya pendidikan diartikan sebagai sejumlah uang yang dihasilkan dan
dibelanjakan untuk berbagai keperluan penyelenggaraan pendidikan.
Biaya pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tinggi. Apalagi menjelang tahun
ajaran baru seperti saat ini, ada dua kegelisahan para orang tua tentang pendidikan putra-putrinya.
Pertama, apakah putra-putrinya bisa masuk pendidikan tinggi negeri (PTN) melalui jalur SNM
PTN. Kedua, jika tidak, apakah mampu membayar biaya pendidikan tinggi yang dinilai mahal oleh
banyak kalangan. Perluasan akses pendidikan yang dicanangkan pemerintah sering berhadapan
dengan kenyataan adanya keinginan untuk meningkatkan akses sumber daya ekonomi institusi
pendidikan yang terus terjadi. Di tengah realitas seperti itu, dirasakan sangat mendesak untuk
merumuskan berbagai kebijakan pendidikan yang berpihak kepada kaum miskin tetapi cerdas.
Di tengah suasana semakin mahalnya biaya pendidikan tinggi tersebut, banyak pemikiran
yang menginginkan pendidikan lebih memihak kepada rakyat. Yaitu, biaya pendidikan yang
terjangkau masyarakat secara umum. Dengan demikian, yang dibutuhkan adalah penetapan
struktur tarif pendidikan yang lebih memihak kepada kemampuan masyarakat.
Selama ini, yang diatur negara hanyalah pungutan SPP dan praktikum untuk program
reguler. Sementara itu, pungutan lainnya diserahkan kepada masing-masing lembaga pendidikan.
Semakin berkualitas lembaga pendidikan tinggi, bisa saja semakin tinggi biaya pendidikan yang
dipungut dari masyarakat.
Di tengah suasana seperti ini, sudah selayaknya pemerintah merumuskan regulasi untuk
penetapan tarif pembiayaan pendidikan tinggi. Artinya, pemerintah sesuai dengan fungsinya
adalah memberikan perlindungan bagi masyarakat, termasuk dalam praktik penyelenggaraan
pendidikan tinggi. Salah satu program yang telah dicanangkan pemerintah adalah dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS). Dengan adanya program ini, pemerintah bertujuan untuk membantu
mengurangi beban biaya pendidikan yang ditanggung oleh orang tua siswa dengan cara
memberikan dana kepada sekolah-sekolah setingkat SD dan SMP. Sehingga dengan adanya
bantuan dari pemerintah tersebut diharapkan dapat mencapai pendidikan yang bermutu, dan dapat
merealisasikan isi yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara berusia 7-15 tahun wajib
mengikuti pendidikan dasar, yang dikenal dengan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Sembilan Tahun. Konsekuensi dari hal tersebut maka pemerintah wajib memberikan layanan
pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/Mts serta
satuan pendidikan yang sederajat).
2.2 Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS)
Beasiswa adalah pemberian berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada perorangan
yang bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang ditempuh. Beasiswa
dapat diberikan oleh lembaga pemerintah, perusahaan ataupun yayasan. Pemberian beasiswa dapat
dikategorikan pada pemberian cuma-cuma ataupun pemberian dengan ikatan kerja (biasa
disebut ikatan dinas) setelah selesainya pendidikan. Lama ikatan dinas ini berbeda-beda,
tergantung pada lembaga yang memberikan beasiswa tersebut.
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah program pemerintah yang berasal dari
realokasi dana subsidi BBM (PKPS-BBM) di bidang pendidikan. Program ini bertujuan untuk
membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu dan meringankan bagi siswa
lain. Dengan BOS diharapkan siswa dapat memperoleh layanan pendidikan dasar yang
lebih bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan wajib belajar Sembilan tahun. Sasaran
program BOS adalah semua sekolah setingkat SD dan SMP, baik negeri maupun swasta di seluruh
propinsi di Indonesia. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimaksud dalam PKPS BBM
Bidang Pendidikan ini mencakup komponen untuk biaya operasional non personil. Biaya
operasional non personil inilah yang diprioritaskan, bukan biaya kesejahteraan guru dan bukan
biaya untuk investasi.
Penggunaan Dana BOS harus berpedoman pada panduan pelaksanaan program BOS yang
dikeluarkan oleh pemerintah pusat, yang antara lain mengatur tentang:
a. Kriteria kegiatan-kegiatan yang boleh dibiayai dana BOS; dan
b. Kegiatan-kegiatan yang tidak boleh dibiayai dari dana BOS.
Berdasarkan panduan tersebut Dana BOS boleh digunakan untuk :
a. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka Penerimaan Siswa Baru : biaya pendaftaran,
penggadaan formulir, administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang, serta kegiatan lain yang
berkaitan langsung dengan kegiatan tersebut.
b. Pembelian buku teks pelajaran dan buku referensi untuk dikoleksi diperpustakaan.
c. Pembelian bahan-bahan habis dipakai: buku tulis, kapur tulis, pensil,
bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran, gula kopi dan teh untuk
kebutuhan sehari-hari di sekolah.
d. Pembiayaan kegiatan kesiswaan: program remedial, program pengayaan, olah raga, kesenian,
karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja dan sejenisnya.
e. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa.
f. Pengembangan profesi guru: pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS.
g. Pembiayaan perawatan sekolah: pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela,
perbaikan mebeler dan perawatan lainnya.
h. Pembiayaan langganan daya dan jasa: listrik, air, telepon, termasuk untuk pemasangan baru jika
sudah ada jaringan disekitar sekolah.
i. Pembayaran honorarium bulanan guru honorer dan tenaga kependidikan honorer sekolah.
Tambahan insentif untuk kesejahteraan guru dan tega kependidikan sekolah ditanggung
sepenuhnya oleh pemerintah daerah.
j. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin yang menghadapi masalah biaya
transport dari dan ke sekolah.
k. Khusus untuk pesantren salafiyah dan sekolah keagamaan non Islam, dana BOS dapat
digunakan untuk biaya asrama/pondokan dan membeli peralatan ibadah.
l. Pembiayaan pengelolaan BOS: ATK, penggandaan, surat menyurat dan penyusunan laporan.
m. Prioritas pertama penggunaan dana BOS adalah untuk komponen a s/d l, bila seluruh komponen
diatas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan masih terdapat sisa dana, maka sisa dana BOS
tersebut dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran dan mebeler sekolah.

Panduan pelaksanaan BOS juga menetapkan bahwa Dana BOS tidak boleh digunakan
untuk hal-hal sebagai berikut :
a. Disimpan dalam jangka waktu lama dengan maksud dibungakan.
b. Dipinjamkan ke pihak lain.
c. Membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas sekolah dan memerlukan biaya besar, misalnya
studi banding, studi tour (karya wisata) dan sejenisnya.
d. Membayar bonus, transportasi, atau pakaian yang tidak berkaitan dengan kepentingan murid.
e. Membangun gedung/ruangan baru.
f. Membeli bahan/ peralatan yang tidak mendukung proses pembelajaran.
g. Menanamkan saham.
Membiayai segala jenis kegiatan yang telah dibiayai secara penuh atau mencukupi dari
sumber dana pemerintah pusat atau daerah, misalnya guru kontrak/ guru bantu dan kelebihan jam
mengajar. Penggunaan dana BOS untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS diperbolehkan
hanya dalam rangka penyelenggaraan suatu kegiatan sekolah selain kewajiban jam mengajar.
Besaran/satuan biaya untuk transportasi dan uang lelah guru PNS yang bertugas diluar jam
mengajar tersebut harus mengikuti peraturan tentang penetapan batas kewajaran yang dikeluarkan
oleh pemerintah daerah masing-masing dengan mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi,
geografis dan faktor lainnya.
2.3 Pengaruh Dana Bos Terhadap Kegiatan Sekolah
Dalam pelaksanaan program BOS sekolah-sekolah negeri maupun swasta di seluruh Indonesia
yang menerima dana BOS serta pihak lain yang terkait dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan
program ini. Masalah yang muncul di masyarakat adalah selama ini BOS dipersepsi sebagai wujud nyata
pelaksanaan pendidikan dasar gratis seperti yang dijanjikan oleh Presiden SBY pada saat kampanye, baik
pada periode I maupun II. Karena itu, ketika sudah ada BOS tapi pendidikan tidak gratis, masyarakat
memprotesnya. Ternyata persepsi masyarakat tersebut keliru, karena kedua peraturan menteri (Menteri
Pendidikan Nasional dan Menteri Keuangan) di atas tidak ada yang menyebutkan BOS itu menggratiskan
pendidikan dasar (SD/MI-SMP/MTS), tapi hanya untuk meringankan beban masyarakat atas pembiayaan
pendidikan dalam rangka wajib belajar sembilan tahun yang bermutu, serta ditujukan untuk stimulus bagi
daerah, dan bukan sebagai pengganti kewajiban daerah menyediakan anggaran pendidikan dalam APBD,
untuk BOS daerah dan/atau Bantuan Operasional Pendidikan.
Fungsi BOS sebagai stimulus daerah itu dipertegas dalam Pasal 2 Permendiknas Nomor 37 Tahun
2010 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana BOS Tahun 2011. Dengan demikian, janganlah bermimpi
ada pendidikan gratis melalui BOS tersebut.
Di sekolah-sekolah di pedesaan atau pinggiran, keberadaan BOS dapat menggratiskan pendidikan
dasar. Tapi, untuk sekolah-sekolah di perkotaan, yang biaya hidupnya lebih mahal, mustahil BOS dapat
menggratiskan pendidikan dasar. Meskipun tidak mampu menggratiskan pendidikan dasar, kita berharap
penyaluran dana BOS tidak terlambat sehingga tidak merepotkan pihak sekolah. Keterlambatan
penyaluran dana BOS dapat merepotkan sekolah, karena mereka terpaksa harus mencari pinjaman untuk
operasional. Usaha mencari pinjaman itu kadang dapat melahirkan persoalan baru, berupa teguran Badan
Pemeriksa Keuangan dengan tuduhan tidak sesuai dengan prosedur. Agar tidak merepotkan sekolah, lebih
baik penyaluran dana BOS ditarik ke pusat saja agar bisa datang tepat waktu.
Lalu bagaimanakah pengaruh dana bos terhadap prestasi siswa? "Secara akademik, siswa tidak
boleh mengalami hambatan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Institusi pendidikan yang
dibiayai APBN dan APBD wajib menerima mereka. Keberadaan program beasiswa ini pun. ditegaskan
Suyanto, akan semakin membantu kelangsungan masa depan pendidikan siswa, setelah mereka
mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Adapun jumlah dana BOS yang disediakan pemerintah, per 2009 ada peningkatan yang signifikan.
Jumlah biaya satuan BOS per 2009, termasuk BOS buku per siswa SD di kota mencapai Rp 400 ribu/tahun,
SD di kabupaten Rp 397 ribu/tahun, SMP di kota Rp 575 ribu/tahun, SMP di kabupaten Rp 570 ribu/tahun.
Harapannya, dengan adanya bantuan itu, BOS dan Beasiswa, angka putus sekolah dapat semakin
menurun pada satu sisi dan kualitas prestasi mereka meningkat di sisi yang lain.
Tujuan program pemberian bantuan beasiswa itu, untuk meningkatkan akses dan pemerataan
serta peningkatan kualitas prestasi siswa. Seperti yang diamanatkan Undang-Undang No 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Apabila siswa tidak memili biaya, biasanya siswa itu drop out dari sekolahnya. Dengan bantuan
beasiswa itu diharapkan dapat menekan angka drop oUt sekolah di masyarakat. Program yang telah
berjalan dua tahun ini telah cukup efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dan kualitas prestasi
siswa.
Kita bisa melihat angka drop out setiap tahun semakin menurun, dan siswa yang berprestasi pun
semakin meningkat. Di setiap olimpiade kita bisa lihai juara-juara itu tidak hanya didominasi oleh kota-kota
besar; sekarang sebarannya sudah merata.
Mengingat efektifitas program itu, diharapkan dapat terus ditingkatkan setiap tahunnya. Hanya
saja, tahun 2010 angkanya akan mengalami penurunan. Tahun depan diperkirakan besarannya akan
berkurang karena resesi global, kemungkinan 10 persen.
Seluruh pemerintahan daerah di Indonesia dapat aktif mendukung pemberian bantuan ini, dengan
cara mengalokasikan dana pada masing-masing APBD.Pemerintah daerah diharapkan dapat
meningkatkan APBD pendidikan, agar orang tua siswa tidak terlalu dibebankan. Sejumlah pemda yang
telah menyediakan dari APBD-nya untuk beasiswa, seperti Jakarta dan Yogyakarta. Pemda -pemda yang
lain dapat juga mengeluarkan kebijakan sama mendukung pendidikan.
Langkah-langkah pemberian beasiswa itu, jelasnya, tidak hanya ditentukan oleh kemampuan
ekonomi daerah, namun yang tak kalah pentingnya adalah kemauan dan komitmen dari pemerintah
masing-masing. Pihak Pemda harus dapat mengawasi penyaluran dana bantuan agar program ini berjalan
tepat sasaran.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pendidikan menjadi salah satu kunci penanggulangan kemiskinan dalam
jangka menengah dan jangka panjang. Namun, sampai dengan saat ini masih banyak orang miskin
yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu. Program Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) adalah bantuan dana yang
berasal dari realokasi/kompensai pengurangan subsidi BBM bidang dibidang pendidikan sebagai
salah satu layanan pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kepada sekolah setingkat SD dan
SMP baik negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Program BOS bertujuan untuk
membebaskan biaya pendidikan bagi siswa
yang tidak mampu dan meringankan bagi siswa lain, dengan harapan siswa dapat memperoleh
layanan pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan wajib belajar
sembilan tahun.
Dalam pelaksanaan program BOS sekolah-sekolah negeri maupun swasta di
seluruh Indonesia yang menerima dana BOS serta pihak lain yang terkait dan bertanggung jawab
dalam pelaksanaan program ini harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang terkait
agar program BOS ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan dan tepat sasaran.
3.2 SARAN
Dengan adanya dana BOS diharapkan semua pihak yang terkait ikut bertanggung jawab
atas realisasi atau penyaluran dari dana BOS tersebut. Sehingga penyaluran dana BOS tepat
sasaran. Dengan demikian penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan
dengan baik, khususnya terhadap anggaran pendidikan yang tinggi tidak lagi menjadi alasan siswa
tidak dapat mengikuti pembelajaran di sekolah. Dengan begitu minat siswa meningkat untuk lebih
giat belajar, karena adanya buku pelajaran gratis. Otomatis prestasi siswa akan meningkat pula.

DAFTAR PUSTAKA
Inpres No.5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar
Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.
Buku Panduan Pelaksanaan Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun 2007,
Departemen Pendidikan Nasional – Departemen Agama, 2007.