Anda di halaman 1dari 21

LEMBAGA PENYELENGGARAAN PAUD

DI INDONESIA

Dosen : TRIYANINGSIH,M.Pd

OLEH :

HAMIDAH

SEMESTER 1

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU


PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

STKIP KUMALA LAMPUNG METRO


TAHUN AJARAN 2019/2020
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………….… i
DAFTAR ISI………………………………………………………….… ii
BAB I
PENDAHULUAN……………………………………………………..... 1
A. Latar belakang………………………………………………….. 1
B. Tujuan penulisan……………………………………………….. 2
BAB II
PEMBAHASAN………………………………………………………… 2
A. LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL………………………. 3
a. Taman kanak-kanak (TK)………………………………….. 1
b. Raudlatul athfal (RA)……………………………………….. 2
B. LEMBAGA PENDIDIKAN NON FORMAL……………….... 4
a. Kelompok bermain (KB)……………………………………. 3
b. taman penitipan anak (TPA)……………………………….. 4
c. satuan PAUD sejenis (SPS)…………………………………. 5
C. LEMBAGA PENDIDIKAN INFORMAL……………………. 5
a. Day Care (DC)………………………………………………. 6
BAB III
PENUTUP……………………………………………………………….. 3
A. KESIMPULAN………………………………………………….. 6
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….... 4
BAB I KATA PENGANTAR
A. Latar belakang
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini mulai lahir sampai baligh (kalau
perempuan ditandai menstruasi sedangkan laki-laki sudah mimpi sampai
mengeluarkan air mani) adalah tanggung jawab sepenuhnya orang tua.

Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional pada Pasal 1 butir 14, pendidikan anak usia dini didefinisikan sebagai suatu
upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam
tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan Anak Usia Dini sangat penting dilaksanakan sebagai dasar bagi
pembentukan kepribadian manusia secara utuh, yaitu untuk pembentukan karakter,
budi pekerti luhur, cerdas, ceria, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Pendidikan usia dini dapat dimulai di rumah atau dalam keluarga, perkembangan
anak pada tahun-tahun pertama sangat penting dan akan menentukan kualitasnya di
masa depan.

Oleh karena itu, upaya-upaya pengembangan anak usia dini hendaknya dilakukan
melalui belajar dan melalui bermain (learning through games). Hal ini karena bermain
merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak melalui bermain anak memperoleh
kesempatan untuk bereksplorasi (exploration), menemukan (finding), mengekspresikan
(expression), perasaannya dan berkreasi (creation).

B. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1 Untuk mengetahui berbagai macam lembaga pendidikan anak usia dini


2 Untuk mengetahui proses penyelenggaraan pendidikan anak usia dini.
3 Untuk mengetahui karakteristik dan perbedaan lembaga pendidikan anak usia
dini.
BAB II PEMBAHASAN

Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan


dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan
formal, nonformal, dan informal. Pendidikan anak usia dini pada jalur
pendidikan non formal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak
(TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini pada jalur
pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang
diselenggarakan oleh lingkungan.

A. PENDIDIKAN FORMAL

a. Taman kanak-kanak (TK)

TK adalah singkatan dari Taman Kanak-Kanak, sebuah TK berdiri dengan


adanya SK dari Mendiknas sehingga jelas bahwa TK merupakan output dari
Departemen Pendidikan Nasional.
Tk dikelola secara professional oleh guru-guru TK dalam wadah IGTK (Ikatan
Guru Taman Kanak-Kanak).
Untuk usia anak didik yang belajar di RA sama dengan anak yang belajar di TK
yaitu antara 4 – 6 tahun.
Adapun TK Islam Terpadu sudah tentu beda dengan TK pada umumnya karena
muatan agamanya .
Mulai dari pakaian seragam, tata cara mengawali pembelajaran, dan lain lain
sangat kental dengan nuansa Islami. Misalnya hafalan Hadist ,Qur’an dan doa .
Sudah biasa bagi anak anak murid menyebut suatu hadist lengkap dengan artinya .

Taman kanak-kanak (bahasa Inggris: kindergarten), disingkat TK, adalah


jenjang pendidikan anak usia dini (usia 6 tahun atau di bawahnya) dalam bentuk
pendidikan formal.
Kurikulum TK ditekankan pada pemberian rangsangan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Lama masa belajar seorang murid di TK biasanya tergantung pada tingkat
kecerdasannya yang dinilai dari rapor per semester.
Secara umum untuk lulus dari tingkat program di TK selama 2 (dua) tahun, yaitu:
1. TK 0 (nol) Kecil (TK kecil) selama 1 (satu) tahun
2. TK 0 (nol) Besar (TK besar) selama 1 (satu) tahun

Umur rata-rata minimal kanak-kanak mula dapat belajar di sebuah taman kanak-
kanak berkisar 4-5 tahun,
sedangkan umur rata-rata untuk lulus dari TK berkisar 6-7 tahun.
Setelah lulus dari TK, atau pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah
lainnya yang sederajat, murid kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih
tinggi di atasnya, yaitu Sekolah Dasar atau yang sederajat.
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
pasal 1 ayat 14 menyatakan :

” Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada
anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membentuk pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut”.

TK merupakan bentuk pendidikan anak usia dini yang berada pada jalur
pendidikan formal, sebagai mana dinyatakan dalam Undang-undang Sistem
pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 28 “Pendidikan anak usia dini
pada jalur pendidikan formal benrbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul
Athfal, atau bentuk lain yang sederajat”.

TK adalah jenjang pendidikan formal pertama yang memasuki anak usia 4-6
tahun, sampai memasuki pendidikan dasar. Menurut Peraturan Pemerintah nomor
27 tahun 1990, tentang pendidikan prasekolah BAB I pasal 1 disebutkan;

“Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan


perkembangan jasmani dan rohani anak didik diluar lingkungan keluarga sebelum
memasuki pendidikan dasar (Depdikbud, Dirjen dikdasmen,1994: 4).
Berdasarkan hal tersebut maka pendidikan prasekolah bertujuan untuk membantu
meletakan dasar kearah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan daya
cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, dan untuk pertumbuhan tingkat penalaran anak didik serta
perkembangan selanjutnya.

Adapun Tanggung Jawab sekolah atau pendidikan formal:

a Tanggung jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan


yang ditetapkan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam hal
Undang-Undang pendidikan, UUSPN Nomor 2 Tahun 1989.
b Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi tujuan dan tingkat
pendidikan yang dipercayakan kepadanya oleh masyarakat dan bangsa.
c Tanggung jawab fungsional, ialah tanggung jawab profesional pengelola
dan pelaksana pendidikan menerima ketetapan ini berdasarkan ketetapan-
ketetapan jabatannya.

Selain itu pendidikan formal juga ciri-ciri yaitu ;

a Pendidikan berlangsung dalam ruang kelas yang sengaja dibuat oleh


lembaga pendidikan formal.
b Guru adalah orang yang ditetapkan secara resmi oleh lembaga.
c Memiliki administrasi dan manajemen yang jelas.
d Adanya batasan usia sesuai dengan jenjang pendidikan.
e Memiliki kurikulum formal.
f Adanya perencanaan, metode, media, serta evaluasi pembelajaran.
g Adanya batasan lama studi.
h Kepada peserta yang lulus diberikan ijazah.
i Dapat meneruskan pada jenjang yang lebih tinggi.

yang dimaksud lembaga pendidikan sekolah misalnya Taman Kanak-kanak


(TK), Raudatul Athfal (RA).

Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan berkembang


secara efektif dan efisien dari dan oleh serta untuk masyarakat, merupakan
perangkat yang berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat
dalam mendidik warga negara. Sekolah dikelola secara formal, hierarkis, dan
kronologis yang berhaluan pada falsafah dan tujuan pendidikan nasional.

b. Raudhatul Athfal (RA)

RA singkatan dari Raudhatul Athfal. Diambil dari istilah bahasa Arab.


Raudhah artinya taman, sedangkan Athfal artinya kanak-kanak.

RA berada dibawah naungan Departemen Agama melalui SK Menag (mentri


agama). Yang dikelola secara profesional oleh guru-guru RA dalam wadah IGRA
(Ikatan Guru Raudhatul Athfal). Selain materi umum, RA memperkenalkan pula
dasar-dasar ajaran agama Islam kepada anak didiknya.

RA setara dengan taman kanak-kanak (TK), di mana kurikulumnya ditekankan


pada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.

Kurikulum Raudhatul Athfal adalah seperangkat rencana dan pengaturan


mengenai tujuan, bidang pengembangan dan penilaian serta cara yang digunakaan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan.

Fungsi RA : Fungsi pendidikan Raudhatul Athfal adalah membina,


menumbuhkan, mengembangkan seluruh potensi anak secara optimal sehingga
terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya
agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya.

Tujuan RA adalah : Membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap


perilaku, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak
didik agar menjadi muslim yang menghayati dan mengamalkan agama serta
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan kepentingan pertumbuhan serta
perkembangan selanjutnya. Program pembelajaran di Raudhatul Athfal mencakup
bidang pengembangan perilaku dan pengembangan kemampuan dasar bersifat
pembiasaan.

Berikut Perbedaan TK dan RA :


1. TK itu dikelola oleh DikNas, sedangkan RA dikelola oleh Departemen
Agama (DepAg) yang kini berubah nama menjadi Kementrian Agama
(KemenAg).
2. Pendidikan di TK biasanya bersifat umum, sedangkan RA lebih
menekankan pada keagamaannya.
3. Anak-anak di TK agamanya bisa macam-macam, ada islam, kristen,
katolik dll. Tapi kalau anak RA hanya islam. Kita bisa lihat ada TK
Kristen, tapi kita tidak akan menemukan RA Kristen.
4. Dari segi seragam, anak TK ada yang menggunakan seragam islami ada
juga yang bebas, kan agamanya juga tidak mesti islam. Tapi semua anak
RA berseragam islami, begitu pula gurunya. (kalau ada guru RA yang
tidak berkerudung, masih perlu dipertanyakan tanggung jawabnya sebagai
guru RA)

B. PENDIDIKAN NON FORMAL

Lembaga Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar


pendidikan formal yang dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Lembaga pendidikan nonformal adalah lembaga pendidikan yang disediakan
bagi warga Negara yang tidak sempat mengikuti atau menyelesaikan
pendidikan pada jenjang tertentu dalam pendidikan formal. Pendidikan
nonformal semakin berkembang, hal ini karena didorong oleh beberapa
factor, diantaranya :

a. Semakin banyaknya jumlah angkatan muda yang tidak dapat melanjutkan


sekolah.
b. Lapangan kerja, khususnya sector swasta mengalami perkembangan
cukup pesat dan lebih dibandingkan perkembangan sector pemerintah.

Pendidikan nonformal deselenggarakan bagi warga masyarakat yang


memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti,
penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung
pendidikan sepanjang hayat.
Dengan kata lain, pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi
peserta didik melalui pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia
dini, pendidikan kemudaan, pendidikan pembedayaan perempuan,
pendidikan keaksaraan, pendidikan kerampilan dan pelatihan kerja, serta
pendidikan lainnya.

Mengenai pendidikan non-formal ini dijelaskan dalam UU No 20 thn 2003


tentang Sistem Pendidikan Nasional , pasal 26 ayat (4) satuan pendidikan
non-formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan kelompok
belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim serta satuan
pendidikan yang sejenis, ayat (5) Kursus dan Pelatihan diselenggarakan bagi
masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan
hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi,
bekerja, usaha mandiri, dan/ atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi.[9]

Penyelenggaraan pendidikannon formal ini tidak terikat oleh jam pelajaran


sekolah, dan tidak ada penjejangan sehingga dapat dilaksanakan kapan saja
dan dinama saja; dan tergantung kepada kesempatan yang dimiliki oleh para
anggota masyarakat dan para penyelenggara pendidikan agama Islam pada
masyarakat itu sendiri.

Adapun ciri-ciri pendidikan nonformal tersebut adalah sebagai berikut :

a. Pendidikan berlangsung dalam lingkunagan masyarakat.

b. Guru adalah fasilitator yang diperlukan.

c. Tidak adanya pembatasan usia.

d. Materi pelajaran praktis disesuaikan dengan kebutuhan pragmatis.

e. Waktu pendidikan singkat dan padat materi.

f. Memiliki manajemen yang terpaddu dan terarah.

g. Pembelajaran bertujuan membekali peserta dengan keterampilan khusus

untukpersiapan diri dalam dunia kerja.


Sedangkan lembaga penyelenggaraan pendidikan nonformal antara lain;

A). Kelompok Bermain (KB)

Kelompok Bermain (KB) adalah salah satu bentuk layanan PAUD


pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program
pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak sejak lahir sampai
dengan enam tahun. (dengan prioritas anak usia dua sampai empat tahun)
dan merupakan salah satu bentuk PAUD pada jalur nonformal yang
mengutamakan kegiatan bermain sambil belajar. Penyelenggaraan KB
harus memenuhi persyaratan minimal yang meliputi: peserta didik,
pendidik, pengelola, persyaratan pendirian dan prosedur pendirian dan
pengelolaan administrasi dan pelaporan dan pembinaannya.

Hakikat pengelolaan kegiatan di Kelompok Bermain adalah merupakan salah


satu alternatif upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak prasekolah melalui
Kelompok Bermain dalam aspek-aspek pendidikan, pemberian gizi, dan kesehatan
yang dilakukan oleh lembaga atau lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah,
lembaga-lembaga perawatan, keagamaan dan pengasuhan anak serta teman sebaya
yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Hakikat pengelolaan kegiatan
di Kelompok Bermain merujuk pada :

1. Pengertian anak bayi tiga tahun (batita).


2, Karakteristik perkembangan fisik, kognitif, dan sosial emosional.
3. Teori psikologi perkembangan anak.
4. Kontinum perkembangan belajar anak.
5. Bentuk pendidikan di Kelompok Bermain.

Tujuan pengelolaan kegiatan di Kelompok Bermain adalah untuk


membantu meletakkan dasar pengembangan sikap, pengetahuan,
keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar siap memasuki lembaga
pendidikan selanjutnya, dan untuk pertumbuhan dan perkembangan
selanjutnya.
2. Pendekatan pengelolaan kegiatan di Kelompok Bermain dilakukan
berdasarkan prinsip berikut.
1. Prinsip pendidikan anak usia dini, yaitu berorientasi pada kebutuhan
anak, belajar melalui bermain, kreatif dan inovatif, lingkungan yang
kondusif, menggunakan pembelajaran terpadu, mengembangkan
keterampilan hidup, menggunakan berbagai media dan sumber belajar.
2. Prinsip perkembangan anak.
3. Prinsip belajar melalui bermain.
Penyelenggaraan KB harus memenuhi persyaratan minimal, yang meliputi
peserta didik, pendidik, pengelola, pengasuh/perawat, rasio pendidik atau
pengasuh dengan peserta didik, teknis penyelenggaraan, perizinan,
pengelolaan administrasi, evaluasi, pelaporan dan pembinaannya.
Program kegiatan belajar kelompok bermain KB adalah seperangkat
kegiatan belajar yang direncanakan untuk dilakukan dalam rangka
menyiapkan dan meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan diri anak
didik lebih lanjut. Pelaksanaan pembentukan perilaku melalui pembiasaan
dilakukan melalui kegiatan rutin, spontan dan terprogram. Pengembangan
kemampuan dasar KB terdiri dari pengembangan bahasa, kognitif, fisik
dan seni.
Pelaksanaan kegiatan pengembangan diawali dengan kegiatan pembukaan,
inti, istirahat dan penutup lalu pendidik mengantar anak-anak dan
diserahkan kepada para penjemput. Selain itu, untuk mengembangkan
konsep belajar melalui bermain maka ada tahap-tahap kegiatan
pengembangan bermain di KB, yaitu :
1. Bermain eksploratoris;
2. Bermain energetik;
3. Bermain ketrampilan;
4. Bermain sosial;
5. Bermain imajinatif.
Prosedur pelaksanaan kegiatan pengembangan di KB meliputi :
1. Peserta didik
Persyaratan bagi peserta didik untuk dapat menjadi anggota dari
Kelompok Bermain adalah (1) usia 2 – 4 tahun dengan jumlah minimal 10
anak, (2) anak usia 5 – 6 tahun yang tidak mendapat kesempatan masuk di
Taman Kanak-Kanak dengan jumlah minimal 10 anak.
Peserta didik KB memiliki hak-hak untuk belajar melalui bermain yang
meliputi :
a. Mendapatkan mainan yang sama
b. Bebas bereksplorasi dengan alat permainan sesuai dengan peraturan,
c. Mendapatkan bantuan belajar apabila mengalami kesulitan,
d. Memanipulasi objek permainan dengan benar.
Selain hak peserta didik KB juga memiliki beberapa kewajiban yaitu :
a. Merapikan alat permainan apabila selesai bermain,
b. Menggunakan alat permainan dengan benar
c. Berbagi dan bergantian dengan teman
d. Mentaati ketertiban dalam bermain.
2. Pendidik
Pendidik Kelompok Bermain harus memiliki beberapa kualifikasi sebagai
berikut :
a. Kompetensi Pedagogik
b. Kompetensi Kepribadian
c. Kompetensi Profesional
d. Kompetensi Sosial
Pendidik Kelompok Bermain berhak mendapat insentif baik dalam bentuk
materi, penghargaan maupun peningkatan kinerja sesuai dengan
kemampuan dan kondisi setempat (baik melalui APBN, APBD I dan II,
dan masyarakat)
3. Pengelola
Pengelola KB hendaknya memiliki kualifikasi sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal SLTA atau sederajat
b. Memiliki kemampuan dalam mengelola program kelompok bermain
secara profesional
c. Memiliki kemampuan dalam melakukan koordinasi dengan tenaga
pendidik, instansi terkait dan masyarakat.
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat dan peserta
didik serta orang tuanya.
e. Memiliki tanggung jawab moril mempertahankan dan meningkatkan
keberlangsungan KB yang dikelolanya.
4. Tempat
Cara menentukan lokasi untuk KB hedaknya memperhatikan hal-hal
berikut :
a. Lokasi gedung yang mudah dimasuki kendaraan roda dua dan roda
empat.
b. Lokasi dilewati oleh kendaraan umum
c. Lokasi berada di pemukiman perkantoran atau ruko perumahan.
d. Tempat parkir yang memadai
e. Jauh dari sungai tempat pembuangan sampah dan terminal angkutan
atau bis.
f. Dekat dengan tanaman
g. Mendapatkan pencahayaan yang baik
h. Ventilasi ruangan yang terang
i. Memiliki jalan keluar apabila terjadi kebakaran gedung
j. Desain ruangan yang sesuai dengan kebutuhan bermain anak.
5. Waktu
Waktu adalah modal kerja yang harus dihargai. Seorang pengelola harus
menghitung jam efektif bekerja dan jumlah total hari kerja untuk
menentukan penggajian kepada karyawan. Anak belajar di KB biasanya 2
jam sehari, sedang di TPA bervariasi. Ada TPA yang menyediakan
layanan insidental (per jam) paruh hari atau sehari penuh.
6. Adminstrasi
Administrasi di KB secara umum terdiri dari aspek-aspek administrasi
berikut ini :
a. Administrasi Program Pembelajaran
b. Administrasi Pengelolaan Kegiatan
c. Administrasi Keuangan
d. Adminsitrasi Kepegawaian

B). Taman Penitipan Anak (TPA)


Taman Penitipan Anak (TPA) adalah salah satu bentuk PAUD
pada jalur pendidikan nonformal sebagai wahana kesejahteraan yang
berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu bagi
anak yang orang tuanya bekerja. TPA menyelenggarakan. program
pendidikan sekaligus pengasuhan terhadap anak sejak lahir sampai
dengan usia enam tahun dengan prioritas anak usia empat tahun ke
bawah. Untuk mendukung mewujudkan anak usia dini yang berkualitas,
maju, mandiri, demokrasi, dan berprestasi, TPA menggunakan dan
menerapkan filsafat pendidikan, yaitu tempa, asah, asih, dan asuh.

Pentingnya pelayanan yang terpadu (kesehatan-gizi-psikososial--


agama-pendidikan) untuk anak usia lahir tiga tahun. Hal ini sebagai upaya
meletakkan dasar-dasar perkembangan yang baik pada diri anak secara
holistik sehingga anak dapat mengenal diri dari lingkungannya. Semua
kegiatan dilaksanakan dengan bermain sambil belajar yang dapat
memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani serta memberikan rasa aman
dan menyenangkan bagi anak.
a. Hakikat TPA adalah TPA sebagai kebutuhan, perizinan
TPA, bentuk dan karakter TPA, penyelenggaraan TPA,
menuju TPA masa depan. Tujuan pengelolaan TPA adalah
untuk anak, orang tua, masyarakat.
b. Pendekatan TPA melalui prinsip pendidikan anak, prinsip
perkembangan anak, dan dasar filsafat pendidikan di TPA,
yaitu tempa, asah, asih, asuh; sedangkan upaya untuk
mewujudkan karakteristik anak secara holistik dan terpadu
di TPA melalui olahraga, gizi dan kesehatan.
c. Taman Penitipan Anak (child care centre) adalah wahana
asuhan kesejahteraan sosial yang berfungsi sebagai
pengganti keluarga untuk waktu tertentu bagi anak yang
orang tuanya berhalangan, tidak mampu, atau tidak punya
waktu untuk memberikan pelayanan kebutuhan kepada
anaknya. Selain itu, Taman Penitipan Anak juga disebut
sebagai wahana pendidikan dan pembinaan kesejahteraan
anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk
jangka waktu tertentu selama orang tuanya berhalangan
atau tidak memiliki waktu yang cukup.
d. Tahap-tahap pelaksanaan pengembangan kegiatan di TPA
antara lain : tujuan, landasan yuridis, sasaran,
pengelompokkan anak, persyaratan, lingkungan,
pemeliharaan kebersihan, perizinan, keamanan, kesehatan,
higiene dan gizi serta pembiayaan.
e. Prosedur pelaksanaan kegiatan pengembangan di TPA
antara lain meliputi kurikulum dan evaluasi. Proses
kegiatan pengembangan di TPA perlu memperhatikan
beberapa unsur yang terdiri dari materi, metode, media,
evaluasi, sumber daya manusia (pendidik, pengelola, dan
pengasuh atau perawat), sarana prasarana, kompetensi hasil
keluaran, pembinaan dan site plan.

C). Satuan PAUD Sejenis

Satuan PAUD yang sejenis merupakan area program pelayanan AUD yang
tujuannya sama dengan lembaga PAUD lainnya. Sasaran SPS selain Anak Usia 6
tahun juga orang tua dan pengasuh anak usia dini. Pelaksanaannya lebih fleksibel
bergantung pada kesepakatan antara warga dan pengelola atau kader SPS tersebut.
Tempat belajarnya juga lebih Fleksibel dan bisa dilakukan di mana saja.

Satuan PAUD Sejenis (SPS) adalah layanan minimal merupakan layanan minimal
yang hanya dilakukan 1-2 kali/minggu atau merupakan layanan PAUD yang
diintegrasikan dengan program layanan lain. Peserta didik pada SPS adalah anak
2-4 tahun.

Satuan PAUD Sejenis (SPS), yakni lembaga yang menyelenggarakan pendidikan


selain Taman Kanak-Kanak, Kelompok Bermain dan Taman Penitipan Anak.
Satuan PAUD sejenis (SPS) berfungsi memberikan pendidikan sejak dini dan
membantu meletakkan dasar ke arah pengembangan sikap, perilaku, perasaan,
kecerdasan, sosial dan fisik yang diperlukan dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan Satuan PAUD Sejenis sangat


penting untuk dilakukan dengan alasan bahwa masyarakat memiliki potensi untuk
merencanakan, melaksanakan, mendukung, mengevaluasi program yang berkaitan
dengan kehidupannya termasuk PAUD. Selain itu masyarakat juga perlu memiliki
, pemahaman tentang kebutuhan dan harapannya pada bidang PAUD.

Tujuan Satuan PAUD Sejenis (SPS) memberikan layanan kesehatan, gizi, serta
psikososial secara holistik dan terintegrasi adalah untuk membantu meletakkan
dasar ke arah pengembangan sikap, perilaku, perasaan, kecerdasan, sosial dan
fisik yang diperlukan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Pendekatan lembaga Satuan PAUD Sejenis berorientasi pada hal-hal berikut :

1. Prinsip pendidikan anak

2. Prinsip perkembangan anak

3. Optimalisasi layanan Pos PAUD

a. Optimalisasi program

b. Optimalisasi ketenagaan

c. Optimalisasi prasarana

d. Optimalisasi sarana

e. Berpusat pada anak

Prosedur pelaksanaan pengembangan pada lembaga SPS adalah sebagai berikut :

1. Peserta didik, pendidik, pengelola

2. Komponen program Pos PAUD

3. Strategi pelaksanaan PAUD

4. Indikator keberhasilan

C. LEMBAGA PENDIDIKAN INFORMAL

Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.


Dengan kata lain, lembaga pendidikan informal adalah sebuah lembaga
pendidikan yang ruang lingkupnya lebih terarah pada keluarga dan
masyarakat. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan
utama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan
didikan dan bimbingan. jika dikatakan lingkungan yang utama karena
sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga
pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak dalam keluarga.

Orang tua atau ayah dan ibu memegang peranan yang penting dan amat
berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang lahir, ibunyalah
yang selalu ada disampingnya. Oleh karena itu ia meniru peran ibunya dan
biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya apabila ibu itu
menjalankan tugasnya dengan baik. Apapun yang dilakukan ibu dapat
dimanfaatkannya, kecuali apabila ia ditinggalkan dengan memahami dengan
segala sesuatu yang terkandung didalam hati anaknya, jika anak telah mulai
agak besar, disertai kasih sayang dapatlah ibu mengambil hati anaknya
untuk selama-lamanya.

Dasar-dasar tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya


meliputi:

1. Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih yang menjiwai hubungan


orang tua dan anak.
2. Pemberian motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi nilai-nilai
spiritual.
3. Tanggung jawab sosial.
4. Memelihara dan membesarkan anak.
5. Memberikan pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang berguna bagi kehidupan anak tersebut.[11]

Ciri- ciri pendidikan informal adalah ;

a. Pendidikan berlangsung terus-menerus tanpa mengenal tempat dan waktu.

b. Guru adalah orang tua.

c. Tidak adanya manajemen yang jelas.


A). Day Care (DC)

Day Care memiliki posisi yang sangat strategis dalam upaya memberikan program
layanan bagi anak usia dini baik layanan pengasuhan, perawatan/pemeliharaan,
pembinaan, maupun layanan pendidikan. Program ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi dan manfaat positif bagi masyarakat maupun masyarakat secara luas.

Secara umum Day Care bertujuan untuk memfasilitasi tumbuh kembang anak batita (0 –
3 tahun) dan anak usia 3 – 6 tahun dalam lingkungan yang kondusif dan nyaman (homy)
melalui pengasuhan, perawatan, dan bimbingan dalam proses sosialisasi dan pendidikan.

Secara khusus program ini bertujuan sebagai berikut:

Menyediakan kesempatan bagi anak untuk memperoleh kelengkapan asuhan, rawatan,


pembinaan dan pendidikan yang baik sehingga dapat terjamin kelangsungan hidup,
tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi bagi anak;

Menghindarkan anak dari kemungkinan memperoleh tindakan kekerasan atau tindakan


lain yang akan mengganggu atau mempengaruhi kelangsungan hidup dan tumbuh
kembang anak serta pembentukan kepribadiannya;

Membantu orang tua/keluarga dalam memantapkan fungsi keluarga, khususnya dalam


melaksanakan pembinaan kesejahteraan anak di dalam dan di luar keluarga. Dengan
demikian lembaga pelayanan ini merupakan upaya preventif dalam menghadapi
keterlantaran melalui asuhan, perawatan, pendidikan dan bimbingan bagi anak usia dini.

Jenis Kegiatan

1. Pengasuhan

Memberikan pengasuhan bagi anak sehingga anak dapat bermain dan


mengembangkan potensinya dengan optimal.

2. Perawatan

Memberikan perawatan kesehatan secara medis dengan ditangani oleh dokter-


dokter yang berpengalaman.

2. Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.
3. Memberikan bimbingan bagi anak-anak.
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum
jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang
ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan
pada jalur formal, nonformal, dan informal. Pendidikan anak usia dini
merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang
menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan
perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya
pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional
(sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan
keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini

Lembaga Pendidikan anak usia dini dilaksanakan sesuai satuan Pendidikan


masing-masing. Taman Penitipan Anak (TPA) dilaksanakan 3 – 5 hari dengan
jam layanan minimal 6 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 -160 hari
atau 32 – 34 minggu. Kelompok Bermain (KB) setiap hari atau minimal 3
kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam. Minimal layanan dalam
satu tahun 144 hari atau 32 - 34 minggu. Satuan PAUD Sejenis (SPS)
minimal satu minggu sekali dengan jam layanan minimal 2 jam. Kekurangan
jam layanan pada SPS dilengkapi dengan program pengasuhan yang
dilakukan orang tua sehingga jumlah layanan keseluruhan setara dengan 144
hari dalam satu tahun. Taman Kanak-Kanak (TK) dilaksanakan minimal 5
hari setiap minggu dengan jam layanan minimal 2,5 jam. Layanan dalam satu
tahun 160 hari atau 34 minggu.

Pelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruh


komponen masyarakat. Penyelenggaraan pendiikan anak usai dini dapat
dilakukan oleh swasta dan pemerintah, yayasan maupun perorangan
DAFTAR PUSTAKA

Anggani Sudono, (2006). Sumber Belajar dan Alat Permainan Untuk Pendidikan
Usia Dini. Jakarta : Grasindo.

BKKBN. 2003. Pedoman Pola dan Strategi Peningkatan Pelaksanaan Gerakan


BKB. Jakarta

Cucu Eliyawati. (2005). Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar untuk


Anak Usia Dini. Jakarta : Depdiknas. Ditjen Dikti.

Coughlin, et al. (1992). Menciptakan Kelas yang berpusat pada Anak.


Terjemahan. Washington DC: Children’s Resources International,Inc.

Depdiknas. (2002). Acuan Menu Pembelajaran Pada Kelompok Bermain. Jakarta:


Depdiknas Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah Direktorat Pendidikan
Anak Usia Dini.

Depdiknas. (2007). Pedoman Teknis Penyelenggaraan Taman Penitipan Anak.


Jakarta : Depdiknas Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah Direktorat
Pendidikan Anak Usia Dini.

Direktorat PAUD, Ditjen PLS. (2006). Pedoman Teknis Penyelenggaraan Taman


Penitipan Anak. Jakarta : Depdiknas

Direktorat PAUD, Ditjen PLS. (2006). Pedoman Teknis Penyelenggaraan


Kelompok Bermain. Jakarta : Depdiknas