Anda di halaman 1dari 12

Contoh pengerjaan tugas

Nama :….
NIM :….
Nomor Tugas :….

Catatan
Nilai Soft dan hard File:
Pendahuluan : 10X 2 = 20
Materi : 15X 2 = 30
Rangkuman : 2 X 5 = 10
Soal : 5 X 3 = 15
Daftar pustaka : 5 X 3 = 15
Total = 90

Media kesehatan pada peningkatan Pengetahuan Status Gizi


Kurang
A. Pendahuluan

Frame 1
Kekurangan gizi secara perlahan akan berdampak terhadap tingginya
kematian anak, kematian ibu dan menurunnya produktivitas kerja. Kondisi ini
secara langsung menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara.
Oleh karena itu, upaya perbaikan gizi masyarakat merupakan bagian dari investasi
sumber daya manusia untuk pembangunan suatu bangsa(Azwar, 2004).

Frame 2
Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas merupakan modal utama
atau investasi dalam pembangunan kesehatan. Gizi merupakan salah satu penentu
kualitas sumber daya manusia. Kurang gizi dapat berakibat gagal tumbuh
kembang, meningkatkan kesakitan dan kematian terutama pada kelompok usia
rawan gizi serta penyakit pada anak bawah lima tahun (balita). Mereka merupakan
kelompok yang paling menderita akibat kurang gizi dan jumlahnya dalam
populasi cukup besar (Linda, 2011).

Frame 3
Kurang gizi berdampak terhadap pertumbuhan, perkembangan intelektual dan
produktivitas. Anak yang kekurangan gizi pada usia balita akan tumbuh pendek,
dan mengalami gangguan pertumbuhan serta perkembangan otak yang
berpengaruh pada rendahnya tingkat kecerdasan, karena tumbuh kembang otak
80% terjadi pada masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun (Depkes, 2005).

Frame 4

1
2

Pada masa ini, tumbuh kembang otak paling pesat (80%) yang akan
menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa dewasa, sehingga potensi
anak dengan Intelligence Quotient(IQ)yang rendah sangat memungkinkan. Setiap
anak gizi buruk mempunyai risiko kehilangan IQ 10–13 poin. Lebih jauh lagi
dampak yang diakibatkan adalah meningkatnya kejadian kesakitan bahkan
kematian. Mereka yang masih dapat bertahan hidup akibat kekurangan gizi yang
bersifat permanen, kualitas hidup selanjutnya mempunyai tingkat yang sangat
rendah dan tidak dapat diperbaiki meskipun pada usia berikutnya kebutuhan
gizinya sudah terpenuhi (Devi, 2010).

Data sekunder Global


Menurut World Health Organization (WHO) (2012), jumlah penderita kurang
gizi di dunia mencapai 101 juta anak, dari jumlah tersebut 70% di antaranya
berada di Benua Asia. Sebagian besar terdapat di Negara-negara berkembang.
Keadaan kurang gizi menjadi salah satu penyebab kematian anak di seluruh dunia.

Data Sekunder Nasional


Secara Nasional hasil analisis Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013
melaporkan bahwa prevalensi berat-kurang (Underweight) pada tahun 2013
adalah 19.6%, terdiri dari 5.7% gizi buruk dan 13.9% gizi kurang. Jika
dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2007 (18.4%) kemudian
tahun 2010 (17.9%) maka telah terjadi peningkatan kasus. Peningkatan terutama
pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5.4% tahun 2007, 4.9%pada tahun 2010, dan
5.7% tahun 2013. Prevalensi gizi kurang naik sebesar 0.9% tahun 2007-2013.
Dari 33 provinsi di Indonesia, 18 provinsi memiliki prevalensi gizi berat-kurang
di atas angka prevalensi nasional yaitu berkisar antara 21.2% sampai dengan
33.1%.

Penelitia 1 Sumber dari abstrak jurnal


Berdasarkan hasil penelitian Suiraoka (2010), bahwa ada pengaruh yang
signifikan pengetahuan gizi yang lebih baik pada responden yang diberikan
pendidikan gizi dengan media dibanding dengan responden yang tidak diberikan
pendidikan gizi tanpa menggunakan media.

Peneliti 2 Sumber dari abstrak jurnal


Hal ini, sesuai dengan Zulaekah (2012) yang menyatakan bahwa dengan
program komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) media cetak cukup efektif
dalam menyampaikan informasi dan pendidikan gizi. Walaupun bersifat statis
dengan menggunakan leaflet dan lembar balik yang tersedia di Puskesmas namun,
dapat menyampaikan pesan-pesan visual dalam bentuk gambar-gambar sederhana
sehingga memudahkan sampel dalam memahami masalah gizi. Penelitian yang
dilakukan oleh Zulaekah (2012) menunjukkan bahwa media booklet dan poster
dapat meningkatkan pengetahuan tentang gizi sebanyak 17.44 point. Ada
perbedaan bermakna pengetahuan gizi anak SD yang anemia sebelum dan setelah
intervensi pendidikan gizi dengan media booklet (p=0.0001).
3

Peneliti 3 Sumber dari abstrak jurnal


Penelitian yang dilakukan oleh Siagian (2010) menyatakan bahwa ada
pengaruh penyuluhan gizi dengan cara pemajangan poster dan pemberian leaflet
makanan sehat terhadap perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) konsumsi
makanan jajanan pada siswa sekolah menengah umum tentang makanan jajanan.
Intervensi berupa pemajangan poster serta pemberian leaflet mampu
meningkatkan pengetahuan, sikap pelajar, dan tindakan siswa. Itu berarti bahwa
instrumen media visual merupakan alat yang efektif untuk penyampaian pesan-
pesan gizi dan kesehatan kepada siswa sekolah menengah umum. Namun,
peningkatan pengetahuan dan sikap setelah pemajangan poster dan pemberian
leaflet makanan sehat tidak selalu diikuti dengan peningkatan kategori tindakan.

Fokus Telaah
Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis tertarik melakukan telaah
mengenai Media kesehatan pada peningkatan Pengetahuan Status Gizi
Kurang.

B. MATERI
1. Status Gizi Kurang (3 pendapat ahli yang berbeda+1 pendapat anda)
Pendapat 1
Kurang gizi adalah keadaan patologis yang dihasilkan akibat defisiensi
nutrisi. Cadangan gizi manusia yang habis sebagai akibat dari kecukupan asupan
gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Ketidakcukupannutrisi diakibatkan
darigangguan dalam proses pencernaan makanan,pencernaan, atau penyerapan.
Hal ini, dapat terjadi akibat ketidakmampuan untuk mengkonsumsi nutrisi yang
memadai, ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi, ketidakmampuan untuk
menyerap nutrisi atau peningkatan kebutuhan nutrisi oleh tubuh. Identifikasi awal
dari kekurangan gizi atau risiko kekurangan gizi dapat menurunkan kejadian
tersebut (Nurfantri, 2016).
Pendapat 2
Gizi kurang dan gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang
kekurangan nutrisi, nutrisinya dibawahrata-rata. Gizi kurang adalah kekurangan
bahan-bahan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin yang
dibutuhkan oleh tubuh (Alamsyah, 2015).
Pendapat 3
Gizi kurang adalah kondisi kekurangan gizi akibat jumlah kandungan
mikronutrien dan makronutrien tidak memadai. Kondisi ini dapat disebabkan oleh
malabsorbsi (missalfibrosis kistik) yaitu ketidakmampuan mengkonsumsi
nutrient. Kurang gizi dapat menyebabkan penyakit seperti skorbut (malnutrisi
akibat kekurangan asupan vitamin C dalam diet) atau obesitas (malnutrisi akibat
asupan energi yang berlebihan) (Dinkes Sumsel, 2016).
United Nations International Children’s Emergency Fund(UNICEF, 2012)
mengatakan bahwa masalah gizi kurang dapat disebabkan oleh:
1. Penyebab Langsung
Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang.
Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang,
4

tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanantetapi sering sekali
menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada
anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan
melemah dan mudah terserang penyakit.
2. Penyebab Tidak Langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu:
a. Ketahuan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan
mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya
dalam jumlah yang cukup, baik jumlah maupun mutu gizinya.
b. Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga, masyarakat
diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian dan dukungan terhadap anak
agar dapat tumbuh kembang dengan baik fisik, mental serta sosial.
c. Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistem pelayanan
kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin ketersediaan air bersih dan
sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang
membutuhkan.
Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan
keterampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan
keterampilan, makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola
pengasuhan maka akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan
kesehatan (Hikmawati, 2012).
Pendapat Penulis
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gizi kurang
adalah kondisi seseorang yang mengalami kekurangan nutrisi dalam tubuh akibat
tubuh tidak mampu menyerap dan mencerna nutrisi yang masuk kedalam tubuh
sehingga dapat menyebabkan penyakit tertentu.

2. Pola Konsumsi
Pendapat 1
Pola makan adalah cara atau kebiasaan yang dilakukan sekelompok orang
dalam kondisi sehat maupun sakit dalam hal mengkonsumsi makanan yang
dilakukan secara berulang-ulang pada waktu tertentu dalam jangka waktu yang
lama (Fitri, 2013).
Pendapat 2
Menurut Karjati yang dikutip dari Sulistyoningsih (2011), pola makan adalah
berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah
bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas
untuk satu kelompok masyarakat tertentu.
Pendapat 3
Pengertian pola makan adalah tingkah laku manusia dalam memenuhi
kebutuhan akan makan yang meliputi sikap, kepercayaan dan pilihan makanan.
Menurut Suhardjo (2003), pola makan diartikan sebagai cara seseorang atau
sekelompok orang untuk memilih makanan, mengkonsumsinya sebagai reaksi
terhadap pengaruh-pengaruh fisiologis,psikologis, budaya dan sosial, karakteristik
dari kegiatan yang berulang kali dari individu dalam memenuhi kebutuhannya
akan makanan, sehingga kebutuhan fisiologis, sosial dan emosionalnya dapat
5

terpenuhi. Pola makan yang seimbang, yaitu sesuai dengan kebutuhan disertai
pemilihan bahan makanan yang tepat akan melahirkan status gizi yang baik.
(Sulistyoningsih, 2011).

Pendapat penulis
Pola makan adalah kebiasaan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
dengan makan, yaitu kegiatan yang dilakukan secara berulang kali terkait akan
makanan, dengan mempertimbangkan reaksi terhadap pengaruh-pengaruhnya.

3. Pengetahuan
Pendapat 1
Definisi pengetahuan (knowledge) menurut Webster's New World Dictionary of
theAmerican Language: persepsi tentang sesuatu yang jelas, tentu, semua yang
telah dirasakan dan diterima oleh otak, serta merupakan informasi terorganisasi
yang dapat diterapkan untuk penyelesaian masalah(Listiyono, 2008).
Pendapat 2
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan dapat terjadi melalui
pancaindera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa,
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2007).
Pendapat 3
Pengetahuan pada intinya adalah informasi atau maklumat yang diketahui
atau disadari oleh seseorang. Definisi pengetahuan dirangkum sebagai sesuatu
yang ada atau dianggap ada dari hasil persesuaian subjek dengan objek, hasil
kodrat manusia ingin tahu, hasil persesuaian antara induksi dengan deduksi
sebagai suatu gambaran objek-objek eksternal yang hadir dalam pikiran manusia
dan jiwa seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan,hubungan dengan
lingkungan dan alam sekitarnya (Taufik, 2010).
Pendapat penulis
Pengetahuan adalah persepsi tentang sesuatu yang jelas terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu dikarenakan adanya reaksi,
persentuhan,hubungan dengan lingkungan alam sekitarnya yang hadir dalam
pikiran manusia dan jiwa seseorang.

4. Pengetahuan Gizi
Pendapat 1
Pengetahuan gizi adalah kepandaian memilih makanan yang merupakan
sumber zat-zat gizi dan kepandaian dalam memilih makanan jajanan yang baik
(Laenggeng, 2015).
Pendapat 2
Pengetahuan gizi pada setiap individu dinilai menjadi salah satu faktor yang
penting dalam konsumsi pangan dan status gizi. Hal tersebut, berhubungan
dengan pemberian menu, pemilihan bahan pangan, pemilihan menu, pengolahan
pangan dan menentukan pola konsumsi pangan yang akhirnya akan berpengaruh
6

pada keadaan gizi individu yang bersangkutan. Sasaran pendidikan gizi tidak
hanya kaum wanita yang meliputi ibu yang berpendidikan, pengetahuan gizinya
baik akan sangat berperan dalam menyiapkan menu yang cukup mengandung
energi, protein, serta gizi lainnya pada keluarganya (Myrnawati, 2016).
Pendapat 3
Secara umum, di negara berkembang, ibu memainkan peranan penting dalam
memilih dan mempersiapkan pangan untuk dikonsumsi anggota keluarganya.
Walaupun seringkali para ibu bekerja di luar, mereka tetap mempunyai peran
besar dalam kegiatan pemilihan dan penyiapan makanan. Saat kedua orang tua
memegang peranan penting dalam pemilihan pangan untuk anggota keluarganya,
maka pengetahuan gizi keduanya akan mempengaruhi jenis pangan dan mutu gizi
makanan yang dikonsumsi anggota keluarga. (Marlenywati 2015)

Pendapat penulis
Pengetahuan gizi yang dimiliki ibu akan mempengaruhi pemilihan pangan
bagi keluarganya, terutama ibu yang memiliki balita. Jika balita tidak diberikan
asupan makanan yang bergizi maka dapat berdampak kepada tumbuh kembang
balita tersebut. Selain berdampak pada tumbuh kembang balita, pemilihan asupan
makanan juga mempengaruhi status gizi balita. Jika ibu salah dalam memberikan
asupan makanan dikarenakan kurangnya pengetahuan maka status gizi balita
tersebut bisa menjadi gizi kurang bahkan gizi buruk.

5. Makanan Sehat
Pendapat 1
Makanan yang mengandung giziseimbang, mengandung serat dan zat-zat
yang diperlukan tubuh untuk proses tumbuh kembang, menu makanan sehat
harusnya kaya akan unsur gizi seimbang (Haryanto dkk, 2006).
Pendapat 2
Sehat dalam pengertian, bahan makanan dapat memenuhi jenis dan jumlah zat
gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Zat gizi yang harus ada dalam bahan
makanan agar tubuh sehat, meliputi golongan protein, lemak, dan karbohidrat
yang disebut zat gizi makro; serta vitamin dan mineral yang disebut zat gizi mikro
(Wikanta, 2010).
Pendapat 3
Definisi makanan yang sehat adalah makanan yang tidak mengandung bahan
yang dapat merugikan mahluk hidup yang mengkonsumsinya. Tujuan
diketahuinya bahaya bahan tambahan makanan adalah agar kita waspada pada
makanan yang akan dikonsumsi (Ratnani, 2009).
Pendapat penulis
Makanan sehat adalah makanan yang mengandung zat yang diperlukan oleh
tubuh berupa zat gizi yang harus ada dalam bahan makanan agar tubuh sehat, dan
tidak mengandung bahan yang dapat merugikan mahluk hidup yang
mengkonsumsinya.

Fungsi Makanan Bagi Tubuh


7

a. Makanan sebagai sumber zat tenaga atau energi Hidrat-arang, lemak dan
protein merupakan komponen utama sebagaisumber energi yang dibutuhkan
untuk aktivitas.
b. Makanan sebagai sumber zat pembangunProtein dibutuhkan sebagai sumber
zat pembangun yaitu untuk pembentukan sel-sel tubuh.
c. Makanan sebagai sumber zat pengaturVitamin dan mineral dibutuhkan
sebagai sumber zat pengatur yang diperlukan sebagai enzym,co-enzym atau
hormon untuk membantu proses metabolisme dalam tubuh (Azwar, 2004).

Ciri – Ciri Makanan Sehat dan Makanan Tidak Sehat


Menurut Bahan Ajar Mata Kuliah Kesehatan dan Gizi (2009), ciri-ciri
makanan sehat yaitu:

a. Harus cukup mengandung kalori.


b. Harus cukup mengandung protein.
c. Harus cukup mengandung vitamin.
d. Harus cukup mengandung garam, mineral dan air.
e. Perbandingan yang baik antara sumber karbohidrat, protein dan lemak.
f. Mudah dicerna oleh alat pencernaan.
g. Bersih,tidak mengandung bibit penyakit.
h. Jumlah yang cukup dan tidak berlebihan.
i. Tidak terlalu panas pada saat disantap.
j. Bentuknya menarik dan rasanya enak

Ciri-ciri Makanan Tidak Sehat


a. Makanan yang tidak sehat atau dapat mengganggu kesehatan manusia adalah
makanan yang mengandung zat kolesterol dan bahan tambahan seperti zat
pewarna, zat pengawet dan zat pemanis.
b. Makanan yang tidak sehat lainnya adalah yang mengandung bahan tambahan
makanan (adiktif). Bahan tambahan tersebut dapat berupa bahan pengawet,
bahan pemanis buatan, penyedap rasa dan bahan pewarna.
c. Bahan pemanis buatan adalah bahan makanan tanpa nilai gizi dan hanya
menyebabkan rasamanis pada makanan contohnya sakarin dan siklamat
dengan kadar maksimum 1.5gram per kg bahan makanan.
d. Penyedap rasa adalah bahan tambahan makanan yang dapat memberikan rasa
dan aroma contohnya asam butirat. Penggunaannya harus secukupnya saja.
Bahan pewarna merupakan bahan tambahan yang dapat memperbaiki dan
memberi warna pada makanan, penggunaannya harus secukupnya saja,
namun ada pula pewarna yang memang beracun, bahkan ada zat pewarna
tekstil digunakan untuk pewarna makanan.
e. Bahan-bahan tambahan buatan tidak saja mengganggu kesehatan jika
terakumulasi tetapi juga dapat menyebabkan nilai gizi pada makanan tertentu
berkurang. Selain jenis makanan yang mengandung kolesterol dan bahan
tambahan di atas sebenarnya masih banyak makanan tidak sehat yang
mengganggu kesehatan diantaranya makanan yang terkontaminasi dengan
8

pestisida dan makanan yang telah dibusukkan oleh mikroorganisme. (Bahan


Ajar Mata Kuliah Kesehatan dan Gizi, 2009).

6. Media Pendidikan Kesehatan


Pendapat 1
Media kesehatan pada hakikatnya merupakan alat bantu pendidikan kesehatan
yang bisa digunakan dalam bentuk Audio Visual Aids (AVA). Disebut sebagai
media kesehatan karena alat-alat tersebut merupakan saluran (channel) untuk
menyampaikan pesan kesehatan guna mempermudah penerimannya bagi
masyarakat atau ‘klien’ (Notoatmodjo, 2007).
Pendapat 2
Menurut Sadiman dkk, (2003) media adalah perantara, pengantar pesan dari
pengirim ke penerima pesan. Berdasarkan pengertian ini tersirat bahwa
pendidikan kesehatan adalah suatu proses komunikasi yang terjadi dari pengirim
pesan kepada penerima pesan. Pesan yang disampaikan tersebut dapat dilakukan
melalui suatu saluran tertentu atau dengan menggunakan pengantar. Jadi media
pendidikan adalah pengantar pesan tersebut. (Suiraoka, 2012).
Pendapat 3
Media berasal dari bahasa latindan merupakan bentuk jamak dari kata
medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Sehingga media
pendidikan dapat didefinisikan sebagai alat-alat yang digunakan oleh pendidik
dalam meyampaikan bahan pendidikan/pengajaran (Suiraoka, 2012).
Pendapat penulis
Media dalam pendidikan kesehatan merupakan alat bantu komunikasi yang
merupakan perantara dalam proses pembelajaran, informasi dan seni untuk
mempermudah dalam melaksanakan pendidikan/edukasi kesehatan guna merubah
aspek pengetahuan, sikap dan perilaku.
a. Ciri-ciri Media Pendidikan
Ciri-ciri khusus media pendidikan berbeda menurut tujuan dan
pengelompokannya. Ciri-ciri media dapat dilihat menurut kemampuannya
membangkitkan ransangan pada indera penglihatan, pendengaran, perabaan,
penciuman, dan pengecapan. Maka ciri-ciri umum media adalah bahwa media itu
dapat diraba, dilihat didengar, dan diamati melalui panca indera. Disamping
itu,ciri-ciri media dapat dilihat menurut lingkup sasarannya dan kontrol oleh
pemakai, serta tiap-tiap media mempunyai karakteristik yang perlu dipahamioleh
pengguna (Suiraoka, 2012).
Ciri-ciri media pendidikan diantaranya:
1) Penggunaan yang dikhususkan atau dialokasikan pada kepentingan tertentu.
2) Alat untuk menjelaskan apa yang ada di buku pelajaran baik berupa kata-kata
simbol atau bahkan angka-angka.
3) Media pendidikan bukan hasil kesenian.
4) Pemanfaatan media pendidikan tidak sebatas pada suatu keilmuan tertentu
tapi digunakan pada seluruh keilmuan.

Manfaat Media
9

Manfaat penggunaan media dalam pendidikan antara lain menurut Suiraoka


(2012).
a. Media dapat memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat
verbalistik.
b. Media dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
c. Media dapat mengatasi sifat pasif sasaran pendidikan dan dapat memberikan
perangsangan, pengalaman serta menimbulkan persepsi yang sama.
d. Media dapat menyebabkan pengajaran lebih menarik perhatian sasaran
pendidikan, sehingga menumbuhkan motivasi belajar.
e. Media dapat memperjelas makna bahan pengajar.
f. Media dapat membuat metode belajar akan lebih variatif dan sasaran
pendidikan akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar.

C. Rangkuman
Kekurangan gizi secara perlahan akan berdampak terhadap
tingginya kematian anak, kematian ibu dan menurunnya produktivitas
kerja. Kondisi ini secara langsung menurunkan tingkat kesejahteraan
masyarakat di suatu negara. Oleh karena itu, upaya perbaikan gizi
masyarakat merupakan bagian dari investasi sumber daya manusia untuk
pembangunan suatu bangsa.
Salah satu permasalahan gizi yang masih menjadi tantangan berat
bagi tenaga kesehatan adalah gizi kurang pada balita. Padahal balita
merupakan bibit-bibit generasi masa depan bangsa. Usia balita sendiri
sangat rawan mengalami gangguan kesehatan akibat dari status gizi yang
kurang. Dampak dari gizi yang kurang pada balita pun cukup beragam
antara lain adalah meningkatnya risiko penyakit infeksi, menghambat
pertumbuhan dan perkembangan anak, menyebabkan gangguan kesehatan
saat usia remaja dan dewasa bahkan dapat meningkatkan risiko kematian
anak. Gizi kurang pada balita juga dapat menyebabkan kelainan-kelainan
fisik maupun mental. Perlunya perhatian yang lebih terjadinya gizi kurang
pada masa emas balita ini diakibatkan karena dampaknya akan bersifat
tidak dapat pulih atau irreversible. Lebih jauh lagi, kurangnya gizi pada
balita mampu mengganggu perkembangan otaknya

D. Soal
1. Apa yang dimaksud dengan status gizi Kurang?
2. Apa yang dimaksud dengan pola konsumsi
3. Apa yang dimaksud dengan pengetahuan?
4. Apa yang dimaksud dengan pengetahuan gizi?
5. Apa yang dimkasud dengan makanan sehat ?
6. Apa yang dimaksud dengan media pendidikan kesehatan ?
10

Daftar Pustaka
Azria, Husnah. 2016. Pengaruh
PenyuluhanGiziTerhadapPengetahuandanPerilakuIbuTentangGiziSeimb
angBalita Kota Banda Aceh. JKS 2016; 2: 87-
92.http://jurnal.unsyiah.ac.id/JKS/article/view/5055diaksestanggal1 Juni
2017.
Azwar. A. 2004. KecenderunganMasalahGizi Dan Tantangan Di Masa Datang.
https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/43387497/yodium_1
.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAIWOWYYGZ2Y53UL3A&Expires=150
2525954&Signature=2BnSQTgXWLziUhLJOmQFPWgOxIU%3D&resp
onse-content-
disposition=inline%3B%20filename%3DKECENDERUNGAN_MASA
LAH_GIZI_DAN_TANTANGAN.pdfdiaksestanggal 1 Juni 2017.
_____________. TubuhSehat Ideal Dari SegiKesehatan.
Makalahdisampaikanpada Seminar KesehatanObesitas,
SenatMahasiswaFakultasKesehatan Masyarakat UI, Sabtu (Vol. 15, pp. 1-
7).http://uc.blogdetik.com/794/79422/files/2010/08/tubuh-sehat-
ideal.pdfdiaksestanggal 1 Juni 2017.
Ayu, Dara. 2008. Pengaruh Program PendampinganGiziTerhadap Pola Asuh,
KejadianInfeksidan Status GiziBalitaKurangEnergi Protein. Jurnal
Media GiziPangan Vol. VIII, Edisi
2.http://eprints.undip.ac.id/18286/1/Sri_Dara_Ayu.pdfdiaksestanggal 10
September 2017.
Bahan Ajar Mata KuliahKesehatandanGizi. 2009. MakananSehat Dan
MakananTidakSehat.Universitas Pendidikan
Indonesia.http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/19701022199802
2-CUCU_ELIYAWATI/Bahan_Ajar_KG_I.pdfdiaksestanggal 9 Juni
2017.
Bertalina. 2015. Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Peningkatan
Pengetahuan Tentang Gizi Seimbang Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri
Di Kecamatan Raja Basa Kota Bandar Lampung, 58 Jurnal Kesehatan,
Volume VI Nomor 1 April 2015, Hlm. 56-53 http://poltekkes-
tjk.ac.id/ejurnal/index.php/JK/article/view/26diakses tanggal 12
November 2017.
BPS Kabupaten Bengkayang. 2016. Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Dalam
Angka. Bengkayang: BPS Statistik.
https://www.scribd.com/document/334508872/Bengkayang-Dalam-
Angka-2016diakses tanggal 11 November 2017.
BPS Kabupaten Bengkayang. 2017. Statistik Daerah Kabupaten Bengkayang
2017. Bengkayang: BPS Statistik.
https://bengkayangkab.bps.go.id/index.php/publikasi/138diakses tanggal
11 November 2017.
Depkes RI. 2005. RencanaAksi Nasional Pencegahan Dan
PenanggulanganGiziBuruk 2005-2009. Jakarta :
Depkeshttps://agus34drajat.files.wordpress.com/2010/10/pedoman-
11

nasional-penanggulangan-gizi-buruk-2005-2009.pdfdiaksestanggal 4 Juni
2017.
_____________. Masalah Gizi Balita Indonesia. [ serial online ] [ disitasi pada
Mei 2017 ]. Diakses dari URL : gizi.depkes.go.id/wp-content/
Devi. 2010. AnalisisFaktor-Faktor Yang BerpengaruhTerhadap Status GiziBalita
Di Pedesaan. Teknologi Dan Kejuruan, Vol. 33, No. 2, September 2010:
183-192.http://journal.um.ac.id/index.php/teknologi-
kejuruan/article/view/3054diaksestanggal 4 Juni 2017.
Dewi. Pujiastuti. Dkk. 2013. IlmuGiziuntukPraktisiKesehatan. GrahaIlmu :
Yogyakarta.
DinkesSumsel. 2016. GiziKurangPenyebab Stunting.
http://dinkes.sumselprov.go.id/download/unggah/stunting_anak-2016-01-
04.pdfdiaksestanggal 7 Juni 2017.
Ernawati, HalidadanDjewarut, Herman. 2012. Jurnal.
PengaruhPenyuluhanKesehatanTerhadapPeningkatanPengetahuanIbuTe
ntang Status GiziBalita di Posyandu Wilayah
KerjaPuskesmasAntangPerumnas Makassar. Volume 2, Nomor 2, Tahun
2013, ISSN : 2302-1721. diakses tanggal 11 November 2017.
darihttp://library.stikesnh.ac.id/files/disk1/4/elibrary%20stikes%20nani%
20hasanuddin--ernawatiha-195-1-artikel2.pdf.
Fatmawati. 2014. PengaruhPenyuluhanGiziTerhadapPengetahuan Dan
SikapIbuDalamPemberian Menu SeimbangPadaBalitaDi Dusun
Tegalrejo, Pleret, Bantul, Yogyakarta. NaskahPublikasi.
http://opac.unisayogya.ac.id/1197/diaksestanggal 1 Juni 2017.
Fitri. 2013. Deskripsi Pola
MakanPenderitaMaagPadaMahasiswaJurusanKesejahteraanKeluargaF
akultas Teknik UniversitasNegeri Padang.
Skripsi.http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/viewFile/919/767d
iaksestanggal 7 Juni 2017.
Fitriani. 2011. PromosiKesehatan. GrahaIlmu : Yogyakarta.
Fitriani. 2015. Pengaruh Penyuluhan Media Lembar Balik Gizi Terhadap
Peningkatan Pengetahuan Ibu balita Gizi Kurang Di Puskesmas
Pamulang, Tangerang Selatan Tahun 2015. Naskah Publikasi.
https://id.123dok.com/document/6zk86opz-pengaruh-penyuluhan-media-
lembar-balik-gizi-terhadap-peningkatan-pengetahuan-ibu-balita-gizi-
kurang-di-puskesmas-pamulang-tangerang-selatan-tahun-
2015.htmldiakses tanggal 1 juni 2017.
Haryanto, dkk. 2006. SistemPenunjang Keputusan
PenentuanMakananSehatPadaBalitaMenggunakanMetodePromethee.
Program StudiIlmuKomputer FMIPA UniversitasPakuan Bogor.
http://perpustakaan.fmipa.unpak.ac.id/file/e-
jurnal%20andri%20065111352.pdfdiaksestanggal 6 Juni 2017.
Hikmawati. 2012. IlmuDasarKeperawatan (IDK). NuhaMedika : Yogyakarta.
Hapitria, Pepi. dkk. 2011. Positive Deviance pada Status GiziBalita,
JurnalBeritaKedokteran Masyarakat, 27 (4) : 197-208.
12

Kemenkes RI. 2013. RisetKesehatanDasarTahun 2013. Jakarta :Kemenkes


RI.http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskes
das%202013.pdfdiaksestanggal7 Juni 2017.
___________. 2013. Peraturan Menteri KesehatanRepublik Indonesia Nomor 75
Tahun 2013 TentangAngkaKecukupanGizi Yang DianjurkanBagiBangsa
Indonesia. Kemenkes.
http://gizi.depkes.go.id/download/Kebijakan%20Gizi/Tabel%20AKG.pdf
diaksestanggal 1 Agustus 2017
Kemenkes RI. 2014. PedomanGiziSeimbang. Jakarta :Kemenkes.
http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/PGS%20Ok.pdfdiak
sestanggal 1 Juni 2017.
Laenggeng. 2015. HubunganPengetahuanGizi Dan
SikapMemilihMakananJajananDengan Status GiziSiswaSmpNegeri 1
Palu.JurnalKesehatanTadulako Vol. 1 No. 1 49-57.
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/HealthyTadulako/article/view/5
733diaksestanggal 11 Juni 2017.